PERSEPSI PESERTA TERHADAP PENYELENGGARAAN EKOLITERASI SECARA HYBRID OLEH PERPUSTAKAAN RI ARDI KOESOEMA
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Abstrak
Literasi lingkungan perlu dilakukan secara kontinyu kepada para pelajar guna menimbulkan kepekaan dan kesadaran pentingnya pelestarian lingkungan. Pandemi Covid-19 mendorong perpustakaan RI Ardi Koesoema berkreasi menyelenggarakaan ekoliterasi secara hybrid. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi profil peserta, persepsi peserta terhadap penyelenggaraan ekoliterasi secara hybrid dan jenis kendala yang dirasakan oleh peserta guna sebagai bahan peningkatan mutu penyelenggaran ekoliterasi hybrid dimasa mendatang Metode penelitian kualitatif fenonomologi diacu guna menggambarkan fenomena atau trend di bidang perilaku pemustaka. Tehnik pengumpulan data menggunakan fitur Google form dan melibatkan responden sebanyak 53 orang. Data diolah dan diukur menggunakan distribusi frekuensi dan disajikan dalam diagram bulat (pie chart) yang memuat prosentase persepsi responden. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyelenggaraan ekoliterasi hybrid berjalan aman, lancar dan tertib protokol kesehatan. Teridentifikasi bahwa peserta yang berafiliasi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki prosentase lebih besar dengan 43 % jika dibandingkan pelajar sebagai target audience ekoliterasi hybrid. Data tersebut menunjukkan terjadi penyimpangan terhadap target audiense ekoliterasi hybrid yang ditujukan kepada pelajar/generasi muda. Namun kajian ini tidak menjelaskan fenomena tersebut dan sekaligus temuan tersebut menjadi keterbatasan pada studi ini. Selanjutnya, ekoliterasi hybrid telah memenuhi harapan dan kebutuhan informasi peserta sehingga peserta menunjukkan respon positif. Namun kurangnya publikasi merupakan keluhan terbesar bagi peserta ekoliterasi hybrid. Hal tersebut diduga bahwa panitia pelaksananya belum mengoptimalkan strategi diseminasi berupa notifikasi/pengingat acara kepada calon peserta potensial ekoliterasi hybrid. Direkomendasikan bahwa diperlukan perencanaan matang dalam pemetaan target audience dan strategi diseminasi dan diperlukan penyusunan program berorientasi kepada minat dan karakter target audience guna menjamin efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan event hybrid lainnya.
Abstract
Environmental literacy needs to be carried out continuously for students in order to generate sensitivity and awareness of the importance of environmental conservation. The Covid-19 pandemic has pushed the Indonesian library Ardi Koesoema to be creative in organizing hybrid ecoliteracy. This study aims to identify the profile of participants, participants' perceptions of the implementation of hybrid ecoliteracy and the types of obstacles experienced by participants in order to improve the quality of implementing hybrid ecoliteracy in the future.Phenonomological qualitative research methods are referred to in order to describe phenomena or trends in the field of user behavior. The data collection technique used the Google form feature and involved 53 respondents. The data is processed and measured using a frequency distribution and presented in a pie chart containing the percentage of respondents' perceptions. Furthermore, the data were analyzed descriptively. The results of the study show that the implementation of hybrid ecoliteracy runs safely, smoothly and in an orderly health protocol. It was identified that participants who are affiliated as State Civil Apparatus (ASN) have a greater percentage of 43% when compared to students as the target audience for hybrid ecoliteracy. The data shows that there is a deviation from the hybrid ecoliteracy target audience aimed at students/young generations. However, this study does not explain this phenomenon and at the same time these findings become limitations in this study. Furthermore, hybrid ecoliteracy has met the expectations and information needs of participants so that participants show a positive response. However, the lack of publicity was the biggest complaint for hybrid ecoliteracy participants. It is suspected that the implementing committee has not optimized the dissemination strategy in the form of notification/reminder of events to potential participants of hybrid ecoliteracy. It is recommended that careful planning is needed in mapping the target audience and dissemination strategy and it is necessary to develop programs oriented to the interests and character of the target audience to ensure the effectiveness and efficiency of organizing other hybrid events.
Keywords:
ekoliterasi
· kegiatan hybrid
· webinar
· Covid-19
· generasi milineal
· literasi lingkungan
Introduction
Ekoliterasi merupakan salah satu program unggulan Perpustakaan RI Ardi Koesoema pada Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI-KLHK). Tujuan program tersebut adalah membangun kesadaran tentang pentingnya kelestarian alam, hutan dan lingkungan sejak usia muda. Program tersebut mengusung konsep edutainment dan dikemas secara interaktif melalui mendongeng, permainan, dan penyediaan bahan pustaka bergerak sehingga pemustaka sebagai peserta aktif menginternalisasi pesan dan muatan moral yang disampaikan oleh fasilitator (Andri, 2020). Ekoliterasi tersebut telah diiniasi sejak 2019 dan dilaksanakan secara tatap muka. Namun sejak pandemi Covid-19 pada 2020, program ekoliterasi terlaksana sebanyak 2 kali dengan fomat hybrid. Format baru tersebut mengkombinasikan tatap muka dengan mengacu kepada protokel kesehatan 5 M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) dan menggunakan aplikasi Zoom. Sejauh ini, konsep hybrid ekoliterasi dapat diterima oleh para pemustaka. Hubungan imbal balik atau komunikasi dua arah diperlukan bagi kebersinambungan pelaksanaan program hybrid sebab metode hybrid rentan terhadap gangguan teknis dan nonteknis. Idealnya, pihak perpustakaan RI Ardi Koesoema selaku penyelenggara program tersebut perlu menampung saran/masukan/kritik peserta dan pemustaka terkait penyelenggaraan ekoliterasi hybrid sehingga beragam kendala dapat dikelola dan diselesaikan dengan baik. Tentu, umpan balik tersebut bersifat subyektif disebabkan oleh keragaman latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan peserta ekoliterasi. Guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan ekoliterasi secara hybrid dimasa mendatang maka diperlukan umpan balik berupa persepsi peserta terhadap penyelenggaran program tersebut. Penulisan artikel ini bertujuan mengidentifikasi profil peserta, persepsi peserta terhadap penyelenggaraan ekoliterasi secara hybrid dan jenis kendala yang dirasakan oleh peserta selama mengikuti ekoliterasi hybrid. TINJAUAN PUSTAKA Teori rantai interasi ritual (interactional ritual chains) yang diperkenalkan oleh Chollins di tahun 2004 menjadi salah satu rujukan dalam penyelenggaraan kegiatan hybrid sebab teori tersebut menjelaskan pengalaman komunal selama mengalami interaksi secara offline dan online (Simons, I, 2019). Selanjutnya, website seminar (webinar) merupakan metode yang umum digunakan dalam kegiatan media hybrid. Webinar didefinisikan sebagai kegiatan pemaparan materi atau sosialisasi yang disebarluaskan melalui internet. Webinar menjadi salah satu teknologi pembelajaran yang berkembang pesat dengan pertimbangan efektivitas dan efisiensinya (Zoumenou, V et al., 2015).
Method
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif fenonomologi yang akan menggambarkan fenomena atau trend di bidang perilaku pemustaka. Menurut Cresswell (2009) dalam (Sugiyono, 2013) menyatakan bahwa metode kualitatif yang menyandarkan pada filsafat post-moderisme melalui observasi guna meneliti kondisi obyek penelitian secara alamiah dan guna mengetahui fenomena penting partisipan penelitian. Tehnik pengumpulan datanya dengan metode survei menggunakan lembar kuesioner yang disebarluaskan melalui Google Form kepada peserta ekoliterasi Badan Litbang dan Inovasi. Kuesioner tersebut memuat sejumlah pertanyaan yang akan menggali informasi tentang data diri responden (nama, profesi, affiliasi, email), persepsi (kesan peserta terhadap penyelenggaraan ekoliterasi hybrid), dan jenis kritik/masukan/keluhan yang berhubungan dengan acara ekoliterasi hybrid. Responden penelitian ini merupakan peserta ekoliterasi hybrid di dua event yang berbeda, yakni: ekoliterasi hybrid di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ibnu Aqil, Bogor sejumlah 28 orang dan ekoliterasi hybrid di Kecamatan Naggung, Bogor sejumlah 25 orang dengan total jumlah responden 53 orang. Selanjutnya, data primer yang terkumpul tersebut diolah menggunakan microsoft Excel melalui proses tabulasi, pengukuran frekuensi dan prosentase terhadap responden berdasarkan kriteria affiliasi, persepsi dan jenis kritikan/masukan/keluhan. Data terolah tersebut diukur menggunakan distribusi frekuensi yang umumnya disajikan dalam bentuk diagram bulat (pie chart) yang memuat prosentase persepsi responden. Data terolah tersebut dianalisis secara deskriptif (Powell & Connaway, 2004).
Result & Discussion
Para responden yang telah mengisi kuesioner diorganisasikan kedalam tiga kriteria yakni: berdasarkan afiliasi, persepsi dan jenis kritikan. Ketiga kriteria tersebut akan bermanfaat dalam memetakan karakteristik audience ekoliterasi sehingga pesan ekoliterasi akan disesesuaian sesuai karakteristik tersebut dimasa mendatang. Selanjutnya, data jenis kritikan akan bermanfaat dalam mengenali titik lemah penyelanggaraan terkait aspek teknis, non teknis maupun substantif sehingga titik lemah yang teridentifikasi tersebut akan diperbaiki guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan ekoliterasi dimasa mendatang. Berikut ini pembahasan data persepsi responden ekoliterasi per-kriteria A. Affiliasi Peserta Ekoliterasi Secara Hybrid Target utama audience ekoliterasi adalah pelajar sekolah dasar dengan pertimbangan bahwa kegiatan ekoliterasi memuat pesan untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya kelestarian lingkungan sejak usia dini. Prakteknya, tidak dapat dihindari bahwa peserta yang berafiliasi kepada instansi pemerintah, perguruan tinggi dan umum turut mengikuti event tersebut. Hasil studi sebagaimana tersaji pada tabel 1 menunjukkan proporsi peserta ekoliterasi yang berafiliasi kepada instansi pemerintahan mendominasi sebesar 43 persen dan pelajar menempati urutan kedua sebesar 26 persen. Mendominasinya Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai peserta ekoliterasi hybrid cukup menarik dicermati mengingat target audience kegiatan ini merupakan pelajar. Namun studi ini belum dapat menjelaskan alasan dibalik fenomena tersebut. Merujuk fenomena 26% 13% 43% 17% Pelajar Mahasiswa ASN Umum Tabel. 1 Prosentase Peserta Ekoliterasi Hybrid berdasar Affiliasi Prosentase Sumber: Data primer terolah pada lampiran 1 (2021) Gambar 1.a Leaflet ekoliterasi di MI Ibnu Aqil tanggal 31 Agustus 2020 Gambar 1.b Leaflet ekoliterasi di Kecamatan Nanggung tanggal 09 September 2020 tersebut maka dapat dikatakan bahwa kegiatan ekoliterasi tersebut kurang tepat sasaran. Diduga jangkauan leaflet ekoliterasi I dan II lebih mudah diakses oleh target audience ASN daripada target audience pelajar/siswa. Setelah digali informasi lebih lanjut diperoleh hasil bahwa panitia pelaksana telah menyebarkan leaflet ekoliterasi I di MI Ibnu Aqil melalui postingan Fanpage Perpustakaan RI Ardi Koesoema di Facebook pada tanggal 26 Agustus 2020 dan postingan tersebut menjangkau 630 orang dengan 64 interaksi. Selanjutnya leaflet ekoliterasi II di kecamatan Nanggung juga disebarluaskan melalui postingan facebook pada tanggal 9 September 2020 dengan jangkauan 150 orang dengan 4 interaksi. Adapun muatan informasi pada kedua leaflet terdiri antara lain: tema, nama pemateri, waktu pelaksanaan, Kriteria umur peserta dan Link registrasi serta kontak narahubung kegiatan. Berikut ini visualisasi leaflet ekoliterasi I dan II tersaji pada gambar 1a dan 1 b berikut: Apabila melihat muatan informasi pada leaflet ekoliterasi maka peserta telah mengetahui kriteria target audience. Selanjutnya, panitia telah melakukan proses seleksi melalui tahapan registrasi peserta. Adapun affiliasi peserta tidak menjadi syarat mutlak kesuksesan penyelenggaraan webinar atau kegiatan hybrid sebab kepesertaan webinar tidak perlu menyasar target wilayah tertentu menimbang jangkauan internet yang luas (LeBlanc, Pruchnicki, Rohdieck, Khurma, & Dasta, 2007) dalam (Lande, L. M, 2011). B. Persepsi Peserta terhadap Pelaksanaan Ekoliterasi secara Hybrid Hampir sebagian besar peserta merespon positif pelaksanaan ekoliterasi secara hybrid. Data tersaji pada tabel 2 menunjukkan bahwa peserta yang mengapresiasi positif penyelenggaraan ekoliterasi sebanyak 68 persen. Sebaliknya, hanya 25 persen peserta yang merespon negatif dan 8 persen peserta yang abstain. Secara umum, pelaksanaan ekolitrasi hybrid berhasil memberikan kesan positif kepada para pesertanya. Hal tersebut ditunjukkan olehnya prosentase peserta yang mengapresiasi event tersebut lebih besar daripada peserta yang mengkritik. Kesan positif peserta terhadap penyelenggaraan kegiatan ekoliterasi secara hybrid tersebut menyiratkan bahwa substansi materi dan teknis penyelenggaraan telah memenuhi harapan (Ekspektasi) dan kebutuhan informasi para peserta. Substansi materi ekoliterasi pada kegiatan tersebut lebih bermuatan nilai dan moral tentang pentingnya kelestarian alam dan lingkungan. Materi tersebut dikemas kedalam pertunjukan seni monolog yakni dongeng. Penggunaan seni monolog dan pesan yang disesuaikan dengan minat target audience nya diyakini efektif dalam menginternalisasi pesan bertema lingkungan kepada para target audiencenya. Merujuk pada hasil kajian tentang aktivitas perpustakaan dalam menumbuhkan cinta lingkungan bagi kaum milinieal. (Rahmawati & Handisa, 2019) berpendapat bahwa penyusunan program yang mempertimbangan karakter dan minat (passion) target audience akan mampu menarik minat dan partisipasi generasi milinial dalam mengikuti acara-acara bertema lingkungan. Hal tersebut mengacu pada pengalaman penyelenggaraan pesta literasi pada tahun 2015 dan 2019 yang mampu menarik animo peserta generasi milinial sebanyak 1,200 orang. Adapun konsep program pesta literasi tersebut mempertimbangkan karakter generasi milinial yang terbuka, dinamis, energik, rasa keingintahuan yang besar dan interaktif sehingga rangkaian acara pesta literasi terdiri atas beragam event, seperti: pagelaran musik, penyuluhan, permainan dan beragam lomba. Sedangkan penggunaan seni budaya merupakan strategi dalam memudahkan menginternalisasikan nilai kedalam diri target audience. C. Jenis Kritikan Kritikan yang dimaknai sebagai tanggapan yang disertai atau tidak disertai oleh uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil atau karya dan sebagainya (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016), perlu ditindaklanjuti guna menemukan akar permasalahannya dan permasalahan tersebut diselesaikan guna perbaikan kualitas dimasa mendatang. Berdasarkan data pada tabel 3, teridentifikasi 6 (enam) buah jenis kritikan terhadap penyelenggaraan ekoliterasi hybrid, mencakup isu tentang manajemen waktu, pemilihan narasumber, perbaikan koneksi internet, kualitas audio, kurangnya publikasi dan lain lain. Namun dari keenam jenis kritik tersebu terdapat 2 hal yang mencolok yakni: kurangnya publikasi yang menempati posisi pertama dengan prosentase sebesar 31 persen dan kualitas koneksi internet pada posisi kedua dengan prosentase 23 persen. Patut disayangkan jika panitia pelaksana ekoliterasi hybrid tidak memaksimalkan strategi diseminasi informasi melalui media sosial dan internet. Mengingat internet merupakan sarana efektif penyebarluasan informasi karena jangkuannya yang luas dan kecepatan penyebarluasannya. Optimalisasi internet sebagai sarana diseminasi informasi dapat mengatasi kendala kurangnya publikasi. Jika dilacak dari jejak digitalnya, panitia pelakana ekoliterasi telah menyebarluaskan leaflet kegiatan sebanyak 2 kali pada tanggal 26 Agustus 2020 menjangkau 630 orang dengan 64 interaksi dan pada tanggal 9 September 2020 dengan jangkauan 150 orang dengan 4 interaksi melalui halaman perpustakaan di Facebook. Namun perlu diingat bahwa diseminasi melalui internet perlu dilakukan secara berkala sebagai pengingat sebab begitu banyaknya informasi yang beredar diinternet dapat menghalangi target audience menerima pesan yang dikirimkan yang menggunakan metode broadcast. Mengingat metode broadcast lebih menitik beratkan kepada cakupan jangkauan pesan daripada kedekatan pesan dengan target audience. Namun kritikan terhadap diskontinyu koneksi internet selama ekoliterasi berlangsung tidak dapat secara mutlak ditujukan kepada panitia penyelenggara. Kelancaran koneksi internet dipengaruhi oleh beragam faktor seperti, letak lokasi penyelenggaraan yang masih dalam jangkauan Base Transceiver Station (BTS), ketiadaan penghalang alami sinyal telekomunikasi, seperti: gunung, gedung bertingkat dan kondisi cuaca. Berdasarkan temuan dan ulasan diatas maka teridentifikasi bahwa penyebab munculnya kritik pada penyelenggaraan kegiatan ekoliterasi secara hybrid adalah pengabaian terhadap langkah-langkah penyelenggaraan acara hybrid. Menurut (Lande, L. M, 2011) pada disertasi doktoral tentang penyelanggaraan webinar sebagai media pendidikan mengungkapkan bahwa penyelanggaraan event hybrid melalui webiner dimulai dari tahap: Pre-webinar melalui penyebarluasan informasi terhadap event webinar dengan menggunakan media email, leafet, news letter maupun postingan dimedia sosial. Informasi tersebut singkat dan padat sekitar 150200 kata dengan memuat jenis kegiatan, waktu dan tempat. Diseminasi informasi tersebut bertujuan membangun kesadaran kepada calon peserta potensial guna mempersiapkan diri berpartisipasi pada acara tersebut. Masih pada tahap pre-webinar, perlu disediakan link pendaftaran yang berisi tentang konfirmasi kehadiran calon peserta. Selanjutnya adalah pengiriman notifikasi pengingat menjelang hari-H guna memastikan kehadiran calon peserta. Tahap terakhir adalah melakukan evaluasi sesaat pada pelaksanaan kegiatan hybrid menimbang bahwa umumnya peserta tidak terlalu antusias mengirimkan evaluasi. Formulir evaluasi setidaknya memuat nama dan alamat kontak serta aspek-aspek penyelenggaraan event webinar yang perlu masukan/evaluasi dari peserta. Pada umumnya, formulir evaluasi pada event webinar merupakan satu kesatuan pada daftar hadir. Pada konteks evaluasi kurangnya publikasi disebabkan oleh panitia pelaksana tidak melalukan notifikasi pengingat terhadap calon peserta potensial yang ingin mengikuti event hybrid tersebut.
Conclusion
Ekoliterasi secara hybrid merupakan upaya adaptasi Perpustakaan RI Ardi Koesoema dalam menjalankan program literasi lingkungan yang menyasar pelajar dengan menerapkan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Konsep program ekoliterasi hybrid memadukan edutainment, yakni mengemas pesan moral dan nilai tentang pentingnya pelestarian lingkungan melalui kegiatan dongeng, games dan demonstasi alat pendeteksi merkuri. Secara umum, penyelenggaraan ekoliterasi hybrid di dua tempat, yakni: MI Ibnu Aqil dan Kelompok Belajar (Pokja) kecamatan Nanggung berjalan aman, lancar dan sukses dan diikuti oleh total peserta sebanyak 53 orang. Teridentifikasi bahwa peserta yang berafiliasi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki prosentase lebih besar daripada pelajar sebagai target audience ekoliterasi hybrid. Penjelasan atas penyimpangan target audiense pada temuan tersebut menjadi keterbatasan studi ini. Selanjutnya, sebagian besar peserta ekoliterasi hybrid memiliki persepsi positif terhadap kegiatan tersebut disebabkan terpenuhi harapan (ekspektasi) dan kebutuhan informasinya. Tak kalah pentingnya adalah penyusunan program ekoliterasi hybrid telah mempertimbangkan karakteristik dan minat generasi milinial yang terbuka, dinamis, interaktif dan penuh keingintahuan melalui kemasan acara yang beragam memadukan seni budaya monolog berupa dongeng dan permainan dan demonstrasi alat pendeteksi merkuri. Kurangnya publikasi merupakan keluhan terbesar bagi peserta ekoliterasi hybrid. Walaupun panitia pelaksananya telah berusaha menyebarluaskan informasi kegiatan melalui media sosial, namun panitia pelaksananya belum mengoptimalkan strategi diseminasi berupa notifikasi/pengingat acara kepada calon peserta potensial ekoliterasi hybrid. Kondisi tersebut disinyalir menyebabkan kesenjangan informasi antara panitia dengan calon peserta ekoliterasi hybrid. Direkomendasikan kepada penyelenggara kegiatan hybrid perlu melakukan perencanaan yang matang meliputi: pemetaan target audience peserta, merancang strategi diseminasi informasi termasuk melakukan pengiriman notifikasi pengingat secara berkala kepada calon peserta, menyusun program dengan mempertimbangkan karakter dan minat target audience serta menggunakan jenis seni budaya yang sesuai tujuan kegiatan hybrid guna menjamin efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan acara hybrid.