The Green Library Concept: Exploring Microlibrary Warak Kayu Semarang
Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Abstrak
Microlibrary Warak Kayu yang berlokasi di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu perpustakaan berbasis komunitas yang dikenal melalui desain arsitektur inovatif dan penggunaan material ramah lingkungan sebagai wujud nyata komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam implementasi konsep green library pada Microlibrary Warak Kayu sebagai model perpustakaan hijau pada tingkat lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi lapangan, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi untuk memperoleh gambaran komprehensif terkait praktik keberlanjutan yang diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip green library telah diimplementasikan secara holistik, mencakup pemanfaatan bangunan dan fasilitas hemat energi, penggunaan material kayu bersertifikat, penerapan prinsip kantor hijau dalam pengelolaan operasional, serta penguatan praktik ekonomi berkelanjutan melalui kolaborasi dengan komunitas lokal. Selain itu, perpustakaan menyediakan layanan yang mendukung literasi lingkungan, membangun relasi sosial yang inklusif, dan menerapkan strategi pengelolaan lingkungan yang sistematis sesuai dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa Microlibrary Warak Kayu tidak hanya berfungsi sebagai pusat literasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang memberikan edukasi dan teladan praktik keberlanjutan, sehingga layak dijadikan acuan dalam pengembangan perpustakaan hijau di Indonesia.
Abstract
Microlibrary Warak Kayu, located in Semarang City, Central Java Province, is a community-based library distinguished by its innovative architectural design and the use of environmentally friendly materials as a concrete manifestation of its commitment to sustainable development. This study aims to provide an in-depth analysis of the implementation of the green library concept at Microlibrary Warak Kayu as a model for locallevel sustainable library practices. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through field observations, in-depth interviews, and documentation studies to obtain a comprehensive understanding of the sustainability initiatives implemented. The findings indicate that green library principles have been applied holistically, including the utilization of energy-efficient buildings and facilities, the use of certified timber materials, the integration of green office practices in operational management, and the strengthening of sustainable economic initiatives through collaboration with local communities. Additionally, the library provides services that promote environmental literacy, fosters inclusive social interactions, and implements systematic environmental management strategies aligned with the Sustainable Development Goals. These findings demonstrate that Microlibrary Warak Kayu functions not only as a center for literacy, but also as a public space that educates and exemplifies sustainable practices, making it a relevant reference for the development of green libraries in Indonesia.
Keywords:
Green library
· Microlibrary warak Kayu
· Sustainable library
Introduction
Perpustakaan sebagai organisasi dinamis yang selalu berkembang dan memiliki manfaat sebagai pusat informasi, ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, serta pelestarian khasanah budaya, dan memberikan jasa layanan (Endarti, 2022). Konsep perpustakaan khususnya di Indonesia cukup beragam. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tipologi perpustakaan, lokasi perpustakaan, keinginan pemilik perpustakaan apabila itu perpustakaan komunitas, dan lain sebagainya. Tentunya konsep yang diterapkan ini tidak serampangan. Artinya perlu pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk mengkonsep perpustakaan yang mengakomodir kebutuhan pengguna atau dengan kata lain perpustakaan harus memiliki prinsip berorientasi pada pengguna. Isu terkait keberlanjutan lingkungan saat ini tengah menjadi perhatian yang merambat ke berbagai sektor, termasuk juga ke dalam dunia perpustakaan. Sebagai institusi publik yang memiliki peran dalam mengembangkan pendidikan dan pengetahuan, kini perpustakaan dituntut tidak hanya memperhatikan aspek informasi dan layanan saja, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan aspek ekologis. Maka untuk mendukung dan mewujudkan hal tersebut, saat ini konsep Green Library hadir sebagai bentuk kontribusi perpustakaan terhadap isu keberlanjutan lingkungan tersebut. International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), menyebutkan bahwa Green Library merupakan perpustakaan yang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan sosial. Perpustakaan ini dapat diwujudkan dalam perpustakaan yang berukuran besar maupun kecil dengan tetap memperhatikan agenda atau tujuan keberlanjutan yang jelas (International Federation of Library Associations and Institutions, 2022). Pada konsep Green Library, perhatian utama ditekankan pada optimalisasi manfaat perpustakaan berdasarkan asas kebermanfaatan, fungsi, dan nilai estetika yang melekat pada perpustakaan itu sendiri (Syamsiati, 2018). Menurut IFLA, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tujuan keberlanjutan yang dimiliki oleh Green Library ini, diantaranya: 1) Bangunan dan peralatan yang ramah lingkungan; 2) Prinsip kantor hijau; 3) Ekonomi berkelanjutan; 4) Layanan perpustakaan berkelanjutan; 5) Keberlanjutan sosial; 6) Manajemen lingkungan; dan 7) Komitmen terhadap tujuan dan program lingkungan global. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, salah satu perpustakaan di Indonesia yang mengusung konsep Green Library ini adalah Microlibrary Warak Kayu yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Perpustakaan yang berdiri pada tahun 2020 ini dirancang dengan tujuan untuk mendorong peningkatan minat baca masyarakat khususnya masyarakat Kota Semarang melalui pendekatan desain bangunan yang menarik dan inovatif. Dengan adanya Microlibrary Warak Kayu ini juga menjadi sebuah tempat yang menjadi sorotan masyarakat untuk dikunjungi, tidak hanya untuk warga Semarang saja tapi juga masyarakat dari pelbagai daerah lainnya. Microlibrary sendiri merupakan perpustakaan umum yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan informasi secara berkelanjutan, dan juga diharapkan adanya peningkatan kinerja bangunan dapat dicapai melalui pemanfaatan material konstruksi yang efisien serta penerapan konsep yang berwawasan lingkungan (Lafargeholcim, 2018). Kajian mengenai Green Library khususnya di Indonesia tergolong masih sedikit, namun terdapat beberapa kajian yang penulis temukan terkait topik serupa, diantaranya adalah kajian yang ditulis oleh Isnaini Syamsiati (2018). Kajian tersebut bertujuan untuk mengajak masyarakat sivitas akademik agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar kampus dan juga mengajak untuk melakukan kegiatan hemat energi dalam menjalankan berbagai aktivitasnya. Kajian ini lebih menekankan pada penerapan konsep Green Library dan manajemennya harus seperti apa, dan juga terdapat pembahasan terkait pemilihan jenis tanaman yang dapat ditanam disekitar lingkungan kampus khususnya perpustakaan. Kajian ini belum membahas mengenai konsep Green Library yang diterapkan pada sebuah perpustakaan tertentu. Kajian terkait teknologi bangunan Green Library pernah dilaksanakan oleh Barnes pada tahun 2012. Tujuan dari kajian tersebut adalah untuk memberi gambaran tentang teknologi bangunan hijau (green building) dan bagaimana praktiknya, kemudian bagaimana perpustakaan dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk mengajarkan kepada masyarakat tentang keberlanjutan dan juga agar mendorong perubahan perilaku (Barnes, 2012). Diskusi mengenai konsep green library sebenarnya banyak berkembang di pelbagai negara. Dalam penelitiannya (Simin Li & Feng Yang, 2022) menyoroti konsep green library seperti negara Amerika dan China topik riset tentang green library cukup populer beberapa tahun kebelakang. Pada penelitian lain, hasil riset level internasional, berjudul “Green Libraries and the User’s Perspective: A Case Study In Turkey” yang menyoroti langkah strategis praktik ramah lingkungan pada beberapa perpustakaan perguruan tinggi di Turkey (Hatice Demirtas Dogan & Bulut Gurpinar, 2023). Artinya bahwa konsep perpustakaan hijau menjadi riset yang tidak kalah penting dibandingkan yang lain. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai penerapan konsep green library yang ada di Microlibrary Warak Kayu Semarang. Selanjutnya kajian ini bertujuan menganalisis mengenai keberadaan Microlibrary Warak Kayu dengan kesesuaian konsep Green Library menggunakan sudut pandang teori yang dikeluarkan oleh International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA). Kajian mengenai green library di Indonesia masih tergolong terbatas, baik dari segi jumlah maupun kedalaman analisisnya. Sebagian besar penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Syamsiati (2018), lebih berfokus pada penerapan prinsip green library di lingkungan kampus, tanpa mengaitkan secara langsung dengan praktik nyata di lembaga perpustakaan tertentu. Penelitian lain oleh Barnes (2012) membahas teknologi bangunan hijau (green building technology) dalam konteks umum, namun belum mengulas secara komprehensif integrasi konsep tersebut dalam operasional perpustakaan. Sementara itu, studi internasional seperti Dogan & Gurpinar (2023) dan Simin Li & Feng Yang (2022) menyoroti praktik green library dari perspektif pengguna dan tren global, tetapi masih jarang dikontekstualisasikan pada kondisi sosial dan lingkungan di negara berkembang seperti Indonesia. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian pada aspek implementasi konseptual dan kontekstual model green library di tingkat lokal, khususnya dalam menelaah bagaimana nilai-nilai keberlanjutan dapat diwujudkan melalui arsitektur, pengelolaan, dan layanan perpustakaan berbasis komunitas. Microlibrary Warak Kayu sebagai studi kasus memberikan kontribusi penting untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menghadirkan analisis yang menautkan antara teori Green Library IFLA dan praktik empiris di lapangan.
Method
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif ialah metode penelitian yang memiliki tujuan mengungkap fenomena yang ada dan memahami makna dibalik fenomena tersebut (Sani, 2022). Data yang dipaparkan dalam penelitian kualitatif berupa narasi bukan berupa sajian angka statistik (Anggito & Setiawan, 2018). Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2025 dengan durasi 1 hari penuh dilaksanakan pada Lokasi Microlibrary Warak Kayu Semarang. Wawancara yang dilakukan ialah semi terstruktur dengan pustakawan Microlibrary Warak Kayu yaitu NKY dan juga kepada tiga orang pengunjung. Sementara itu, observasi dilakukan secara partisipatif, dimana peneliti hadir secara langsung di lapangan untuk melakukan pengamatan tentang konsep green library di Perpustakaan Warak Kayu (Saleh, 2017). Selanjutnya, dokumentasi dilakukan dengan menelaah beberapa dokumen pendukung, seperti SOP, rambu-rambu Perpustakaan Warak Kayu. Analisis data yang dilakukan yaitu dengan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap, yaitu 1) reduksi data dilakukan dengan memilah data-data wawancara penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian; 2) display data dilakukan dengan menampilkan transkrip wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk dilakukan kroscek agar mendapatkan data penelitian yang valid, dan terakhir; 3) penarikan kesimpulan dimana peneliti berupaya untuk meringkas seluruh hasil penelitian untuk diambil kesimpulan.
Result & Discussion
Perpustakaan sebagai sarana yang menyediakan pelbagai sumber informasi dan juga sebagai tempat belajar serta menjadi tempat rekreasi sudah seharusnya dapat terus berinovasi agar masyarakat merasa butuh akan kehadiran perpustakaan ini. Selain itu, perpustakaan juga dapat menjadi sebuah tempat yang dapat diakses secara terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi, kehadiran sebuah perpustakaan dirasa masih belum menjadi suatu hal atau tempat yang popular (Lafargeholcim, 2018). Hal tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh para pengelola perpustakaan agar dapat menciptakan dan juga menghadirkan suatu tempat aman dan nyaman yang dapat diterima oleh masyarakat. Beragam jenis perpustakaan mulai hadir dengan pelbagai tujuan dan beragam konsep supaya dapat menjangkau masyarakat penggunanya. Salah satu bentuk perpustakaan yang masih relatif kurang dikenal oleh masyarakat umum namun tengah mengalami perkembangan adalah Microlibrary. Bentuk perpustakaan ini termasuk pada kategori perpustakaan umum karena penyelenggaraannya melibatkan dukungan pemerintah, pendanaan publik, serta ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Microlibrary Warak Kayu merupakan salah satu representasi perpustakaan ramah lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di Kota Semarang, serta menarik minat kunjung anak-anak agar lebih dekat dengan dunia perpustakaan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis di Microlibrary Warak Kayu, ditemukan adanya kesinambungan antara konsep dan praktik pengelolaan Microlibrary Warak Kayu dengan prinsip-prinsip Green Library yang digagas oleh International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA). Untuk memahami keterkaitan tersebut secara lebih mendalam, beberapa konsep relevan akan diuraikan pada bagian berikutnya. Bangunan dan peralatan ramah lingkungan Desain bangunan dari Microlibrary Warak Kayu sendiri diambil dari hewan mitologi yang berasal dari Semarang, yaitu Warak. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola, bahan bangunan microlibrary ini 90% berasal dari kayu. “Secara keseluruhan bangunan dari Perpustakaan Warak Kayu ini hampir 90% berasal dari kayu. Spesifiknya berasal dari prefabrikasi artinya dari limbah kayu pabrik yang sudah tidak dipakai” (Nungky, wawancara, Juli 1, 2025). Material kayu yang digunakan berasal dari komponen prefabrikasi yang dibuat dari limbah kayu pabrik yang sudah tidak digunakan lagi, serta bentuk dari desain kayunya berbentuk wajik dan menyerupai sisik dari hewan warak. Maka dari itu, perpustakaan ini diberi nama Microlibrary Warak Kayu. “Penamaan warak kayu karena kalau dilihat desain Perpustakaan Warak Kayu beberapa menyeru[ao sisi dari hewan warak dan berbentuk wajik” (Nungky, wawancara, Juli 1, 2025). Sumber: Data penelitian 2025 Gambar 1. Penjelasan material bangunan perpustakaan Melihat penggunaan kayu-kayu yang dipakai pada perpustakaan ini berasal dari olahan kayu limbah pabrik dan memanfaatkan bahan yang sudah ada, maka hal tersebut sesuai dengan aspek Green Library terkait bangunan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah kayu yang diolah dan dapat digunakan kembali untuk dimanfaatkan. Untuk lebih detailnya, terdapat beberapa bahan kayu yang dipakai pada bangunan perpustakaan ini, diantaranya adalah kayu sisa pabrik yang sudah didaur ulang untuk elemen-elemen interior dan lantai, plywood untuk eksterior bangunan, dan finger joint laminate untuk struktur kolom dan balok. Maka untuk menjaga kayu-kayu bangunan khususnya pada bagian lantai, para pengunjung diwajibkan untuk memakai kaos kaki saat berkunjung. Karena keringat dari telapak kaki bisa berpengaruh terhadap kualitas kayu yang ada disana. Sumber: Data penelitian 2025 Gambar 2. Desain berbentuk wajik yang menyerupai sisik warak Prinsip kantor hijau Kondisi di sekitar Microlibrary Warak Kayu dikelilingi oleh pepohonan dan juga tanaman-tanaman yang rindang. Dengan adanya pepohonan dan tanaman tersebut merupakan bagian dari upaya penghijauan di sekitar lingkungan perpustakaan. Hal ini akan membuat suasana di sekitar perpustakaan menjadi lebih asri dan segar meskipun lokasinya berada di tengah kota Semarang yang sehari-harinya padat lalu lintas dan bercuaca panas. Karena pada dasarnya manfaat dari penghijauan akan menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup dan juga vegetasinya akan memunculkan hawa di sekitar lingkungan menjadi sejuk dan nyaman. Selain itu, dengan adanya tanaman dan pepohonan dapat mengubah karbon dioksida menjadi oksigen melalui proses fotosintesis dan juga dapat mengurangi polusi udara (Utama dkk., 2020). Sumber: Arch Daily, 2025 Gambar 3. Microlibrary Warak Kayu dan lingkungan sekitarnya Ekonomi berkelanjutan Untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di Microlibrary Warak Kayu ini, para pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali. Jadi siapa saja dan dari kalangan masyarakat apapun, baik anak-anak, remaja, maupun orangtua dapat mengunjungi Microlibrary Warak Kayu ini. Namun, dikarenakan bangunan perpustakaan ini dibuat dari kayu-kayu dan struktur bangunan yang menyerupai rumah panggung, maka pihak pengelola membatasi pengunjung yang datang. Dalam satu ruangan pengunjung dibatasi antara 10 – 15 orang saja dan setiap pengunjung yang datang diwajibkan untuk memakai kaos kaki. Hal tersebut ditujukan untuk menjaga daya tampung, kekuatan dari bangunan, dan juga untuk menjaga kualitas kayu yang digunakan agar meminimalisir kerusakan dan bisa tetap bertahan dan awet dalam jangka waktu yang selama-lamanya. “Bisa dikatakan Perpustakaan Warak Kayu ini memiliki perbedaan dengan perpustakaan lainnya. Kami membatasi jumlah pengunjung, dalam satu waktu kami hanya bisa menerima pemustaka 10 sampai 15 orang saja. Pemustaka juga wajib memakai kaos kaki sebagai wujud komitmen kami untuk menjaga kebersihan dan meminimalisir kerusakan” (Nungky, wawancara, Juli 1, 2025). Buku-buku yang dilayankan di sini juga berasal dari hibah atau pemberian. Jadi tidak ada buku yang dibeli. Siapapun dapat memberikan sumbangan atau hibah buku, dan untuk jumlahnya pun tidak ada batasannya selagi buku-buku tersebut masih layak baca dan dapat digunakan, maka pengelola akan dengan senang hati untuk menerima hibah buku tersebut. Layanan perpustakaan berkelanjutan Selain ruang baca, fasilitas yang disediakan juga dilengkapi dengan fasilitas bermain dalam bentuk ayunan memanjang yang diletakkan dibagian bawah dekat pintu masuk Microlibrary Warak Kayu, ruang komunitas yang dapat dimanfaatkan oleh organisasi maupun kelompok tertentu untuk berbagai acara, dan juga ruang baca divariasikan dengan jaringjaring atau net yang sangat menarik pengunjung untuk datang. Hal tersebut menunjukkan bentuk dari inovasi perpustakaan untuk menarik minat para pengunjung. Jadi ketika masyarakat datang berkunjung, aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada kegiatan membaca, tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia untuk kegiatan bermain. Dengan adanya inovasi tersebut, masyarakat pada akhirnya memiliki pandangan bahwa perpustakaan bisa menjadi suatu tempat yang aman dan nyaman tidak hanya untuk membaca tapi juga bisa menjadi fasilitas untuk meningkatkan literasi dengan cara yang lebih asyik dan juga dengan cara bermain. Koleksi-koleksi yang disediakan di Microlibrary Warak Kayu ini dapat menunjang literasi masyarakat supaya terus meningkat. Dapat dilihat dari koleksi yang dilayankan merupakan koleksi pilihan yang relevan dengan kebutuhan informasi. Koleksi yang ada disini juga banyak didapat dari hibah dan pinjaman dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang mana sebelum dipinjamkan pasti sudah melalui proses pemilihan buku-buku yang relevan untuk dilayankan kepada para pengunjung. Dan sampai saat ini buku yang ada di Microlibrary Warak Kayu berjumlah sekitar 2000 buku. Sumber: Instagram Microlibrary Warak Kayu, 2025 Gambar 4. Fasilitas Ayunan dan Jaring-jaring di Ruang Baca Untuk mempermudah pengunjung dalam menemukan buku atau sumber informasi yang dibutuhkan, sistem klasifikasi pada buku-buku di Microlibrary Warak Kayu ini dilengkapi juga dengan warna yang berbeda setiap kelasnya. Misalnya untuk nomor kelas 000 – 099 diberi label warna kuning, 100 – 199 diberi label warna biru, dan seterusnya. Selain itu, para pengunjung juga dapat meminta bantuan kepada pustakawan untuk dicarikan buku yang tengah dibutuhkan melalui aplikasi yang disediakan. Keberadaan Microlibrary Warak Kayu di Semarang semakin hari semakin banyak pengunjung yang datang. Ternyata hal tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan terutama dalam minat baca masyarakat sekitar Kota Semarang. Selain itu, fenomena positif turut muncul yang ditandai dengan anak-anak di sekitar lokasi mulai melakukan kunjungan rutin ke Microlibrary setiap hari sebelum mereka melanjutkan aktivitas bermain di tempat lain. Hal tersebut menunjukkan adanya keberhasilan dari tujuan Microlibrary Warak Kayu. Keberlanjutan sosial Microlibrary Warak Kayu sebagai perpustakaan yang menyediakan sarana untuk membaca dan juga bermain semakin menarik minat kunjung masyarakat sekitar. Saat melakukan kunjungan kesana, penulis menyaksikan banyak sekali masyarakat yang datang untuk berkunjung, mulai dari anak-anak, remaja, bahkan ada satu keluarga yang datang bersama orangtuanya. Hal ini membuktikan bahwa inovasi sebuah perpustakaan itu sangat diperlukan, karena yang awal mulanya berangkat dari rasa ingin tahu terhadap perpustakaan yang memiliki desain bangunan yang unik, kemudian perlahan berubah menjadi ke kebiasaan datang untuk berkunjung, dan selanjutnya memiliki kebiasaan untuk membaca sehingga minat baca dan kemampuan literasi pun menjadi meningkat. Berbagai kunjungan yang diterima oleh pihak Microlibrary Warak Kayu ini juga sudah beragam, seperti kunjungan siswa dari berbagai sekolah, kunjungan mahasiswa dari luar kota, dan juga disini rutin diadakan kegiatan belajar bersama anak-anak dari Kampung Pelangi yang mana kampung ini berada dekat dari lokasi Microlibrary Warak Kayu. “Di belakang Perpustakaan Warak Kayu situ ada perkampungan namanya kampung pelangi. Setiap Jum’at sore mereka rutin kesini untuk melakukan kegiatan belajar bersama. Ada juga anak sekolah sekitar wilayah sini berkunjung ke Warak Kayu” (Nungky, wawancara, Juli 1, 2025). Dari poin diatas, dapat diketahui bahwa idealnya sebuah perpustakaan merupakan ruang publik yang penting bagi kehidupan budaya dan kecerdasan bangsa, karena pada prinsipnya perpustakaan merupakan salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat (Yudisman, 2020). Berdasarkan hal yang telah diuraikan sebelumnya, Microlibrary Warak Kayu berperan sebagai sarana yang turut memberikan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan informasi serta peningkatan pengetahuan masyarakat. Keberadaannya juga dinilai membawa dampak positif yang salah satunya dibuktikan melalui perolehan penghargaan Architizer A+ Awards pada kategori perpustakaan tahun 2020 di New York (Mazrieva, 2020). Ruangan terbuka yang terletak di bagian bawah dekat pintu masuk Microlibrary Warak Kayu dan juga ruangan baca disediakan tidak hanya untuk pengunjung yang akan membaca saja, tetapi juga disediakan untuk kalangan umum seperti komunitas atau organisasi yang akan bekerjasama untuk melakukan kegiatan tertentu. Namun, kegiatan tersebut belum dilaksanakan sepenuhnya karena terkendala beberapa hal lain (Masri’ah & Wasisto, 2022). Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola perpustakaan, sejauh ini sudah pernah ada acara yang diadakan di Microlibrary Warak Kayu oleh salah satu Komunitas Membaca yang bekerjasama dengan Instaperfect. Pada acara ini pihak komunitas mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan gerakan baca untuk meningkatkan literasi dan minat baca masyarakat khususnya yang ikut serta dalam acara tersebut. Manajemen lingkungan Awal mula berdirinya Microlibrary Warak Kayu ini adalah untuk meningkatkan minat baca anak-anak di wilayah Kota Semarang dan juga sebagai fasilitas bagi sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan, sehingga pihak pengelola Microlibrary Warak Kayu mengajak anak-anak sekolah untuk datang dan membaca di perpustakaan ini. Melihat minat baca masyarakat di Kota Semarang yang mengalami peningkatan, maka fenomena tersebut harus didukung salah satunya yaitu dukungan fasilitas membaca bagi masyarakat (Agus AP, 2019), maka Microlibrary Warak Kayu hadir sebagai salah satu upaya untuk mendukung peningkatan minat baca masyarakat Kota Semarang. Berdirinya Microlibrary Warak Kayu ini tidak lepas dari campur tangan pemerintah setempat, hal tersebut diwujudkan dalam penyediaan lahan oleh Pemerintah Kota Semarang untuk mendirikan perpustakaan ini. Microlibrary Warak Kayu ini berlokasi di tengah kota Semarang, tepatnya di Jl. Dr. Sutomo, Basusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Jika dilihat, di dalam bangunan Microlibrary Warak Kayu ini sama sekali tidak memakai listrik untuk penerangannya. Begitu juga untuk tambahan udara, sama sekali tidak ada penggunaan AC di dalamnya. Karena bangunan ini benar-benar memanfaatkan cahaya alami dan udara dari luar ruangan dengan menggunakan teknik konstruksi Zollinge Bauwelse, sehingga tidak ada penggunaan listrik saat siang hari. Sejalan dengan salah satu pendapat bahwa penerangan alami pada siang hari merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam perencanaan sistem penerangan suatu banguanan karena akan menentukan penggunaan energi listrik dalam bangunan tersebut (Fachrizal, 2008). Begitu juga dengan sirkulasi udara, di Microlibrary Warak Kayu ini memanfaatkan udara yang masuk melalui lubang-lubang kayu bangunan yang didesain terbuka sehingga tidak memerlukan pendingin udara tambahan seperti kipas atau air conditioner (AC). Semua upaya yang telah diwujudkan pada Microlibrary Warak Kayu ini menunjukkan bahwa perpustakaan bisa menjadi salah satu pendukung dalam program berkelanjutan dari segi lingkungan. Hal tersebut juga didukung oleh pendapat pakar yang menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, perpustakaan semakin menunjukkan perhatiannya dengan cara meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan salah satunya yaitu dengan “bangunan hijau” (Fedorowicz-Kruszewska, 2020). Meskipun kondisi bangunan di Microlibrary Warak Kayu tidak terdapat kipas angin maupun AC, tapi para pengunjung setiap harinya masih terus berdatangan bahkan jumlahnya semakin meningkat, hal ini membuktikan bahwa meskipun bangunan atau ruangan yang memanfaatkan energi alami dari matahari dan udara tidak menyurutkan niat untuk datang berkunjung, dengan catatan tetap memperhatikan kebutuhan lingkungan lainnya seperti arah sirkulasi udara dan juga penanaman pohon di sekitar bangunan agar udara tetap segar. Komitmen terhadap tujuan dan program lingkungan global Microlibrary Warak Kayu menunjukkan komitmen yang kuat terhadap tujuan dan program pelestarian lingkungan global melalui pendekatan desain dan fungsi yang berorientasi pada keberlanjutan. Komitmen ini tercermin dari pemanfaatan material bangunan yang ramah lingkungan, rancangan arsitektur yang memperhatikan efisiensi energi, serta pemanfaatan pencahayaan dan ventilasi alami untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya listrik konvensional. Upaya tersebut merupakan bagian dari kontribusi nyata dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus mempromosikan gaya hidup yang lebih berkelanjutan di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar fungsi bangunan fisik, Microlibrary Warak Kayu juga menjalankan peran sosial dan edukatif yang relevan dengan isu-isu keberlanjutan. Keberadaannya yang menyasar peningkatan minat baca, khususnya di kalangan anak-anak dan masyarakat sekitar, memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai pelestarian lingkungan. Perpustakaan ini terus aktif dan eksis dari awal berdirinya pada tahun 2020 hingga saat ini, menjadi contoh nyata bagaimana inisiatif lokal dapat berkontribusi terhadap kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus memperkuat budaya literasi masyarakat. Integrasi antara fungsi edukatif dan kepedulian terhadap lingkungan inilah yang menjadi dasar penting dalam mendukung tujuan-tujuan keberlanjutan secara lebih luas.
Conclusion
Perpustakaan Warak Kayu Semarang merupakan salah satu perpustakaan di Indonesia yang menerapkan model green library. Wujud dari penerapan konsep green library diantaranya yaitu: 1) 90% bangunan dari Microlibrary Warak Kayu berbahan dari kayu; 2) Lingkungan perpustakaan yang dikelilingi pepohonan dan tanaman rindang menciptakan suasana asri di tengah kota, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kualitas udara dan kenyamanan melalui upaya penghijauan yang berkelanjutan; 3) Perpustakaan ini terbuka untuk semua kalangan secara gratis, namun menerapkan pembatasan jumlah pengunjung dan aturan khusus demi menjaga kelestarian bangunan kayu. Koleksi bukunya diperoleh dari hibah, yang menunjukkan partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung penyediaan bahan bacaan yang layak; 4) Dengan menggabungkan ruang baca, fasilitas bermain, dan ruang komunitas, perpustakaan ini menghadirkan inovasi layanan yang menjadikan literasi terasa menyenangkan. Didukung koleksi relevan hasil hibah dan pinjaman, kehadirannya berhasil meningkatkan minat baca masyarakat, terutama anak-anak yang mulai menjadikan kunjungan ke perpustakaan sebagai kebiasaan positif; 5) adanya berbagai kegiatan di Microlibrary Warak Kayu yang menunjang untuk meningkatkan minat baca dan literasi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya di Kota Semarang; 6) Microlibrary Warak Kayu merupakan perpustakaan ramah lingkungan yang dibangun untuk meningkatkan minat baca di Semarang. Dengan desain tanpa listrik dan AC, perpustakaan ini membuktikan bahwa bangunan berkelanjutan tetap diminati dan efektif mendukung literasi masyarakat; 7) Dengan mengedepankan desain berkelanjutan dan pemanfaatan energi alami, perpustakaan ini menjadi ruang publik yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga efektif dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Beberapa rekomendasi penelitian lanjutan yakni penelitian dengan pendekatan yang lebih luas dengan meninjau model integratif antara aspek arsitektur hijau, manajemen berkelanjutan, dan perilaku pengguna perpustakaan. Diperlukan pula pengembangan kerangka konseptual yang dapat menjelaskan hubungan antara green design, community engagement, dan library sustainability outcomes sebagai kontribusi terhadap teori perpustakaan berkelanjutan. Pemerintah daerah, pengelola perpustakaan, dan lembaga pendidikan dapat menjadikan Microlibrary Warak Kayu sebagai prototipe implementasi green library di Indonesia. Upaya replikasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan konteks lokal, misalnya melalui penggunaan material ramah lingkungan, sistem ventilasi alami, serta pelibatan masyarakat dalam kegiatan literasi berkelanjutan. Penelitian berikutnya disarankan untuk melakukan analisis komparatif antara beberapa microlibrary di berbagai daerah untuk menilai efektivitas penerapan prinsip green library dalam meningkatkan literasi masyarakat. Pendekatan kuantitatif atau mixed methods dapat digunakan untuk mengukur dampak langsung dari desain hijau terhadap peningkatan kunjungan, kenyamanan pengguna, dan kesadaran ekologis masyarakat.