Pola pencarian informasi mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan teori Ellis
Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana
Abstrak
Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) telah dini belajar ilmu informasi sehingga runtut dalam mencari informasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pola pencarian informasi mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan teori Ellis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Penentuan responden menggunakan quota sampling kepada mahasiswa aktif dari angkatan 2019 sampai 2015 menggunakan Google form. Berdasarkan hasil penelitian, responden mencari informasi sesuai perilaku pencarian informasi yang terdiri dari aktivitas starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Responden dalam aktivitas starting, sudah dapat menentukan topik informasi sebelum mencari informasi yang dibutuhkan dengan nilai 82,6%. Responden dalam aktivitas chaining dapat menghubungkan informasi yang didapatkan melalui pencarian awal dengan nilai 83,4%. Responden dalam aktivitas browsing sudah dapat mencari informasi secara terstruktur dengan nilai 78,4%. Responden dalam aktivitas differentiating sudah dapat mengategorikan informasi yang dibutuhkan dengan nilai 83%. Responden dalam aktivitas monitoring selalu membuat catatan setelah mendapatkan informasi dalam memperoleh perkembangan informasi yang dibutuhkan dengan nilai 79,1%. Responden dalam aktivitas extracting sudah dapat memastikan ketepatan informasi yang diperolehnya melalui teknik scanning dengan nilai 77,9%. Walaupun demikian, telah ada pergeseran pola pencarian informasi model Ellis karena beberapa responden beberapa tahapan pencarian informasi. Disimpulkan bahwa pola pencarian informasi mahasiswa telah dipengaruhi perkembangan teknologi informasi.
Abstract
Satya Wacana Christian University (SWCU) Library and Information Science Study Program students have studied information science at an early study stage, so they consistently seek information. This study aimed to investigate the information-seeking patterns of the SWCU Library and Information Science Study Program students using Ellis' theory. This study used descriptive quantitative research methods. Determination of respondents used quota sampling for active students from class 2015 to 2019 using Google forms. Based on the study results, respondents searched for information according to information-seeking behavior: starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, and extracting activities. Respondents in starting activities can already determine the topic of information before seeking the information needed, with a value of 82.6%. Respondents in chaining activities could relate the information obtained through the initial search, with a value of 83.4%. Respondents in browsing activities could search for information in a structured manner, with a value of 78.4%. Respondents in differentiating activities could categorize the information needed, with a value of 83%. Respondents in monitoring activities always made notes after obtaining the required information development, with a value of 79.1%. Respondents in extracting activities could ensure the accuracy of the information obtained through scanning techniques, with a value of 77.9%. However, there was a shift in the Ellis model of information-seeking patterns because some respondents had several stages of information-seeking. The conclusion is that the development of information technology has influenced the student's information-seeking pattern.
Keywords:
Perilaku pencarian informasi
· Model Ellis
· Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi
Introduction
Manusia selalu hidup berdampingan dengan informasi. Manusia akan kesulitan menemukan tujuan hidup jika informasi tidak ada. Informasi merupakan sebuah data yang diproses terhadap suatu bentuk sehingga memiliki arti untuk penerima informasi. Selain itu, informasi memiliki nilai dan memengaruhi keputusan yang akan diambil sekarang atau mendatang (Sutabri, 2012). Informasi dapat dikatakan penting bagi manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Manusia dalam mencari informasi perlu ada usaha karena informasi tidak datang sendiri. Sholehat, Rusmono, and Rullyana (2016) mengatakan bahwa manusia memiliki cara sendiri untuk menemukan kebutuhan informasi dalam menentukan kebutuhan informasi yang disebut perilaku pencarian informasi. Perilaku pencarian informasi adalah perilaku seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dalam menjawab segala tantangan yang dihadapi melalui informasi yang didapatkan, pemastian fakta, penyelesaian masalah, jawaban pertanyaan, dan pemahaman suatu permasalahan. Untuk itu, seorang mahasiswa sebaiknya dapat menemukan informasi yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan dalam mencari informasi. Walaupun demikian, informasi yang diperoleh tergantung perilaku pencarian mahasiswa yang bersangkutan. Reddy, Krishnamurthy, & Asundi (2018) menyatakan bahwa pengguna sebuah informasi merupakan orang yang memanfaatkan informasi. Perilaku pencarian informasi individu tidak dapat dilihat sampai ada interaksi antara sebuah sistem dengan individu tersebut. Nurfadillah and Ardiansah (2021) menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi pada era globalisasi telah memacu kebutuhan informasi setiap individu karena meningkatnya rasa ingin tahu individu terhadap hal baru. Individu pun menggunakan metode yang berbeda dalam menemukan informasi yang dibutuhkan, misalnya individu mengamati secara langsung keadaan sekitar atau individu memanfaatkan teknologi dalam mencari informasi untuk memudahkan dan mengefisienkan waktu. Pada mahasiswa yang memiliki kebutuhan informasi berbeda seperti proses mengerjakan tugas, penelitian, dan sebagainya, telah memengaruhi pola perilaku pencarian informasi yang berbeda terhadap setiap individu. Pola perilaku pencarian informasi pun berubah. Setiap individu memiliki kebutuhan informasi berbeda sesuai perkembangan hidup (Latiar, 2018). Pada dasarnya, setiap individu memiliki tujuan dan kebutuhan yang berkembang seiring waktu berjalan. Fatmawati (2015) menyebutkan beberapa karakteristik kebutuhan yang mampu memperlihatkan bentuk kebutuhan informasi seseorang. Pertama, karakteristik demografis sebagai sesuatu yang berhubungan dengan individu yang membutuhkan informasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti, seperti tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan asal daerah. Tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap kebutuhan informasi, contohnya seorang dosen lebih banyak membutuhkan informasi daripada anak sekolah dasar. Kebutuhan informasi individu dapat dipengaruhi kalangan usia seperti anak, remaja, dewasa, dan orang tua, dan perubahan pola hidup. Setiap pekerjaan juga memiliki tuntutan pengetahuan atas informasi yang dibutuhkan dalam pekerjaan masing–masing bidang. Untuk itu, seorang pustakawan dituntut memiliki pengetahuan tentang informasi tugas. Perempuan dan laki-laki sendiri memiliki keunikan sendiri yang dapat memengaruhi kebutuhan informasi yang dimilikinya. Seorang laki-laki cenderung membutuhkan informasi yang berbau maskulin, sedangkan perempuan membutuhkan informasi yang cenderung berbau feminin. Setiap individu pun akan dipengaruhi tempat tinggal atau lokasi geografis. Pustakawan yang bertugas di pesisir pantai akan mencari lebih fokus koleksi yang berhubungan dengan kehidupan pesisir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Kedua, karakteristik konteks. Kebutuhan informasi mahasiswa dari suatu program studi akan berbeda dengan kebutuhan informasi dari program studi lain. Ketiga, karakteristik frekuensi yaitu pemilihan informasi yang berulang atau informasi baru yang seharusnya digunakan daripada informasi lama. Keempat, karakteristik kemungkinan sebagai prediksi kebutuhan informasi yang datang tanpa diduga. Saat individu mencari informasi tertentu, maka terlintas dalam pikirannya untuk mendalami informasi tersebut dengan menghubungkannya terhadap informasi lain. Hal ini memungkinkan munculnya kebutuhan akan informasi yang baru. Kelima, karakteristik kepentingan yaitu seberapa penting informasi yang dibutuhkan. Informasi yang semakin penting, maka semakin keras usaha individu menemukan kebutuhan informasi tersebut. Keenam, karakteristik kerumitan, artinya informasi yang dibutuhkan memiliki sifat yang rumi atau tidak mudah. Rumit berarti informasi yang dicari sulit ditemukan. Fadhilah and Nelisa (2014) menyatakan bahwa pada dasarnya suatu kebutuhan informasi terpengaruh kondisi lingkungan. Individu yang melihat kondisi lingkungan sekitarnya akan merasakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya belum cukup. Kroenke and Boyle (2017) memberikan 5 dasar pertimbangan dalam memperoleh informasi yang berkualitas. Pertama, akurat, artinya informasi harus sesuai fakta di lapangan dan informasinya bermanfaat. Selain itu, penyebaran informasi harus diatur untuk kelayakan secara untuk umum atau tertutup. Kedua, tepat waktu artinya informasi selalu tersedia, terbaharui, dan dapat digunakan secara terus menerus. Informasi lama dapat digunakan untuk generasi selanjutnya. Ketiga, relevan, artinya relevansi informasi sesuai konteks penggunaan informasi pada bidang tertentu, contohnya informasi album baru seorang musisi disampaikan pada saat rapat akreditasi. Di sisi lain, buku pengantar ilmu perpustakaan tidak relevan jika diberikan kepada karyawan universitas. Keempat, cukup artinya informasi berkualitas baik memiliki informasi yang cukup, tidak ada kekurangan informasi, tidak meluas atau keluar jalur dari yang dibutuhkan. Kelima, informasi sesuai usaha yang dilakukan dan informasi tidak sepenuhnya gratis. Untuk itu, individu harus bijak dalam memanfaatkan informasi. Individu yang mencari informasi melalui internet akan mengeluarkan biaya untuk mengakses internet karena pelayanan internet belum Rahmah and Tesiani (2013) berpendapat bahwa penelusuran informasi mampu dikerjakan melalui penggunaan katalog online dengan cara mencari pengarang, judul atau subjek karya yang ingin dicari. Hasnawati (2015) berpendapat bahwa penelusuran dapat dilihat melalui cara dan alat yang dipakai saat mencari informasi, yaitu penelusuran informasi konvensional dan digital. Penelusuran informasi konvensional, yaitu penelusuran dengan memanfaatkan kartu katalog, indeks buku, bibliografi, atau abstrak. Adapun penelusuran informasi digital merupakan pencarian informasi menggunakan media digital atau elektronik, seperti mesin pencari, jurnal elektronik, Online Public Access Catalog (OPAC), dan informasi lain yang tersedia di internet. Perilaku pencarian informasi adalah suatu tindakan seseorang yang berhubungan dengan sumber informasi, seperti membaca artikel, penelusuran berbasis internet, dan sebagainya. Faturrahman (2016) menyebutkan bahwa ada bermacam–macam model perilaku pencarian informasi berdasarkan penyebab pengamatan, faktor pengamatan, dan hasilnya pengamatan. Pertama, perilaku pencarian informasi model Wilson dibentuk berdasarkan kebutuhan sesuai kondisi seseorang. Kedua, perilaku pencarian informasi model Krikelas dibentuk berdasarkan kebutuhan informasi seseorang melalui keadaan orang tersebut. Ketiga, perilaku pencarian informasi model Johnson dibentuk berdasarkan kondisi demografi, peran seseorang di masyarakat, dan pekerjaan. Keempat, perilaku pencarian informasi model Leckie yang dibentuk dan dilihat dari jabatan dan tugas individu. Kelima, perilaku pencarian informasi model Ellis dibentuk berdasarkan pengamatan dari kegiatan penelitian. Penelitian pola pencarian informasi pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggunakan teori Ellis telah diteliti penelitian terdahulu. Annisa and Rahmah (2019) meneliti mengenai pencarian informasi generasi milenial dalam pemenuhan kebutuhan informasi. Berdasarkan penelitian ini, sebagian besar Mahasiswa Universitas Negeri Padang 60%-99% dari 42 mahasiswa memiliki perilaku pencarian sesuai teori perilaku pencarian David Ellis. Adapun mahasiswa yang mengidentifikasi kata kunci sebelum mencari informasi dalam memenuhi kebutuhan informasi hanya 45,22%. Mahasiswa sejumlah 90,47% saat mencari informasi menggunakan alat search engine, contohnya Google, Yahoo, Bing, Ask, dan sebagainya. Mahasiswa sekitar 88,09% menggunakan database jurnal dan mahasiswa sejumlah 78,56% menyalin langsung informasi yang tersedia di internet. Mahasiswa sejumlah 76.19% menggunakan jaringan internet melalui Google saat mencari informasi. Annisa and Rahmah (2019) menemukan beberapa hal. Pertama, mahasiswa saat melakukan penelusuran membutuhkan sumber informasi, antara lain buku, narasumber, jurnal penelitian, informasi melalui internet, dan mempertimbangkan tahun terbitan publikasi. Kedua, mahasiswa yang tidak menemukan sumber informasi di perpustakaan universitas akan berusaha menemukan informasi di perpustakaan universitas lain atau perpustakaan daerah. Ketiga, Online Public Access Catalog perpustakaan universitas pada kegiatan penelusuran informasi telah dimanfaatkan dengan baik. Mahasiswa sebagai pencari informasi pun selalu mempersiapkan catatan dari informasi yang akan ditelusuri. Penelitian Annisa and Rahmah (2019) memiliki perbedaan dengan penelitian yang peneliti teliti di bagian tujuan penelitian dan metode penelitian kuantitatif. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui tahapan perilaku pencarian informasi model Ellis yang diterapkan Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi dalam mencari informasi ketika memenuhi tugas perkuliahan. Adapun kesamaan penelitian terletak dalam tahapan pola perilaku pencarian informasi model Ellis yang diterapkan mahasiswa dan teknik penyebaran angket. Adapun kebaruan penelitian ini dibandingkan penelitian terdahulu adalah penerapan perilaku pencarian informasi model Ellis pada mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah. Setiap tahapan pencarian model Ellis dianalisis pada perilaku pencarian para mahasiswa. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang melakukan kegiatan penelitian dalam proses pembelajaran. Untuk itu, teori Ellis sesuai untuk diterapkan. Herlina, Suriana, & Misroni (2015) berpendapat bahwa, starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting merupakan tahapan pencarian informasi model Ellis hasil penelitian dari pola pencarian oleh David Ellis. Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pencarian informasi pada Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan teori Ellis dalam memenuhi tugas perkuliahan melalui analisis aktivitas starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Peneliti menganalisis sumber informasi yang dimanfaatkan mengerjakan tugas perkuliahan dan penerapan tahapan pencarian informasi model Ellis. Mahasiswa dalam mencari informasi memiliki cara tersendiri sehingga model perilaku pencarian informasi yang sesuai untuk diterapkan belum diketahui. Hal ini memungkinkan penggunaan sumber informasi secara acak. Peneliti berharap mahasiswa sudah menerapkan tiap variabel dengan tahapan sesuai acuan model perilaku pencarian informasi Ellis, dan pengunaan sumber informasi primer, sekunder dan tersier.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian kuantitatif deskriptif memiliki tujuan menjabarkan kondisi atau variabel yang muncul di lingkungan masyarakat yang menghasilkan suatu objek penelitian berdasarkan kejadian saat itu. Penelitian kuantitatif deskriptif adalah penelitian eksplorasi yang memainkan peran penting dalam membentuk sebuah hipotesis atau mengenai variabel sosial. Gambar 1. Metode penelitian dalam model perilaku Ellis Sumber: Erlianti, 2020 Penelitian ini mengamati perilaku pencarian informasi mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW Salatiga, dalam memenuhi kebutuhan informasi saat mengerjakan tugas. Mahasiswa dipilih sebagai objek penelitian karena diasumsikan lebih dini mempelajari ilmu informasi sehingga mahasiswa dianggap runtut (bertahap) ketika mencari informasi. Objek penelitian merupakan 46 mahasiswa aktif dari angkatan 2019 sampai 2015. Sampel responden ditentukan menggunakan quota sampling dari mahasiswa aktif setiap angkatan. Peneliti menurunkan variabel yang dipilih ke dalam indikator lalu diubah ke dalam pernyataan dan terbentuk instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan selama Februari 2021. Kuesioner disebarkan dalam bentuk Google Forms dengan bantuan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW dengan cara membagikan kuesioner tersebut ke seluruh mahasiswa aktif. Mekanisme membagikan kuesioner dilakukan melalui grup sosial media seperti WhatsApp, Instagram, atau email. Data yang terkumpul dilakukan coding, analisis validitas, dan analisis reliabilitas menggunakan software SPSS. Data yang telah valid dan reliabel diolah dan dianalisis metode deskriptif kuantitatif. Data yang diambil dari penelitian merupakan hasil perhitungan setiap pernyataan yang mewakili variabel terkait perilaku pencarian informasi mahasiswa, mulai dari starting sampai ending. Data penelitian menggambarkan mahasiswa saat melakukan kegiatan pencarian informasi mengikuti model teori David Ellis. Data penelitian pun menjawab jenis sumber informasi yang digunakan mahasiswa dan kegiatan yang dilakukan mahasiswa setelah mendapatkan informasi. Peneliti melakukan teknik analisis data pada data hasil kuesioner agar peneliti mendapatkan hasil data yang valid. Uji validitas menggunakan software SPSS dan menggunakan analisis korelasi bivariat (bivariate correlation) pada setiap skor indikator dengan total skor konstruk. Hasil analisis diamati melalui perbandingan pearson correlation. “Jika hasil nilai sig. (2-tailed) positif kurang dari 0,05 maka pernyataan tersebut valid. Jika analisis pearson correlation sig. (2-tailed) bernilai negatif kurang dari 0,05 maka pernyataan tersebut tidak valid. Jika nilai sig. (2-tailed) lebih dari 0,05 bisa disimpulkan bahwa pernyataan tersebut tidak valid” (Raharjo, 2014). Adapun uji realibilitas menggunakan metode alpha cronbach. Hayati and Sawitri (2018) menyatakan bahwa metode alpha cronbach merupakan salah satu metode yang dipakai untuk menentukan apakah sebuah penelitian sudah reliabel atau belum reliabel. Bentuk penilaian jawaban dalam metode alpha cronbach memakai skor skala likert atau memakai nilai tiap pilihan responden dengan menafsirkan suatu sikap. Data sampel yang sudah terkumpul dianalisis menggunakan skala likert. Menurut Budiaji (2013), skala likert mempunyai lebih dari empat jumlah pertanyaan yang dikelompokkan dalam suatu skor/nilai dari wujud sifat individu, contohnya pengetahuan, sifat, dan perilaku. Responden dalam skala likert, memilih tingkat persetujuan sebuah pernyataan yaitu memilih dari pilihan yang disediakan. Pada umumnya, terdiri dari 5 variabel jawaban dengan skor di tiap pilihan antara lain, sangat setuju bernilai 5, setuju bernilai 4, netral bernilai 3, tidak setuju bernilai 2, dan sangat tidak setuju bernilai 1. Skor penelitian berdasarkan kriteria menurut skala likert nantinya didapatkan melalui perhitungan sebagai berikut. Total skor Indeks (%) = x 100% Skor maksimum Skor maksimum merupakan jumlah responden dikali skor tertinggi likert nilai 5 atau sangat setuju. Total skor diambil dari Dengan rincian 13 responden memilih sangat setuju, dan 30 responden memilih setuju dan, 3 responden memilih netral. Jumlah responden yang memilih jawaban, antara lain jawaban sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, atau sangat tidak setuju dikali nilai jawaban, dan indeks (%) merupakan hasil perhitungan persentase penilaian. Adapun interval yang digunakan di antaranya, indeks 0%–19,99% dikatakan sangat tidak setuju, indeks 20%–39,99% dikatakan tidak setuju, indeks 40%–59,99% dikatakan ragu-ragu, indeks 60%–79,99% dikatakan setuju, dan indeks 80%–100% dikatakan sangat setuju.
Result & Discussion
Pada penelitian ini, total responden berjumlah 46 orang dari mahasiswa aktif Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW. Identitas responden terdiri dari 60,8% responden angkatan 2019, 15,22% responden angkatan 2018, 13,04% responden angkatan 2016, 6,52% responden angkatan 2017, 4,35% responden angkatan 2015, 57% responden pria, dan 43% responden wanita. Peneliti pada tahap awal, melakukan pengujian validitas dan reliabilitas yang hasilnya menunjukkan bahwa seluruh pernyataan variabel kuesioner valid. Seluruh nilai variabel kuesioner signifikan 5 persen lebih dari 0.291 yang diambil dari nilai r tabel dari 46 responden. Nilai signifikansi seluruh variabel pernyataan di bawah hasil nilai Sig. (2-tailed) positif kurang dari 0,05 maka pernyataan tersebut dinyatakan valid. Penelitian pola pencarian informasi pada Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan teori Ellis dalam memenuhi tugas perkuliahan melalui analisis aktivitas starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Nilai hasil uji reliabilitas starting bernilai 0,864, chaining bernilai 0,822, browsing bernilai 0,692, differentiating bernilai 0,849, monitoring bernilai 0,895, dan extracting bernilai 0,806. Disimpulkan bahwa semua pernyataan reliabel karena nilai cronbach’s alpha lebih besar dari 0,6. Pertama, aktivitas starting adalah tahap dalam memulai penelusuran informasi. Informasi awal digunakan dalam pengembangan topik penilitian. Pada proses starting, seseorang harus memiliki gambaran informasi sesuai kebutuhan agar memudahkan saat mencari referensi (Purnama, 2021). Skor rata-rata perilaku pencarian informasi responden saat memulai pencarian informasi (starting) pada tabel 1 sejumlah nilai 82,6%. Pada tahap ini, responden menentukan topik informasi sebelum mencari informasi yang diinginkan. Variabel ini berada di skala indeks (%) interval 80%–100%. Mahasiswa sangat setuju membuat daftar informasi sebelum mencari informasi tugas yang akan dikerjakan. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 1 sejumlah nilai 84,8%. Individu perlu mengetahui informasi yang dicari melalui daftar informasi yang disusun untuk mempermudah saat pencarian informasi terstruktur (Suhaeni, 2016). Responden sudah mendapatkan materi yang cukup saat proses belajar mengajar sehingga membantu dalam proses mengerjakan tugas perkuliahan. Responden dapat menentukan informasi apa saja yang akan dicari untuk memenuhi kebutuhan informasi ketika mengerjakan tugas perkuliahan. Dosen pun memberikan arahan atau referensi informasi sehingga responden dapat mengerjakan tugas lebih tepat. Responden sangat setuju mencari informasi melalui indeks jurnal atau buku yang tertuang pada tabel 1 pernyataan 2 sejumlah nilai 80,9%. Latifah (2018) menyatakan bahwa terdapat 3 jenis sumber informasi, antara lain sumber informasi primer, sekunder, dan tersier. Indeks merupakan sumber informasi yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi utama. Indeks sebagai bagian sumber informasi tersier. Buku dan jurnal merupakan sumber informasi sekunder yang telah disusun terstruktur. Responden sebagai Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi telah mengetahui penggunaan indeks, jurnal, dan buku untuk mencari informasi. Hal ini disebabkan responden sejak dini sudah diperkenalkan pada mata kuliah pengantar ilmu perpustakaan dan orientasi perpustakaan pada kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (OSMARU). Silaswati (2018) menyatakan bahwa penentuan topik merupakan sesuatu yang paling mendasar pada saat proses penulisan karya ilmiah. Artikel dengan pembahasan yang mendalam akan memiliki topik yang spesifik. Individu seharusnya sudah menentukan topik sebelum melakukan pencarian informasi secara mendalam. Topik adalah gambaran umum tentang pencarian informasi seorang individu. Terkait hal ini, individu tersebut wajib memahami informasi yang akan dicari. Responden setuju menentukan topik informasi sebelum mencari informasi yang tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 3 sejumlah nilai 87,4%. Responden telah terlatih menyusun sebuah topik permasalahan yang mahasiswa dapatkan dari mata kuliah bahasa Indonesia, literasi informasi, dan kajian pengguna. Mata kuliah tersebut mengajarkan penulisan sehingga responden terbiasa menentukan topik melalui informasi yang terkumpul. Tabel 1 Rekapitulasi perhitungan variabel starting No Pernyataan Skor 1 Membuat daftar informasi sebelum mencari informasi 84,8% 2 Mencari informasi melalui indeks jurnal atau buku 80,9% 3 Menentukan topik informasi sebelum mencari informasi 87,4% 4 Mengelompokan kebutuhan informasi yang dibutuhkan 83,1% 5 Bertanya kepada dosen sebelum mencari informasi 78,3% 6 Bertanya kepada sesorang yang menurut saya ahli 84,4% 7 Mencari informasi melalui materi yang diberikan dosen atau catatan materi 82,3% 8 Bertanya kepada pustakawan tentang buku berisi informasi yang dibutuhkan 80% 9 Menggunakan buku sebagai sumber informasi 83,5% 10 Menggunakan jurnal sebagai sumber informasi 81,8% 11 Mewawancarai seorang yang dianggap ahli dengan topik tugas yang diberikan atau diinginkan untuk mendapatkan informasi 80,5% 12 Mencari acuan referensi dari buku atau jurnal 84,8% 13 Menggunakan referensi acuan untuk melengkapi informasi 82,7% 14 Menelusuri lebih dalam referensi 81,8% Rata-rata 82,6% Sumber: Hasil pengolahan data, 2021 Responden menyatakan setuju dalam mengelompokkan suatu informasi. Hal ini tertuang dalam tabel 1 pernyataan nomor 4 sejumlah nilai 83,1%. Responden mengelompokkan informasi dari hasil belajar mata kuliah bahasa Indonesia, literasi informasi, dan kajian pengguna. Sebagian besar responden setuju dalam pernyataan kesediaan bertanya kepada dosen yang tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 5 sejumlah nilai 78,3%. Bata (2019) menyatakan bahwa kegiatan bertanya saat proses pembelajaran akan menciptakan proses berpikir, menimbulkan motivasi, dan menciptakan proses umpan balik pembelajaran kepada pengajar dan pelajar. Sebagian besar responden sangat setuju dalam pernyataan bertanya kepada seseorang yang ahli. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 6 sejumlah nilai 84,4%. Responden sejumlah 13 orang memilih sangat setuju, sejumlah 30 responden memilih setuju, sejumlah 3 responden memilih netral. Responden aktif bertanya kepada pustakawan dan sumber informasi lainnya yang tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 8 memiliki nilai sejumlah 80%. Responden dalam bertanya dimudahkan beberapa hal. Pertama, sebagian besar responden mudah menemukan narasumber yang kompeten. Kedua, beberapa dosen pernah menjabat sebagai direktur perpustakaan sehingga memberikan keleluasaan diskusi dengan responden. Ketiga, responden dapat memanfaatkan jaringan sekitar program studi. Program studi memiliki kedekatan dengan beberapa instansi perpustakaan sehingga membantu responden saat berkunjung ke perpustakaan perguruan tinggi lain. Keempat, narasumber berasal dari pustakawan perpustakaan perguruan tinggi sehingga memudahkan responden bertanya mengenai sumber informasi yang dibutuhkan. Bahkan beberapa pustakawan perpustakaan perguruan tinggi melanjutkan studi pada Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW yang memungkinkan responden bertanya mengenai sumber informasi yang dibutuhkan. Responden sangat setuju bahwa responden mencari informasi melalui materi yang diberikan dosen. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 7 sejumlah nilai 82,3%. Dosen telah cukup membantu memberikan informasi materi pada responden dan materi dinilai ringkas, padat, jelas, dan fokus terhadap hal yang mahasiswa dipelajari. Selain itu, dosen selalu membagikan materi yang telah diajarkan sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam mencari informasi. Responden sangat setuju mengenai penggunaan buku sebagai sumber informasi. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 9 sejumlah nilai 83,5%. Prajawinanti (2020) menyatakan bahwa pengguna dalam mendapatkan informasi dengan landasan ilmiah dapat memanfaatkan buku. Buku dianggap salah satu sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagian besar responden menggunakan buku sebagai salah satu sumber informasi. Koleksi buku tentang perpustakaan dan ilmu informasi sendiri telah memenuhi kebutuhan informasi. Responden mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dari jurnal yang tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 10 sejumlah nilai 81,8%. Hasan (2013) menyatakan bahwa informasi dalam jurnal berperan bagi kajian ilmu yang mutakhir dan akurat sehingga jurnal dapat dimanfaatkan individu dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Responden menggunakan jurnal sebagai sumber informasi karena jurnal berisi informasi yang sudah mendalam sehingga mahasiswa tinggal memperdalam informasi tersebut. Jurnal pun dapat diakses dengan mudah. Responden dalam pemenuhan tugas perkuliahan perlu mencari informasi melalui wawancara dengan narasumber. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 11 sejumlah nilai 80,5%. Sebagian besar responden bersedia melakukan kegiatan wawancara untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam. Widiastuti, Koagouw, and Kalangi (2018) menyatakan bahwa wawancara merupakan komunikasi antara dua orang yang terlibat secara langsung yang berupa percakapan berisi tanya jawab. Wawancara yang efektif dipengaruhi kedalaman informasi yang dikumpulkan sesuai kebutuhan. Responden dalam penelitian ini sangat setuju mengenai pernyataan bahwa dalam pencarian informasi dilakukan melalui wawancara kepada seseorang yang kompeten sesuai topik tugas yang diberikan. Responden menyatakan sangat setuju dalam pernyataan mencari acuan referensi dari buku atau jurnal. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 12 sejumlah nilai 84,8%. Responden sejumlah 14 orang memilih sangat setuju, sejumlah 29 responden memilih setuju, dan sejumlah 3 responden memilih netral. Responden menyatakan sangat setuju menggunakan referensi sebagai acuan untuk melengkapi informasi. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 13 sejumlah nilai 82,7%. Responden sejumlah 34 orang memilih sangat setuju, sejumlah 9 responden memilih setuju, dan sejumlah 3 responden memilih netral. Responden menyatakan sangat setuju menelusuri lebih dalam referensi dari sumber informasi yang ditemukan. Hal ini tertuang pada tabel 1 pernyataan nomor 14 dengan nilai sejumlah 81,8%. Deepublish (2019) menyatakan bahwa tujuan referensi acuan pada sebuah penulisan untuk memperkuat suatu argumentasi, terhindar dari plagiarisme, penghargaan terhadap karya orang lain, dan sebagai informasi bagi pembaca artikel. responden dapat memperoleh informasi yang lengkap terkait teori sebuah referensi. Responden untuk mendapatkan sumber informasi asli harus mendalami sumber informasi yang mengacu pada kutipan sumber informasi. Dosen mengajarkan hal ini saat proses belajar mengajar agar responden terbiasa mencari informasi asli dan mengutip dari sumber asli. Kedua, aktivitas chaining, yakni hubungan dalam sebuah literatur melalui informasi awal. Aktivitas chaining bertujuan menemukan sumber informasi asli dengan melihat kutipan pada sebuah tulisan (Royan, 2014). Responden saat mencari informasi menghubungkan informasi yang didapatkan melalui pencarian awal atau chaining yang tergambar pada tabel 2 sejumlah nilai 83,4%. Pada tahap ini, responden menganalisis kembali kebenaran informasi yang didapat dan membandingkan dengan sumber yang lain. Variabel ini berada di skala indeks (%) interval 80%–100 %. Responden menyatakan sangat setuju menggunakan referensi sebagai acuan memvalidasi informasi asli yang tertuang pada tabel 2 pernyataan nomor 1 sejumlah nilai 80,5%. Responden menggunakan acuan referensi yang tertulis dalam kutipan dan daftar pustaka. Responden pun menggunakan kutipan untuk memvalidasi informasi yang didapatkan. Tabel 2 Rekapitulasi perhitungan variabel chaining No Pernyataan Skor 1 Menggunakan referensi acuan untuk memvalidasi informasi asli 80,5% 2 Melakukan perbandingan terhadap sumber informasi yang dipilih dengan membandingkan dengan sumber referensi lain. 83,1% 3 Menganalisis kembali kebenaran informasi yang didapatkan dan membandingkan dengan sumber lain 85,7% 4 Menyusun informasi terkait topik yang dicari dengan diawali dari yang dipahami terlebih dahulu 84% Rata-rata 83,4% Sumber: Hasil pengolahan data, 2021 Responden sangat setuju melakukan perbandingan terhadap sumber informasi yang dipilih dengan membandingkan dengan sumber referensi lain. Hal ini tertuang pada tabel 2 pernyataan nomor 2 sejumlah nilai 83,1%. Responden membandingkan informasi yang didapatkan untuk menentukan informasi yang relevan dengan tugas yang responden dikerjakan. Sebagian besar responden sangat setuju menganalisis kembali kebenaran informasi yang didapatkan dan membandingkan dengan sumber yang lain. Hal ini tertuang pada tabel 2 pernyataan nomor 3 sejumlah nilai 85,7%. Responden menganalisis ulang informasi yang didapatkan agar menemukan informasi yang relevan. Informasi yang telah dikumpulkan akan diurutkan dari yang mudah dipahami sampai sulit. Hal ini bertujuan memudahkan pencarian informasi secara terstruktur. Responden sangat setuju menyusun informasi terkait topik yang dicari dengan diawali dari yang dipahami terlebih dahulu. Hal ini tertuang pada tabel 2 pernyataan nomor 4 sejumlah nilai 84%. Responden sejumlah 13 orang memilih sangat setuju, sejumlah 29 responden memilih setuju, dan sejumlah 4 responden memilih netral. Ketiga, aktivitas browsing dapat dilakukan dengan melihat berbagai sumber informasi yang telah terkumpul sesuai tema yang dicari (Faturrahman, 2016). Responden dalam mencari informasi melakukannya secara terstruktur (browsing) dengan rata-rata sejumlah nilai 78,4% pada tabel 3. Hal ini menunjukkan bahwa responden mengandalkan Online Public Access Catalog ketika mencari informasi dengan variabel berada di skala indeks (%) interval 60%–79,99%. Responden setuju menggunakan metode bolean logic pada saat mencari informasi di internet yang tertuang pada tabel 3 pernyataan nomor 1 sejumlah nilai 74,8%. Sunaryati and Arfa (2018) menyatakan bahwa boolean retrieval atau biasa disebut dengan boolean logic berfungsi mempersingkat pencarian informasi menggunakan kata-kata yang telah ditentukan dengan memanfaatkan operator and, or, dan not. Sebagian responden sudah paham menggunakan metode bolean logic saat mencari informasi di internet. Responden memiliki keahlian mencari informasi secara terstruktur (browsing) didapatkan saat pengajaran di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui mata kuliah literasi informasi atau kajian pengguna. Responden sangat setuju menggunakan kata kunci saat mencari informasi. Hal ini tertuang pada tabel 3 pernyataan nomor 2 sejumlah nilai 81,4%. Irman (2013) menyatakan bahwa kata kunci merupakan satu frasa yang digunakan untuk menggambarkan isi satu dokumen. Kata kunci berperan penting dalam kegiatan pencarian informasi karena kata kunci mampu mendeteksi informasi yang dicari dalam judul, teks, abstrak, dan lain-lain. Banyak responden dalam mencari informasi terstruktur menggunakan kata kunci untuk mempermudah menemukan informasi yang tepat sesuai topik tugas yang sedang dikerjakan. Tabel 3 Rekapitulasi perhitungan variabel browsing No Pernyataan Skor 1 Menggunakan metode bolean logic pada saat mencari informasi di internet 74,8% 2 Menggunakan kata kunci saat mencari informasi 81,4% 3 Menggunakan fitur mesin pencarian advance search pada saat mencari informasi 74% 4 Menggunakan abstrak untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan 76,1% 5 Menggunakan OPAC perpustakaan saat mencari informasi di perpustakaan 89,6% 6 Mencari langsung dengan mendatangi rak buku untuk mencari informasi yang dibutuhkan 73,1% 7 Menelusur daftar isi sebuah jurnal saat mencari informasi 79,6% Rata-rata 78,4% Sumber: Hasil pengolahan data, 2021 Sebagian besar mahasiswa setuju menggunakan fitur mesin pencari advance search saat mencari informasi yang tertuang pada tabel 3 pernyataan nomor 3 sejumlah nilai 74%. Beberapa mahasiswa mampu menggunakan fitur advance search pada mesin pencari di website browser atau di website Online Public Access Catalog. Beberapa mahasiswa mahir menggunakan website browser dan webopac yang diajarkan saat orientasi mahasiswa baru. Mahasiswa setuju menggunakan abstrak untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan yang tertuang pada tabel 3 pernyataan nomor 4 sejumlah nilai 76,1%. Responden menggunakan abstrak untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Responden sudah mempelajari pembuatan dan fungsi abstrak pada mata kuliah bahasa Indonesia. Mualimin and Kepirianto (2020) menyatakan bahwa abstrak adalah suatu ringkasan dari sebuah karya ilmiah. Abstrak pada karya ilmiah berisi penyajian singkat bahasan dalam suatu karya tulis. Untuk itu, responden yang membaca abstrak akan sedikit banyak mengetahui garis besar tulisan tersebut. Responden sangat setuju saat menggunakan OPAC perpustakaan dalam mencari informasi di perpustakaan. Hal ini tertuang pada tabel 3 pertanyaan nomor 5 sejumlah nilai 89,6%. Koleksi perpustakaan terdapat dalam website OPAC sehingga responden mudah menemukan koleksi yang dicari. Selain itu, responden setuju dalam pernyataan bahwa responden akan mencari langsung dengan mendatangi rak buku untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Hal ini tertuang pada tabel 3 pernyataan nomor 6 sejumlah nilai 73,1%. Sebagian responden terkadang langsung mendatangi rak buku karena sudah memahami klasifikasi buku di perpustakaan. Responden setuju menelusur daftar isi sebuah jurnal saat mencari informasi yang tertuang pada tabel 3 pernyataan nomor 7 sejumlah nilai 79,6%. Agustiana, Tika, and Wibawa (2018) menyatakan bahwa daftar pustaka adalah sumber referensi dari semua kegiatan penelitian suatu artikel. Daftar pustaka pada hakikatnya adalah pendataan seluruh publikasi ilmiah dan non ilmiah, dan hasil penelitian yang digunakan sebagai dasar pengkajian yang dilakukan. Responden menggunakan daftar isi sebagai alat telusur informasi artikel yang ingin digunakan informasinya. Keempat, aktivitas differentiating sebagai kegiatan seleksi informasi yang menghasilkan informasi relevan, valid, dan tepat sesuai kebutuhan pencari informasi. Aktivitas differentiating pada tabel 4 memiliki nilai rata-rata 83%. Artinya responden mengategorikan informasi apa saja yang dibutuhkan dengan variabel berada di skala indeks (%) interval 80%–100%. Tabel 4 Rekapitulasi perhitungan variabel differentiating No Pernyataan Skor 1 Mengategorikan informasi apa saja yang saya butuhkan 84% 2 Membuat daftar informasi yang telah saya seleksi 83,1% 3 Akan membandingkan informasi yang telah ditemukan untuk melihat relevansi informasi tersebut 81,8% Rata-rata 83% Sumber: Hasil pengolahan data, 2021 Responden mengategorikan informasi apa pun yang dibutuhkan agar mudah dalam mengerjakan penulisan tugas yang tertuang pada tabel 4 pernyataan nomor 1 sejumlah nilai 84%. Responden membuat daftar informasi yang telah diseleksi agar informasi yang diambil tepat sesuai kebutuhan dan tidak menggunakan informasi yang tidak terpakai. Pada akhirnya, informasi yang diterima akan diteliti relevansi dengan dibandingkan dengan informasi lain. Responden sangat setuju membuat daftar informasi yang telah diseleksi. Hal ini tertuang pada tabel 4 pernyataan nomor 2 sejumlah nilai 83,1%. Responden sejumlah 12 orang memilih sangat setuju, sejumlah 30 responden memilih setuju, sejumlah 3 responden memilih netral, dan sejumlah 1 responden menyatakan tidak setuju. Responden sangat setuju membandingkan informasi yang telah ditemukan untuk melihat relevansi informasi tersebut. Hal ini tertuang pada tabel 4 pernyataan nomor 3 sejumlah nilai 81,8%. Responden sejumlah 9 orang memilih sangat setuju, sejumlah 32 responden memilih setuju, dan sejumlah 5 responden memilih netral. Kelima, aktivitas monitoring, yakni responden dalam mencari informasi telah memperoleh perkembangan (update) informasi yang dibutuhkan. Responden dalam aktivitas monitoring menyatakan sejumlah nilai rata-rata 79,1% pada tabel 5. Pada tahap ini, sebagian besar responden membuat catatan setelah mendapakan informasi. Variabel ini berada di skala indeks (%) interval 60%- 79,99%. Responden menyatakan sangat setuju membuat catatan penting tentang informasi yang telah didapatkan. Hal ini tertuang pada tabel 5 pernyataan nomor 1 sejumlah nilai 84%. Sebagian besar mahasiswa membuat catatan tentang informasi yang telah didapatkan untuk membantu dalam pengutipan informasi ketika mengerjakan tugas. Responden mendapatkan keahlian mencatat dan membuat kutipan dari mata kuliah bahasa Indonesia. Responden sangat setuju untuk selalu mengikuti perkembangan informasi yang didapatkan. Hal ini tertuang pada tabel 5 pernyataan nomor 2 dengan jumlah nilai 80%. Responden selalu mengecek perkembangan informasi. Rozinah (2015) menyatakan bahwa monitoring formal atau mengecek merupakan tahap pra seleksi sumber informasi yang akan digunakan melalui pertukaran informasi dengan teman atau seseorang yang dianggap ahli, dan melihat secara langsung jika diperlukan. Responden dalam mengerjakan tugas dituntut mencantumkan referensi yang relevan dan sesuai keadaan sekarang. Tabel 5 Rekapitulasi perhitungan variabel monitoring No Pernyataan Skor 1 Membuat catatan penting tentang informasi yang telah didapatkan 84% 2 Selalu mengikuti perkembangan informasi yang didapatkan 80% 3 Selalu mengecek ulang informasi yang didapatkan apakah ada perubahan atau pembaruan melalui informasi buku baru perpustakaan 78,7% 4 Selalu mengecek ulang informasi yang didapatkan apakah ada perubahan atau pembaruan melalui online journal sistem 76,6% 5 Selalu mengecek ulang apakah ada perubahan atau pembaruan informasi yang didapatkan 76,1% Rata-rata 79,1% Sumber: Hasil pengolahan data, 2021 Responden setuju selalu mengecek ulang informasi yang didapatkan terkait ketersediaan informasi baru di perpustakaan. Hal ini tertuang pada tabel 5 pernyataan nomor 3 dengan jumlah nilai 78,7%. Responden memanfaatkan informasi buku baru yang dibeli perpustakaan universitas atau online journal system dalam menemukan informasi terbaru saat mengerjakan tugas. Responden setuju selalu melakukan cek ulang informasi yang didapatkan apakah ada perubahan atau pembaruan melalui online jurnal system. Hal ini tertuang pada tabel 5 pernyataan nomor 4 dengan jumlah nilai 76,6%. Informasi dalam jurnal dipergunakan sesuai kebutuhan untuk diikuti sesuai perkembangan informasi di setiap terbitan jurnal. Responden setuju selalu mengecek ulang apakah ada perubahan atau pembaruan informasi yang didapatkan. Hal ini tertuang pada tabel 5 pernyataan nomor 5 dengan jumlah nilai 76,1%. Pengecekan adalah analisis kembali informasi yang didapatkan. Rozinah (2015) mengatakan bahwa monitoring katalog adalah kegiatan melihat daftar terbitan secara berkala, preview atau bibliografi secara terus menerus dengan mengakses informasi melalui perpustakaan. Adapun monitoring jurnal adalah pemantauan sumber inti informasi secara terseleksi dan melihat perkembangannya dengan seksama. Keenam, aktivitas extracting, yang berisi kegiatan teknik scanning dengan membaca judul, daftar isi, abstrak, atau isi secara sekilas. Aktivitas extracting pada tabel 6 memiliki nilai sejumlah 77,9%. Sebagian besar responden memastikan informasi yang terkandung di dalamnya agar tepat digunakan. Variabel ini berada di skala indeks (%) interval 60%-79,99%. Responden setuju mengevaluasi informasi yang telah terkumpul dari pembaruan informasi yang didapatkan. Hal ini tertuang pada tabel 6 pernyataan nomor 1 dengan nilai sejumlah 78,3%. Kegiatan evaluasi informasi dikatakan Said (2016) sebagai keterampilan yang perlu dikuasai pengguna untuk memudahkan merumuskan kesimpulan informasi yang sesuai kebutuhan. Responden sangat setuju memeriksa kebenaran sumber informasi yang telah didapatkan. Hal ini tertuang pada tabel 6 pernyataan nomor 2 dengan nilai sejumlah 81,4%. Responden memeriksa kembali informasi yang telah didapatkan. Responden melihat apakah informasi tersebut sudah tepat untuk digunakan rujukan tugas yang sedang dikerjakan atau tidak. Tabel 6 Rekapitulasi perhitungan variabel extracting No Pernyataan Skor 1 Selalu mengevaluasi informasi yang telah terkumpul dari pembaruan informasi yang didapatkan 78,3% 2 Saya melakukan pemeriksaan kebenaran sumber informasi, apakah sudah tepat untuk tugas yang saya kerjakan atau tidak setelah pembaruan informasi yang didapatkan 81,4% 3 Saya membaca judul, daftar isi, abstrak, serta isinya secara sekilas agar dapat membuktikan apakah informasi sudah sangat tepat untuk dipakai sebagai referensi penulisan tugas saya 83,1% 4 Saya mencari informasi lebih dalam tentang penulisnya apakah orang tersebut memiliki kompeten dalam bidang tersebut, dari pembaruan informasi yang saya dapatkan 70,9% 5 Saya mengecek kutipan dari informasi tersebut lebih dalam untuk mengetahui dari mana pernyataan informasi tersebut didapatkan 75,7% Rata-rata 77,9% Sumber: Hasil pengolahan data, 2021 Responden sangat setuju membaca judul, daftar isi, abstrak, dan isi secara sekilas. Hal ini tertuang pada tabel 6 pernyataan nomor 3 dengan jumlah nilai 83,1%. Responden memastikan ketepatan sumber informasi yang ditemukan untuk bahan rujukan tugas yang dikerjakan. Responden setuju mencari informasi lebih dalam tentang kompetensi dari penulis yang dirujuk dalam bidangnya setelah pembaruan informasi yang telah didapatkan. Hal ini tertuang pada tabel 6 pernyataan nomor 4 dengan nilai sejumlah 70,9%. Responden pun harus memahami kajian dari informasi yang didapatkan untuk mengetahui kompetensi dan pendapat dari penulis rujukan tersebut. Terakhir, responden setuju mengecek kutipan dari informasi yang didapatkan lebih mendalam. Hal ini tertuang pada tabel 6 pernyataan nomor 5 dengan nilai sejumlah 75,7%. Responden mengecek satu per satu kutipan dari penulis yang dirujuk untuk mengetahui sumber pernyataan informasi yang ditulisnya.
Conclusion
Pola pencarian informasi pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW sudah sesuai dengan seluruh tahapan teori perilaku pencarian informasi model Ellis. Responden dalam aktivitas starting, sudah dapat menentukan topik informasi sebelum mencari informasi yang dibutuhkan. Responden dalam aktivitas chaining dapat menghubungkan informasi yang didapatkan melalui pencarian awal. Responden dalam aktivitas browsing sudah dapat mencari informasi secara terstruktur. Responden dalam aktivitas differentiating sudah dapat mengategorikan informasi yang dibutuhkan. Responden dalam aktivitas monitoring selalu membuat catatan setelah mendapatkan informasi dalam memperoleh perkembangan informasi yang dibutuhkan. Responden dalam aktivitas extracting sudah dapat memastikan ketepatan informasi yang diperolehnya melalui teknik scanning dengan membaca judul, daftar isi, abstrak, atau isi secara sekilas. Berdasarkan tahapan model Ellis, pola pencarian informasi mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi memiliki pergeseran pola. Hal ini diduga masih ada beberapa responden yang tidak melakukan salah satu tahapan dari beberapa tahapan pencarian informasi dan adanya kemudahan saat memulai pencarian. Peneliti menyimpulkan bahwa pola pencarian informasi mahasiswa saat ini telah dipengaruhi perkembangan teknologi informasi. Untuk itu, gagasan penelitian selanjutnya dapat dianalisis mengenai pengaruh teknologi terhadap pola pencarian informasi individu dengan objek penelitian diperluas dari kalangan non mahasiswa yang belum mengenal literasi informasi.