Kembali
16
1
2020 Jupiter Vol 17 · 2 ISSN 2777-046X

ANALISIS PENGETAHUAN PEMUSTAKA TERHADAP FUNGSI-FUNGSI PERPUSTAKAAN DI UNIVERSITAS HASANUDDIN

Universitas Hasanuddin; Universitas Hasanuddin

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin (Unhas). Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel sebanyak 108 orang diambil secara purposive, dengan kriteria sudah menjadi anggota perpustakaan dan minimal 3 kali melakukan pemanfaatan perpustakaan di Unhas. Pengumpulan data dilakukan melalui pembagian kuesioner dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis kuantitatif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemustaka telah mengetahui fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin dengan baik. Pengetahuan ini dibuktikan dengan cara memanfaatkan perpustakaan sesuai fungsinya yang meliputi: (1) fungsi Perpustakaan Unhas sebagai pembelajaran sepanjang hayat dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat belajar mandiri, sebagai sarana pembelajaran secara formal dan informal, menjadikan perpustakaan sebagai sarana gemar membaca dan merealisasikan masyarakat pembelajar. (2) fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana penelitian dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi untuk rujukan penelitian, untuk mendukung dan menghasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat, dan semua kebutuhan dalam penelitian/penulisan karya ilmiah termasuk pembuatan makalah diperoleh dalam Perpustakaan Unhas (3) fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana informasi dengan memanfaatkan perpustakan sebagai sumber informasi, sebagai tempat yang menyediakan informasi yang bermanfaat atau berkualitas, dan mudah diakses. (4) fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana rekreasi berbasis edukatif dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber bacaan hiburan yang bermanfaat. (5) fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana pelestari budaya bangsa dengan memanfaatkan perpustakaan (koleksi) sebagai tempat mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat, dan bermanfaat untuk menjadi cinta kebudayaan Indonesia.

Abstract

This study aims to find out and analyze the knowledge of users of library functions at Hasanuddin University (Unhas). This research is descriptive. A sample of 108 people was taken purposively, with the criteria of being a member of the library and at least 3 times using the library at Unhas. Data collection is done through the distribution of questionnaires and documentation. Data were analyzed using quantitative analysis. The results of the study indicate that the readers know the library functions at Hasanuddin University well. This knowledge is proven by utilizing the library according to its functions which include: (1) the function of the Unhas Library as lifelong learning by utilizing the library as a place of independent learning, as a formal and informal learning facility, making libraries a means of reading and realizing learning communities. (2) the function of the Unhas Library as a vehicle for research by utilizing the library as a source of information for research referrals, to support and produce useful research works, and all needs in research / scientific writing including making papers obtained in the Unhas Library (3) functions of Unhas Library as a vehicle for information by utilizing libraries as a source of information, as a place that provides useful or quality information, and is easily accessible. (4) the function of the Unhas Library as an educational-based recreational vehicle by utilizing the library as a source of useful entertainment reading. (5) the function of the Unhas Library as a vehicle for preserving national culture by utilizing libraries (collections) as a place to educate and develop an appreciation of the culture of the people, and it is useful to become a love of Indonesian culture.
Keywords: User knowledge · library functions

Introduction

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, menyebutkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Hal di atas berarti bahwa perpustakaan memiliki tugas utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan bekerja secara maksimal mengembangkan dan mendayagunakan perpustakaan sebagai sarana yang berisi informasi yang mendukung keberhasilan pendidikan. Fungsi perpustakaan harus mendukung keberhasilan Sistem Pendidikan Nasional sehingga terbentuk masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat dengan menjadikan perpustakaan sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan. Setiap perpustakaan termasuk perpustakaan Universitas Hasanuddin memiliki fungsi yang sangat penting yaitu fungsi pembelajaran sepanjang hayat, penelitian, informasi, rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, serta pelestarian kekayaan budaya bangsa. Fungsi-fungsi tersebut memiliki nilai-nilai pembelajaran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui proses yang terus belangsung sepanjang hayat. Fungsi dan peran perpustakaan sebagai sarana edukatif juga melekat pada setiap perpustakaan. Untuk itu, pengetahuan pemustaka diperlukan untuk merealisasikan fungsi-fungsi perpustakaan khususnya dalam merealisasikan kecerdasan bangsa. Universitas Hasanuddin sebagai institusi atau lembaga pendidikan menjadi prototype dari berbagai uraian di atas. Oleh karena itu, selayaknyalah pengetahuan pemustaka tentang fungsi perpustakaan perlu terus ditingkatkan agar tujuan perpustakaan (Tri Dharma Perguruan Tinggi) dapat terealisasikan. Di Universitas Hasanuddin berdasarkan pengamatan peneliti, pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan sebagai pembelajaran sepanjang hayat, penelitian, informasi, rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, serta pelestarian kekayaan budaya bangsa belum dipahami dengan baik. Beberapa fakta empirik yang mendukung pernyataan tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, pemustaka belum dapat memanfaatkan perpustakaan secara baik dan benar. Hal ini menjadi acuan bahwa pemustaka belum mengetahui fungsi perpustakaan secara menyeluruh. Kedua, idealnya kemajuan ilmu dan teknologi, mendorong terjadinya berbagai inovasi dalam hubungan antara teknologi dan perpustakaan yang mengarah kepada kepuasan pemustaka dalam memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh perpustakaan Universitas Hasanuddin sehingga pada akhirnya tujuan perpustakaan dapat direalisasikan. Kenyataannya, masih banyak pemustaka yang belum memahami dan memanfaatkan dengan baik fasilitas perpustakaan. Ketiga, masih banyak pemustaka yang belum menguasai fungsi-fungsi perpustakaan sehingga berakibat sulit menyelesaikan kuliah tepat waktu, tidak paham koleksi yang dimiliki perpustakaan, termasuk sarana dan prasarana yang dimiliki perpustakaan. Keempat, masih banyak pemustaka yang mengeluh terkait kurangnya koleksi baru yang dimiliki perpustakaan karena hanya melihat perpustakaan dari luarnya saja dan tidak pernah ingin mengenal perpustakaan secara menyeluruh termasuk mengenal ruang e-journal dan e-book (ruang koleksi elektronis), ruang corner-corner yang dimiliki Universitas Hasanuddin seperti Korea corner, Jerman corner, Prancis corner, dan Cina corner. Kelima, dukungan penuh lembaga induk terhadap fungsi perpustakaan belum sempurna, hal ini ditandai dengan adanya keluhan pemustaka terhadap kurangnya resources dan ketidaktahuan pemustaka terhadap sumber daya yang dimiliki perpustakaan. Sebagai perpustakaan perguruan tinggi, Perpustakaan Universitas Hasanuddin memiliki peran strategis dalam menyimpan, mengatur, dan mengawetkan kekayaan intelektual manusia dalam berbagai bentuk, berfungsi sebagai pelestari kebudayaan termasuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat mendukung tujuan pembangunan nasional yang berorientasi terhadap kepuasan dan pengetahuan pemustaka terhadap fungsi pendirian perpustakaan. Bertolak dari pemikiran inilah, pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin merupakan bagian penting untuk direalisasikan. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian yaitu: “Bagaimanakah pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin?” II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pengetahuan Menurut Budiani dan Kosasih (2007) knowledge is information with the most value, and is consequently the hardest from to manage, yang artinya pengetahuan adalah informasi dengan nilai yang paling tinggi dan merupakan bentuk yang paling sulit dikelola. Nilai-nilai itu berasal dari sebuah fakta bahwa seseorang telah memberikan informasi, arti, dan terjemahan tertentu melalui perpektif definisi yang telah diartikan sehingga orang lain dapat dengan mudah mengerti. Lebih lanjut, penjelasan Budiani dan Kosasih (2007) knowledge is the potential for action based upon data, information, insights, intuition and experience. Artinya, pengetahuan adalah potensi untuk tindakan yang berdasar pada data, informasi, wawasan, intuisi dan pengalaman. Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindak yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. inilah yang disebut potensi untuk menindaki.(Wikipedia.org) Menurut Yuliazmi (2005) knowledge dapat didefiniskan kedalam empat level operasional sebagai berikut: a. Know what atau cofnitive knowledge Merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan, pembelajaran dan kualifikasi formal. Level ini sangat penting bagi perusahaan namun umumnya masih kurang mencukupi bagi keberhasilan komersial. b. Know how-merupakan level aplikasi praktis Pada level ini apa yang telah didapat pada level know what diterjemahkan dalam pelaksanaan. Pada tahap ini merupakan area di mana knowledge menambahkan nilai dalam suatu organisasi melalui kemampuan menterjemahkan knowledge yang bersifat teoritis menjadi eksekusi yang efektif. c. Know why disebut juga system understanding Merupakan knowledge terdalam dari jaringan hubungan sebab akibat yang ada pada suatu disiplin ilmu. Level ini memungkinkan profesional untuk berpindah dari pelaksanaan kerja ke pemecahan masalah yang lebih besar dan kompleks dan menciptakan solusi baru bagi permasalahan yang baru. d. Care why- tahap lanjutan dari kreativitas diri (self-motivated creativity) Merupakan level di mana inovasi radikal dapat terjadi melalui lompatan imajinatif dan pemikiran lateral. B. Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi Menurut Jhon M. Echols dan Hassan Shadily (1997), fungsi: function tema function merupakan tema yang diderivasikan dari bahasa latin, yakni “functu” yang berarti cara melaksanakan, menjalankan, dan menata. Pengertian fungsi menurut Miftah Thoha (1991), fungsi adalah sekelompok aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifatnya, pelaksanaannya ataupun pertimbangan lainnya. Untuk melakukan suatu usaha kerjasama, aktivitas-aktivitas yang sama jenisnya, itu biasanya digabungkan menjadi satu kesatuan yang diserahkan tanggung jawab dari seorang pejabat atau suatu perpustakaan. Pengertian fungsi mengandung makna berkaitan dengan kewajiban seseorang atau satuan badan perpustakaan tertentu. Satuan badan perpustakaan tersebut dalam hal ini adalah perpustakaan sebagai wadah di dalamnya dilakukan berbagai aktivitas oleh sekelompok orang dipercaya atas dasar loyalitas formal. Jika dihubungkan dengan pustakawan, fungsi pustakawan di perguruan tinggi khususnya di Perpustakaan Universitas Hasanuddin adalah untuk merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) dalam merealisasikan fungsi pustakawan tersebut, perpustakaan dituntut untuk mempunyai pandangan jauh ke masa depan dengan berusaha membangun layanan perpustakaan secara sistematik jangka panjang yang terintegrasi dengan rencana pembangunan sektor-sektor lainnya sehingga tercipta pengembangan perpustakaan perguruan tinggi secara wajar dan bersinambungan. Dalam pelaksanaan fungsi tersebut, pustakawan harus menciptakan terobosan dalam melayani para pemakai jasa perpustakaan sehingga citra pustakawan akan meningkat dimata masyarakat dengan melakukan langkah-langkah antara lain: 1. Pustakawan mengadakan penelitian secara ilmiah dan menyusun program untuk menanggulangi rendahnya minat baca, meningkatkan implementasinya dalam pelaksanaan pekerjaannya sehingga menjadikan perpustakaan sebagai pusat pendidikan, pusat informasi, pusat pengembangan kebudayaan, pusat ilmu pengetahuan, dan teknologi. 2. Pustakawan harus bersikap proaktif, mengambil inisiatif untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan menciptakan program-program layanan jasa perpustakaan baru yang merupakan rencana strategik perpustakaan demi keberhasilan implementasi yang diembannya. 3. Pustakawan harus mempelajari dan menerapkan teknologi informasi terbaru untuk melayani layanan jasa perpustakaan yang akan terus meningkatkan kuantitas kualitasnya. 4. Pustakawan harus menerapkan dan mengembangkan sistem manajemen yang memfokuskan pada pemakai jasa, perbaikan proses layanan dan peningkatan kualitas layanan secara terus menerus disamping meningkatkan efisiensinya. 5. Untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan perlu menyusun program pengembangan sumber daya manusia perpustakaan dalam bentuk pelatihan pendidikan dan pengembangan. (Siti Rulyah 2000, 29-30) Pustakawan harus mempunyai pengetahuan dan pendidikan yang tinggi serta keterampilan khusus sehingga pustakawan mendapat kepercayaan dan pengakuan dari masyarakat. Menurut Wirawan (1996), pustakawan umumnya dalam menjalankan tugasnya tidak saja menjalankan fungsi tradisional, yaitu hanya mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan memberikan bahan pustaka kepada yang membutuhkan tetapi juga harus melakukan fungsi sosial, yaitu fungsi yang menopang segala aspek kehidupan serta perkembangan masyarakat. Fungsi ini merupakan fungsi aktif, yaitu fungsi bersama-sama profesi lain secara aktif memecahkan masalah dan mengembangkan masyarakat. Fungsi tersebut menuntut agar pustakawan dapat bekerja sama dengan profesi lainnya dalam mencari solusi pemecahan masalah yang sedang dan akan dihadapi oleh masyarakat. Misalnya masalah kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, kemerosotan moral, pengembangan SDM, pengembangan industri, inovasi teknologi, dan lain-lain. Dengan kata lain, tanpa fungsi sosial pustakawan, proses pendidikan tidak dapat menghasilkan keluaran pendidikan yang berkualitas tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi mempunyai peranan yang signifikan terhadap lembaga induk serta masyarakat penggunanya. Demikian halnya, di dalam lingkungan pendidikan, perpustakaan perguruan tinggi merupakan pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang berada pada lembaga pendidikan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi harus dapat berfungsi, khususnya dalam membantu peserta didik (mahasiswa) untuk merealisasikan tri dharma perguruan tinggi. Untuk tujuan tersebut, perpustakaan perguruan tinggi perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam memajukan masyarakat dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta serangkaian aktivitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran yang menarik. Dengan memaksimalkan fungsinya, diharapkan perpustakaan perguruan tinggi bisa mencetak peserta didik untuk senantiasa terbiasa dengan aktivitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu sehingga pada akhirnya prestasi pun relatif mudah untuk diraih. C. Penelitian Terdahulu Berdasarkan hasil penelusuran penulis, penelitian tentang ”pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin” belum pernah ada yang menulis atau menelitinya. Namun, berdasarkan penelusuran peneliti pada internet, ada 2 penelitian yang meneliti tentang fungsi perpustakaan sekolah yaitu: 1. Ali Muhajir (2017) meneliti tentang ”fungsi perpustakaan sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri 54 Banda Aceh”. Penelitian ini mengungkapkan pentingnya perpustakaan sekolah bagi peningkatan prestasi belajar siswa karena keberadaan perpustakaan SDN 54 Banda Aceh sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menunjang kegiatan pembelajaran di madrasah pertama, fungsi perpustakaan sesuai hasil penelitian Ali Muhajir ini meliputi, sebagai tempat belajar siswa ketika pembelajaran bahasa Indonesia, diskusi dan mengerjakan tugas, mengisi waktu luang, dan menciptakan suasana belajar baru. Kedua, sebagai sumber informasi siswa dilakukan dengan cara menyediakan sumber belajar siswa, meminjamkan bahan koleksi pustaka. Ketiga, sebagai media kerja sama guru dan pustakawan dalam hal guru sebagai koordinator peminjaman buku pelajaran dan pustakawan sebagai partner dalam pembelajaran. Keempat, sebagai media pembinaan minat baca siswa. 2. Maghdalena Febrianti (2015) meneliti tentang ”hubungan studi tentang fungsi perpustakaan dan peningkatan proses pembelajaran siswa di SMAN 1 Banyuasin I, Kabupatn Banyuasin”. Penelitian ini menunjukkan fungsi perpustakaan tergolong baik karena proses belajar siswa memanfaatakan perpustakaan. Hasil proses belajar siswa yang memanfaatakan fungsi perpustakaan sebagai prestasi belajar dikategorikan sedang. Kesimpulan penelitian Maghdalena Febriyanti ini adalah ada korelasi yang signifikan antara fungsi perpustakaan dan peningkatan proses belajar siswa di SMAN 1 Banyuasin I. Hasil penelitian di atas, sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan penelitian ini, ke-2 hasil penelitian terdahulu, seperti yang diuraikan di atas tentunya lebih memotivasi peneliti untuk memungkinkan melakukan penelitian yang bertalian dengan arti pentingnya pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin.

Method

Tipe penelitian ini adalah kuantitatif yang digunakan untuk menyajikan data hasil kuesioner yang selanjutnya ditabulasi dalam tabel frekuensi. Adapun analisis dan desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dalam mengkaji pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin. Jenis dan sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung di lapangan melalui pertanyaan kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber yang ada atau instansi terkait, dokumen, dan data lainnya yang relevan dengan kebutuhan data dalam penelitian ini. Populasi dalam penelitian ini adalah rata-rata pengujung perpustakaan pada 3 bulan terakhir tahun 2018 yaitu sebanyak 1.341 orang, dengan data sebagai berikut: Tabel 1. Data Pengunjung 3 Bulan Terakhir No. Bulan / Tahun Pengunjung Rata-rata Pengunjung/hari 1. Januari 2018 7.678 349 2. Februari 2018 10.331 517 3. Maret 2018 10.442 475 Jumlah 28.451 1.341 Sumber: Bagian Layanan UPT Perpustakaan Unhas, 2018 Sampel diambil secara purposive, yaitu pemustaka yang sudah menjadi anggota perpustakaan dan minimal 3 kali melakukan pemanfaatan perpustakaan Universitas Hasanuddin. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang akurat terkait pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin. Hasilnya, diperoleh responden sebanyak 108 orang. Tabel 2. Data Menjadi Sampel Penelitian No. Bulan/Tahun Rata-rata Pengunjung/hari Sampel Penelitian 1. Januari 2018 349 29 2. Februari 2018 517 42 3. Maret 2018 475 37 Jumlah 1.341 108 Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Dalam penarikan kesimpulan digunakan metode induktif. Data yang terkumpul, diolah kemudian dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi untuk menggambarkan pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Univeritas Hasanuddin. Rumus yang digunakan menggunakan teknik persentase menurut Azwar (2000) adalah sebagai berikut: P = F/N x 100 % Keterangan: P = Hasil persentase F = Frekuensi hasil jawaban N = Jumlah responden.

Result & Discussion

A. Hasil Penelitian Untuk memperoleh gambaran mengenai pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin dapat dilihat pada tabel-tabel hasil jawaban responden di bawah ini: 1. Identifikasi Responden Identifikasi responden penelitian dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Jenis kelamin Dari hasil jawaban responden ternyata bahwa mayoritas responden yang penulis sampel adalah mayoritas berjenis kelamin wanita dengan jumlah 62 orang atau 57.41% sedangkan laki-laki sebanyak 46 orang atau 42.59%. Karakteristik jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini: Tabel 3. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden No. Jenis Kelamin Responden Frekuensi Persentase (%) 1. Laki-Laki 46 42.59% 2. Wanita 62 57.41% Jumlah 108 100% Sumber : Data primer yang diolah, 2018 b. Profesi / Pekerjaan Responden Adapun distribusi frekuensi responden menurut profesi/pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Profesi/Pekerjaan Responden No. Profesi/Pekerjaan Responden Frekuensi Persentase (%) 1. Mahasiswa 98 90.74% 2. Dosen 3 2.78% 3. Peneliti 2 1.85% 4. Pustakawan 5 4.63% Jumlah 108 100% Sumber : Data primer yang diolah, 2018 Dari data ini, dapat diketahui bahwa profesi/pekerjaan responden sebagai mahasiswa sebanyak 98 orang atau 90.74%, profesi/pekerjaan responden sebagai dosen sebanyak 3 orang atau 2.78%, profesi/pekerjaan responden sebagai peneliti sebanyak 2 orang atau 1.85%, dan profesi/pekerjaan responden sebagai pustakawan sebanyak 5 orang atau 4.63%. c. Fakultas/unit Kerja Gambaran terhadap fakultas/unit kerja setiap responden dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Fakultas/Unit Kerja Responden No. Fakultas/Unit Kerja Responden Frekuensi Persentase (%) 1. Ekonomi 9 8.33% 2. Hukum 7 6.48% 3. Kedokteran 5 4.63% 4. Teknik 4 3.70% 5. Ilmu Sosial dan Politik 10 9.26% 6. Sastra/Ilmu Budaya 12 11.11% 7. Pertanian 8 7.41% 8. MIPA 9 8.33% 9. Peternakan 5 4.63% 10. Kedokteran Gigi 3 2.78% 11. Kesehatan Masyarakat 4 3.70% 12. Ilmu Kelautan dan Perikanan 3 2.78% 13. Kehutanan 14 12.96% 14. Farmasi 4 3.70% 15. Pascasarjana 6 5.56% 16. Dinas Perpustakaan & kearsipan 5 4.63% Jumlah 108 100% Sumber : Data primer yang diolah, 2018 Berdasarkan tabel 5 di atas, diketahui bahwa responden menurut fakultas/unit kerja yaitu Ekonomi sebanyak 9 orang atau 8.33%, Hukum sebanyak 7orang atau 6.48%, Kedokteran sebanyak 5 orang atau 4.63%, Teknik sebanyak 4 orang atau 3.70%, Ilmu Sosial dan Politik sebanyak 10 orang atau 9.26%, Sastra/Ilmu Budaya sebanyak 12 orang atau 11.11%, Pertanian sebanyak 8 orang atau 7.41%%, MIPA sebanyak 9 orang atau 8.33%, Peternakan sebanyak 5 orang atau 4.63%, Kedokteran Gigi sebanyak 3 orang atau 2.78%, Kesehatan Masyarakat sebanyak 4 orang atau 3.70%, Ilmu Kelautan dan Perikanan sebanyak 3 orang atau 2.78%, Kehutanan sebanyak 14 orang atau 12.96%, Farmasi sebanyak 4 orang atau 2.70%, Pascasarjana sebanyak 6 orang atau 5.56%, dan dari Dinas Perpustakaan & kearsipan sebanyak 5 orang atau 54.63%. d. Kunjungan Pemustaka ke perpustakaan Gambaran mengenai kunjungan pemustaka ke perpustakaan Universitas Hasanuddin setiap minggunya secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kunjungan Pemustaka ke Perpustakaan Universitas Hasanuddin No. Kunjungan Pemustaka Frekuensi Persentase (%) 1. 3 kali seminggu 45 41.67% 2. 4 kali seminggu 21 19.44% 3. 5 kali seminggu 15 13.89% 4. Lebih dari 5 kali seminggu 27 25% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2014 Tabel 6 menggambarkan bahwa frekuensi kunjungan pemustaka ke perpustakaan Universitas Hasanuddin dari 108 orang diketahui bahwa kunjungan 3 kali seminggu sebanyak 45 responden atau 41.67%, kunjungan 4 kali seminggu sebanyak 21 orang responden atau 19.44%, dan kunjungan 5 kali seminggu sebanyak 15 responden atau 13.89%, dan responden yang berkunjung lebih dari 5 kali seminggu sebanyak 27 responden atau 25%. 2. Gambaran pengetahuan Pemustaka terhadap Fungsi-Fungsi Perpustakaan di Universitas Hasanuddin Analisis deskriptif tentang hasil penelitian dimaksudkan untuk memberikan gambaran pengetahuan pemustaka terhadap fungsi-fungsi perpustakaan di Universitas Hasanuddin dengan uraian hasil perhitungan distribusi frekuensi dan persentase sebagaimana dituangkan dalam bentuk tabel setiap item di bawah ini: a. Pengetahuan Pemustaka tentang Fungsi Perpustakaan sebagai pembelajaran sepanjang hayat Untuk mengetahui pengetahuan pemustaka terhadap fungsi perpustakaan sebagai pembelajaran sepanjang hayat di perpustakaan Universitas Hasanuddin dapat dilihat dari jawaban responden yang ditabulasi dalam tabel frekuensi dengan rincian sebagai berikut: 1. Perpustakaan Unhas telah berfungsi sebagai wahana pendidikan sepanjang hayat Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah Perpustakaan Unhas telah berfungsi sebagai wahana pendidikan sepanjang hayat maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 7. Distribusi Frekuensi Perpustakaan Unhas telah berfungsi sebagai wahana pendidikan sepanjang hayat No. Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pendidikan sepanjang hayat Frekuensi Persentase (%) 1. Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena senantiasa menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan 22 20.37% 2. Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena siapapun dapat belajar di perpustakaan 40 37.04% 3. Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena banyak buku-buku yang dibutuhkan tersedia di perpustakaan 20 18.52% 4. Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena pemustaka dapat mengakses buku-buku yang ingin mereka cari 16 14.81% 5. Perpustakaan Unhas dari segi kuantitas dan kualitas buku telah cukup untuk berfungsi sebagai pendidikan sepanjang hayat 10 9.26% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 7 di atas, diketahui bahwa responden yang mengatakan Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena senantiasa menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sebanyak 22 responden atau 20.37%, responden yang mengatakan Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena siapapun dapat belajar di perpustakaan sebanyak 40 responden atau 37.04%, responden yang mengatakan Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena banyak buku-buku yang dibutuhkan tersedia di perpustakaan sebanyak 20 reponden atau 18.52%, responden yang mengatakan Perpustakaan telah berfungsi sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat karena pemustaka dapat mengakses buku-buku yang ingin mereka cari sebanyak 16 responden atau 14.81%, dan responden yang menjawab Perpustakaan Unhas dari segi kuantitas dan kualitas buku telah cukup untuk berfungsi sebagai pendidikan sepanjang hayat sebanyak 10 responden atau 9.26%. Dari data ini diketahui bahwa pemustaka telah memahami bahwa Perpustakaan Unhas telah berfungsi sebagai wahana pendidikan sepanjang hayat alasannya karena siapapun dapat belajar di perpustakaan (37.04%) dan ada pemustaka yang menganggap bahwa pendidikan sepanjang hayat terletak dari segi kuantitas dan kualitas buku (9.26%). Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa responden yang menjawab bahwa pendidikan sepanjang hayat terletak dari segi kuantitas dan kualitas adalah mahasiswa baru yang kagum dengan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan Unhas sehingga dari keseluruhan koleksi yang ada di perpustakaan termasuk corner-corner (Cina corner, Jerman corner, Korea corner, dan Prancis corner) cukup untuk semua kalangan. 2. Pentingnya Belajar Mandiri di Perpustakaan Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah penting belajar mandiri di Perpustakaan maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 8. Distribusi Frekuensi pentingnya Belajar Mandiri di Perpustakaan No. Pentingnya Belajar Mandiri di Perpustakaan Frekuensi Persentase (%) 1. Penting menjadikan perpustakaan sebagai sarana kedua setelah belajar di kelas untuk menambah wawasan 13 12.04% 2. Penting karena suasana perpustakaan mendukung seseorang untuk belajar secara mandiri 11 10.19% 3. Penting karena pembelajaran bukan hanya dari dosen 32 29.63% 4. Penting karena mengulang pelajaran dari dosen dapat dilakukan di perpustakaan 16 14.81% 5. Penting karena perpustakaan menyediakan sumber ilmu yang gratis dan lengkap 12 11.11% 6. Penting karena belajar mandiri di perpustakaan dapat meningkatkan kesadaran belajar di mana dan kapan saja 15 13.89% 7. Penting karena belajar mandiri dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis 9 8.33% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 8 di atas, diketahui bahwa responden yang mengatakan penting menjadikan perpustakaan sebagai sarana kedua setelah belajar di kelas untuk menambah wawasan sebanyak 13 responden atau 12.04%, responden yang mengatakan penting karena suasana perpustakaan mendukung seseorang untuk belajar secara mandiri sebanyak 11 responden atau 10.19%, responden yang mengatakan penting karena pembelajaran bukan hanya dari dosen sebanyak 32 responden atau 29.63%, responden yang mengatakan penting karena mengulang pelajaran dari dosen dapat dilakukan di perpustakaan sebanyak 16 responden atau 14.81%, responden yang mengatakan penting karena perpustakaan menyediakan sumber ilmu yang gratis dan lengkap sebanyak 12 responden atau 11.11%, responden yang mengatakan penting karena belajar mandiri di perpustakaan dapat meningkatkan kesadaran belajar di mana dan kapan saja sebanyak 15 atau 13.89%, dan responden yang mengatakan penting karena belajar mandiri dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis sebanyak 9 responden atau 8.33%. Dari data ini diketahui bahwa pemustaka mengatakan penting untuk belajar mandiri di perpustakaan alasannya karena belajar (ilmu) bukan hanya dari dosen. Hal ini sudah sesuai dengan tujuan perpustakaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan ada pemustaka yang menganggap bahwa ketika belajar mandiri di perpustakaan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Hal ini dapat menjadi masukan bagi pengelola perpustakaan bahwa perpustakaan juga memiliki manfaat untuk melatih pemustaka berpikir kritis. Karena itu, pihak perpustakaan perlu mengembangkan suasana nyaman dalam perpustakaan. 3. Perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana pendidikan formal dan informal Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran secara formal dan informal maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 9. Distribusi Frekuensi Perpustakaan sabagai sarana pembelajaran secara formal dan informal No. Perpustakaan sebagai sarana pembelajaran formal dan informal Frekuensi Persentase (%) 1. Dapat digunakan sebagai pembelajaran formal dan informal karena memiliki banyak sumber pengetahuan (referensi) dan bisa digunakan secara umum (semua kalangan) 65 60.19% 2. Dapat digunakan sebagai pembelajaran formal dan informal karena fasilitasnya mendukung untuk itu 43 39.81% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 9 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab perpustakan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran formal dan informal karena memiliki banyak sumber pengetahuan (referensi) dan bisa digunakan secara umum (semua kalangan) sebanyak 65 responden atau 60.19% dan responden yang menjawan perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran formal dan informal karena fasilitasnya mendukung untuk itu. Dari data ini diketahui bahwa berdasarkan jawaban responden perpustakaan dapat saja berfungsi sebagai sarana pembelajaran formal dan informal karena memiliki referensi yang dapat digunakan untuk semua kalangan dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan juga mendukung. Hal ini dapat menjadi masukan kepada pihak lembaga induk agar senantiasa membuat perpustakaan lebih lengkap dengan fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan sebagai sarana yang mendukung terealisasinya pembelajaran secara formal dan informal. 4. Perpustakaan membentuk masyarakat pembelajar dan gemar membaca Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah perpustakaan dapat menjadikan masyarakat gemar membaca dan dapat merealisasikan masyarakat pembelajar maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 10. Distribusi Frekuensi tentang perpustakaan dapat menjadikan masyarakat gemar membaca dan dapat merealisasikan masyarakat pembelajar No. Perpustakaan menjadikan masyarakat gemar membaca dan dapat merealisasikan masyarakat pembelajar Frekuensi Persentase (%) 1. Gemar membaca dapat diperoleh di perpustakaan. Gemar membaca hanya dapat terjadi jika ada rasa penasaran dalam menggali ilmu 20 18.52% 2. Gemar membaca bisa terealisasi jika didukung oleh sarana sesuai dengan kebutuhan mahasiswa/pemustaka 53 49.07% 3. Kegemaran membaca sekarang ini dipengaruhi oleh tampilan perpustakaan (kenyamanan) dan keberadaan koleksi yang dapat diakses dengan smartphone 35 32.41% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 10 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab bahwa gemar membaca dapat diperoleh di perpustakaan. Gemar membaca hanya dapat terjadi jika ada rasa penasaran dalam menggali ilmu sebanyak 20 responden atau 18.52%, responden yang menjawab gemar membaca bisa terealisasi jika didukung oleh sarana sesuai dengan kebutuhan mahasiswa/pemustaka sebanyak 53 responden atau 49.07%, dan responden yang menjawab kegemaran membaca sekarang ini dipengaruhi oleh tampilan perpustakaan (kenyamanan) dan keberadaan koleksi yang dapat diakses dengan smartphone sebanyak 35 responden atau 32.41%. Dari data ini diketahui bahwa berdasarkan jawaban responden bahwa gemar membaca bisa terealisasi jika didukung oleh sarana sesuai dengan kebutuhan mahasiswa/pemustaka. Hal ini menjadi masukan kepada pihak perpustakaan agar mereka dapat mengadakan sarana termasuk koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Keberadaan tampilan perpustakaan (kenyamanan) dan keberadaan koleksi yang dapat diakses dengan smartphone perlu dilakukan agar pemustaka merasa nyaman dan sebaiknya aplikasi perpustakaan juga berbasis smartphone. Di samping itu, pustakawan juga perlu lebih kreatif dalam mempromosikan koleksi perpustakaan kepada pemustaka. Alasannya, pemustaka memiliki kegemaran membaca jika mereka penasaran dengan suatu ilmu. Dari dasar ini sebaiknya pustakawan bisa membuat pemustaka penasaran dengan koleksi perpustakaan ketika melakukan promosi perpustakaan. b. Pengetahuan Pemustaka tentang Fungsi Perpustakaan sebagai Wahana Penelitian Untuk mengetahui pengetahuan pemustaka terhadap fungsi perpustakaan sebagai wahana penelitian di Perpustakaan Universitas Hasanuddin dapat dilihat dari jawaban responden yang ditabulasi dalam tabel frekuensi dengan rincian sebagai berikut: 1. Sumber-sumber informasi di Perpustakaan Unhas dapat dijadikan rujukan untuk penelitian Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah sumber-sumber informasi di Perpustakaan Unhas dapat dijadikan rujukan untuk penelitian diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 12. Distribusi Frekuensi sumber-sumber informasi di Perpustakaan Unhas dijadikan rujukan untuk penelitian No. Sumber-sumber informasi di Perpustakaan Unhas dijadikan rujukan untuk penelitian Frekuensi Persentase (%) 1. Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber rujukan untuk penelitian karena sumber informasi untuk penelitian terdapat di Perpustakaan Unhas misalnya jurnal, buku dan karya ilmiah lainnya sebagai rujukan untuk penelitian terdahulu 35 32.41% 2. Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi penelitian karena memiliki koleksi beragam termasuk koleksi digital/elektronik 40 37.04% 3. Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi rujukan terkait studi kepustakaan dan tidak jarang banyak peneliti yang meneliti dengan menjadikan perpustakaan sebagai lokasi penelitian 33 30.56% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 12 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber rujukan untuk penelitian karena sumber informasi untuk penelitian terdapat di Perpustakaan Unhas misalnya jurnal, buku dan karya ilmiah lainnya sebagai rujukan untuk penelitian terdahulu sebanyak 35 responden atau 32.41%, responden yang menjawab Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi penelitian karena memiliki koleksi beragam termasuk koleksi digital/elektronik sebanyak 40 responden atau 37.04%, dan responden yang menjawab Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi rujukan terkait studi kepustakaan dan tidak jarang banyak peneliti yang meneliti dengan menjadikan perpustakaan sebagai lokasi penelitian sebanyak 33 responden atau 30.56%. Dari data ini diketahui bahwa pengetahuan pemustaka terhadap sumber-sumber informasi di Perpustakaan Unhas dapat dijadikan rujukan untuk penelitian karena pemustaka menganggap bahwa Perpustakaan Unhas memiliki koleksi beragam termasuk koleksi digital/elektronik (37.04%). Hal ini dapat menjadi masukan pihak Perpustakaan Unhas untuk terus mempertahankan keanekaragaman jenis koleksi termasuk koleksi digital. 2. Koleksi Perpustakaan Unhas telah mendukung dan menghasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah koleksi Perpustakaan Unhas telah mendukung dan menghasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 13. Distribusi Frekuensi koleksi Perpustakaan Unhas mendukung dan menghasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat No. Koleksi Perpustakaan Unhas mendukung dan menhasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat Frekuensi Persentase (%) 1. Sangat mendukung, tetapi masih ada referensi tahun lama sedangkan untuk penelitian harus baru 20 18.52% 2. Sangat mendukung karena dari perpustakaanlah lahir sarjana, magister, dan doktor baru 27 25% 3. Sangat mendukung karena banyak peneliti yang mencari dan membutuhkan referensi di Perpustakaan Unhas 36 33.33% 4. Banyak penelitian yang telah lahir di Unhas dan semuanya disimpan di Perpustakaan Unhas 15 13.89% 5. Sebagai peneliti pemula, masih banyak buku-buku Perpustakaan Unhas yang bahasanya sulit dipahami 10 9.26% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 13 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab sangat mendukung, tetapi masih ada referensi tahun lama sedangkan untuk penelitian harus baru sebanyak 20 responden atau 18.52%, responden yang menjawab sangat mendukung karena dari perpustakaanlah lahir sarjana, magister, dan doktor baru sebanyak 27 responden atau 25%, responden yang menjawab sangat mendukung karena banyak peneliti yang mencari dan membutuhkan referensi di Perpustakaan Unhas sebanyak 36 responden atau 33.33%, responden yang menjawab banyak penelitian yang telah lahir di Unhas dan semuanya disimpan di Perpustakaan Unhas sebanyak 15 responden atau 13.89%, dan responden yang menjawab sebagai peneliti pemula, masih banyak buku-buku Perpustakaan Unhas yang bahasanya sulit dipahami sebanyak 10 responden atau 9.26%. Dari data ini diketahui bahwa pengetahuan pemustaka terkait koleksi Perpustakaan Unhas dalam mendukung dan menghasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat sangat mendukung proses penelitian karena banyak peneliti yang mencari dan membutuhkan referensi di Perpustakaan Unhas (33.33%) dan ada responden yang menjawab bahwa sebagai peneliti pemula, masih banyak buku-buku Perpustakaan Unhas yang bahasanya sulit dipahami (9.26%). Berdasarkan pengamatan ternyata responden yang mengatakan buku-buku Perpustakaan Unhas yang bahasanya sulit dipahami adalah mereka memasuki koleksi Cina corner, Prancis corner, dan Korea corner. Hal ini dapat menjadi masukan bahwa pihak perpustakaan sebaiknya mengadakan pelatihan terkait bahasa-bahasa yang ada di corner-corner Perpustakaan Unhas. 3. Kebutuhan dalam penulisan karya ilmiah selalu diperoleh di perpustakaan Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang kebutuhan dalam penulisan karya ilmiah selalu diperoleh di perpustakaan maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 14. Kebutuhan dalam penulisan karya ilmiah selalu diperoleh di perpustakaan No. Kebutuhan dalam penulisan karya ilmiah selalu diperoleh di perpustakaan Frekuensi Persentase (%) 1. Dalam menulis karya ilmiah termasuk makalah, rujukannya dapat diperoleh pada buku dan jurnal online perpustakaan 49 45.37% 2. Rujukan untuk penelitian telah cukup lengkap di perpustakaan 26 24.07% 3. Sebagian besar koleksi untuk penulisan karya ilmiah diperoleh di perpustakaan, termasuk penulisan tinjauan pustaka 19 17.59% 4. Rata-rata menggunakan perpustakaan dibanding dengan internet jika ingin menulis karya ilmiah 14 12.96% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 14 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab dalam menulis karya ilmiah termasuk makalah, rujukannya dapat diperoleh pada buku dan jurnal online perpustakaan sebanyak 49 responden atau 45.37%, responden yang menjawab rujukan untuk penelitian telah cukup lengkap di perpustakaan sebanyak 26 responden atau 24.07%, responden yang menjawab sebagian besar koleksi untuk penulisan karya ilmiah diperoleh di perpustakaan, termasuk penulisan tinjauan pustaka sebanyak 19 responden atau 17.59%, dan responden yang menjawab rata-rata menggunakan perpustakaan dibanding dengan internet jika ingin menulis karya ilmiah sebanyak 14 responden atau 12.96% Dari data ini diketahui bahwa berdasarkan jawaban responden dalam menulis karya ilmiah termasuk makalah, rujukannya dapat diperoleh pada buku dan jurnal online perpustakaan (45.37%) dan pemustaka lebih senang menggunakan Perpustakaan dibanding dengan internet jika ingin menulis karya ilmiah (12.96%). Hal ini dapat menjadi masukan kepada pihak perpustakaan agar senantiasa menyiapkan koleksi dan rujukan berupa jurnal online kepada pemustaka yang ingin menulis karya ilmiah karena kebutuhan akan jurnal online akan meningkat ketika pemustaka akan menulis karya ilmiah. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa ketika pemustaka ingin menulis karya ilmiah mereka membutuhkan sumber primer atau sumber asli dari tulisan baik berupa buku, maupun jurnal dan hal ini hanya dapat diperoleh di perpustakaan. c. Pengetahuan Pemustaka tentang Fungsi Perpustakaan sebagai Wahana Informasi Untuk mengetahui pengetahuan pemustaka terhadap fungsi perpustakaan sebagai wahana informasi di Perpustakaan Unhas dapat dilihat dari jawaban responden yang ditabulasi dalam tabel frekuensi dengan rincian sebagai berikut: 1. Koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 16. Distribusi Frekuensi tentang koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi No. Koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi Frekuensi Persentase (%) 1. Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena koleksi dapat ditelusur sesuai dengan kebutuhan/keinginan 20 18.52% 2. Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena keragaman jenis koleksi yang dimiliki lengkap 21 19.44% 3. Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena selain membaca buku yang terkait profesi juga dapat mengetahui informasi lain sebagai suatu pengetahuan umum 44 40.74% 4. Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena ketika dibaca/digunakan bermanfaat adanya 23 21.30% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 16 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena koleksi dapat ditelusur sesuai dengan kebutuhan/keinginan sebanyak 20 responden atau 18.52%, responden yang menjawab Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena keragaman jenis koleksi yang dimiliki lengkap sebanyak 21 responden atau 19.44%, responden yang menjawab Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena selain membaca buku yangg terkait profesi juga dapat mengetahui informasi lain sebagai suatu pengetahuan umum sebanyak 44 responden atau 40.74%, dan responden yang menjawab Perpustakaan Unhas merupakan sumber informasi karena ketika dibaca/digunakan bermanfaat adanya sebanyak 23 responden atau 21.30%. Dari data ini diketahui bahwa koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi alasannya karena selain membaca buku yang terkait profesi juga dapat mengetahui informasi lain sebagai suatu pengetahuan umum, ketika dibaca/digunakan bermanfaat adanya, memiliki keragaman jenis koleksi yang dimiliki lengkap, dan dapat ditelusur sesuai dengan kebutuhan/keinginan. Hal ini dapat diketahui bahwa pemustaka telah mengetahui bahwa koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas dapat dijadikan sumber informasi yang bermanfaat untuk pemustaka. 2. Perpustakaan Unhas memberikan informasi yang bermanfaat/ berkualitas Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah Perpustakaan Unhas telah memberikan informasi yang bermanfaat/berkualitas maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 17. Distribusi Frekuensi Perpustakaan Unhas telah memberikan informasi yang bermanfaat/berkualitas No. Perpustakaan Unhas telah memberikan informasi yang bermanfaat/berkualitas Frekuensi Persentase (%) 1. Perpustakaan selalu memberikan informasi yang bermanfaat ketika buku yang diakses di temukan 21 19.44% 2. Perpustakaan bermanfaat karena sumber referensi lengkap dan bervariasi 25 23.15% 3. Informasi yang sesuai dengan kebutuhan ada di perpustakaan 45 41.67% 4. Bermanfaat tetapi masih tahun lama 17 15.74% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 17 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab Perpustakaan selalu memberikan informasi yang bermanfaat ketika buku yang diakses di temukan sebanyak 21 responden atau 19.44%, responden yang menjawab Perpustakaan bermanfaat karena sumber referensi lengkap dan bervariasi sebanyak 25 responden atau 23.15%, responden yang menjawab informasi yang sesuai dengan kebutuhan ada di perpustakaan sebanyak 45 responden atau 41.67%, dan responden yang menjawab Bermanfaat tetapi masih tahun lama sebanyak 17 responden atau 15.74%. Dari data ini diketahui bahwa pemustaka mengatakan Perpustakaan Unhas telah memberikan informasi yang bermanfaat/berkualitas dengan alasan buku yang diakses ditemukan, sumber referensi lengkap dan bervariasi, Informasi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dapat menjadi masukan bagi pengelola perpustakaan bahwa ada pemustaka yang menjawab Perpustakaan Unhas telah memberikan informasi yang bermanfaat/berkualitas tetapi masih tahun lama. Berdasarkan pengamatan ternyata pemustaka ini hanya menggunakan koleksi manual dan tidak menggunakan koleksi e-book yang telah dilanggan oleh Perpustakaan Unhas. 3. Informasi yang ada di Perpustakaan Unhas Mudah di akses Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 18. Distribusi Frekuensi informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses No. Informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses Frekuensi Persentase (%) 1. Informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses dengan menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog) 55 50.93% 2. Informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses dengan menggunakan Web Perpustakaan 45 41.67% 3. Penempatan koleksi yang tersusun rapi memudahkan dalam mengakses 8 7.41% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 18 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses dengan menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog) sebanyak 55 responden atau 50.93%, responden yang menjawab informasi di Perpustakaan Unhas mudah di akses dengan menggunakan Web Perpustakaan sebanyak 45 responden atau 41.67%, dan responden yang menjawan penempatan koleksi yang tersusun rapi memudahkan dalam mengakses sebanyak 8 responden atau 7.41%. Dari data ini diketahui bahwa berdasarkan jawaban responden, informasi di perpustakaan mudah diakses karena adanya OPAC, ada web perpustakaan (www.unhas.ac.id/perpustakaan), dan koleksi tersusun rapi. Hal ini dapat menjadi masukan kepada pihak perpustakaan agar selalu menginput atau memasukkan data koleksi ke dalam software OPAC agar dapat ditelusur atau diakses oleh pemustaka, termasuk web perpustakaan. Terkait kerapihan penyusunan koleksi di rak juga berpengaruh terhadap pencarian dan penemuan kembali koleksi atau akses koleksi/informasi. d. Pengetahuan Pemustaka tentang Fungsi Perpustakaan sebagai Wahana Rekreasi Berbasis Edukatif Untuk mengetahui pengetahuan pemustaka terhadap fungsi perpustakaan sebagai wahana Rekreasi berbasis edukatif di Perpustakaan Universitas Hasanuddin dapat dilihat dari jawaban responden yang ditabulasi dalam tabel frekuensi dengan rincian sebagai berikut: 1. Koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah koleksi yang dimiliki Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 20. Distribusi Frekuensi koleksi Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan No. Koleksi Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan Frekuensi Persentase (%) 1. Koleksi Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan karena adanya buku fiksi, novel, biografi, dan sejarah 55 50.93% 2. Karena sudah tersedia sumber bacaan tersebut seperti cerita rakyat, puisi, roman dan sebagainya 32 29.63% 3. Karena dalam Perpustakaan Unhas juga terdapat movie, Internet, DVD, VCD sehingga menambah kreativitas dan daya inovasi 21 19.44% Jumlah 108 100% Sumber : Hasil Olah Data, 2018 Berdasarkan tabel 20 di atas, diketahui bahwa responden yang menjawab Koleksi Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan karena adanya buku fiksi, novel, biografi, dan sejarah sebanyak 55 responden atau 50.93%, responden yang menjawab karena sudah tersedia sumber bacaan tersebut seperti cerita rakyat, puisi, roman dan sebagainya sebanyak 32 responden atau 29.63%, dan responden yang menjawab karena dalam Perpustakaan Unhas juga terdapat movie, Internet, DVD, VCD sehingga menambah kreativitas dan daya inovasi sebanyak 10 responden atau 9.26%. Dari data ini diketahui bahwa pemustaka telah memahami bahwa Perpustakaan Unhas juga berfungsi sebagai wahana rekreasi berbasis edukatif alasannya, koleksi Perpustakaan Unhas telah dapat dijadikan sebagai sumber bacaan hiburan karena adanya buku fiksi, novel, biografi, dan sejarah (50.93%), karena di Perpustakaan Unhas sudah tersedia sumber bacaan rekreasi berbasis edukatif seperti cerita rakyat, puisi, roman dan sebagainya (29.63%), dan karena dalam Perpustakaan Unhas juga terdapat movie, Internet, DVD, VCD sehingga menambah kreativitas dan daya invasi pemustaka (19.44%). Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa salah satu fungsi Perpustakaan Unhas adalah sebagai wahana rekreasi berbasis edukatif karena tersedianya bacaan-bacaan yang sifatnya rekreatif tetapi mengandur unsur edukatif yang dapat membangun dan mengembangkan kreativitas pemustaka, minat dan daya inovasi setiap pemustaka yang memanfaatkannya. Di perpustakaan bacaan yang mengandung unsur rekreatif biasanya dikelaskan pada nomor kelas 800, dan 700 Tabel 21. Pengelompokan Bidang Ilmu di Perpustakaan Unhas NOMOR KELAS BIDANG ILMU 000 karya-karya umum 100 filsafat, metafisika, psikologi, logika, etika 200 agama, theology 300 ilmu-ilmu sosial 400 bahasa 500 matematika dan ilmu-ilmu alam 600 ilmu-ilmu terapan, kedokteran, teknologi 700 seni, rekreasi, hiburan, olahraga 800 linguistik, sastra 900 geografi, biografi, sejarah Sumber : Bagian Pengolahan Perpustakaan Unhas, 2018 2. Bacaan yang bersifat rekreatif yang ada di Perpustakaan Unhas bermanfaat untuk pemustaka Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan tentang apakah bacaan yang sifatnya rekreatif yang ada di Perpustakaan Unhas bermanfaat untuk pemustaka maka diperoleh jawaban dengan gambaran sebagai berikut: Tabel 22. Distribusi Frekuensi bacaan yang sifatnya rekreatif yang ada di Perpustakaan Unhas bermanfaat untuk pemustaka No. Bacaan yang sifatnya rekreatif yang ada di Perpustakaan Unhas bermanfaat untuk pemustaka Frekuensi Persentase (%) 1. Bermanfaat karena menambah imajinasi dan menambah pengalaman 32 29.63% 2. Bermanfaat karena memberikan hiburan apalagi jika telah selesai ujian 29 26.85% 3. Mengem

Conclusion

A. Kesimpulan Pengetahuan Pemustaka Terhadap Fungsi-fungsi Perpustakaan di Universitas Hasanuddin telah diketahui dengan baik oleh pemustaka. Pengetahuan pemustaka itu dapat dirinci sesuai dengan fungsi perpustakaan: 1. Pengetahuan Pemustaka tentang fungsi Perpustakaan Unhas sebagai pembelajaran sepanjang hayat dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat belajar mandiri, sebagai sarana pembelajaran secara formal dan informal, menjadikan perpustakaan sebagai sarana gemar membaca dan merealisasikan masyarakat pembelajar. 2. Pengetahuan Pemustaka tentang fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana penelitian dengan menggunakan perpustakaan sebagai sumber informasi untuk rujukan penelitian, untuk mendukung dan menghasilkan karya-karya penelitian yang bermanfaat, dan semua kebutuhan dalam penelitian/penulisan karya ilmiah termasuk pembuatan makalah diperoleh dalam Perpustakaan Unhas. 3. Pengetahuan Pemustaka tentang fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana Informasi dengan memanfaatkan perpustakan sebagai sumber informasi, sebagai tempat yang menyediakan informasi yang bermanfaat/berkualitas, dan mudah diakses. 4. Pengetahuan Pemustaka tentang fungsi Perpustakaan Unhas sebagai Wahana Rekreasi berbasis edukatif dengan menggunakan perpustakaan sebagai sumber bacaan hiburan yang bermanfaat. 5. Pengetahuan Pemustaka tentang fungsi Perpustakaan Unhas sebagai Wahana Pelestari Budaya Bangsa dengan memanfaatkan perpustakaan (koleksi) sebagai tempat mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat, dan bermanfaat untuk menjadi cinta kebudayaan Indonesia. B. SARAN-SARAN Ada beberapa saran pemustaka yang perlu dipertimbangkan oleh pihak perpustakaan dan lembaga induk perpustakaan yang dirinci berdasarkan fungsi Perpustakaan Unhas sebagai berikut: 1. Saran pemustaka terhadap fungsi Perpustakaan Unhas sebagai pembelajaran sepanjang hayat: a. Lakukan secara rutin penyuluhan tentang betapa pentingnya pembelajaran sepanjang hayat b. Perpustakaan sebaiknya dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman c. Koleksi tercetak perlu ditambah. Jika menggunakan e-book atau e-jurnal sebaiknya dipikirkan kecepatan aksesnya d. Perpustakaan perlu membuat program pembelajaran yang berkesimbungan untuk mencapai tujuan pembelajaran e. Tingkatkan fasilitas yang terkait dengan fungsi perpustakaan sebagai pembelajaran sepanjang hayat. 2. Saran pemustaka terhadap fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana penelitian: a) Untuk koleksi buku, perlu penambahan yang terbitan terbaru. b) Jurnal online tetap dipertahankan c) Fasilitas akses termasuk kecepatan internet untuk mengakses jurnal online ditambah 3. Saran pemustaka terhadap fungsi Perpustakaan Unhas sebagai wahana Informasi: a) Perlu menambah literatur terbaru terkait koleksi tercetak b) Untuk koleksi referensi/rujukan perlu update lagi c) Ketersediaan fasilitas pendukung sumber informasi pada perpustakaan ditambah, misalnya, wifi, kecepatan akses dan lain-lain d) Perlu ada pelatihan literasi informasi dan juga cara penelusuran koleksi berbasis online secara berkala 4. Saran pemustaka terhadap fungsi Perpustakaan Unhas sebagai Wahana Rekreasi berbasis edukatif: a) Lebih ditingkatkan lagi khususnya koleksi-koleksi tercetak seperti novel, fiksi, cerita rakyat, roman, biografi, CD, DVD, koleksi movie, dan lain-lain b) Hendaknya ada ruang khusus untuk menonton (cinema) milik Perpustakaan Unhas c) Untuk fungsi rekreatif berbasis edukatif ada baiknya perpustakaan direnovasi lebih menarik dengan konsep “generasi milenial” 5. Saran Pemustaka terhadap fungsi Perpustakaan Unhas sebagai Wahana Pelestari Budaya Bangsa: a) Salah satu cara mengetahui berbagai keanekaragaman budaya bangsa adalah dari koleksi Perpustakaan Unhas karena itu, perlu dipertahankan b) Perpustakaan adalah sarana untuk menemukan kembali hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan masa lalu karena itu, Perpustakaan Unhas perlu melakukan pengembangan dan pembinaan dalam rangka pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan ipteks c) Perlu ada galeri literasi untuk koleksi tentang budaya/kesenian bangsa di Perpustakaan Unhas.