Kembali
16
1
2025 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 13 · 2 ISSN 2477-5320

Penerapan Kegiatan Read Aloud pada Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun

Universitas Sebelas Maret; Universitas Sebelas Maret

Abstrak

Data terbaru dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Kota Madiun memiliki Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tinggi pada tahun 2024 dengan skor 96,53, menempati peringkat ketiga tertinggi di Jawa Timur setelah Kota Surabaya dan Kota Blitar.. Mereka sering datang secara berkelompok untuk mengikuti kegiatan pengenalan budaya literasi. Salah satu bentuk dukungan terhadap hal tersebut adalah pelaksanaan kegiatan read aloud di Layanan Khusus Anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kegiatan read aloud dan hambatan yang dihadapi pada layanan khusus anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap dua pustakawan pelaksana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan read aloud dilakukan secara rutin saat kunjungan PAUD dan TK, dengan tahapan pemilihan buku yang sesuai, pembacaan menggunakan ekspresi, serta pelibatan anak dalam cerita. Adapun hambatan yang muncul mencakup perbedaan karakter dan tingkat konsentrasi anak, yang menuntut pustakawan untuk menerapkan strategi kreatif dan pendekatan yang komunikatif agar semua anak tetap terlibat. Kegiatan ini terbukti mampu menciptakan suasana literasi yang menyenangkan dan memperkuat kebiasaan membaca sejak dini.

Abstract

Madiun City ranked second as the city/district with the highest Community Literacy Development Index (IPLM) in 2023. Children aged early childhood education (PAUD), kindergarten, and elementary school (SD) are the highest contributors to visits to the Regional Library. They often come in groups to participate in literacy culture introduction activities. One form of support for this is the implementation of read-aloud activities in the Special Children’s Service. This study aims to determine the implementation of read-aloud activities and the obstacles encountered in the special children’s service at the Madiun City Library and Archives Office. This study used a descriptive qualitative method with data collection techniques including interviews, observation, and documentation with two implementing librarians. The results indicate that read-aloud activities are routinely conducted during PAUD and kindergarten visits, with the stages of selecting appropriate books, reading with expression, and involving children in the stories. Challenges that arise include differences in children’s character and concentration levels, requiring librarians to implement creative strategies and a communicative approach to keep all children engaged. This activity has been proven to create a fun literacy atmosphere and strengthen early reading habits.
Keywords: Read Aloud · Children’s Services · Early Literacy · Public Library

Introduction

Perpustakaan merupakan institusi penting dalam pengelolaan koleksi bahan bacaan dan sumber informasi yang disusun secara sistematis untuk memudahkan akses pengguna1 . Salah satu jenis perpustakaan adalah perpustakaan umum, yang berperan dalam menyediakan layanan informasi bagi semua kalangan masyarakat tanpa membedakan usia, status sosial, atau latar belakang lainnya2 . Dalam konteks ini, layanan khusus anak di perpustakaan umum memiliki peran strategis untuk menumbuhkan minat baca sejak dini melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan, seperti read aloud3 . Tujuan dari adanya layanan khusus anak adalah untuk membantu mengembangkan kecakapan, menambah pengetahuan sosial serta membiasakan anak-anak terbiasa untuk gemar membaca sejak dini hingga dewasa4 . Maka dari itu, perpustakaan umum memiliki peran strategis dalam pendidikan dan peningkatan minat baca seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Minat baca merupakan kesadaran pribadi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan membaca yang muncul karena adanya motivasi internal serta diperkuat oleh pengaruh lingkungan sekitar 5 . Berdasarkan Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) menyebut warga Kota Madiun memiliki minat baca atau Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tinggi pada 2024, yakni dengan skor 96,53. Angka itu merupakan tertinggi ketiga se-Jatim di bawah Kota Surabaya (skor 100) dan Kota Blitar (skor 97,32). Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat pada 2024 di Kota Madiun tersebut juga naik dari tahun 2023 yang tercatat dengan skor 93,94. IPLM adalah pengukuran terhadap sejauh mana pemda mewujudkan budaya literasi masyarakat melalui pembinaan dan pengembangan perpustakaan6 . Salah satu upaya untuk mempertahankan capaian ini adalah melalui kegiatan read aloud di Layanan Khusus Anak. Kegiatan read aloud ini dinilai efektif dalam meningkatkan minat baca anak karena melibatkan ekspresi, intonasi, dan interaksi langsung, lebih lanjut pada kegiatan ini memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan dengan melibatkan pemahaman isi, keterlibatan emosional dan memperkenalkan kosakata baru7 . Read aloud tidak hanya memperkenalkan literasi secara positif tetapi juga memperkaya kosakata dan membangun hubungan emosional antara anak dan pendamping8 . Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kegiatan read aloud pada Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun serta hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Program layanan anak dengan memberikan kegiatan read aloud memberikan dampak positif terhadap literasi anak9 . Read aloud mampu meningkatkan minat baca dan wawasan siswa10. Pentingnya fasilitas ramah anak dan peran pustakawan dalam menunjang keberhasilan program layanan anak11. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan read aloud berkontribusi besar terhadap perkembangan literasi anak. Namun, keberhasilan pelaksanaannya tidak lepas dari pemahaman yang tepat mengenai prinsip-prinsip dasar dalam read aloud. Beberapa prinsip utama yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, yaitu12 Pertama pemilihan Materi Bacaan yang Kaya Konten Akademik, dimana pemilihan bahan bacaan yang tidak hanya menarik secara naratif tetapi juga mengandung unsur edukatif yang kuat. Teks informasional seperti buku tentang sains dasar atau kehidupan alam dianggap lebih efektif karena secara alami memperkenalkan terminologi akademik kepada anak-anak. Kedua, pendekatan Interaktif dalam Penyampaian, konsep ini menekankan pada transformasi kegiatan membaca dari aktivitas satu arah menjadi pengalaman belajar interaktif. Pembaca didorong untuk secara aktif menghubungkan isi cerita dengan pengalaman nyata anak-anak sambil memberikan definisi sederhana untuk katakata yang mungkin baru pertama kali didengar oleh peserta didik. Ketiga, stimulasi Keingintahuan Alamiah Anak, pada prinsip ini menempatkan kegiatan membaca sebagai katalisator untuk memicu pertanyaan dan eksplorasi lebih lanjut. Bacaan dipilih bukan semata untuk hiburan, tetapi khusus dirancang untuk membangkitkan ketertarikan anak terhadap fenomena dunia sekitar mereka. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana penerapan kegiatan read aloud pada Layanan Khusus Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. (2) Apa saja hambatan yang dihadapi dalam penerapan kegiatan read aloud pada Layanan Khusus Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan umum merupakan lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat (Pasal 1 Ayat 6). Perpustakaan ini memiliki prinsip inklusivitas, yakni memberikan akses layanan tanpa membedakan usia, tingkat pendidikan, suku, ras, agama, maupun status sosial-ekonomi. Prinsip ini sejalan dengan tujuan penyelenggaraan perpustakaan sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yang menegaskan pentingnya pemerataan akses informasi dan layanan perpustakaan bagi seluruh Masyarakat13. Perpustakaan memiliki berbagai fungsi penting dalam mendukung perkembangan Masyarakat14 . Pertama, perpustakaan berfungsi sebagai penyedia informasi dan layanan literasi, yaitu sarana yang menyediakan berbagai sumber dan layanan informasi untuk membantu masyarakat memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, perpustakaan berperan sebagai pendukung pendidikan dan pembelajaran seumur hidup melalui koleksi dan kegiatan edukatif yang mendorong masyarakat untuk terus belajar di berbagai tahapan usia, sehingga mendukung pemerataan akses pendidikan yang berkualitas. Ketiga, perpustakaan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan dengan menyediakan pelatihan keterampilan dan kegiatan produktif yang membantu masyarakat menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan taraf hidup mereka. Keempat, perpustakaan berperan sebagai fasilitator akses literasi dan teknologi informasi dengan membuka akses yang luas terhadap berbagai sumber literasi dan layanan daring agar masyarakat lebih mudah memperoleh informasi yang relevan dan bermanfaat. Terakhir, perpustakaan berfungsi sebagai pelestari budaya dan sumber referensi ilmiah melalui koleksi langka dan budaya yang dijaga sebagai warisan intelektual serta menjadi sumber rujukan bagi peneliti dan akademisi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Read aloud (membaca nyaring) merupakan teknik membacakan teks dengan suara lantang dan ekspresif kepada anak atau siswa, disertai penggunaan intonasi, mimik wajah, serta interaksi yang aktif dengan pendengar. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan minat baca, memperkaya perbendaharaan kosakata, serta mengembangkan keterampilan literasi anak sejak usia dini 15 . Tujuan kegiatan read aloud adalah untuk membangun fondasi keterampilan berbahasa dan pengetahuan isi melalui paparan kegiatan membaca nyaring sejak masa kanak-kanak. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan teks informasional yang dapat mendukung pembelajaran kosakata akademik dan memperluas pengetahuan anak. Tujuan lainnya yaitu membangkitkan rasa ingin tahu anak-anak terhadap dunia di sekitarnya melalui penyajian teks informasional serta memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang muncul selama proses membaca 16. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana penerapan kegiatan read aloud dilakukan dalam layanan anak di perpustakaan umum. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami fenomena secara alami dan kontekstual, berdasarkan pengalaman subjek di lapangan17. Lebih lanjut teknik pengumpulan data mencakup wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap dua pustakawan pelaksana kegiatan read aloud untuk memperoleh informasi tentang proses pelaksanaan, strategi, serta hambatan yang dihadapi. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung dinamika kegiatan dan keterlibatan anakanak. Sementara dokumentasi melengkapi data melalui arsip foto kegiatan, laporan internal, dan catatan pustakawan. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri atas tiga tahap: (1) reduksi data, yakni penyaringan dan pemilahan data sesuai fokus penelitian; (2) penyajian data, berupa paparan naratif yang memudahkan interpretasi; dan (3) penarikan kesimpulan, yaitu proses merumuskan temuan berdasarkan pola yang muncul dari data yang telah dianalisis18. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan teori Wang tentang prinsip read aloud, yang mencakup pemilihan materi edukatif, pendekatan interaktif, dan stimulasi keingintahuan anak. Teori ini dinilai lebih relevan dengan praktik layanan anak di perpustakaan umum tingkat kota dibandingkan teoriteori sebelumnya19. Hasil dari studi ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan strategi literasi anak berbasis layanan perpustakaan dan mendukung kebijakan literasi di daerah. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling karena sampel dianggap memiliki pemahaman dan terlibat secara langsung pada kegiatan Read Aloud di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. Informan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria tertentu. Pertama, informan merupakan pustakawan ahli muda yang memiliki pemahaman mendalam tentang layanan anak serta telah menjabat selama 14 tahun dalam bidang pelaksanaan layanan anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. Kedua, informan merupakan pustakawan pertama yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan kegiatan read aloud dan telah menjadi penanggung jawab kegiatan kunjungan anak selama 6 tahun di instansi yang sama. Adapun informan dalam penelitian ini yaitu : Tabel 1. Daftar Nama Informan Penelitian No. Nama Informan Jabatan 1. Siti Wahyu Sulastri Pustakawan muda pada bidang Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun 2. Puji Harini Pustakawan pertama pada bidang Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun

Discussion

1. Pengertian Perpustakaan Umum Perpustakaan umum merupakan lembaga penyedia layanan informasi yang ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, atau status sosial. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa perpustakaan umum diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan memiliki fungsi sebagai guna meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan masyarakat20. Perpustakaan umum tidak hanya memiliki fungsi edukatif, tetapi juga sosial dan rekreatif. Perpustakaan umum menyediakan koleksi yang beragam serta layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas pengguna. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjangkau berbagai kelompok usia, khususnya anak-anak, adalah melalui pengembangan layanan khusus seperti layanan anak21. 2. Layanan Anak di Perspustakaan Umum Layanan anak di perpustakaan umum merupakan strategi menjaring pembaca sejak dini dengan mengenalkan anak pada dunia literasi melalui pendekatan edukatif dan menyenangkan 22. Menurut UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, anak adalah individu berusia di bawah 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan. Layanan anak dirancang khusus untuk menyediakan fasilitas dan kegiatan literasi kreatif, seperti membaca cerita, mendongeng, menggambar, dan permainan edukatif guna menumbuhkan minat baca sejak dini23. Dengan demikian, layanan ini berperan penting sebagai media pembelajaran nonformal yang ramah anak dan mendukung perkembangan literasi anak secara optimal24. 3. Tujuan Layanan Anak Layanan anak di perpustakaan umum memiliki peran strategis dalam mendukung proses perkembangan anak melalui kegiatan literasi yang bersifat edukatif dan menyenangkan. Tujuan utama dari penyelenggaraan layanan ini adalah menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan jenjang usia dan tahap perkembangan anak, sehingga dapat menumbuhkan minat baca sejak dini. Selain itu, layanan ini juga memberikan pendampingan dalam pemilihan bacaan yang tepat guna membentuk kebiasaan membaca yang mandiri dan bertanggung jawab25. 4. Pengertian Read Aloud Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membaca diartikan sebagai kegiatan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, baik dengan melafalkannya secara lisan maupun hanya dalam hati. Sementara itu, nyaring diartikan sebagai suara yang terdengar jelas, lantang, dan keras. Dengan demikian, secara bahasa, membaca nyaring dapat dipahami sebagai kegiatan membaca teks tertulis dengan suara keras dan jelas agar dapat didengar oleh orang lain. Kegiatan read aloud sangat berpengaruh jika diterapkan pada anak usia dini karena pada tahap ini, kemampuan mendengar, berbicara, dan membangun imajinasi sedang berkembang pesat. Oleh karena itu, kegiatan ini sering digunakan dalam program literasi awal, baik di lingkungan pendidikan formal maupun nonformal, termasuk perpustakaan umum. Wang et al (2025), menyatakan bahwa membaca nyaring yang dilakukan dengan pemilihan materi bacaan yang kaya konten akademik, pendekatan interaktif dalam penyampaian, dan stimulasi keingintahuan alamiah anak akan berdampak terhadap perkembangan bahasa akademik anak, termasuk dalam perluasan kosakata, pemahaman struktur kalimat, serta kemampuan berpikir naratif. 5. Manfaat Read Aloud Manfaat penerapan read aloud sangat beragam dan memberikan dampak positif bagi perkembangan literasi anak. Kegiatan ini mampu menarik perhatian anak-anak serta meningkatkan minat baca mereka, sekaligus memperkuat fungsi edukatif perpustakaan dan membangun citra positif sebagai ruang belajar yang menyenangkan26. Read aloud berperan penting dalam mengembangkan keterampilan dasar berbahasa anak, seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis27. Selain itu, kegiatan ini dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dalam menyampaikan ide dan perasaan, serta menceritakan kembali isi cerita. Interaksi selama proses membaca juga menstimulasi bahasa reseptif anak melalui sesi tanya jawab, mempererat hubungan emosional antara anak dan orang dewasa seperti guru atau orang tua, serta menumbuhkan minat baca sejak dini sebagai fondasi literasi awal. 6. Tujuan Read Aloud Tujuan utama dari kegiatan read aloud adalah menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini melalui pengalaman membaca yang menyenangkan, interaktif, dan bermakna. Read aloud berperan dalam membangun minat baca anak dengan cara yang menyenangkan, sehingga anak-anak tidak menganggap membaca sebagai kewajiban, melainkan sebagai aktivitas yang menghibur dan membuka wawasan28. Kegiatan ini memperkenalkan literasi secara positif, memperkaya kosakata anak, melatih pengucapan, dan membantu mereka memahami struktur kalimat melalui paparan bahasa lisan yang beragam. 7. Penerapan Read Aloud pada Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun Pelaksanaan kegiatan read aloud di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun merupakan bagian dari strategi layanan anak untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Tingginya jumlah kunjungan dari anak-anak PAUD dan TK sebagaimana tercatat dalam dokumentasi perpustakaan, menjadi indikator nyata bahwa kelompok usia dini merupakan segmen pengguna aktif yang potensial dalam membangun kebiasaan membaca. Dalam konteks ini, kegiatan read aloud menjadi pilihan metode yang tepat karena tidak hanya memberikan pengalaman literasi yang menyenangkan, tetapi juga bersifat edukatif dan partisipatif. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan dua pustakawan pelaksana, kegiatan read aloud diselenggarakan secara rutin setiap kali ada kunjungan dari lembaga PAUD dan TK. Walaupun tidak dilaksanakan setiap hari, kegiatan ini dirancang agar tetap terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pelaksanaan read aloud mengacu pada prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Wang yakni: pemilihan materi bacaan yang kaya konten akademik, pendekatan penyampaian yang interaktif, serta upaya untuk menstimulasi keingintahuan alamiah anak terhadap dunia di sekitarnya29. a. Pemilihan Materi Bacaan yang Kaya Konten Akademik Pemilihan materi bacaan yang kaya konten akademik merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam pelaksanaan kegiatan read aloud, karena buku yang dipilih akan menentukan tingkat keterlibatan, pemahaman, dan ketertarikan anak terhadap cerita yang disampaikan. Proses ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui pertimbangan yang matang terhadap sejumlah kriteria, seperti kesesuaian usia pembaca, tingkat keterbacaan teks, daya tarik ilustrasi, dan kandungan nilai edukatif yang terdapat dalam cerita. Buku yang dipilih harus mampu menyampaikan pesan dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak, namun tetap kaya makna dan menggugah rasa ingin tahu mereka. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan didapatkan bahwa Tentunya, buku yang digunakan harus menarik dari segi tema, cerita, dan isi yang sesuai dengan anak-anak. Jadi, kami tidak sembarangan langsung mengambil buku untuk dibacakan. Tetap kami telaah terlebih dahulu, kami baca lebih dulu, karena bisa saja di dalam buku tersebut terdapat unsur kekerasan. Kadang-kadang, meskipun buku itu termasuk kategori cerita anak, jika tidak diteliti dengan cermat, masih ditemukan beberapa yang mengandung unsur kekerasan. Oleh karena itu, kami sangat memperhatikan hal-hal semacam itu30. Secara umum, buku yang digunakan dalam kegiatan ini berbentuk cerita bergambar, karena format ini dinilai paling efektif untuk anak usia dini. Ilustrasi yang menarik dan berwarna-warni mampu membantu anak membayangkan alur cerita sekaligus memudahkan mereka memahami konteks visual dari narasi yang dibacakan. Selain itu, cerita bergambar cenderung menggunakan kalimat yang sederhana, namun tetap menyisipkan kosakata baru dan pesan moral yang dapat membentuk karakter anak sejak dini. Salah satu buku yang digunakan dalam kegiatan ini adalah “Boneka Rambut Jagung” karya Bambang Joko Susilo. Buku ini merupakan contoh ideal dari cerita anak yang tidak hanya bersifat fiksi, tetapi juga memuat unsur informatif. Kisah tentang tokoh utama bernama Lulu dan teman-temannya disampaikan dengan alur yang ringan dan menyenangkan, namun secara tidak langsung memperkenalkan anak pada pengetahuan dasar mengenai tanaman jagung, mulai dari proses penanaman hingga pemanfaatan bagian-bagiannya. Melalui pendekatan naratif seperti ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga memperoleh pemahaman ilmiah yang kontekstual. Cerita semacam ini sangat cocok digunakan dalam kegiatan read aloud di perpustakaan karena berpotensi membangkitkan rasa penasaran anak, memperluas wawasan mereka, dan mendorong diskusi interaktif seputar topik yang dibacakan. Buku dengan pendekatan gabungan antara cerita dan fakta juga membantu anakanak untuk mengaitkan cerita dengan kehidupan nyata mereka, sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan, relevan, dan membekas dalam ingatan mereka. Tindakan ini sejalan dengan prinsip yang dikemukakan oleh Wang et al. bahwa pemilihan bahan bacaan dalam kegiatan read aloud harus memperhatikan konten yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak, serta memiliki nilai edukatif yang mendukung perkembangan literasi. b. Pendekatan Interaktif dalam Penyampaian Salah satu pendekatan interaktif dalam penyampaian read aloud adalah pembacaan ekspresif merupakan teknik penting yang digunakan pustakawan dalam kegiatan read aloud untuk menciptakan suasana yang hidup, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh anak-anak usia dini. Teknik ini melibatkan variasi intonasi suara, pengaturan tempo, serta penggunaan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sesuai dengan jalannya cerita. Semua elemen tersebut berfungsi membangun suasana yang sesuai dengan isi bacaan, sehingga anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakannya. Hasil wawancara dengan informan kedua menunjukkan Kemudian, membaca dengan intonasi yang menarik, jadi tidak, apa ya, istilahnya datar, gitu. nanti, anak- anak malah tidak tertarik. Jadi, di saat ada, kayak konflik gitu, kita harus ada penekanan intonasi. Atau di saat-saat tertentu, ada suara-suara yang mungkin bisa kita up, gitu, biar mereka itu kayak ada rasa, kok penasaran, gitu31. Dalam membacakan buku “Boneka Rambut Jagung” karya Bambang Joko Susilo, pustakawan menerapkan teknik ini dengan penuh perhatian. Misalnya, saat tokoh Lulu menemukan rambut jagung dan mulai berpikir tentang apa yang bisa dibuat darinya, pustakawan menampilkan ekspresi wajah yang tampak sedang bertanya-tanya — mengerutkan dahi sedikit, menatap ke atas, dan mengucapkan kalimat seperti, “Kira-kira, rambut jagung ini bisa jadi apa, ya?” dengan nada pelan dan penuh rasa ingin tahu. Ekspresi dan intonasi seperti ini sengaja digunakan untuk menstimulasi rasa penasaran anak-anak dan mendorong mereka ikut berpikir serta menebak kelanjutan cerita. Pustakawan juga menyesuaikan suara dengan karakter dalam cerita. Suara Lulu disampaikan dengan nada lembut dan antusias, sedangkan teman-temannya diberi suara riang dan penuh semangat. Ketika bagian cerita mencapai momen di mana boneka berhasil dibuat, nada suara berubah menjadi lebih ceria dan ekspresif, misalnya dengan mengucapkan, “Lihat! Bonekanya jadi juga! Lucu banget, ya?” diiringi dengan senyum lebar dan mata berbinar, untuk menggambarkan kegembiraan dalam cerita. Improvisasi dialog juga menjadi bagian penting dari pembacaan ekspresif. Ketika cerita mengarah pada ide membuat boneka dari rambut jagung, pustakawan dapat menyisipkan pertanyaan kepada anak-anak seperti, “Kalau kalian menemukan rambut jagung, apa yang akan kalian buat?” atau “Menurut kalian, kenapa Lulu ingin membuat boneka dari rambut jagung?” Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya menjaga keterlibatan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan daya imajinasi anak. Dengan pembacaan ekspresif yang menyatu dengan alur cerita, anak-anak tidak hanya mendengarkan secara pasif, tetapi juga berinteraksi secara emosional dan kognitif. Ekspresi yang seolah bertanya-tanya menjadi alat yang sangat efektif untuk memancing partisipasi aktif mereka, membangun rasa ingin tahu, dan menjadikan cerita sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendidik. Praktik ini mencerminkan prinsip kedua teori Wang et al. (2025), yaitu pendekatan interaktif dalam penyampaian, di mana anak didorong untuk tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam pemahaman isi bacaan. Dengan demikian, kegiatan read aloud di perpustakaan ini menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membangun keterampilan berpikir kritis dan literasi sejak dini. c. Stimuluas Keingintahuan Alamiah Anak Pustakawan memainkan peran aktif dalam mendorong keterlibatan anak selama sesi read aloud, agar mereka tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi benar-benar terlibat secara emosional, kognitif, dan imajinatif dalam cerita yang dibacakan. Dengan pelibatan aktif ini bertujuan membangun stimulasi keingintahuan alamiah anak, suasana interaktif dan menyenangkan, sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan pemahaman, pendapat, serta imajinasinya secara bebas. Berbagai strategi digunakan pustakawan untuk meningkatkan partisipasi anak. Hasil wawancara dengan informan kedua menunjukkan Interaksinya biasa ya dengan tanya-jawab gitu ya. Untuk menggali pengetahuan dan imajinasi anak lewat cerita yang tadi dibacakan. Misalkan ceritanya itu temanya apa gitu, nanti kita gali terus. Oh ini gambar apa? Ini fungsinya apa? begitu, dan bisa juga untuk anak menceritakan kembali melalui bahasanya sendiri, begitu 32 . Anak-anak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan, menebak alur cerita berikutnya, menirukan suara tokoh, hingga mengulang bagian cerita yang mereka sukai. Tidak jarang, anak menjadi percaya diri bahkan berani menceritakan kembali isi cerita secara mandiri di depan teman-temannya, menggunakan kata-kata mereka sendiri. Momen seperti ini menjadi indikator keberhasilan pustakawan dalam menciptakan pengalaman literasi yang berkesan dan melekat dalam memori anak. Kemampuan anak untuk mengisahkan ulang cerita bukan hanya menunjukkan bahwa mereka memahami isi bacaan, tetapi juga melatih keterampilan menyimak, mengingat alur narasi, dan menyusun kembali informasi secara runtut. Aktivitas ini juga memperkuat kemampuan berbicara dan kepercayaan diri mereka dalam berkomunikasi di lingkungan sosial. Dalam sesi read aloud dengan buku Boneka Rambut Jagung, pustakawan sering mengaitkan isi cerita dengan pengalaman nyata anak-anak. Pertanyaan seperti “Pernahkah kalian melihat tanaman jagung seperti di buku ini?”, atau “Kalau kalian jadi Lulu, bahan apa yang akan kalian gunakan untuk membuat boneka?” membantu anak menghubungkan cerita dengan kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan pertanyaan eksploratif seperti, “Apa saja yang bisa kita buat dari tanaman jagung selain boneka?” mendorong mereka berpikir kreatif dan melihat cerita tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber ide dan pengetahuan. Pelibatan aktif ini tidak hanya memperkuat pemahaman isi cerita, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, logika naratif, dan imajinasi. Anak belajar menyampaikan gagasan dengan percaya diri, merespons cerita secara aktif, serta mendengarkan dan menghargai pendapat teman-temannya. Ketika seorang anak dengan sukarela maju dan menceritakan ulang kisah Lulu dan boneka rambut jagung di hadapan kelompok, suasana menjadi lebih hidup, dan teman-teman yang lain pun terinspirasi untuk ikut berbicara. Dengan demikian, pelibatan anak dalam kegiatan read aloud menjadi elemen penting dalam membentuk budaya literasi yang partisipatif dan komunikatif. Melalui keterlibatan semacam ini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang aman bagi anak untuk tumbuh menjadi pembelajar aktif, percaya diri, dan kreatif. Temuan ini mencerminkan prinsip ketiga teori Wang et al. (2025), yaitu stimulasi keingintahuan alamiah anak, di mana read aloud dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun keterbukaan anak terhadap pengetahuan baru secara alami dan menyenangkan. Hambatan Penerapan Read Aloud pada Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun Dalam pelaksanaannya, kegiatan read aloud tidak selalu berjalan tanpa hambatan, meskipun berpengaruh dalam menumbuhkan minat baca anak sejak usia dini. Pustakawan menghadapi berbagai hambatan yang memerlukan strategi dan penyesuaian tertentu agar tujuan kegiatan tetap tercapai secara optimal. Hambatan-hambatan ini muncul dari dinamika interaksi dengan anak-anak serta kondisi lingkungan saat kegiatanberlangsung. Hambatan dalam pelaksanaan kegiatan read aloud pada layanan anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun antara lain: a. Perbedaan Karakter Anak Setiap anak yang mengikuti kegiatan read aloud memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada anak yang aktif dan antusias saat kegiatan berlangsung, seperti langsung tunjuk tangan saat ingin menjawab. Namun, ada juga anak yang cenderung diam, tidak mau ikut kegiatan, atau terlihat pasif. Perbedaan karakter ini menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan dalam menyampaikan cerita. Pustakawan harus mampu memahami ekspresi dan perilaku anak secara cepat agar bisa menyesuaikan pendekatan komunikasi selama kegiatan berlangsung. Sebagaimana disampaikan oleh pustakawan muda pelaksana layanan anak, ia menyatakan bahwa dalam satu kelompok bisa ada yang langsung aktif, tapi ada juga yang diam saja, jadi harus bisa bagi perhatian. Hal ini menuntut pustakawan menjadi fleksibel dan sensitif dalam menghadapi dinamika karakter anak yang beragam. Selain itu berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis saat kegiatan berlangsung, menunjukkan bahwa dalam satu kelompok peserta, ada yang langsung aktif, namun ada juga yang diam memperhatikan, serta tidak semua anak menunjukkan ekspresi yang sama. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya sensitivitas pustakawan dalam menjangkau setiap anak secara personal. Perbedaan karakter ini menciptakan dinamika tersendiri dalam pengelolaan kelompok, khususnya ketika kegiatan melibatkan banyak peserta dengan tingkat partisipasi yang bervariasi. Tantangan ini mengharuskan pustakawan untuk tidak hanya menjadi pembaca cerita, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu mengakomodasi berbagai gaya belajar dan kebutuhan sosial-emosional anak. Dengan pendekatan yang adaptif dan inklusif, seluruh anak diharapkan dapat merasa terlibat dan memperoleh pengalaman literasi yang menyenangkan sesuai dengan kepribadian masing-masing. b. Tingkat Konsentrasi yang Beragam Anak-anak usia dini cenderung mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar, sehingga tingkat konsentrasi mereka dalam mengikuti kegiatan read aloud tidak sama. Beberapa anak memperhatikan dengan baik, namun sebagian lainnya mulai berbicara sendiri dengan temannya, melihat ke luar jendela, atau tertarik pada benda-benda di sekitar ruangan. Hasil wawancara dengan informan pertama menunjukkan “...Ya, karena anak-anak kadang-kadang itu fokusnya itu masih kurang. Jadi memang pintar-pintarnya tutor, agar anak-anak itu tetap fokus kepada yang mentor atau tutornya tersebut 33. Kondisi tersebut juga diamati secara langsung oleh pustakawan pelaksana. Sebagaimana disampaikan oleh pustakawan pertama yang diwawancarai, ia menyatakan bahwa kadang anak-anak ada yang tidak fokus, ngobrol sendiri, atau tidak memperhatikan cerita. Hal ini menunjukkan bahwa variasi konsentrasi antar anak menjadi tantangan tersendiri yang memengaruhi kelancaran jalannya kegiatan. Selain itu, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis saat kegiatan berlangsung, menunjukkan bahwa ada anakanak yang tiba-tiba berdiri, ada juga yang menoleh ke arah luar jendela karena mendengar suara kendaraan, atau bahkan bermain dengan benda di sekitarnya. Kondisi ini memperkuat pentingnya strategi yang tepat dalam menjaga fokus anak selama kegiatan berlangsung. Pustakawan dituntut untuk tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga mampu menciptakan suasana yang menarik dan interaktif, agar anak tetap terlibat secara aktif sepanjang sesi. Dengan pendekatan yang komunikatif dan suasana yang kondusif, diharapkan anak-anak dapat mempertahankan perhatiannya dan memperoleh pengalaman literasi yang optimal.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penerapan kegiatan read aloud pada Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu kegiatan read aloud pada Layanan Anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun telah dilaksanakan secara terstruktur dan rutin, terutama pada saat kunjungan kelompok dari lembaga pendidikan anak usia dini seperti PAUD dan Taman KanakKanak (TK). Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan dalam layanan literasi anak, yang dirancang untuk menciptakan suasana membaca yang menyenangkan, membangun antusiasme anak terhadap buku, serta memperkuat fondasi literasi sejak dini. Pelaksanaan read aloud dilaksanakan dengan mengikuti tiga tahapan utama yang saling berkaitan dan mendukung keberhasilan kegiatan secara menyeluruh. Tahapan pertama adalah pemilihan buku, yang dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian isi dan bentuk buku terhadap usia dan tingkat perkembangan kognitif anak. Buku yang dipilih biasanya berbentuk cerita bergambar dengan kalimat sederhana, ilustrasi menarik, serta memuat pesan moral atau pengetahuan dasar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Pemilihan buku yang tepat diyakini menjadi kunci awal dalam menarik perhatian anak dan menjaga fokus mereka selama sesi berlangsung. Tahapan kedua adalah pembacaan ekspresif, di mana pustakawan membacakan cerita dengan menggunakan variasi intonasi suara, pengaturan tempo, serta ekspresi wajah dan gerak tubuh yang mendukung alur cerita. Teknik ini bertujuan untuk menghidupkan narasi, mempermudah pemahaman anak terhadap isi cerita, dan menstimulasi emosi serta imajinasi mereka. Pustakawan juga sering menyisipkan improvisasi dialog dan memainkan suara tokoh secara berbeda untuk meningkatkan ketertarikan anak-anak terhadap jalannya cerita. Tahapan ketiga adalah pelibatan aktif anak. Selama kegiatan, anak-anak diajak untuk berinteraksi secara langsung melalui tanya jawab, menebak alur cerita, menirukan suara tokoh, hingga menceritakan ulang bagian yang mereka sukai. Pelibatan ini tidak hanya mendorong keaktifan anak, tetapi juga membantu melatih kemampuan berpikir kritis, bahasa lisan, dan rasa percaya diri dalam mengekspresikan gagasan. Ketiga tahapan tersebut berperan penting dalam menciptakan pengalaman membaca yang interaktif, menyenangkan, serta bermakna bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan read aloud di perpustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pelaksanaan kegiatan read aloud di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun (1) Peningkatan kompetensi pustakawan melalui pelatihan komunikasi berbasis pendekatan psikologis penting dilakukan agar mereka mampu memahami karakter dan emosi anak serta menciptakan interaksi yang empati dan menyenangkan. Interaksi yang baik akan mendorong partisipasi anak secara lebih aktif selama kegiatan berlangsung. (2) Selain itu, strategi penyampaian cerita yang menarik dan interaktif perlu terus dikembangkan, misalnya melalui penggunaan alat bantu seperti boneka tangan atau media visual lain yang relevan. Inovasi ini dapat membantu menjaga fokus dan meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan. (3) Dukungan orang tua juga menjadi aspek penting dalam menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Perpustakaan diharapkan aktif melakukan sosialisasi kepada orang tua tentang pentingnya membaca bersama di rumah, misalnya selama lima belas menit setiap hari, agar kebiasaan membaca dapat terbentuk secara berkelanjutan di lingkungan keluarga.