Kembali
16
1
2019 ACARYA PUSTAKA: Jurnal Ilmiah Perpustakaan dan Informasi Vol 6 · 2 ISSN 2443-0293

PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN LITERASI BAHARI

Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak

Masyarakat dan budaya bahari merupakan fakta sosio historis dan sosiokultural yang tidak bisa dikesampingkan. Sehubungan dengan hal itu perlu adanya upaya kontruksi budaya bahari pada generasi muda. Perpustakaan merupakan satu kelembagaan yang memiliki peran yang strategis dalam pengembangan dan konstruksi budaya bahari. Berpijak dari hal itu kajian ini bertujuan untuk memaparkan peranan perpustakaan dalam mengembangkan literasi bahari. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif , pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan secara dilakukan secara deskreptif kualitatif. Dari hal itu dapat dikemukakan bahwa peran perpustakaan dalam pengembangan literasi bahari.
Keywords: Peranan Perpustakaan Sekolah Literasi Bahar

Introduction

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pesisir yang sangat luas di kawasan pesisir tinggal sekelompok masyarakat yang memanfaatkan pesisir dan laut sebagai ruang hidupnya. Dalam memanfaatkan pesisir dan laut sebagai ruang hidupnya masyarakat pesisir mengembangkan budaya bahari. Perkembangan tradisi bahari pada masyarakat nusantara dapat disimak dari adanya perubahan orioentasi kehidupan dan budaya masyaarakat dari wilayah daratan ke wilayah pesisir pada masa mesolitikum. Perubahan orientasi ini dapat dilihat dari adanya tinggalan bekas-bekas tempat tinggal di kawasan pesisir dan adanya temuan kjokkenmoddinger sampah dapur berupa siput dan kerang, tinggalan sarkopagus yang bentuknya menyerupai perahu, reliaef perahun bercadik pada Candi Borobudur, dikenalnya budaya menangkap ikan, pembuatan garam, serta adanya budaya pemuliaan laut ( Kartodirdjo, 1975; Soekmono, 1987). Dengan demikian dapat dikatakan mereka memili pola budaya dan pola kehidupan yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Fenomene sosial dan budaya semacam itu telah menarik berbagai kalangan akademisi untuk mengkajinya. Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai kajian tentang hal itu. Kajian-kajian terhadap masyarakat pesisir misalnya dapat disimak dari buku yang ditulis oleh Adrian Vickers yang berjudul Peradaban Pesisir Menuju Sejarah Asia Tenggara ( 2009); Orang Laut Bajak Laut Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX ( Adrian B.Lapian, 2009); Sejarah Pelayaran Nusantara Jejak Indonesia di Lautan Dunia ( MS Ardison, 2016); Arungi Samudra Bersama Sang Naga Sinergi Poros Maritim Dunia dan Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21 (Untung Suropati, Yohanes Sulaiman, Ian Montratama, 2016); Nasionalisme, Laut, dan Sejarah ( Susanto Zuhdi, 2014); Pengantar Sosiologi Masyarakat Maritime ( 2015); M engembalikan Daulat Warga Pesisir, Partisipasi, Representasi, dan Demokrasi di Aras Lokal (Hasrul Hanif, 2008). Critical Social Analysis of Maritime Cultural Contruct of Pedagogiy in Bali Coastal Area Elementary School Student (Mudana, 2018); Collaboration of Economic Community, Political Community, and Civil Community in Ivestation Social Capital, For Preservation of Marine and Coastal Envirotment in The Pemuteran Village, Bali (Mudanadan La Ode Ali Basri, 2018); TheNegative Stigma Against the Bajo Tribe and its Impact on Local Culture: Study of the Bajo in Bungin Village of South Konawe (2017). Dll. Kajian-kajian tersebut mengungkapkan potensi modal sosiokultural masyarakat pesisir yang dapat dijadikan sebagai sumber pengembaangan bahan ajar/ buku ajar, buku teks, dan berbagai inovasi dalam pengkonstruksian budaya bahari dalam rangka penguatan literasi bahari pada generasi muda baik melalui pembelajaran di kelas, luar kelas maupun dalam proses pembelajaran di perpustakaan sekolah. Dalam hal ini perpustakaan memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan dan penguatan literasi. Hal ini sejalan denga nisi Undang-Undang No.43 Tahun 2007 yang menyuaatakan bahwa dibentuknya perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa. Sehubungan dengan hal itu dalam penyelenggaraan pendidikan dalam setiap satuan pendidikan dipersyaratkan untuk menyediakan perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar ( Mudana, 2018). Hal ini sejalan dengan pernyataan yang menyatakan bahwa perpustakaan sekolah merupakan kumpulan bahan pustaka, yang diorganisir secara sistematis dalam suatu ruangan untuk membantu murid dan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dengan demikian perpustakaan sebagai suatu kelembagaan informasi dan sekaligus sebagai sumber belajar memiliki tugas dan peran dalam pengembangan SDM dalam bentuk pengembangan dan pengauatan literasi. Literasi berasal dari Bahasa Latin littera (huruf) yang pengertiaannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya. Literasi pada abad ke-21 tidak bisa lagi didefinisikan sebatas kemampuan membaca dan menulis. Akibat perkembangan yang sangat pesat di bidang informasi, maka literasi dimaknai dalam beberapa sudut pandang, mulai dari sudut pandang literasi dasar (basic literacy), literasi sains (science literacy), literasi ekonomi (economic literacy), literasi teknologi (technologi literacy), literasi visual (visual literacy), literasi informasi (information literacy), literasi multikultural (multicultural literacy) sampai pada sudut pandang kesadaran global (global awareness). Inilah yang dinamakan digital-age literacy (literasi masa berbasis digital) atau sering disebut dengan multiliterasi. Dengan semakin luasnya garapan dari pada pembahasan literasi, semakin intens pula pengajaran literasi di sekolah, khususnya di sekolah dasar, sebagai upaya melahirkan generasi literat yang dapat membangun bangsa kelak. ( Muhammad Kharizmi, Jupendas, Issn 2355-3650, Vol. 2, No. 2, September 2015). Konsep literasi terus berkembaang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam konteks Revolusi 4.0 literasi diklasifikasikan menjadi; literasi dasar, literasi big data, literasi tekonologi, dan literasi kemanusiaaan. National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “ kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam lingkungan tertentu. Sedangkan Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya (Mudana, 2018). Berpijak dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat strategis dalam pengembangan literasi, khususnya dalam hal ini literasi bahari. Pengembangan literasi bahari didasarkan atas beberapa pertimbangan baik karena terkesampingkannya masyarakat dan budaya bahari, potensi budaya bahari yang menginspirasi dalam pengembangan kepribadian, karakter, dan kehidupan ekonomi, maupun dalam menunjang program poros maritime. Pentingnya kajian juga ini terkait dengan tingkat literasi siswa di Indonesia masih tergolong rendag baik di tingkat Asean maupun di tingkat dunia. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, informan penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, dan pengelola perpustakaan sekolah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, studi dokumen. Sedangkan analisis data dilakukan secara deskreptif kualitatif

Discussion

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Buleleng membawahi 480 sekolah dasar negeri/swasta dan madrasah. Di setiap sekolah terus digalakkan program liteerasi melalui pengembangan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah terus dikembangkan, sampai saaat ini di Kabupeten Buleleng ada 329 buah perpustakaan sekolah, dengan kondisi 321 buah perpustakaan dalam kondisi baik dan 8 buah perpustakaan dalam kondisi kurang baik. Pengembangan perpustakaan sekolah di Kabupaten Buleleng juga diikuti dengan upaya penyebaranm buku ke Perpustakaan Sekolah Dasar. Koran Buleleng 23 September 2019 menyatakan bahwa Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga menyerahkan sebanyak 1080 judul perpaket kepada 149 sekolah dasar dengan anggaran dana sebesar Rp. 7,2 milliar lebih dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019. Diantara judul buku tersebut ada diantaranya merupakan buku bahari. Hanya saja jumlahnya masih sangat terbatas. Kebijakan tersebut tentu perupakan suatu kebijakan yang sangat berarti dalam pengembangan dan penguatan literasi sekolah dan khususnya leiterasi bahari. Kebijakan semacam itu memang harus terus diberlanjutkan dengan penguatan sumber daya manusia pengelola perpustaan. Sampai saat ini sebagian besar perpustakaan sekolah dikelola oleh Sumber Daya Manusia yang belum memenuhi standar minimal pengelolaan perpustakaan, yaitu minimal lulusan D3 Perpustakaan. Kondisi semacam itu menyebabkan belum optimalnya peran perpustakaan sebagai sumber belajar dan pengembangan serta penguatan literasi pada siswa sekolah dasar. Sehubungan dengan hal itu diperlukan adanya upaya penguatan Sumber Daya Manusia baik melalui pemberian pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan maupun melalui pengangkatan secara bertahap sehingga dalam kurun waktu tertentu seluruh pengelola perpustakaan sekolah dasar di Kabupaten Buleleng sudah memenuhi standar minimal dalam mengelola perpustakaan sekolah. Upaya semacam itu sangat penting dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Buleleng, sehingga pengelolaan dan keberfungsian perpustakaan sebagai sumber belajar dan pengembangan literasi semakin eefektif dan terus meningkat. Sehubungan dengan hal itulah program kemitraan antara pengelola perpustakaan sekolah dengan perguruan tinggi pengelola program studi perpustakaan terus ditingkatkan baik dalam kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan (PKL) maupun dalam kaitannya dengan pelaksanaan penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Program-program semacam itu telah diupayakan oleh Program Studi D3 Perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha. Hal ini dapat dilihat dari adanya penempatan mahasiswa PKL program studi D3 Perpustakan di berbagai perpustakaan sekolah, peltihan dan pendampingan dalam peningkatan peran perpustakaan dalam pengembangan literasi melalui program Pengabdian kepada Masyarakat. Di samping itu juga dikembangkan program perpustakaan binaan secara berkelanjutan baik pada sekolah di tingkat dasar maupun di tingkat lanjutan, seperti yang dilakukan di SD Laboratorium Undiksha, SMP Laboratorium Undiksha, SMA Laboratorium Undiksha, SMA Negeri 1 Singaraja, dan SMP Negeri 1 Sukasada. Melalaui pelaksanaan program kemitraan semacam itu dapat diharapkan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengelolalan dan pelayanan perpustakaan sekolah, sehingga fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar dan penguatan literasi dapat ditingkatkan. Dengan kata lain peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola perpustakaan akan dapat meningkatkan berbagai inovasi dalam pengelolalan dan layanan perpustakaan untuk penguatan literasi, khususnya penguatan literasi bahari. Dalam hubungannya dengan peranan perpustakaan untuk pengembangan dan penguatan literasi bahari dapat dilakukan melalui program membaca sambil bernyani, pembuatan assay, mendongeng dan lain sebagainya.

Conclusion

Berpijak dari uraian di atas dapat dsimpulkan bahwa secara substansian perpustakaan sekolah merupakan suatu ruangan tempat menyimpan buku dan bukan buku yang dapat difungsikan sebagai sumber belajar baik bagi siswa maupun bagi guru dalam pengembangan literasi, khususnya dalam hal ini literasi bahari. Dalam rangka itu Pemerintah Kabupaten Buleleng telah mengembangkan perpustakaan sekolah di setiap sekolah dasar yang ada di Kabupaten Buleleng. Pengembangan perpustakaan sekolah dalam pengembangan literasi dapat dikatakan belum optimal. Hal itu disebabkan masih terbatasnya sumber daya pengelola perpustakaan sekolah yang memiliki kualifikasi D3 Perpustakaan, terbatasnya buku bacaan yang tema kebaharian dan kurangnya inovasi dalam pengembangan literasi bahari.Dalam mengatasi hal itu telah diupayakan beberapa program kemitraan dengan Program Studi D3 Perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha. Saran Dalam mengatasi berbagai permasalahan diperlukan adanya komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk terus mengembangkan perpustakaan baik dari pengembangan sarana dan prasarana termasuk dalam peningkatan rekrutmen tenaga perpustakaan yang memiliki kualifikasi sesuai dengan stanmdar minimal dalam pengelolaan perpustakaan. Di samping itu diperlukan adanya kerja sama kemitraan antara pengelola perpustakaan sekolah dengan berbagai perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Perpustakaan