Kembali
16
1
2018 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 6 · 2 ISSN 2549-1334

TREN PERKEMBANGAN OPEN ACCESS INSTITUTIONAL REPOSITORY PADA PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Open Access (OA) atau akses terbuka dapat menjadi jalan alternatif dalam menyebarkan informasi ilmiah kepada seluruh dunia tanpa dibatasi ruang dan waktu. Repositori institusi atau instutional repository (IR) telah banyak diaplikasikan pada beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Tulisan ini mendeskripsikan pemetaan perkembangan repositori institusi perguruan tinggi di Indonesia yang open akses dan perangkat lunak yang digunakannya pada portal OpenDOAR. Penelitian ini terbatas pada repositori institusi perguruan tinggi yang telah terdaftar di OpenDoar saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah perkembangan repositori di Indonesia pada OpenDOAR mulai dari tahun 2008 hingga 2018 ini. Sementara perangkat lunak yang digunakan ialah Eprints, Dspace, dan lainnya.
Keywords: Repositori institusi · akses terbuka

Introduction

Open Access (OA) atau akses terbuka merupakan jalan alternatif dalam menyebarkan informasi ilmiah kepada seluruh dunia tanpa dibatasi ruang dan waktu. OA berarti pembukaan akses informasi online maupun digital tanpa memerlukan biaya dan izin terlebih dahulu kepada penerbit rujukan ilmiah yang ingin diunduh. OA dapat berlaku bagi jurnal maupun karya tulis mahasiswa, dosen ataupun staf Perguruan Tinggi Apabila sifatnya literatur kelabu, maka wadah yang menampungnya disebut Repositori Institusi (Institutional Repository).Saat ini, eksistensi repositori atau lebih akrab dikenal sebagai Instutional Repository atau IR telah banyak diaplikasikan pada beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan saat ini, sudah ada 68 repositori perguruan tinggi yang telah terdaftar di OpenDOAR. Jumlah yang banyak tidak menjadi tolak ukur banyaknya repositori dalam negeri bahkan menjadi tren setiap daerah di Nusantara. Perkembangannya sangat pesat, meski repositori tersebut masih banyak yang belum terdaftar di OpenDOAR. Aktivitas Ilmiah atau komunikasi ilmiah melalui repositori di atas terwujud dikarenakan adanya Undang-undang atau Peraturan Pemerintah terkait Publikasi ilmiah dan penelitian seperti Undang_x0002_undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang No 14 Tahun 2015 tentang Guru dan Dosen, Permen Ristekdikti No 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Professor, Permen Agama RI No 55 Tahun 2014 tentang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Perguruan Tinggi Keagamaan. Repositori dapat memudahkan peneliti manapun untuk mengakses informasi penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan fokus dan ruang lingkup dengan penelitiannya. Selain itu, repositori juga dapat menjadi filter munculnya duplikasi ilmiah dikalangan civitas akademika dan menjadi mediasi alih produk intelektual melalui knowledge management. Inilah yang menjadi alasan bagi perguruan tinggi untuk berlomba_x0002_lomba dalam membuat repositori dan menjadi sebuah tren yang patut diteliti. Dalam sejarah penelitian di Indonesia, subjek repositori telah banyak dipublikasikan, khususnya penelitian yang melibatkan seluruh repositori yang terdaftar di OpenDOAR seperti yang telah dilakukan Farida et al (2015) dengan judul ―A Concept Perguruan Tinggi Model of Open Access Instutional Repository in Indonesia Academic Libraries: Viewed from Knowledge Management Perspective‖, namun demikian penelitian ini hanya melibatkan 35 entri repository, sementara saat ini jumlah repositori yang terdaftar di OpenDOAR sebanyak 68 entri. Sementara jumlah Perguruan Tinggi berdasarkan Pangkalan Data Perguruan Tinggi Kementerian Riset dan Teknologi sebanyak 4.460 perguruan Tinggi. Sehingga penelitian tersebut perlu dikembangkan melalui development research dengan konsep dan metode penelitian yang berbeda dan berfokus untuk melihat tren open access Institutional Repository atau OAIR di Indonesia. Melalui penelitian ini, dampak perkembangan repositori di perguruan tinggi Indonesia terhadap komunikasi ilmiah dapat dilihat secara langsung dan akhirnya dapat berkontribusi dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan open access Repositori Institusi di Indonesia. Latar belakang yang telah dipaparkan di atas melahirkan beberapa pokok permasalahan dalam penelitian ini dan dirumuskan dalam beberapa poin yaitu 1) Bagaimana tren perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia, 2) Bagaimana pemetaan perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia berdasarkan lokasi geografis, dan perangkat lunak (software) apa yang digunakan oleh Perguruan Tinggi pada repositori lah disebutkan pada latar belakang di atas, akan tetapi secara rinci tujuan perencanaan penelitian dan ouput hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui tren perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia, untuk mengetahui pemetaan perkemetaan perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia berdasarkan lokasi, dan untuk mengetahui software atau perangkat lunak yang digunakan oleh Perguruan Tinggi dalam membangun repositor

Method

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan statistik. Dengan berusaha untuk menggambarkan tren perkembangan IR pada Perguruan Tinggi di Indonesia, penelitian ini akan menunjukkan statistika IR di Perguruan Tinggi dari masa ke masa. Dengan pendekatan ini nantinya akan dapat diprediksi ke depan perkembangannya. Tren perkembangan ini dapat dilihat pada situs OpenDOAR. Sebagai mana yang pernah juga dilakukan oleh peneliti terdahulu (Farida et al. 2015: 173). Direktori OpenDOAR menyediakan list OAIR yang telah dijamin kualitasnya di seluruh dunia. Sebelum sebuah repositori terdaftar di OpenDOAR, staf direktori tersebut melihat perkembangan repositori yang telah mendaftarkan diri, melihat jenis metadata yang digunakan agar mempermudah kategorisasi repositori di OpenDOAR dan menganalisisnya agar repositori tersebut dapat digunakan dan diakses secara luas. Bahkan tak jarang Staf OpenDoar mengunjungi langsung suatu repositori untuk memastikan kompetensi dan kualitas informasi ilmiah yang dimiliki oleh repositori tersebut. OpenDOAR sendiri dikelola oleh Pusat Penelitian Komunikasi Universitas Nottingham berbasis layanan SHERPA. (OpenDOAR, 2013) Saat ini, jumlah repositori yang terdaftar di OpenDOAR sebanyak 68 entri ROAR berjumlah 134 entri tanpa adanya spesisifkasi perangkat lunak. Data yang ada dalam OpenDOAR kemudian dipetakan berdasarkan item-item yang ditampilkan oleh direktori OAIR tersebut. Data-data yang telah diperoleh dari berbagai sumber di atas selanjutnya akan ditabulasi dengan bantuan Ms. Excel untuk memudahkan peneliti melihat tren perkembangan IR dari tahun ke tahun. Selain itu, juga akan menunjukkan letak geografis tiap-tiap IR tersebut. Dari sini, peneliti akan dapat mencoba memberika analisis prediksi perkembangan atau pertumbuhan IR di Indonesia

Result

Tren Perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia 1) Perkembangan Repositori Pertahun Jumlah repositori tahun 2018 yang terdaftar di OpenDOAR saat ini adalah 70. Perkembangan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun, di mana pada tahun 2008 hanya satu repositori yang terdaftar di OpenDOAR. Selanjutnya, range tingkatan jumlah repositori yang terdaftar berbentuk random, di mana pada tahun 2010 dan 2013 jumlah repositori yang terdaftar sebanyak 3, pada tahun 2018 sebanyak 6, pada tahun 2012 dan 2014 sebanyak 8, pada tahun 2017 sebanyak 9, pada tahun 2011 dan 2014 sebanyak 10. Meningkat pesat pada tahun 2016 sebanyak 12. Meskipun naik turun, perkembangannya tidak tampak fluktuatif sebagaimana grafik Growth of OpenDOAR di bawah ini. Banyaknya OAIR yang terdaftar di OpenDOAR pada tahun 2016 menunjukkan bahwa kesadaran perguruan tinggi terhadap manfaat OpenDOAR cukup tinggi di mana melalui OpenDOAR, setiap institusi dapat melakukan benchmarking terhadap repositori perguruan tinggi lainnya dan seluruh civitas akademik baik dalam maupun luar institusi mampu memanfaatkan repositori secara optimal terutama bagi para dosen dan mahasiswa. Sementara itu, jumlah instansi yang membangun repositori pertahun perkembangannya juga sangat signifikan namun terjadi fluktuatif. Pembangunan repositori naik turun, meski pada tahun 2011-2013 giat perguruan tinggi patut diapresiasi dalam memahami pentingnya membangun OAIR. Selain itu, perkembangannya cukup memadai mulai dari tahun 2015-2017, di mana pada tahun 2015 terjadi pembangunan OAIR besar_x0002_besaran di Perguruan Tinggi Indonesia sebagaimana grafik berikut ini: Grafik Jumlah instansi yang membangun repositori pertahun Tingginya jumlah perguruan tinggi yang membangun OAIR pada tahun 2015 menjadi dasar bahwa pada tahun tersebut, banyak peraturan pemerintah terutama perundang-undangan yang membuat beberapa perguruan tinggi menggeliat untuk membuat para dosen dan professor untuk mempublikasikan penelitiannya ke dalam repositori. Tingginya minat perguruan tinggi terhadap OAIR membuat komunikasi ilmiah antar perguruan tinggi semakin mudah. Akses temu balik informasi pun semakin cepat tanpa dibatasi ruang dan waktu terutama dalam mengakses skripsi, tesis, dan disertasi sebagain referensi kajian penelitian terdahulu dalam sebuah penelitian sebagai dasar menguatkan alasan suatu penelitian dilakukan. Tampak dari grafik berikut ini menggambarkan tingginya jumlah karya tulis ilmiah mahasiswa tingkat akhir yang paling banyak dilayankan melalui OAIR. Pembangunan OAIR di perguruan tinggi Indonesia tidak serta merta hanya mengedepankan kuantitas karya tulis ilmiah yang telah dialih mediakan, akan tetapi juga memperhatikan pentingnya penggunaan bahasa dalam penulisan karya tulis ilmiah maupun konsep layanan interface dalam memudahkan para civitas akademika setempat dalam menggunakan repositori. b. Pemetaan Perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia Berdasarkan Lokasi Geografis Perkembangan OAIR di beberapa wilayah yang ada di Indonesia sangat signifikan apabila dilihat dari tahun berdirinya OAIR tersebut. Namun dari segi jumlah OAIR setiap wilayah belum cukup merata secara universal. Adapun secara garis besar, jumlah repositori yang terdaftar di openDOAR adalah sebagai berikut: No Repository Name Instansi 1 Andalas University Repository Universitas Andalas 2 Binus University Repository Binus University 3 Borneo University Repository Borneo University 4 Digilib UIN Sunan Kalijaga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 5 Digital Library of UIN Sunan Ampel UIN Sunan Ampel Surabaya 6 Digital Repository Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Medan 7 EEPIS Repository Politeknik Elektronika Negeri Surabaya 8 ETD - Unsyiah Central Library Syiah Kuala University 9 Etheses of Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) UIN Maulana Malik Ibrahim 10 ePrints Online Repository Sriwijaya University Universitas Sriwijaya G 11 eprints umsida Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 12 Gunadarma University Repository Gunadarma University 13 Hasanuddin University Repository Hasanuddin University 14 IAIN Antasari Institutional Repository IAIN Antasari Banjarmasin 15 IAIN Sunan Ampel Repository IAIN Sunan Ampel 16 Bogor Agricultural University Repository Bogor Agricultural University 17 ISI Denpasar | Institutional Repository Institut Seni Indonesia, Denpasar 18 ITS Digital Repository Institut Teknologi Sepuluh Nopember 19 Indonesian Institute of the Art Yogyakarta Indonesian Institute of the Art Yogyakarta 20 Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 21 Institutional Repository of IAIN Tulungagung IAIN Tulungagung 22 Institutional Repository of Satya Wacana Christian University Satya Wacana Christian University 23 Ispektra Digital Collection Petra Christian University 24 Lumbung Pustaka UNY (UNY Repository) Yogyakarta State University 25 MB IPB Repository Bogor Agricultural University 26 Musi Charitas Catholic University Repository Musi Charitas Catholic University 27 Neliti Neliti 28 POLNEP Repository Politeknik Negeri Pontianak 29 Pasundan Repository Universitas Pasundan 30 Portal Garuda STMIK IBBI (STMIK IBBI Repository) STMIK IBBI 31 Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 32 Repositori Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Universitas Bhayangkara Jakarta Raya 33 Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Poltekkes Kemenkes Yogyakarta 34 Repository ST3 Telkom Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto 35 Repository Universitas Sanata Dharma Universitas Sanata Dharma 36 Repository Universitas Padjadjaran CISRAL Universitas Padjadjaran 37 Repository Universitas PGRI Yogyakarta Universitas PGRI Yogyakarta 38 Repository Universitas Negeri Makassar Universitas Negeri Makassar 39 Repository Universitas Medan Area Universitas Medan Area 40 Repository UMMI University of Muhammadiyah Sukabumi 41 Repository UMM University of Muhammadiyah Malang 42 Repository UIN Sumatera Utara Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 43 STIESIA Institutional Repository Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya 44 STMIK GI MDP STMIK GI MDP 45 School of Business IPB Repository Bogor Agricultural University 46 Scientific Repository Petra Christian University 47 Sistem Informasi Tugas Akhir Universitas Kristen Duta Wacana 48 Stain Salatiga Online Repository Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga 49 Stikom Institutional Repository Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya 50 The UBM Repository Bunda Mulia University 51 Trisakti University Collection of Scholarly and Academic Pa Trisakti University 52 UAJY repository Universitas Sumatera Utara 53 tails Repositori Institusi Universitas Sumatera Utara Universitas Atma Jaya Yogyakarta 54 UIN Maliki Malang Repository UIN Maulana Malik Ibrahim 55 UMM Institutional Repository Universitas Muhammadiyah Malang 56 Diponegoro University Institutional Repository Diponegoro University 57 UNEJ Repository University Of Jember 58 UNIB Scholar Repository University of Bengkulu 59 UPN Jatim Repository UPN Jatim University 60 University of Surabaya Institutional Repository University of Surabaya 61 Udinus Repo (UDiNus Repository) Universitas Dian Nuswantoro 62 Unika Repository Unika Soegijapranata 63 Universitas Ahmad Dahlan Repository Universitas Ahmad Dahlan 64 Universitas Airlangga Repository Universitas Airlangga 65 Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository State Islamic University Syarif Kasim Sultan 66 Universitas Sebelas Maret Institutional Repository Universitas Sebelas Maret 67 University of Nahdlatul Ulama Surabaya Repository University of Nahdlatul Ulama Surabaya 68 Uiana Universitas Indonesia 69 Walisongo Institutional Repository IAIN Walisongo Semarang 70 Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository Widya Mandala Catholic Univeristy Surabaya Meskipun jumlahnya sudah bertambah yaitu 70 OAIR, namun terdapat dua IR yang tidak menjadi objek kajian penelitian tersebut dikarenakan satu diantaranya bukan merupakan perguruan tinggi melainkan lembaga informasi yang bergerak mengindeks seluruh jurnal yang Open Access di Indonesia, dan satu repositori yang merupakan milik pemerintah yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga jumlah repositori yang ada yaitu hanya 68 IR ditinjau dari perguruan tinggi yang menerbitkan. Adapun dari segi geografis, Surabaya merupakan wilayah yang paling banyak membangun OAIR di perguruan Tinggi. Sebagaimana grafik di bawah ini Selanjutnya kota pendidikan Yogyakarta menyusul dengan range yang tidak berimbang dari jumlah repositori yang ada di Surabaya yang berkisar sebanyak 20 IR, sementara Yogyakarta hanya 9 IR. Yogyakarta dan Bandung beriringan dalam jumlah OAIR di mana terdapat sebanyak 8 IR di Bandung yang saat ini telah terdaftar di OpenDOAR. Sementara Padang, Pontianak, Aceh, Samarinda, Bengkulu, Bali, Riau, dan Banjarmasin hanya terdapat masing_x0002_masing satu institusi yang membangun repositori. Berdasarkan grafik tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa Indonesia Bagian Barat merupakan wilayah geografis yang paling banyak membangun OAIR. Sementara Indonesia Bagian Tengah merupakan wilayah geografis yang lumayan banyak membangun repositori dengan Indonesia Bagian Timur merupakan wilayah yang paling sedikit membangun repositori. Hal demikian berarti bahwa, perlu adanya peningkatakan pemahaman akan pentingnya membangun OAIR di perguruan tinggi dan mendaftarkannya ke OpenDOAR terutama pada daerah Indonesia Bagian Timur. c. Pemetaan Perkembangan OAIR pada Perguruan Tinggi di Indonesia Berdasarkan Perangkat Lunak (software) yang Digunakan Pada tahun 2015, DSpace merupakan perangkat lunak yang paling banyak digunakan perguruan tinggi dalam membangun repositori. EPrints menjadi kategori kedua, namun hasil temuan tersebut merupakan representasi ROAR. Sementara berdasarkan statistik OpenDOAR khusus area Indonesia, EPrints merupakan perangkat lunak yang paling banyak digunakan di Indonesai sebagaimana grafik di bawah ini: Berdasarkan Grafik di atas, maka dapat dinyatakan bahwa perangkat lunak EPrints merupakan software yang paling mudah digunakan dengan berbagai fitur dan interface yang user friendly. Namun pada wilayah Eropa, America, dan Asia secara umum, DSPace merupakan perangkat lunak yang paling banyak digunakan

Conclusion

Sejak tahun 2008 hingga 2018, jumlah repositori yang terdaftar di OpenDOAR sebanyak 69 entri. Hal ini masih sangat jauh dengan jumlah keseluruhan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Gerakan OA ini berarti belum merata secara universal di seluruh wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian tengah dan timur. Namun demikian peningkatannya dari tahun 2016 hingga 2018 telah cukup signifikan meski grafiknya tidak bergerak secara horizontal. Penggunaan software EPrints juga menjadi alasan berkembangnya OAIR di Indonesia dikarenakan fiturnya yang user friendly. Keadaan OAIR Indonesia saat ini masih perlu ditingkatkan demi melancarkan alur temu balik informasi di seluruh perguruan tinggi, menghidupkan komunikasi ilmiah antar civitas akademik, dan sebagai benchmarking untuk setiap perguruan tinggi yang ada.