Pemanfaatan Perpustakaan sebagai Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Minat Baca Mahasiswa PGMI UINSA
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Abstrak
Perpustakaan merupakan sebuah lembaga yang menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan, baik berupa sumber informasi tercetak maupun digital yang berguna untuk memenuhi kebutuhan informasi pembacanya. Perpustakaan juga berfungsi sebagai media pembelajaran bagi satuan pendidikan. Dengan adanya perpustakaan, menjadikan sarana bagi setiap individu untuk meningkatkan minat baca serta budaya literasi di Indonesia yang masih rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan minat baca mahasiswa prodi PGMI Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui angket yang disebar secara online kepada mahasiswa PGMI Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya angkatan 2021. Hasil dari penelitian ini yakni mengenai minat baca mahasiswa prodi PGMI yang diketahui masih terbilang cukup baik, hal ini didukung oleh data angket yang diperoleh. Untuk dapat meningkatkan minat baca, diperlukannya inovasi yang dapat mendongkrak budaya literasi serta inovasi dalam layanan perpustakaan.
Abstract
The library is an institution that provides a variety of information and knowledge in the form of printed and digital information sources that are useful for meeting the information needs of its readers. Libraries also serve as learning media for educational units. The existence of a library provides a means for every individual to increase reading interest and literacy culture in Indonesia which is still low. This study aimed to determine how the use of the library as a learning medium increases the reading interest of PGMI study program students at Sunan Ampel State Islamic University Surabaya. This research is a type of qualitative research with descriptive methods. The data collection technique is through a questionnaire that is distributed online to PGMI students at Sunan Ampel State Islamic University Surabaya class of 2021. The results of this study are regarding the reading interest of PGMI study program students who are known to be quite good, this is supported by the questionnaire data obtained. To increase interest in reading, innovation is needed that can boost literacy culture and innovation in library services.
Keywords:
Library
· Learning Media
· Reading Interest
Introduction
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menyatakan bahwasanya perpustakaan adalah sebuah lembaga yang mengelola berbagai koleksi, baik berupa karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional yang bertujuan sebagai sumber belajar dan pengetahuan dan berguna memenuhi kebutuhan penelitian, pendidikan, dan informasi para pemustaka. Koleksi perpustakaan sendiri berupa karya-karya seperti karya tertulis, karya tercetak, dan karya terekam yang disajikan dalam berbagai media serta memiliki nilai guna dalam dunia pendidikan yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Perpustakaan sendiri menjadi salah satu usaha negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertera dalam UndangUndang Dasar 1945. Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan bisa menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan potensi yang dimiliki masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menjadi warga negara yang bertanggung jawab dalam usaha mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. Perpustakaan menjadi salah satu usaha dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di Indonesia. Pada dasarnya minat baca sendiri menjadi tolak ukur kemajuan masyarakat di suatu negara. Rendahnya minat baca di Indonesia menjadi salah satu permasalahan serius yang dihadapi saat ini. Oleh sebab itu, adanya perpustakaan diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan tersebut1 . Sebagai tempat penyimpanan berbagai ilmu serta sumber informasi, perpustakaan memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang pertama ialah fungsi edukatif, perpustakaan memiliki fungsi sebagai tempat untuk belajar melalui buku-buku yang telah tersedia sehingga pembaca dapat mencari materi-materi yang dibutuhkan. Pada fungsi ini, perpustakaan juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang mana dapat membantu para pembaca untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari buku-buku yang tersedia di perpustakaan, sehingga perpustakaan berperan penting dalam mewujudkan manusia yang unggul, karena di dalam buku terdapat banyak sekali ilmu pengetahuan serta informasi yang bisa digali2 . Fungsi yang kedua yakni fungsi informatif, fungsi ini menekankan kembali bahwa perpustakaan menyimpan berbagai sumber informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Fungsi selanjutnya ialah fungsi penelitian, maksudnya adalah informasi-informasi yang didapat di perpustakaan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam penelitian3 . Kemudian fungsi keempat dari perpustakaan adalah fungsi kultural, maksudnya adalah perpustakaan digunakan sebagai tempat mengembangkan kebudayaan, baik kebudayaan daerah, kebudayaan suatu bengsa, maupun kebudayaan antar bangsa melalui informasiinformasi yang disajikan. Fungsi yang terakhir yakni fungsi rekreasi dan re-kreasi, maksudnya ialah pembaca dapat mencari koleksi ataupun sumber bacaan yang bersifat popular dan menghibur, serta sebagai tempat yang menghasilkan karya (kreasi) yang baru dan berpijak pada karya-karya lain yang telah dipublikasikan. Dari beberapa fungsi perpustakaan yang telah disebutkan, diharapkan akan membuat pengguna atau pembaca tertarik sehingga dapat meningkatkan minat baca bagi para pengguna4 .Fungsi-fungsi perpustakaan tersebut belum terimplementasi dengan baik di Indonesia, sehingga mengakibatkan minat baca di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan data dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2012 menyatakan bahwa di Indonesia sendiri minat untuk membaca masyarakatnya hanya 0,001% yang mana hanya 1 orang dari 1000 orang yang memiliki kegemaran membaca. Rendahnya minat baca di negara ini bisa dirasakan pada tiap jenjang pendidikan, baik dari jenjang sekolah dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Hal tersebut menjadi penyebab dari rendahnya sumber daya manusia yang berkualitas di Indonesia. Kebiasaan membaca sendiri harus ditanamkan sejak kecil agar kedepannya hal tersebut bisa menjadi sebuah kebutuhan yang akan berdampak baik. Masalahnya kebiasaan tersebut tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal di sekolah dasar, yang mana salah satu faktor penyebabnya yakni kurangnya sarana penunjang kegiatan membaca seperti perpustakaan. Di Indonesia sendiri sekolah dasar yang memiliki perpustakaan masih sangat sedikit, namun untuk jenjang SMP, SMA, apalagi perguruan tinggi sudah memiliki fasilitas perpustakaan tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah dengan adanya sarana tersebut apakah minat baca masyarakat Indonesia sudah mengalami peningkatan? Terutama pada dunia perkuliahan yang mana seharusnya membaca menjadi salah satu kebutuhan untuk menambah wawasan. Seorang mahasiswa dituntut agar bisa lebih mandiri dan memiliki pengetahuan luas yang mana hal tersebut bisa didapatkan salah satunya dengan membaca, namun apakah seorang mahasiswa tidak memiliki permasalahan pada minat baca? Penyebab dari rendahnya minat baca pada zaman sekarang ini adalah manusia berada di era teknologi yang mana semua kebutuhan disediakan serba instan, termasuk pencarian referensi yang digunakan untuk mengerjakan tugas. Salah satu contohnya yakni adanya web penyedia parafrase dan rangkuman online, yang mana sebelumnya untuk merangkum dan memparafrase harus terlebih dahulu membaca sekarang hanya bermodalkan satu klik saja semua sudah bisa terselesaikan. Hal seperti inilah yang menyebabkan menurunnya minat baca mahasiswa sehingga muncul rasa malas dan bosan dalam membaca. Selain itu, jika kebiasaan seperti ini akan terus terjadi maka budaya membaca yang telah digencargencarkan sejak dulu sudah tidak dapat terealisasikan dengan baik. Kondisi minat baca pada mahasiswa PGMI UINSA masih dikatakan standart, hal ini dapat terlihat pada keadaan perpustakaan yang masih sedikit pengunjungnya. Dengan adanya berbagai permasalahan tersebut, diharapkan adanya perubahan kearah yang lebih baik mengenai permasalahan membaca ini. Masyarakat dihimbau agar menerapkan budaya membaca demi terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencapai negara maju. Perlu adanya peningkatan kegiatan literasi serta pembangunan sarana membaca di sekolah-sekolah baik dari jenjang SD hingga jenjang SMA agar budaya membaca tidak akan pernah hilang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan minat baca mahasiswa prodi PGMI Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya angkatan 2021. Dalam mengkaji pengaruh perpustakaan terhadap minat baca, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang senada dengan penelitian ini, yaitu E. C. Sari dan S. Mali (2021) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Perpustakaan Sebagai Media Pembelajaran Efektif Terhadap Minat Baca Siswa-Siswi Sekolah MISI Interdominasi Surabaya” menyatakan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat penyedia ilmu gratis bagi pengunjungnya, namun juga kenyamanan perpustakaan perlu diperhatikan. Pengunjung akan senang berada di perpustakaan jika tempatnya nyaman dan suasananya santai sehingga memacu semangat dan motivasi siswa dalam membaca buku di perpustakaan5 . Penelitian lain yaitu oleh N. M. Rusniasa, N. Dantes, dan N. K. Suarni (2021) tentang “Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Minat Baca dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas IV Sd Negeri I Penatih”, menyatakan bahwa untuk meningkatkan minat baca siswa dapat dimulai dari adanya perpustakaan yang menyediakan berbagai bahan bacaan yang banyak sekaligus sebagai media literasi sehingga mampu menciptakan lingkungan yang kaya akan bacaan6 . Selain kedua penelitian tersebut, juga terdapat penelitian dari Risma Niswaty, dkk (2020) yang berjudul “Fasilitas Perpustakaan Sebagai Media Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa”, menyatakan bahwa dalam mendukung minat baca siswa maka diperlukan fasilitas yang menunjang dari perpustakaan misalnya peran guru, pustakawan, penyediaan fasilitas Wi-Fi, penyediaan buku online, jurnal online dan fasilitas-fasilitas lainnya7 . Adapun perbedaan antara penelitian ini dengan penelitianpenelitian lainnya yakni mengenai objek penelitian, yang mana pada penelitian kami objek yang dimaksud merupakan mahasiswa yang berada pada lingkup universitas yang mana dalam segi fasilitas yang disediakan pada perpustakaan jauh lebih lengkap dan lebih memadai dibanding perpustakaan pada jenjang sekolah dasar maupun menengah. Dalam hal ini mahasiswa yang mana pada dasarnya memiliki kesadaran dan pemikiran yang lebih dewasa serta lebih kritis dibandingkan dengan seorang siswa dalam lingkup sekolah, apakah mereka memiliki kesadaran penuh mengenai pentingnya mengembangkan minat baca pada diri mereka guna tercapainya tujuan Negara dalam menghasilkan generasi muda yang cerdas dan berwawasan. Ditambah lagi sebuah fakta yang mana mahasiswa prodi PGMI merupakan calon-calon guru yang akan mencetak generasi penerus bangsa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan minat baca mahasiswa PGMI UINSA. Pendekatan kualitatif deskriptif sendiri merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan suatu data, fakta, serta objek dari sebuah penelitian secara sistematis dan alamiah8 . Sumber data dalam penelitian ini yaitu mahasiswa PGMI UINSA angkatan 2021. Sedangkan untuk teknik pengumpulan datanya melalui penyebaran angket secara online kepada mahasiswa PGMI UINSA angkatan 2021. Bagaimana pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan minat baca, serta apa saja yang menjadi kekurangan dalam pemanfaatan perpustakaan tersebut akan menjadi kajian yang dibahas dalam artikel ini. Untuk menyesuaikan sesuatu yang hendak dicapai dalam penelitian ini, data yang telah terkumpul di lapangan akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif, yang mana analisis tersebut akan menjelaskan sekumpulan data mengenai pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan minat baca mahasiswa PGMI UINSA.
Discussion
1. Perpustakaan Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang memiliki peranan penting dalam mengelola serta menyediakan sumber belajar, baik berupa karya cetak, tulis dan rekam yang dikelola dengan sistem profesional dan memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna di segala bidang, baik itu pendidikan, ilmu pengetahuan, informasi dan rekreasi9 . Menurut Ridwan dan Wahyudi, Perpustakaan adalah salah satu layanan yang menyediakan sumber informasi yang berguna untuk memudahkan para pembaca dalam memenuhi informasi yang dibutuhkan10. Menurut pendapat lain, perpustakaan merupakan institusi penyedia layanan informasi serta pengetahuan dalam beragam bentuk, baik informasi tercetak maupun digital, yang dikelola secara sistematis oleh sumber daya manusia di bidang perpustakaan11. Berdasarkan dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah sebuah lembaga yang menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan, baik berupa sumber informasi tercetak maupun digital yang berguna untuk memenuhi kebutuhan informasi pembacanya. 2. Perpustakaan Sebagai Media Pembelajaran Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang memiliki peranan penting dalam mengelola serta menyediakan sumber belajar, baik berupa karya cetak, tulis dan rekam yang dikelola dengan sistem profesional dan memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna di segala bidang, baik itu pendidikan, ilmu pengetahuan, informasi dan rekreasi12. Pada kegiatan belajar mengajar dibutuhkan sebuah media pembelajaran yang dapat menunjang terlaksananya pembelajaran yang efektif. Media pembelajaran sendiri merupakan alat atau segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik agar lebih mudah untuk dipahami. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat membantu guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran agar apa yang menjadi tujuan dapat terlaksana13. Sesuatu yang dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar dapat diartikan sebagai media pembelajaran, salah satu hal yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran adalah perpustakaan. Perpustakaan sebagai media pembelajaran adalah sebagai tempat penyedia sumber belajar berupa bacaan yang sangat penting untuk menambah pengetahuan serta referensi materi pembelajaran yang telah disampaikan. Selain itu, sumber bacaan yang disediakan perpustakaan dapat menambah minat baca jika fungsi dan peranan perpustakaan dapat dijalankan dengan baik14. Penggunaan perpustakaan sebagai media pembelajaran dibuktikan dengan adanya pengunjung yang memiliki tujuan untuk mencari bahan serta materi yang akan dipelajari pada saat proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, perpustakaan yang ada juga dimanfaatkan sebagai tempat penyedia layanan yang berguna untuk menunjang kegiatan pembelajaran mahasiswa seperti tersedianya jasa cek turnitin. Adanya hal tersebut menjadi bukti bahwasannya perpustakaan merupakan salah satu media pembelajaran karena menjadi sarana yang dapat memfasilitasi serta menunjang proses pembelajaran. 3. Pengaruh Perpustakaan Terhadap Minat Baca Mahasiswa UINSA Minat baca merupakan sebuah sikap ataupun keinginan hati seseorang yang berpengaruh terhadap peningkatan kegiatan membaca, menganalisis, mengingat dan mengevaluasi suatu bacaan yang telah dibaca15. Menurut pendapat lain, minat baca adalah kecenderungan yang ada dalam jiwa seseorang sehingga mendorong orang tersebut memiliki keinginan yang tinggi dalam membaca16. Dengan meningkatnya minat baca pada diri seseorang, maka hal itu menunjukkan kualitas sumber daya manusia. Minat baca sendiri merupakan suatu hal yang terdapat unsur kemauan, dorongan, serta rasa senang dari dalam diri seseorang yang berkaitan dengan kegiatan membaca. Dalam hal ini pembaca memiliki kemauan yang tinggi baik dari diri sendiri maupun mendapat pengaruh dari orang lain, yang mana hal tersebut dilakukan dengan penuh ketekunan17. Di bawah ini merupakan olah data berdasarkan angket yang telah disebar dan didapatkan data sebagaimana berikut : a. Perasaan Senang Membaca di Perpustakaan UINSA Terdapat 52 responden yang terkumpul dan menunjukkan persentase tertinggi terhadap pernyataan perasaan senang membaca di perpustakaan UINSA, yakni pada pilihan “setuju” sebanyak 59,6% atau 31 orang. Sedangkan 9 orang dengan presentase 17,3% memilih jawaban “sangat setuju”, 7 orang dengan persentase 13,5% memilih jawaban “cukup setuju”, 4 orang dengan persentase 7,7% memilih jawaban “tidak setuju”, serta 1 orang dengan presentase 1,9% memilih jawaban “sangat tidak setuju”. Terkait dengan minat baca, diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa PGMI UINSA senang membaca buku di perpustakaan UINSA dikarenakan kelengkapan buku serta sumber informasi yang memadai untuk menunjang kebutuhan mahasiswa. Selain itu, adanya kesadaran dari diri mahasiswa mengenai pentingnya membaca juga menjadi faktor dalam pernyataan kesenangan membaca. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya faktor emosional yang menimbulkan perasaan senang, sesuai dengan pernyataan Crow dan Crow18. Dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kesenangan membaca mahasiswa PGMI di perpustakaan UINSA sudah cukup tinggi. b. Berkunjung ke Perpustakaan UINSA Untuk Membaca Dari 52 jawaban responden yang telah terkumpul, diperoleh presentase tertinggi pada pilihan “setuju” terhadap pernyataan mengenai kunjungan ke perpustakaan UINSA untuk membaca bukubuku yang disediakan guna menambah wawasan, yaitu sebanyak 40,4% atau 21 orang. Sedangkan 15 orang dengan presentase 28,8% memilih jawaban “sangat setuju”, 12 orang dengan presentase 23,1% memilih jawaban “cukup setuju”, 3 orang dengan presentase 5,8% memilih jawaban “tidak setuju”, serta 1 orang dengan presentase 1,9% memilih jawaban “sangat tidak setuju”. Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya rata-rata mahasiswa setuju berkunjung ke perpustakaan untuk menambah wawasan dengan membaca buku. Dengan ini juga dapat diketahui jika mahasiswa mengetahui pentingnya menambah wawasan dan ilmu dari buku-buku yang telah dibaca. Dari ilmuilmu tersebut dapat dijadikan sebagai bekal untuk menghadapi tantangan perkembangan zaman. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwasannya buku merupakan jendela dunia. c. Berkunjung ke Perpustakaan UINSA Untuk Mencari Referensi Berdasarkan 52 jawaban responden, diperoleh presentase tertinggi pada pilihan “setuju” terhadap pernyataan mengenai kunjungan ke perpustakaan UINSA untuk mencari referensi dalam pembuatan tugas, yaitu sebanyak 44,2% atau 23 orang. Sedangkan 14 orang dengan presentase 26,9% memilih jawaban “sangat setuju”, 11 orang dengan presentase 21,2% memilih jawaban “cukup setuju”, 3 orang dengan presentase 5,8% memilih jawaban “tidak setuju”, serta 1 orang dengan presentase 1,9% memilih jawaban “sangat tidak setuju”. Presentase tersebut dapat menyimpulkan bahwa tingkat kunjungan mahasiswa PGMI ke perpustakaan UINSA untuk mencari referensi dalam pembuatan tugas sudah cukup tinggi. Alasan yang melatarbelakangi hal ini yaitu karena kelengkapan sumber informasi yang ada di perpustakaan UINSA sehingga bisa dijadikan bahan referensi dalam pembuatan tugas mahasiswa. d. Berkunjung ke Perpustakaan UINSA karena Ingin Membaca Dari 52 jawaban responden yang telah terkumpul, diperoleh presentase tertinggi pada pilihan “setuju” terhadap pernyataan mengenai kunjungan ke perpustakaan UINSA karena ingin membaca berbagai bacaan di perpustakaan UINSA, yaitu sebanyak 42,3% atau 22 orang. Sedangkan 14 orang dengan presentase 26,9% memilih jawaban “cukup setuju”, 10 orang dengan presentase 19,2% memilih jawaban “sangat setuju”, 5 orang dengan presentase 9,6% memilih jawaban “tidak setuju”, serta 1 orang dengan presentase 1,9% memilih jawaban “sangat tidak setuju”. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa banyak mahasiswa yang berkunjung ke perpustakaan UINSA dikarenakan ingin membaca berbagai bacaan disana, baik bacaan fiksi maupun bacaan non fiksi. Selain itu, perpustakaan juga dilengkapi dengan pojok baca dan ruang baca yang menarik sehingga mampu menarik memadai dapat menjadi salah satu penunjang keterlaksanaan dari sebuah perpustakaan agar dapat berjalan lebih baik, hal tersebut juga dapat mempengaruhi minat kunjungan ke perpustakaan19. e. Berkunjung ke Perpustakaan UINSA karena Tertarik dengan Bacaan yang Disediakan Dari 52 jawaban responden yang telah terkumpul, diperoleh presentase tertinggi pada pilihan “setuju” terhadap pernyataan mengenai kunjungan ke perpustakaan UINSA karena memiliki ketertarikan terhadap berbagai bacaan yang disediakan di perpustakaan UINSA, yaitu sebanyak 50% atau 26 orang. Sedangkan 14 orang dengan presentase 26,9% memilih jawaban “cukup setuju”, 9 orang dengan presentase 17,3% memilih jawaban “sangat setuju”, 2 orang dengan presentase 3,8% memilih jawaban “tidak setuju”, serta 1 orang dengan presentase 1,9% memilih jawaban “sangat tidak setuju”. Dari data yang sudah diperoleh dapat diketahui bahwasannya mahasiswa PGMI UINSA memiliki ketertarikan terhadap bacaan yang disediakan, hal ini dikarenakan banyaknya jenis bacaan yang tersedia di perpustakaan baik dari kitab-kitab maupun buku yang ada begitu beragam jenisnya. Hal itu juga didukung dengan lengkapnya fasilitas yang ada di perpustakaan untuk menunjang kenyamanan pengunjung dalam kegiatan membaca. Dari data yang telah terkumpul diatas, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa sampel yang menunjukkan minimnya literasi di kalangan mahasiswa PGMI UINSA. Padahal seharusnya membaca bukan lagi hal yang harus digalakkan pada jenjang perguruan tinggi. Mahasiswa dirasa sebagai individu yang sadar penuh akan pentingnya kegiatan membaca diharapkan dapat berinisiatif dalam pengembangan minat baca dalam dirinya, karena pada dasarnya setiap aktivitas yang berhubungan dengan perkuliahan baik dalam pengerjaan tugas maupun penambah wawasan tidak akan terlepas dengan yang namanya membaca. Sebenarnya dalam hal ini, perpustakaan berperan penting dalam meningkatkan literasi mahasiswa, namun pada kenyataannya belum terealisasikan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukannya suatu inovasi dalam meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Menurut Rusydiyah, terdapat beberapa tahapan inovasi dalam meningkatkan literasi. Yang pertama adalah knowledge, proses inovasi dimulai dari tahap pengetahuan, yakni seseorang harus memiliki kesadaran akan pentingnya membaca. Melalui kegiatan membaca, pengetahuan dan pengalaman seseorang akan bertambah, daya pikirnya semakin meningkat, serta daya nalarnya menjadi semakin tajam. Tahap yang kedua yaitu persuasion, tahap ini terjadi ketika seseorang sudah memiliki sedikit pengetahuan mengenai adanya suatu inovasi. Proses ini dimulai saat timbul kebutuhan seseorang terhadap perpustakaan untuk mencari sumber referensi dalam mengerjakan tugas dan kebutuhan akan sumber bacaan untuk menambah wawasan pembaca. Pada tahap ini dibuat sebuah inovasi untuk mengajak mahasiswa dalam kegiatan membaca di perpustakaan UINSA20. Tahap selanjutnya yaitu decision, tahap ini sendiri merupakan tahapan pengambilan keputusan terhadap ajakan yang telah dilakukan. Jika pembaca menerima terjadinya inovasi maka sepenuhnya akan menerapkan inovasi, jika sebaliknya pembaca menolak inovasi maka tidak akan ada penerapan inovasi yang dilakukan. Perlu diketahui bahwasannya pada setiap tahap akan memiliki peluang terhadap penolakan inovasi, namun untuk tahap ini sendiri adalah tahap pengambilan keputusan untuk rencana tindakan selanjutnya. Tahap implementation, pada tahap ini merupakan penerapan dari sebuah inovasi yang telah dibuat, bagaimana implementasi dari inovasi tersebut dalam meningkatkan budaya literasi di lingkungan mahasiswa UINSA. Dan yang terakhir adalah tahap confirmation, tahap ini merupakan penguatan atas keputusan yang telah diambil. Pada tahap konfirmasi ini sebisa mungkin menghindari terjadinya disonansi atau perubahan perilaku seseorang. Selain inovasi terhadap budaya literasi, juga diperlukan inovasi dalam layanan perpustakaan UINSA agar dapat menarik para pemustaka yang dalam hal ini adalah mahasiswa. Menurut penelitian dari Djaenudin dan Tupan (2020) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Produk Pengetahuan Sebagai Inovasi Layanan Perpustakaan di Era Industri 4.0”, menyatakan bahwa untuk dapat meningkatkan layanan perpustakaan di era industri 4.0 perpustakaan harus melakukan sebuah inovasi. Salah satunya adalah dengan mengembangkan produk layanan berbasis pengetahuan yang bersifat inovatif, menarik dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Dengan adanya inovasi ini, diharap dapat mempermudah pemustaka dalam mendapatkan informasi, dan bagi pemangku kepentingan produk pengetahuan berguna untuk mengambil suatu keputusan kebijakan yang digunakan sebagai memperbaiki suatu layanan organisasi21. Berdasarkan penelitian oleh Saenal Abidin (2020) dalam judul penelitian “Meningkatkan Kemampuan Diri Pustakawan Berbasis Soft Skill di Era Revolusi Industri 4.0”, ada 4 inovasi yang mungkin dapat diterapkan dalam layanan perpustakaan, yaitu: (1) Inovasi layanan dari segi pengelolaan koleksi, dalam hal ini perpustakaan dapat menggunakan sistem berbasis AI (Artificial Intelligent) untuk pendataan dan pendeteksi judul, pemberian nomor induk dan nomor klasifikasi serta pelabelan secara otomatis; (2) Inovasi layanan sirkulasi, dalam hal ini pustakawan di bagian sirkulasi tidak perlu melakukan scanning barcode untuk peminjaman dan pengembalian buku, namun dapat dibantu oleh sistem yang mana ketika pemustaka melewati pintu keluar akan terdeteksi secara otomatis tanpa harus menunggu antrian. Pustakawan cukup mengontrol sistem tersebut dari layar monitor; (3) Inovasi kegiatan shelving koleksi, shelving sendiri merupakan suatu proses penataan kembali koleksi pada rak sesuai dengan nomor panggil. Seiring berkembangnya zaman, bisa saja di masa mendatang kegiatan shelving koleksi sudah tidak dilakukan lagi oleh pustakawan, melainkan menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligent); (4) Populernya layanan online koleksi fisik perpustakaan, di masa digital natives seperti saat ini, memungkinkan perpustakaan untuk mengupayakan layanan pengantar koleksi berupa aplikasi khusus layanan perpustakaan berbasis pengantaran buku atau koleksi22. Dalam meningkatkan minat baca, perpustakaan memiliki peranan yang sangat penting. Faktor pendukung perpustakaan dalam meningkatkan minat baca yakni meliputi: 1) Pustakawan yang memadai, yaitu kepala perpustakaan dan orang-orang yang berjaga di perpustakaan; 2) Anggota perpustakaan yang cukup banyak, hal ini membuat perpustakaan selalu dikunjungi setiap harinya; 3) Fasilitas perpustakaan yang memadai, diantaranya tempat baca yang menarik, sudut baca yang menarik, sudah menggunakan sistem elektronik dalam pelayanannya, dan ketersediaan jaringan internet (Wi-Fi) yang membantu mahasiswa dalam pengerjaan tugas. Selain faktor pendukung, juga terdapat faktor penghambat perpustakaan dalam meningkatkan minat baca adalah 1) Banyaknya anggota yang kurang sadar akan pentingnya perpustakaan dan mengunjunginya untuk belajar, membaca buku, maupun dalam pengerjaan tugas; 2) Kurangnya pendekatan, seperti sosialisasi tentang perpustakaan kepada mahasiswa.
Conclusion
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa minat baca mahasiswa PGMI UINSA terbilang cukup baik. Dibuktikan dengan data yang diperoleh, sebagian besar mahasiswa memilih jawaban setuju terhadap pernyataan-pernyataan mengenai perpustakaan sebagai tempat baca yang baik. Perpustakaan sendiri berperan besar bagi proses pendidikan mahasiswa, baik dalam hal pengerjaan tugas, pemenuhan materi pelajaran atau bahkan sekedar membaca untuk menambah informasi. Adanya hal tersebut, merupakan salah satu bentuk pemanfaatan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca. Faktor pendukung perpustakaan dalam meningkatkan minat baca yaitu: 1) Pustakawan yang memadai, 2) Anggota perpustakaan yang cukup banyak, 3) Fasilitas perpustakaan yang memadai. Tentunya dalam meningkatkan minat baca mahasiswa PGMI UINSA, diperlukan sebuah inovasi yang bisa mendongkrak budaya literasi di lingkungan kampus. Salah satu inovasi yang bisa diterapkan yaitu inovasi pada layanan perpustakaan, baik dari segi pengelolaan koleksi, layanan sirkulasi, inovasi shelving koleksi, maupun inovasi pengantaran koleksi. Adanya permasalahan dalam pemanfaatan perpustakaan seperti kurangnya kesadaran mahasiswa akan pentingnya perpustakaan serta kurangnya sosialisasi tentang perpustakaan kepada mahasiswa menjadi faktor penghambat adanya perpustakaan sebagai media dalam meningkatkan minat baca mahasiswa di UINSA.