Pelaksanaan Knowledge Management dalam mendukung kegiatan Knowledge Transfer pada grup International Carnivorous Plant Society
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Pendahuluan. Kajian ini membahas bagaimana kegiatan Knowledge Management (KM) dapat mendukung kegiatan Knowledge Transfer (KT) pada grup “International Carnivorous Plant Society” (ICPS). Metode penelitian. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan mencari bentuk-bentuk kegiatan KM dan KT yang ada pada grup ICPS. Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan dan dianalisis menggunakan literatur. Hasil dan Pembahasan. Hasil kajian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan KM dan KT di ICPS dilakukan menggunakan sarana website ICPS. Kegiatan KM pada grup ICPS dilakukan melalui 4 tahap yaitu: identifying, collecting, and creating: classifying and storing; sharing; dan accessing and using. Kegiatan KT di ICPS dilakukan melalui penyediaan artikel pada website ICPS; publikasi jurnal online; dan pembuatan video pada akun Youtube ICPS mengenai hal-hal yang berkaitan dengan tanaman karnivora. Kesimpulan. Secara keseluruhan kegiatan KM dan KT di ICPS sudah terlaksana dengan baik. Hanya pada tahap “share” di kegiatan KM yang masih kurang diperhatikan.
Abstract
Introduction. This study discusses how knowledge management activities (KM) supports knowledge transfer (KT) in "International Carnivorous Plant Society "(ICPS) group. Research Method. This study used qualitative descriptive method. The data collection activity was conducted by reviewing KM and KT activities in the ICPS group. The collected data was classified and analyzed for further discussions. Results and Discussions. The results showed that the implementation of KM and KT in ICPS was successfully done through ICPS website. KM activities in ICPS group were applied through 4 stages: identifying, collecting, and creating: classifying and storing; sharing; and accessing and using. KT activities in ICPS were conducted through the provision of articles on ICPS website; online journals; and video-making on the Youtube ICPS account related to carnivorous plants. Conclusions. Overall KM and KT activities in ICPS have been conducted in sufficient way. Only at the stage of “sharing” KM activities need more attention.
Keywords:
Knowledge Management
· Knowledge Transfer
· International Carnivorous Plant Society
· Carnivorous Plant Community
Introduction
A. PENDAHULUAN Memiliki pemahaman yang sama tentang suatu data dan informasi merupakan hal yang penting karena dapat membantu masing-masing anggota untuk memahami tujuan lembaga di mana mereka bekerja dan memahami masingmasing peran yang dijalani. Data dan informasi yang terkelola dalam suatu lembaga diharapkan dapat menciptakan pemahaman yang sama dari masing-masing individu agar dapat menjadi suatu pengetahuan (Alavi dan Leidner, 2001). TAC-ATC (2010) menjelaskan bahwa untuk dapat membantu setiap anggota pada masingmasing organisasi agar dapat memahami apa dan bagaimana mereka melakukan pekerjaan secara lebih efisien, diantaranya dapat dilakukan dengan kegiatan manajemen pengetahuan (Knowledge Management/KM). Djunaedi (2016) menjelaskan bahwa banyak lembaga atau organisasi maju sekarang mulai peduli dan memperhatikan bagaimana mengelola data dan informasi yang dimiliki. Sehingga data dan informasi yang dimiliki dapat menjadi sebuah pengetahuan yang dapat didistribusikan kepada anggota lainnya. Proses pengelolaan informasi atau information management dilakukan melalui manajemen data, manajemen aset informasi, hingga kegiatan Knowledge Management (KM). Australian Local Government Association (2003) menjelaskan bahwa pada tingkat akhir KM, sebuah organisasi berusaha mewujudkan proses dan mengkombinasikan secara sinergis antara data dan kapasitas pengolahan informasi, teknologi informasi dan kapasitas kreatif inovatif yang dimiliki manusia. Evans, Dalkir, dan Bidian (2014) menjelaskan model siklus dalam KM yang berisi tujuh tahap yaitu: identifying, storing, sharing, using, learning, improving, dan creating. Adanya KM secara tepat diharapkan dapat membantu para anggota sebuah organisasi atau lembaga untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan baru yang mereka butuhkan, dalam proses transfer pengetahuan dari anggota lain. Menurut Trautman dan McKee (2014) KT merupakan kegiatan yang berfungsi untuk mereplikasi keahlian dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang profesional kepada rekan kerja mereka, yang dilakukan dengan cara pelatihan atau pendampingan. Pengetahuan ini dapat dalam bentuk eksplisit maupun pengetahuan implisit. Alavi dan Leidner (2001) menjelaskan hal yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan KT yaitu sejauh mana individu menghentikan pencarian pengetahuan eksternal dan hanya mengandalkan pengetahuan internal. Sehingga KT dapat menciptakan suatu proses dimana suatu pengetahuan yang ditransfer dalam internal organisasi lebih banyak dan lebih sedikit pengetahuan luar yang masuk ke dalam organisasi. Pada dunia tanaman karnivora sangat penting sekali bagi para hobbies memperoleh informasi yang tepat mengenai cara bertanam tanaman karnivora. Hal ini karena tanaman karnivora berasal dari berbagai daerah dan banyak spesies yang berasal dari luar negeri. Pada permasalahan kali ini penting bagi para hobbies khususnya yang berada di Indonesia untuk memperoleh informasi maupun pengetahuan baru mengenai cara bertanam yang tepat. Pada bidang tanaman karnivora terdapat beberapa komunitas atau grup yang dapat diikuti oleh para hobbies agar mereka dapat memperoleh informasi dan pengetahuan yang tepat yang dibutuhkan. Informasi tersebut dapat berupa hasil penelitian ataupun percobaan yang pernah dilakukan oleh anggota lain. Di antara grup tersebut yaitu “International Carnivorous Plant Society” (ICPS). ICPS merupakan sebuah grup yang menaungi para hobbies dari seluruh dunia. Grup ini membagikan pengetahuan yang mereka kelola dari hasil karya dan hasil penelitian anggota grup. Selain itu grup ini juga menyediakan wadah bertukar pengetahuan dalam bentuk komunitas berbasis website dan Facebook. Berdasarkan hasil pencarian literatur yang dilakukan, selama ini masih jarang literatur yang membahas mengenai proses KM dan KT yang dilakukan suatu komunitas dunia hobbies seperti pada tanaman karnivora. Beberapa penelitian yang ditemui membahas mengenai bagaimana kegiatan KM dan KT yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, lembaga pemerintah, atau pusat informasi. Beberapa dari penelitian tersebut juga membahas proses KM di suatu komunitas seperti di komunitas petani. Seperti Setiarso (2006) yang meneliti bagaimana kegiatan KM yang berfungsi sebagai penunjang kegiatan pemberdayaan usaha makanan dan minuman di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Wijaya (2017) yang mengkaji bagaimana model dari Knowledge Management System (KMS) yang dapat digunakan sebagai sarana diskusi pada komunitas petani buah naga mengenai kualitas buah naga yang bagus. Herdiyeni, Zuhud, dan Heryanto (2014) meneliti bagaimana proses KM dalam pembuatan database Mangrove serta manfaatnya dalam pembuatan obat tradisional. Oreszczyn, Lane, dan Carr (2010) meneliti bagaimana kegiatan KM dan KT berbasis website dapat mempengaruhi inovasiinovasi di dunia agrikultur dalam praktik bertanam para petani. Penelitian yang dilakukan Wong dan Aspinwal (2005) kepada 26 perusahaan kecil dan menengah di United Kingdom dengan kategori perusahaan skala pabrik dan perusahaan penyedia jasa yang menjelaskan jenis dari proses KM yang dilakukan dan mencari tahu melalui hal apa kontribusi yang dilakukan para karyawan terkait dengan kegiatan KT atau Knowledge Sharing (KS) yang dilakukan. Mavodza (2010) membahas kegiatan KT yang dilakukan oleh Perpustakaan Metropolitan College of New York yang sebagian besar didasarkan pada komunikasi dan berbagi ide. Kegiatan KT yang dilakukan pihak perpustakaan melalui: percakapan secara tatap muka, pembuatan dokumen, pembuatan manual prosedur, konsultasi melalui telefon, dan melalui website atau blog perpustakaan. Atas dasar ini menjadi menarik mengkaji pelaksanaan kegiatan KM yang dapat mendukung kegiatan KT pada grup ICPS. Sehingga penelitian ini dapat memberikan gambaran kepada grup atau komunitas tanaman karnivora di Indonesia. B. TINJAUAN PUSTAKA Teori KM meyakini bahwa pengetahuan memiliki beberapa bentuk atau bagian. Perspektif yang paling populer menjelaskan pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan eksplisit (explicit knowledge) dan pengetahuan tacit (tacit knowledge) (King, 2009). Pengetahuan eksplisit merupakan pengetahuan yang dapat dengan mudah diartikulasikan, distandarkan, dibagikan, atau disimpan (TAC-ATC, 2010). Pengetahuan ini dapat berbentuk kata, kalimat, dokumen, data terorganisir, program komputer, dan bentuk eksplisit lainnya (King, 2009). Sedangkan pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang masih berada pada pikiran seseorang yang sulit untuk diakses (Ibarra, 2013). Tacit knowledge juga diartikan sebagai pengetahuan yang tidak berwujud, lebih personal, dan sulit untuk diformalkan atau disusun. Pengetahuan tacit sulit untuk dikomunikasikan dan dibagi dengan orang lain karena cenderung terkait erat dengan keterampilan, pengalaman, nilai-nilai, dan keyakinan individu (Australian Local Government Association, 2003). KM merupakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi, menangkap, mentransfer, dan menggunakan pengetahuan untuk menyampaikan informasi kepada orang yang tepat, pada saat yang tepat, dengan cara yang benar, untuk membantu membuat keputusan (TAC-ATC, 2010). Menurut Scarborough (dalam Gourlay, 2010) KM dapat didefinisikan sebagai setiap proses atau praktik membuat, memperoleh, menangkap, berbagi, dan menggunakan pengetahuan, untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja dalam organisasi. Wong dan Aspinwal (2005) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan kegiatan KM. Faktor-faktor tersebut yaitu adanya dukungan, adanya bagian pengelola pengetahuan dan infrastruktur, adanya ontologi pengetahuan dan repositori, adanya sistem KM dan sarana, serta insentif untuk mendorong berbagi pengetahuan, dan adanya budaya yang mendukung. Menurut Omotayo (2015) terdapat empat komponen kunci dalam pelaksanaan KM. Komponen tersebut yaitu: 1. Knowledge sebagai komponen inti; 2. People sebagai para pelaku dari kegiatan KM; 3. Processes sebagai alur dari kegiatan KM yang dilakukan sebuah organisasi; 4. Technology sebagai sarana dalam pelaksanaan KM. Kegiatan KM memiliki struktur tingkatan yang saling berkaitan. Tingkatan atau model yang dipraktekkan dalam sebuah organisasi juga berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan tingkat kapabilitas masing-masing lembaga. Di antara model dalam knowledge management cycle (KMC) yang dijelaskan oleh King (2009) meliputi proses knowledge acquisition, creation, refinement, storage, transfering, sharing, dan utilization. Model lain dijelaskan oleh Mohapatra, Agrawal, dan Satpathy (2016) yang menyebutkan tahap dari KMC yaitu: 1. Capturing; 2. Coding; 3. Publishing; 4. Sharing; 5. Accessing; 6. Applicating. Pernyataan lain dijelaskan oleh Evans, Dalkir, dan Bidian (2014) yang menyatakan bahwa proses KMC meliputi 7 tahap yaitu: identifying; storing; sharing; using; learning; improving; dan creating. Penjelasan secara lebih jelas mengenai alur KMC Evans, Dalkir, dan Bidian(2014) dapat dilihat pada Gambar 1. Wong dan Aspinwal (2005) mengkaji jenis dari proses kegiatan KM pada sebuah pabrik dan perusahaan penyedia jasa. Jenis KM yang dilakukan yaitu: 1. Mengelola pengetahuan secara elektronik dalam repositori, 2. Menggunakan teknologi informasi untuk sharing dan transfer knowledge, 3. Menggunakan intranet untuk mempublikasikan dan mengakses informasi, 4. Membangun keahlian dan keterampilan karyawan, 5. Mengidentifikasi praktik terbaik dari pihak internal atau eksternal, 6. Menciptakan lingkungan yang mendukung untuk proses knowledge sharing, 7. Mengembangkan strategi dalam kegiatan KM, 8. Menunjuk pemimpin KM dan tim, 9. Memberikan penghargaan pada karyawan yang berkontribusi dan berbagi pengetahuan, 10. Mengukur nilai kapita intelektual (Wong dan Aspinwal, 2005). Kegiatan KM tidak terlepas dari kegiatan KT. Kegiatan KT merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mereplikasi keahlian dan keterampilan yang dimiliki oleh seorang profesional kepada rekan kerja mereka, yang dilakukan dengan cara pelatihan atau pendampingan. Pengetahuan ini dapat dalam bentuk eksplisit maupun pengetahuan implisit (Trautman dan McKee, 2014). Inti dari KT sebenarnya adalah sejauh mana individu menghentikan pencarian pengetahuan baru melalui pihak eksternal dan dapat mengandalkan pengetahuan internal. Sehingga pengetahuan yang ditransfer pada internal organisasi lebih banyak dari pada pengetahuan eksternal yang masuk (Alavi dan Leidner, 2001). Holtham dan Courtney (dalam Alavi dan Leidner, 2001) menjelaskan bahwa sumber KT dapat berasal dari pengetahuan informal atau formal, pribadi atau impersonal. Dalam organisasi lingkup kecil mungkin kegiatan KT dapat dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan terjadwal, seminar informal, atau coffee break. Hal ini akan membuat suasana lebih santai dan nyaman. Namun dalam sasaran yang lebih luas, kegiatan KT secara formal mungkin lebih cocok diterapkan. TAC-ATC (2010) menjelaskan bahwa pada kegiatan KT kita tidak hanya dapat berbagi pengetahuan dalam bentuk dokumen. Kita dapat melaksanakan kegiatan KT melalui pelatihanpelatihan secara virtual. Mavodza (2010) menjelaskan bahwa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai KT sebagian besar didasarkan pada komunikasi dan berbagi ide. Penelitian Mavodza menjelaskan KT dapat dilakukan melalui: percakapan secara tatap muka; pembuatan dokumen; pembuatan manual prosedur; konsultasi melalui telepon; dan melalui website. Wong dan Aspinwal (2005) meneliti 26 perusahaan kecil dan menengah di United Kingdom dengan kategori perusahaan skala pabrik dan perusahaan penyedia jasa. Penelitian tersebut mencari tahu malalui hal apa kontribusi yang dilakukan para karyawan berkaitan dengan hal KT atau KS. Berdasarkan pengalaman dan keahlian mereka, hal yang pernah mereka lakukan selama ini yaitu menerbitkan artikel di jurnal, mereka aktif mempresentasikan makalah di konferensi, menawarkan kuliah yang berkaitan dengan KM, menyediakan jasa konsultasi dan melakukan penelitian. Responden menyatakan bahwa keterlibatan mereka dalam hal KM sudah dilakukan selama (6) enam sampai 27 tahun, dengan lebih dari 66% dari mereka telah terlibat selama lebih dari sepuluh tahun. Hasil penelitian mengenai sarana kontribusi dalam KM yang berkaitan dengan proses KT dapat dijelaskan pada Tabel 1.
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian untuk menggambarkan suatu keadaan mengenai situasi sosial dari objek kajian penelitian, yang tidak dapat diukur dengan data kuantifikasi. Pada penelitian ini mengkaji kegiatan KM untuk mendukung kegiatan KT yang dilakukan pada grup ICPS. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara melihat bentuk-bentuk pelaksanan kegiatan KM dan KT yang dilakukan pada website ICPS, bagaimana pengumpulan informasi-informasi mengenai tanaman karnivora, dan cara penyediaan informasi yang dilakukan. Data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan dan dianalisis menggunakan teori, model, dan literatur yang berkitan dengan kegiatan KM dan KT.
Result & Discussion
Pengetahuan memiliki peran penting untuk meningkatkan kinerja individu dalam organisasi. Agar pengetahuan dapat dimanfaatkan secara maksimal, melakukan kegiatan pengelolaan pengetahuan (KM) menjadi hal yang penting. Atas dasar ini banyak organisasi yang mulai melakukan kegiatan KM dan KT yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendistribusikan pengetahuan masing-masing anggota. Kegiatan KM dan KT tidak hanya diterapkan pada lembaga formal. Beberapa organisasi kecil dan lembaga non profit yang menyadari pentingnya pengelolaan dan berbagi pengetahuan telah menerapkan hal ini. Di antara organisasi tersebut yaitu grup “International Carnivorous Plant Society” (ICPS). Sebagai organisasi non profit ICPS melakukan proses KM dan KT dengan tujuan agar para hobbies tanaman karnivora dapat saling berkonsultasi, bertukar pikiran, ataupun memperoleh informasi dan pengetahuan secara mudah. Adanya hal ini diharapkan informasi dan pengetahuan yang terdokumentasi dapat disebarluaskan ke pihak internal ataupun external organisasi, sehingga dapat lebih cepat memunculkan pengetahuan-pengetahuan baru dalam dunia tanaman karnivora. 1. Knowledge Management di ICPS Sebagian besar penelitian mengenai kegiatan KM, menganalisa praktik KM pada tingkat individu, organisasi, antar organisasi atau KM dikombinasikan dengan bidang lain. Model KM terus berkembang melalui life cycle knowledge management atau dimensi epistimologi KM (Sagsan, 2009). Sveiby (dalam Sagsan, 2009) menjelaskan dua hal penting yang harus dipertimbangkan dalam KM yaitu, organisasi dan individu yang ada. Berdasarkan organisasi, pengetahuan dapat dicocokkan sebagai objek yang dibentuk dan memainkan peran penting pada sebuah organisasi. Berdasarkan individu, pengetahuan dapat dievaluasi sebagai suatu proses. Menurut Mavodza (2010), pada penerapan KM perlu memperhatikan sarana-prasarana terkait dengan penerapan KM. Sarana tersebut seperti (data warehousing, search engine pencarian data, sarana data modelling) dan sarana manajemen informasi misalnya, (pencarian terautomasi, orang yang membantu pencarian informasi, dan sarana pengelola dokumen). Penggunaan sarana KM dapat digunakan untuk mendokumentasikan baik pengetahuan eksplisit dan tacit, membangun repositori pengetahuan, mengelola hasil konferensi dan simposium internal, menggunakan perangkat lunak untuk berbagi dan mentransfer pengetahuan, menggunakan e-mail, file sistem bersama dan penyimpanan dokumentasi, mentoring, dan program pelatihan. Kegiatan ini tentunya secara formal memerlukan juga pedoman penggunaan atau kebijakan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan KM. “International Carnivorous Plant Society” (ICPS) adalah organisasi yang bertujuan untuk berbagi sumber pengetahuan mengenai tanaman karnivora. ICPS didirikan pada tahun 1972. ICPS telah terdaftar pada “US IRS 501(c) (3)” sebagai organisasi non profit dan terdaftar pada “International Cultivar Registration Authority (ICRA)” untuk nama kultivar tanaman karnivora yang terdokumentasi. Sebagai lembaga internasional dalam dunia tanaman karnivora, ICPS melakukan pengelolaan dan penyebarluasan informasi mengenai tanaman karnivora kepada masyarakat luas. Tahap proses KM yang dilakukan pada grup ICPS yaitu: a. Identifying, Collecting and Creating b. Classifying and Storing c. Sharing d. Accessing and Using Secara lebih detail, masing-masing proses dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Identifying, Collecting and Creating Tahap identifikasi dan penciptaan di ICPS mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang telah terdokumentasi sebagai explicit knowledge yang masuk pada pengurus grup. Pengetahuan yang telah masuk tersebut berasal dari masing-masing individu atau “nursery” tanaman karnivora yang berada di seluruh dunia, yang telah terdaftar sebagai anggota grup secara resmi. Pengetahuan tersebut dapat berupa hasil penelitian dan percobaan, atau kultivar baru yang mereka temukan dan mereka ciptakan. Seperti yang disampaikan Osatuyi dan Andoh-Baidoo (2014), pada tahap creating sebuah pengetahuan dapat dibuat dari sumbersumber informasi dari dalam organisasi atau luar organisasi, yang berasal dari seorang individu atau beberapa individu yang dikombinasikan. Pada tahap creating juga melibatkan kegiatan identifying yang mencakup kegiatan analisis dan penilaian aset pengetahuan berdasarkan aturan tertentu dalam organisasi menurut kriteria evaluasi (Evans, Dalkir, dan Bidian, 2014). Setelah mengidentifikasi pengetahuan yang masuk, pihak pengurus grup membuat data baru jika pengetahuan tersebut merupakan pendaftaran kultivar baru. Selain mengumpulkan hasil pengetahuan yang masuk, para peneliti dari pihak pengurus grup juga membuat pengetahuan baru yang didokumentasikan dalam sebuah laporan, yang disebarluaskan malalui artikel secara cetak dalam sebuah majalah dan elektronik yang dapat diakses secara online. Contoh laporan kultivar yang dikumpulkan dapat dilihat pada Gambar 2. Pendaftaran kultivar dilakukan dengan cara pengisian form yang telah disediakan oleh pengurus grup. Pengisian data yang dilakukan seperti mengisikan: jenis kultivar seperti “Nepenthes Peter D'Amanto”, nama nursery, induk spesies baru tersebut berasal dari hybrida “Nepenthes Ventricosa x Nepenthes Lowii”, nomor registrasi kultivar dan tanggal pendaftaran. Data yang masuk tersebut melalui proses identifikasi yang panjang seperti melakukan pengecekan apakah memang benar itu merupakan kultivar baru atau dengan melihat kriteria lain yang telah ditetapkan dalam form pendaftaran. b. Classifying and Storing Setelah hasil dokumentasi pengetahuan terkumpul, tahap selanjutnya yaitu pengklasifikasian dan penyimpanan pengetahuan. Penyimpanan yang dilakukan pada tahap ini berdasarkan pada klasifikasi jenis pengetahuan dengan menggunakan sarana website. Seperti pendapat Osatuyi dan AndohBaidoo (2014) yang menjelaskan bahwa pengetahuan dapat disimpan dan dikelola menggunakan sebuah sistem penyimpanan agar dapat disediakan dalam berbagai bentuk database pengetahuan, ataupun sarana lain yang memudahkan dalam menyediakan pengetahuan. Kayani dan Zia (2012) menambahkan bahwa pengetahuan yang disimpan dapat berupa informasi digital. Pada website ICPS pengetahuan yang dimiliki dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Jika pengetahuan baru merupakan data kultivar baru, maka dikelompokkan dalam database jenis kultivar. Jika pengetahuan tersebut merupakan hasil penelitian mengenai tanaman karnivora, maka dikelompokkan dalam database jurnal mengenai tanaman karnivora. Penyimpanan tersebut bertujuan untuk memberikan bentuk pengetahuan yang lebih eksplisit. Seperti pendapat Evans, Dalkir, dan Bidian (2014) yang menjelaskan bahwa pengetahuan yang menjadi aset sebuah organisasi membutuhkan bentuk pengetahuan yang lebih eksplisit. Tampilan hasil klasifikasi pengetahuan yang telah terdokumentasi pada website ICPS dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3 menjelaskan sub-sub menu tempat penyimpanan pengetahuan mengenai tanaman karnivora. Kita dapat memilih pengetahuan mengenai apa saja tentang tanaman karnivora pada menu “Grow Cps”. Contoh lain Gambar 4 dengan membuka menu mengenai jurnal tanaman karnivora, kita dapat melihat artikel atau penelitian mengenai tanaman karnivora seperti contoh Gambar 5. Pada menu tersebut kita dapat memilih artikel yang kita perlukan seperti Gambar 6. c. Sharing Setelah hasil dokumentasi pengetahuan diklasifikasikan dan disimpan pada website ICPS, hasil dokumentasi tersebut disebarluaskan oleh pengurus grup ICPS melalui media sosial Youtube dan Facebook. Pengetahuan yang telah terdokumentasi disebarluaskan agar hobbies tanaman karnivora dapat mengetahui pengetahuan yang telah dikelola dan dapat dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan. Menurut Evans, Dalkir, dan Bidian (2014) proses berbagi pengetahuan merupakan hal yang sangat penting karena terkadang para anggota organisasi jarang menyadari, terutama ketika pengetahuan baru dibuat dan disimpan. Contoh kegiatan “sharing” mengenai pengetahuan yang dibuat oleh ICPS pada akun Youtube dapat dilihat pada Gambar 7. Selain menyebarluaskan pengetahuan melalui Youtube, ICPS juga menginformasikan website yang dimiliki ICPS melalui grup Facebook tanaman karnivora internasional seperti Gambar 8. Grup Facebook ICPS digunakan untuk memberikan informasi mengenai website ICPS bagi anggota yang belum mengetahui. Grup Facebook juga menjadi sarana berdiskusi mengenai tanaman karnivora. Facebook dapat menjadi sarana promosi pengetahuan seperti saat ICPS memiliki pengetahuan baru. Namun selama ini promosi pengetahuan baru menggunakan sarana Facebook belum dilakukan, sehingga kegiatan “sharing” yang dilakukan ICPS hanya dilakukan melalui pembuatan video pada akun Youtube dan menginformasikan website ICPS melalui grup Facebook. Atas dasar ini tahap “sharing” pada kegiatan KM di ICPS belum terlaksana secara maksimal. d. Accessing and Using Akses informasi merupakan tujuan dari pengelolaan sebuah pengetahuan yang dilakukan pada setiap organisasi. Setelah dibagikan, aset pengetahuan dapat dimanfaatkan agar pengetahuan dapat digunakan oleh anggota organisasi. Menurut Evans, Dalkir, dan Bidian (2014) hal tersebut berfungsi untuk membantu memecahkan masalah, membuat keputusan, meningkatkan efisiensi, atau mempromosikan pemikiran inovatif. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan akses dan penggunaan sumber pengetahuan yaitu adanya sistem pengetahuan. Menurut King (2009) sistem merupakan hal yang penting untuk memudahkan penyediaan pengetahuan. Sarana sistem yang digunakan oleh ICPS untuk menyediakan akses terhadap pengetahuan tanaman karnivora menggunakan website seperti Gambar 9. Siapa saja yang dapat melakukan akses dan menggunakan sumber pengetahuan yang dimiliki sebuah organisasi merupakan hal yang penting. Berkaitan dengan hal akses, ICPS membagi akses yang disediakan ke dalam dua golongan. Pertama, akses yang dapat dilakukan masyarakat luas dan kedua, akses yang hanya dapat dilakukan oleh anggota yang terdaftar sebagai member. Mengenai pembatasan akses, ICPS memberikan akses secara terbuka kepada masyarakat mengenai pengetahuan yang berkaitan dengan kultivar baru, sumber-sumber mengenai tanaman karnivora, atau artikelartikel dan penelitian mengenai tanaman karnivora seperti yang dijelaskan pada Gambar 3, 4, dan 5. Adapun jurnal yang hanya dapat diakses oleh anggota yang terdaftar sebagai member yaitu jurnal yang terbit selama empat kali dalam satu tahun seperti Gambar 10. Alur penggunaan pengetahuan di ICPS dimulai dari kegiatan pencarian artikel yang diperlukan dengan cara memilih artikel berdasarkan database yang telah dikelompokkan pada website seperti pada Gambar 9. Setelah itu kita dapat memilih sub menu seperti pada Gambar 3. Selanjutnya kita dapat membuka sub menu mengenai pengetahuan yang diinginkan seperti pada Gambar 4. Jika ingin mengetahui bagaimana cara merawat tanaman karnivora, maka dapat mencari informasi lain dalam bentuk artikel atau jurnal seperti yang dijelaskan pada Gambar 5 dan Gambar 6. Alur KM yang diterapkan pada grup ICPS dapat dilihat pada Gambar 11. Alur KM di ICPS pada gambar 11 menjelaskan bahwa kegiatan KM di ICPS dimulai pada tahap identifying untuk mengidentifikasi pengetahuan yang diperoleh, pengumpulan pengetahuan, dan pembuatan pengetahuan. Tahap selanjutnya yaitu pengetahuan yang diperoleh diklasifikan dan disimpan pada database website ICPS. Setelah pengetahuan tersimpan, ICPS menyebarkan pengetahuan yang dimiliki melalui media sosial seperti Youtube dan grup Facebook. Pada tahap akses dan penggunaan, akses terhadap pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu akses terhadap informasi yang diberikan kepada member yang terdaftar dan akses yang diberikan kepada masyarakat umum. Pengetahuan yang tersedia untuk masyarakat umum sebenarnya sudah cukup lengkap seperti yang dijelaskan pada Gambar 3, 4, 5, dan 6 yang meliputi informasi mengenai tanaman karnivora, cara merawat, hingga memperbanyak. Perbedaan untuk member yang terdaftar yaitu mereka mendapatkan jurnal yang terbit empat kali dalam satu tahun. Jurnal tersebut berisi informasi mengenai penyebarluasan tanaman karnivora dan informasi tambahan lainnya. Selain itu, bagi member yang terdaftar dapat berkontribusi dalam memberikan pengetahuan tambahan yang akan dibuat. Informasi tersebut seperti hasil penelitian pada Gambar 6 atau penemuan dan pembuatan kultivar baru yang dijelaskan pada Gambar 2. 2. Knowledge Transfer di ICPS Menurut Dworman (dalam Alavi dan Leidner, 2001) hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan KT adalah bagaimana seseorang yang membutuhkan pengetahuan dapat menemukan lokasi dokumen pengetahuan yang dibutuhkan. Hal tersebut karena pengetahuan dan dokumen pengetahuan yang disimpan suatu organisasi pasti sangat banyak, sehingga diperlukan adanya knowledge management system (KMS). Menurut Powell (1998), permasalahan mengenai informasi yang berlebihan juga harus diperhatikan, sehingga diperlukan adanya penelitian tentang pengembangan strategi organisasi dan teknik yang efektif untuk pengelolaan, mengambil, dan transmisi pengetahuan yang memang diperlukan untuk memfasilitasi kegiatan KT. Proses KT perlu juga mempertimbangkan beberapa hal pendukung atau bagian-bagian yang harus terdapat di dalam kegiatan tersebut. Di antara hal tersebut menurut O'Dell dan Grayson (1998) yaitu perlu adanya database diskusi atau direktori pengetahuan. Sebuah penggunaan teknologi yang inovatif juga dapat menjadi sarana dalam proses KT. Zarinpoush, Sychowski, dan Sperling (2007) menjelaskan elemen kunci dari kegiatan KT yaitu: a. Audience, audien yang dimaksut dalam hal ini dapat berupa suatu komunitas dalam sebuah organisasi, masyarakat umum, anggota sebuah departemen dalam pemerintahan ataupun pekerja profesional dan lain sebagainya, tergantung dari sasaran kegiatan KT. b. Message, yaitu sejauh mana pesan yang akan disampaikan mudah untuk dipahami, mudah untuk dibaca, dan berhubungan dengan informasi yang sesuai objek dari sasaran kegiatan KT. Proses KT yang dilakukan ICPS mengarah kepada bagaimana agar pengetahuan dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas. Berkaitan dengan kegiatan KT, ICPS mendistribusikan pengetahuan-pengetahuan yang telah terdokumentasi dalam bentuk artikel pada website, KT melalui jurnal, dan melakukan kegiatan KT melalui pembuatan video yang diunggah pada Youtube. a. KT melalui artikel Pada website ICPS menyediakan akses terhadap artikel tentang cara merawat, memperbanyak, suhu yang diperlukan, pencahayaan, dan hal lain mengenai tanaman karnivora. Artikel tersebut memberitahuan informasi lain yang mungkin diperlukan, menyediakan link untuk men-download artikel dengan format pdf, dan memberikan link video pada Youtube seperti yang dijelaskan pada gambar 4. Kegiatan KT dalam bentuk artikel yang dilakukan ICPS memfasilitasi proses KT yang dapat diakses untuk semua masyarakat yang ingin mendapatkan pengetahuan mengenai tanaman karnivora, yang dapat dilakukan melalui pencarian jurnal secara online. Pencarian tersebut seperti yang dijelaskan pada gambar 6 dengan mengunjungi website ICPS, memilih sub bagian database, dan kemudian mencari artikel yang kita inginkan. Contoh artikel yang disebarluaskan seperti pada gambar 12. b. KT melalui Jurnal Selain menyediakan artikel pada website, ICPS menyediakan berbagai hasil penelitian mengenai tanaman karnivora. Contoh hasil penelitian mengenai tanaman karnivora yang dapat diakses masyarakat luas seperti pada gambar 13. c. KT melalui akun Youtube Selain melakukan kegiatan KT melalui artikel dan jurnal, ICPS melakukan kegiatan KT melalui akun Youtube seperti pada gambar 7. Contoh video yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin mengetahui cara memperbanyak tanaman karnivora jenis “Nepenthes” dijelaskan pada gambar 14.
Conclusion
Kegiatan KM dan KT sekarang dilakukan oleh berbagai bidang lembaga berbasis komunitas atau grup seperti grup ICPS. ICPS melaksanakan kegiatan KM untuk mendukung kegiatan KT melalui empat alur yaitu: identifying, collecting, and creating; classifying and storing; sharing; dan accessing and using. Secara keseluruhan kegiatan KM di ICPS dapat mendukung kegiatan KT. Diantaranya disebabkan adanya SDM pendukung dalam jangkauan internasional. Kegiatan yang perlu diperhatikan yaitu pada tahap “sharing” yang masih kurang maksimal. Hal ini dapat mengakibatkan anggota ICPS tidak mengetahui informasi baru yang dimiliki. Pada kegiatan KT, ICPS melakukan beberapa kegiatan seperti penyebarluasan pengetahuan melalui artikel pada website, publikasi jurnal online, penyediaan dan pembuatan video mengenai halhal yang berkaitan dengan tanaman karnivora pada akun Youtube ICPS.