Kembali
16
1
2019 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 7 · 1 ISSN 2549-1334

MODEL PENGKLASIFIKASIAN BAHAN PUSTAKA BERBASIS WARNA

Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengelolaan bahan pustaka menggunakan suatu model sistem klasifikasi dengan adanya penambahan warna sebagai penanda untuk memudahkan siswa dalam temu kembali koleksi pustaka di perpustakaan SDN 1 Caracas Kuningan Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode action research dengan pendekatan kualitatif, dan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem klasifikasi menggunakan subjek kelas dan subjek mata pelajaran yang masing-masing diberi warna utama dan warna kombinasi sebagai identitasnya. Selain itu, sistem warna dilengkapi dengan adanya label warna sebagai penanda yang membedakan antara warna subjek kelas dan warna subjek mata pelajaran agar memudahkan dalam temu kembali koleksi pustaka. Posisi label berada di bagian tengah pada setiap punggung buku, serta menempelkan label sebagai petunjuk keterangan warna pada setiap rak penyimpanan. Sistem warna dan label memiliki karakter yang diperkirakan dapat mendukung kemudahan siswa dalam temu kembali koleksi pustaka di Perpustakaan SDN 1 Caracas Kuningan Jawa Barat
Keywords: Klasifikasi bahan pustaka · perpustakaan sekolah

Introduction

Sekolah sebagai suatu lembaga pengembangan ilmu yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan guru. Selain memberi pengajaran, sekolah juga mengembangkan sarana dan prasarana seperti adanya perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar siswa memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Ilmu-ilmu yang didapatkan tidak hanya didapatkan dari guru tetapi bisa juga didapatkan dari sumber lain seperti buku-buku, untuk itu di sekolah diperlukan pusat sumber belajar yaitu perpustakaan. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di SDN 1 Caracas, sekolah tersebut tidak cukup luas. Terdapat ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, dan kantin. Ruang kelas yang digunakan untuk pembelajaran sebanyak 6 kelas. Untuk perpustakaan sendiri sudah cukup luas untuk menampung koleksi yang ada. Perpustakaan berada di bangunan yang terpisah. Perpustakaan berdiri pada tahun 2013 dan digunakan oleh siswa sebagai penunjang proses pembelajaran. Koleksi yang ada di perpustakaan adalah koleksi umum buku mata pelajaran sebanyak 3000 lebih dan sebagian dari koleksi buku ada yang sudah rusak. Koleksi yang ada saat ini masih di rasa cukup, tetapi diharapkan adanya penambahan terus menerus agar koleksi semakin banyak dan siswa tidak merasa bosan dengan koleksi yang sudah ada sebelumnya. Perpustakaan SDN 1 Caracas termasuk sebagai perpustakaan sekolah. Menurut Sulistyo_x0002_Basuki (1991, 50) dalam bukunya “Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan. Dengan tujuan utama membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya”. Perpustakaan yang didirikan SDN 1 Caracas harus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung siswa dalam proses belajar. Sebuah perpustakaan yang dapat dimanfaatkan dengan baik menurut Sulistyo-Basuki (1991, 231-232) “Buku diatur di rak dengan baik dan teratur sehingga waktu pemakai dapat dihemat. Karena itu, buku di perpustakaan disusun dalam berbagai koleksi atau urutan untuk memenuhi kebutuhan pemakai”. Berdasarkan pengamatan peneliti, terlihat koleksi pustaka yang ada masih berantakan dan belum tersusun dengan baik, hanya disimpan dalam lemari dan tidak terdapat nomor klasifikasi di setiap buku. Siswa sering merasa kesulitan untuk mencari koleksi pustaka yang mereka cari, dikarenakan koleksi pustaka belum diklasifikasi dan penyimpanan yang masih secara acak. Di perpustakaan sekolah ini belum terdapat pengelola khusus, sehingga siswa harus mengambil dan mengembalikan koleksinya sendiri. Koleksi pustaka dikelola oleh dewan guru yang merangkap sebagai pengelola perpustakaan untuk mengatur semua koleksi. Koleksi di perpustakaan sekolah ini disimpan dan diletakkan begitu saja tidak beraturan, maka saat siswa membutuhkan buku harus mencarinya satu persatu dari sekian banyak buku yang ada di perpustakaan. Dalam setiap buku tidak terdapat tanda di punggung buku atau di sampul buku seperti nomor klasifikasi, hal ini yang menyulitkan guru dan siswa dalam mencari buku yang dibutuhkan. Selain itu, tidak adanya klasifikasi membuat buku sulit ditemukan kembali hingga terkadang akhirnya menjadi hilang. Kondisi buku yang belum diklasifikasi menjadi masalah bagi siswa untuk menemukan dan mengembalikan buku. Hal ini juga menjadi masalah untuk para guru di sekolah, sebelumnya guru mencoba untuk menerapkan kepada siswa untuk setiap minggunya meminjam buku di perpustakaan, tetapi semakin lama tidak efektif karena buku di kembalikan dan disimpan sembarangan dan banyak buku yang sulit ditemukan kembali. Sekolah berada dibawah naungan Dinas Pendidikan, sehingga koleksi buku-buku yang ada di perpustakaan merupakan sumbangan dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sumbangan buku setiap tahunnya mengalami penambahan, maka dari itu untuk mempersiapkan jumlah koleksi yang akan semakin banyak makadi perlukan sebuah metode untuk pengelolaan koleksi pustaka yang tepat untuk mempermudah siswa dalam mencari koleksi yang dibutuhkan dan sebagai upaya untuk menarik minat baca siswa di sekolah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Perpustakaan SDN 1 Caracas tidak memiliki pengelola khusus yang ahli dalam bidang perpustakaan, tetapi guru berusaha untuk merapikan buku-buku sesuai subyek pada rak penyimpanan yang ada. Selain itu, guru juga harus berusaha untuk mengorganisasikan koleksi perpustakaan yang nantinya bisa dengan mudah dicari, ditemukan, dijangkau, dan dikembalikan oleh para siswa siswi. Untuk menerapkan manajemen koleksi yang baik ada beberapa unsur yang terlibat dalam pengelolaan perpustakaan menurut (Rahayuningsih, 2007, 1) “sumber daya manusia, pengguna, sarana dan prasarana, berbagai fasilitas pendukung yang baik dan yang terpenting adalah koleksi yang disusun berdasarkan sistem tertentu”. Berdasarkan kondisi yang telah disebutkan di paragraf sebelumnya, pihak sekolah membutuhkan pengelolaan koleksi yang dapat membuat koleksi diatur secara baik dan nantinya koleksi cepat untuk ditemukan kembali oleh siswa. Dalam penelitian ini yang harus diutamakan adalah pengklasifikasian bahan pustaka. Pada umumnya klasifikasi yang biasa digunakan di perpustakaan sekolah, umum dan perguruan tinggi menggunakan sistem DDC (Dewey Decimal Classification), ada pula perpustakaan sekolah yang hanya mengklasifikasikan buku berdasarkan subjeknya. Metode pengklasifikasian DDC (Dewey Decimal Classification) menggunakan angka ini dikhawatirkan nantinya akan menjadi hal yang rumit dan kurang disukai oleh siswa. Maka dari itu manajemen koleksi pada perpustakaan SDN 1 Caracas dilakukan dengan menggunakan model klasifikasi dengan menggunakan warna. Adanya model klasifikasi menggunakan warna juga sekaligus memperkenalkan pemahaman klasifikasi sejak dini kepada para siswa. Warna-warna bisa dijadikan alat komunikasi yang dapat membantu untuk memudahkan dalam pencarian buku di perpustakaan. Selain itu, dengan klasifikasi menggunakan warna nantinya membuat pengelola perpustakaan dimudahkan dalam penyimpanan dan penataan buku di perpustakaan sesuai dengan warna pada setiap buku. Dengan adanya klasifikasi warna itu juga sebagai upaya para guru dalam meningkatkan minat baca siswa sekolah. Dari latar belakang di atas maka penelitian ini berusaha untuk mengetahui bagaimana rancang bangun model pengklasifikasian bahan pustaka berbasis warna pada perpustakaan SDN 1 Caracas

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan atau action research dengan pendekatan kualitatif. Menurut Arikunto (2002, 82) penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil berjalan” dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Pendekatan ini disebut pendekatan kualitatif karena data penelitian berupa laporan pandangan informan secara terperinci dengan adanya wawancara mendalam terhadap situasi nyata di lapangan. Jenis data dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari informasi wawancara mendalam dengan para informan yaitu kepala sekolah, guru kelas 1 sampai kelas 6, pengelola perpustakaan dan siswa SDN 1 Caracas. Data sekunder berasal dari studi kepustakaan, dokumentasi, pengamatan langsung di perpustakaan, arsip sekolah dan data pendukung lainnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi, studi kepustakaan yang didapatkan dari buku-buku, kuesioner atau angket, dan data pendukung lainnya. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting. Sedangkan penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk tabel, grafik dan sebagainya. Dan selanjutnya adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Result

Hasil penelitian didapatkan dari pembahasan untuk menjawab fokus penelitian yaitu meliputi: 1) Pengelolaan bahan pustaka di perpustakaan SDN 1 Caracas dimulai dengan adanya pengadaan koleksi pustaka yang didapatkan dari bantuan pemerintah dan sumbangan. Pengelola perpustakaan hanya mengelompokkan koleksi pustaka hanya sesuai kelas pada rak penyimpanan, hal ini membuat siswa kebingungan saat mencari koleksi pustaka dan menyulitkan saat temu kembali kembali koleksi pustaka. Penyusunan buku di rak penyimpanan hanya disusun sesuai kelasnya saja, pada setiap rak penyimpanan tidak terdapat keterangan sebagai petunjuk saat temu kembali koleksi pustaka. Hal ini mengakibatkan banyak siswa membutuhkan waktu lama untuk temu kembali koleksi pustaka. Setelah buku ditemukan, siswa langsung membaca di perpustakaan ataupun bisa meminjamnya ke pengelola perpustakaan. 2) Kemampuan yang dimiliki pengelola dalam mengelola koleksi pustaka di SDN 1 Caracas yaitu hanya mampu menyimpan koleksi pustaka sesuai kelas dan langsung menyusunnya ke rak penyimpanan. Pengelola perpustakaan bukan seorang pustakawan ahli, yang merangkap menjadi pengelola perpustakaan adalah seorang guru di kelas 5. Maka dari itu, pengelola perpustakaan tidak banyak memahami tentang pengelolaan bahan pustaka. Diharapkan dengan adanya pengklasifikasian warna yang akan peneliti lakukan, dapat meningkatkan kemampuan pengelola dalam mengelola perpustakaan. Khususnya kemampuan pengelola dalam melakukan pengklasifikasian bahan pustaka dengan adanya sistem subjek sesuai kelas dan mata pelajaran, juga kemudahan dengan adanya penggunaan warna-warna yang berbeda pada setiap buku. 3) Kemampuan yang dimiliki siswa dalam memanfaatkan koleksi pustaka yaitu hanya mencari buku sesuai kelas di rak penyimpanan. Saat peneliti melakukan pengamatan, beberapa siswa mampu dalam menemukan koleksi pustaka tetapi membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan koleksi yang dibutuhkan. Selain itu, beberapa siswa juga mampu untuk mengembalikan koleksi ke rak semula tetapi masih banyak siswa yang menyimpannya sembarangan karena lupa dan kebingungan untuk menyimpannya kembali karena tidak adanya petunjuk keterangan pada rak penyimpanan. Koleksi juga disimpan menyatu dan tidak adanya pembatas untuk koleksi setiap mata pelajaran pada rak penyimpanan. Diharapkan dengan adanya pengklasifikasian warna yang akan peneliti lakukan, siswa dapat dengan mudah untuk temu kembali koleksi pustaka di rak penyimpanan sehingga waktu yang dibutuhkan siswa lebih cepat agar siswa merasa senang berkunjung ke perpustakaan. 4) Hambatan yang dialami siswa dan pengelola perpustakaan yaitu: a. Siswa kesulitan dalam menemukan koleksi bahan pustaka karena tidak adanya sistem yang membedakan setiap koleksi mata pelajaran. b. Siswa kesulitan dalam menyimpan koleksi bahan pustaka ke rak karena tidak adanya petunjuk atau keterangan pada setiap rak penyimpanan. c. Koleksi bahan pustaka disimpan sesuai kelas dan tidak adanya pembatas untuk buku setiap mata pelajaran, yang menyebabkan siswa bingung untuk menyimpan pada rak penyimpanan. d. Pengelola perpustakaan hanya memiliki kemampuan untuk mengelompokkan koleksi bahan pustaka sesuai kelas dan menyusun pada rak penyimpanan yang berbeda-beda. e. Belum adanya sistem untuk mengelola koleksi bahan pustaka yang digunakan oleh pihak pengelola yang membuat pengelolaan belum bisa dikatakan baik, karena masih banyak kesulitan yang dirasakan oleh siswa dan pengelola perpustakaan. 5) Kebutuhan yang diperlukan siswa dan pengelola perpustakaan yaitu: a. Siswa membutuhkan sistem yang dapat mengelola koleksi bahan pustaka untuk kemudahan temu kembali koleksi bahan pustaka b. Siswa membutuhkan kemudahan sarana prasarana untuk kemudahan akses penelusuran koleksi pustaka. c. Siswa membutuhkan penyuluhan atau keterampilan teknis mengenai cara temu kembali koleksi pustaka. Dan mengenali koleksi yang ada di perpustakaan. d. Pengelola membutuhkan pelatihan ataupun memperdalam pemahaman untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola koleksi pustaka. e. Pengelola membutuhkan sarana prasarana yang akan mendukung kemudahan dalam mengelola koleksi pustaka. 6) Rancangan model klasifikasi sebagai sistem pengelolaan koleksi pustaka a. Siklus I Perpustakaan SDN 1 Caracas menggunakan sistem klasifikasi sesuai subjek. Klasifikasi dikelompokkan berdasarkan subjek kelas dan subjek mata pelajaran. Warna yang digunakan yaitu warna-warna sederhana yang diambil dari pembagian warna dalam buku Dameria (2007, 15) menggunakan lingkaran warna (color wheel) seperti gambar dibawah ini; Gambar 1. Lingkaran Warna Warna terbagi menjadi tiga bagian yaitu warna primer, sekunder dan tersier. Warna primer terdiri dari merah, kuning dan biru. Warna sekunder terdiri dari orange, ungu dan hijau. Sedangkan warna tersier terdiri dari hijau limau, hijau tosca, indigo dan warna lainnya. Warna_x0002_warna tersebut digunakan sebagai penanda warna subjek berdasarkan kelas. Sedangkan penanda warna subjek berdasarkan mata pelajaran didapatkan dari warna yang terdapat dalam asosiasi psikologi warna, warna ini didapatkan dari warna primer, sekunder dan warna pelengkap lainnya. Pada siklus ini, rancangan yang dilakukan adalah: Pertama, peneliti menentukan warna berdasarkan subjek kelas. Warna subjek kelas terdiri dari kelas 1 menggunakan warna merah, kelas 2 menggunakan warna kuning, kelas 3 menggunakan warna biru, kelas 4 menggunakan warna ungu, kelas 5 menggunakan warna orange, dan kelas 6 menggunakan warna hijau. Warna-warna yang digunakan sudah didiskusikan terlebih dahulu bersama pihak sekolah dan siswa. Kedua, peneliti menentukan warna berdasarkan subjek mata pelajaran. Warna yang digunakan menggunakan asosiasi psikologi warna dan warna yang digunakan memiliki arti masing-masing sebagaimana dikutip dari Dameria (2004, 29-50). Warna subjek mata pelajaran terdiri dari IPS menggunakan warna merah, IPA menggunakan warna coklat, Matematika menggunakan warna biru, Agama menggunakan warna ungu, Penjaskes menggunakan warna pink, Kewarganegaraan menggunakan warna orange, Ilmu Komputer menggunakan warna abu_x0002_abu, Bahasa menggunakan warna putih, dan Seni Budaya menggunakan warna hitam. Warna warna yang digunakan memiliki filosofi arti warna yang masing-masing memiliki keterkaitan. Dari penjelasan di atas, dapat dilihat rancangan warna yang peneliti buat seperti: Gambar 2. Rancangan Warna untuk Sistem Klasifikasi Ketiga, peneliti menentukan bentuk label warna pada setiap buku yang disepakati oleh siswa dan pengelola perpustakaan yaitu berbentuk seperti bendera Indonesia. Bentuk ini disepakati karena mudah dikenali dan mudah untuk dibuat untuk dibuat oleh pengelola perpustakaan nantinya. 10 cm Lebar 17 cm Gambar 3. Contoh Bentuk Label Buku Selain itu, label juga digunakan sebagai petunjuk pada setiap rak buku dengan panjang 20 cm dan lebar 25 cm, dimulai dengan label keterangan kelas dan label keterangan mata pelajaran. Keempat, peneliti melakukan pelabelan pada setiap koleksi pustaka. Label ditempelkan pada setiap punggung buku dengan jarak 6 cm dari bawah buku. Selain itu, label juga di tempelkan pada setiap rak penyimpanan sebagai petunjuk keterangan untuk subjek kelas dan subjek mata pelajaran agar memudahkan siswa dan pengelola perpustakaan dalam temu kembali koleksi pustaka. Warna Subjek Kelas, contoh Kelas 4 Warna Subjek Mata Pelajaran, contoh IPS Gambar 4. Pelabelan di rak dan pelabelan di punggung buku b. Siklus II Pada siklus I masih terdapat warna yang sama persis digunakan sebagai warna subjek kelas dan subjek mata pelajaran. Maka dari itu, pada siklus II peneliti melakukan penyempurnaan yaitu adanya sedikit perubahan warna agar warna yang digunakan tidak membingungkan siswa dan pengelola nantinya. Perubahan warna ini disesuaikan dengan keinginan siswa dan pengelola perpustakaan. Pada siklus ini, penyempurnaan yang dilakukan adalah: Pertama, peneliti melakukan perubahan warna berdasarkan subjek kelas 1, kelas 3, dan kelas 4. Merah Merah Tua Biru Biru Muda Ungu Tua Ungu Muda Gambar 5. Warna Berdasarkan Kelas yang Mengalami Perubahan Kedua, peneliti melakukan perubahan warna subjek mata pelajaran Kewarganegaraan, karena warnanya sama persis dengan subjek kelas 5. Orange Tua Orange Muda Gambar 6. Perubahan Warna Mata Pelajaran Kewarganegaraan Ketiga, peneliti menambahkan petunjuk keterangan label ‘novel’. Hal ini dilakukan karena untuk koleksi bahasa Indonesia, Sunda dan Inggris dikelompokkan menjadi satu subjek mata pelajaran yaitu Bahasa. Setelah adanya penambahan keterangan label novel ini diharapkan siswa tidak kebingungan lagi untuk mencari koleksi novel. Gambar 7. Penambahan Petunjuk Keterangan Label “Novel”

Conclusion

Pengelolaan koleksi pustaka di Perpustakaan SDN 1 Caracas masih banyak mengalami kendala. Pengelolaan yang meliputi pengadaan koleksi pustaka, klasifikasi, penyusunan buku (shelving), dan layanan sirkulasi belum dilakukan secara baik oleh pengelola perpustakaan karena kurangnya pemahaman pengelola tentang pengelolaan perpustakaan. Ini juga disebabkan kemampuan pengelola di perpustakaan SDN 1 Caracas belum banyak memiliki keahlian untuk mengelola koleksi pustaka, kemampuan yang dimiliki yaitu hanya menyusun buku sesuai mata pelajaran. Buku disimpan pada rak yang bersamaan dan tidak adanya pembatas yang membedakan untuk koleksi setiap kelas. Rancangan yang dibuat mudah dimengerti, dapat memberikan kemudahan bagi siswa dan pengelola dalam temu kembali koleksi bahan pustaka. Rancangan model pengklasifikasian yaitu dengan menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan subjek kelas dan subjek mata pelajaran. Penggunaan warna yang mudah diingat, mudah dikenali dan dipilih sesuai dengan asosiasi psikologi warna yang tepat. Warna primer dan sekunder digunakan sebagai penanda koleksi pustaka berdasarkan kelas, sedangkan warna yang terdapat dalam asosiasi psikologi warna digunakan sebagai penanda koleksi pustaka berdasarkan mata pelajaran. Sistem warna kombinasi yang mudah dikenali dan dihasilkan dari kesepakatan bersama siswa dan pihak sekolah. Warna tambahan yang digunakan sebagai pembeda warna subjek kelas dan subjek mata pelajaran yaitu warna merah tua, biru muda, ungu muda dan orange muda. Penggunaan label warna dengan bentuk bendera Indonesia yang sederhana, mudah dibuat, dan sesuai dengan keinginan siswa. Label warna ditempelkan pada setiap buku, dan label warna juga ditempelkan pada setiap rak penyimpanan agar memudahkan siswa dan pengelola dalam temu kembali koleksi pustaka. Selain itu, pada setiap rak penyimpanan ditempelkan petunjuk keterangan setiap warna sebagai petunjuk saat temu kembali koleksi pustaka