Kembali
16
1
2022 Media Sains Informasi dan Perpustakaan Vol 2 · 1 ISSN 2808-4659

URGENSI PUSTAKAWAN PERGURUAN TINGGI SEBAGAI CONTENT CREATOR DALAM MENGANTISIPASI GENERASI Z

Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak

Kehadiran dunia digital saat ini mempengaruhi perkembangan segala lini kehidupan termasuk dunia perpustakaan. Masivnya penggunaan teknomogi informasi di masyarakat luas terutama pada generasi z membawa angin perubahan yang signifikan dalam segala sendi kehidupan. keberadaan pustakawan sebagai pengelola perpustakaan sangat relevan memiliki kemampuann dalam mengelola informasi berbasis digital dalam mendukung peningkatan literasi informasi masyarakat. Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1996 hingga 2012 Masehi. Generasi Z merupakan generasi setelah Generasi Milenial, generasi ini merupakan generasi transisi dari Generasi Milenial dengan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa di antaranya adalah keturunan Generasi X dan Milenial. Perpustakaan perguran tinggi sebagai sumber informasi dari mahasiswa yang merupakan generasi z harus mampu menampilkan informasi sesuai dengan kebiasaan dari pengguna, sehingga dapat terus diperlukan kehadirannya dalam menunjang aktifitas bekajar dari generasi z ini. Urgensi pustakawan sebagai conten creator cukup tinggi sebagai pengelola perpustakaan yang memiliki informasi baik konvenmsional maupun berbasis digital sehingga seluruh informasi yang dikelola perpustakaan dapat dimanfaatkan dalam menunjang karir akademik dari generasi z ini

Abstract

The presence of the digital world today affects the development of all lines of life, including in the library sector. The massive use of information technology in the wider community, especially in Generation Z, has brought about significant changes in all aspects of life. the existence of a librarian as a library manager is very relevant to have the ability to manage digital-based information in supporting the improvement of public information literacy. Generation Z is the generation born between 1996 and 2012 AD. Generation Z is the generation after the Millennial Generation, this generation is a transitional generation from the Millennial Generation with increasingly developing technology. Some of them are descendants of Generation X and Millennials. The university library as a source of information for students who are generation z must be able to display information according to the habits of users, so that its presence can continue to be needed in supporting the learning activities of this generation z. The urgency of librarians as content creators is quite high as library managers who have both conventional and digital-based information, so that all information managed by the library can be used to support the academic career of generation z
Keywords: content creator · generasi z · perpustakaan perguruan tinggi

Introduction

Pustakawan dalam era digital yang semakin berkembang memiliki peran yang strategis dalam mendukung perkembangan teknologi yang sangan popular saat ini. Sebagai insan pengelola imformasi kehadirannya sangat relevan dalam upaya membantu pemerintah mengantisipasi kebutuhan informasi yang semakin bergam dari masyarakat luas. Masyarakat yang terdisrupsi oleh kehadiran teknologi digital saat ini terutama generasi z yaitu generasi yang lahir antara tahun 1996 sampai 2012 memiliki kebutuhan informasi yang lebih banyak dan beragam serta memiliki basis informasi yang kita kenal sebagai basisi informasi digital. Hal ini ditadai dengan frekwensoi penggunaan prangkat teknologi informasi seperti PC dan gadget dari generasi tersebut yang sangat masiv dan popular. Kebutuhan gadget, PC, Laptop atau perangkat komunikasi seperti handphone menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan mereka, mulai dari mencari informasi, mencari teman atau bergaul, dan selalu memanfaatkan p[erangkat tersebut untuk mengisi Sebagian besar waktu dalam keseharian meraka. Generasi z sering juga disebut iGeneration, yang memiliki kemiripan dengan Generasi Milenial, namun mampu menerapkan semua aktivitas dalam satu waktu seperti tweeting menggunakan ponsel, browsing di PC, atau laptop dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka akrab dengan teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung mempengaruhi kepribadian mereka. Kebutuhan informasi dari generasi z perlu diantisipasi oleh pengelola perpustakaan (pustakawan) sehingga perpustakaan mampu mempertahankan keberadaanya ditengah-tengah kehidupan generasi z ini sehingga muncul permasalahan bagi pustakawan saat ini adalah sejauhmana urgensi perpustakaan mampu mengimbangi kebutuhan informasi dari generasi z ini. Demikian halnya dengan perpustakaan perguruan tinggi yang mana para peserta didik yang menjadi pengguna perpustakaan adalah para kaum milenial atau dari generasi z, dalam penyelenggaraan layanan harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman, pustakawan sebagai pengelola perpustakaan harus mampu bertransformasi dalam mengantisipasi tuntutan pengguna. Pemnafaatan perangkat digital untuk mengakses informasi sudah sangat membudaya pada kaum generasi z ini, untuk mengantisipasi hal tersebut pustakawan sebagai pengelola perpustakaan perguruan tinggi harus dapat mengimbanginya melalui penyuguhan informasi berbasis digital melalui konten-konten digital sehingga dapat dengan mudah diaksses oleh pengguna perpustakaan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah urgensi pustakawan perguruan tinggi tampil sebagai conten creator dalam mengantisipasi kebutuhan pengguna dari generasi z?

Discussion

Perpustakaan Perguruan Tinggi Sebagai Pusat Informasi Perpustakaan sebaga suatu institusi pengelola informasi menjadi tumpuan dari generasi z untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam menopang keberlangsungan kehidupan yang semakin modern. Perpustakaan harus mampu nyediakan informasi sekaligus akses informasi yang lebih mudah dalam mengantisipasi kebutuhan generasi z ini. Kehadiran perpustakaan sebagai pengelola informasi dan sebagai pusat informasi harus mampu menjembatani kebutuhan informasi generasi ini dengan penyediaan informasi yang bergam dengan basis digital pula, sehingga perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya ditengah-tengah generasi z. Demikian halnya dengan perpustakaan perguruan tinggi,yang mana saat ini sudah dipenuhi oleh peserta didik dari generasi z, diperlukan transformasi dari penyelenggaraan layanan sehingga dapat lebih efektif dan efisien. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang bernaung dibawah perguruan tinggi yang bertugas menyediakan informasi baik berupa koleksi bahan pustaka yang tercetak maupun tidak tercetak dalam rangka menunjang tercapainya tujuan dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu unit pelaksanaan teknis perguruan tinggi yang bersama-sama dengan unit lain, turut melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara memilih, menghimpun, mengolah, merawat serta melayankan sumber informasi kepada masyarakat akademis atau civitas akademika pada umumnya dan lembaga induk pada khususnya. Sesuai dengan peranannya, perpustakaan perguruan tinggi berkedudukan sebagai unit pelaksana teknis (UPT) yang merupakan perangkat perlengkapan pusat dan bersifat urgen sebagai sarana penunjang program kegiatan di lingkungan perguruan tinggi yang mempunyai tugas pokok secara operasional dalam bidang pelayanan informasi. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu unit kerja yang turut berperan aktif membantu perguruan tinggi dalam melaksanakan Tri Dharmanya, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan, perpustakaan perguruan tinggi memiliki peran yang sangat sentral dan strategis dalam mewujudkan tujuan perguruan tinggi. Oleh karenanya perpustakaan harus dapat tampil sebagai sebuah institusi yang mampu menyediakan segala informasi yang diperlukan sivitas akademika dalam berbagai bidang kegiatan. Pelayanan yang optimal kepada pengguna terutama mahasiswa sangat diperlukan untuk memberikan layanan yang memuaskan, sehingga perpustakaan diharapkan dapat meningkatkan minat baca sekaligus meningkatkan hasil belajar atau prestasi akademik mahasiswa. Fleksibilitas atau layanan yang dinamis sangat diperlukan dalam hal penyediaan informasi guna mengantisipasi kebutuhan pengguna akan bahan pustaka yang mutakhir. Tujuan diselenggarakannya perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk mendukung, mempelancar dan mempertinggi kualitas pelaksanaan program pembelajaran di perguruan tinggi melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek yaitu : (a) pengumpulan informasi; (b) pelestarian informasi; (c) pengolahan informasi; (d) pemanfaatan informasi; (e) penyebarluasan informasi. Sehingga dengan demikian tujuan penyelenggaraan perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk mendukung terlaksananya semua fungsi perguruan tinggi sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengelola perpustakaan perguruan tinggi secara berkesinambungan wajib melakukan pembinaan terhadap koleksi yang merupakan salah satu kegiatan pelayanan teknis yang harus dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam upaya memberikan pelayanan informasi yang prima kepada pengguna perpustakaan demi tercapainya tujuan dari perpustakaan perguruan tinggi yaitu mendukung dan meningkatkan kualitas pelaksanaan program perguruan tinggi bersangkutan. Kegiatan pembinaan koleksi bahan pustaka salah satunya dalah penambahan jumlah koleksi yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Koleksi bahan pustaka perpustakaan merupakan kumpulan atau sekelompok bahan pustaka yang berisi karya-karya mengenai informasi tertentu yang disusun secara sistematis. Adapun yang termasuk koleksi bahan pustaka perpustakaan perguruan tinggi adalalah semua bahan pustaka berupa bahan cetak maupun non cetak yang dikumpulkan, diolah, disimpan dan dikelola oleh sebuah perpustakaan perguruan tinggi untuk disajikan kepada pengguna perpustakaan perguruan tinggi dalam memenuhi kebutuhan informasi penggunanya. Oleh karenanya perpustakaan perguruan tinggi perlu menyediakan koleksi yang lengkap dan memadai sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hal ini sekaligus bertujuan untuk menarik minat baca civitas akademika berkunjung dan memanfaatkan koleksi perpustakaan. Beragamnya koleksi bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sedikit tidaknya menarik pengguna untuk berkunjung dan sekaligus menciptakan kebiasaan membaca bagi pengguna terutama mahasiswa. Kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, dan memadai, baik jenis, jumlah, maupun mutunya. Dapat dikatakan untuk meningkatkan minat baca sivitas akademika dari perguruan tinggi, sangat dipengaruhi oleh kemampuan perpustakaan perguruan tinggi menyediakan informasi informasi termutakhir dan relevan dengan kebutuhan pengguna perpustakaan. Koleksi perpustakaan perguruan tinggi memiliki fungsi yang sangat penting sehingga pengelola perpustakaan harus memperhatikan kelestarian koleksi agar dapat dipergunakan secara berkesinambungan antara satu pengguna dengan pengguna lainnya. Masing–masing perpustakaan perguruan tinggi memiliki jenis bahan pustaka yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Banyak faktor yang menciptakan kondisi tersebut seperti antara lain; anggaran yang berbeda, fakultas yang berbeda, jurusan yang berbeda dan lain sebaginya. Koleksi di perpustakaan perguruan tinggi tidak terbatas hanya buku saja tetapi meliputi segala macam dan bentuk materi yang tercetak dan terekam. Koleksi perpustakaan perguruan tinggi setidaknya terdiri atas beberapa komponen yaitu berupa; buku teks, buku referensi ( buku referensi umum, referensi bidang studi khusus, alat-alat bibliografi seperti indeks, abstrak, laporan tahunan, kamus, ensiklopedia, katalog, buku pegangan, dan lain-lai), terbitan berkala atau berseri seperti majalah, surat kabar, terbitan perguruan tinggi yang diterbitkan oleh perguruan tinggi, (baik perguruan tinggi dimana perpustakaan tersebut bernaung maupun penerbitan perguruan tinggi lainnya), terbitan pemerintah,koleksi khusus, koleksi bukan buku yaitu berupa koleksi audio visual seperti film, kaset, piringan hitam, video tape dan sejenisnya, karya ilmiah ( mahasiswa, dosen dan pejabat fungsional lain di lingkungan perguruan tinggi tersebut) dan laporan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Penyediaan koleksi perpustakaan harus benar-benar memperhatikan kebutuhuan pengguna, adanya kerelevanan antara koleksi yang disediakan perpustakaan dengan kebutuhan pengguna akan menjadikan perpustakaan dibutuhkan kehadirannya oleh segenap sivitas akademika perguruan tnggi. Hal ini sejalan dengan pendapat Noerhayati yang menyatakan bahwa untuk dapat memberikan pelayanan dalam mencapai tujuan perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan harus berusaha menyediakan berbagai informasi dan bahan pustaka yang diperlukan untuk dapat melaksanakan program kegiatan perguruan tinggi di bidang pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Urgensi Pustakawan Perguruan Tinggi sebagai Content Creator Dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan khusunya perpustakaan perguruan tinggi yang menjadi tujuan utamanya adalah tersebarnya informasi yang dikelola dengan baik ke segenap civitas akademika terutama dosen dan mahasiswa sehingga mampu meningkatkan mutu output dari perguruan tinggi tersebut. Generasi z yang memenuhi perguruan tinggi saat ini sebagai mahasiswa menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan untuk dapat menyelaraskan layanan yang diselenggarakan dengan kebiasaan dari generasi z ini sehingga perpustakaan mampu hadir ditengah-tengah generasi z ini sebagai salah satu sumber informasi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwasannya generasi z ini sering dizebut sebagai digital native, artinya mereka lahir pada era serba digital, banyak hal yang mereka temui semenjak lahir menggunakan basis digital, mulaia dari handpone, laptop, segala jenis mainan anak-anak, dan peralatan elektronok.Tidak jarang orang tua mengasuh anak dengan memanjakan anak untuk menyaksikan konten-konten digital baik melalui gadget maupun layer televisi. Kebiasaan inilah yang menjadi tantangan pustakawan untuk dapat mempertahankan eksistensinya di masayarakat pengguna, demikian halnya pada perpustakaan perguruan tinggi saat ini para pengelola perpustakaan dituntut mampu menghadirkan layanan yang menarik minat bagi generai z ini. Pemanfatan teknologi digital dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan menjadi sebuah keharusan, di era disrupsi digital saat ini dimana teknologi digital merangsak masuk kedalam sendi-sendi kehidupan masyarakan yang merubah pola prolaku bahkan budaya masyarakat perpiustakaan harus dapat mengimbanginya dengan menyajikan layanan yang berbasis digital pula. Oleh karenanya kemampuan pustakawan dalam mengelola konten digital sangat diperlukan untuk mengantisipasi generasi z ini, pustakawan harus mengembangkan kompetensi yang dimilikinya dalam hal pembuatan konten-konten informasi berbasis digital, hal ini dapat diwujudkan dengan pemberian fasilitas diklat bagi pustakawan dan fasilitas penunjang berupa peralatan pendukung dalam menciptakan konten digital. Seperti apa yang dikemukakan oleh Soelistyo Basuki (2006) yang menyebutkan bahwa pustakawan harus memiliki kompetensi TIK (Teknologgi Informasi dan Komunikasi) yang mana dalam penyelenggaraar layanan perpustakaan harus juga melengkapi diri dengan kompetensi menggunakan web atau teknologi partisipatif diantaranya facebook, twitter dan youtube. Untuk mengantsipasi generai z ini pustakawan memiliki urgensi yang cukup tinggi dalam menggunaka teknologi partisipatif untuk menjangkau lebih banyak pengguna maupun sebagai sarana promosi. Adapun contoh konten digital dengan menggunakan beberapa teknologi partisipasi di perpustakaan antara lain: 1. Konten digital layanan referensi online 2. Konten youtube, sebagai sarana penunjang kelas literasi misalnya video tutorial mengakses database yang dilanggan perpustakaan seperti ebook dan ejournal. 3. Konten facebook, istagram, tweeter, tiktok yang dimanfaatkan sebagai sarana promosi maupun sarana sosialisasi layanan 4. Blog. Sebagai sarana untuk berinteraksi antara pustakawan dan pengguna 5. Online bookmark manager dapat menggantikan pathfinder konvensional perpustakaan 6. dll Pustakawan sebagai ujung tombak pengelola informasi memiliki peran yang strategis dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan agar perpustakaan dapat tetap memiliki daya Tarik untuk dimanfaatkan. Kemampuan pustakawan sebagai conten creator dalam hal mengantrisipasi kebutuhan generasi z sangat dibutuhkan dewasa ini mengingat hanya pustakawan yang mengerti mengani informasi yang dikelolanya dan bagaimana menyebarkan informasi tersebut agar benar benar sampai ke pengguna. Antisipasi kebutuhan pengguan menjadi poin penting dalam mempertahankan eksitensi perpustakaan, hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari kebiasaan dari pengguna sekaligus mempelajari informasi yang diperlukan oleh pengguna, sehingga informasi yang disediakan perpustakaan dapat dimanfaatkan denga baik oleh pengguna.

Conclusion

Perpustakaan perguran tinggi sebagai sumber informasi dari mahasiswa yang merupakan generasi z ini harus mampu menampilkan informasi sesuai dengan kebiasaan dari pengguna sehingga dapat terus diperlukan kehadirannya dalam menunjang aktifitas belajar dari generasi z ini. Urgensi pustakawan sebagai content creator cukup tinggi sebagai pengelola perpustakaan yang memiliki informasi baik konvensional maupun berbasis digital sehingga seluruh informasi yang dikelola perpustakaan dapat dimanfaatkan dalam menunjang karir akademik dari generasi z ini. Pustakawan dalam mengantisipasi kebutuhan pengguna (generasi z) harus siap dalam meningkatkan kompetensi dibidang content creator sehingga mampu menghadirkan perpustakaan yang menarik ditengah-tengah generasi z. Peningkatan kompetensi di bidang content creator sangat diperlukan, yang dapat dilakukan dengan penyelenggaraan diklat yang berkaitan. Fasilitas pendukung dari kegitan pustakawan juga harus disediakan seperti perlengkapan komputer dan fasilitas internet, sehingga mampu mendukung pustakawan dalam menghasilkan konten yang bermanfaat bagi pengguna.