Kembali
16
1
2016 Jurnal Pustaka Budaya Vol 3 · 2 ISSN 2442-7799

PERBANDINGAN TEORI PERILAKU PENCARIAN INFORMASI MENURUT ELLIS, WILSON DAN KUHLTHAU

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Setiap pemustaka memiliki perilaku pencarian informasi yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Perilaku pencarian informasi mengacu kepada bagaimana seseorang mencari dan meramu suatu informasi yang diperolehnya. Setidaknya terdapat tiga teori perilaku pencarian informasi, yaitu teori-teori yang dikemukakan oleh Ellis, Wilson dan Kuhlthau. Ketiga tokoh tersebut mencetuskan teori yang dapat digunakan untuk mengkaji perilaku pencarian informasi pemustaka. Tulisan ini bertujuan untuk membandingkan ketia teori tersebut. Hasil analisa menunjukkan bahwa terdapat enam perbedaan dari teori Ellis, Wilson dan Kuhlthau dan satu kesamaan antara teori Ellis dan Wilson, tetapi masih terbuka kemungkinan ditemukan perbedaan lainnya

Abstract

Ellis, Wilson and Kuhlthau are figures in information study who propose their theories about information seeking behavior. Their theories are applied as a guide in doing study regards users in library. Users studies is needed to know users’ characteristics so that library management would arrange suitable collection and provide suitable facility for the users. Information seeking theory according to Ellis, Wilson and Kuhlthau are different but connected. There are six differences between those theories but one similarity nonetheles there is possibility of other differences among their theories.
Keywords: Information Seeking · Ellis · Wilson · Kuhlthau

Introduction

Perpustakaan merupakan jantung perguruan tinggi, dalam hal ini perpustakaan sangat penting keberadaannya untuk menunjang proses pembelajaran di perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu lembaga pengelola sumber informasi harus selalu berusaha memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademikanya. Dalam rangka memberikan informasi yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan pemustaka maka perpustakaan harus mengenal pemustakanya. Dengan mengenal pemustaka, perpustakaan akan mudah merumuskan koleksi apa yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan bagaimana perilaku pemustaka saat mengakses informasi di perpustakaan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengenal pemustaka adalah melalui kajian pemakai. Kajian pemakai merupakan suatu kajian yang dilakukan secara sistematis mengernai karakteristik dan perilaku pemustaka terhadap layanan atau system informasi. Dengan kajian pemakai ini dapat diketahui bagaimana kebutuhan informasi pemustaka dan bagaimana perilaku pencarian informasi pemustaka di perpustakaan. Terdapat beberapa teori tentang kajian pemakai diantaranya teori tentang perilaku pencarian informasi. Beberapa teori yang populer mengenai pola pencarian informasi adalah teori karya David Ellis, Wilson dan Kuhlthau. Sehingga disini penulis tertarik untuk membahas teori- teori tersebut dan mencoba membandingkannya. Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana teori yang dikemukakan oleh Ellis, Wilson dan Kuhlthau dalam penelusuran informasi? 2. Bagaimana perbandingan ketiga teori tersebut? 3. Bagaimana implementasi ketiga teori tersebut dalam ranah perpustakaan? 2. Landasan Teori a. Kajian pemakai Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kajian berasal dari kata kaji yang berarti pelajaran dan penyelidikan, kajian dalam kamus tersebut berarti hasil mengkaji yang sama artinya dengan belajar, mempelajari, memeriksa, menguji dan menelaah. Apabila dikaitkan dengan kata pemakai dalam arti pemakai informasi maka pengertian kajian pemakai berarti mempelajari, memeriksa, menyelidiki, memikirkan dan menelaah tentang informasi. Hal ini senada dengan pendapat Suyanto bahwa kajian pemakai atau user study merupakan kajian secara sistematis terhadap karakteristik dan perilaku pemakai informasi berkenaan dengan interaksinya dengan system informasi. b. Kebutuhan Informasi. Menurut Belkin kebutuhan informasi merupakan kondisi pengetahuan seseorang tentang suatu situasi atau topik tertentu yang dianggap tidak memadai untuk menghadapi suatu keadaan. Sementara Kuhlthau berpendapat bahwa kebutuhan informasi muncul karena adanya kesenjangan pengetahuan dalam diri seseorang dengan kebutuhan informasi yang diperlukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi muncul ketika seseorang mendapat masalah sehingga membutuhkan informasi yang dapat memberika solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya. c. Perilaku Pencarian Informasi. Menurut Sulistyo-Basuki usaha seseorang untuk mencari informasi yang dibutuhkan akan menimbulkan perilaku, yang perilaku ini disebut perilaku pencarian informasi. Untuk memperjelas batas kajian yang berkaitan dengan pengguna sistem informasi, Wilson menyajikan beberapa definisi sebagaimana dikutip oleh Pendit yaitu: a. Perilaku informasi (information behaviour) yang merupakan keseluruhan perilaku manusia berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian dan penggunaan informasi secara aktif maupun secara pasif. b. Perilaku penemuan informasi (information seeking behaviour) merupakan upaya menemukan dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam hal ini bisa saja seseorang berinteraksi dengan sistem informasi hastawi (surat kabar, perpustakaan) atau berbasis komputer misalnya (www). c. Perilaku pencarian informasi (information searching behaviour) merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Perilaku ini terdiri dari berbagai bentuk interaksi dengan sistem baik di tingkat interaksi dengan komputer misalnya penggunaan mouse atau tindakan mengklik sebuah link, maupun di tingkat intelektual dan mental, misalnya penggunaan boolean atau keputusan memilih buku yang paling relevan diantara sederetan buku di rak perpustakaan. d. Perilaku penggunaan informasi (information user behaviour) terdiri dari tindakan-tindakan fisik maupun mental yang dilakukan seseorang ketika seseorang menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang sudah ia miliki sebelumnya.

Discussion

Layanan perpustakaan dikatakan humanis jika berorientasi pada penggunanya, sehingga sebuah perpustakaan harus mengenal penggunanya karena dengan demikian perpustakaan dapat dengan tepat merumuskan hal yang berkaitan dengan layanan, fasilitas maupun koleksi yang sesuai dengan penggunanya. Untuk mengenal pengguna atau pemustakanya, perpustakaan perlu melakukan kajian terhadap pengguna. Kajian terhadap pengguna bisa dilihat dari kebutuhan informasi yang mereka perlukan atau bagaimana perilaku pengguna saat mengakses informasi di perpustakaan. Dalam bukunya “Teori dan Praktik Penelusuran Informasi” Yusuf Pawit mengemukakan bahwa information seeking atau pencarian informasi membahas tentang kegunaan atau kebutuhan informasi serta perilaku pencarian informasi sebagai suatu kegiatan komunikasi, yang merupakan satu kesatuan rumit dan saling berkaitan. Dalam penelitian perilaku pencarian informasi kemudian memunculkan beberapa teori yang biasa digunakan dalam penelitian ini diantaranya teori-teori yang dikemukakan oleh Ellis, Wilson dan Khuhlthau. 3.1. Sekilas Biografi David Ellis, Thomas D Wilson dan Carol Kuhlthau David Ellis adalah salah satu tokoh dalam bidang ilmu informasi, Dia mendapat gelar sarjana muda atau BA dari Durham University dan gelar magister serta doctor dari Universitas Sheffield. David Ellis memulai karirnya sebagai dosen di jurusan informasi Universitas Sheffield dari tahun 1984 sampai 2000 dan mendapatkan gelar professor dari jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan dari Universitas Aberystwyth pada tahun 2000. Thomas Daniel Wilson lahir pada tahun 1935 di Shincliffe Station Inggris. Setelah menyelesaikan Fellowship dari Asosiasi Perpustakaan ia memulai karir akademisnya di 1961. Dia kemudian memperoleh gelar BSc di bidang ekonomi dan sosiologi, dan gelar doktor dalam teori organisasi. Profesor Emeritus di Departemen Studi Informasi, Universitas Sheffield, Profesor tamu di Leeds University Business School, Profesor di University of Boras, Swedia, dan Profesor Catedratico Convidado di Fakultas Teknik, Universitas Oporto. Dr Wilson menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Gothenburg pada tahun 2005 dan gelar doktor kehormatan kedua dari Universitas Murcia, Spanyol, pada tahun 2010. Sedangkan Kuhlthau lahir di New Brunswick, New Jersey. Ia menerima gelar BS dari Kean University pada tahun 1959, Master Ilmu Perpustakaan (MLS) dari Rutgers University pada tahun 1974 dan gelar Doktor Pendidikan pada tahun 1983 di Rutgers University. Disertasi doktor nya berjudul “The Library Research Proses: Studi Kasus dan Intervensi. Usai Sekolah tinggi Penempatan Lanjutan Kelas Bahasa Inggris Menggunakan Teori Kelly dari Constructs”. Kuhlthau adalah seorang pendidik, peneliti, dan pembicara internasional tentang pembelajaran di perpustakaan sekolah, literasi informasi, dan perilaku pencarian informasi. 3.2.Teori perilaku pencarian informasi menurut Ellis, Wilson dan Kuhlthau. 3.2.1 Teori perilaku pencarian informasi menurut Ellis. Salah satu teori paling populer di kalangan peneliti perilaku informasi atau information behaviour adalah teori karya David Ellis. David Ellis mengembangkan teori perilaku pencarian informasi yang dikaitkan secara langsung dengan system information retrieval. Ellis mengadakan penelitian di kalangan para ilmuan yang sedang melaksanakan kegiatan sehari-hari, yaitu mencari bacaan, meneliti di lapangan atau laboratorium, menulis makalah dan sebagainya. Hasil dari penelitian adalah sebuah teori yang menjelaskan perilaku informasi secara umum dalam bentuk serangkaian kegiatan. Ellis mengemukakan beberapa karakteristik perilaku pencarian informasi yaitu: · Starting, artinya individu mulai mencari informasi misalnya bertanya pada seseorang yang ahli dalam salah satu bidang keilmuan yang diminati oleh individu tersebut. · Chaining, yaitu menulis hal-hal yang dianggap penting dalam sebuah catatan kecil · Browsing, yaitu suatu kegiatan mencari informasi yang terstruktur atau semi struktur. · Differentiating, yaitu pembagian atau reduksi data atau pemilihan data, mana yang akan digunakan dan mana yang tidak perlu. · Monitoring, yaitu selalu memantau atau mencari beritaberita atau informasi yang terbaru (up to date). · Extracting, yaitu mengambil salah satu informasi yang berguna dalam sebuah sumber informasi tertentu, misalnya mengambil salah satu file dalam www dalam dunia internet. · Verifying, yaitu mengecek ukuran data yang telah diambil. · Ending, yaitu akhir dari pencarian. Jika digambarkan maka teori Ellis tersebut akan membentuk serangkaian tahapan sebagai berikut ini: 3.2.2. Teori perilaku pencarian informasi oleh Wilson. Menurut Wilson perilaku informasi dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kebutuhan fisiologis, afektif maupun kognitif. Sewaktu seseorang terdorong untuk mencari informasi sema factor fisiologis, afektif maupun kognitif akan menentukan bagaimana seseorang berperilaku mencari informasi. Selain itu ada juga factor rintangan yang akan menentukan bagaimana akhirnya seseorang bertindak tanduk dalam lingkungan sebuah system informasi. Pada tahun 1996 Wilson merevisi teorinya sendiri yang telah dia usulkan pada tahun 1981, perilaku pencarian informasi yang diusulkan oleh Wilson (1996) yaitu: · Perhatian pasif (passive attention), tahap ini ada dimanapun perolehan informasi terjadi, seperti ketika mendengarkan radio atau menonton TV, dimana sebenarnya tidak ada niat untuk mencari informasi. · Pencarian pasif (passive search), yaitu suatu peristiwa yang ditandai oleh perilaku atau pencarian yang dilakukan oleh seseorang yang dihasilkan dari perolehan informasi yang relevan terhadap dirinya. · Pencarian aktif (active search), yaitu tipe pencarian yang dilakukan saat seseorang secara aktif mencari informasi. · Pencarian berlanjut (on going search), yaitu dengan pencarian aktif telah dapat disusun atau didirikan kerangka dasar dari gagasan, kepercayaan, nilai dan sebagainya, kemudian pencarian informasi berlanjut dilakukan untuk memperbarui atau memperluas kerangka tersebut. Jika digambarkan maka teori Wilson akan membentuk tahapan sebagai berikut ini: Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa Wilson menganggap perilaku informasi merupakan proses melingkar yang langsung berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam konteks kehidupan seseorang. Terlihat pula bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang tekanan dan persoalan dalam hidupnya (Wilson menggunakan istilah “teori” untuk hal ini, walaupun yang dimaksud adalah pengetahuan pribadi seseorang tentang dunianya). Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut, yaitu: 1. Kondisi psikologis seseorang. Cukup masuk akal, bahwa seseorang yang sedang risau dan bertampang memble akan memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira dan berwajah sumringah. 2. Demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Kita dapat menduga bahwa “kelas sosial” juga dapat mempengaruhi perilaku informasi seseorang, walau mungkin pengaruh tersebut lebih banyak ditentukan oleh akses seseorang ke media perantara. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tak memiliki akses ke Internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah. 3. Peran seseorang di masyarakatnya, khususnya dalam hubungan interpersonal, ikut mempengaruhi perilaku informasi. Misalnya, peran “menggurui” yang ada di kalangan dosen akan menyebabkan perilaku informasi berbeda dibandingkan perilaku mahasiswa yang lebih banyak berperan sebagai “pelajar”. Jika kedua orang ini berhadapan dengan pustakawan, peran-peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi. 4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana terlihat di gambar sebelumnya ketika Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan. 5. Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Berkaitan dengan butir 2 di atas, orang-orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosialbudaya. Kelima faktor di atas, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku informasi. Selain itu, ada faktor lain yang akan ikut menentukan aktivitas pencarian dan penemuan informasi seseorang, yaitu pandangan seseorang tentang risiko dan imbalan yang kelak akan dihadapinya jika ia benar-benar melakukan pencarian informasi. Di tahap ini, seseorang menimbangnimbang, apakah perilakunya perlu disesuaikan atau diselaraskan dengan kondisi yang ia hadapi. Misalnya, untuk contoh kasar saja, seorang ilmuwan kondang yang merasa akan terlihat “bodoh” di hadapan pustakawan, mungkin akan berperilaku berbeda dibandingkan seorang dosen yang cuek dalam hal citranya di mata pustakawan. Si ilmuwan mungkin berpikir bahwa bertanya secara langsung kepada pustakawan akan berisiko menurunkan gengsinya, sementara si dosen mungkin tak peduli pada risiko itu sebab ia berkonsentasi pada “imbalan” yang akan diperolehnya dari pustakawan. Pada akhirnya, di dalam model Wilson terlihat bahwa berbagai perilaku informasi (mulai dari yang hanya berupa “perhatian pasif”, misalnya dalam bentuk observasi dan browsing serampangan, sampai pencarian yang berkelanjutan) bukanlah wujud langsung dari kebutuhan informasi seseorang. Terlalu sederhana jika kita menganggap bahwa seseorang yang datang ke perpustakaan mempunyai kebutuhan yang pasti dan mutlak. Ada berlapislapis faktor yang mengantarai “kebutuhan” dan “perilaku”. 3.2.3. Teori perilaku pencarian informasi oleh Kuhlthau. Kuhlthau mengemukakan beberapa tahapan dalam perilaku pencarian informasi yaitu: · Initiation, tahap ini terjadi ketika seseorang menyadari bahwa informasi akan dibutuhkan untuk melengkapi tugasnya. Mereka mulai merenungkan dan memahami tugasnya lalu menghubungkan pengalaman dan pemahaman yang mereka punya dan mempertimbangkan topic yang mungkin untuk melengkapi tugasnya. Namun perasaannya masih dilingkupi ketidakpastian. · Topic selection, yaitu dimana perasaan ketidakpastian masih berlanjut, namun ada optimism dan kegembiraan ketika seleksi selesai dibuat. Yang dilakukan adalah mengidentifikasi dan memilih topic utama yang akan diteliti dan pendekatan dalam pencarian. · Exploration, tahapan ini sering dikatakan poses yang paling sulit karena perasaan kebingungan, ketidakpastian seringkali bertambah dalam tahap ini dikarenakan penemuan informasi yang tidak cocok, tidak konsisten dan tidak pas dengan konsep sebelumnya. · Focus formulation, yaitu tahapan dimana ketidakjelasan berkurang dan kepercayaan diri meningkat. Dalam tahap ini informasi yang telah terkumpul diidentifikasi dan dipilih untuk membentuk perspektif yang focus. · Collection, yaitu tahap dimana interaksi antara pengguna dan system informasi sangat efektif dan efisien. · Presentation, yaitu tahapan dimana ada perasaan lega, perasaan puas ketika pencarian berjalan dengan baik atau Dari table di atas dapat dilihat bahwa teori-teori pencarian informasi yang dikemukakan Ellis, Wilson dan kekecewaan jika terjadi sebaliknya. Jika digambarkan maka teori perilaku pencarian informasi menurut Kuhlthau adalah sebagi berikut ini: 3.3. Perbedaan dan kesamaan dari teori Ellis,Wilson dan Kuhlthau Dari beberapa uraian di atas dapat dirumuskan beberapa perbedaan teori Ellis, Wilson dan Kuhlthau dalam table berikut: Tabel perbedaan teori Ellis, Wilson dan Kuhlthau Dari table di atas dapat dilihat bahwa teori-teori pencarian informasi yang dikemukakan Ellis, Wilson dan Kuhlthau mempunyai perbedaan, namun saling terhubung. Menurut cakupannya teori milik Wilson memiliki cakupan yang lebih luas daripada yang dikemukakan Ellis dan kuhlthau, dimana Ellis dan Kuhlthau hanya membahas apa yang disebut Wilson sebagai pencarian aktif yaitu perilaku pencarian informasi yang memang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Wilson mengemukakan bahwa perilaku pencarian informasi tersebut dapat bermula dari kebutuhan yang tidak sengaja yaitu pada tahap perhatian pasif, baru kemudian ada keinginan untuk mencari keinginan tersebut. Jika dilihat dari tahapannya teori Kuhlthau dan Ellis mempunyai perbedaan. Karakteristik perilaku pencarian informasi menurut Ellis tidak menggunakan langkah-langkah, namun hanya membuat elemen-elemen yang tahapannya bisa saja tidak berurutan dan berbeda tiap individu, atau dalam individu yang sama dalam waktu yang berbeda. Kuhlthau merumuskan langkah-langkah tersebur sebagai alur yang runtut dalam pencarian informasi, sekalipun proses tersebut dapat berhenti di tengah jalan dimana pengguna merasakan kebuntuan atau keputusasaan. Dalam hal tujuan, rumusan yang dikemukakan Ellis hanya bersifat deskriptif untuk menggambarkan cirriciri perilaku pencarian informasi. Sementara Kuhlthau menghubungkan tahapan-tahapan perilaku pencarian informasi dengan aspek psikologis manusia (kognitif, afektif, motorik) untuk menjelaskan perasaan dan pemahaman manusia yang mengalami peningkatan dan penurunan ketika melakukan pencarian informasi. Sedangkan Wilson membahas secara lebih luas apa penyebab factor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian informasi tersebut serta penggunanya. Walaupun diungkapkan di atas beberapa perbedaan teori antara Ellis, Wilson dan Kuhlthau namun teori model Ellis dan Wilson terdapat persamaan yaitu adanya tahap on going search dan monitoring. Hal ini dimaksudkan untuk tetap melakukan pemnatauan atau pencarian lanjutan terhadap informasi-informasi yang mutakhir. Sementara teori model Kuhlthau tidak mencantumkan tahapan ini. Hal ini dikarenakan model yang dirumuskan Ellis adalah model yang meskipun penerapannya dapat digunakan dalam berbagai macam subjek, namun model tersebut berasal dari penelitiannya terhadap para ilmuan yang melakukan penelitian. Dalam melakukan penelitian ini tentunya akan tetap melakukan pemantauan terhadap fenomena-fenomena dan informasi-informasi baru untuk menguji kebenaran penelitiannya. Sedangkan Wilson melakukan penelitian tersebut pada masyarakat perkotaan dimana informasi tersebut akan terus berkembang dan berubahubah. Sementara Kuhlthau merumuskan model dalam hal pencarian informasi untuk menyelesaikan tugas baik pada siswa sekolah, mahasiswa ataupun karyawan. Maka dalam pengerjaan tersebut ketika tugas telah selesai maka pencarian informasipun dianggap selesai. 3.4.Implementasi ketiga model teori (Ellis, Wilson dan Kuhlthau) dalam ranah perpustakaan. Saat kita membahas sebuah teori tentu saja tidak akan terlepas dari implementasi atau kontekstualisasinya di dunia nyata, sebagaimana sebuah ilmu menjadi kurang berharga bila tidak disertai amal atau implementasi seperti pohon tanpa buah, sehingga di sub bab ini penulis mencoba mengulas implementasi ketiga model teori dari Wilson, Ellis dan Kuhlthau khususnya di dunia perpustakaan. 3.4.1 Implementasi Teori Ellis. Temuan-temuan Ellis sebagaimana digambarkan dalam satu rangkaian proses pencarian informasi yang diawali dengan starting dan diakhiri dengan ending menjadi salah satu pemicu bagi berbagai penelitian selanjutnya tentang perilaku informasi ilmuwan. Rincian aktivitas yang berbeda-beda di kalangan ilmuwan berbagai cabang di atas juga telah melahirkan penelitian tentang perilaku komunitas peneliti, dan akhirnya juga membantu strategi pengembangan jasa perpustakaan dan informasi yang lebih terarah. Misalnya, hasil penelitian Ellis ini dapat dijadikan acuan untuk membentuk cluster (pengelompokan) jasa rujukan atau jasa current awareness di sebuah universitas yang punya berbagai fakultas dan jurusan. Teori Ellis lebih cocok diaplikasikan pada perpustakaan perguruan tinggi dimana banyak pemustakanya yang melakukan penelitian baik untuk tugas akhir seperti pembuatan skripsi, tesis dan disertasi maupun penelitian oleh dosen dan peneliti di lingkungan kampus sebagaimana pada awalnya Ellis menggunakan teorinya untuk meneliti perilaku para ilmuan yang sedang melakukan penelitian. Untuk mengantisipasi kebutuhan pengguna saat mencari informasi pada teori yang dikemukakan Ellis, dimana terdapat proses differentiating, monitoring dan verifying dimana pencari informasi harus memilah, memantau dan mengecek data maka perlu adanya informasi yang cakupannya luas yitu dengan mengadakan kerjasama antar perpustakaan dan layanan silang perpustakaan, seperti misalnya komunitas perpustakaan di Yogyakarta yang menggagas berdirinya “Jogja Lib”, Jogja Lib merupakan sebuah portal yang menggabungkan berbagai catalog perpustakaan di Yogyakarta dan sekitarnya, saat ini total seluruh perpustakaan yang bergabung dengan Jogja Lib sudah mencapai 63 Perpustakaan. Dari total perpustakaan yang bergabung berasal dari berbagai jenis perpustakaan diantaranya Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah dan lain-lain. Dari sini pencari informasi dapat mengetahui berbagai koleksi yang dimiliki oleh anggota komunitas Jogja LIB sehingga apabila ada informasi yang dibutuhkan berada di Perpustakaan lain bisa dirujuk ke sana (silang layanan). Teori Ellis tidak cocok diterapkan pada perpustakaan sekolah, apalagi perpustakaan Sekolah Dasar karena dalam prosesnya diawali dengan starting dimana individu mulai mencari informasi dengan bertanya pada seorang ahli, kemudian chaining atau menulis hal-hal yang dianggap penting, bahkan monitoring atau memantau informasi terbaru yang mana untuk perpustakaan sekolah dalam hal ini Sekolah dasar masih sangat sulit dilakukan oleh pemustaka yang masih anak-anak tersebut. 3.4.2. Implementasi teori Wilson. Teori Wilson merupakan teori dengan cakupan paling luas karena didalamnya juga menjelaskan problem dalam pencarian informasi, meskipun jika kita lihat alurnya mengikuti teori Ellis. Teori ini karena bersifat paling komplek maka dapat diterapkan pada berbagai jenis perpustakaan baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, perpustakaan umum seperti perpustakaan kota dan perpustakaan khusus. Hal ini disebabkan karena pada teori ini seseorang bisa saja datang ke perpustakaan tanpa alasan jelas kemudian secara tidak sengaja menemukan buku dengan judul yang menarik (perhatian pasif) kemudian dibaca karena menarik akhirnya mencari lagi buku dengan tema sejenis untuk lebih memperdalam pengetahuan mengenai topic bacaan tersebut atau mencari sambungan dari buku tersebut jika kebetulan buku tersebut diterbitkan secara berjilid, tentu saja hal ini dapat di lakukan oleh siapa saja termasuk anak-anak sekolah dasar maupun masyarakat umum lainnya, sehingga disini penulis berasumsi bahwa teori Wilson dapat diterapkan di berbagai perpustakaan. Strategi yang pelu dilakukan oleh perpustakaan untuk mengantisipasi perilaku pemakai pada teori Wilson adalah dengan menambah fasilitas penelusuran maupun perbaikan kualitas koleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. 3.4.3. Implementasi teori Kuhlthau. Dalam teorinya Kuhlthau merumuskan langkah pencarian informasi sebagai sebuah alur yang runtut dengan dipengaruhi oleh aspekaspek psikologi manusia (kognitif, afektif, motorik). Dalam peneltiannya Kuhlthau merumuskan model pencarian informasi untuk menelesaikan tugas baik siswa maupun mahasiswa dan karyawan. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa perpustakaan yang cocok untuk penerapan teori Kuhlthau adalah semua jenis perpustakaan, namun lebih sederhana dari teori Ellis dimana harus ada perpustakaan yang memiliki link (jaringan) luas, karena dalam teori Kuhlthau tidak terdapat proses on going search dan monitoring sebagaimana dikemukakan Wilson dan Ellis. Antisipasi perpustakaan yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan kehandalan fasilitas penelusuran, kecakapan dan keramahan pustakawan dalam memberikan layanan dan juga ketersediaan koleksi di rak yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, karena disini aspek psikologis sangat mempengaruhi keberlangsungan proses pencarian informasi jika salah satu diantara fasilitas, pustakawan dan koleksi buruk maka tak hayal kalau ditengah proses penelusuran justru pemustaka berhenti karena rasa kecewa. Dengan perbaikan dan penataan intern perpustakaan sudah cukup membuat penelusur atau pemustaka nyaman karena dala teori ini pencarian akan berhenti pada proses presentation tanpa ada proses monitoring dan on going search.

Conclusion

Ellis, Wilson dan Kuhlthau merupakan tokoh dalam ilmu informasi yang mengemukakan teorinya masingmasing mengenai perilaku pencarian informasi. Teori dari ketiga tokoh ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam membuat kajian pemakai di perpustakaan. Kajian pemakai dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik pengguna perpustakaan sehingga dapat dirumuskan koleksi dan fasilitas yang sesuai karakteristik dan kebutuhan pengguna. Terdapat enam perbedaan dari teori Ellis, Wilson dan Kuhlthau dan satu kesamaan antara teori Ellis dan Wilson, tetapi masih terbuka kemungkinan ditemukan perbedaan lainnya.