Library Class: Model Pembelajaran Literasi Informasi Tingkat Sekolah Dasar (Studi Kasus Sd Madania) Library Class: Information Literacy Learning Model in Primary School (Case Study in Madania Elementary School)
Universitas YARSI; Universitas YARSI; Universitas YARSI
Abstrak
Literasi Informasi merupakan komponen keterampilan yang sangat penting dalam pembelajaran seumur hidup bagi siswa. Sekolah Dasar Madania Parung Bogor merupakan salah satu sekolah di Indonesia yang menerapkan pembelajaran literasi informasi sejak tingkat sekolah dasar. Pengkajian bertujuan untuk merancang desain pembelajaran literasi informasi sejak sekolah dasar. Pengkajian ini merupakan studi kasus tentang karakteristik model pembelajaran literasi informasi di Sekolah Dasar Madania. Hasil kajian memperlihatkan bahwa keterampilan literasi informasi perlu diberikan bagi siswa sejak tingkat sekolah dasar agar menjadi bekal keterampilan pembelajar mandiri. Pembelajaran literasi informasi di SD Madania berbentuk kelas klasikal yang disebut dengan Library Class. Library Class memiliki peranan dalam meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa. Hasil lainnya adalah tersusunnya ruang lingkup utama yang menjadi dasar pengembangan topik lain yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Keenam ruang lingkup utama tersebut adalah (1) Orientasi dan nilai-nilai kepustakaan atau library values;(2) Sumbersumber informasi atau resource literacy; (3) Penelusuran informasi atau research literacy; (4) Pengolahan dan pemanfaatan informasi atau organization of information; (5) Evaluasi informasi atau critical literacy; dan (6) Penyajian informasi atau publishing literacy. Keenam ruang lingkup utama tersebut dituangkan dalam bentuk silabus yang dapat menjadi rekomendasi bagi para pengelola perpustakaan sekolah, guru, dan kepala sekolah untuk mengintegrasikan literasi informasi dalam proses pengajaran dan pembelajaran di kelas sehingga tercapai keterpaduan dan kolaborasi antar berbagai pihak di sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Abstract
Information literacy is a critical skill component in lifelong learning for student. Information literacy skills need to be provided for student since the primary school level. Madania Elementary School is a school in Indonesia that has applied information literacy learning since primary school. This study aimed to design information literacy learning since primary school. The method used in this study was a case study that describe the characteristics of the learning model of information literacy in Madania Elementary School. The type of research used descriptive qualitative to analyze the results of questionnaires, interviews and literature studies on the design of information literacy learning in primary school. The result of this research showed that the learning of information literacy in Madania Elementary School was held by special class in the library called “Library Class”. Library Class has a role to improve the student’s information literacy skill. The compilation of six main scopes became a basic to develope other topics that support the achievement of learning objectives. The six main scopes were (1) Orientation and library values; (2) Source of information or resource literacy; (3) Information search or research literacy; (4) processing and utilization of information or organization of information; (5) information evaluation or critical literacy; and (6) presentation of information or publishing literacy. The six main scopes were set out in the form of a syllabus that can be a recommendation for school librarians, teachers, and principals to integrate information literacy in teaching and learning process in the classroom to improve learning quality.
Keywords:
Library class
· learning model
· information literacy
· elementary school
Introduction
Perpustakaan sekolah/madrasah tidak lagi hanya berfungsi untuk mengelola buku-buku atau koleksi perpustakaan, tetapi juga sebagai partner guru dalam proses pembelajaran siswa. Perkembangan teknologi informasi yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan dan tenaga perpustakaan untuk dapat bersaing dengan internet dalam kegiatan penelusuran informasi. Generasi muda saat in hidup di era digital (digital native), di mana internet menjadi bagian dari keseharian dalam hidupnya. Hal ini membuat siswa sangat bergantung pada mesin pencarian seperti google dalam mencari informasi, sehingga penggunaan sumber daya berkualitas yang tersedia di perpustakaan menjadi berkurang. Kondisi ini juga menjadi tantangan baru bagi pustakawan sekolah untuk mengarahkan siswa mencari sumber-sumber informasi yang berkualitas dan mendidik mereka untuk mengevaluasi sumber daya web melalui penerapan pembelajaran literasi informasi. Saat ini tantangan terbesar dalam penerapan literasi informasi di sekolah bersumber dari internal sekolah, di antaranya kurang memadainya kemampuan guru dan tenaga perpustakaan sekolah di dalam literasi informasi, belum adanya kebijakan dari sekolah terhadap program literasi informasi, dan tidak adanya program literasi informasi di perpustakaan sekolah sehingga peserta didik tidak memiliki kemampuan dalam mencari, menelusur, mengolah, dan mengevaluasi informasi secara efektif dan efisien. Masih rendahnya tingkat literasi informasi di kalangan peserta didik juga berdampak maraknya plagiarism (penjiplakan) di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, guru selaku pendidik dan tenaga perpustakaan sekolah selaku tenaga kependidikan harus memiliki keterampilan literasi informasi yang baik kemudian mengajarkannya kepada para peserta didik. Diharapkan, para peserta didik yang sudah memiliki keterampilan literasi informasi dapat menelusur informasi yang semakin melimpah, mampu menyeleksi informasi yang dibutuhkan, baik sumber-sumber informasi tercetak maupun elektronik, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari maupun penyelesaian tugastugas di sekolah, serta menyajikan informasi secara etis. Menurut Darmono (2007), salah satu manfaat literasi informasi bagi peserta didik adalah membentuk sikap dan perilaku pemustaka untuk mencari dan mengolah informasi secara efektif dan efisien berkaitan dengan tugas-tugas dan pelajaran di sekolah. Keterampilan literasi tidak hanya menjadikan peserta didik mampu menyelesaikan tugas-tugas pelajarannya dengan baik di sekolah, tetapi juga berlanjut ke tingkat perguruan tinggi bahkan saat memasuki lingkungan kerja dan di masyarakat. Kolaborasi antara guru dan tenaga perpustakaan sekolah/madrasah sangat dibutuhkan untuk mengintegrasikan keterampilan literasi informasi dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Baik guru maupun tenaga perpustakaan sekolah/madrasah memiliki peranan dalam membentuk karakter peserta didik yang kritis dalam menggunakan informasi. Guru sebagai pendidik merupakan individu yang memiliki jalur utama dalam berkomunikasi dengan peserta didik di sekolah untuk mengajarkan keterampilan literasi informasi dalam proses pembelajaran. Riset telah menunjukkan bahwa kolaborasi antara guru dan pustakawan memberikan dampak positif terhadap proses belajar siswa. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Gross dan Shelvie (2016) yang berjudul An Exploration of Teacher and Librarian Collaboration in the Context of Professional Preparation yang menyebutkan kolaborasi antara guru dan pustakawan bereaksi positif terhadap siswa sehingga siswa memiliki kesempatan yang lebih baik dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Oleh karena itu, program dan kurikulum pembelajaran sekolah hendaknya dirancang untuk melibatkan dan mendorong proses kolaborasi antara guru dan pustakawan dalam proses pembelajaran. Sekolah Madania merupakan salah satu sekolah yang menerapkan pembelajaran literasi informasi, baik melalui jam khusus yang terjadwal maupun jam insidental yang diperlukan sesuai kebutuhan. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran literasi informasi di sekolah Madania untuk tingkat SD mendapat alokasi waktu 40 menit per minggu dengan menggunakan model tatap muka atau klasikal. Pengkajian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis model pembelajaran literasi informasi di Sekolah Dasar Madania, (2) menyusun rancangan topik pembelajaran literasi informasi sekolah dasar; dan (3) Menyusun rancangan standar kompetensi keterampilan literasi informasi siswa tingkat sekolah dasar. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi bagi para pengelola perpustakaan sekolah, guru, dan kepala sekolah untuk mengintegrasikan literasi informasi dalam proses pengajaran dan pembelajaran di kelas sejak tingkat dasar sehingga tercapai keterpaduan dan kolaborasi antarberbagai pihak di sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Method
Pengkajian menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui tahapan kegiatan sebagai berikut: 1. Focus group discussion dengan tim pustakawan sekolah, baik dari SD Madania maupun sekolah dasar lainnya, di antaranya Kepala Sekolah, Guru, Kepala Perpustakaan dan Tenaga Perpustakaan Sekolah yang berasal dari SD Madania, SD Ummul Quro, SD Qurota ‘Aini, SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, SD Lukman Hakim Jogjakarta, SD St. Laurensia, SD Miftahul Athfal, SD Kreativa, dan SD Permata Hati untuk merumuskan proses pembelajaran literasi informasi yang sedang berlangsung di Sekolah Dasar Madania serta standar kompetensi keterampilan literasi informasi bagi siswa SD. 2. Wawancara dengan pihak-pihak terkait yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala perpustakaan, dan guru. Wawancara bertujuan untuk mengkaji kesiapan sekolah dalam hal sarana prasarana yang menunjang untuk pembelajaran literasi informasi. Beberapa pertanyaan yang disajikan mengadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Moreira (2012) dengan judul Information Literacy in Elementary Schools. 3. Studi literatur terhadap beberapa model dan kurikulum literasi informasi di sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran literasi informasi sejak tingkat dasar.
Result & Discussion
Literasi Informasi Salah satu program perpustakaan yang bertujuan meningkatkan kemampuan pemustaka (pengguna perpustakaan) adalah atau keterampilan literasi informasi, yakni sebuah keterampilan dalam mencari, mengolah, dan mengevaluasi serta memanfaatkan informasi. American Association of School Librarians (AASL, 1998) selaku asosiasi bagi para Pustakawan Sekolah di Amerika Serikat menetapkan lima standar kompetensi literasi informasi di tingkat sekolah. Model Penerapan Pembelajaran Literasi Informasi di SD Madania Perpustakaan SD Madania menyelenggarakan program literasi informasi secara mandiri dalam bentuk klasikal yang disebut dengan Library Class yang diampu oleh satu orang Teacher Librarian. Program ini telah dilakukan secara rutin sejak tahun 2006. Berdasarkan hasil observasi, tugas Teacher Librarian selain mengajarkan keterampilan literasi informasi, juga mengikuti pertemuan atau rapat persiapan belajar untuk menggali informasi serta menganalisis berbagai tema pembelajaran pada setiap minggunya. Kemudian program Library Class akan Standar 1 No Siswa sebagai pencari informasi 1 Mengembangkan atau mengikuti rencana penelitian tertentu 2 Mengidentifikasi kata kunci dalam pencarian 3 Mengembangkan pertanyaan penting terkait dengan suatu topik 4 Menggunakan bahan referensi tercetak maupun noncetak. 5 Menggunakan internet dalam kegiatan penelusuran 6 Membuat catatan dan mensintesis informasi menjadi hasil yang bermakna 7 Mengevaluasi informasi dari sisi konten, akurasi, dan relevansi dengan topik 8 Menunjukkan kemampuan untuk menyusun sebuah bibliografi formal dalam kegiatan pengutipan. Standar 2 1 Memahami kriteria produk yang berkualitas 2 Memahami dan menerapkan rubrik atau metode penilaian lain untuk penciptaan produk 3 Menggunakan berbagai media dan bahan untuk memproduksi sebuah produk 4 Menyajikan informasi dengan menggunakan teknologi dan format presentasi yang tepat Standar 3 1 Mencari sumber bahan jenis fiksi dan semua jenis aliran 2 Mencari sumber non-fiksi dengan klasifikasi Decimal Dewey 3 Mencari dan menggunakan bahan referensi sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan (ensiklopedi, kamus, atlas, CD-ROM, dan layanan online) 4 Mengidentifikasi karya berbagai penulis dan mengetahui bahwa membaca merupakan keterampilan penting untuk belajar seumur hidup Standar 4 1 Berpartisipasi secara aktif sebagai anggota kelompok 2 Menghormati pendapat orang lain 3 Mempertahankan pendapat 4 Memberikan kritik yang membangun 5 Memahami bahwa perbedaan dalam suatu kelompok akan mencerminkan sinergi kelompok Standar 5 No Siswa sebagai pengguna informasi yang bertanggung jawab 1 Respek, mengembalikan pinjaman koleksi secara tepat waktu 2 Membuat bibliografi dari sumber-sumber yang telah digunakan 3 Memahami konsep dan konsekuensi dari plagiarisme. 4 Memiliki pemahaman terhadap hak cipta menyesuaikan dengan tema yang ditentukan untuk menunjang proses pembelajaran. Misalnya ketika siswa mendapatkan tugas yang berkaitan dengan pencarian informasi dari berbagai sumber, Library Class akan menyajikan materi tentang strategi penelusuran informasi, baik dari sumber informasi tercetak maupun elektronik. Setiap minggu setiap kelas mendapat alokasi waktu sebanyak 40 menit per pertemuan untuk mempelajari berbagai keterampilan literasi informasi. Sistem yang digunakan adalah moving class. Kunjungan rutin siswa ke perpustakaan tidak hanya sekedar meminjam dan mengembalikan buku, tetapi juga memperoleh keterampilan literasi informasi secara berjenjang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan Teacher Librarian di SD Madania, Library Class memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi siswa. Arianiansyah Karyatin berpendapat bahwa dengan terprogramnya pembelajaran literasi infromasi yang diintegrasikan dalam bentuk pembelajaran melalui penyelenggaraan “Library Class” akan memudahkan siswa dalam memanfaatkan sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan dan semakin meningkatkan kemampuan penelusuran informasi siswa-siswi SD Madania. Hal ini dikutip dari pernyataan beliau bahwa: “Dengan adanya library class memfasilitasi setiap siswa memiliki keterampilan dalam menelusur informasi sesuai kebutuhan, sehingga siswa semakin kaya dengan berbagai sumber informasi yang tersedia di perpustakaan”. Misalnya anak-anak yang sedang mengerjakan projek dari Guru Kelasnya untuk membuat Biografi seorang tokoh, maka dengan adanya Library Class membantu anak-anak mudah menemukan ide tokoh yang akan ditulis, mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terkait tokoh tersebut serta menuangkan dalam bentuk tulisan”. Gambar 1. Suasana Library Class di SD Madania. Penentuan Standar Kompetensi Keterampilan Literasi Informasi Siswa Sekolah Dasar Standar kompetensi perlu ditetapkan sebagai ukuran untuk menentukan kemampuan yang ingin dicapai dari suatu proses pembelajaran. Berikut ini adalah rancangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Literasi Informasi Tingkat SD Kelas 16 secara berjenjang dengan mengacu kepada standar kompetensi literasi informasi tingkat sekolah dari American Association of School Librarians (AASL 1998) dari hasil studi literatur tentang pengembangan kurikulum literasi informasi tingkat sekolah dasar diantaranya: 1. Information Literacy Skills Kindergarten-Grade 12 yang disusun oleh River East Transcona School Division, Canada tahun 2008. 2. Information Literacy Curriculum Guide Kindergarten through Eighth Grade disusun oleh Voorhess Public School, New Jersey tahun 2005. 3. Complete Library Skills Kindergarten-Grade 6 disusun oleh Turrel L, United States of America Tahun 2004. Berikut ini merupakan hasil penyusunan standar kompetensi dan kompetensi dasar literasi informasi tingkat sekolah dasar (SD) untuk diterapkan di pembelajaran “Library Class” SD Madania (Tabel 1). Rancangan Topik Pembelajaran Literasi Informasi Tingkat Sekolah Dasar Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan pustakawan serta studi literatur penulis menyusun enam topik utama (Tabel 1) yang akan menjadi dasar Tabel 1. Standar kompetensi dan kompetensi dasar literasi informasi tingkat sekolah dasar. Topik : Library Values and Skill atau Keterampilan dan Nilai-Nilai Kepustakaan SK Siswa mampu menjadi pemustaka yang baik dan memanfaatkan sumber daya yang ada di perpustakaan secara efektif dan maksimal KD - Respek dan berperilaku yang baik ketika berada di perpustakaan - Menjaga sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan - Mengetahui sistem klasifikasi sederhana yang digunakan di perpustakaan - Memahami manfaat call number atau punggung buku pada berbagai jenis bahan pustaka Topik : Resources Skill atau Keterampilan Sumber-Sumber Informasi SK Siswa mampu untuk memahami bentuk, format, lokasi, dan metode dalam mengakses sumber-sumber informasi. KD - Memahami informasi yang dibutuhkan - Mengidentifikasi berbagai tipe dan jenis sumber-sumber informasi potensial - Memilih informasi yang dibutuhkan - Mengetahui dan mengenal berbagai jenis cerita, cerita rakyat, dongeng dari berbagai budaya. - Memahami bagian-bagian cerita Topik : Research Literacy atau Kemahiran dalam Penelusuran Informasi SK Siswa mampu untuk memahami dan menggunakan sumber-sumber informasi tercetak maupun elektronik dalam melakukan riset sederhana KD - Mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif - Menyusun dan menerapkan strategi pencarian informasi Topik : Organization of Information atau Pengolahan dan Pemanfaatan Informasi SK Siswa mampu mengolah informasi yang sudah didapatkan dengan mengidentifikasi topik utama dari sebuah informasi, menyeleksi informasi yang relevan, membuat catatan dan kesimpulan KD - Meringkas, mencatat, dan mengolah informasi beserta sumber-sumbernya - Menyimpulkan gagasan utama dari berbagai sumber informasi yang telah didapatkan - Menyusun gagasan utama baru - Menuliskan laporan riset sederhana Topik : Critical Literacy atau Kemahiran dalam Mengevaluasi Informasi SK Siswa mampu mengevaluasi informasi secara kritis KD - Mengevaluasi informasi (isi, tingkat akurasi, dan relevansi dengan topik). - Mengevaluasi hasil karya/project Topik : Publishing Literacy atau Kemahiran dalam Penyajian Informasi SK Siswa mampu mengkomunikasikan hasil suatu riset dengan menggunakan teknik presentasi yang tepat baik dalam bentuk teks maupun multimedia KD - Memahami isu-isu pemanfaatan informasi dan teknologi informasi secara etis dan legal. - Memahami konsep dan konsekuensi penjiplakan - Mengikuti aturan dan etika dalam mengakses dan menggunakan sumber-sumber informasi - Memahami teknik sitasi - Mengkomunikasikan gagasan melalui media yang tepat pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran literasi informasi Tingkat Sekolah Dasar. Keenam topik tersebut yaitu Orientasi dan NilaiNilai Kepustakaan atau Library Values; Sumber-Sumber Informasi atau Resource Literacy; Penelusuran Informasi atau Research Literacy; Pengolahan dan Pemanfaatan Informasi atau Organization of Information; Evaluasi Informasi atau Critical Literacy; Penyajian Informasi atau Publishing Literacy. Topik 1 meliputi panduan dalam menggunakan berbagai fasilitas perpustakaan dan koleksinya Library Values and Skills menjadi hal yang penting untuk disampaikan karena setiap perpustakaan memiliki aturan, prosedur dan program tersendiri. Melalui materi-materi Library Values and Skills ini pustakawan dapat mensosialisasikan aturan, prosedur dan program perpustakaan kepada para siswa sehingga siswa memiliki wawasan yang baik tentang bagaimana menjadi pemustaka yang baik. Selain itu dengan keterampilan kepustakaan diharapkan siswa mampu memanfaatkan sumber daya yang ada di perpustakaan secara efektif dan maksimal. Topik 2, Resource Literacy atau sumber-sumber informasi merupakan topik yang berisi panduan untuk memahami bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan sumber daya informasi. Pada tahap ini, siswa diharapkan dapat mengetahui permasalahan dalam penyelesaian tugasnya sehingga siswa dapat mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan. Topik 3, Research Literacy merupakan topik utama yang berisi materi tentang keterampilan dalam penelusuran informasi. Topik ini membahas cara mencari dan menilai sumber-sumber informasi yang diperlukan berdasarkan identifikasi masalah serta bagaimana mendapatkan informasi tersebut. Topik 4, Organization of Information atau Pengolahan dan Pemanfaatan Informasi merupakan topik yang berisi panduan untuk mengolah dan memanfaatkan informasi. Setelah mendapatkan sumber dan isi informasi, siswa harus mengetahui cara memanfaatkan dan mengolah informasi tersebut untuk menjawab permasalahan yang ada. Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu mengolah informasi yang sudah didapatkan dengan mengidentifikasi topik utama dari sebuah informasi, menyeleksi informasi yang relevan, serta membuat catatan dan kesimpulan. Topik 5, Critical Literacy atau Evaluasi Informasi merupakan menu yang berisi materi tentang petunjuk untuk mengembangkan kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis, berisi tahapan kegiatan evaluasi terhadap proses yang dilakukan dan hasil akhir suatu produk, apakah sudah sesuai dengan ketentuan atau rubrik yang ditetapkan. Tahap ini juga dikenal dengan istilah critical literacy menurut Shapiro dan Hughes (1990) yang merupakan kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara kritis serta proses dan hasil suatu karya. Topik 6, Publishing Literacy atau Penyajian Informasi merupakan topik yang berisi panduan dalam mengkomunikasikan hasil suatu riset dengan menggunakan teknik presentasi yang tepat baik dalam bentuk teks maupun multimedia. Selain itu melalui materi pada topik ini, siswa diharapkan mampu menampilkan dan mengkomunikasikan informasi yang dimiliki dalam suatu format baru secara etis dan legal. Berdasarkan enam topik utama di atas, disusunlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dituju melalui pembelajaran literasi informasi di tingkat SD melalui Library Class. Selanjutnya dari kompetensi dasar dapat dikembangkan beberapa materi untuk mencapai tujuan pembelajaran serta target pencapaian masing-masing tingkat kelas. Analisis Pemahaman Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Perpustakaan Sekolah Terhadap Konsep dan Penerapan Literasi Informasi Wawancara dengan 12 orang yang meliputi Kepala Sekolah, Guru, Kepala Perpustakaan, dan Tenaga Perpustakaan Sekolah SD Madania, SD Ummul Quro, SD Qurota ‘Aini, SD Muhammadiyah Sapen Jogjakarta, SD Lukman Hakim Jogjakarta, SD st. Laurensia, SD Miftahul Athfal, SD Kreativa, dan SD Permata Hati dilakukan untuk mengetahui pemahaman mereka peserta terhadap konsep literasi informasi. Hampir seluruh responden cukup memahami konsep literasi informasi. Hal ini juga diperkuat dari hasil tanya-jawab dan diskusi yang menunjukkan mayoritas responden mampu menjawab pertanyaan dasar terkait penerapan literasi informasi di sekolah masingmasing. Terkait penerapan pembelajaran literasi informasi melalui “Library Class”, seluruh responden setuju bahwa Library Class memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi siswa. Dengan terprogramnya pembelajaran literasi infromasi yang diintegrasikan dalam bentuk Library Class akan memudahkan siswa dalam pemanfataan sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan. Terkait dengan pemahaman responden terhadap keberadaan perpustakaan sekolah dalam mengembangkan kemampuan literasi informasi pada siswa, responden menyatakan bahwa perpustakaan sekolah memiliki peranan sangat penting dalam mengembangkan kemampuan literasi informasi pada siswa. Salah satunya, dengan meningkatnya keterampilan pencarian informasi para siswa akan memberikan keuntungan tersendiri dalam proses pembelajaran. Sebagai guru, Nita Haryanti dari SD IT Ummul Quro dan Anita Indraningsih dari MI Miftahul Athfal membenarkan hal tersebut. Nita selaku Guru Bahasa Indonesia menyatakan: “Keberadaan perpustakaan sekolah dapat mendukung semua mata pelajaran yang diajarkan di setiap sekolah”. Selain itu, Eko Wiyanti, M.Hum dari SD St.Laurensia mengilustrasikan perpustakaan sebagai laboratorium literasi informasi. Berikut penjelasan dari Eko: “Dengan adanya pustakawan/tenaga perpustakaan di sekolah dapat menjadi ujung tombak penerapan literasi informasi di sekolah. Pustakawan bukan hanya sebagai penyedia layanan peminjaman dan pengembalian buku namun pustakawan juga dapat memainkan peranannya sebagai pengajar yang kreatif dalam meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa. Sehingga setiap sekolah hendaknya menjadikan perpustakaan sekolahnya sebagai laboratorium literasi informasi melalui program-program peprustakaan sekolah untuk meningkatkan keterampilan literasi informasi seluruh sivitas akademik di sekolah.” Sebagai penutup kegiatan wawancara, diajukan pertanyaan terkait perlu tidaknya diselenggarakan pelatihan literasi informasi di sekolah masing-masing bagi guru dan pustakawan atau tenaga perpustakaan sekolah. Seluruh responden menjawab perlu, karena adanya pemahaman yang sama antara guru dan tenaga perpustakaan sekolah dapat memudahkan kolaborasi dan kerja sama penerapan literasi informasi di sekolah secara menyeluruh sehingga kemampuan literasi informasi siswa meningkat pula.
Conclusion
Kesimpulan Model Pembelajaran literasi informasi di SD Madania diselenggarakan dalam bentuk kelas klasikal yang disebut dengan Library Class. Library Class memiliki struktur program yang sistematis dan berjenjang dari kelas 1 hingga kelas 6. Hal ini ditujukan agar kompetensi kemampuan literasi informasi yang diharapkan dapat terwujud. Model pembelajaran literasi informasi dengan Library Class menjadi sebuah strategi pemebelajaran literasi informasi sejak dini. Diharapkan siswa SD yang akan naik ke jenjang lebih tinggi yakni SMP dan SMA, telah memiliki pondasi keterampilan literasi informasi dasar yang memadai. Rancangan topik utama pembelajaran literasi informasi di tingkat sekolah dasar meliputi enam ruang lingkup utama yang dapat menjadi dasar pengembangan topik lain yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Keenam ruang lingkup utama tersebut adalah (1) Orientasi dan Nilai-Nilai Kepustakaan atau Library Values; (2) Sumber-Sumber Informasi atau Resource Literacy; (3) Penelusuran Informasi atau Research Literacy; (4) Pengolahan dan Pemanfaatan Informasi atau Organization of Information; (5) Evaluasi Informasi atau Critical Literacy serta (6) Publishing Literacy atau Penyajian Informasi. Standar kompetensi keterampilan literasi informasi siswa Sekolah Dasar Madania yang ditentukan adalah siswa mampu: (1) menjadi pemustaka yang baik dan memanfaatkan sumber daya yang ada di perpustakaan secara efektif dan maksimal; (2) memahami bentuk, format, lokasi, dan metode dalam mengakses sumber-sumber informasi; (3) menggunakan sumber-sumber informasi tercetak maupun elektronik dalam melakukan riset sederhana; (4) mengolah informasi yang sudah didapatkan dengan mengidentifikasi topik utama dari sebuah informasi, menyeleksi informasi yang relevan, membuat catatan dan kesimpulan; (5) mengevaluasi informasi secara kritis; serta (6) mengkomunikasikan hasil suatu riset dengan menggunakan teknik presentasi yang tepat, baik dalam bentuk teks maupun multimedia. Saran Keterampilan literasi informasi merupakan salah satu keterampilan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh setiap individu di era informasi. Pembudayaan literasi informasi perlu diterapkan sejak di bangku sekolah dasar dan menengah agar pada saat siswa memasuki perguruan tinggi, siswa mempunyai bekal dalam memanfaatkan sarana perpustakaan di perguruan tinggi secara efektif dan efesien. Oleh karena itu, pembelajaran literasi informasi yang akan diterapkan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran literasi informasi memerlukan perencanaan yang matang. Salah satunya dengan merancang kurikulum pembelajaran literasi informasi di tingkat dasar.