Manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Abstrak
Perkembangan teknologi dan informasi telah mengubah budaya pelayanan perpustakaan dari manual ke arah digital. Perpustakaan sekolah memiliki peran memberikan informasi digital kepada para siswa sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun melalui analisis kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi perpustakaan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan perencanaan program literasi digital yang dilakukan perpustakaan berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat. Proses perumusan perencanaan program literasi digital menggunakan analisis rencana kerja madrasah, analisis program sebelumnya, analisis faktor internal dan eksternal, analisis kompetensi dan potensi pelaksana program, dan sosialisasi. Kegiatan pelaksanaan perpustakaan yaitu merumuskan program, membagi tim pelaksana, dan menciptakan instruksi kerja dengan menjalin koordinasi dan hubungan baik dengan pelaksana program, kepala perpustakaan, tim pelaksana dan guru, kepala perpustakaan, dan kepala madrasah. Kegiatan evaluasi berupa evaluasi internal oleh kepala perpustakaan dan kepala madrasah, evaluasi kinerja oleh tim pelaksana, evaluasi hasil kinerja, dan evaluasi ketercapaian program. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun telah mengembangkan akses perpustakaan berbasis android, katalog elektornik, dan media sosial. Dengan demikian, disimpulkan bahwa manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun telah berjalan cukup baik.
Abstract
Information and technology developments have changed the culture of manual library services to digital. School libraries have a role in providing digital information to students in schools. This study aimed to determine library management in supporting the digital literacy movement in Madrasah Aliyah Negeri 2, Madiun City, through an analysis of library planning, implementation, and evaluation activities. The results showed that the library's digital literacy program planning activities were based on class, school culture, and the community. The process of formulating digital literacy program planning used an analysis of the madrasa work plan, previous programs, internal and external factors, analysis of the competence and potential of program implementers, and socialization. The library implementation activities are formulating programs, dividing the implementing team, and creating work instructions by establishing coordination and good relations with program implementers, the head of the library, the implementing team and teachers, the head of the library, and the head of the madrasa. Evaluation activities are in the form of internal evaluation by the head of the library and the head of the madrasa, performance evaluation by the implementing team, evaluation of performance results, and evaluation of program achievement. Madrasah Aliyah Negeri 2, Madiun City, has developed android-based library access, electronic catalog, and social media. Thus, it concludes that library management has been running quite well in supporting the digital literacy movement in Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun City.
Keywords:
Manajemen perpustakaan
· Perpustakaan sekolah
· Literasi digital
Introduction
Manajemen merupakan bagian penting dalam sebuah organisasi, termasuk perpustakaan. Prinsip manajemen perpustakaan sangat penting dilaksanakan untuk menciptakan sebuah pelayanan perpustakaan sekolah yang profesional. Ini berkaitan dengan bagaimana pengelolaan perpustakaan mampu membuat perencanaan, menentukan tujuan, kebijakan, dan standar operasional secara baik (Mansyur, 2015). Untuk itu, diperlukan pengalaman dalam mengelola perpustakaan agar program yang dijalankan perpustakaan berjalan dengan baik sesuai perkembangan teknologi informasi. Teknologi informasi dan komunikasi sebagai bagian dari perkembangan perpustakaan. Perpustakaan saat ini bergeser dari kegiatan pengolahan buku dan pelayanan secara manual ke arah pengolahan dan pelayanan berbasis otomasi. Adanya teknologi informasi yang semakin pesat telah melahirkan perpustakaan berbasis komputer atau perpustakaan digital (digital library). Untuk itu, pustakawan sekolah penting sekali memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi agar mampu memberikan program pelayanan yang dapat mendukung gerakan literasi digital kepada siswa. Perpustakaan digital saat ini memiliki peran penting dalam gerakan literasi di sekolah. Salah satunya literasi digital, sebagai kemampuan menggunakan teknologi informasi dari perangkat digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks. Untuk itu, perpustakaan sebagai bagian integral sekolah dalam menerapkan program literasi (Fadhli, 2021). Siswa dapat memiliki kemampuan literasi digital yang baik sebagai pengetahuan dalam membedakan berita yang baik dan tidak baik, dan mengetahui situs alamat yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran (Yusuf, Sanusi, Maimun, Hayati, & Fajri, 2019). Peserta didik melalui literasi digital akan lebih leluasa dalam berselancar mencari materi pelajaran atau menambah pengetahuan. Untuk itu, perpustakaan digital memiliki peran sentral dalam proses menyukseskan literasi digital di sekolah. Sekolah yang berhasil menerapkan literasi ternyata masih jauh panggang dari api karena banyak sekolah dan madrasah yang belum memiliki perpustakaan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjukkan data jumlah dan persentase kondisi perpustakaan sekolah di 34 provinsi. Sekolah di Indonesia yang belum memiliki perpustakaan sebanyak 34,19 persen. Kemudian pembaharuan data pada 2018, beberapa provinsi dengan perpustakaan terbanyak mengalami kerusakan ringan dan berat, di antaranya Provinsi Aceh (74,8%), Provinsi Lampung (74,1%) Provinsi Sulawesi Barat (72,7%) dan Provinsi Papua Barat (72,5%). Kemudian kerusakan perpustakaan di Pulau Jawa, kecuali Provinsi Jakarta, rata-rata kerusakan dari 60-70%. Adapun kerusakan perpustakaan Nusa Tenggara dan Papua, lebih dari 70% (Adzkia, 2018). Sekolah atau madrasah mengharuskan memperbaiki infrastruktur dan fasilitas perpustakaan yang dimiliki terlebih. Adapun bagi sekolah atau madrasah yang sudah memiliki perpustakaan yang memadai dapat dilanjutkan mengembangkan perpustakaan berbasis digital. Fenomena perpustakaan telah banyak diteliti, misalnya mengenai peran penting perpustakaan dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah dan madrasah melalui penyediaan berbagai sumber belajar yang memadai (Dewi & Suhardini, 2014). Perpustakaan berperan memberikan motivasi dalam peningkatan minat membaca dengan menyediakan buku paket pembelajaran dan fiksi (Rahadian, Rohanda, & Anwar, 2014). Perpustakaan yang menggunakan penataan desain ruangan yang bagus, pembuatan hiasan dinding yang menarik, penyediaan koleksi yang variatif, ruang baca yang nyaman dan tenang dapat meningkatkan minat membaca siswa (Rohmah, 2013). Perpustakaan berperan mendukung proses belajar mengajar melalui penyediaan buku dan berbagai informasi aktual (Mangnga, 2015). Selain itu, perpustakaan pun dapat mendukung peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar yang berkualitas melalui kerja sama guru dan pengelola perpustakaan (Rahmawati, 2015). Penelitian mengenai perpustakaan digital, literasi digital, dan peningkatan literasi digital telah diteliti beberapa peneliti. Pertama, Rachman, Rachman, and Rachmawati (2017) membahas tentang minat baca perpustakaan bagi siswa di sekolah. Kebiasaan membaca Siswa Sekolah Dasar Kota Depok membuat suasana kota semakin ramah terhadap anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan minat baca siswa kelas dua yang memiliki usia 8 tahun sejumlah 152 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca siswa masih rendah. Sesuai data hasil survey, tidak lebih dari 55% siswa membiasakan diri untuk membaca saat waktu luang. Kedua, Kristyanto (2019) membahas tentang perpustakaan digital dan kelompok pengguna potensial. Optimalisasi peran perpustakaan digital sebagai media informasi yang dapat digunakan pengguna potensial, yakni kelompok masyarakat yang tidak memiliki kesempatan luas menggunakan pelayanan perpustakaan karena keterbatasan fisik, waktu, dan akses. Ketiga, penelitian Melani (2019), meneliti tentang optimalisasi implementasi literasi digital pada pembelajaran pendidikan Agama Islam melalui faktor perencanaan, pelaksanaan, pendukung, dan penghambat. Penelitian ini menjelaskan mengenai siswa yang menggunakan secara optimal fasilitas media digital dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam sebagai tuntutan keterampilan pembelajaran abad 21. Keempat, penelitian Damayanti (2019) yang menitikberatkan pada pemanfaatan literasi digital untuk pembelajaran bahasa. Kelima, penelitian Rodliyah (2012) membahas tentang peran perpustakaan sebagai faktor utama dalam mendukung program pembangunan secara fisik, mental, dan peran aktif dalam mencerdaskan bangsa. Perpustakaan dapat meningkatkan literasi informasi masyarakat sehingga masyarakat dapat meningkatkan kinerja dan aktivitas sehari hari. Keenam, penelitian Krismayani (2019) mengenai analisis kesesuaian instrumen akreditasi perpustakaan sekolah terhadap ketentuan standar nasional perpustakaan Sekolah Menengah Atas. Perpustakaan sekolah penting untuk melakukan akreditasi agar keberadaan perpustakaan dapat menunjang perkembangan mutu sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa instrumen akreditasi sudah sesuai Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas namun masih terdapat beberapa aspek penilaian yang belum sesuai standar dan perlu diadakan perbaikan dan peninjauan kembali. Berdasarkan penelitian terdahulu di atas, memiliki persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai perpustakaan. Adapun perbedaannya, penelitian ini lebih menekankan unsur manajemen perpustakaan dalam meningkatkan gerakan literasi digital di sekolah. Manajemen perpustakaan lebih membahas pengoptimalan literasi digital mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dalam perpustakaan digital dan literasi digital. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk melengkapi penelitian terdahulu dan menambah wawasan keilmuan mengenai manajemen perpustakaan untuk meningkatkan literasi digital di sekolah yang dipandang dari berbagai aspek fungsi manajemen perpustakaan. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Madiun memiliki fasilitas dan pelayanan yang mendukung dalam penerapan literasi digital di sekolah. Hal ini yang mendorong peneliti meneliti lebih mendalam terkait manajemen perpustakaan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun, melalui pendalaman perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi perpustakaan sekolah dalam mendukung gerakan literasi digital. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan optimasi literasi digital dengan cara memaksimalkan fungsi manajemen perpustakaan.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode penelitian deskriptif. Subjek penelitian dalam penelitian kualitatif disebut sebagai informan yakni seseorang yang dapat memberikan informasi atas data penelitian. Pengambilan sampel informan menggunakan purposive sample. Sumber utama penelitian kualitatif merupakan kata-kata dan tindakan yang selebihnya adalah data tambahan. Kendala dalam melakukan wawancara peneliti antisipasi dengan menggunakan teknik snowball sampling yaitu peneliti mencari informan baru atas petunjuk dari informan utama. Keabsahan data menggunakan konsep triangulasi. Peneliti melakukan penelitian ini di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun pada 2019. Adapun informan yang peneliti tentukan adalah kepala perpustakaan sebagai pembuat kebijakan, pegawai perpustakaan berjumlah 2 (dua) orang yang merupakan pelaksana program kegiatan perpustakaan, perwakilan siswa, dan guru sebagai pengguna jasa perpustakaan. Peneliti mengupayakan jawaban yang diperoleh melalui deskripsi komprehensif terkait dengan ungkapan, persepsi, tindakan, norma dasar, dan kondisi sosial yang melatarbelakangi fenomena manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital. Peneliti melalui pendekatan ini dapat menemukan dan mendeskripsikan data secara utuh terkait manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun. Peneliti dalam teknik pengumpulan data menggunakan strategi interaktif dan tidak interaktif. Strategi interaktif termanifestasi melalui wawancara mendalam (in depth interview), sedangkan strategi non interaktif melalui hasil riset pustaka dan studi dokumentasi. Wawancara mendalam ditujukan kepada beberapa informan yang terkait langsung dengan tema penelitian. Adapun hasil riset pustaka dilakukan melalui kajian terdahulu yang membahas mengenai perpustakaan. Studi dokumentasi adalah pengumpulan bukti dokumen di lapangan sesuai rumusan penelitian perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi perpustakaan dalam pengembangan program literasi digital. Peneliti dalam teknik analisis data menggunakan proses reduksi data (data reduction), menampilkan data (displaying the data), menarik dan melakukan verifikasi kesimpulan (drawing and verifying conclusions) (Miles, Huberman, & Saldaña, 2014). Pertama, peneliti melakukan proses reduksi data (data reduction) dengan cara merangkum dan memilih hal pokok dari data sementara yang diperoleh untuk dibuatkan tema atau kategorisasi (Sugiyono, 2016). Hal ini seperti reduksi yang terkait perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi manajemen perpustakaan yang ada. Kedua, peneliti menyajikan data (data display) penelitian yang sudah dilakukan reduksi dan dilakukan proses narasi data berbentuk teks yang bersifat naratif (Sugiyono, 2016). Peneliti dalam menyajikan data melakukan analisis data yang mengacu pada kerangka teori yang telah disusun, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi manajemen perpustakaan. Ketiga, peneliti menarik kesimpulan dengan menjawab dari rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 2016). Kesimpulan yang didapatkan ditindaklanjuti dengan proses verifikasi dengan mengumpulkan data yang kurang untuk disempurnakan sebagai kesimpulan yang baru. Proses ini berlangsung secara berurutan, berulang-ulang, hingga penelitian sampai pada tingkatan jenuh dan akurat. Peneliti setelah merasa hasil penelitian akurat, lalu menyusun sebuah teks naratif kesimpulan dari keseluruhan hasil penelitian yang memuat aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Result & Discussion
Gerakan literasi digital merupakan gerakan yang akan terus berkembang secara masif. Gerakan literasi ini semakin berkembang sejalan berkembangnya dunia informasi dan teknologi di dunia pendidikan, misalnya sistem pembelajaran yang menggunakan media internet. Salah satu madrasah yang sedang berupaya menerapkan gerakan literasi digital adalah Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun. Kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun mendorong dan mewajibkan setiap guru membenahi proses pembelajaran dengan meningkatkan kreativitas dalam mengajar, di antaranya pembelajaran menggunakan internet, teknologi informasi, dan penggunaan media pembelajaran yang atraktif. Praktik literasi digital khususnya di sekolah, memiliki beberapa sasaran, antara lain sasaran berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Pertama, literasi digital berbasis kelas dilakukan melalui peningkatan jumlah pelatihan literasi digital yang diikuti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Literasi digital dalam proses pembelajaran bertujuan meningkatkan pemahaman warga sekolah dalam menggunakan media digital dan internet. Kedua, literasi digital berbasis budaya sekolah dilakukan dengan meningkatkan kuantitas variasi bacaan dan alat peraga berbasis digital, peningkatan intensitas peminjaman buku bertema digital, peningkatan kegiatan sekolah yang memanfaatkan Teknologi Informasi Komputer (TIK), penggunaan media digital dan situs laman, kebijakan penggunaan dan penggunaan Teknologi Informasi Komputer di sekolah dan setiap pelayanannya. Ketiga, literasi digital berbasis masyarakat melalui peningkatan jumlah sarana dan program yang mendukung tingkat keterlibatan orang tua, komunitas, dan lembaga dalam mengembangkan gerakan literasi digital (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun aktif menerapkan gerakan literasi berbasis kelas, contohnya mengadakan perlombaan literasi tingkat kabupaten yang dapat memacu kreativitas siswa, mengadakan sosialisasi kepada warga sekolah dan wali siswa akan pentingnya budaya membaca. Perpustakaan mengadakan berbagai perlombaan untuk mengembangkan potensi literasi siswa, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi guru untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Para guru mengikuti kegiatan seminar, workshop, dan pelatihan literasi digital untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi yang berguna dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Adapun Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun mengembangkan literasi berbasis budaya dengan menekankan setiap pelayanan sekolah menggunakan Teknologi Informasi Komputer. Hal ini berfungsi membuat efisiensi waktu agar pelayanan dapat ditingkatkan. Gerakan literasi berbasis kelas dilakukan guru dan literasi berbasis budaya dikembangkan sekolah yang dapat dikolaborasikan dengan program perpustakaan secara maksimal. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun berjalan dengan lancar. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun telah mengembangkan pelayanan cetak menuju layanan berbasis otomasi. Perpustakaan dalam bidang pelayanan sirkulasi menggunakan Online Public Acces Catalogue (OPAC). Para siswa dapat menelusur (searching) berbagai judul buku dengan lebih cepat dan efektif. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun mengembangkan beberapa pelayanan, seperti referensi, fotokopi, jasa rental, wakaf buku, dan pajangan (display) buku baru. Selain itu, perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi di sekolah telah mengadakan beberapa kegiatan, antara lain pendidikan perpustakaan (user education), perpustakaan kelas (library class), internet Wi-Fi, pojok buku, lomba resensi, bimbingan literasi, jasa internet, multimedia, dan bulan kunjung perpustakaan. Perpustakaan dalam program lomba baca cerpen telah dilakukan setiap bulan dalam kegiatan kunjung perpustakaan. Perpustakaan menyediakan koleksi novel, koleksi fiksi, dan cerita rakyat untuk memberi motivasi kepada siswa agar datang berkunjung dan membaca di perpustakaan. Perpustakaan telah menempati gedung luas dan strategis kurang lebih 200 m2 pada 2010. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun pun memiliki koleksi kurang lebih 4.952 judul dengan 9.350 eksemplar, yang terdiri dari buku paket novel, ensiklopedia, dan majalah (M. Rif’an, wawancara, September 15, 2019). Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun dapat memperkuat ragam sumber belajar seperti penambahan bahan bacaan literasi digital di perpustakaan, penyediaan situs edukatif, penggunaan aplikasi edukatif, pembuatan mading sekolah dan kelas. Hal ini akan memperluas akses sumber belajar yang bermutu bagi para siswa. Selain itu, sekolah menambah jumlah dan ragam sumber belajar melalui perluasan akses sumber belajar yang berkualitas dengan menyediakan komputer dan akses internet lingkungan sekolah, dan penyediaan informasi melalui media digital. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun mengajak masyarakat bekerja sama untuk menyukseskan program literasi. Sekolah yang aktif mengajak masyarakat sesuai dengan pelaksanaan literasi digital berbasis masyarakat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun dalam pengembangan literasi berbasis masyarakat melalui perpustakaan telah melakukan kerja sama dengan pemerintah Kota Madiun. Kerja sama berupa pembuatan akses jaringan perpustakaan berbasis android dan belajar bareng Senayan library Management System (SLiMS) antar pengelola perpustakaan sekolah wilayah karesidenan Madiun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penguatan implementasi gerakan literasi, termasuk literasi digital berbasis masyarakat. Adapun peran perpustakaan dalam program literasi berbasis budaya sekolah sebagai pelaksana program pengadaan buku, pemakai sistem pelayanan perpustakaan berbasis otomasi dan berbasis android. Selain itu, peran perpustakaan dalam program literasi berbasis masyarakat yakni pelaksana program kerja sama dengan perpustakaan daerah dan perpustakaan wilayah keresidenan Madiun. Informan mengatakan, “Iya, karena Madrasah Aliyah Negeri 2 berada di bawah naungan Kota Madiun, maka pasti menjalin kerjasama dengan Perpusda. Kota Madiun. Kerja sama juga dilakukan dengan perpustakaan sekolah se wilayah keresidenan Madiun, terkait sistem layanan”. (A. B. Basuki, wawancara, August 5, 2019). Perpustakaan dalam literasi berbasis masyarakat telah mengembangkan program dengan menjalin kerja sama dengan perpustakaan daerah yakni dalam hal mengikuti seminar, workshop dan kegiatan lain terkait pengembangan perpustakaan. Selain itu, perpustakaan pun membuat akses jaringan perpustakaan berbasis android dan belajar bareng SLiMS antar pengelola perpustakaan sekolah wilayah keresidenan Madiun. Perpustakaan mengembangkan program literasi dalam mendukung peningkatan keterampilan siswa. Hal ini dituturkan informan sebagai berikut. “Iya, perpustakaan terus berupaya mengembangkan programnya dan menambah jumlah koleksi, menambah sarana komputer, dan menambah link pembelajaran agar dapat menambah sumber belajar siswa” (Subiyanto, wawancara, August 5, 2019). Perpustakaan melalui dukungan sekolah terus mengembangkan program ke siswa sekolah. Perpustakaan berupaya menambah koleksi, sarana komputer, dan akses internet agar dapat menambah sumber belajar siswa. Siswa sekolah dapat menggunakan fasilitas perpustakaan dalam menunjang belajar di sekolah. Perpustakaan dalam program literasi digital berbasis kelas berperan sebagai penyedia koleksi yang digunakan untuk proses belajar mengajar. Pustakawan sekolah mengarahkan siswa untuk melakukan penelusuran melalui media digital sehingga siswa dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas belajar, meningkatkan daya ingat, dan memudahkan memahami pembelajaran (Sholaekhah, 2019). Informan menambahkan bahwa, “Perpustakaan juga berupaya mengembangkan layanan berbasis android” (Subiyanto, wawancara, August 5, 2019). Perpustakaan pun meningkatkan jumlah dan ragam sumber belajar yang bermutu meliputi penambahan bahan bacaan literasi digital, penyediaan situs edukatif, penggunaan aplikasi edukatif, pembuatan mading sekolah dan kelas. Selain itu, perpustakaan memperluas akses sumber belajar yang bermutu, penyediaan komputer, penyediaan akses internet di sekolah, dan penyediaan informasi melalui media digital. Perpustakaan mengadakan kegiatan session sharing yang melibatkan masyarakat, para pemangku kepentingan, penguatan forum bersama orang tua dan masyarakat. Kemudian, perpustakaan menguatkan tata kelola dalam pengembangan sistem administrasi elektronik dan membuat kebijakan sekolah mengenai literasi digital. Penelitian ini berfokus menganalisis manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun, melalui analisis perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi perpustakaan. Pertama, kegiatan perencanaan. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun setiap awal tahun pembelajaran selalu melibatkan pengelola perpustakaan dan pimpinan madrasah dalam merencanakan perencanaan program literasi digital. Kegiatan perencanaan perpustakaan antara lain penetapan tujuan, penentuan strategi, kebijaksanaan, prosedur, dan anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Rokan, 2017). Pengelola dan pimpinan madrasah merencanakan program perpustakaan yang berbasis tahunan berdasarkan rencana pengembangan madrasah yang telah tertulis di Rencana Kerja Madrasah (RKM). Perpustakaan dan madrasah sama-sama merencanakan program bersama agar tercipta kesesuaian program yang dilakukan perpustakaan dengan madrasah. Perpustakaan pun dapat memperkuat dan mempercepat laju pelaksanaan program madrasah. Perencanaan program yang dibuat berdasarkan pelaksanaan program kerja tahun lalu agar pelaksanaan program efektif. Perpustakaan merencanakan gerakan literasi digital secara maksimal melalui penguatan kapasitas fasilitator, peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu, perluasan akses sumber belajar bermutu dan cakupan peserta belajar, peningkatan pelibatan publik, dan penguatan tata kelola (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Beberapa persiapan dalam perencanaan di atas sebagai bahan evaluasi pengelola perpustakaan dalam memaksimalkan dan mengantisipasi hal yang menghambat pelaksanaan program. Perencanaan pun harus mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan internal perpustakaan agar dapat memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk menutupi kelemahan yang ada. Selain itu, pengelola perpustakaan dan pimpinan madrasah dapat memanfaatkan peluang, dana operasional madrasah, visi dan misi madrasah sebagai dasar dalam perumusan perencanaan perpustakaan. Sesuai pemaparan di atas, pengelola perpustakaan dan pimpinan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun dalam merencanakan sebuah program selalu mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal madrasah. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun mengembangkan sumber daya yang dimiliki, antara lain man yakni pustakawan, material, dan method dalam melaksanakan perencanaan kegiatan. Pengembangan pustakawan sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) dilakukan dengan memberikan izin pustakawan untuk melanjutkan studi jenjang magister, mengikuti seminar, dan workshop untuk meningkatkan wawasan yang dimiliki. Informan menjelaskan, “Iya, pihak sekolah memberi kesempatan bagi pustakawan untuk mengembangkan keilmuannya dengan sekolah lagi ke jenjang Sarjana, atau mengikuti seminar, dan pelatihan bidang perpustakaan” (A. Siswanto, wawancara, July 30, 2019). Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun memberikan kesempatan bagi pustakawan untuk melanjutkan pendidikan dan mengikuti kegiatan kompetensi perpustakaan. Sekolah berupaya meningkatkan keahlian pustakawan sekolah agar penerapan program perpustakaan berjalan lancar. Pustakawan pun memiliki keahlian literasi digital dalam membantu siswa dalam proses pembelajaran. Pihak pengelola perpustakaan mengembangkan material atau sarana prasarana melalui penambahan koleksi buku dan referensi, perbaikan sarana perpustakaan seperti rak, gedung, dan sarana lainnya. Adapun pengembangan method yaitu pengembangan pelayanan melalui perbaikan manajemen yang ada, seperti, “Iya, perpustakaan terus berupaya meningkatkan metode layanan berbasis komputerisasi atau digital” (A. Siswanto, wawancara, July 30, 2019). Perubahan penggunaan teknologi misalnya dalam pelayanan peminjaman buku yang dilakukan secara manual, sekarang berbasiskan komputerisasi menggunakan program SLiMS. Selain itu, penelusuran informasi koleksi menggunakan android sehingga siswa dan guru dapat mudah menemukan informasi koleksi Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun. Manajemen perpustakaan sekolah pada dasarnya merupakan proses memaksimalkan kontribusi antara pustakawan, material, dan anggaran dalam mencapai tujuan perpustakaan. Untuk itu, seluruh komponen perpustakaan dimanfaatkan secara maksimal dalam mendukung program perpustakan. Perencanaan perpustakaan merupakan penetapan tujuan, penentuan strategi, kebijaksanaan, prosedur, dan anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Rokan, 2017). Program perpustakaan dalam kegiatan perencanaan di antaranya pengembangan kegiatan dan sarana prasarana yang mendukung kepada gerakan literasi digital bagi siswa. Informan mengatakan, “Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun berencana akan menambah jumlah dan ragam sumber belajar yang ada di perpustakaan, penambahan komputer, penyediaan situs edukatif, dan pembuatan mading sekolah” (A. Siswanto, wawancara, July 30, 2019). Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun membeli sarana prasarana komputer dengan akses internet yang baik. Hal ini merupakan upaya sekolah dalam mendukung kemampuan siswa memanfaatkan media digital dengan baik. Siswa sekolah pun dapat leluasa belajar. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun berinisiatif mengembangkan pelayanan perpustakaan dan akademik, dan program pembelajaran berbasis digital sebelum semua sekolah/madrasah menggunakan digitalisasi. Sesuai perencanaan yang dilakukan sekolah, Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun memiliki karakteristik sikap visioner terhadap perubahan yang akan terjadi. Selain itu, sekolah pun menunjukkan sikap tanggap terhadap perubahan yang diwujudkan dengan dukungan terhadap program literasi yang dicanangkan pemerintah melalui pembuatan program kegiatan bertemakan literasi. Sekolah membuat perencanaan kegiatan dengan mengedepankan sikap visioner terhadap perubahan yang ada dan sikap tanggap. Perubahan merupakan salah satu hasil dari perencanaan yang bersifat proaktif dan responsif. Pengelola Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun menyusun perencanaan berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, peluang yang dapat diambil, dan kondisi internal madrasah (perpustakaan). Salah satu strategi yang digunakan Pengelola Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun adalah membagi program berdasarkan skala prioritas dan waktu. Hal ini bertujuan agar program lebih siap yang didukung sumber daya yang lengkap. Selain itu, program yang direncanakan dapat dilaksanakan terlebih dahulu sambil menunggu kesiapan pelaksanaan program selanjutnya. Strategi ini dianggap paling sesuai agar program kegiatan madrasah dapat terus berjalan tanpa jeda waktu yang terlalu lama antara pelaksanaan program satu dengan yang lain. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun, kemudian memilih strategi yang dilanjutkan sosialisasi di kalangan warga madrasah dan masyarakat. Perpustakaan menggunakan media Facebook, Instagram, dan gambar infografis. Informan menjelaskan, “Untuk mempermudah sosialisasi program kepada siswa, perpustakaan menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram” (Ismini, wawancara, August 15, 2019). Perpustakaan menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram sebagai strategi promosi dan sosialisasi program perpustakaan. Berdasarkan sosialisasi yang telah dilakukan, materi/konten berupa gambar lebih sering digunakan. Pengelola perpustakaan mengasumsikan bahwa media gambar lebih menarik perhatian daripada tulisan. Perencanaan yang efektif dapat dilihat dari sisi ketercapaian perencanaan yang ditetapkan. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun memiliki perencanaan yang ditetapkan telah terlaksana sampai 80% dan dapat disimpulkan bahwa perencanaan yang dilakukan efektif. Perencanaan yang efektif apabila sasaran yang direncanakan dapat tercapai dan dilaksanakan secara optimal sesuai rencana yang telah ditetapkan. “Iya, dari beberapa program yang ada pada perencanaan secara garis besar 80% terlaksana dengan baik” (A. B. Basuki, wawancara, August 30, 2019). Perencanaan tersebut efektif dari adanya penambahan bahan bacaan literasi di perpustakaan, penyediaan situs edukatif, penggunaan aplikasi edukatif, dan pembuatan mading di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun. Sekolah dalam memperluas akses sumber belajar menyediakan komputer, akses internet, dan informasi melalui media digital. “Iya, bila mau belajar yang membutuhkan akses internet, di perpustakaan disediakan komputer dan internet gratis” (V. Rahmawati, wawancara, July 24, 2019). Perpustakaan mendukung siswa dalam belajar dengan menyediakan akses internet secara gratis di perpustakaan. Sekolah dalam awal analisis perencanaan, menempatkan pengelola perpustakaan sesuai kompetensi dan potensi masing-masing agar tugas yang diberikan sesuai kompetensi yang dimiliki. Perencanaan yang berhasil dicapai dilihat dari pembagian tugas sesuai kompetensi individu dan terselesaikannya tugas individu. Dapat dikatakan bahwa perencanaan yang efektif terlihat dari tugas yang terselesaikan di dalam kelompok pelaksana program kerja. Adapun proses perencanaan perpustakaan dalam mendukung program literasi digital di sekolah digambarkan pada gambar 1. Sesuai gambar 1, program literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun terdapat tiga perencanaan yaitu perencanaan program literasi berbasis kelas, perencanaan program literasi berbasis budaya sekolah, dan perencanaan program literasi berbasis masyarakat. Tiga perencanaan ini satu sama lain saling berhubungan, yakni perpustakaan, guru, dan siswa saling bekerja sama. Perpustakaan sebelum melakukan sosialisasi program, mengadakan analisis lingkungan internal dan eksternal, analisis kompetensi pelaksana program, analisis rencana kegiatan madrasah agar tercipta kesesuaian antara program perpustakaan dengan sekolah. Gambar 1. Model perencanaan Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun Sumber: Hasil penelitian, 2019 Kedua, kegiatan pelaksanaan sebagai tindak lanjut dari kegiatan perencanaan yang sudah ditetapkan. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun dalam kegiatan pelaksanaan mendukung gerakan literasi digital melalui tiga program literasi, antara lain program berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. Berdasarkan ketiga program tersebut, dilakukan penjabaran ke dalam bentuk atau realisasi program. Pengelola perpustakaan dapat melaksanakan tugas dengan baik apabila dalam kegiatan pelaksanaan terdapat pengorganisasian dalam menciptakan struktur dan sistem kerja yang baik. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun pun untuk mencapai tujuan & program literasi melakukan pengaturan sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan melalui pembuatan struktur organisasi secara jelas. Hal ini berisikan gambaran tugas dan tanggung jawab, dan garis koordinasi antar pengelola, dan pimpinan. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun mendukung program pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis internet dan multimedia di kelas. Pembelajaran berbasis internet yaitu guru mengajarkan kepada siswa mengenai cara menelusur berbagai sumber informasi terkait tema pembelajaran di kelas. Kemudian, guru mengajarkan kepada siswa mengenai presentasi hasil penelusuran dari internet menggunakan LCD proyektor di kelas. Dengan demikian, proses pembelajaran ini melatih siswa terbiasa menggunakan media digital di kelas. Perpustakaan menyediakan fasilitas Wi-Fi sebagai alat penelusuran siswa dalam pencarian informasi. Selain itu, perpustakaan menyediakan koleksi multimedia, seperti koleksi video, kaset, dan Compact Disc (CD) pembelajaran. Pelayanan perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun telah menerapkan sistem otomasi software Senayan library Management System (SLiMS) dengan versi, “Senayan 3-Stable 15 yang dirilis Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan” (M. Rif’an, wawancara, September 15, 2019). Adapun pelaksanaan program berbasis budaya sekolah yaitu menambah koleksi bacaan, mengembangkan perangkat pelayanan perpustakaan ke arah otomasi, dan pengembangan akses jaringan perpustakaan berbasis android. Perpustakaan telah memiliki kurang lebih 4.952 judul dari 9.350 eksemplar koleksi pada 2019. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun memiliki bidang pelayanan sirkulasi, referensi, fotokopi, jasa rental, jasa internet, pengembangan sarana multimedia, informasi melalui sosial media (Facebook, Instagram), pendidikan perpustakaan (user education), perpustakaan kelas (library class), internet Wi-Fi, wakaf buku, pojok buku, lomba resensi, display buku baru, cerita perpustakaan (library story), dan bulan kunjung perpustakaan. Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun bekerja sama dengan Pemerintah Kota Madiun dalam mengembangkan akses jaringan perpustakaan berbasis android dan belajar bareng SLiMS antar pengelola perpustakaan sekolah wilayah keresidenan Madiun dalam pelaksanaan program literasi berbasis masyarakat. Sekolah mengajak pihak lain dari masyarakat untuk bekerja sama guna menyukseskan program literasi yang ada, contohnya pelatihan SLiMS yang diikuti guru dan pengelola perpustakaan wilayah keresidenan Madiun. Pelatihan SLimS dilakukan secara rutin 2 bulan sekali di Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun. Para pengelola perpustakaan saling tukar informasi dan berbagi pengetahuan mengenai otomasi perpustakaan. Dengan demikian, perpustakaan satu dengan yang lain saling menjalin kerja sama untuk memberi masukan agar tercipta pelayanan perpustakaan yang baik. Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun selalu memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi agar program literasi di sekolah berjalan efektif. Kepala sekolah selalu menjalin komunikasi, koordinasi, dan hubungan baik antara tim pelaksana, guru, dan pimpinan madrasah untuk menciptakan kesatuan kerja yang baik dan program berjalan efektif dan efisien. Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun membagikan tugas kepada pelaksana sesuai kompetensi dan memberikan instruksi atau arahan sebagai pedoman pada individu dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu, Kepala perpustakaan mengoordinasikan dan mengomunikasikan pelaksanaan program kepada guru dan kepala madrasah dalam menciptakan efektivitas kelompok dan organisasi. Penulis gambarkan hasil analisis proses pelaksanaan perpustakaan dalam meningkatkan literasi digital di sekolah pada gambar 2. Gambar 2. Model pelaksanaan Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun Sumber: Hasil penelitian, 2019 Sesuai gambar 2, perpustakaan dalam proses pelaksanaan program, melakukan perumusan program dan pembentukan tim pelaksana program. Perpustakaan menjalin komunikasi baik antara kepala perpustakaan, pelaksana, dan guru, memberikan arahan dan bimbingan, dan memberikan motivasi dan hubungan kepada perpustakaan, guru, dan siswa. Hal ini akan membentuk efektivitas individu dan kelompok untuk terlaksananya pelaksanaan program berjalan dengan baik dan efektif. Ketiga, kegiatan evaluasi. Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun melakukan evaluasi kinerja secara berkala dalam rentang waktu pelaksanaan kegiatan. Kegiatan evaluasi yang dilaksanakan biasanya dilakukan tim pelaksana program yang dipimpin kepala madrasah. Evaluasi lebih ditekankan pada evaluasi kinerja masing-masing anggota tim pelaksana berupa perbaikan dan motivasi kinerja tim dari hasil pelaksanaan yang belum sesuai perencanaan. Selain itu, Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun pun melakukan evaluasi hasil yang menekankan pada aspek keberhasilan atau ketercapaian program yang dilaksanakan. Sesuai pelaksanaan kegiatan yang ditunjang kinerja yang baik dari setiap anggota pelaksana diharapkan ketercapaian program dapat diraih. Kegiatan evaluasi dalam mendukung program literasi digital dapat penulis gambarkan dalam gambar 3. Sesuai gambar 3, Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun melakukan beberapa evaluasi hasil pelaksanaan program. Pertama, sekolah melakukan evaluasi kinerja yang dilihat dari efektivitas individu. Kedua, sekolah melakukan evaluasi hasil yang dilihat dari efektivitas kelompok. Evaluasi hasil lebih ditekankan pada aspek keberhasilan atau ketercapaian program. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti melihat bahwa dalam manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun setiap pihak bekerja dan berkolaborasi. Setiap individu di sekolah yang bekerja dengan baik maka akan menghasilkan program pelaksanaan yang baik. Untuk itu, peneliti menggambarkan keseluruhan desain model manajemen perpustakaan di bawah ini. Sesuai gambar 4, manajemen perpustakaan terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga kegiatan ini memiliki kegiatan analisis antara lain analisis kompetensi pelaksana program, analisis RKM, analisis program sebelumnya, analisis lingkungan internal dan eksternal. Perpustakaan dalam menerapkan ketiga kegiatan melakukan komunikasi, memberikan arahan, dan motivasi. Untuk itu, kinerja perpustakaan dan berbagai pihak menghasilkan pelaksanaan yang baik dan memudahkan proses evaluasi.
Conclusion
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas, peneliti simpulkan bahwa manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi digital di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Madiun telah berjalan cukup baik. Kegiatan perencanaan perpustakaan dilakukan dengan mengadakan beberapa analisis, di antaranya analisis rencana kerja madrasah dan program sebelumnya, analisis lingkungan madrasah, analisis SDM, dan sosialisasi. Kegiatan pelaksanaan dilakukan dengan merumuskan program dan instruksi kerja, membentuk tim pelaksana, dan garis koordinasi. Kegiatan evaluasi dilakukan melalui evaluasi internal yang berisi evaluasi kinerja, evaluasi hasil kinerja, dan evaluasi ketercapaian program. Hasil penelitian dapat dikembangkan pada program perpustakaan sekolah/madrasah yang lebih inovatif. Peneliti berharap tulisan ini bisa di kembangkan lagi dengan tema yang lebih menarik terkait pengembangan literasi digital di sekolah.