Kembali
16
1
2020 ACARYA PUSTAKA: Jurnal Ilmiah Perpustakaan dan Informasi Vol 7 · 2 ISSN 2443-0293

PERAN PERUSAHAAN DALAM KONTRIBUSI SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOAL’S DIBIDANG PENDIDIKAN & LINGKUNGAN INDONESIA

London School of Public Relation

Abstrak

Rendahnya kualitas Pendidikan di Indonesia khususnya didaerah yang memiliki kategori terluar, terdepan dan terbelakang khusus diwilayah yang menjadi tanggung jawab dari perusahaan melalui CSR. Tujuan dari penelitian ini mengalisis kontribusi perusahaan dalam mewujudkan Sustainable Development Goal’s (SDGs) di bidang Pendidikan, dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui program Sekolah Suku Anak Dalam. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Implementasi SDGs yang dilakukan oleh PT JOB Pertamina - Talisman melalui Program Sekolah Suku Anak Dalam yang terbagi dalam Program baca, tulis, hitung, Program Sekolah Apung yang menghasilkan inovasi proses pembelajaran untuk daerah terluar yang berkontribusi secara langsung terhadap SDG’s.
Keywords: Sustanainable Development Goal’s · Pendidikan · Suku Anak Dalam

Introduction

Negara-negara di dunia serta organisasi internasional saat ini mulai berkomitmen untuk melakukan perbaikan taraf hidup dan pembangunan atas dasar prinsip-prinsip kemanusiaan bagi seluruh umat manusia agar memiliki hak-hak dasar hidup yang sejajar dengan manusia lainnya. Saat ini paradigma yang digunakan dalam pembangunan di Indonesia perlahan mulai bergeser dan tidak lagi berfokus pada pertumbuhan ekonomi saja dan tidak lagi didasarkan pada pertumbuhan sarana prasarana fisik, melainkan lebih cenderung kepada pembangunan dan pengembangan sumber daya manusianya. Salah satu upaya dilakukan untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang ada adalah melalui Pendidikan dan menjaga kualitas lingkungan hidup. Selain itu, negara-negara yang tergabung kedalam organisasi dunia PBB, termasuk Indonesia telah menyepakati program baru dan dengan terminologi baru, yaitu Sustainable Develepment Goals, yang salah satu point didalamnya adalah tentang pemerataan pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat dan menjaga kualitas lingkungan hidup. Sustainable Development Goals (SDGs) telah menjadi agenda internasional yang disusun oleh Perserikatan Bangsa -- Bangsa (PBB) yang melibatkan 194 negara, civil society, dan pelaku -- pelaku ekonomi secara global. Adapun tujuan dan target yang ingin dicapai adalah terkait tiga hal, yakni lingkungan, sosial dan ekonomi. Pendidikan menjadi salah satu point tujuan dari pelaksanaan SDGs dan merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Sehingga banyak daerah yang kemudian menjadikan pendidikan sebagai sektor prioritas, tak terkecuali di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dalam upaya menciptakan pemerataan pendidikan, pemerintah pusat telah mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada pemerintah daerah. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 7 ayat 2 point (a) menyatakan bahwa Pendidikan merupakan urusan wajib pelayanan dasar yang diselenggarakan pemerintah daerah. Suku Anak Dalam ini dikenal memiliki perilaku yang bergantung pada alam, mampu bertahan hidup dengan cara nomaden dan memiliki budaya yang sangat unik. Akan tetapi, dibalik keunikannya tersebut, Suku Anak Dalam memiliki beberapa keterbatasan salah satunya akses untuk meraih pendidikan yang layak dan akses mendapatkan lingkungan yang bersih. Sulitnya akses untuk mendapatkan Pendidikan dan kualitas lingkungan yang baik di pelosok menyebabkan terjadinya kesenjangan tingkat kualitas pendidikan dan hidup antara Suku Anak Dalam dan masyarakat pada umumnya khususnya di Indonesia. Untuk mencapai tujuan SDGs, terutama dalam hal peningkatan kualitas pendidikan dan lingkungan diperlukan keterlibatan langsung dari berbagai pihak, tidak hanya dari pemerintah saja. Akan tetapi peran ikut serta perusahaan dalam mewujudkan SDG’s sangat membantu proses pencapaian SDG’s di tahun 2030. Melalui program-program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan dan lingkungan seperti yang dilakukan oleh JOB Pertamina-Talisman Jambi Merang. JOB-PTJM merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di sektor hulu migas yang terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. Salah satu bentuk kepedulian JOB-PTJM terhadap pengembangan SDM di lingkungan sekitar perusahaan, lahirlah program Sekolah Suku Anak Dalam yang berlokasi di Desa Muara Medak, dimana program tersebut fokus pada bidang pendidikan. Berangkat dari penejelasan diatas peneliti ingin melihat kontribusi JOB-PTJM dalam SDG’s khususnya dibidang Pendidikan.

Result & Discussion

A. Program Sekolah Suku Anak Dalam Program Sekolah Suku Anak Dalam merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang berkontribusi langsung dalam SDG’s yang berada di wilayah operasi JOB Pertamina – Talisman, lebih tepatnya di Suku Anak Dalam, Dusun 7 Desa Muara Medak. Dengan adanya program sekola suku anak dalam ini, kondisi pendidikan dan lingkungan khususnya sungai yang sebelumnya sangat memprihatinkan akibat dari keterbatasan akses pendidikan dan pencemaran limbah domestik masyarakat sebagai tempat tinggal serta pusat kegiatan masyarakat tanpa memperhatikan kondisi kelestarian lingkungan. Program ini juga bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat di Suku Anak Dalam melalui pendidikan sebagai pendekatan utama. Program yang telah dijalankan adalah pembuatan Sekolah dan Klinik Apung, perbaikan area pesisir sungai dan pembangunan dermaga untuk dijadikan tempat wisata yang bertujuan menambah pemasukan masyarakat sekitar. Arah yang ingin dicapai dalam pengembangan suku anak dalam; secara ekonomi ada peningkatan pendapatan, secara sosial jumlah penerima pelatihan dan akses pendidikan bertambah, dalam hal kesejahteraan terjadi penurunan tingkat kriminalitas pencurian minyak, dan terhadap lingkungan terjadi peningkatan limbah organik yang bisa dimanfaatkan kembali. Program ini dilaksanakan dalam beberapa program, sebagai berikut: 1. Program Sekolah Apung Program Sekolah Apung lahir dikarenakan kebiasaan masyarakat di Desa Muara Medak sering berpindah-pindah dan dikarenakan kondisi geografis konsep dari Sekolah Apung dimana kapal yang digunakan menghampiri lokasi yang strategi bagi masyarakat sekitar. Tujuan umum dari program ini adalah mempercepat penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan meningkatkan mutu pendidikan dasar. Sedangkan tujuan khususnya adalah memperluas layanan pendidikan dasar atau meningkatkan daya tampung SMP pada daerah terpencil, terpencar dan terisolir guna menunjang tercapainya penuntasan wajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Mendekatkan SMP dengan SD pendukungnya, serta memberikan kesempatan dan peluang bagi anak untuk melanjutkan pendidikannya, serta meningkatkan partisipasi masyarakat. 2. Program Melek Baco Tulis Calistung adalah singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung dimana merupakan dasar tahapan orang bisa mengenal huruf dan angka. Banyak pakar menganggap pentingya calistung untuk mempermudah komunikasi dalam bentuk baca, tulis, dan angka dikarenakan calistung ini banyak didapat dalam pendidikan formal. Dalam penerapan program calistung ini, JOB Pertamina – Talisman melakukan kerjasama dengan sahabat eksploritasi Anak Dalam didalam mengembangkan buku paket kontekstual Suku Anak Dalam yang mana buku ini merupakan media pembelajaran dalam membaca, tulis, hitung (calistung). Buku ini disusun sesuai dengan Kurikulum Nasional Indonesia dan telah direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan untuk digunakan di seluruh Suku Anak Dalam. Buku ini dikembangkan dengan materi yang terperinci dan lengkap dengan penyesuaian kondisi di Desa Muara Medak. Buku ini menjadi pendahuluan bagi siswa di Suku Anak Dalam sampai mereka mahir calistung sehingga dapat meneruskan pembelajaran dengan menggunakan buku paket nasional. B. Implementasi Studi Kasus pada Program Suku Anak Dalam Program Sekolah Suku Anak Dalam ini lahir sejak tahun 2017. Bermula dari keprihatinan pihak PT. JOB Pertamina Talisman Jambi Merang melihat kondisi salah satu kelompok masyarakat yang berada di wilayah Desa Muara Medak, mereka adalah Suku Anak Dalam. SAD ini merupakan salah satu suku asli Sumatra Selatan/Jambi yang sampai saat ini masih ada dan masih mempertahankan budaya hidup nomaden. Mereka juga masih mempertahankan segala sistem kehidupan (ekonomi, sosial, dan budaya) yang diperoleh dari nenek moyang, yang apabila diterapkan di zaman sekarang banyak yang sudah tidak relevan. Salah satu hal yang nampak mencolok adalah sistem perekonomian yang mereka gunakan. Masyarakat Suku Anak Dalam tidak mengenal sistem perekonomian menggunakan mata uang, yang mereka kenal adalah sistem barter. Sistem barter yang mereka gunakan pun tidak mengenal nilai dari barang yang dipertukartan. Tak jarang satu keranjang ikan mereka tukar dengan satu ikat sayur. Apabila hal seperti ini dibiarkan, akan sangat merugikan membuat masyarakat SAD tidak berkembang. Setelah didalami, ternyata pangkal dari sistem kehidupan yang dianut oleh masyarakat SAD saat ini adalah terkait dengan minimnya pendidikan yang diterima. Mayoritas masyarakat suku SAD ini tidak mengenal angka maupun huruf. Hal inilah yang menyebabkan kenapa di zaman serba modern seperti saat ini masih ada masyarakat, khususnya SAD yang masih menggunakan sistem barter dalam perekonomiannya. Permasalahan inilah yang melatarbelakangi Program Sekolah Suku Anak Dalam ini lahir. JOB PTJM ingin mengangkat derajat dan meningkatkan kesejahteraan SAD menjadi lebih baik dan relevan dengan perkembangan zaman. Didalam Program Sekolah Suku Anak Dalam ini terbagi menjadi dua sub program, yaitu Program Melek Baco Tulis dan juga Program Sekolah Apung. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, pemerintah sudah melakukan dan menyusun beberapa program dalam meningkatkan kualitas pendidikian dalam upaya mencapai program yang diturunkan dari Perserikatan Bangsa-bangsa yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) yang mana dalam upaya tesebut ada beberapa program yang dijalankan pemerintah untuk mencapai target dari SDG’s tersebut hingga 2030. Program tersebut adalah Program Sekolah Suku Anak Dalam yang terbagi dalam Program Baca, Tulis, Hitung dan Program Sekolah Apung. Program-program tersebut akan dibahas dalam beberapa poin yang telah dijabarkan. 1. Sosialisasi Sosialisasi Program Sekolah Suku Anak Dalam merupakan bentuk penyampaian ilmu yang diberikan oleh perusahaan PT JOB Pertamina – Talisman kepada masyarakat dimana mereka bisa mengerti tentang nilai program pendidikan yang diberikan. Sosialisasi Program Sekolah Suku Anak Dalam dapat meningkatkan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan membaca, menulis dan menghitung, serta sosialisasi membentuk kelompok belajar di Desa Muara Medak. Pembentukan ini diharapkan mampu mempermudah masyarakat dalam mengakses fasilitas Pendidikan. Sejalan dengan sosialisasi ini, harapannya adalah dengan keberhasilan Program Pendidikan Sekolah Suku Anak Dalam ini mampu mencerdaskan masyarakat sekitar, dikarenakan masyarakat hidup tanpa bisa membaca, menulis serta menghitung. Untuk itu, sosialisasi ini mengutamakan pentingnya kecerdasan masyarakat akan arti penting pendidikan. Ada kaitan yang erat antara pendidikan dengan kehidupan masyarakat, hal ini yang kemudian menjadi nilai yang harus ditawarkan kepada masyarakat desa. Masyarakat akan semakin produktif dan cerdas dengan diberikan pendidikan. Sosialisasi kepada masyarakat dilakukan secara terus menerus, dibantu oleh pihak elemen tokoh masyarakat dan pengajar muda di Jambi Desa Muara Medak, Pemerintah Desa Muara Medak serta menggunakan berbagai media poster, spanduk, stiker dan ajakan langsung ke masyarakat akan pentingnya pendidikan. 2. Mitra Pengajar Mitra pengajar adalah bagian dari kerjasama antara masyrakat dengan organisasi yang ada didalamnya diantaranya Sead Jambi dan aparat pemerintah. Kegaiatan ini menjadi sebuah wadah kerjasama kepedulian pendidikan secara langsung, dimana semua yang menjadi masyarakat desa ikut memberikan dukungan untuk program pendidikan. Nilai yang ada adalah bagaimana warga dan seluruh elemen desa merasa penting dan bertanggungjawab atas pentingnya pendidikan terutama untuk anak-anaknya. Selain sosialisasi yang dilakukan, dalam operasi menjalankan Program Pendidikan PT JOB Pertamina – Talisman dan Sead Jambi sebagai mitra pengajarnya, mengajak secara langsung kepada masyarakat untuk ikut sekolah terutama untuk anak-anaknya sebagai generasi penerus. 3. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu tujuan dari Program Pendidikan Sekolah Suku Anak Dalam. Tujuan yang diharapkan dengan adanya sekolah tersebut ialah mampu menjadi sebuah jalan untuk mencerdaskan masyarakat. Warga yang terlibat dalam program pendidikan akan mendapatkan kemudahan yang tentunya menjadi keuntungan untuknya secara tidak langsung. Program pendidikan secara tidak lansung akan memberikan stimulant berupa kecerdasan untuk berkembang kedepannya. Guna meningkatkan kehidupan dalam bidang pendidikan dengan kondisi lingkungan masyarakat yang berbeda pada umumnya, keuntungan yang diperoleh adalah warga tidak perlu jauh-jauh berjalan untuk datang kesekolah tetapi sekolah yang datang menghampiri masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi pembelajaran bagi Warga Desa Muara Medak, dimana masyarakat terbantu dengan adanya fasilitas yang menunjukkan kepedulian organisasi yang terlibat dalam program Pendidikan tersebut. 4. Sekolah Apung Dalam perjalanannya, menjalankan Program Pendidikan Sekolah Suku Anak Dalam selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Berdasarkan keteterbatasan akses dan asset pendidikan yang dapat dijangkau oleh masyarakat pesisir sungai sekolah apung berupa fasilitas tenaga pengajarnya. Sekolah apung menjadi pilihan dikarenakan mengikuti pola masyarakat pesisir sungai yang selalu berpindah – pindah, maka dari itu hadirlah konsep sekolah apung yang terbuat dari perahu, yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang aksesnya mengalami kesulitan untuk menempuh pendidikan. Berdasarkan pengamatan peneliti selama melakukan penelitian, ditemukan bahwa sekolah apung menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan dan belajar menulis, membaca dan menghitung. 5. Program Melek Baco Tulis Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa program ini lahir karena masyarakat SAD tidak mengenal angka, huruf, dan mata uang. Untuk mengubah pola hidup masyarakat SAD, pendekatan yang dilakukan oleh JOB PTJM adalah melalui bidang pendidikan, yaitu dengan mengusung Program Melek Baco Tulis. JOBPTJM mengerahkan pengajar sukarela yang berasal dari Komunitas Peduli Suku Anak Dalam di wilayah Sumatra Selatan. Untuk mendukung program ini, kemudian JOBPTJM membangun fasilitas Sekolah Apung sebagai pusat aktivitas belajar mengajar. Upaya pertama yang dilakukan pengajar sukarela yang bekerjasama dengan JOB PTJM adalah mengenalkan baca-tulis untuk anak-anak usia sekolah. Pasalnya, semua anak di masyarakat tersebut sama sekali tidak ada yang mengenal huruf maupun angka. Tak hanya terbatas kepada anak-anak saja, Program Melek Baco Tulis ini juga terbuka untuk masyarakat luas, tujuannya adalah agar rantai kebodohan dan kemalasan yang ada bisa terputus. Rendahnya taraf hidup masyarakat SAD ini salah satunya disebabkan karena tidak adanya kegiatan perekonomian. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka penuhi dari hasil tangkapan ikan yang jumlahnya tidak banyak dengan harga jual ikan yang rendah. Diperburuk lagi dengan kendala kemampuan baca tulis hitung yang pada akhirnya memaksa mereka untuk barter dalam kegiatan ekonominya. C. Hambatan Implementsai Program Pendidikan bekualitas memang menjadi tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs). Akan tetapi, dalam mencapai pendidikan yang berkualitas tersebut tentu memiliki beberapa hambatan-hambatan yang mana dalam hal ini penulis melihat ada tiga hambatan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Desa Suku Anak Dalam adalah akses, mutu dan Adat Istiadat. 1. Akses Kondisi geografis yang ada di Desa Muara Medak sangatlah rumit, dimana para guru ataupun anak didik yang harus menempuh jarak yang cukup jauh hanya dengan berjalan kaki seperti yang dilakukan guru ataupun anak didik yang ada di Pegunungan Tengah Papua. 2. Mutu Kompetensi kualitas dan mutu tenaga pengajar di Desa Muara Medak tempat Suku Anak Dalam sama tidak menggembirakannya dengan pembangunan infrastruktur penungjang pendidikan dan kesejahteraan guru. Dari sisi infrastruktur, hampir seluruh bangunan gedung sekolah di Tanah Papua adalah peninggalan zaman kolonial Belanda. 3. Adat Istiadat Sisi budaya dan adat bisa saja menjadi hambatan dalam upaya mengimplementasikan program SDGs, dalam hal ini kehidupan adat di Suku Anak Dalam. Sebagai contoh, anak laki-laki wajib membantu orangtua mencari ikan dan anak perempuan bekerja di dapur serta ada peraturan adat yang mana hanya anak kepala suku saja yang boleh bersekolah dan memperoleh pendidikan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hubungan multiteral Hubungan Multiteral, sesungguhnya saling menguntungan antara negara dan organisasi, dengan permasalahan pendidikan nasional yang tidak merata, tentunya SDG’s mampu menjawab permasalahan pendidikan di Indonesia melalui inovasi-inovasi yang dilakukan para aktor yang memberikan pendidikan. Dalam konteks penelitian ini, peneliti menemukan inovasi pendidikan Program Sekolah Apung dimana sekolah apung proses belajarnya yang tidak sama dengan masyarakat yang ada diperkotaan pada dasarnya. 2. Inovasi Proses Belajar Suku Anak Dalam (SAD) Proses belajar pada setiap daerah dan anak tentunya sangat berbeda dan memerlukan inovasi agar belajar menjadi efektif serta tidak membosankan bagi murid yang menerima materi belajar. Dalam melakukan proses belajar Suku Anak Dalam desa Muara Medak seperti yang dijelaskan sebelumnya, proses belajar masyarakat SAD sangat berbeda maka dari itu memerlukan inovasi belajar yang mudah diterimah oleh masyarakat SAD. Berikut tabel inovasi belajar SAD dalam analisis peneliti menggunakan diffusion of innovation theory: Gambar 4.5 Logo Inovasi Proses Belajar Sumber: Analisis Peneliti 3. Tahapan Inovasi Proses Belajar Berdasarkan diffusion of innovation theory Tahapan ini merupakan awal ketika masyarakat Suku Anak Dalam melihat dan merasakan dari proses belajar dengan kurikulum pembelajaran yang berbaur dengan alam, melalui kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan. Sejalan dengan kondisi masyarakat Suku Anak Dalam yang tidak mengenal pendidikan pada awalnya, maka jika diberikan pendidikan pada umumnya seperti anak-anak dikota mereka akan menolak proses belajar. Jika sebuah inovasi dianggap sulit dimengerti dan sulit diaplikasikan, maka hal itu tidak akan diadopsi dengan cepat oleh mereka, lain halnya jika yang dianggapnya baru merupakan hal mudah, maka mereka akan lebih cepat mengadopsinya. Beberapa jenis inovasi bahkan harus disosialisasikan melalui komunikasi inerpersonal dan kedekatan secara fisik. 4. Pengadopsian Dalam tahapan pengadopsian, masyarakat SAD sudah mulai diberikan proses belajar dengan kurikulum berbaur dengan alam. Pada tahapan ini, masyarakat sudah mulai merasakan proses pembelajaran berbaur dengan alam melalui kebiasaan-kebiasaan mereka seperti : 1. Proses Belajar Dengan Memanjat Pohon 2. Proses Belajar dengan Berenang di Sungai 3. Belajar diatas Perahu (Sekolah Apung) Proses belajar berbaur dengan alam mampu diadopsi oleh masyarakat Suku Anak Dalam terlihat dengan efektifnya belajar seperti yang dikatakan oleh Yuri Guru Suku Anak Dalam: ―Dengan menggunakan proses belajar melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, maka mereka merasa nyaman dan mendapatkan keuntungan dari pembelajaran yang diberikan, sehingga mereka merasa tidak tertipu lagi dengan dunia luar‖. Sejalan dengan teori diffusi inovasi semakin tinggi dorongan untuk mengadopsi perilaku tertentu, adopsi inovasi juga dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuan masyarakat SAD. Sebelum masyarakat atau murid memutuskan untuk mencoba hal baru, masyarakat tersebut biasanya bertanya pada diri sendiri, apakah mereka mampu melakukannya dan apakah ini menguntungkan bagi masyarakat? Maka mereka akan cenderung mengadopsi inovasi tersebut. Selain itu, dorongan status juga menjadi faktor motivasional yang kuat dalam mengadopsi inovasi proses belajar berbaur denga alam. Berdasarkan analisis peneliti dengan menggunakan teori diffusi inovasi bahwa sejatinya diffusi inovasi mampu merubah perilaku masyarakat dengan beberapa indikator perubahan sosial seperti: a. Penemuan (invention) Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan yaitu proses belajar dengan menggunakan kurikulum berbaur dengan alam. b. Difusi (diffusion) Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial. Proses belajar dengan menggunakan kurikulum berbaur dengan alam digunakan untuk masyarakat SAD. c. Konsekuensi (Consequences) Konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi yang diberikan PT JOB PTJM melalui program pendidikan yang diberikan. Berdasarkan hasil analisis penelitian, program pendidikan PT JOB PTJM mampu merubah pola dan tingkah laku masyarakat Suku Anak Dalam (SAD)

Conclusion

Dalam penulisan ini juga penulis menyimpulkan bahwa permasalahan pendidikan yang ada di Suku Anak Dalam bukanlah semata mengenai kurangnya infrastrutur yang ada di Suku anak Dalam itu sendiri melainkan kualitas pendidikan yang ada di wilayah setempat seperti kualitas guru dan peserta didik yang masih belum mecapai tingat yang berkualitas. Dalam hal ini Sustainable Development Goals (SDGs) menerapkan program yaitu Pendidikan Berkualitas yang mana dalam menjalan program ini pemerintah melalui JOB Pertamina - Talisman mmelakukan kerjasama dengan Organisasi lokal maupun internasional dimana ada beberapa program yang dijalankan guna mencapai pendidikan berkualitas ini, program tersebut Program Sekolah Suku Anak Dalam yang terbagi dalam) Program baca, tulis, hitung, Program Sekolah Apung. Saran Program-program Pendidikan Sekolah Suku Anak Dalam melakukan pengembangan terhadap proses belajar dan melakukan pengembangan perluasan wilayah mengingat perilaku mayarakat yang selalu berpindah-pindah.