Kembali
16
1
2025 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 13 · 2 ISSN 2477-5320

Manajemen Pengadaan Koleksi menuju Perpustakaan Modern: Studi Kasus Perpusda Kabupaten Ponorogo

Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Abstrak

Perpustakaan memiliki peran yang penting dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu sebagai penyedia informasi yang relevan dan berkualitas. Strategi pengembangan koleksi menjadi aspek penting dalam pengelolaan perpustakaan, yang dinilai mampu menjawab kebutuhan pemustaka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manajemen pengadaan koleksi di Perpustakaan Daerah Ponorogo. Penelitian ini berfokus pada bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, serta sejauh mana efektifitasnya dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang secara eksplisit untuk menggambarkan, menganalisis, dan menginterpretasikan fenomena pengelolaan pengadaan koleksi berdasarkan temuan empiris di lapangan. Pendekatan ini untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai strategi, praktik, serta kendala yang dihadapi perpustakaan dalam mengembangkan koleksi yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan pemustaka. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive sampling dari kepala perpustakaan, staf bagian pengadaan, dan pemustaka aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpustakaan Daerah (Perpusda) Ponorogo telah melakukan berbagai metode pengadaan seperti pembelian, hibah, tukar-menukar, dan interlibrary loan (ILL) serta pemanfaatan teknologi digital seperti E-book dan E-Pustaka Wengker. Keterbatasan terlihat dari luasan ruang koleksi dan sumber daya manusia. Perpustakaan dengan ukuran sekitar 147 m2 , kapasitas penyimpanan dan ruang gerak pemustaka menjadi terbatas sehingga penataan koleksi harus dilakukan secara lebih selektif. Keterbatasan SDM yang berjumlah enam orang dalam pengelolaan dan pengadaan bahan pustaka menyebabkan proses pengembangan koleksi belum dapat berjalan optimal. Kendala yang dihadapi dalam pengadaan koleksi adalah minimnya anggaran karena adanya efisiensi. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian strategi pengadaan dan penguatan kompetensi pengelola menjadi penting dalam meningkatkan layanan informasi di perpustakaan ini, sehingga perpustakaan berfungsi menjadi lebih efektif sebagai pusat belajar dan akses informasi bagi pemustaka.

Abstract

Libraries have an important role in supporting the development of science, namely as a provider of relevant and quality information. Collection development strategy is an important aspect in library management, which is considered to be able to answer the needs of users. This study aims to examine the management of collection procurement at the Ponorogo Regional Library. In particular, this research focuses on how the process of planning, implementation, and the extent of its effectiveness in meeting the information needs of the community. To achieve this goal, the researcher uses a qualitative descriptive approach that is explicitly designed to describe, analyze, and interpret the phenomenon of collection procurement management based on empirical findings in the field. This approach allows researchers to gain a deep understanding of the strategies, practices, and obstacles faced by the industry in developing collections that are relevant and responsive to the needs of users. This research uses data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The informants were selected by purposive sampling from the head of the library, procurement staff, and active users. The results of the study show that the Ponorogo Regional Library (Perpusda) has carried out various procurement methods such as purchases, grants, exchanges, and interlibrary loans (ILL) as well as the use of digital technology such as E-books and E-Pustaka Wengker. Some limitations can also be seen from the size of collection space and human resources. With a size of about 147 m2, the storage capacity and movement space of visitors are limited so that the arrangement of the collection must be done more selectively. In addition, the limited human resources of six people in the management and procurement of library materials caused the collection development process to not be able to run optimally. The obstacle faced in the procurement of collections is the lack of budget due to efficiency. Therefore, it is necessary to adjust the procurement strategy and strengthen the competence of managers to improve information services in this library, so that the library functions more effectively as a learning center and access to information for users.
Keywords: procurement of collections · effectiveness · library · management · modern libraries

Introduction

Keberadaan perpustakaan di tengah masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi dan mendukung pengembangan ilmu pengetahuan.1 Dalam upaya untuk mencapai hal tersebut perpustakaan harus memberikan layanan yang maksimal. UNESCO dalam Public Library Manifesto 2022 menjelaskan bahwa perpustakaan umum merupakan tempat pusat informasi yang berada disetiap daerah dengan menyediakan berbagai jenis pengetahuan dan informasi yang dapat dengan mudah digunakan oleh pemustaka.2 Perpustakaan umum biasanya bersifat terbuka bagi semua orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan bersifat inklusif. Fungsi utamanya tidak hanya sebagai tempat menyimpan buku, tetapi sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat (life long learning).3 Yakni pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan masyarakat secara bertahap melalui akses terhadap koleksi yang relevan.4 Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua perpustakaan mampu menjalankan fungsi ideal tersebut secara optimal. Beberapa kendala di Perpustakaan Daerah Ponorogo misalnya masih ditemukan yang berkaitan dengan pengadaan dan pengelolaan koleksi, termasuk keterbatasan ruang, sumber daya manusia, serta relevansi koleksi dengan kebutuhan pemustaka. Ponorogo merupakan salah satu wilayah yang mencuri perhatian peneliti. Hal ini disebabkan karena Ponorogo dijuluki sebagai kota santri atau kota pelajar. Ada lebih dari 10 perguruan tinggi dan pondok pesantren.5 Sehingga, keberadaan perpustakaan daerah menjadi tempat yang urgen karena berada di antara lembaga pesantren dan perguruan tinggi. Peneliti ingin menggali lebih dalam mengenai bagaimana manajemen pengadaan koleksi di Perpustakaan Daerah Ponorogo berlangsung. Pengelolaan perpustakaan merupakan sebuah usaha mencapai tujuan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya. Proses ini juga sangat mempertimbangkan fungsi manajemen, dari segi peran ataupun keahlian yang dibutuhkan.6 Hal ini menegaskan bahwa dalam mencapai tujuan perpustakaan diperlukan pengelolaan yang sistematis. Upaya ini dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap perpustakaan.7 Proses pengelolaan dan ketersediaan koleksi menjadi suatu aspek penting dalam menarik minat masyarakat. Menurut Edward Evans, pengembangan koleksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang sifatnya cyclical atau dilakukan secara terus-menerus.8 Hal ini selaras dengan pendapat Arya, dkk bahwa perpustakaan harus memiliki kebijakan pengadaan koleksi yang strategis dan berkelanjutan.9 Upaya ini berfokus pada pengembangan perpustakaan dengan selalu mempertimbangkan usulan permintaan berdasarkan minat masyarakat. Bertujuan untuk meningkatkan jumlah koleksi (kuantitas) dan mutu layanan serta koleksi (kualitas) pada pengembangan perpustakaan.10 Penelitian ini juga mengkaji tentang manajemen pengadaan koleksi di Perpsustakaan Daerah Ponorogo. George R. Terry menyatakan bahwa manajemen adalah sebuah serangkaian proses dengan melibatkan perencanaan, pergerakan, dan pengontrolan untuk mencapai target yang ditetapkan. Ketercapaian tujuan tersebut dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan manajemen sumber daya manusi dan sumber daya lainnya.11 pada perpustakaan fungsi manajerial ini diwujudkan melalui pengelolaan koleksi, layanan, dan sumber daya untuk memastikan kebutuhan informasi pemustaka terpenuhi. Pengadaan dan pengembangan koleksi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Menurut Sumatri pengadaan koleksi merupakan proses mengumpulkan dan mengklasifikasikan bahan pustaka agar sesuai dengan minat dan kebutuhan pemustaka. Bahan pustaka tersebut harus lengakap dan aktual untuk dijadikan koleksi.12 Sementara itu, Tamara menambahkan bahwa pengadaan koleksi menjadi bagian dari peraturan pengembangan koleksi yang lebih luas. Kebijakan ini akan mengarah pada berbagai upaya pengadaan bahan pustaka.13 Pandangan ini menunjukkan bahwa pengadaan koleksi tidak hanya berfokus pada penambahan bahan pustaka, tetapi juga memastika relevansi, daya guna, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pemustaka. Berdasarkan pendapat kedua ahli, dapat dikatakan bahwa manajemen koleksi mencakup aktivitas merencanakan, menggerakkan, menghimpun, menyeleksi, serta mengendalikan bahan pustaka. Tujuannya adalah memastikan koleksi yang telah ada sudah relevan, agar sesuai dengan minat dan kebutuhan pemustaka. Manajemen pengadaan koleksi di perpustakaan dilaksanakan untuk mengembangkan bahan bacaan yang berkualitas dan berdasarkan pada kebutuhan pemustaka. Pengelolaan pengadaan koleksi di perpustakaan harus berpedoman pada regulasi yang berlaku. Standar Nasional Perpustakaan (SNP) No. 2 Tahun 2024 menekankan pentingnya penyediaan koleksi yang relevan, mutakhir, dan beragam sebagai dasar pemenuhan kebutuhan masyarakat.14 Oleh karena itu, pengelolaan pengadaan koleksi yang tepat sasaran sangatlah penting.15 Dengan demikian, setiap perpustakaan diharapkan mampu menyediakan bahan pustaka yang memadai untuk memenuhi kebutuhan informasi dan pengetahuan pemustaka, sehingga pengelolaan pengadaan koleksi yang tepat sasaran menjadi sangat penting untuk dilakukan. Perpustakaan sebagai lembaga profesional yang bertugas mengelola beragam jenis koleksi, seperti karya tulis, cetak, dan rekam memiliki tujuan utama untuk pemenuhan kebutuhan pemustaka dalam bidang edukasi, riset, pelestarian, informasi, dan rileksasi.16 Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 3 Tahun 2016 menjelaskan, pengembangan koleksi adalah aktivitas yang dilakukan untuk memastikan koleksi perpustakaan selalu mutakhir dan berdasar pada kebutuhan pemustaka.17 Hal ini berarti bahwa perpustakaan secara aktif mengelola koleksinya agar tidak ketinggalan zaman dan tetap sesuai dengan minat pemustaka. Achmad Qorni Novianto sepakat dengan pandangan tersebut. Menurutnya pengembangan koleksi perpustakaan menyangkut semua aktivitas yang dapat meningkatkan cakupan koleksi yang sudah ada. Dalam rangka menyediakan bahan pustaka yang mutakhir dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pemustaka.18 Peraturan Bupati Ponorogo Nomor 22 Tahun 2019, juga menegaskan kewajiban pemerintah daerah dalam memfasilitasi ketersediaan koleksi perpustakaan umum sebagai bagian dari pelayanan publik. Peraturan ini secara spesifik diatur dalam pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah Daerah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi Perpustakaan Umum Daerah. Fasilitasi ini berkaitan dengan peningkatan cakupan koleksi yang relevan demi kepentingan daerah dan masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri. Pemerintah Daerah Ponorogo berkomitmen untuk mendukung ketersediaan dan keberagaman koleksi perpustakaan. Fungsi dan urgensi Perpustakaan Daerah Ponorogo cukup besar, informasi mengenai bagaimana strategi pengadaan koleksi direncanakan, diterapkan, dan dievaluasi masih terbatas. Belum banyak peneliti yang mengkaji efektivitas pengadaan koleksi pada konteks perpustakaan daerah yang berada di lingkungan pendidikan religius dan akademik secara bersamaan. Selain itu, belum ada kajian mendalam yang menyoroti bagaimana perpustakaan menyesuaikan strategi pengadaannya dengan keterbatasan anggaran, kebutuhan pemustaka yang beragam, serta perubahan pola akses informasi digital. Secara khusus, penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan utama: bagiamana proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengadaan koleksi dilakukan, serta sejauh mana efektifitasnya dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Berdasarkan rumusan masalah tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi pengadaan koleksi yang diterapkan, menilai efektivitas peranannya dalam mendukung layanan informasi, dan memberikan rekomendasi pengembangan yang relevan bagi peningkatan kinerja perpustakaan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena fokus utamanya adalah pada pengalaman, pandangan, dan kebijakan non-kuantitatif terkait pengadaan koleksi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di Perpustakaan Daerah Ponorogo dengan durasi penelitian selama satu bulan. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung kondisi ruang koleksi. Wawancara mendalam dilakukan kepada tiga informan yang dipilih secara purposive, yaitu kepala perpustakaan, staf bagian pengadaan, dan pemustaka aktif. Pemilihan informan secara purposive dilakukan karena ketiganya dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, serta keterlibatan langsung dalam proses pengadaan koleksi. Kepala perpustakaan berperan dalam penetapan kebijakan, staf pengadaan memahami tahapan teknis dan operasional, sedangkan pemustaka aktif dapat memberikan perspekstif empiris mengenai kesesuaian koleksi dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga, ketiga informan ini mampu memberikan data yang paling relevan dan mendalam untuk menjawab fokus penelitian. Teknik Dokumentasi digunakan untuk menelaah dokumen pendukung seperti daftar koleksi.19 Analisis data dilakukan secara induktif. Langkah pertama adalah melakukan reduksi data dengan memilih informasi penting dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah kedua data dikelompokkan ke dalam beberapa tema untuk melihat pola dan hubungan yang muncul. Pada tahap akhir, peneliti menarik kesimpulan dengan menafsirkan keseluruhan data untuk memahami strategi pengadaan koleksi dan efektivitas pelaksanaannya.20

Discussion

1. Layanan Perpustakaan Daerah Ponorogo Gambar 1. Tampak dalam Perpusda Ponoro Berdasarkan Observasi pada tanggal 13 Mei 2025, Perpustakaan Daerah Ponorogo memiliki ruang baca dengan luas ruangan sekitar 147 m2 . 21 Luas ruang baca menjadi faktor penting dalam mendukung kenyamanan pemustaka, karena ketersediaan ruang yang memadai turut menentukan kelancaran layanan, terutama dalam sistem layanan terbuka yang menuntut kebebasan dalam menjelajahi koleksi secara mandiri. Gedung Perpustakaan Daerah Ponorogo berada di wilayah yang strategis, dekat dengan pusat kota dan berada di tepi jalan raya yang cukup mudah dijangkau oleh masyarakat. Namun, disayangkan bangunan perpustakaan tidak menggambarkan karakter sebuah perpustakaan. Hal ini memungkinkan fungsi awal bangunan yang merupakan Kantor Kejaksaan Negara sebelum dialih fungsikan menjadi perpustakaan dan belum ada program renovasi lebih lanjutan. Akibatnya tidak sedikit masyarakat Ponorogo kesulitan menemukan lokasi perpustakaan tersebut.22 Gambar 1. Tampak Depan Perpusda Ponorogo Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2025 Berdasarkan hasil wawancara pada 14 Mei 2025 Perpustakaan Daerah Ponorogo menggunakan sistem layanan Open access atau sistem pelayanan terbuka. Pemustaka memiliki kebebasan mengakses bahan pustaka yang diperlukan langsung ke rak buku tanpa memerlukan hubungan langsung dengan petugas perpustakaan. Pada sistem ini, antara pustakawan dan pemustaka menuntut adanya komunikasi yang efektif agar informasi yang ada di perpustakaan dapat diterima dengan baik oleh pemustaka.23 Sistem layanan terbuka di Perpustakaan Daerah Ponorogo, komunikasi yang dilakukan antara pustakawan dan pemustaka adalah dengan memakai media elektronik (komputer) untuk mencari informasi yang dibutuhkan. 2. Asas-Asas dalam Pengembangan Koleksi di Perpustakaan Secara konseptual, pengembangan koleksi juga harus berpijak pada prinsip-prinsip tertentu. Winoto mengemukakan lima asas pengembangan koleksi. Asas-asas ini berfungsi sebagai landasan untuk mengoptimalkan ketersediaan bahan pustaka yang relevan dan bermanfaat bagi pemustaka. Meskipun demikian, implementasi asas-asas ini menunjukkan dinamika yang perlu dicermati dalam konteks kondisi perpustakaan sesungguhnya. Menurut Winoto terdapat 5 azas dalam pengembangan koleksi di perpustakaan:24 a. Asas relevansi, asas ini menggaris bawahi tentang pentingnya kesesuaian koleksi dengan tujuan lembaga induk dan kebutuhan masyarakat. Wawancara bersama bapak Jemani pada 14 Mei 2025 menunjukkan bahwa koleksi fiksi berjumlah 35% dan non-fiksi 65%. Hal tersebut menunjukkan bahwa buku non-fiksi cenderung mendominasi dalam pengadaan koleksi dibandingkan dengan buku bacaan fiksi. Perpustakaan Daerah Ponorogo masih menghadapi beberapa tantangan dalam upaya pengadaan koleksi yaitu luas ruangan yang tersedia belum memadai untuk menampung koleksi yang ada.25 b. Asas berorientasi pada pemustaka (user’s oriented), asas ini menekankan bahwa pengembangan koleksi harus berlandaskan pada kebutuhan dan minat pemustaka. Perpustakaan Daerah Ponorogo telah menunjukkan orientasi ini melalui berbagai metode pengadaan koleksi, seperti pembelian, hibah, tukarmenukar, dan pemustakaan antar perpustakaan. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital seperti e-book dan aplikasi E-Pustaka Wengker merupakan langkah positif dalam menjawab kebutuhan akses informasi pemustaka di era digital. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi perpustakaan dituntut untuk mengintegrasikan layanan digital sebagai pelengkap koleksi cetak. Hasibuan menyatakan pondasi utama perpustakaan digital adalah penerapan konsep penggunaan internet dan teknologi komunikasi dalam operasional dan manajemen perpustakaan. Tugas utama perpustakaan digital adalah mengelola koleksi bahan pustaka dalam format digital. Hal ini berfungsi sebagai pelengkap bagi perpustakaan konvensional yang saat ini masih didominasi oleh bahan cetak.26 Langkah-langkah ini menunjukkan upaya perpustakaan untuk menyediakan informasi sesuai kebutuhan konsumen, yang merupakan indikator keberhasilan sebuah perpustakaan. c. Asas kelengkapan, mengacu pada penyediaan koleksi yang beragam, baik dari segi subjek maupun jenis, sebagai indikator perpustakaan ideal. Berdasarkan temuan penelitian, kelengkapan koleksi di Perpustakaan Daerah Ponorogo masih memerlukan penguatan agar lebih sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya manusia yang tersedia dalam proses pengadaan. Perpustakaan memiliki peluang untuk meningkatkan kelengkapan koleksinya melalui strategi pengembangan yang lebih terarah dan berkelanjutan. d. Asas kemutakhiran, menekankan pentingnya koleksi yang terbaru dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan hasil wawancara pada 14 Mei 2025 Perpustakaan Daerah Ponorogo melakukan evaluasi koleksi setiap tahun, termasuk pembelian atau pengembangan koleksi.27 Meskipun demikian, pembaruan koleksi tidak selalu diolah secara konsisten untuk memastikan keterbaruan bahan pustaka. Koleksi fiksi yang dominan mungkin tidak selalu mencerminkan informasi terkini dibandingkan dengan koleksi non-fiksi di bidang ilmu pengetahuan atau teknologi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih lanjut dalam peninjauan dan penyingkiran bahan pustaka yang telah usang dan alokasi untuk koleksi yang lebih mutakhir agar perpustakaan dapat terus berfungsi sebagai penyedia informasi yang relevan dan berkualitas. e. Asas kerja sama, asas kerja sama sangat penting untuk mengatasi keterbatasan sumber daya seperti anggaran, sumber daya manusia (SDM), dan ruang. Penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan ruang, kurangnya SDM yang memadai, dan koleksi yang belum lengkap masih menjadi tantangan di Perpustakaan Daerah Ponorogo. Meskipun kerja sama dengan pihak tertentu dapat dijalin oleh pihak perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, namun secara eksplisit laporan studi kasus tidak merinci bentuk-bentuk kerja sama yang telah terjalin dalam mengatasi keterbatasan tersebut, terutama terkait SDM yang menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan manajemen perpustakaan. Penguatan kerja sama, terutama dalam hal peningkatan kompetensi SDM, menjadi penting untuk meningkatkan layanan informasi dan efektivitas perpustakaan secara keseluruhan. 3. Pengembangan Koleksi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Ponorogo Pengembangan koleksi perpustakaan mencakup segala aktivitas yang dilakukan guna memperbanyak koleksi di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Ponorogo. Utamanya pada aktivitas yang berhubungan dengan seleksi bahan pustaka. Proses dalam pengembangan koleksi ini melibatkan serangkaian tahapan penting seperti merancang pedoman, menetapkan mekanisme seleksi, melakukan pengadaan koleksi, serta mengevaluasi hasil.28 Beberapa tujuan pengembangan koleksi adalah untuk memberdaya bahan pustaka baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dengan memperhatikan kebutuhan, minat, dan preferensi masyarakat.29 Berdasarkan wawancara pada 14 Mei 2025 terdapat beberapa metode pengadaan koleksi diantaranya yaitu membeli, hibah, tukar-menukar, dan pemustaka antar perpustakaan. Selain itu Perpustakaan Daerah Ponorogo menerapkan teknologi digital dalam pengembangan koleksinya, seperti e-book. Perpustakaan Daerah Ponorogo juga memiliki seperangkat aplikasi yang dapat diakses oleh pemustaka secara online yaitu E-Pustaka Wengker. 30 Koleksi perpustakaan pada umumnya lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan pemustaka, yaitu telah memenuhi standar ideal. Namun, berdasarkan wawancara pada 14 Mei 2025 Perpustakaan Daerah Ponorogo belum bisa dikatakan memenuhi standar, karena koleksi yang tersedia belum mencukupi.31 Hal tersebut dipengaruhi karena kurangnya tenaga atau sumber daya manusianya. Faktor utama keberhasilan suatu organisasi terletak pada pengembangan sumber daya manusia. SDM merupakan faktor strategis yang sangat penting dalam menunjang setiap aktivitas intitusi atau borganisasi demi tercapainya tujuan. Sebagai inti dari dunia pendidikan, sebuah perpustakaan sudah semestinya dikelola oleh SDM yang berkompeten. Kompetensi ini memastikan bahan pustaka yang tersedia dapat diberdayakan secara optimal sehingga dapat memaksimalkan manfaatnya bagi para pemustaka.32 Menurut Anies dan Lydia, koleksi merupakan salah satu pilar utama perpustakaan yang sangat efektif dalam menarik pemustaka. Jika, dalam suatu perpustakaan tidak memiliki koleksi yang relevan dan memadai, tentunya layanan yang diberikan tidak akan optimal. Oleh sebab itu, agar pilar tersebut kokoh maka koleksi perpustakaan juga harus diperkuat baik dari segi jumlah, jenis, ragam, ataupun mutu.33 Perpustakaan dengan penyediaan koleksi yang memadai dan pelayanan yang optimal termasuk dalam upaya memfasilitasi pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasinya.34 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada 14 Mei 2025 koleksi di Perpustakaan Daerah Ponorogo terdiri dari beberapa jenis koleksi. Di antaranya buku bacaan non-fiksi dan buku bacaan fiksi (novel).35 Sementara itu, letak Perpustakaan Daerah Ponorogo berada dalam wilayah yang strategis yaitu di tengah kota Ponorogo yang dimana dapat dijangkau oleh berbagai kalangan terutama mahasiswa. 4. Evaluasi Pengadaan Koleksi Perpustakaan Evaluasi adalah aktivitas mengumpulkan informasi mengenai kinerja sesuatu. Informasi tersebut kemudian digunakan sebagai alternatif dasar dalam pengambilan sebuah keputusan. Evaluasi berfungsi sebagai penyedia informasi yang bernilai bagi pengambil keputusan (decision maker). Informasi ini penting digunakan sebagai penentu keputusan yang akan diambil berdasarkan hasil evaluasi. Kegiatan evaluasi juga dilakukan oleh perpustakaan dalam menilai macam-macam koleksi di perpustakaan, baik dari segi ketersediaan bagi para pemustaka maupun pemanfaatan koleksi tersebut. Evaluasi koleksi bahan pustaka menjadi satu kegiatan penting untuk dilakukan atas dasar beberapa alasan, yaitu: a. Pengembangan program pengadaan yang efektif (sesuai dengan relevansinya) dan real berdasarkan informasi dari koleksi yang sudah ada. b. Menjadi bahan pertimbangan dalam pengajuan anggaran untuk pengadaan koleksi berikutnya. c. Meningkatkan pengetahuan pengelola perpustakaan terutama bagian pengembangan koleksi terhadap keadaan koleksi. Supaya pemenuhan bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan perubahan serta perkembangan zaman maka, evaluasi koleksi harus dilakukan secara teratur.36 Berdasarkan wawancara pada 14 Mei 2025 dengan pustakawan (Perpusda) Bapak Jemani, bahwa Perpustakaan Daerah Ponorogo telah berupaya mengembangkan koleksi dengan kebijakan yang berlaku. Hal ini diimplementasikan memalui evaluasi rutin setiap tahun menjelang pengembangan atau penambahan koleksi, baik koleksi cetak maupun digital.37 Meskipun evaluasi dilakukan secara berkala (1 tahun sekali). Beberapa temuan menunjukkan bahwa koleksi masih dianggap belum mencukupi kebutuhan pemustaka. Selain itu Perpustakaan Daerah Ponorogo juga aktif menerima masukan dari pemustaka, sehingga pengembangan koleksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka serta mengikuti perkembangan informasi terkini. Salah satu masukan yang sering diterima adalah terkait buku atau koleksi yang mereka butuhkan untuk pengadaan di tahun berikutnya. Hal ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk terus menyesuaikan strategi pengadaan koleksi agar lebih relevan dan berorientasi pada kebutuhan pemustaka. Selain itu, kurangnya sumber daya manusia dan minimnya anggaran pengadaan koleksi akibat dampak dari efisiensi anggaran negara menjadi kendala tersendiri dalam pengembangan perpustakaan umum yang lebih modern.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian tentang manajemen pengadaan koleksi di Perpustakaan Daerah Ponorogo dan dikaitkan dengan rumusan masalah penelitian, dapat disimpulkan bahwa proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengadaan koleksi telah dijalankan secara sistematis sesuai dengan kebijakan daerah, khususnya Peraturan Bupati Ponorogo No. 22 Tahun 2019. Tahap perencanaan perpustakaan merumuskan kebutuhan koleksi melalui minat pemustaka, perkembangan ilmu pengetahuan, serta ketentuan kebijakan pengembangan bahan pustaka. Tahap pelaksanaan diwujudkan dalam kegiatan penghimpunan, penyeleksian, dan pengadaan koleksi baik cetak maupun digital yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Adapun evaluasi dilakukan setiap tahhun sebagai dasar penyusunan prioritas pengadaan berikutnya, termasuk pemetaan koleksi yang kurang dimanfaatkan dan mengidentifikasi sumber daya yang perlu diperkuat. Secara umum strategi pengadaan koleksi telah berperan cukup efektif dalam mendukung layanan informasi, terbukti dari pemutakhiran koleksi rutin serta adanya mekanisme penghimpunan masukan dari pemustaka. Perpustakaan Daerah Ponorogo masih menghadapi beberapa kendala dalam memastikan koleksi dapat memenuhi standar ideal dan kebutuhan pemustaka secara menyeluruh. Kendala meliputi keterbatasan ruang fisik, serta minimnya sumber daya manusia yang memadai. Keterbatasan SDM menjadi faktor penting yang memengaruhi kelengkapan koleksi dan keberhasilan pengembangan perpustakaan secara optimal. Penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis dalam manajemen pengembangan koleksi. Pertama, memperkuat sistem analisis kebutuhan berbasis data penggunaan koleksi sehingga keputusan pengadaan lebih tepat sasaran. Kedua, meningkatkan proporsi koleksi digital dan bahan referensi tematik yang sesuai kebutuhan lokal Ponorogo, seperti budaya, ekonomi kreatif, kesehatan masyarakat, dan pendidikan. Ketiga, memperluas kemitraan dengan penerbit lokal, komunitas literasi, serta lembaga pendidikan untuk memperoleh koleksi relevan melalui hibah, kerjasama, atau program depodit lokal. Implikasi praktis dari rekomendasi ini adalah terciptanya proses pengembangan koleksi yang lebih responsif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan informasi dan memperkuat fungsi peprustakaan sebagai pusat literasi daerah.