WAHANA PENGEMBANGAN DIRI PUSTAKAWAN UNTUK MENUNJANG KEGIATAN PERPUSTAKAAN
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Abstrak
Beberapa wahana atau kegiatan yang dapat dilakukan oleh pustakawan antara lain melalui kegiatan seminar, kegiatan pameran, perpustakaan keliling, pendidikan dan pelatihan; studi banding dan lain sebagainya. Kegiatan tersebut ada yang rutin dilakukan ada pula yang insidental. Kegiatan yang sering dilakukan di antaranya adalah kegiatan seminar dan pameran serta kegiatan Forum Pustakawan. Dalam kegiatan forum pustakawan biasanya diadakan beberapa agenda seperti seminar untuk karya tulis ilmiah. Setelah acara selesai biasa akan diadakan kunjungan atau field trip ke beberapa tempat yang berhubungan dengan perpustakaan di sekitar acara tersebut diselenggarakan.
Keywords:
wahana
· pustakawan
· perpustakaan
Introduction
Menurut Musda IPI Provinsi Jawa Tengah (2016:717) kompetensi adalah kemampuan dasar, sifat, ketrampilan dan pengetahuan yang memungkinkan seseorang berhasil menyelesaikan tugas dan tantangan. Kompetensi yaitu aspek personal (sifat, motif, nilai, sikap, pengetahuan, dan ketrampilan) yang memungkinkan pencapaian kinerja prima. Kompetensi dapat mendorong perilaku yang dapat menghasilkan kinerja Seiring dengan perkembangan dunia perpustakaan yang lebih dinamis dan modern pustakawan dituntut untuk selalu belajar dan belajar agar terus bisa melayani masyarakat yang sekarang sudah melek teknologi. Beberapa kegiatan yang harus diikuti atau dimiliki oleh pustakawan untuk pengembangan potensi diri antara lain dengan mengikuti berbagai pelatihan. Selain itu juga pustakawan dituntut aktif dalam organisasi atau komunitas yang dapat menunjang kegiatan pustakawan tersebut. Ada beberapa badan atau organisasi yang sering menyelenggarakan Pendidikan dan pelatihan untuk pustakawan. Untuk yang resmi dan berlangsung konsisten setiap tahunya ada Lembaga perpustakaan Nasional. Pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh perpusnas mencakup semua kegiatan yang ada di perpustakaan yang dapat diikuti oleh semua pustakawan di Indonesia sesuai dengan jenjang atau tingkatan dari masing-masing pustakawan. Organisasi lain yang biasanya mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk pustakawan yaitu dari universitas atau perguruan tinggi yang mempunyai jurusan Ilmu Perpustakaan dengan materi dan topiknya terbatas. Selain itu, pendidikan dan pelatihan dilakukan oleh komunitas seperti Forum Perpustakaan Khusus, Forum Perpustakaan Perguruan tinggi, Forum Perpustakaan Umum, Ikatan Pustakawan Indonesia. Media Pendidikan dan Pelatihan Sebelum masa Pandemi Covid-19 kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka. Termasuk juga kegiatan pendidikan dan pelatihan pustakawan semua dilakukan dengan tatap muka langsung di dalam kelas atau ruangan. Terutama untuk kegiatan praktik. Setelah terjadinya pandemi Covid19 semua kegiatan masyarakat dibatasi dengan cara jaga jarak sehingga mengharuskan kegiatan dilaksanakan secara daring atau online melaluai aplikasi daring. Selain kegiatan perpustakaan, seorang pustakawan juga harus mampu menguasai teknologi informasi atau ilmu computer karena sekarang hampir sem ua kegiatan manusia sudah dijalankan menggunakan computer. Dengan kata lain pustakawan harus mempunyai soft skill untuk menjadi unggul dan kompetitif untuk menunjang kegiatan perpustakaan. Peningkatan kompetensi mutlak diperlukan, baik peningkatan aspek kognitif atau hardskill serta softskill. Soft skill ini bisa didapatkan oleh pustakawan dari berbagai media. Untuk kegiatan pengelolaan perpustakaan, soft skill yang dominan dibutuhkan adalah keterampilan organisasi dan manajerial. Pelayanan perpustakaan pada sub kegiatan pelayanan teknis dibutuhkan softskill terkait teknologi dan informasi serta keterampilan kemampukerjaan sangat dibutuhkan, sedangkan untuk layanan pemustaka memerlukan keterampilan social dan keterampilan komunikasi yang lebih dominan. Pengembangan system kepustakawanan dibutuhkan keterampilan berpikir dan kemampuan teknologi dan informasi. Pengembangan profesi membutuhkan keterampilan berpikir yang dom inan serta keterampilan teknologi dan informasi dan keterampilan social. Soft skill merupakan kompetensi intrapersonal yaitu kem ampuan untuk mem ahami dan mengendalikan diri sendiri. Kompetensi ini terdiri dari: pemahaman tentang sukses, evaluasi diri, citra diri, goal setting, motivasi diri. Kompetensi interpersonal yaitu kompetensi kita untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, kompetensi ini terdiri dari: pengendalian emosi, rasa percaya diri, komunikasi intensif, dan human relation (muhaniz.wordpress.com) Selain softskill seorang pustakawan juga harus memiliki komunitas untuk menunjang kegiatan di perpustakaan. Dengan adanya komunitas diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh seorang pustakawan. Biasanya di dalam komunitas akan saling memberikan informasi atau bantuan penyelesaian masalah dari pengalaman setiap anggotanya. Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”.(id.wikipedia.org). Wahana selanjutnya adalah kerjasama dengan pihak lain baik kegiatan yang berhubungan langsung dengan perpustakaan maupun yang tidak langsung. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kerja sama sebagai kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang (lembaga, pemerintah, dan sebagainya) untuk mencapai tujuan bersama. Adapun tujuan kerjasama adalah sebagai berikut: - Melatih berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah - Mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi - Menumbuhkan rasa percaya diri - Saling memahami individu dalam kelompok Dengan tujuan tersebut diharapkan seorang pustakawan dapat mengambil manfaat dari kegiatan kerjasama tersebut untuk mengembangankan potensi diri, yang selanjutnya dapat diaplikasikan untuk pengembangan perpustakaan. Organisasi profesi juga sebagai salah satu wahana dalam pengembangan diri seorang pustakawan. Pengertian organisasi profesi merupakan serikat berbadan hukum, yang terbentuk dari beberapa individu dengan profesi sama, serta dilengkapi sistem kerja dan peraturan dalam rangka untuk mengembangkan profesionalitas dan mencapai tujuan bersama. Kenyataannya, konsep organisasi profesi terlihat sebagai salah satu wadah yang berperan penting dalam mengembangkan suatu ilmu pengetahuan. Terdapat dua perhatian utama dari organisasi profesi. Pertama ialah kebutuhan hukum sebagai tempat berlindung bagi masyarakat dari anggota profesi yang tidak dipersiapkan dengan baik. Kedua adalah melindungi anggota dari kurangnya standar dalam suatu bidang profesi yang dijalankan (organisasi.co.id).
Discussion
Agar mampu bersaing diera digital 4.0 seorang pustakawan harus mampu menjadi seorang pustakawan yang unggul dan kompetitif. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut seorang pustakwan harus memiliki kompetensi yang lengkap agar dapat mengelola perpustakaan untuk bersaing dengan media informasi lainya. Sehingga perpustakaan tidak ketinggalan dari media informasi yang lain. Wahana yang dibutuhkan agar seorang pustakwan dapat menjadi pribadi yang unggul dan kompetitif antara lain: 1. SOFTSKILL Softskill di perlukan dalam menunjang kegiatan perpustakaan yang merupakan salah satu media informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Softskill yang minimal harus dimiliki oleh seorang pustakawan yaitu: a. Complex Problem Solving Kemampuan berpikir jernih dan mendalam terhadap suatu masalah merupakan salah satu sof t skill terpenting yang harus dimiliki. Kemampuan identifikasi, lalu menyeleksi informasi, menentukan solusi, dan mengevaluasinya adalah bagian dari kemampuan complex problem solving ini. b. Critical Thinking Critical thinking adalah kemampuan untuk berpikir kritis dan memberi imbal balik yang disertai dengan alasan yang logis. c. Creativity Creativity adalah kemampuan untuk menemukan sesuatu yang unik dan orisinal. Tidak harus benarbenar baru, bentuk kreativitas bisa pula muncul dengan mengembangkan apa yang sudah ada kemudian memodifikasinya. d. People Management Untuk mampu berinteraksi dengan tim, people management atau kemampuan mengelola orang lain sangatlah diperlukan, termasuk di dalamnya kemampuan leadership. e. Coordinating with Other Berkoordinasi dengan orang lain bukanlah sesuatu yang sepele. Tidak jarang, ketidakmampuan berkoordinasi berimbas buruk pada kerja sama tim atau komunikasi dengan klien. Maka, ini menjadi soft skill yang juga dibutuhkan f. Emotion Intelligence Merupakan kemampuan untuk mengatur emosi, termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi, mengelola serta memanfaatkan emosi. g. Judgment and Decision Making Kemampuan untuk mengambil keputusan dalam kondisi apa pun, termasuk ketika sedang berada di bawah tekanan, mutlak diperlukan di era teknologi informasi seperti sekarang ini. h. Service Orientation Merupakan kemampuan untuk “melayani”, baik bagi perusahaan maupun pelanggan, tanpa semata mengharapkan penghargaan. i. Negotiation Soft skill ini hampir tidak mungkin dilakukan mesin. Maka, sampai kapan pun kemampuan bernegosiasi tersebut bakal masih dibutuhkan. j. Cognitive Flexibility Bekerja efektif dan efisien diperlukan untuk membuat pekerjaan lebih cepat terselesaikan. Nah, untuk bisa melakukan hal tersebut, kemampuan cognitive flexibility diperlukan agar kamu bisa berpikir sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Selain itu pengembangan softskill yang dapat langsung dibutuhkan untuk kinerja Pustakawan pada masa sekarang antara lain pelatihan di bidang bahasa asing minimal bahasa Inggris, edit video, edit gambar, membuat media konten di youtube, belajar aplikasi CANVA sebagai salah satu aplikasi penunjang untuk mengelola bahan untuk media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook, Youtube. Karena hampir semua kegiatan sekarang ditampilkan di semua platform media sosial. 2. KOMUNITAS Selain softskill seorang pustakawan juga dibutuhkan suatu komunitas yang dapat menampung serta berbagi permasalahan dan pengalaman dalam pengelolaan perpustakaan. Sebagai contoh Komuitas SLiMS Jakarta dalam komuitas ini pustakawan dapat memperdalam serta berkonsultasi antaranggota, jika ada anggota yang belum bisa mengoperasikan suatu fitur dalam aplikasi SLiMS dapat belajar disini. Kebetulan yang menjadi ketua dari komunitas tersebut adalah seorang yang ahli dalam pengembangan SLiMS. Sehingga apabila terjadi permasalahan dapat langsung dikomunikasikan dengan ahlinya. Komunitas SLiMS sudah memiliki anggota yang lumayan banyak yang tersebar di seluruh Indonesia. Komunitas SLiMS (Senayan Library Management System) adalah merupakan komunitas yang mempunyai minat bersama pada perangkat lunak SLiMS. SLiMS merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan yang dirilis dengan lisensi open source (http://senayan.diknas.go.id). SLiMS telah digunakan oleh lebih dari 120 perpustakaan di Indonesia, baik perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan khusus maupun perpustakaan Perguruan Tinggi. SLiMS sendiri dikembangkan oleh pustakawan di Indonesia dan didukung oleh para programer dari luar negeri (daryono.staff.uns.ac.id). 3. KERJASAMA Kerja sama dalam dunia perpustakaan mutlak dilakukan. Peran pustakawan dalam kegiatan kerjasama sangat penting, hal ini karena pustakawan sebagai garda terdepan dalam pengelolaan dan pengembangan sebuah perpustakaan. Kerjasama perpustakaan biasanya dilakukan antarperpustakaan maupun lembaga lain di luar perpustakaan. Beberapa manfaat dalam jaringan kerjasama antara lain, menyediakan akses yang cepat dan mudah, menyediakan informasi yang lebih mutakhir, memudahkan dalam kombinasi data dari berbagai sumber. Selain manfaat ada juga fungsi dari kerjasama adalah untuk memberikan akses yang lebih luas, memperbaiki teknis layanan, meningkatkan aktivitas dalam berbagai sumber daya perpustakaan, mengurangi duplikasi koleksi, menciptakan layanan perpustakaan yang lebih efisien. Contoh kerjasama yang dilakukan antarperpustakaan khususnya untuk perpustakaan khusus di lingkup Pusat Riset Perikanan yaitu: a. Kerjasama silang layan yaitu kerjasama yang bertujuan untuk memenuhi permintaan informasi yang semakin banyak dibutuhkan oleh pengguna, meningkatkan nilai informasi suatu bahan pustaka dan meningkatkan pendapatan data pemasukan untuk keberlangsungan operasional layanan. b. Kerjasama dengan pengelola jurnal Kerjasama yang dilakukan biasanya dalam rangka pemberian nomor klasifikasi UDC untuk tiap artikel yang akan diterbitkan dalam jurnal. Selain itu juga dalam bentuk penyimpanan repository data jurnal baik dalam bentuk cetak maupun dalam bentuk softcopynya. Sehingga jika ada yang mencari informasi tentang artikel dalam jurnal tersebut dapat langsung menelusurinya di perpustakaan. c. Kerjasama dengan pranata computer Kerjasama tersebut dilakukan untuk pengembangan aplikasi otomasi perpustakaan dan perpustakaan digital, karena memerlukan keahlian khusus di bidang teknologi informasi yang biasanya pustakawan mengalami kesulitan jika terjadi permasalahan dalam menjalankan aplikasi. 4. Organisasi profesi Ada beberapa organisasi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia diantaranya IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia), ISIPII (Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia), ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Seluruh Indonesia) dan APISI (Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia). Selain itu juga ada CONSAL (Congress of Southeast Asian Librarians) merupakan kongres pustakawan se-Asia Tenggara yang diadakan setiap 3 tahun sekali dan diselenggarakan secara bergilir di masing-masing negara anggota, khususnya negaranegara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmardan Brunei Darussalam. Dalam setiap kongres, biasanya yang menjadi tuan rumah/panitia adalah Perpustakaan Nasional dan Ikatan/Asosiasi Profesi Pustakawan yang ada pada masing-masing negara anggota. Di Indonesia sendiri kegiatan ini ditangani oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Bagi pustakawan, organisasi profesi sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan peningkatan kompetensi
Conclusion
Dalam menjalankan ugasnya seorang pustakawan dituntut untuk menjadi pribadi yang unggul dan kompetitif. Untuk mencapai tujuan tersebuat seorang pustakawan harus memiliki beberapa kompetensi penunjang agar dapat bersaing di era sekarang ini. Adapun sarana yang dapat diikuti oleh pustakawan antara lain pelatihan softskill, aktif di sebuah komunitas pustakawan, bekerjasama dengan pihak lain untuk mengembangkan profesi pustakawan sekaligus perpustakaan tempat dia bekerja. Organisasi profesi sangat diperlukan oleh seorang pustakawan untuk memajukan profesi pustakawan.