Preservasi pengetahuan lokal mitos di Dusun Kasuran Seyegan Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Pendahuluan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya preservasi pengetahuan lokal mitos di Dusun Kasuran melalui kegiatan exchange of indigenous knowledge sehingga pengetahuan lokal tersebut masih eksis. Metode penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Data analisis. Teknik analisis data menggunakan model exchange of indigenous knowledge. Tahapan analisis data meliputi reduksi, analisis, dan kesimpulan. Hasil dan pembahasan. Dusun Kasuran memiliki mitos unik yakni larangan tidur di atas kasur. Masyarakat percaya bahwa mereka akan mendapatkan musibah jika melanggar pantangan tersebut. Kegiatan pelestarian mitos ini dilakukan dengan exchange of indigenous knowledge, meliputi: 1) mengenali dan mengidentifikasi mitos; 2) validasi keaslian dan kekhasan mitos; 3) perekaman dan dokumentasi sebagai produk informasi; 4) penyimpanan agar mudah diakses; 5) transfer pengetahuan; serta 6) penyebaran pengetahuan ke individu dan masyarakat. Kesimpulan dan saran. Upaya preservasi pengetahuan lokal mitos di Dusun Kasuran melalui kegiatan exchange of indigenous knowledge efektif menjaga eksistensi pengetahuan lokal. Peran aktif melibatkan masyarakat, pemerintah, dan peneliti, keberadaan mitos di Dusun Kasuran dapat memperkuat identitas dan pengetahuan lokal di dusun tersebut.
Abstract
Introduction. This study aims to identify efforts to preserve local mythological knowledge in Kasuran Hamlet through exchange of indigenous knowledge, so that local knowledge exists. Data Collection Methods. The research employs a qualitative method.Data collection involves interviews, observations, and literature reviews. Data Analysis. The data analysis technique uses the exchange of indigenous knowledge model. The stages of data analysis include data reduction, analysis, and conclusion. Results and Discussion. Kasuran Hamlet has a unique myth, which is the prohibition of sleeping on a mattress. The community believes that they will get misfortune if they violate the taboo. The preservation of this myth is carried out through the exchange of indigenous knowledge, including: 1) recognizing and identifying myths; 2) validating the authenticity and distinctiveness of myths; 3) recording and documentation as information products; 4) storage for easy access; 5) transfer of knowledge; and 6) dissemination of knowledge to individuals and communities. Conclusion. The efforts to preserve local mythological knowledge in Dusun Kasuran through exchange of indigenous knowledge have effectively maintained local traditions. The involvement of the community, government, and researchers strengthens the existence of myths in Kasuran Hamlet as an identity and cultural heritage.
Keywords:
knowledge preservation
· indigenous knowledge
· myths in Kasuran Hamlet
Introduction
A. PENDAHULUAN Dusun Kasuran di Kecamatan Seyegan, Sleman, Yogyakarta menyimpan mitos dan cerita rakyat yang mencerminkan sejarah serta nilai budaya lokal. Meski tampak seperti dusun biasa, Kasuran memiliki mitos unik berupa larangan tidur di atas kasur. Jika pantangan tersebut dilanggar, masyarakat percaya bahwa mereka akan mendapatkan musibah, baik sakit maupun mengalami kejadian aneh. Mitos tersebut dipercaya oleh masyarakat setempat sejak ratusan tahun yang lalu dan diwariskan melalui tradisi lisan. Tradisi lisan adalah pengumpulan informasi melalui lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya (VijayaKumari, 2018). Tradisi lisan mencakup banyak bentuk seperti teka-teki, peribahasa, folklore, cerita, legenda, mitos, lagu epik, puisi, mantra, doa, nyanyian, pertunjukan dramatis, dan lainnya (Rahman & Slamatin Letlora, 2018). Kisahkisah tentang leluhur, makhluk gaib, dan peristiwa bersejarah yang mengiringi terciptanya mitos di Dusun Kasuran menjadi pondasi yang membentuk identitas dan pengetahuan lokal. Namun, mitos ini berada dalam posisi yang rentan karena tidak adanya bukti sejarah tertulis yang mendukungnya. Tanpa catatan tertulis, mitos ini bergantung sepenuhnya pada ingatan dan narasi yang disampaikan oleh para tetua dan tokoh masyarakat, sehingga membuatnya mudah terdistorsi atau bahkan terlupakan seiring berjalannya waktu. Pengaruh budaya global dan perubahan pola pikir mulai mengancam keberlangsungan mitos di Dusun Kasuran. Masyarakat yang dahulu sangat menjaga mitos ini, kini semakin terbuka terhadap pengetahuan global, sehingga berdampak pada pergeseran kepercayaan. Salah satu buktinya adalah masyarakat yang mulai menggunakan kasur sponge dan springbed, meski masih ada upaya mempertahankan tradisi dengan menghindari penggunaan kasur dan guling yang terbuat dari kapuk randu. Pergeseran kepercayaan ini menandakan tantangan besar bagi keberlanjutan mitos tersebut, yang dulunya menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dusun Kasuran. Mengingat masa depan pengetahuan lokal yang semakin terancam, penting untuk melakukan upaya preservasi agar pengetahuan tersebut dapat dikenali dan dipahami oleh generasi mendatang (Lakshmi Poorna et al., 2014). Keberadaan pengetahuan lokal membentuk identitas dan ikatan sosial di masyarakat (Chigwada & Ngulube, 2024). Oleh karena itu dengan mempelajari dan mewariskan pengetahuan lokal tersebut dapat mempertahankan identitas masyarakat. Penelitian menarik tentang kearifan lokal mitos di Dusun Kasuran telah dikaji oleh Sabela (2021). Nilai-nilai kearifan lokal dalam kepercayaan larangan tidur menggunakan kasur terdiri dari nilai sejarah, nilai religius, nilai sosial, dan nilai ekonomi. Nilai sejarah karena berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Mengedepankan nilai religius disebabkan adanya rasa takut dan kepercayaan masyarakat. Nilai sosial karena munculnya solidaritas yang tinggi antara pendatang maupun warga setempat. Nilai ekonomi disebabkan karena terdapat perbedaan tempat tidur bagi kelas sosial atas maupun bawah. Kepercayaan masyarakat di Dusun Kasuran terhadap nilai-nilai kearifan lokal tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan pengetahuan lokal yang dimilikinya. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Putri & Desriyeni (2023) mengungkapkan kegiatan preservasi pengetahuan dapat dilakukan dalam enam tahapan kegiatan exchange of indigenous knowledge. Setiap tahapan memainkan peran penting dalam menjaga agar pengetahuan lokal tetap hidup dan berkelanjutan di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi. Berdasarkan kedua penelitian tersebut, terdapat perbedaan dengan penelitian yang dilakukan. Penelitian sebelumnya membahas nilai-nilai kearifan lokal di Dusun Kasuran dan upaya preservasi pengetahuan lokal melalui pendekatan exchange of indigenous knowledge pada objek berbeda. Penelitian tentang preservasi pengetahuan lokal terkait mitos larangan tidur menggunakan kasur di Dusun Kasuran merupakan bidang baru. Hingga kini, belum ada penelitian yang secara khusus mengeksplorasi upaya preservasi mitos tersebut. Tidak ada catatan ilmiah yang membahas secara komprehensif bagaimana mitos ini dipertahankan, diwariskan, dan dipahami oleh masyarakat setempat. Ketiadaan penelitian komprehensif tentang preservasi mitos ini menimbulkan urgensi untuk melakukan kajian mendalam. Upaya preservasi pengetahuan lokal sangat penting untuk menjaga identitas budaya Dusun Kasuran agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Ketertarikan peneliti untuk mengeksplorasi topik ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa warisan budaya ini tidak hilang dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kegiatan preservasi pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran melalui kerangka exchange of indigenous knowledge dari World Bank (1998) yang terdiri dari enam tahap, yakni recognition and identification, validation, recording and documentation, storage, transfer, dan dissemination. Pertanyaan penelitian yang diangkat adalah bagaimana proses exchange of indigenous knowledge dalam konteks preservasi mitos larangan tidur menggunakan kasur di Dusun Kasuran? Setiap tahapan dianalisis untuk melihat bagaimana proses preservasi pengetahuan lokal berlangsung. Penelitian ini memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat dengan menyediakan wawasan dan strategi untuk melestarikan pengetahuan lokal yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam kajian preservasi pengetahuan lokal sekaligus memperkaya khazanah penelitian secara global. B. TINJAUAN PUSTAKA Preservasi merupakan suatu kegiatan yang penting untuk menjaga dan melestarikan pengetahuan lokal yang ada pada masyarakat. Pengetahuan lokal merujuk pada bentuk pengetahuan yang terlokalisasi dan unik bagi suatu masyarakat dan komunitas tertentu ' (Buthelezi et al., 2024). Pengetahuan ini mencakup norma, praktik, bahasa, tarian, cerita, dongeng rakyat, dan pengetahuan lain, yang disampaikan dari generasi ke generasi, sebagian besar secara lisan (Oyelude, 2023). Keberlanjutan dari pengetahuan lokal ini terlihat dalam nilai-nilai yang dipegang teguh oleh kelompok masyarakat tersebut, yang biasanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan dapat diamati melalui sikap dan perilaku sehari-hari mereka (Veronica, 2021). Pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran mencerminkan norma, etika, dan keyakinan yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, mitos ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga terus berfungsi sebagai panduan hidup yang mempengaruhi perilaku dan keputusan komunitas. Mitos berasal dari bahasa Yunani yaitu muthos yang berarti dari mulut ke mulut, merujuk pada cerita informal suatu suku atau kelompok yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Heriyanti & Hartaka, 2021). Lebih dari sekadar cerita, mitos adalah bagian integral dari sistem kepercayaan dalam masyarakat. Mitos sering kali berisi narasi tentang hal-hal yang bersifat supernatural atau di luar nalar, yang meskipun tampak tidak masuk akal, memiliki relevansi dan makna mendalam bagi kehidupan sehari-hari masyarakat yang meyakininya (Sumartias et al., 2022). Mitos dan pengetahuan lokal memiliki hubungan yang erat. Di dalam mitos, tersimpan berbagai bentuk pengetahuan yang mencakup lingkungan, sejarah, dan peristiwa penting yang membentuk identitas suatu komunitas. Pengetahuan lokal yang tertanam dalam mitos menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat setempat. Sebagai bentuk pengetahuan, mitos memiliki kebenaran yang setidaknya dapat diterima oleh masyarakat yang memiliki pengetahuan mitos tersebut. Kepercayaan yang terkandung dalam mitos memberikan arah dan makna dalam kehidupan serta membentuk cara pandang dan tindakan masyarakat yang meyakininya (Sartini, 2014). Mitos menjadi alat bagi masyarakat untuk menegaskan identitas dan nilai-nilai mereka di tengah perubahan zaman. Pengetahuan memiliki dua jenis yakni tacit dan eksplisit. Pengetahuan tacit merujuk pada pengetahuan yang tertanam dalam subjektivitas seseorang, yang tidak mudah dikomunikasikan ''(Philipson & Kjellström, 2020). Pengetahuan ini mencakup keterampilan, pengalaman, dan wawasan yang diperoleh melalui praktik dan interaksi langsung, serta intuisi dan persepsi yang berkembang seiring waktu. Sebaliknya, pengetahuan eksplisit mudah disampaikan karena maknanya sudah disepakati dalam kelompok sosial, terutama dalam komunitas yang memiliki praktik yang sama ''(Philipson & Kjellström, 2020). Kedua jenis pengetahuan ini memiliki peran penting dalam upaya preservasi pengetahuan lokal. Proses preservasi pengetahuan mencakup kegitan knowledge management yang saling berkaitan, yaitu knowledge acquisition, knowledge creation, knowledge storage, knowledge sharing and knowledge application ''(Raudeliuniene et al., 2021). Pengetahuan yang semula hanya ada dalam pikiran atau keterampilan individu dapat ditransfer menjadi format yang lebih terstruktur, seperti tulisan, video, atau perangkat digital lainnya. Transfer pengetahuan tersebut dapat dilakukan melalui metode socialization, externalization, combination, dan internalization (Nonaka & Takeuchi, 1995). Seiring dengan perkembangan teknologi, upaya preservasi pengetahuan kini semakin difasilitasi oleh teknologi digital atau disebut dengan preservasi digital. Preservasi digital merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa warisan budaya, sejarah, dan pengetahuan manusia yang tak ternilai dapat dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang (Balogun & Kalusopa, 2021). Melalui teknologi digital, pengetahuan tidak hanya dapat disimpan dengan lebih efisien dan aman, tetapi juga dapat diakses secara global, memungkinkan penyebaran dan pembelajaran yang lebih luas. Menyadari pentingnya pengetahuan lokal sebagai ciri khas suatu masyarakat, sangat penting untuk melakukan upaya preservasi pengetahuan lokal. Preservasi adalah upaya strategis yang harus dilakukan agar tradisi lisan tetap terpelihara dan tidak mengalami kepunahan (Kami et al., 2023). Dalam konteks ini, preservasi pengetahuan lokal melibatkan perlindungan atau penyimpanan pengetahuan yang bersifat lokal untuk komunitas tertentu oleh individu atau organisasi guna penggunaan di masa depan. Melakukan preservasi terhadap pengetahuan lokal membawa berbagai manfaat, di antaranya adalah membantu menjaga keberlanjutan budaya dan identitas masyarakat lokal serta dapat memperkaya budaya global dengan mempertahankan keragaman budaya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat di Dusun Kasuran adalah dengan upaya preservasi melalui kegiatan exchange of indigenous knowledge. Exchange of indigenous terdiri dari enam kegiatan yaitu recognition and identification (mengenali dan identifikasi), validation (validitas), recording and documentation (rekam dan dokumentasi), storage (penyimpanan), transfer (transfer), dan dissemination (penyebaran) (World Bank, 1998). Pengetahuan lokal tertanam dalam nilai budaya, yang membuatnya sulit dikenali oleh masyarakat luar, sehingga dibutuhkan proses identifikasi. Setelah diidentifikasi, pengetahuan lokal perlu divalidasi untuk memastikan bahwa pengetahuan tersebut bukan sekadar kejadian kebetulan. Pengetahuan lokal bersifat tacit sehingga perlu direkam dan didokumentasikan untuk mengabadikan pengetahuan tersebut. Hasil perekaman dan dokumentasi disimpan agar mudah ditemukan kembali. Selanjutnya, pengetahuan lokal ditransfer dan disebarkan kepada masyarakat yang lebih luas. Sehingga mitos di Dusun Kasuran tetap hidup dalam era globalisasi yang terus berubah.
Method
Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengkaji secara mendalam mengenai proses preservasi pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran melalui kegiatan exchange of indigenous knowledge dengan metode kualitatif. Melalui metode kualitatif, peneliti dapat menggali dan memahami secara menyeluruh bagaimana masyarakat mempertahankan mitos yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka. Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini memungkinkan peneliti untuk menangkap berbagai kompleksitas yang tidak dapat terdeteksi melalui metode kuantitatif. Sebagaimana definisi penelitian kualitatif menurut Lexy J. Moleong sebagai berikut: “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.” (Moleong, 2017). Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk tidak hanya mendeskripsikan mitos di Dusun Kasuran sebagai sekumpulan narasi, tetapi juga memahami bagaimana mitos tersebut dipertahankan, dimaknai, dan diadaptasi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini berusaha untuk menggali caracara di mana pengetahuan lokal diteruskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang dinamika sosial dan budaya yang mendasari keberlanjutan mitos tersebut. Penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah studi kasus. Pendekatan studi kasus relevan karena memungkinkan peneliti untuk memahami kegiatan preservasi pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran dari berbagai perspektif. Objek penelitian ini berfokus pada mitos pantangan tidur beralaskan kasur, yang masih bertahan sebagai pengetahuan lokal di Dusun Kasuran. Kegiatan eksplorasi kasus ini, peneliti menerapkan berbagai teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan kepada informan atau subjek penelitian yaitu tokoh-tokoh kunci yang memegang peranan penting dalam preservasi pengetahuan lokal di Dusun Kasuran, yakni Kepala Dusun Kasuran Wetan dan Kepala Dusun Kasuran Kulon. Kedua informan ini memiliki pemahaman yang mendalam mengenai mitos pantangan tidur beralaskan kasur, serta terlibat langsung dalam praktikpraktik sosial dan budaya terkait mitos tersebut. Selanjutnya, observasi dilakukan untuk melihat secara langsung praktik-praktik yang berkaitan dengan mitos pantangan tidur beralaskan kasur di Dusun Kasuran. Selain itu, studi kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang telah terdokumentasi sebelumnya, baik dalam bentuk literatur maupun dokumentasi lain yang relevan. Perpaduan berbagai teknik pengumpulan data ini, sehingga dapat menyusun deskripsi yang mendalam dan komprehensif mengenai kegiatan preservasi pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana proses preservasi pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran dilakukan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif dari Miles, Huberman, & Saldana, yang meliputi tiga tahapan: reduksi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al., 2014). Langkah pertama adalah reduksi data, yaitu menyederhanakan, mengelompokkan, dan menghilangkan data yang tidak relevan dari hasil wawancara dan observasi dengan cara membuat transkrip. Setelah itu, data dianalisis berdasarkan enam kegiatan exchange of indigenous knowledge dengan dukungan literatur terkait. Tahap akhir, penarikan kesimpulan dilakukan dengan mengidentifikasi inti hasil penelitian, sehingga menghasilkan kesimpulan yang menjawab pertanyaan penelitian. Hasil analisis tersebut disajikan dalam bentuk deskripsi dapat dilihat pada bagan 1.
Result & Discussion
Keunikan, Sejarah, dan Makna Mitos Pantangan Tidur Beralaskan Kasur di Dusun Kasuran Dusun Kasuran terletak di dua desa yang berbeda. Dusun Kasuran di Desa Margomulyo disebut Dusun Kasuran Wetan, sedangkan yang berada di Desa Margodadi dikenal sebagai Dusun Kasuran Kulon. Kedua desa ini bersebelahan dan berada di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun Kasuran Kulon memiliki 4 RT dengan 194 kepala keluarga (KK) dan 549 jiwa, sementara Dusun Kasuran Wetan dihuni oleh 985 orang dalam 358 KK yang tersebar di 7 RT (Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, 2021). Kedua dusun ini memiliki tradisi unik yang sama, yaitu mempercayai mitos larangan tidur di atas kasur, khususnya yang terbuat dari kapuk randu. Mitos ini menyatakan bahwa melanggar pantangan tersebut dapat membawa kesialan atau penyakit. Sebagian besar warga masih mematuhi tradisi ini, dengan beberapa bahkan memilih untuk tidak menggunakan kasur sama sekali. Mereka percaya bahwa tidur tanpa kasur tidak hanya menghindarkan dari malapetaka, tetapi juga membawa manfaat kesehatan dan keberuntungan. Meskipun tidak berbasis ilmiah, kepercayaan ini tetap dijunjung tinggi sebagai warisan budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Mitos ini berakar dari sejarah Dusun Kasuran, yang memiliki dua versi, yaitu versi kisah Sunan Kalijaga dan Pangeran Diponegoro. Versi pertama menyebutkan bahwa mitos bermula sekitar 600 tahun lalu di Dusun Kasuran yang dulunya bernama Dusun Njaron. Sunan Kalijaga menginap di rumah Dejali. Ia meminta kasur dan guling kapuk untuk beristirahat. Namun, seorang tokoh agama lain, Soncodalu, mengirimkan santet ke kasur yang ditempati oleh Sunan Kalijaga. Kemudian setelah Sunan Kalijaga terbangun, badannya terasa sakit dan gemetar. “Setelah syiar di tempat itu, Sunan pamitan ke pemilik rumah “Dejali ini tolong kasur ini dirawat, jangan sampai siapapun tidur di kasur ini.” Kemudian Dejali mengumpulkan warga Njaron “hei para warga Dusun Njaron, di sini kamu tak kumpulke (saya kumpulkan), ini saya dipasrahi langsung sama Kanjeng Sunan untuk siapapun tidak boleh tidur di kasur.” Padahal yang dimaksud Kanjeng Sunan, kasur yang ada teluhnya (santet). Khawatir kalau orang biasa yang tidur di situ bisa meninggal. Lah, si Dejali itu bilangnya “Kanjeng Sunan aja yang ilmunya tinggi itu tidur di kasur gemetar panas badannya, apalagi kita. Makanya seluruh anak keturunan kita di sini jangan sekali-kali berani tidur di kasur.” Dan kata-kata itu juga disaksikan oleh makhluk yang tidak kasat mata. Jadi sampai sekarang yang berani tidur di kasur itu pada menemui hal-hal yang aneh lah. Terus sampai sekarang nggak ada yang berani (tidur di kasur).” (kutipan wawancara Kepala Dusun Kasuran Kulon, 02 Juni 2023) Sejak itu, masyarakat percaya bahwa tidur di kasur kapuk membawa sial dan sakit, sehingga mereka memilih tikar anyaman sebagai alas tidur. Mitos ini berasal dari salah komunikasi antara pesan Sunan Kalijaga dan Dejali. Meskipun demikian, hingga kini warga Dusun Kasuran terbiasa tidur tanpa kasur. Mitos ini telah mempengaruhi kebiasaan tidur warga setempat dan menjadi bagian dari sejarah dan budaya Dusun Kasuran. Selanjutnya menurut versi yang kedua, asal-usul penamaan Dusun Kasuran dipengaruhi oleh kisah Pangeran Diponegoro. Tahun 1825-1830 terjadi perang antara Pangeran Diponegoro dan pasukannya melawan penjajah Belanda. Pada saat itu pasukan Pangeran Diponegoro beserta anak istrinya bersembunyi dan tinggal sementara di Dusun Njaron. Namun, pasukan Pangeran Diponegoro harus mengalami kekalahan di dusun tersebut. Kalah dalam bahasa Jawa disebut asor, sementara kekalahan disebut kasoran. Hal tersebut untuk mempermudah pengucapan, leluhur setempat menyebutnya kasuran. Sehingga sampai saat ini dusun tersebut dikenal dengan nama Dusun Kasuran. Tidak ada larangan tertulis bagi warga Dusun Kasuran untuk tidur di kasur, tetapi banyak kejadian aneh dialami warga yang melanggar mitos tersebut. Misalnya, cerita dari Kepala Dusun Kasuran, bahwa ada seorang warga Dusun Kasuran Wetan yang sakit setelah tidur di kasur kapuk, tetapi sembuh setelah beralih ke tikar. Begitu juga, balita di Dusun Kasuran Kulon yang menangis tanpa sebab saat tidur di kasur kapuk, berhenti menangis setelah dipindah ke tikar. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa mitos larangan tidur di kasur bukan hanya cerita rakyat, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di mana masyarakat merujuk pada mitos dalam setiap tindakan dan keputusan (Sartini, 2014). Dusun Kasuran mengalami transformasi akibat kemajuan zaman, dengan pengaruh modernisasi, teknologi, dan globalisasi yang mengubah pola hidup dan nilai budaya. Meskipun menghadapi tantangan tersebut, masyarakat berusaha mempertahankan warisan budaya sebagai identitas. Pada awalnya masyarakat di Dusun Kasuran sama sekali tidak menggunakan kasur untuk tidur, baik kasur kapuk, kasur sponge, maupun kasur springbed. Seiring dengan perkembangan zaman, sebagian masyarakat mencari alternatif lain dengan mulai menggunakan kasur sponge dan kasur springbed. Namun, mereka tetap menghindari kasur dan guling kapuk. Di sisi lain, terdapat warga yang mengabaikan mitos tersebut, seperti Juremi, seorang takmir masjid, yang menggunakan kasur kapuk dan berpendapat bahwa percaya pada mitos dapat menyebabkan syirik. Meskipun kontra, ia tidak mempermasalahkan keberadaan mitos tersebut (Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, 2021). Mitos di Dusun Kasuran memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat. Mereka merupakan bagian dari identitas budaya dan pengetahuan lokal masyarakat yang harus dijaga dan diwariskan. Mitos ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi dan kepercayaan lokal dalam membentuk budaya masyarakat. Kepercayaan ini membantu dalam memelihara warisan budaya dan pengetahuan lokal tersebut, sehingga generasi muda dapat terus mewarisi nilai-nilai budaya yang khas. Mitos ini juga memperkuat solidaritas dan kepatuhan masyarakat terhadap aturan adat dan kepercayaan yang telah ada sejak lama, sehingga menciptakan kesatuan dalam menjaga tradisi tersebut. Upaya preservasi mitos di Dusun Kasuran pada era modern menjadi penting untuk mencegah hilangnya identitas masyarakat. Upaya Preservasi Pengetahuan Lokal Mitos di Dusun Kasuran melalui Exchange of Indigenous Knowledge Kepercayaan terhadap mitos larangan tidur di kasur di Dusun Kasuran dipertahankan melalui peran penting sesepuh dan tokoh adat sebagai penjaga tradisi. Mereka memainkan peran sentral dalam menceritakan mitos kepada generasi muda. Melibatkan masyarakat, terutama generasi muda, dalam memahami dan mempelajari mitos adalah langkah krusial untuk mencegah kehilangan pengetahuan ini. Keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada transfer pengetahuan lisan. Mempertahankan pengetahuan lokal adalah bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya. Pengetahuan lokal ini umumnya berupa tacit knowledge yang tidak tertulis dan tertanam dalam praktik seharihari. Sifatnya yang tersembunyi, merekam, mentransfer, dan menyebarkan pengetahuan tacit menjadi tantangan. Dalam rangka untuk mengatasi hal ini, upaya preservasi pengetahuan lokal melalui enam kegiatan exchange of indigenous knowledge diimplementasikan. a. Kegiatan Mengenali dan Mengidentifikasi Mitos di Dusun Kasuran Pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rutinitas dan kebiasaan seharihari masyarakat, sehingga pengetahuan ini seringkali tidak tampak jelas sebagai sesuatu yang khas. Berdasarkan hasil wawancaara dengan Kepala Dusun Kasuran diketahui bahwa Dusun Kasuran mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu adanya mitos yang menyebutkan bahwa warga akan jatuh sakit atau mengalami kejadian aneh jika tidur menggunakan kasur kapuk. Mitos tersebut sampai saat ini masih dipercaya dan diwariskan dari generasi ke generasi. Generasi muda mengenali dan mengidentifikasi pengetahuan ini dengan cara mengamati langsung dan mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh para orang tua. Menurut World Bank (1998), salah satu karakteristik pengetahuan lokal adalah bahwa pengetahuan tersebut bersifat tacit, sehingga sulit untuk diorganisir dalam bentuk yang lebih sistematis. Namun meskipun sulit, pengetahuan tacit dapat diungkapkan dan diubah menjadi bentuk yang lebih eksplisit melalui proses eksternalisasi ''(Philipson & Kjellström, 2020). Eksternalisasi dilakukan melalui bahasa tulisan atau lisan, visualisasi, dan perilaku. Sehingga generasi muda dalam mengenali dan mengidentifikasi pengetahuan tentang mitos di Dusun Kasuran adalah melalui proses knowledge sharing dengan mendengarkan cerita dan pengamatan perilaku. Melalui proses knowledge sharing, pengetahuan eksplisit dan tacit dibagikan dan diakses dengan memanfaatkan pengetahuan yang sudah ada ''(Raudeliuniene et al., 2021). Pengetahuan berupa mitos di Dusun Kasuran, yang tersimpan secara tacit pada orang tua, ditransfer kepada generasi muda secara lisan. Proses mengenali dan mengidentifikasi pengetahuan lokal melibatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan tersebut (World Bank, 1998). Kesadaran akan keberadaan pengetahuan lokal merupakan langkah krusial untuk memastikan warisan budaya tersebut tetap hidup. Bagi generasi yang lebih tua, memahami pentingnya pengetahuan lokal adalah kunci untuk memperkenalkan dan menurunkan pengetahuan ini kepada generasi muda. Di sisi lain, bagi generasi muda, kesadaran akan pentingnya menjaga pengetahuan lokal sangat vital agar warisan ini tetap bertahan dan relevan di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin kuat. Modal kesadaran kolektif, pengetahuan lokal dikenali, diidentifikasi, dan dipertahankan, sehingga tetap memiliki nilai dalam konteks dunia modern. b. Kegiatan Validation Mitos di Dusun Kasuran Proses validasi dalam preservasi pengetahuan lokal memegang peranan penting dalam memastikan keaslian dan kebenaran dari pengetahuan yang disampaikan. Menurut World Bank (1998) proses validasi dilakukan dengan melihat relevance, reliability, dan functionally sehingga pengetahuan tersebut dapat dikatakan sebagai pengetahuan lokal. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dusun Kasuran Wetan diketahui bahwa pengetahuan mitos larangan tidur di atas kasur kapuk ini relevan dengan pelaksanaannya. Pengetahuan tersebut tidak hanya sekadar menjadi cerita rakyat, tetapi diyakini dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Dusun Kasuran sampai saat ini melaksanakan mitos tersebut dengan tidak menggunakan kasur kapuk sebagai alas tidur, melainkan menggantinya dengan kasur dari bahan lain seperti sponge maupun springbed. Selanjutnya pengetahuan lokal memiliki sifat reliabilitas, yaitu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui suatu proses, bukan terjadi secara kebetulan (World Bank, 1998). Kepala Dusun Kasuran Kulon menjelaskan bahwa mitos larangan tidur menggunakan kasur berhubungan dengan sejarah berdirinya Dusun Kasuran. Pengetahuan tersebut bukan suatu kejadian insidental melainkan sebuah bagian dari perjalanan sejarah dan budaya masyarakat. Pengetahuan lokal tercipta melalui siklus pengetahuan yaitu knowledge creation ''(Raudeliuniene et al., 2021). Penciptaan pengetahuan dilakukan dengan membagi persepsi dan menginterpretasikan informasi, kejadian, dan pengalaman secara bersamaan sehingga menjadi sebuah pengetahuan. Mitos mengenai larangan tidur di atas kasur ini muncul bersamaan dengan sejarah awal berdirinya Dusun Kasuran. Seiring terbentuknya dusun tersebut, mitos ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui interaksi antar individu. Meskipun tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, masyarakat percaya dan memegang teguh mitos yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu tersebut. Selanjutnya, pengetahuan lokal dipandang dari sisi fungsional, yaitu sejauh mana pengetahuan tersebut berperan secara efektif dalam kehidupan masyarakat (World Bank, 1998). Berdasarkan hasil observasi, fungsi pengetahuan lokal ini adalah sebagai jati diri dan identitas khas masyarakat Dusun Kasuran. Pengetahuan tentang mitos ini memiliki dampak yang signifikan terhadap Dusun Kasuran. Mitos tersebut tidak hanya membentuk kepercayaan dan perilaku warga, tetapi juga memberikan identitas unik yang membedakan dusun ini dari daerah lain. Tanpa keberadaan pengetahuan tentang mitos tersebut, Dusun Kasuran akan kehilangan salah satu ciri khas yang membuatnya berbeda dari dusun-dusun lain. c. Kegiatan Recording and Documentation Mitos di Dusun Kasuran Kegiatan merekam dan mendokumentasikan pengetahuan lokal di Dusun Kasuran merupakan tantangan tersendiri karena pengetahuan tersebut bersifat tacit yang tersimpan dalam diri individu. Terdapat berbagai macam faktor yang dapat mengakibatkan penyimpangan atau hilangnya pengetahuan. Di antaranya adalah manusia yang memiliki pengetahuan dan proses mentransfer pengetahuan itu sendiri (Andesfi & Prasetyawan, 2018). Selain itu, kurangnya dokumentasi formal mengenai pengetahuan lokal juga menjadi faktor penyebab hilangnya pengetahuan tersebut (Guiriba, 2019). Sehingga kegiatan merekam dan mendokumentasikan penting untuk dilakukan dalam rangka menjaga keaslian pengetahuan lokal. Pada kegiatan merekam dan mendokumentasikan ini, pengetahuan tacit dikonversi menjadi pengetahuan eksplisit dengan mengubah pengetahuan tersebut ke dalam bentuk fisik yang nyata (Putri & Desriyeni, 2023). Dokumentasi pengetahuan lokal dapat berupa catatan tertulis, video, foto, dan rekaman audio (Buthelezi et al., 2024). Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dusun Kasuran Wetan dan Kulon, masyarakat lokal Dusun Kasuran tidak ada yang mengabadikan informasi mengenai mitos larangan tidur menggunakan kasur ke dalam sebuah produk informasi. Namun, kegiatan perekaman dan pendokumentasian dilakukan oleh masyarakat di luar dusun. Masyarakat yang tertarik dengan mitos di Dusun Kasuran, mendokumentasikan informasi tersebut menjadi sebuah artikel ilmiah dan dokumentasi berupa video. Upaya perekaman dan pendokumentasian informasi mengenai mitos tersebut dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dengan membuat buku berjudul “Lima Tradisi Unik Refleksi Budaya” yang diterbitkan pada tahun 2021. Salah satu bab dari buku tersebut membahas mengenai mitos larangan tidur beralaskan kasur di Dusun Kasuran. Selain itu, dokumentasi dalam bentuk audio-visual dapat diakses melalui Youtube dalam program Mister Tukul Jalan-Jalan Edisi Tempat Mistis di Yogyakarta, program Dua Dunia, dan program On the Spot yang ditayangkan di trans7. Menurut World Bank (1998), kegiatan merekam dan mendokumentasikan pengetahuan lokal sangat bergantung pada tujuan dari penggunaan data tersebut. Kegiatan merekam dan mendokumentasikan mitos di Dusun Kasuran bertujuan untuk mendukung penelitian serta menyebarkan informasi kepada masyarakat yang lebih luas. Selain itu, kegiatan ini secara tidak langsung berfungsi untuk melestarikan mitos tersebut untuk generasi mendatang. Pendokumentasian mitos, pengetahuan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diakses oleh orang-orang di luar Dusun Kasuran. Proses ini membantu memperkuat identitas lokal sekaligus memberikan wawasan yang berharga tentang pengetahuan lokal kepada masyarakat yang lebih luas. d. Kegiatan Storage Mitos di Dusun Kasuran Penyimpanan pengetahuan ini harus dilakukan melalui pengelolaan yang tepat, sehingga informasi tersebut dapat diakses dan digunakan kembali ketika diperlukan (World Bank, 1998). Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dusun Kasuran Wetan dan Kulon, terungkap bahwa masyarakat setempat menyimpan pengetahuan lokal dalam bentuk pengetahuan tacit, yang disimpan dalam ingatan dan pengalaman individu, kemudian diwariskan secara lisan kepada generasi berikutnya. Akhirnya meskipun tidak ada produk informasi formal yang dihasilkan oleh masyarakat lokal, pengetahuan ini tetap hidup melalui tradisi lisan. Namun, upaya formal untuk menyimpan pengetahuan lokal ini juga telah dilakukan oleh pihak luar. Buku yang disusun oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menjadi salah satu sarana untuk menyimpan pengetahuan tentang mitos di Dusun Kasuran. Selain itu, bentuk dokumentasi audio-visual juga telah dibuat dalam tayangan yang dapat diakses melalui YouTube, sehingga informasi mengenai Dusun Kasuran tersimpan dalam platform digital. Hasil penelitian ilmiah yang menjadikan mitos Dusun Kasuran sebagai objek kajian juga telah diarsipkan dalam repositori digital. Peneliti, akademisi, maupun masyarakat umum dapat mengakses informasi tersebut dengan mudah. Adanya berbagai bentuk penyimpanan ini, pengetahuan lokal mengenai mitos di Dusun Kasuran dapat terus dilestarikan. Penyimpanan pengetahuan lokal memerlukan peran pemerintah dan perpustakaan untuk mengorganisasikan pengetahuan lokal sehingga dapat dengan mudah untuk dipergunakan kembali. Sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, perpustakaan daerah memiliki peranan dalam melakukan pelestarian terhadap karya yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Selain itu, IFLA (International Federation of Library Associations) merekomendasikan bahwa perpustakaan seharusnya melestarikan pengetahuan lokal karena penting dalam mencapai sebagian besar tujuan pembangunan berkelanjutan (Chigwada & Ngulube, 2023). e. Kegiatan Transfer Mitos di Dusun Kasuran Kegiatan selanjutnya adalah transfer pengetahuan, di mana masyarakat lokal mentransfer pengetahuan, baik ke sesama warga dusun maupun masyarakat luar. Transfer pengetahuan merupakan salah satu bentuk proses mengkomunikasikan pengetahuan dimana komunikator sebagai sumber pengetahuan mengkomunikasikan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya kepada penerima pengetahuan tersebut (Waty et al., 2020). Berdasarkan hasil wawancara, proses transfer pengetahuan mengenai mitos di Dusun Kasuran dilakukan secara informal melalui interaksi sehari-hari dari generasi yang lebih tua ke generasi muda. Proses ini terjadi secara alami dalam berbagai kesempatan, seperti saat berkumpul dalam acara keluarga atau pertemuan sosial lainnya. Para orang tua menceritakan mitos dan kisah-kisah dari mitos tersebut, yang kemudian ditanamkan pada generasi muda sebagai bagian dari tradisi dan identitas dusun. Meskipun tidak ada struktur formal dalam penyampaian pengetahuan ini, interaksi lisan yang terjadi terus-menerus memainkan peran penting dalam memastikan bahwa mitos tersebut tetap hidup dan diwariskan. Metode transfer pengetahuan mitos di Dusun Kasuran dapat diidentifikasi melalui model transfer pengetahuan (Nonaka & Takeuchi, 1995) yang meliputi (1) socialization, yaitu masyarakat Dusun Kasuran melakukan transfer pengetahuan lokal yang tersimpan di dalam pikiran secara lisan dari generasi ke generasi; lalu (2) externalization di mana pengetahuan yang tersimpan di dalam diri masyarakat Dusun Kasuran dikonversi menjadi pengetahuan eksplisit berupa artikel ilmiah, buku, dan video; (3) combination yaitu pengetahuan eksplisit berupa artikel ilmiah, buku, dan video yang membahas mengenai mitos di Dusun Kasuran menjadi rujukan untuk menciptakan artikel ilmiah, buku, maupun video yang baru; dan (4) internalization yaitu di mana pengetahuan lokal yang telah dikonversi dalam bentuk media tertulis dan terekam kembali ditransfer kepada individu sehingga pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan baru bagi seseorang. Proses konversi pengetahuan ini menciptakan transfer pengetahuan, baik yang bersifat tacit maupun eksplisit, serta penciptaan pengetahuan baru melalui interaksi antara keduanya. Selanjutnya model komunikasi yang digunakan dalam transfer pengetahuan adalah model komunikasi SMCR (Source, Messege, Channel, Receiver) (Song, 2023). (1) Source (sumber) dari kegiatan transfer pengetahuan ini adalah generasi tua yang telah menyaksikan dan mewarisi cerita serta pengalaman terkait mitos ini dari generasi sebelumnya; (2) Messege (pesan) yang disampaikan dalam proses transfer ini mencakup kisah sejarah terbentuknya mitos tersebut, serta berbagai cerita mengenai orangorang yang pernah melanggar aturan mitos tersebut dan mengalami konsekuensi tertentu; (3) Channel (saluran) dalam transfer pengetahuan ini adalah interaksi sosial seharihari yang berlangsung secara lisan; dan (4) Receiver (penerima) dari pesan ini adalah generasi muda Dusun Kasuran, yang berperan sebagai pewaris pengetahuan lokal tersebut. Mereka menerima informasi dari para orang tua dan generasi terdahulu, menyerapnya sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Generasi muda inilah yang meneruskan pengetahuan tentang mitos ini ke masa depan, serta menjaga agar warisan budaya ini tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. f. Kegiatan Dissemination Mitos di Dusun Kasuran Kegiatan terakhir adalah dissemination (penyebaran) pengetahuan lokal mitos di Dusun Kasuran. Kegiatan diseminasi dapat ditargetkan pada kelompok-kelompok tertentu atau ditujukan kepada masyarakat umum (World Bank, 1998). Diseminasi merupakan kegiatan penyebaran informasi yang dilakukan melalui berbagai kegiatan pertemuan dan sosialisasi, serta melalui media seperti buku, majalah, surat kabar, film, televisi, radio, musik, game, youtube, website dan sebagainya (Andesfi & Prasetyawan, 2018). Penyebaran pengetahuan lokal tidak hanya bertujuan untuk melestarikan warisan budaya, tetapi juga untuk memastikan bahwa pengetahuan lokal diakui oleh masyarakat luas. Akuisisi, pelestarian, dan penyebaran telah menjadi perhatian kritis bagi berbagai pemangku kepentingan yang berupaya mengakui, menghormati, dan melindungi pengetahuan lokal sebagai komponen penting dari warisan budaya (Chigwada & Ngulube, 2023). Peran aktif komunitas lokal serta kolaborasi antara lembaga pemerintah dan nonpemerintah penting untuk mendukung pelestarian pengetahuan lokal (Cuikitalia & Chanastalia, 2024). Berdasarkan wawancara dengan Kepala Dusun Kasuran Wetan dan Kulon, diketahui bahwa penyebaran pengetahuan lokal tentang mitos di Dusun Kasuran ke masyarakat luas sering terjadi melalui wawancara yang dilakukan oleh tokoh adat atau warga setempat. Wawancara ini biasanya dilakukan ketika peneliti atau masyarakat luar ingin mengetahui lebih dalam tentang mitos di Dusun Kasuran. Melalui interaksi tersebut, cerita mengenai mitos ini disebarluaskan kepada orang-orang di luar dusun. Selain itu, dokumentasi berupa tulisan dan video yang tersimpan di internet juga memainkan peran penting dalam penyebaran informasi. Adanya platform digital, pengetahuan tentang mitos ini dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja yang tertarik, baik oleh peneliti, pelajar, maupun masyarakat umum. Produk-produk informasi ini memungkinkan pencari pengetahuan untuk memperoleh wawasan tanpa harus melakukan kunjungan langsung, sehingga memperluas jangkauan diseminasi. Kegiatan diseminasi memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi kelestarian budaya dan menjaga identitas unik Dusun Kasuran di tengah dinamika perubahan zaman. Melalui upaya preservasi pengetahuan lokal ini, Dusun Kasuran dapat menjaga dan melestarikan pengetahuan tentang mitos mereka untuk generasi mendatang. Pelestarian ini bukan hanya tanggung jawab individu atau kelompok tertentu, melainkan semua lapisan masyarakat, dari generasi tua hingga generasi muda, sehingga mitos tersebut tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern. Preservasi pengetahuan lokal ini tidak hanya tentang melestarikan cerita kuno, tetapi juga mendorong penghormatan dan pemahaman terhadap akar budaya. Melalui upaya bersama masyarakat, pemerintah, dan peneliti, Dusun Kasuran dapat menjaga agar mitos ini menjadi pijakan kuat bagi keberlanjutan budaya yang kaya dan berharga. Warisan ini dapat terus diceritakan dan dihidupkan untuk generasigenerasi yang akan datang.
Conclusion
Penelitian ini merupakan langkah awal yang signifikan dalam upaya memahami dan melestarikan pengetahuan lokal berupa mitos di Dusun Kasuran yang telah bertahan selama berabad-abad. Strategi preservasi pengetahuan lokal melalui tahap exchange of indigenous knowledge terbukti efektif dalam mempertahankan eksistensi mitos tersebut. Proses ini dimulai dengan recognition and identification, di mana mitos tersebut dikenali dan diidentifikasi sebagai pengetahuan lokal yang penting untuk dilestarikan. Tahapan kedua adalah validation, di mana keaslian dan keunikan mitos diperiksa untuk memastikan bahwa mitos tersebut benarbenar merupakan bagian integral dari budaya lokal Dusun Kasuran. Selanjutnya, tahapan recording and documentation dilakukan untuk mendokumentasikan mitos ini dalam berbagai bentuk, baik melalui tulisan maupun video. Tahapan berikutnya adalah storage, di mana pengetahuan yang telah didokumentasikan disimpan dalam bentuk yang aman dan terorganisir. Tahapan kelima adalah transfer, di mana pengetahuan tentang mitos ini diajarkan dan disebarkan kepada generasi muda dan anggota masyarakat lainnya. Tahapan terakhir adalah dissemination, yang melibatkan penyebaran pengetahuan lokal ini ke luar komunitas. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, mitos di Dusun Kasuran dapat bertahan dan memperkuat identitas budaya masyarakatnya. Kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah, dan peneliti dilakukan agar mitos ini dapat terus hidup dan lestari. Penelitian ini juga memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian pelestarian budaya dan pengetahuan lokal. Preservasi pengetahuan lokal ini, strategi yang lebih efektif untuk melindungi dan merawat warisan budaya lain dapat dikembangkan. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya, serta memberikan wawasan baru bagi pemangku kepentingan dalam upaya melestarikan kekayaan budaya bangsa di tengah arus globalisasi.