Kembali
16
1
2024 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 20 · 2 ISSN 2477-0361

Efektivitas pintasan pemberian warna klasifikasi utama pada nomor panggil koleksi dalam mengoptimalkan kegiatan shelving

Universitas Airlangga

Abstrak

Pendahuluan. Kegiatan shelving sulit dilakukan secara cepat dan optimal pada suatu perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi di dalamnya tanpa adanya suatu pintasan pembantu. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keefektifan pintasan pemberian warna klasifikasi utama pada nomor panggil koleksi. Metode penelitian. Penelitian dilakukan dengan mengadopsi metode Kuantitatif Deskriptif melalui pendekatan Unsequenced dan Comparative berdasarkan studi kasus di Perpustakaan Kemendikbud Republik Indonesia. Data analisis. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini ialah Analysis of Variance atau Analisis Varians (ANOVA). Hasil dan Pembahasan. Pengujian shelving detail, koleksi dari rak referensi mendapatkan nilai 33%, sedangkan koleksi dari rak fiksi mendapatkan nilai yang lebih sedikit, yaitu 26,1%. Pengujian pencarian koleksi di rak, dua puluh koleksi dari rak referensi berhasil ditemukan dalam 1.333 detik, sedangkan koleksi dari rak fiksi membutuhkan waktu 1.669 detik. Kesimpulan dan Saran. Pemberian warna pengenal pada angka klasifikasi utama terbukti secara intens memberikan kemudahan dalam melakukan kegiatan shelving detail, serta pencarian koleksi di rak meskipun dengan jumlah yang banyak. Disarankan penelitian selanjutnya dapat melakukan pengelompokan warna angka 0-9 berdasarkan jenis dan karakteristik kontras dari setiap warna sebagai identitas angka klasifikasi utama pada nomor panggil koleksi.

Abstract

Introduction. Book shelving is considered challenging in libraries with a large physical collection without a clear auxiliary shortcut. This research aims to understand the effectiveness of the main classification color shortcut on the collection call number. Data Collection Methods. The research was conducted by adopting Descriptive Quantitative method through Unsequenced and Comparative approaches based on a case study at the Ministry of Education and Culture Library, Republic of Indonesia. Data Analysis. The data analysis used in this research was Analysis of Variance (ANOVA). Results and Discussion. The results show that testing shelving details, the reference shelf collection scored 33%, while the fiction shelf collection scored less, showing 26.1%. In the shelving search test, twenty reference shelf collections were found in 1,333 seconds, while the fiction shelf collection took 1,669 seconds. Conclusion. Having the color of the classification number identifier is proven to support convenience in doing shelving detail activities, as well as searching for collections on the shelf even with a large number. Future research is expected to group the color numbers 0-9 based on the type and characteristics of color contrast as the identity of classification numbers for collection call numbers.
Keywords: library · collection call number · classification · shelving activities · collection searches

Introduction

A. PENDAHULUAN Perpustakaan sebagai salah satu sarana informatif, tentunya memiliki tugas dan fungsi mendasar sebagai pusat sumber informasi bagi pemustakanya. Artinya, perpustakaan harus menjalankan perannya dalam menyediakan bahan pustaka dengan berbagai jenis topik, subjek, dan bidang ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan informasi penggunanya (Endarti, 2022). Seluruh informasi tersebut harus disusun secara teratur dan sistematis dalam memberikan kemudahan bagi pustakawan atau petugas perpustakaan saat melakukan pencarian bahan pustaka di rak, ataupun saat melakukan kegiatan shelving koleksi. Kegiatan shelving sendiri merupakan proses penataan serta penyusunan kembali berbagai koleksi perpustakaan yang sesuai dengan rak penyimpanannya berdasarkan jenis koleksi dan juga nomor panggil koleksinya (Ayunda, 2019). Dalam hal ini, perpustakaan harus selalu bergerak cepat dalam memberikan layanan langsung kepada pemustaka, seperti mencari koleksi yang mereka inginkan di rak. Seiring dengan bertambahnya ketersediaan informasi, membuat perpustakaan dituntut untuk selalu sigap dalam memberikan layanan informasi yang cepat, tepat, akurat, dan spesifik untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang juga semakin berkembang (Masriastri, 2018). Akan tetapi hal tersebut justru menjadi suatu tantangan tersendiri bagi perpustakaan besar, dengan jumlah koleksi mereka yang sudah sangat banyak. Mereka yang mengelola suatu perpustakaan besar tentunya akan kesulitan untuk bergerak cepat dan gesit seperti perpustakaan kecil yang jumlah koleksinya masih terbilang sedikit. Sebab perpustakaan besar dengan jumlah koleksi yang banyak menjadi kesulitan tersendiri saat akan melakukan pengolahan koleksi. Misalnya saja saat akan melalukan shelving koleksi ataupun melakukan pencarian koleksi di rak saat diminta oleh salah satu pemustaka, tentunya petugas dari perpustakaan besar akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukannya dibandingkan dengan petugas yang melakukan kegiatan serupa pada perpustakaan yang lebih kecil. Proses shelving pada perpustakaan besar seperti Perpustakaan Kabupaten Bener Merah sendiri dalam pencarian buku di rak memerlukan waktu yang lama dan membutuhkan suatu cara yang bersifat efisien (Diana, 2021). Padahal apabila berbicara mengenai fungsi informatif seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kegiatan shelving koleksi serta membantu pemustaka dalam mencari koleksi tertentu di rak sudah menjadi kegiatan pokok mendasar yang harus dilakukan oleh petugas perpustakaan secara maksimal. Berkaitan dengan kepuasan pemustaka, di mana perpustakaan yang besar sekalipun akan dinilai tidak profesional apabila petugas ataupun pustakawannya tidak dapat memberikan pelayanan secara cepat dan optimal dalam memenuhi kebutuhan informasi dari tingginya frekuensi pemustaka mereka. Perpustakaan dalam mewujudkan suatu sistem yang bermuara pada kepuasan pemustaka, selain membutuhkan ketepatan informasi yang akurat juga memerlukan kecepatan dalam memproses informasi untuk pemustaka (Irmawati, 2017). Perlu adanya suatu pintasan tertentu dalam mengatasi tantangan tersebut, terutama pada sebuah perpustakaan besar yang telah memiliki banyak koleksi di dalamnya. Hal ini tentunya perlu dilakukan agar perpustakaan yang besar sekalipun tetap bisa bergerak dengan cepat dalam memberikan pelayanannya kepada seluruh pemustaka mereka secara optimal, serta melakukan kegiatan shelving koleksi dengan gesit dan cekatan. Terkait itu, Perpustakaan Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi) sebagai salah satu perpustakaan besar di Indonesia dan berlokasi di Jakarta telah menerapkan salah satu pintasan yang sangat menarik. Perpustakaan Kemendikbud sendiri merupakan perpustakaan utama di lingkup Menteri Pendidikan Nasional yang dibuka secara resmi pada 29 November 2004 setelah mendapat hibah dari British Council dan dikelola oleh Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek (Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019). Pintasan yang telah diterapkan di perpustakaan Kemendikbud ini dinilai cukup efektif dalam mengatasi tantangan tersebut, dengan mengadopsi inovasi dari salah satu perpustakaan di luar negeri dengan konsep yang hampir serupa, yaitu penggunaan warna sebagai notasi klasifikasi berdasarkan penelitian Ike, Ugwu, & Nwachi (2021). Perbedaan pintasan pada penelitian ini ialah pemberian warna-warna pengenal tertentu pada tiga angka dari kelas klasifikasi utama pada label nomor panggil koleksi. Tujuannya sendiri ialah untuk memberikan kemudahan saat petugas perpustakaan melakukan kegiatan shelving, ataupun saat mencari koleksi yang diinginkan pemustaka di rak secara visual. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Vo & Wolfe (2015), menyatakan bahwa beberapa karya paling awal dalam literatur modern mengenai pencarian, melibatkan serangkaian aspek visual seperti warna dan orientasi. Studi-studi di dalamnya juga telah menunjukkan bahwa serangkaian aspek visual tersebut dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian terhadap calon target penelitiannya. Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Choudhury & Bhansali (2022) mengenai penyorotan efek warna pada retensi sekaligus membandingkan dengan berbagai penelitian yang ada sebelumnya melalui literature review (tinjauan literatur), menyatakan bahwa warna memang berperan dalam ingatan serta membantu dalam konsentrasi. Menyoroti teks dengan warna dapat membantu mengingat poin-poin penting tertentu secara visual. Dalam hal ini, pemberian warna pada angka kelas klasifikasi utama di label nomor panggil koleksi berkaitan dengan psikologi kognitif, di mana seseorang cenderung memperhatikan aspek yang mencolok seperti warna-warna tertentu secara visual. Pintasan pemberian warna kelas klasifikasi utama pada label nomor panggil koleksi ini akan sangat efektif dalam mengoptimalkan kegiatan shelving dan pencarian koleksi di rak. Menjawab hal tersebut, dilakukan sebuah kajian berbasis studi kasus di perpustakaan Kemendikbud untuk melihat dan membuktikan keefektifan dari pintasan ini. Penelitian ini sendiri dilakukan untuk menjawab seberapa baik tingkat keefektifan dari penggunaan nomor panggil berwarna dibandingkan dengan nomor panggil hitam putih. Penelitian ini akan melakukan beberapa percobaan langsung, di mana pembuktian ini sendiri masih belum dilakukan pada penelitian sebelumnya terkait seberapa baik tingkat keefektifan pintasan ini. Data dan hasil dari penelitian ini nantinya juga dapat digunakan sebagai fondasi dalam mengembangkan pintasan potensial sejenis lainnya. B. TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi bahan pustaka merupakan salah satu proses yang bertujuan untuk memberikan memudahkan terkait kegiatan temu kembali informasi seperti bahan pustaka atau koleksi yang telah tertata di rak koleksi suatu perpustakaan. Proses klasifikasi ini menjadi sangat penting dalam pengolahan bahan pustaka (Rodin, 2022). Kegiatan klasifikasi sendiri diartikan sebagai penggolongan atau pengelompokan (Rahmawati, 2017). Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), klasifikasi merupakan penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Ada beberapa sistem klasifikasi yang telah dibuat dalam memberikan kemudahan pustakawan untuk mengelompokkan bahan pustaka, seperti Klasifikasi DDC (Dewey Decimal Classification), UDC (Universal Decimal Classification), LC (Library of Congress). Akan tetapi pada umumnya, sistem pengelompokan bahan pustaka yang biasa digunakan beberapa perpustakaan ini ialah Dewey Decimal Classification (DDC). Apabila diartikan, DDC ini ialah Klasifikasi Persepuluhan Dewey, merupakan karya Melville Louis Kassuth Dewey (Melvil Dewey) pada tahun 1873 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1876 (Siregar, 2023). Ketentuan pengelompokan klasifikasi DDC sendiri terbagi menjadi dua prinsip, yaitu Prinsip Desimal dan Prinsip Umum ke Khusus. Prinsip Desimal merupakan pembagian ilmu pengetahuan berdasarkan kelipatan sepuluh (desimal) terbagi menjadi 10 kelas utama, masing-masing kelas dibagi lagi menjadi 10 bagian (divisi), tiap-tiap divisi dibagi lagi 10 sub divisi, dan dibagi lagi menjadi 10 seksi (Cahyadi, 2019). Sedangkan Prinsip umum ke khusus merupakan sistem pengelompokan bidang DDC dari subjek umum ke subjek khusus. Contohnya seperti Kelas Utama 500 mengenai Ilmu pengetahuan murni (Ilmu Pengetahuan dan Matematika) secara umum, di spesifikkan ke subjek khusus pada Divisi pertama 501-509 mengenai Sub divisi standar dari kehidupan alam, Divisi kedua 510519 mengenai Matematika, Divisi ketiga 520 mengenai Astronomi dan ilmu-ilmu berkait. Dari sepuluh seksi pada setiap divisi, seksi pertama (nol) selalu disediakan untuk karya yang sifatnya umum dalam bidang tertentu, sedangkan untuk 1–9 untuk hal-hal yang bersifat khusus. Contohnya seperti pada Divisi 350—Administrasi Negara, Seksi pertama 351—Pemerintahan Pusat, Seksi kedua 352—Pemerintah Lokal, dan sebagainya (Widodo, 2016). Bahan pustaka suatu perpustakaan sebelum diletakkan pada rak koleksi ruang layanan, setiap eksemplar koleksinya perlu dilengkapi dengan label koleksi/label nomor panggil (call number) dalam memberikan kemudahan saat melakukan temu kembali koleksi. Label koleksi sendiri berisi informasi nomor panggil yang terdiri dari kombinasi nomor klasifikasi DDC, tajuk pengarang, dan judul buku (Hakim, 2016). Semua salinan buku cetak atau kertas di perpustakaan diberi nomor panggilan, biasanya terdapat di punggung buku. Nomor panggil (call number) koleksi berisikan informasi yang mewakili isi buku tersebut dan bertindak seperti alamat buku di rak atau tumpukan perpustakaan. Akhirnya buku-buku tersebut disusun di rak berdasarkan nomor panggil yang sudah dibuat (McKenzie, n.d.). Nomor panggil (call number) ditempelkan di punggung buku dan jurnal, serta di katalog perpustakaan. Selain materi tentang pemerintahan dan pengumpulan informasi geografis, nomor panggil yang digunakan oleh perpustakaan diklasifikasikan berdasarkan subjek, sehingga sering ditemukan beberapa buku bermanfaat di rak yang sama, atau di dekatnya. Bagian pertama dari nomor panggilan mewakili subjek buku. Bagian huruf dan desimal pada nomor panggilan biasanya mewakili nama belakang penulis. Bagian terakhir dari nomor panggilan sering kali merupakan tanggal publikasi (Libraries of Northwestern University, n.d.). Efektivitas penggunaan label nomor panggil (call number) dalam proses temu balik informasi seperti bahan pustaka di rak koleksi layanan akan dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan temu balik informasi di perpustakaan (Prabowo & Krismayani, 2019). Shelving atau penggerakan merupakan kegiatan penjajaran koleksi pada rak berdasarkan sistem tertentu. Kegiatan ini merupakan langkah terakhir dari proses pengolahan bahan perpustakaan. Tujuannya agar koleksi dapat ditemukan dengan mudah dan dapat dikenali oleh pengguna atau pustakawan (Sahroni, 2021). Secara sederhana, yang dimaksud dengan shelving atau kegiatan penataan koleksi ialah menempatkan bukubuku yang ada di perpustakaan pada rak-raknya menurut tata cara tertentu, sehingga memudahkan saat temu kembali informasi (Retrieval) oleh pustakawan untuk keperluan pemakai atau pemustaka (Alam, 2016). Kemudahan dalam menemukan suatu koleksi yang ingin dicari ini tidak hanya secara langsung saja pada rak koleksi buku, tetapi juga harus memberikan kemudahan saat melakukan pencarian melalui katalog. Penataan dan penyusunan koleksi pada kegiatan shelving sendiri dalam memberikan kemudahan terkait temu kembali informasi di tentukan berdasarkan nomor panggil (call number) koleksi yang sudah dibuat sebelumnya (Nalole et al., 2019). Perpustakaan dalam menjalankan perannya sebagai pusat informasi, kegiatan shelving menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan sebagai penentu kecepatan dan ketepatan terkait proses temu kembali bahan pustaka atau buku di dalam suatu perpustakaan. Korelasi antara shelving dan juga temu kembali koleksi ialah berkaitan dengan proses pengolahan suatu koleksi. Semakin baik penataan shelving yang dilakukan oleh suatu perpustakaan, maka akan semakin mempermudah pemustaka dalam menemukan koleksi yang mereka inginkan (Azis, 2023).

Method

Penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi metode Kuantitatif Deskriptif melalui pendekatan Unsequenced dan Comparative berdasarkan studi kasus di Perpustakaan Kemendikbud dalam penyusunan hasil penelitian. Struktur Unsequenced ini cukup relevan digunakan untuk penelitian studi kasus deskriptif. Di mana Unsequenced digunakan dengan mengasumsikan urutan langkah penelitian tidak berurutan karena adanya suatu kepentingan khusus. Dalam hal ini, penelitian perlu memperhatikan penguji secara lengkap dan menyeluruh. Sedangkan terkait struktur Comparative sendiri, dilakukan pengujian dan mengulangi studi kasus yang sejenis sebanyak dua kali, serta membandingkan kedua hasil tersebut secara deskriptif. Tujuannya ialah untuk menunjukkan perbandingan antara kedua fakta berkesesuaian dengan masing-masing model (Nur'aini, 2020). Analisis data yang digunakan pada penelitian ini ialah Analysis of Variance atau Analisis Varians (ANOVA). Keseluruhan data dianalisis menggunakan perhitungan sederhana untuk mencari nilai persentase terkait kegiatan shelving koleksi dan nilai kecepatan terkait kegiatan pencarian koleksi di rak berdasarkan beberapa percobaan. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan beberapa pengujian di tempat dengan beberapa tahapan. Tahap pertama, penguji utama atau sebut saja penguji A akan melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapangan di perpustakaan Kemendikbud serta meninjau komponen yang dapat dianalisis. Pada tahap berikutnya, melakukan percobaan kegiatan shelving detail, yaitu menyusun ulang koleksi di satu rak penuh dengan menyesuaikan urutan nomor panggil koleksinya. Hal ini dilakukan di dua jenis rak koleksi yang berbeda, yaitu rak koleksi referensi yang kondisinya sudah hampir semua koleksi di dalamnya sudah menggunakan label nomor panggil berwarna, dan juga rak koleksi fiksi yang semua koleksinya masih menggunakan label nomor panggil hitam putih. Lalu pada tahap ketiga, melakukan pengujian melalui kegiatan pencarian koleksi tertentu di dua rak yang sama seperti sebelumnya. Pengujian ini sendiri dilakukan melalui beberapa kali percobaan oleh empat orang penguji yang berbeda. Detail pada pengujian kali ini, pertama, setiap penguji akan diberikan tantangan oleh penguji lainnya untuk mencari lima koleksi dari rak referensi dan lima koleksi dari rak fiksi. Pengujian pencarian koleksi pada rak referensi dan fiksi ini sendiri seperti yang sudah disebutkan sebelumnya akan dilakukan oleh empat orang penguji, sebut saja penguji A-D. Petunjuk yang diberikan hanya berupa judul dan nomor panggil koleksi, setelahnya salah satu penguji, misal penguji A yang diberikan tantangan harus mencari total sepuluh koleksi tersebut di dua jenis rak yang berbeda. Selama proses pencarian koleksi tersebut, penguji B-D akan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mencari lima koleksi dari masing-masing jenis rak. Setelah berhasil menemukan semua koleksi tersebut, penguji B-D ini akan mencatat total waktu yang penguji A habiskan untuk mencari koleksi dari rak referensi dan juga dari rak fiksi. Selanjutnya setelah hasilnya dicatat, penguji BD juga akan melakukan tantangan yang sama seperti penguji A sebelumnya secara bergantian. Setelahnya, keseluruhan data dapat diakumulasikan dari hasil pencarian koleksi dengan jumlah total empat puluh koleksi. Maka dari ketiga tahap tadi dapat melihat sejauh mana keefektifan pintasan pemberian warna klasifikasi pada nomor panggil koleksi ini dalam mengoptimalkan kegiatan shelving dan pencarian koleksi di rak. Pengukuran ini sendiri dilakukan untuk mengukur perbandingan tingkat keefektifan dalam melakukan kegiatan shelving detail dan pencarian koleksi pada rak referensi yang sudah menerapkan pintasan pemberian warna klasifikasi pada nomor panggil setiap koleksinya, dengan koleksi pada rak fiksi yang masih menggunakan nomor panggil hitam putih. Null hypothesis atau hipotesis nol pada penelitian ini dapat terjadi apabila pengujian yang dilakukan pada koleksi fiksi yang masih menerapkan nomor panggil hitam putih mendapatkan nilai yang lebih baik dibanding nilai pengujian pada koleksi referensi yang menggunakan pintasan nomor panggil berwarna. Artinya, tidak ada pembuktian bahwa pintasan pemberian warna pada nomor panggil koleksi ini memberikan kemudahan dalam kegiatan shelving detail dan pencarian koleksi di rak. Penentuan tingkat keefektifan ini sendiri juga mengabaikan batas minimal 95 persen atau p <0,05 karena hanya akan membandingkan nilai pengujian antara koleksi referensi dengan nomor panggil berwarna dengan koleksi fiksi yang menggunakan nomor panggil hitam putih.

Result & Discussion

Perpustakaan Kemendikbud memiliki beberapa jenis koleksi di dalamnya, yaitu koleksi monograf. Koleksi monograf terbagi menjadi LEN (Lending) berupa koleksi umum dari klasifikasi 000 sampai 999 dan bisa dipinjam oleh pemustaka, REF (Reference) berupa koleksi referensi yang hanya bisa dibaca di tempat, dan LR (Local Reference) berupa koleksi terbitan Kemendikbudristek. Koleksi lainnya seperti koleksi Jurnal, Audiovisual, dan koleksi berseri seperti koran, majalah, dan tabloid. Saat ini, jumlah keseluruhan koleksi di perpustakaan Kemendikbud yang telah di show, di shelving, dan dilayankan di rak sudah mencapai lebih dari 40.000 koleksi. Jumlah koleksi tersebut juga terus bertambah setiap harinya tidak hanya dari pembelian, tetapi juga hibah dari penerbit yang ada di perguruan tinggi. Disisi lain, jumlah rak yang ada di perpustakaan Kemendikbud saat ini masih sangat terbatas dan belum bisa menambah jumlah rak koleksi karena beberapa alasan seperti terbatasnya ruang perpustakaan. Hal tersebut tentunya membuat koleksi yang diletakkan di rak akan semakin menumpuk, sehingga koleksi tersebut disusun dengan sangat berdekatan dan hampir tidak ada jarak antar koleksi di rak. Selain akan menyulitkan pustakawan saat akan melakukan shelving dan mencari koleksi di rak, hal ini juga dapat membuat koleksi perpustakaan menjadi lebih cepat rusak. Tantangan perpustakaan Kemendikbud dalam memberikan pelayanan yang cepat dan efisien tidak hanya pada jumlah koleksinya yang semakin menumpuk di rak, tetapi juga karena masih banyak pemustakanya yang asal meletakan koleksi yang mereka baca di rak yang tidak tepat, seperti meletakan koleksi umum di rak koleksi referensi. Hal ini tentunya akan menyulitkan pustakawan saat mencari kembali koleksi tersebut. Dalam menjawab tantangan tersebut, diperlukan adanya suatu pintasan untuk membuat kegiatan shelving dan pencarian kembali koleksi oleh pustakawan menjadi lebih cepat dan efisien. Perlu adanya aspek penjelas secara visual pada identitas koleksi, yaitu pada label nomor panggil koleksi. Aspek visual seperti warna dapat mempengaruhi fungsi dan kenyamanan kognitif otak (Fitriyana et al., 2019). Hal tersebut membuat pustakawan dapat lebih mudah mencari suatu koleksi ataupun melakukan shelving koleksi tanpa memaksa konsentrasi lebih untuk meninjau klasifikasi pada label nomor panggil koleksi. Uraian tersebut secara keseluruhan mengarahkan kepada pintasan terkait pemberian warna pada nomor panggil koleksi berdasarkan klasifikasinya. Spesifiknya, ada tiga angka pada klasifikasi utama sebelum masuk ke bagian divisi, sub-divisi, dan seterusnya dengan tanda titik(.) sebagai pemisah. Tiga angka inilah yang akan diberikan warna untuk mewakilkan identitas penjelas secara visual. Pertama, setiap angka dari 0 – 9 akan diberikan identitas warna, lalu pada setiap nomor panggil koleksi akan diberikan tiga warna berbeda sesuai dengan klasifikasi utama pada koleksi tersebut. Sebagai contoh pada perpustakaan Kemendikbud, beberapa koleksi dengan klasifikasi utama 305 diberikan tiga warna penjelas, yaitu warna merah maroon untuk angka 3 di awal, warna biru muda untuk angka 0 di awal tengah, dan warna biru langit untuk angka 5 di akhir. Perpustakaan Kemendikbud juga menambahkan warna pengenal lain untuk jenis koleksinya pada bagian bawah nomor panggil, yaitu warna hijau gelap untuk koleksi LEN, oranye untuk koleksi REF, biru untuk koleksi LR, dan lain sebagainya. Selama melakukan tugas pengolahan koleksi di perpustakaan Kemendikbud, para pustakawan di dalamnya benar-benar merasa terbantu dengan adanya pewarnaan nomor panggil koleksi secara visual. Secara keseluruhan, mereka merasa sangat terbantu dalam melakukan kegiatan shelving detail dan pengecekan apakah jenis koleksi yang ada telah ditempatkan sesuai dengan jenis raknya atau belum. Pembuktian keefektifan dan efisiensi pintasan pemberian warna klasifikasi pada nomor panggil koleksi yang dirasakan ini dilakukan pada beberapa pengujian. Studi ini sendiri dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (research question) berikut: RQ1. Bagaimana perbandingan melakukan kegiatan shelving detail dan pencarian koleksi di rak antara koleksi dengan nomor panggil berwarna dengan yang hanya hitam putih? RQ2. Seberapa besar tingkat keefektifan dan efisiensi penggunaan pintasan warna klasifikasi pada nomor panggil koleksi dalam memberikan kemudahan shelving detail dan pencarian koleksi secara visual? Pengujian tahap pertama dilakukan kegiatan shelving detail, yaitu menyusun koleksi yang ada di rak sesuai dengan urutan nomor panggilnya. Dalam hal ini shelving detail dilakukan pada dua jenis rak, yaitu rak koleksi referensi yang sudah banyak label nomor panggil koleksi di dalamnya sudah diubah menjadi yang berwarna, dan juga rak koleksi fiksi, yaitu koleksi sastra umum seperti novel yang seluruh koleksinya masih menggunakan label nomor panggil lama yang berwarna hitam putih. Langkah awal sebelum melakukan pengujian, dilakukan perbandingan terlebih dahulu terkait jumlah koleksi dari masingmasing jenis rak. Data dikumpulkan dan dicatat berdasarkan Item Tittle List pada menu Reporting SLiMS perpustakaan Kemendikbud. Berdasarkan data dari SLiMS perpustakaan Kemendikbud, diketahui bahwa jumlah koleksi dari rak referensi yang dilayankan ialah sebanyak 2.766 eksemplar, sedangkan untuk jumlah koleksi dari rak fiksi berjumlah 1.561 eksemplar. Setelah mengetahui jumlah item yang ada dan dilayankan dari setiap jenis rak koleksi ini, selanjutnya memperkirakan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan shelving detail pada masing-masing jenis rak yang sudah ditentukan. Untuk penyesuaian dari jumlah koleksi dari masingmasing rak, ditetapkan waktu yang dibutuhkan untuk satu item/eksemplar ialah selama lima detik. Artinya, estimasi atau batas waktu yang diberikan dalam melakukan shelving detail ialah lima detik dikalikan total eksemplar koleksi yang dilayankan dari masing-masing jenis rak. Selanjutnya ditentukanlah total estimasi atau batas waktu yang diberikan untuk melakukan shelving detail di setiap jenis rak seperti yang dapat dilihat pada tabel 1. Setelah memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan shelving detail dari setiap jenis rak, dilakukanlah pengujian kegiatan shelving detail koleksi pada rak fiksi di hari pertama dan koleksi pada rak referensi di hari berikutnya. Estimasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya dijadikan sebagai acuan batas waktu maksimum (max). Seberapa efektif dan efisiennya pintasan label nomor panggil berwarna dibandingkan dengan label nomor panggil hitam putih koleksi dapat dilihat dari seberapa banyak waktu estimasi yang tersisa setelah dikurang waktu yang dibutuhkan untuk shelving detail dari masing-masing jenis rak secara riil. Lalu hasil akhirnya dikonversikan ke dalam bentuk persentase setelah waktu yang tersisa dibagi dengan jumlah estimasi dan dikali seratus persen. Setelah dilakukan pengujian shelving detail pada dua jenis rak yang berbeda selama dua hari untuk melihat keefektifan pintasan label nomor panggil berwarna, di dapatkanlah hasil seperti yang dapat dilihat pada tabel 2. Dapat dilihat bahwa koleksi dari rak referensi meskipun memakan waktu yang lebih lama dibandingkan koleksi dari rak fiksi saat melakukan shelving detail, namun secara persentase dengan menyesuaikan jumlah koleksi dari masing-masing jenis rak, rak koleksi referensi yang menggunakan label nomor panggil berwarna mendapatkan nilai yang lebih baik, yaitu mencapai 33%, sedangkan koleksi dari rak fiksi yang menggunakan label nomor panggil hitam putih mendapatkan nilai yang lebih sedikit, yaitu 26,1%. Menunjukkan bahwa peran warna terhadap memori dapat meningkatkan akurasi dan kecepatan deteksi secara visual. Hal ini juga diperkuat melalui penelitian Cutler et al (2023), di mana deteksi rata-rata akurasi objek berwarna lebih dari 93% di semua kondisi, menunjukkan bahwa deteksi target mudah dilakukan. Selanjutnya setelah dilakukannya pengujian shelving detail, dilakukan pengujian berikutnya, yaitu pencarian koleksi di rak yang sama seperti sebelumnya, yaitu rak koleksi referensi yang sudah banyak diberikan label nomor panggil berwarna, dan di rak koleksi fiksi yang justru seluruh koleksinya masih menggunakan label nomor panggil hitam putih. Pengujian ini dilakukan dengan total empat orang penguji untuk saling memberikan tantangan dalam mencari koleksi yang dipilih dari masingmasing rak yang sudah ditentukan. Apabila dijabarkan, maka ada total delapan percobaan terkait pencarian koleksi di rak, di mana setiap penguji melakukan dua kali percobaan, yaitu percobaan mencari lima koleksi dari rak referensi, serta percobaan mencari lima koleksi dari rak fiksi melalui tantangan yang diberikan pada penguji lain. Detail percobaan pada pengujian ini ialah pencarian lima koleksi pada rak referensi, serta lima koleksi pada rak fiksi yang dilakukan oleh masing-masing penguji. Setiap penguji melakukan dua kali percobaan dengan total sepuluh koleksi (lima koleksi dari rak referensi dan lima koleksi dari rak fiksi), dan masingmasing penguji juga saling memberikan permintaan koleksi apa yang harus dicari penguji lainnya. Contohnya seperti penguji A diberikan tantangan oleh penguji B-D untuk mencari lima koleksi tertentu dari rak referensi sebagai percobaan pertama, dan lima koleksi tertentu lainnya dari rak fiksi sebagai percobaan kedua. Permintaan pencarian koleksi hanya berdasarkan petunjuk berupa judul dan detail nomor panggil koleksi. Sebelum pengujian dilakukan, setiap penguji akan memasang timer dan mencatat waktu yang digunakan saat mencari setiap koleksi. Setelah keseluruhan koleksi dengan total empat puluh koleksi sudah berhasil didapatkan, maka keseluruhan data dihitung dan diakumulasikan. Hasil akhirnya akan menunjukkan mana yang lebih efektif antara label nomor panggil berwarna pada koleksi referensi dengan label nomor panggil hitam putih pada koleksi fiksi saat melakukan pencarian koleksi. Dari percobaan pencarian koleksi pada masing-masing rak, didapatkanlah hasil seperti yang dapat dilihat pada tabel 3 dan 4. Berdasarkan dari hasil yang didapatkan, meskipun jumlah koleksi dari rak fiksi lebih sedikit dibanding jumlah koleksi dari rak referensi, namun hal tersebut tetap tidak cukup efisien bagi keempat penguji dalam mencari koleksi dengan lebih cepat dan gesit. Dalam hal ini, keefektifan pintasan pemberian warna klasifikasi pada nomor panggil koleksi kembali terlihat pada pengujian kedua ini. Dari dua puluh koleksi dari masing-masing jenis rak, koleksi dari rak referensi dapat dicari dengan lebih cepat dibandingkan koleksi dari rak fiksi. Di mana dua puluh koleksi dari rak referensi yang menggunakan label nomor panggil koleksi berwarna berhasil ditemukan dengan total 1.333 detik atau 22 menit 12 detik. Sedangkan koleksi dari rak fiksi yang menggunakan label nomor panggil hitam putih membutuhkan waktu mencapai 1.669 detik atau 27 menit 49 detik. Hasil yang didapatkan ini sangat sesuai dengan penelitian sejenis terkait keefektifan pemberian warna bantu pada kegiatan lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Diachenko et al (2022) mengenai studi efektivitas warna pada kegiatan pedagogis mendapatkan hasil pada kelompok yang menggunakan warna sebagai metode pembelajaran, kinerjanya meningkat sebesar 11%, sedangkan probabilitas kesalahan pada kelompok kontrol tetap berada dalam 2%. Selain itu di antara teknik retensi memori, 55% responden lebih menyukai kode warna pada informasi penting. Hasil evaluasi pada penelitian terkait seberapa penting peluang pemberian warna ini bagi responden juga menunjukkan bahwa, parameter penggunaan warna sebagai acuan dalam materi pembelajaran mengalami kenaikan dari yang awalnya peringkat 5 (lima), menjadi peringkat 4 (empat) untuk kelompok eksperimen; skornya juga naik menjadi 36%. Sistem pengodean warna informasi penting dalam teks ini menempati urutan pertama, serta jumlah mereka yang menggunakan metode tersebut meningkat rata-rata 33%. Diskusi pada penelitian serupa lainnya yang dilakukan Khadir & Beigzadeh (2024) pun menunjukkan hasil yang sesuai. Perbedaan aktivitas otak EEG (Electroencephalography) dalam stimulus warna hitam/putih dengan RGB (Red, Green, Blue) atau objek berwarna menunjukkan bahwa setelah stimulus dilakukan kekuatan RGB meningkat, sedangkan warna hitam tidak menunjukkan adanya tingkat peningkatan. Electroencephalography atau Elektroensefalografi sendiri ialah istilah di dunia kedokteran spesialis otak yang mana menurut KBBI berarti rekaman aktivitas otak melalui deteksi aktivitas listrik di daerah tertentu. Hal ini juga diperkuat melalui penelitian yang dilakukan Nissen et al (2024) mengenai studi neuroimaging atau pencitraan saraf otak dengan fokus pada warna, di mana efek dari elemen warna pada tingkat saraf menunjukkan aktivitas otak yang menandakan peningkatan kemampuan kognitif yang diperlukan untuk pemrosesan emosional positif atau rasa senang.

Conclusion

Pintasan pemberian warna klasifikasi pada nomor panggil koleksi terbukti memberikan hasil yang lebih baik. Didapatkan pintasan ini dapat membantu meningkatkan keefektifan dan efisiensi dalam melakukan kegiatan temu kembali informasi di perpustakaan Kemendikbud. Hal ini sekaligus menjawab Research Question satu dan dua, terkait hasil perbandingan dan tingkat keefektifan antara menggunakan label nomor panggil berwarna dengan label nomor panggil hitam putih secara visual. Meskipun dengan jumlah koleksi yang lebih banyak, koleksi pada rak referensi dengan label nomor panggil berwarna tetap mendapatkan nilai yang lebih baik terkait keefektifan dan keefisienan dalam melakukan shelving detail dan pencarian koleksi di rak, dibandingkan dengan koleksi pada rak fiksi yang masih menggunakan nomor panggil hitam putih. Menunjukkan bahwa pemberian warna pada nomor panggil koleksi sangat sesuai diterapkan di sebuah perpustakaan besar dengan jumlah koleksi yang lebih banyak seperti perpustakaan Kemendikbud. Studi komparatif yang dihasilkan ini juga telah terkonfirmasi dengan beberapa penelitian komparasi sejenis lainnya. Secara umum setiap perpustakaan bebas menentukan aspek pewarnaan dari setiap angka kelas klasifikasi utama seperti perpustakaan Kemendikbud, namun sebaiknya ditentukan dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangan terperinci terkait karakteristik serta terminologi dari setiap warna, seperti nuansa, nada, kejenuhan, kroma, kontras, dan sebagainya. Disarankan penelitian selanjutnya dapat melakukan kajian lebih lanjut terkait pengelompokan warna angka 0-9 berdasarkan beberapa pertimbangan yang ada dari setiap warna yang akan dipilih, sebagai warna identitas angka pada klasifikasi kelas utama untuk nomor panggil koleksi.