Kembali
16
1
2023 Jurnal Imam Bonjol : Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol 7 · 1 ISSN 2579-3160

PENERAPAN ENAM LITERASI DASAR PADA ANAK DI TAMAN BACAAN MASYARAKAT BALAI BACA RUMAH BAKO

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan enam literasi dasar pada anak di TBM Balai Baca Rumah Bako. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif, dimana data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Penerapan enam literasi dasar pada anak yang dilakukan TBM Balai Baca Rumah Bako yaitu : (a) penerapan literasi baca-tulis pada anak dilakukan melalui kegiatan lapiak baco, mendongeng, membaca nyaring dan kegiatan menulis puisi dan cerita pendek; (b) penerapan literasi sains pada anak diterapkan melalui kegiatan bimbingan belajar matematika serta memberikan pemahaman operasi aritmatika dalam kehidupan sehari-hari; (c) literasi sains pada anak dilakukan melalui kegiatan parak bako dan camp cilik; (d) penerapan literasi digital pada anak dilakukan melalui kegiatan pelatihan penggunaan komputer dan nonton bareng; (e) literasi finansial pada anak dilakukan melaui kegiatan parak bako dan batuang (babuek untuak kampuang); (f) literasi budaya dan kewargaan pada anak dilakukan melalui kegiatan pembentukan sanggar kesenian Minangkabau serta rutin memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Penerapan enam literasi dasar pada anak yang dilakukan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako belum optimal, karena hanya kegiatan literasi baca tulis dan literasi budaya yang rutin dilakukan serta berdampak langsung pada anak

Abstract

This study aims to describe the application of six basic literacy in children at TBM Balai Baca Rumah Bako. The method used in this research is descriptive qualitative method, where the data is obtained through observation, interviews and documentation. The application of six basic literacy in children carried out by TBM Balai Baca Rumah Bako, namely: (a) the implementation of reading and writing literacy in children is carried out through lapiak baco activities, storytelling, reading aloud and writing poetry and short stories; (b) the application of scientific literacy to children is applied through tutoring activities in mathematics as well as providing an understanding of arithmetic operations in daily life; (c) scientific literacy in children is carried out through parak bako and small camp activities; (d) the application of digital literacy to children is carried out through training on the use of computers and watching movies together; (e) financial literacy in children is carried out through parak bako and batuang (babuek for kampuang) activities; (f) cultural literacy and citizenship in children is carried out through the formation of Minangkabau art studios and routinely commemorating Indonesia's independence day. The application of six basic literacy in children carried out by the TBM Balai Baca Rumah Bako is not optimal, because only literacy and cultural literacy activities are routinely carried out and have a direct impact on children.
Keywords: Six Basic Literacy · Community Reading Park

Introduction

Pada era revolusi 4.0 manusia dihadapkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat. Perkembangan tersebut membawa berbagai pengaruh dalam kehidupan, baik itu pengaruh positif maupun negatif. Maka dari itu untuk menghadapinya dibutuhkan kemampuan literasi. Literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis saja melain kemampuan dalam memahami, menganalisis serta memanfaatkan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan. Melalui kemampuan literasi, pengetahuan masyarakat akan berkembang, masyarakat dapat berpikir kritis serta peka terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Maka dari itu dapat dikatakan bahwasanya literasi merupakan kunci keberhasilan masyarakat dalam bersaing di abad ke-21. Namun pada kenyataannya angka literasi di Indonesia masih berada dalam kategori rendah. Menurut Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018, Indonesia berada dalam sepuluh besar negara dengan tingkat literasi terendah yang menduduki peringkat ke 73 dari 78 negara partisipan dengan nilai rata-rata minat dan kebiasaan membaca di Indonesia sebesar 371. Kemudian berdasarkan perhitungan Indeks Alibaca Nasional tahun 2019, menunjukan bahwa indeks literasi nasional Indonesia berada pada angka 37,32 yang dikategorikan kedalam aktivitas literasi rendah karena berada pada rentang 20,01 – 40,00. Serta berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Indonesia tahun 2021, Provinsi Sumatera Barat berada pada angka 14,17 yang mana Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kabupaten Agam berada pada angka 3,87. Angka ini termasuk dalam kategori kurang, karena berada di bawah 10,92. Dari ketiga data tersebut dapat disimpulkan bahwasanya secara internasional, nasional dan regional tingkat literasi di Indonesia masih jauh dari kata maksimal. Rendahnya tingkat literasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu nya yaitu kurang optimalnya pendidikan literasi sejak usia dini yang diperkenalkan oleh orang tua. Orang tua cenderung lebih memperkenalkan gadget sedari dini kepada anak dibandingkan memperkenalkan aktivitas membaca, menulis ataupun menggambar (Zati, 2018). Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah membentuk program peningkatan literasi yang dikenal dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dimulai semenjak tahun 2016 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pentingnya peningkatan literasi juga tertuang dalam sembilan agenda prioritas Presiden Joko Widodo yang dikenal dengan nama Nawa Cita. Dalam agenda ini dijelaskan bahwa literasi merupakan kunci dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing masyarakat serta merubah karakter bangsa menjadi lebih baik. Melalui Gerakan Literasi Nasional, masyarakat diwajibkan menguasai kemampuan enam literasi dasar. Enam literasi dasar merupakan kecakapan yang penting untuk dimiliki masyarakat dalam memperoleh dan menggunakan informasi serta ilmu pengetahuan pada abad ke-21 guna mengembangkan kompetensi serta pemahaman yang dimiliki. Enam literasi dasar tersebut terdiri atas literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewargaan. Penguasaan enam literasi dasar ini pertama kali digagas dalam World Economic Forum tahun 2015, yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan pengangguran, kemiskinan, pendidikan dan kesehatan masyarakat (Nugraha & Octavianah, 2020). Melalui penguasaan enam literasi dasar maka akan mempersiapkan generasi muda yang dapat berpikir kritis dan inovatif, memiliki kemampuan problem solving serta mampu untuk berkolaborasi dan bersaing di abad ke-21. Gerakan Literasi Nasional terbagi dalam tiga ranah yaitu Gerakan Literasi Keluarga, Gerakan Literasi Sekolah dan Gerakan Literasi Masyarakat. Dalam artikel ini penulis akan membahas terkait dengan Gerakan Literasi Masyarakat. Gerakan Literasi Masyarakat atau disingkat dengan GLM merupakan gerakan literasi yang dilakukan dalam lingkungan masyarakat tanpa memandang usia dan jenis kelamin (Kemendikbud, 2017). Taman Bacaan Masyarakat merupakan salah satu lembaga yang berperan dalam menjalankan GLN di ranah GLM. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan wadah yang didirikan dengan tujuan untuk mendukung peningkatan literasi masyarakat melalui penyediaan bahan bacaan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta menyelenggarakan berbagai kegiatan literasi. TBM dapat dijadikan sebagai salah satu sarana pendampingan dalam edukasi praktik literasi pada anak. Menurut Fadila (2020), terdapat beragam kegiatan literasi yang dapat diterapkan oleh TBM seperti mendongeng, menggambar, mewarnai, bercerita, memperkenalkan permainan tradisional dan lain sebagainya. Ketertarikan anak dalam membaca tidak terlepas dari bagaimana cara kita membuat kegiatan itu menjadi kreatif dan inovatif sehingga anak tidak akan merasa bosan. TBM dapat menerapkan enam literasi dasar dalam kegiatan literasi yang diselenggarakan. Sehingga melalui penerapan enam literasi dasar tersebut edukasi literasi pada anak dapat ditanamkan sedari dini serta dapat mempersiapkan generasi muda Indonesia yang siap menghadapi persaingan di abad ke-21. Studi ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui penerapan enam literasi dasar pada anak yang dilakukan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako yang berada di Nagari Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam. Kemampuan literasi pada anak di Nagari Balai Gurah tergolong rendah yang disebabkan karena kurangnya minat dan budaya literasi pada anak. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara antara penulis dengan pengelola TBM Balai Baca Rumah Bako yang menyatakan bahwasanya anak-anak di Nagari Balai Gurah masih terpaku dengan game online, sehingga untuk mengisi waktu sepulang sekolah mereka cenderung bermain game ke warnet atau bermain melalui gadget. Mereka menganggap membaca merupakan aktivitas yang membosankan. Hal ini juga sejalan dengan hasil perhitungan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat yang mana Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kabupaten Agam masih berada dalam kategori rendah yaitu sebesar 3,87. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana penerapan enam literasi dasar pada anak yang dilakukan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako. Penerapan enam literasi dasar pada anak ini terdiri atas literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewargaan yang dilihat dari kegiatan literasi yang telah dilaksanakan serta dampak dari kegiatan enam literasi dasar yang dilaksanakan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan penerapan enam literasi dasar pada anak di TBM Balai Baca Rumah Bako.

Method

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan dengan cara menggambarkan keadaan subjek maupun objek penelitian berupa orang, lembaga, masyarakat dan lain sebagainya yang didasarkan pada fakta yang didapatkan di lapangan mengenai penerapan enam literasi dasar pada anak di TBM Balai Baca Rumah Bako. Penulis mengambil jenis penelitian ini karena data diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi yang kemudian diolah dalam bentuk katakata yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Taman Bacaan Masyarakat Balai Baca Rumah Bako yang berlokasi di Kapalo Koto Nagari Balai Gurah Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat. Informan ditetapkan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: (1) subjek mengetahui dan memiliki wewenang dalam penerapan enam literasi dasar di Taman Bacaan Masyarakat Balai Baca Rumah Bako, (2) subjek terlibat langsung dalam kegiatan yang menjadi perhatian penulis dan (3) subjek bersedia dan memiliki waktu untuk diwawancarai. Informan dalam penelitian ini berjumlah sembilan orang yang terdiri dari empat orang pengelola TBM Balai Baca Rumah Bako dan perwakilan lima orang pengunjung TBM Balai Baca Rumah Bako dengan rentang usia 11-12 tahun. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik obeservasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik penganalisisan data yang digunakan yaitu menggunakan model analisis data Miles dan Huberman yang terdiri dari: (1) reduksi data dengan memilih data yang dianggap penting dan relevan dengan masalah penelitian, (2) penyajian data dan (3) pengambilan kesimpulan. Adapun dalam melakukan validasi data penulis menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan teknik pengujian kredibilitas melalui penggabungan data yang didapatkan dari berbagai teknik pengumpulan data. Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Result

TBM Balai Baca Rumah Bako telah berusaha menerapkan keenam unsur literasi dasar dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan. Kegiatan literasi yang diselenggarakan TBM Balai Baca Rumah Bako umumnya bersifat rekreasi edukasi, sehingga anak-anak dapat tertarik untuk mengikuti kegiatan serta anak dapat bebas dalam mengeksplor diri dan kreativitas yang dimiliki. Hal demikian juga dikemukakan oleh Husnaini (2018) dalam praktik literasi pada anak, metode, media dan tahap pelaksanaanya disesuaikan dengan prinsip pembelajaran pada anak yaitu belajar sambil bermain, berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak, menciptakan lingkungan kondusif dan menyenangkan kemudian menggunakan media dan sumber belajar yang beragam. Tujuan penerapan enam literasi dasar pada anak ini ialah agar generasi muda di Nagari Balai Gurah memiliki pemahaman akan literasi, mendekatkan buku pada anak, mengubah pola pikir pada anak serta memberi ruang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga mereka memiliki kecakapan dalam bersaing di masa yang akan datang. Berikut akan diuraikan pembahasan terkait dengan penerapan enam literasi dasar pada anak yang dilakukan di TBM Balai Baca Rumah Bako berdasarkan temuan penelitian yang telah dilakukan. 1. Penerapan Literasi Baca-Tulis Pada Anak di TBM Balai Baca Rumah Bako Literasi baca-tulis menurut Kemendikbud (2017) diartikan sebagai pengetahuan dan keterampilan dalam membaca, menulis, menelusuri informasi, mengolah informasi dan memahami informasi yang didaptkan. Kemudian menganalisis dan menanggapi informasi tersebut menggunakan teks tertulis yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan potensi yang dimiliki. TBM Balai Baca Rumah Bako menerapkan pemahaman literasi baca-tulis pada anak melalui beberapa kegiatan, yaitu: a. Lapiak baco, merupakan kegiatan melapak buku yang mana setiap orang dapat membaca secara gratis. Kegiatan ini tidak dikhususkan hanya untuk anak-anak saja melainkan juga terbuka bagi masyarakat umum tanpa adanya batasan usia. Lapiak baco nantinya akan mengunjungi tempat yang ramai anak-anak serta bekerjasama dengan sekolah yang berada di lingkungan TBM Balai Baca Rumah Bako. Sehingga kegiatan ini secara tidak langsung juga mendukung berjalankan Gerakan Literasi Sekolah. b. Mendongeng, merupakan kegiatan membacakan dongeng pada anak. Kegiatan ini terkadang juga dibarengi dengan kegiatan lapiak baco sehingga disamping membaca, anak juga dapat mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh salah seorang volunteer. Terkadang untuk membuat kegiatan mendongeng menjadi lebih menarik, volunteer akan menggunakan media boneka tangan yang dapat mengeluarkan suara dan berbicara. Dampak dari kegiatan mendongeng terhadap kemampuan literasi pada anak yaitu dapat mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan berbicara pada anak (Patimah, 2015). c. Membaca nyaring atau read aloud, merupakan kegiatan membacakan buku kepada anak menggunakan suara lantang dengan intonasi dan ekspresi yang disesuaikan dengan bacaan yang dibacakan. Membaca nyaring merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan literasi pada anak melalui pengenalan intonasi dan melatih kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yumnah (2017) manfaat dari kegiatan membaca nyaring pada anak yaitu dapat menambah kosa kata anak, menumbuhkan sikap gemar membaca serta menstimulasi kemampuan berpikir pada anak. d. Kegiatan menulis puisi dan cerita pendek, pada kegiatan ini anak akan diajarkan bagaimana cara menulis puisi dan tata cara berpuisi yang baik dan benar. Nantinya puisi yang telah dibuat akan dibacakan di hadapan temanteman lainnya sehingga kegiatan ini juga mengajarkan anak untuk berani tampil di depan umum. Kemudian anak juga diajarkan cara menulis cerita pendek yang mana cerita tersebut dapat berasal dari pengalaman anak ataupun aktivitas sehari-hari yang dilakukan olehnya. Kelima kegiatan literasi baca-tulis yang telah diselenggarakan oleh TBM balai Baca Rumah Bako sesuai dengan pendapat Maryono et al (2021), bahwasanya terdapat beberapa kegiatan yang dapat diterapkan dalam praktik literasi baca-tulis pada anak yaitu mendongeng atau membacakan buku cerita pada anak, menceritakan kembali hasil bacaan, menuliskan kembali hasil bacaan, melakukan permainan peran sesuai bacaan yang telah diperoleh serta membuat pojok baca serta memperbarui bahan bacaan yang disediakan. Kegiatan literasi baca-tulis pada anak di TBM Balai Baca Rumah Bako adalah kegiatan yang rutin dilakukan, sehingga kegiatan ini memiliki dampak dalam pemahaman literasi baca-tulis pada anak. Dampak tersebut yaitu anak mulai dekat dengan buku dan hobby membaca, anak mampu mengakses bahan bacaan yang mereka inginkan, level bacaan anak mengalami peningkatan, mulai berkurangnya intensitas penggunaan gadget pada anak serta anak mampu menghasilkan karya tulis sederhana berupa puisi dan cerita pendek. 2. Penerapan Literasi Numerasi Pada Anak di TBM Balai Baca Rumah Bako Literasi numerasi menurut Kemendikbud (2017) merupakan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan konsep bilangan dan operasi aritmatika dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan literasi numerasi pada anak di TBM Balai Baca Rumah Bako dilaksanakan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan langsung dan tidak langsung. Pendekatan langsung dilakukan melalui kegiatan bimbingan belajar matematika. Anak akan diajarkan cara berhitung cepat, kemudian anak dapat menanyakan persoalan matematika yang kurang mereka pahami serta dapat membantu anak dalam menyelesaikan tugas sekolah yang telah diberikan. Namun kegiatan ini dilakukan secara tidak berkesinambungan mengingat volunteer yang bertugas sebagai tenaga pengajar juga memiliki kesibukan serta tidak adanya volunteer lainnya yang berlatar belakang pendidikan matematika. Kemudian pendekatan tidak langsung dilakukan dengan cara memberikan pemahaman pada anak terkait kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan operasi hitung dengan harapan anak dapat memahami persoalan operasi hitung yang tidak hanya berguna untuk kepentingan akademik saja melainkan juga berguna untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan. Sebagaimana yang dikatakan Lamada et al (2019) bahwasanya literasi numerasi mengacu pada kemampuan dalam dalam mengaplikasikan pengetahuan dasar, prinsip dan prosedur matematika dalam kehidupan sehari-hari. 3. Penerapan Literasi Sains Pada Anak di TBM Balai Baca Rumah Bako Literasi sains menurut Kemendikbud (2017) diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan dalam mengenali pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah serta bersedia dan tertarik dengan masalah ilmiah yang berkaitan dengan sains dan alam sekitar. Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan TBM Balai Baca Rumah Bako dalam menerapkan literasi sains pada anak yaitu : a. Parak Bako, merupakan kegiatan mengajarkan cara bercocok tanam pada anak mulai dari pembibitan, menanam, merawat sampai memanen hasil tanaman. Tanaman yang ditanam dapat berupa sayur-sayuran dan buahbuahan. Melalui kegiatan tersebut anak diharapkan memiliki kemampuan dalam bercocok tanam, mengetahui cara merawat tanaman serta mampu memanfaatkan potensi alam yang dimiliki. Sebagaimana yang dinyatakan Nugraha & Octavianah (2020) bahwasanya cakupan literasi sains sangat luas tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran sains semata namun juga mencakup pengetahuan tentang pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki. Kegiatan ini nantinya juga diintegrasikan dengan kegiatan literasi finansial pada anak. b. Camp Cilik, merupakan kegiatan berkemah di alam terbuka dan melakukan kegiatan jelajah alam yang bertujuan untuk mendekatkan anak dengan alam sekitar. Melalui kegiatan ini anak juga diajarkan bagaimana cara menjaga lingkungan. Kegiatan ini sejalan dengan pendapat Zahro et al (2019) bahwasanya dalam praktik pembelajaran literasi sains pada anak dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan alam sekitar kepada anak melalui kegiatan jelajah alam serta melakukan pengayaan dengan mengunjungi tempat yang sesuai dengan kegiatan sains yang ingin diperkenalkan yang bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan sains pada anak. 4. Penerapan Literasi Digital Pada Anak di TBM Balai Baca Rumah Bako Literasi digital menurut Kemendikbud (2017) merupakan kemampuan dan keterampilan menggunakan perangkat digital untuk menemukan, mengevaluasi, membuat informasi dan menggunakan informasi secara bijak, cermat dan patuh hukum. Penerapan literasi digital pada anak di TBM Balai Baca Rumah Bako dilakukan melalui kegiatan berikut: a. Pelatihan penggunaan komputer dan aplikasi digital, dalam hal ini anak-anak akan diajarkan cara menggunakan komputer, mengetik menggunakan sepuluh jari, cara menggunakan aplikasi digital seperti Microsoft Office dan Corel Draw. Kegiatan ini sesuai dengan pendapat Mustofa dan Budiwati (2019) bahwasanya salah satu cara yang dapat dilakukan dalam praktik literasi digital pada anak yaitu melalui kegiatan mengajarkan pemakaian perangkat digital dan memberikan pemahaman tentang penggunaan aplikasi internet dengan bijak. b. Nonton bareng, pada kegiatan ini anak-anak akan menonton film ataupun video bersama kemudian diminta untuk mengulik film atau video yang telah mereka tonton dan mengemukakan pesan yang terkandung dari film atau video tersebut. Tujuannya untuk mengasah kemampuan berpikir anak dalam menilai konten yang mereka tonton. TBM Balai Baca Rumah Bako juga menyediakan beberapa perangkat digital seperti komputer, infocus dan wifi yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan literasi digital. Akan tetapi penerapan literasi digital di TBM Balai Baca Rumah Bako lebih difokuskan pada para volunteer melalui pembekalan dalam membuat konten digital. Konten ini nantinya dapat berupa video edukasi seperti video mendongeng yang mana video tersebut juga ditujukan pada anak dan dijadikan sebagai bahan penunjang kegiatan literasi. 5. Penerapan Literasi Finansial Pada Anak di TBM Balai Baca Rumah Bako Menurut Kemendikbud (2017), literasi finansial merupakan kemampuan dan keterampilan dalam menerapkan pemahaman konsep, risiko serta kemampuan membuat keputusan yang efektif terkait finansial. TBM Balai Baca Rumah Bako menerapkan literasi finansial pada anak melalui kegiatan sebagai berikut : a. Parak Bako, merupakan kegiatan bercocok tanam yang diintegrasikan dengan penerapan literasi sains dan literasi finansial pada anak. Berkaitan dengan literasi finansial, melalui kegiatan parak bako anak diajarkan bagaimana cara memasarkan hasil pertanian. Kemudian uang hasil penjualan tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli koleksi dan perlengkapan yang dibutuhkan TBM Balai Baca Rumah Bako. Melalui kegiatan tersebut anak diajarkan kebijakan dalam menggunakan uang untuk kebutuhan bersama serta dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. b. Batuang (Babuek Untuak Kampuang), merupakan kegiatan mengajarkan anak cara membuat kriya yang berbahan dasar bambu. Kriya yang dihasilkan dapat berupa gelang, kalung, gantungan kunci, gelas, teko air dan lain sebagainya yang bernilai jual. Melalui kegiatan ini penanaman jiwa wirausaha sedari dini dapat diterapkan kepada anak, daya kreatifitas anak dapat berkembang serta anak juga diajarkan bagaimana membuat peluang usaha melalui sumber daya dan potensi alam yang ada di sekitar. Kedua kegiatan diatas merupakan penerapan literasi finansial pada anak yang sesuai dengan empat konsep praktik pembelajaran literasi finansial pada anak yang dikemukakan Jackson (2013) yaitu : (1) memperoleh, yang berarti menjelaskan kepada anak bahwa uang diperoleh dari bekerja dan berwirausaha, dalam hal ini kita dapat mengajarkan anak praktik dalam berwirausaha, (2) menyimpan, yang berarti mengajarkan anak bagaimana menyimpan uang yang mereka miliki, (3) membelanjakan, yang mengajarkan anak untuk membedakan antara kebutuhan dengan keinginan dan (4) mendonasikan, yang berarti mengajarkan sikap saling berbagi dengan orang lain. Berdasarkan temuan juga didapatkan bahwasanya penerapan literasi finansial pada anak yang dilakukan TBM Balai Baca Rumah Bako merupakan salah satu kegiatan literasi yang berdampak langsung pada anak. Saat ini anak sudah memiliki pemahaman terkait cara menanam, membuat kerajinan dari bahan sederhana serta pemahaman dalam mengelola keuangan. 6. Penerapan Literasi Budaya dan Kewargaan Pada Anak di TBM Balai Baca Rumah Bako Literasi budaya merupakan kemampuan dan keterampilan untuk memahami dan bersikap terhadap kebudayaan sebagai identitas suatu bangsa sedangkan literasi kewargaan adalah kemampuan untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara (Kemendikbud, 2017). TBM Balai Baca Rumah Bako menerapkan literasi budaya pada anak melalui pembentukan sanggar kesenian Minangkabau yang diberi nama Sanggar Maiank Balah (Mainan Anak Balai Gurah). Melalui sanggar ini tidak hanya anak-anak saja, semua generasi muda di Nagari Balai Gurah akan diajarkan berbagai bentuk kesenian Minangkabau seperti cara memainkan alat musik tradisional, tari tradisional serta randai. Melalui randai, anak akan mengetahui cerita rakyat Minangkabau yang mungkin mulai terlupakan. Selain itu dialog dalam permainan randai umumnya menggunakan petatah petitih, sehingga melalui kegiatan tersebut secara tidak langsung anak juga dapat mempelajari petatah petitih Minangkabau. Melalui sanggar Maiank Balah nilai adat dan norma-norma hidup di Minangkabau juga diajarkan kepada anak seperti norma cara makan, kato nan ampek serta mengajarkan pasambahan pada anak. Kegiatan literasi budaya yang dilakukan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako sesuai dengan pendapat Yulianingsih et al (2018), bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan dalam praktik literasi budaya pada anak yaitu aktif dalam memperkenalkan budaya nusantara kepada anak serta mengajak anak ikut serta dalam pergelaran kesenian tradisional. TBM Balai Baca Rumah Bako menyediakan alat musik tradisional seperti talempong, gandang dan pupuik kemudian juga tersedia sarawa galembong yang digunakan untuk bermain randai dalam menunjang kegiatan literasi budaya. Berdasarkan hasil temuan, kegiatan literasi budaya adalah salah kegiatan literasi yang rutin dilakukan TBM Balai Baca Bako serta berdampak pada pemahaman literasi budaya pada anak. Saat ini anak-anak sudah mulai mengenal budaya dan kearifan lokal yang dimiliki, mengenal tari tradisional Minangkabau dan mampu menarikan nya serta mampu bermain randai. Sedangkan literasi kewargaan yang dilakukan TBM Balai Bako Rumah Bako yaitu rutin memperingati hari kemerdekaan Indonesia melalui kegiatan upacara bendera yang melibatkan anak-anak sebagai petugas upacara mulai dari penggerek bendera dan pemimpin upacara. Kemudian untuk mengiringi upacara bendera anak-anak akan menyanyikan lagu-lagu daerah dan lagu-lagu wajib nasional. Setelah upacara bendera selesai nantinya akan diadakan beragam perlombaan dimana melalui perlombaan tersebut nilai-nilai gotong royong, kerjasama, saling menghargai dan berperilaku adil secara tidak langsung dapat ditanamkan kepada anak. Kegiatan literasi kewargaan yang diselenggarakan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako sesuai dengan pendapat Pratiwi dan Asyarotin (2019) yang menyatakan bahwa kegiatan literasi kewargaan pada anak dapat ditanamkan melalui kegiatan nasionalisme dan cinta terhadap keberagaman seperti ikut serta dalam peringatan hari-hari nasional dan kegiatan bela negara serta menyediakan koleksi yang berkaitan dengan kewargaan.

Conclusion

Berdasarkan penjelasan pada hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa TBM Balai Baca Rumah Bako telah berusaha menerapkan enam literasi dasar pada anak melalui berbagai kegiatan literasi. Pertama, literasi baca tulis pada anak diterapkan melalui kegiatan lapiak baco, mendongeng, read aloud dan kegiatan menulis. Kegiatan ini banyak diikuti oleh anak serta rutin dilakukan sehingga memiliki dampak besar yaitu anak sudah mulai hobby membaca. Kedua, literasi numerasi pada anak diterapkan melalui dua pendekatan. Pendekatan langsung dilakukan melalui kegiatan bimbingan belajar matematika sedangkan pendekatan tidak langsung dilakukan dengan memberikan pemahaman operasi matematika dalam kehidupan sehari-hari pada anak. Namun kegiatan bimbingan belajar matematika sudah lama tidak dijalankan karena keterbatasan jumlah SDM untuk menjalankan kegiatan. Ketiga, literasi sains di TBM Balai Balai Rumah Bako dilakukan melalui kegiatan Parak Bako yang mengajarkan cara bercocok tanam pada anak kemudian kegiatan Camp Cilik melalui kegiatan berkemah dan jelajah alam. Kegiatan parak bako nantinya juga dikolaborasikan dengan kegiatan literasi finansial. Keempat, literasi digital diterapkan melalui kegiatan mengajarkan anak cara mengoperasikan perangkat komputer dan aplikasi digital. Namun kegiatan literasi digital di TBM Balai Baca Rumah Bako lebih terfokus pada para volunteer. Kelima, literasi finansial diterapkan melalui kegiatan parak bako dan batuang (babuek untuak kampuang). Melalui parak bako anak diajarkan cara mengelola keuangan sedangkan melalui batuang anak diajarkan cara membuat kriya berbahan dasar sederhana yang bernilai jual. Dampak dari kegiatan literasi finansial pada anak yaitu mereka sudah mampu membuat produk yang berbahan dasar bambu. Keenam, literasi budaya dan kewargaan diterapkan melalui kegiatan pembentukan sanggar kesenian Minangkabau serta rutin memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Kegiatan literasi budaya merupakan kegiatan literasi yang rutin dilakukan TBM Balai Baca Rumah Bako serta menjadi kegiatan literasi yang sangat berdampak pada anak. SARAN Agar penerapan enam literasi pada anak yang dilakukan oleh TBM Balai Baca Rumah Bako semakin optimal, terdapat beberapa masukan yang akan penulis sampaikan yaitu: 1. TBM Balai Baca Rumah Bako perlu meningkatkan dan mengembangkan kembali kegiatan enam literasi dasar yang telah diselenggarakan, karena dari keenam literasi dasar yang telah diterapkan hanya kegiatan literasi baca tulis dan literasi budaya yang rutin dilakukan. 2. TBM Balai Baca Rumah Bako dapat melakukan kerjasama dengan TBM sekitar ataupun komunitas sekitar yang bertujuan agar kegiatan yang diselenggarakan dapat bervariasi. Serta melalui kerjasama tersebut kendala dana dalam menyelenggarakan kegiatan dapat teratasi. 3. TBM Balai Baca Rumah Bako perlu melakukan evaluasi pada volunteer karena dengan jumlah volunteer yang ada yaitu sebanyak 25 orang namun yang aktif hanya sebanyak 4 orang dan adanya konflik internal antar volunteer yang mengakibatkan tidak berjalannya kegiatan yang telah dirancang sebelumnya