Analisis Sitiran Artikel Ilmiah pada Jurnal Riset Akuakultur
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Abstrak
Analisis bertujuan untuk mengetahui pola sitiran karya ilmiah peneliti. Analisis dilakukan pada Jurnal Riset Akuakultur selama 3 tahun (2009-2011), meliputi jumlah literatur, bahasa, jenis, dan tingkat keusangan literatur yang disitir. Metode yang digunakan adalah analisis sitiran dengan menganalisa daftar pustaka pada setiap artikel dalam jurnal. Hasil analisis menunjukkan bahwa Jumlah artikel yang disitir selama 3 tahun sebanyak 3117 sitiran atau jika dirata-rakan setiap artikel menyitir + 23 literatur. Bahasa literatur yang disitir terbanyak adalah Bahasa Inggris dengan perbandingan 71% dan 29% literatur berbahasa Indonesia. Jenis literatur yang paling banyak disitir adalah majalah yaitu sebesar 46%, buku 42%, prosiding 4%, skripsi/tesis/disertasi dan literatur sumber internet masing-masing hanya 3%, serta laporan sebanyak 2%. Tingkat keusanggan atau paro hidup literatur yang disitir oleh Jurnal Riset Akuakultur adalah 12 tahun . Dari perhitungan diketahui bahwa sebanyak 46,7% literatur yang disitir dianggap sudang usang dan 53,3% literatur dianggap masih baru.
Abstract
The analysis is done in order to understand the citation pattern of scientific paper that have been made by researcher. It has been conducted in the Journal of Aquaculture Research for 3 years series (2009–2011). It covered the number of literature, language, type and level of obsolescence of the cited literature. Citation analysis was used as methodology by analyzing the bibliography in each article in that journal. The result showed that the number of article which have been cited during 3 years were 3117 citation or the average for one article cited around 23 literatures. The most cited literature language was English with a ratio of 71% and 29% of Indonesian literature. The type of literature that mostly cited was magazine that was 46%, book 42%, , 4% proceedings, while thesis / dissertation and internet source literature respectively only 3%, and report was only 2%. The level of obsolescence which was cited in the Journal of Aquaculture Research is 12 years. Based on analysis it is known that 46,7% of cited literature was obsolete and 53.3% of the literature was considered new.
Keywords:
Bibliographical citations
· Content analysis (Communication)
· Scientific literature
· Journal of Aquaculture Research
Introduction
Saat ini jurnal ilmiah sudah banyak diterbitkan baik oleh instansi pemerintah maupun swasta. Penerbitan jurnal tersebut dimaksudkan untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan informasi lain yang berkaitan dengan misi dan visi instansi yang bersangkutan. Informasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para ahli dan praktisi yang berkecimpung di bidangnya masing-masing serta untuk penyempurnaan suatu informasi yang belum jelas, sehingga pengguna dapat mengikuti ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang pada saat ini dan pada masa yang akan datang. Jurnal adalah terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan yang sangat diminati orang saat diterbitkan . Bila dikaitkan dengan kata ilmiah di belakang kata jurnal dapat terbitan berarti berkala yang berbentuk pamflet yang berisi bahan ilmiah yang sangat diminati orang saat diterbitkan (Rifai, M. A. 1995). Wikipedia menguraikan bahwa Jurnal ilmiah merupakan salah satu jenis jurnal akademik di mana pen uhlis (umumnya peneliti) mempublikasikan artikel ilmiah yang biasanya memberikan kontribusi terhadap teori atau penerarapan ilmu. Untuk memastikan kualitas ilmiah pada artikel yang diterbitkan, suatu artikel biasa diteliti oleh rekanrekan sejawatnya dan direvisi oleh penulis, hal ini dikenal sebagai peer review (review oleh orang-orang yang lebih berkompeten). Terdapat berbagai jurnal ilmiah yang mencakup semua bidang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial. Penerbitan dalam bentuk artikel ilmiah biasanya lebih sering untuk bidang ilmua alam maupun kedokteran dibandingkan dengan bidang akademik lain. Berdasarkan versi lain, jurnal adalah terbitan berkala yang berbentuk majalah yang berisi bahan ilmiah yang diterbitkan untuk orang-orang dengan minat khusus (misal: matematika). Awalnya jurnal dalam bentuk buku, namun seiring berkembangnya teknologi informasi, jurnal kini diterbitkan dalam bentuk elektronik, atau lebih dikenal dengan nama e-Journal. Jurnal biasanya diterbitkan 2-3 kali dalam setahun, berapa jurnal besar biasanya bisa lebih. Menurut Hakim (2012) Jurnal ilmiah adalah majalah publikasi yang memuat KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang secara nyata mengandung data dan informasi yang mengajukan iptek dan ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah serta diterbitkan secara berkala. Jurnal ilmiah berisi kumpulan artikel yang dipublikasikan secara periodik, ditulis oleh para ilmuwan peneliti untuk melaporkan hasil-hasil penelitian terbarunya. Karena itulah, keberadaan jurnal ilmiah merupakan hal yang penting untuk terus memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tulisan atau artikel yang dimuat dalam jurnal ilmiah, sudah mengalami proses peer-review dan seleksi ketat dari para pakar di bidangnya masing-masing. Proses peerreview ini dijalankan untuk menjamin kualitas dan validitas ilmiah artikel yang dimuat. Jurnal penelitian adalah publikasi ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian primer dan dimaksudkan sebagai media komunikasi antar peneliti atau antarilmuwan, baik di tingkat nasional maupun internasional (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1994). Jurnal penelitian dapat dikatakan sebagai barometer kinerja lembaga penelitian. Oleh karena itu, artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal penelitian harus memenuhi standar yang telah ditetapkan, baik substansi, redaksional maupun struktur dan format. Analisis Sitiran Sitiran merupakan terjemahan dari kata citation. Pengertian citation atau sitiran dalam Harrod’s Librarian Glossary and Reference Book (1990:77) adalah suatu sitiran pada suatu teks atau bagian dari suatu teks yang menunjuk pada suatu dokumen di mana teks itu dimuat. Dari kedua pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa sitiran adalah dokumen atau bahan pustaka yang dijadikan sebagai sitiran dalam rangka menghasilkan sebuah dokumen baru. Sitiran adalah karya yang digunakan sebagai bibliografi pada sebuah artikel atau buku. Dengan demikian, data yang dikaji dalam analisis sitiran adalah data bibliografi yang disitir dan yang terdapat dalam daftar bacaan (bibliografi) dari dokumen yang menyitir. Analisis sitiran adalah sebagai suatu studi terhadap kutipan yang berupa daftar pustaka dari sebuah buku teks, artikel jurnal, disertasi mahasiswa, atau sumber lainnya dengan melakukan pemeriksaan terhadap bagian tersebut (Strohls : 1999) Mengacu kepada pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa analisis sitiran adalah kajian bibliometrika yang secara khusus mengkaji tentang sitiran yaitu melakukan analisis terhadap daftar pustaka atau bibliografi yang tercantum dalam sebuah dokumen. Menurut pendapat Hurt dalam Elita (2008 : 9) “analisis sitiran biasanya dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan literatur pada subjek tertentu yang juga berkorelasi dengan perkembangan subjek tersebut”. Sehingga dari tiap kelompok subjek dapat diketahui kelas subjek yang dominan. Dalam analisis sitiran dapat digambarkan adanya hubungan antara sebagian atau seluruh dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir. Dalam hal ini dapat dihitung seberapa banyak karya tulis yang disitir oleh para penulis ilmiah. Saling merujuk atau mengutip dalam penulisan karya ilmiah merupakan kewajaran selama dilakukan dengan objektif, kejujuran dan saling menghormati. Menurut Lasa (2005) adanya penyitiran karya tulis membawa beberapa manfaat, antara lain: a. menjunjung etika keilmuan; b. pengakuan terhadap prestasi seseorang; c. mengenali metode maupun peralatan; d. adanya penghormatan terhadap karya orang lain; e. membantu pembaca dalam penemuan kembali akan sumber informasi; f. memperoleh latar belakang bacaan; g. mengoreksi karya karya sendiri atau karya orang lain; h. memberikan kepuasan; i. mendukung klaim suatu temuan; j. memberikan informasi tentang karya yang kan terbit; k. membuktikan keaslian data; l. menyangkal atau membenarkan pemikiran atau gagasan seseorang, m. mendiskusikan gagasan dan penemuan orang lain. Kajian tentang analisis sitiran telah berkembang pesat di luar negeri. Penelitian pertama kali dilakukan oleh Gros and Gros pada tahun 1927 yaitu menganalisis sitiran terhadap majalah bidang kimia Beni, (1999). Selanjutnya diikuti penelitianpenelitian lainnya seperti yang dilakukan oleh Eugene Garfield yang menganalisis setiap bidang ilmu untuk mengevaluasi majalah/jurnal maupun penulis yang paling banyak disitir oleh jurnal lain atau penulis lainnya. Analisis bertujuan untuk mengetahui jumlah literatur yang disitir, bahasa, jenis, dan usia literatur yang disitir. Hasil analisis diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan bagi upaya peningkatan kualitas sitiran artikel ilmiah peneliti. Selain itu diharapkan dapat bermanfaat dalam perumusan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan terutama di lingkungan Balitbang Kelautan dan Perikanan.
Method
Analisis dilakukan terhadap Jurnal Riset Akuakultur Volume 4 No. 1-3 Tahun 2009 s/d Volume 6 No. 1-3 Tahun 2011, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya. Parameter yang dianalisis adalah jumlah literatur yang disitir dalam setiap artikel jurnal, bahasa literatur, jenis dan usia paro hidup literatur yang disitir. Jenis literatur yang disitir dikelompokkan berdasarkan jenis bahan pustaka seperti majalah, buku, prosiding, skripsi/ tesis/disertasi, sumber dari internet, dan laporan. Sedangkan usia paro hidup literatur dikelompokkan dalam rentang waktu 5 tahun,
Discussion
Jumlah Literatur yang Disitir Jumlah literatur yang disitir dalam Jurnal Riset Akuakultur Tahun 2009-2011 yang menjadi sampel kajian berbeda antara satu dengan yang lainnya. Data tentang jumlah literatur yang disitir pada masing-masing volume dan nomor dapat dilihat pada Tabel – 1. Tabel 1. Jumlah literatur yang disitir No Jurnal Riset Akuakultur Jumlah Sitiran 1 Vol. 4 (1) Tahun 2009 323 2 Vol. 4 (2) Tahun 2009 313 3 Vol. 4 (3) Tahun 2009 295 4 Vol. 5 (1) Tahun 2010 321 5 Vol. 5 (2) Tahun 2010 285 6 Vol. 5 (3) Tahun 2010 390 7 Vol. 6 (1) Tahun 2011 365 8 Vol. 6 (2) Tahun 2011 456 9 Vol. 6 (3) Tahun 2011 369 Total 3117 Jumlah artikel Jurnal Riset Akuakultur yang dianalis selama tiga tahun (2009-2011) sebanyak 135 judul dengan 3117 jumlah sitiran atau 1039 sitiran per tahun. Jumlah sitiran setiap artikel berkisar antara 4-67 judul dengan rata-rata 23,08 judul. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan peneliti dalam menggunakan informasi cukup bervariasi. Walaupun tidak ada batasan mengenai jumlah referensi yang harus dicantumkan, minimnya jumlah artikel primer yang digunakan sebagai referensi. Menurut Hartinah (2005), artikel yang disitir penulis untuk penyusunan artikel ilmiah sangat dipengaruhi oleh kemampuan penulis dalam menemukan sumber literatur yang mutakhir/ baru. Banyaknya sitiran pada suatu artikel bergantung pada beberapa faktor yaitu : topik penelitian, dokumen yang tersedia, kemudahan mendapatkan dokumen waktu, bentuk dokumen, kemampuan untuk mendapatkan dokumen dan sebagainya. Menurut Maryono dan Junandi, S. (2012) Semakin tinggi jumlah sitiran yang diperoleh suatu dokumen, menunjukkan tingginya manfaat dokumen tersebut, dan disebut semakin berkualitas. Demikian juga suatu jurnal, semakin tinggi jumlah sitiran yang diperoleh, semakin tinggi kualitasnya, dan memiliki faktor dampak (impact factor) dan peringkat yang tinggi. Bahasa Literatur yang Disitir Bahasa literatur yang disitir pada Jurnal Riset Akuakultur adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (Gambar 1). Gambar 1. Bahasa literatur yang disitir Dari hasil analisis data pemakaian bahasa pada jurnal riset akuakultur diperoleh bahwa 71% yang menggunakan literatur berbahasa Inggris dan 29% literatur berbahasa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa peneliti lingkup P4B dalam menulis karya ilmiah lebih dominan menggunakan literatur berbahasa Inggris dibanding literatur berbahasa Indonesia. Hal ini menujukkan bahwa peneliti lingkup P4B sudah memiliki kemampuan dalam memahami bahasa Inggris. 2. Jenis literatur yang Disitir Literatur yang disitir dalam Jurnal Riset Akuakultur terdiri dari beberapa jenis. Dalam analisis ini jenis literatur dikelompokkan atas majalah, buku, prosiding, skripsi/tesis/disertasi, sumber dari internet, dan laporan (Gambar 2). Gambar 2. Jenis literatur yang disitir Dari gambar tersebut diatas terlihat bahwa jenis literatur yang paling banyak atau peringkat pertama disitir adalah majalah yaitu sebesar 46%. Buku menduduki peringkat kedua jenis literatur yang disitir dalam Jurnal Riset Akuakultur dengan nilai persentase 42% tidak berbeda jauh dengan majalah. Sedangkan jenis prosiding hanya disitir sebanyak 4%, disusul sitiran skripsi/tesis/disertasi dan literatur sumber internet yang masing-masing hanya 3%. Sedangkan laporan disitir sebanyak 2%. Hal ini menunjukkan bahwa peneliti dalam membuat karya ilmiah lebih banyak menggunakan majalah sebagai sebagai rujukan dibanding jenis literatur lain. Hal tersebut sesuai yang dikemukakan Endrawati, T. (2012) bahwa idealnya dalam menyusun sebuah karya ilmiah, jumlah sitiran majalah/jurnal cenderung lebih banyak dibandingkan dari sitiran buku. Ini dikarenakan majalah/jurnal memuat informasi yang lebih mutakhir karena berisi artikel-artikel hasil penelitian terbaru dan aktual. 3. Tingkat Keusangan Literatur (Paro hidup) Tingkat keusangan (Paro hidup) literatur yang disitir atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Half-Life adalah usia dari separo literatur yang digunakan dalam sebuah bidang. Paro hidup menunjukkan kecepatan pertumbuhan literatur, dengan sendirinya menunjukkan pula kecepatan pertumbuhan ilmu. Sehingga semakin muda usia paro hidup sebudah bidang ilmu, semakin cepat perkembangan ilmu tersebut. Dilihat dari Usia literatur yang disitir dalam Jurnal Riset Akuakultur (Tabel 2) menggambarkan bahwa literatur usia 6 sampai 10 tahun merupakan peringkat pertama yaitu sebesar 29,63%. Literatur usia 11 sampai 15 tahun menduduki peringkat kedua (17,78%), menyusul literatur usia 1 sampai 5 tahun (16.63%) dan literatur usia 16 sampai 20 tahun sebanyak 13,71%. Sedangkan usia literatur 21 sampai 25 tahun (10,27%), usia literatur 26 sampai 30 tahun (5,36%), Kemudian usia literatur 31 sampai 35 tahun sebanyak 3,31%, menyusul usia literatur 36 sampai 40 tahun sebanyak 2,02% dan seterusnya. Untuk menghitung tingkat keusangan literatur atau paro hidup sitiran literatur suatu bidang ilmu dilakukan dengan meneliti tahun terbit yang disitir dan mengelompokan sesuai usia terbitnya. Nilai usia paro hidup dihitung dengan menetapkan tahun pada saat persentase kumulatif dari sitiran untuk sumber yang disitir dapat mencapai jumlah sama atau lebih dari 50%. Jumlah ini menjadi bilangan untuk menentukan nilai umur paro hidup bidang tersebut. Literatur yang disitir tetapi tidak memiliki tahun terbit tidak Tabel 2. Data Perhitungan Tingkat Keusangan Literatur yang Disitir No Usia Literatur Frekuensi Sitiran % Kumulatif % Kumulatif 1 1 sd 5 518 16.63 518 17.81 2 6 sd 10 923 29.63 1441 46.26 3 11 sd 15 554 17.78 1995 64.04 4 16 sd 20 427 13.71 2422 77.75 5 21 sd 25 320 10.27 2742 88.03 6 26 sd 30 167 5.36 2909 93.39 7 31 sd 35 103 3.31 3012 96.69 8 36 sd 40 63 2.02 3075 98.72 9 41 sd 45 21 0.67 3096 99.39 10 46 sd 50 7 0.22 3103 99.61 11 51 sd 55 8 0.26 3111 99.87 12 56 sd 60 3 0.10 3114 99.97 13 61 sd 65 0 0.00 3114 99.97 14 66 sd 70 0 0.00 3114 99.97 15 71 sd 75 1 0.03 3115 100.00 3115 100.00 diikut sertakan dalam perhitungan. Ada 2 literatur yang disitir yang tidak memiliki tahun terbit, sehingga jumlah keseluruhan literatur yang diikutsertakan untuk perhitungan penentuan tingkat keusangan adalah sebanyak 3115 literatur. Dengan menggunakan perhitungan median: maka diperoleh hasil bahwa tingkat keusanggan atau paro hidup literatur yang disitir oleh jurnal riset akuakultur adalah 12,19 atau dibulatkan 12 tahun. Ini menunjukkan bahwa separoh dari literatur atau artikel kelautan dan perikanan yang disitir berusia 12 tahun. Artinya bahwa literatur yang sitir dibawah usia 12 tahun atau terbit di bawah tahun 2000 dianggap sudah usang dan literatur yang disitir diatas tahun 2000 dianggap masih baru. Jika dihitung dari jumlah literatur yang disitir oleh penulis artikel pada jurnal riset akuakultur maka dipeoleh angka bahwa sebanyak 46,7% literatur yang disitir dibawah tahun 2000 dan sebanyak 53,3% artikel yang disitir diatas tahun 2000. Dengan mengetahui usia paro hidup (halflife) suatu literatur, bukan berarti penggunaan literatur sudah tua atau yang lama tidak dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian yang baru. Walaupun literatur tersebut tergolong lama atau sudah tua dalam hal usia paro hidup, apabila literatur tersebut memiliki informasi yang benar-benar relavan dengan topik yang dicari oleh pengguna informasi maka literatur tersebut dapat dijadikan sebagai bahan rujukan atau referensi untuk penelitian yang baru. Hartinah (2002) yang dikutip oleh Hasugian (2005) menyatakan bahwa : setiap bidang ilmu mempunyai usia paro hidup yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian di luar negeri, paro hidup literatur untuk ilmu fisika adalah 4,6 tahun, fisiologi 7,2 tahun, matematika 10,5 tahun, geologi 11,8 tahun, kedokteran 6,8 tahun, hukum 12,9 tahun dan untuk bidang sosial kurang dari 2 tahun. Jika melebihi usia paro hidup di atas maka bisa dikatakan bahwa literatur tersebut sudah usang.
Conclusion
Kesimpulan : 1. Jumlah artikel yang sitiran pada Jurnal Riset Akuakultur selama tiga tahun (2009-2001) sebanyak 3117 sitiran atau 1039 sitiran per tahun. Jika dirata-ratakan maka setiap artikel menyitir + 23 literatur. 2. Bahasa literatur yang disitir dalam jurnal riset auakultur yaitu bahasa Indonesia dan Bahan Inggris dengan perbandingan 71% menggunakan literatur berbahasa Inggris dan 29% literatur berbahasa Indonesia. 3. Jenis literatur yang paling banyak disitir adalah majalah yaitu sebesar 46%, buku 42%, prosiding sebanyak 4%, skripsi/tesis/disertasi dan literatur sumber internet masing-masing hanya 3%, dan laporan sebanyak 2%. 4. Tingkat keusanggan atau paro hidup literatur yang disitir oleh jurnal riset akuakultur adalah 12 tahun . Dari perhitungan diketahui bahwa sebanyak 46,7% literatur yang disitir dianggap sudang usang dan 53,3% literatur dianggap masih baru. Saran : Diperlukan analisis sitiran dan evaluasi lebih lanjut, untuk mengetahui literatur yang dibutuhkan oleh peneliti dilingkup P4B, sehingga penyediaan sumber-sumber informasi di perpustakaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.