Kembali
16
1
2020 ACARYA PUSTAKA: Jurnal Ilmiah Perpustakaan dan Informasi Vol 7 · 2 ISSN 2443-0293

KURIKULUM PENGAJARAN PERPUSTAKAAN MENYONGSONG LAYANAN PERPUSTAKAAN DI ERA DISRUPSI

Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak

Era disrupsi merupakan suatu era yang terjadi ketika suatu inovasi baru merangsak masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang menciptakan efek disrupsi yang cukup kuat sehingga mengubah struktur atau sistem yang sebelumnya sudah ada. Era disrupsi berdampak cukup sitematis pada penyelenggaraan layanan perpustakaan sehingga sebagai insan yang bergelut dengan perpustakaan harus dapat menyiapkan strategi dalam menghadapi atau mengantisipasi kebutuhan penggna pada era ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan untuk menghadapi era disrupsi, yaitu : memanfaatkan teknologi, tidak cepat merasa puas, “Customer Oriented”, selalu berinovasi, tidak menyalahkan regulasi dan. meningkatkan kompetensi. Dalam menghadapi era disrupsi mahasiswa selain memiliki kompetensi inti, juga diharapkan memiliki kompetensi tambahan berupa semangat kemandirian dan keterampilan memanfaatkan teknologi serta memiliki kemampuan berorganisasi, berkomunikasi dan memiliki kemampuan dalam menyebarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki,. Lulusan diharapkan mempunyai wawasan ke depan, dan tanggap terhadap perubahan global serta mampu membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pihak dalam mengelola perpustakaan Adapun strategi yang dapat dilakukan adalah dengan cara meningkatkan relevansi bahan ajar secara berkala dengan pemutakhiran, penyesuaian atau revisi kurikulum, khususnya dalam pengembangan silabus dan SAP (Satuan Acara Perkuliahan). Hal ini ditujukan untuk meningkatkan keterkaitan dengan dunia kerja pada era disrupsi ini.

Abstract

The disruption era is an era that occurs when a new innovation penetrates into people's lives, which creates a disruption effect that is so strong that it changes the structure or system that previously existed. Disruption era has a systematic impact on the implementation of library services, so as a library manager must be able to prepare strategies to face or anticipate the needs of users in this era. There are several things that we must pay attention to in facing disruption era, namely: utilizing technology, not being easily satisfied, "Customer Oriented", always innovating, not blaming regulations and. improve competence. In facing the disruption era, students besides having core competencies, are also expected to have additional competencies such as, the spirit of independence, skills in utilizing technology, having the ability to organize, communicate, have the ability to spread knowledge and skills possessed. Graduates are expected to have insight into the future, and be responsive to global changes, and be able to build networks of collaboration with various parties in managing the library. The strategy that can be done is by increasing the relevance of teaching materials regularly by updating, adjusting or revising the curriculum, especially in the development of syllabi and SAP (Lecture Program Unit). This is intended to increase linkages with the world of work in this disruption era
Keywords: Kurikulum perpustakaan pada era disrupsi

Introduction

Sudah pernah mendengar istilah era disrupsi? Era disrupsi merupakan suatu era yang terjadi ketika suatu inovasi baru merangsak masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang menciptakan efek disrupsi yang cukup kuat sehingga mengubah struktur atau sistem yang sebelumnya sudah ada. Kita dapat menyaksikan fenomena efek disrupsi pada kehidupan masyarakat. misalnya, Perubahan pada prilaku kita dalam hal menggunakan angkutan ojek maupun taksi yang sudah meninggalkan sistem konvensional ke sistem on line. Kemudian pemesanan makanan dengan berbasis on line seperti go food, grab food dan masih banyak aplikasi online yang notabene memberikan layanan yang memberikan kemudahan bagi masyarakat pengguna. Termasuk juga kebiasaan mengunakan jasa toko on-line dalam memenuhi kebutuhan belanja masyarakat. Dengan munculnya era disrupsi ini tidak dapat dipandang sebelah mata karena sudah tentu akan mempengaruhi berbagai layanan jasa yang ada termasuk perpustakaan. Era disrupsi berdampak cukup sitematis pada penyelenggaraan layanan perpustakaan sehingga sebagai insan yang bergelut dengan perpustakaan harus dapat menyiapkan strategi dalam menghadapi atau mengantisipasi kebutuhan penggna pada era ini. Permasalahan yang muncul sekarang adalah sejauhmana kurikulum pengajaran pada dunia pendidikan khususnya program diploma perpustakaan dibawah nauangan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas pendidikan Ganesha mampu mengantisipasi tuntutan penyelenggaraan perpustakaan pada era disrupsi ini? TINJAUAN TEORITIS Pada prinsipnya penyusunan kurikulum sebuah program studi disusun dengan mengacu pada visi, misi, dan tujuan dari program studi. Kepmendiknas No. 045/U/2002 menyebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugastugas di bidang pekerjaan tertentu.yang mana lulusan diharapkan memiliki kompampuan dalam hal Pengetahuan dan Pemahaman (Knowledge and Understanding), Keterampilan Intelektual (Intellectual Skill), Keterampilan Praktis (Practical Skill), dan Keterampilan Managerial dan Sikap (Managerial Skill and Attitude). Standar kompetensi yang umum tersebut disebar menjasdi sejumlah mata kuliah dalam beberapa semester Dalam menghadapi era disrupsi mahasiswa selain memiliki kompetensi tersebut,mahasiswa juga diharapkan memiliki kompetensi tambahan berupa semangat kemandirian dan keterampilan memanfaatkan teknologi serta memiliki kemampuan berorganisasi, berkomunikasi dan memiliki kemampuan dalam menyebarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki,. Lulusan diharapkan mempunyai wawasan ke depan, dan tanggap terhadap perubahan global serta mampu membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pihak dalam mengelola perpustakaan Adapun strategi yang dapat dilakukan adalah dengan cara meningkatkan relevansi bahan ajar secara berkala dengan pemutakhiran, penyesuaian atau revisi kurikulum, khususnya dalam pengembangan silabus dan SAP (Satuan Acara Perkuliahan). Hal ini ditujukan untuk meningkatkan keterkaitan dengan dunia kerja pada era disrupsi ini. Untuk memperoleh relevansi antara kurikulum dengan tuntutan dari kebutuhan stakeholder sangat diperlukan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan secara berkala oleh dosen program studi sehingga memperoleh masukan dari stakeholder (pemakai alumni) yang dapat dipakai acuan dalam melakukan perubahan dalam kurikulum pembelajaran Disamping itu untuk meningkatkan akselerasi metode pembelajaran yang efektif dalam hal pemahaman, evaluasi dan pemutakhiran bahan ajar diperoleh dari stakeholder internal yaitu mahasiswa dan dosen yang dilakukan setiap tahun ajaran dan disesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi pada era desrupsi ini. Lokakarya mengenai kurikulum sudah semestinya dilakukan setiap tahun ajaran yang dikuti oleh seluruh dosen program studi perpustakaan untuk lebih menyelaraskan kurikulum pembelajaran mahasiswa denga tuntutan pasar kerja. Sebagai bahan pertimbangan berdasarkan pendapat sulistyo-Basuki (2006) yang mengusulkan 12 kometensi TIK yang diharapkan dimiliki oleh lulusan ilmu perpustakaan adalah: 1. Kompetensi dasar TIK 2. Kompetensi olah kata (word processing) 3. Kompetensi Surat Elektronik (e-mail) 4. Kompetensi Internet dan intranet 5. Kompetensi grafik 6. Kompetensi Penyajian (presentasi) 7. Kompetensi penerbitan 8. Kompetensi manajemen proyek dan lembar elektronik (spreadsheet) 9. Kompetensi pangkalan data 10. Kompetensi pemeliharaan sistem 11. Kompetensi dalam desain dan pengembangan aplikasi lingkungan web 12. Kompetensi analisis sistem dan pemrograman Dari keseluruhannya dibatasi poin 1- 9 adalah kompetensi inti sedangkan 10-12 merupakan kompetnsi lanjutan.

Discussion

Disamping kompetensi TIK yang telah disebutkan di atas lulusan Prodi perpustakaan diharapkan memiliki kompetensi menggunakan web atau teknologi partisipatif diantaranya facebook, twitter dan youtube. Perpustakaan dapat menggunakan teknologi partisipatif ini untuk menjangkau lebih banyak pengguna maupun sebagai sarana promosi. Contoh penggunan beberapa teknologi partisipasi di perpustkaan antara lain: 1. Layanan refrensi online 2. Youtube, sebagai sarana penunjang kelas literasi misalnya video tutorial mengakses database yg dilanggan perpustakaan 3. facebook. Yang dimanfaatkan sbg sarana promosi 4. Blog. Sebagai sarana untuk berinteraksi antara pustakawan dan pengguna 5. Online bookmark manager dapat menggantikan pathfinder konvensional perpustakaan Dengan melihat tuntutan yang sedemkian rupa dalam era distrupsi ini maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan pustakwan maupun calon pustakawan untuk menghadapi era disrupsi, yaitu : 1. Memanfaatkan Teknologi Pengguna Perpstakaan memiliki hak untuk menentukan pilihan dalam hal menggunakan jasa penyedia informasi atau produk informasi yang menawarkan kemudahan dengan berbagai kelebihan, baik dari segi kepraktisannya, kemudahan dan kecepatannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya perpustakaan yang anda kelola memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas jasa layanan. Hal ini sangat relevan dengna kondisi masyarakat pengguna yangt ini sudah didominasi oleh Generasi Milenial sehingga teknologi menjadi salah satu faktor mereka menentukan jasa maupun produk yang akan digunakan. 2. Tidak Cepat Merasa Puas Setiap produk memiliki siklusnya masing-masing termasuk produk layanan jasa yang disediakan perpustakaan. Berdasarkan teori The 4 Product Life Cycle Stages (PLC), suatu produk akan mengalami 4 tahapan siklus, yaitu introduction (perkenalan), growth (pertumbuhan), maturity (pematangan), dan decline (penurunan). Jadi, ketika produk maupun jasa layanan perpustakaan dalam tahapan growth, hendaknya jangan terlalu berpuas diri. Sebab di saat itu, penyedia jasa informasi lain juga mengembangkan produk layanan yang lebih baru dan lebih praktis yang mampu memberikan layanan informasi lebih baik lagi, sehingga pustakawan harus mampu memperrtahankan dan mengembangkan layanan untuk mengimbangi pesatnya perkembangan sistem layanan penyedia informasi yang sudah ada. Disini sangat dituntut kemampuan pustakawan untuk lebih peka terhadap perkembangan dan terus berkarya demi meningkatkan kualitas alayanan 3. “Customer Oriented” Layanan yang berorientasi pada konsumen merupakan layanan prima yang disediakan perpustakaan dengan tujuan untuk memberikan kepuasan pada pemustaka atau pengguna, Pada era disrupsi ini, sangat penting bagi perpustakaan untuk menyediakan berbagai layanan yang dapat berorientasi pada konsumen. Perpustakaan dapat memberikan berbagai program terobosan dalam menyediakan informasi dengan layanan customer service yang solutif dan cekatan, misalnya menyediakan layanan e library, penyediaan fasilitas internet yang memadai, fasilitas audio visual 5 dimensi yang menarik, fasilitas ruang baca yang nyaman dan memadai serta berbagai sistem layanan yang memanjakan pengguna sehingga menarik konsumen (pengguna perpustakaan) 4. Selalu Berinovasi Anda pernah menyaksikan beberapa perusahaan yang telah mengalami kemunduran karena tidak dapat beradaptasi seperti nokia, Kodak, Blackberry dsb (Sumber : bridgesoutheast.com) hal itu disebabkan karena kurangnya kemampuan berinovasi yang dimiliki perusahan tersebut sehingga berimbas pada ditinggalkannya produk dari perusahan tersebut oleh masyarakat. Demikian halnya perpustakaan apabila para pustakawan sebagai pengelola perpustakaan tidak mampu berinovasi sesuai tuntutan pengguna maka akan bernasib sama dengan perusahan tersebut. Artinya tidak akan ada lagi yang datang berkunjung memanfaatkan perpustakaan seperti pada era sebelumnya. Masyarakat pengguna memiliki selera yang terus mengalami perubahan dan perkembangan yang tidak dapat disetop atau diberhentikan oleh pustakawan sehingga pustakawanlah yang harus berinovasi dalam mengantisipasi era kemajuan yang berkembang pada masyarakat, 5. Tidak Menyalahkan Regulasi Pesatnya perkembangan teknologi membuat masyarakat pemakai perpustakaan memiliki opsi yang lebih banyak untuk dipilih dalam memenuhi kebutuhan akan informasi. Oleh karena itu, jika perpustakaan yang anda kelola ditinggalkan masyarakat dan menjadi korban dari era disrupsi, tidak seharusnya perpustakaan anda “menyalahkan” regulasi pemerintah, berusaha mencari-cari kesalahan dari pengguna maupun penyedia nformasi on line seperti mbah google, youtube dsb. Hal ini dikarenakan baik dengan maupun tanpa regulasi penyedia informasi on line akan tetap bertumbuh dan berkembang dan akan mendegradasi perpustakaan yang anda kelola. 6. Meningkatkan Kompetensi Pengelola perpustakaan harus mampu bersikap dinamis terhadap perkembangan masyarakat, terutama masyarakat pengguna. Untuk terselenggaranya layanan yang berualitas dalam menghadapi era disrupsi ini saangat dituntut untuk selalu meningkatkan kompetensi yang dimiliki, hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan melalui diklat maupun pendidikan formal. Keterampilan yang lebih baik dalam menyelenggarakan layanan perpustakaan terutama dalam bidang tekno;ogi informasi yang berkembang sangat relevan untuk dikuasai disamping penguasaan bahasa internasional yang baik mengingat era disrupsi ini semakin mengarahkan kita ke pergaulan gelobal. Penguasaan sikap yang baik juga memberikan warna tersendiri dalam peningkatan kompetensi ini, tanpa memiliki sikap yang positif pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki akan menjadi tidak atau kurang bermanfaat Itulah 6 hal yang dapat diperhatikan sebagai pengelola perpustakaan untuk menghadapi era disrupsi ini. Sehingga dalam membuat kurikulum sudah semestinya mengarahkan mahasiswa pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam 6 bidang tersebut. Pedoman program pendidikan professional perpustakaan dan informasi yang direvisi pada tahun 2012 oleh IFLA (International Federation Of Library Asotiation and Intitution) yang membahas mengenai kerangka arah pendidikan ilmuperpustakaan dan informasi termasuk membahas mengenai kurikulum inti yang perlu dimasukkan dalam pengajaran, yang mana pedoman kurikulum ini direvisi secara reguler disesuaikan dengan masukan dari penyelenggara LIS (Library Information Scientie) dan diawasi oleh Komite Standar IFLA (Halam,et.al 2012). Adapun kurikulum inti program studi ilmu perpustakaan dan informasi yang ada dalam pedoman IFLA adalah : 1. The information environment, societal impacts of the information society, information policy and ethics, the history of the field (Lingkungan informasi, dampak sosial dari masyarakat informasi, kebijakan dan etika informasi, sejarahnya} 2. Information generation, communication and use ( Pembuatan informasi, komunikasi, dan penggunaan) 3. Assessing information needs and designing responsive service ( Mengevaluasi kebutuhan informasi dan merancang layanan yang responsive) 4. The information transfer process (Proses transfer informasi) 5. Information resources management to include organization, processing, retrieval, preservation and conservation of onformation in it various presentations and formats. (Manajemen sumber daya informasi mencakup organisasi, pemrosesan, temu kembali, pelestarian, dan konservasi informasi di dalam berbagai format presentasi) 6. Research, analysis and interpretation of information.( Penelitian, analisis dan interpretasi informasi.) 7. Applications of information and communication technology to all facets of library and information product and services (Aplikasi teknologi informasi dan komunikasi untuk semua aspek perpustakaan dan produk dan layanan informasi) 8. Knoledge management (Manajemen Ilmu Pengetahuan) 9. Management of information agencies (Manajemen Lembaga Informasi) 10. Quantitative and qualitative evaliuation of outcomes of information and library use (evaluasi kuantitatif dan kualitatif dari hasil informasi dan penggunaan perpustakaan) 11. Awareness of indigenous knowledge paradigms ( Kesadaran akan paradigma kearifan local) Dengan demikian penyusunan kurikulum pendidikan perpustakaan sebaiknya memperhatikan patokan yang di tetapkan oleh IFLA sehingga nantinya output dari lulusan mampu mengantisipasi tuntutan dunia kerja pada era disrupsi, yang sudah tentu generasi yang akan datang mampu menjadi tulang punggung dari eksistensi perpustakaan di masyarakat dalam menopang kemajuan jaman.

Conclusion

Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Kurikulum Prodi Diploma Perpustakaan FHIS Undiksha disusun berdasarkan perkembangan tuntutan stakeholder eksternal yaitu pemakai lulusan yang menuntut kompetensi dari para lulusan dalam bidang perpustakaan sehingga lulusan merupakan tenaga terampil siap pakai yang memiliki kemampuan mengantisipasi perkembangan generasi milenial pada era disrupsi ini sehingga kurikulum prodi tetap adaptif dan responsif terhadap tuntutan pengembangan, baik nasional maupun internasional.. 2. Penyusunan Kurikulum sudah sepatutnya memperhatikan patokan yang telah dikeluarkan oleh IFLA sehingga output lulusan meiliki kompetensi dalam penyelenggaraan perpustakaan di era disrupsi Saran Kurikulum hendaknya disusun untuk merangsang mahasiswa agar dapat mengembangkan diri dengan baik dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilam yang mendekati mahir dan mudah dialihkan (transferable skills) dan memiliki kemampuan dalam mengantisipasi perkembangan jaman pada era disrupsi sehingga lulusan dapat lebih mudah memperoleh pekerjaan, mengembangkan karier dan studi lanjut.