Pemetaan Penggunaan Skema Klasifikasi Dewey di Perpustakaan Perguruan Tinggi Sulawesi Selatan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Pengelompokan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan penting untuk membantu kelancaran proses simpan dan temu balik informasi di perpustakaan. Hal ini akan membantu pemustaka dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Dalam pengelompokan bahan pustaka dibutuhkan sebuah skema klasifikasi yang digunakan sebagai pedoman dalam menentukan nomor klasifikasi dokumen. Terdapat beberapa jenis skema klasifikasi yang dapat digunakan oleh perpustakaan perguruan dalam mengelompokkan koleksinya seperti DDC, UDC, LCC, CC, dsb. penelitian ini bertujuan untuk memetakan penggunaan skema klasifikasi di perpustakaan perguruan tinggi Sulawesi Selatan serta alasan pemilihan penggunaan skema klasifikasi dalam mengelompokkan bahan pustaka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mewawancarai 49 pustakawan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan DDC merupakan skema klasifikasi yang paling banyak digunakan oleh perpustakaan, yaitu sebanyak 44 perpustakaan perguruan tinggi. Skema klasifikasi e-DDC dengan pengguna terbanyak yaitu sebanyak 55 % diikuti DDC asli berbahasa Inggris 25% dan paling sedikit digunakan DDC ringkas perpustakaan nasional RI 9 %. Terdapat 2 perpustakaan dari 49 perpustakaan yang menggunakan skema klasifikasi LCC dan UDC serta ada 3 perpustakaan yang belum menggunakan skema klasifikasi tapi menggunakan kode warna, KDT dan buku teks klasifikasi. Alasan pemilihan penggunaan sebuah skema klasifikasi adalah karena notasinya detail, terstandarisasi dan mudah digunakan (DDC asli). Alasan penggunaan e-DDC mudah digunakan karena berbahasa Indonesia, user friendly, cepat dan efisien dengan menu search, sistem terotomasi Selanjutnya alasan kurangnya penggunaan DDC asli karena skema ini berbahasa Inggris dan harganya mahal. Penelitian ini berimplikasi menjadi pertimbangan bagi pengelola perpustakaan dalam memilih skema klasifikasi yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam mengelompokkan bahan perpustakaannya. Selain itu menjadi bahan kajian dalam pengembangan kurikulum pada prodi ilmu perpustakaan UIN Alauddin Makassar serta memperkaya pengembangan materi ajar dalam mata kuliah klasifikasi.
Keywords:
Skema Klasifikasi
· DDC
· e-DDC
· LCC
· UDC
Introduction
Pengelompokan koleksi bahan pustaka merupakan suatu kegiatan penting di perpustakaan agar koleksi yang dimiliki perpustakaan mudah diakses dan dimanfaatkan oleh pemustaka. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dalam sistem simpan dan temu balik informasi di perpustakaan. Pengolahan bahan pustaka merupakan bagian penting dalam penataan ilmu pengetahuan di perpustakaan. Umumnya koleksi perpustakaan dikelompokkan berdasarkan subyek atau disiplin ilmu pengetahuan. Salah satu langkah yang sering dilakukan pemustaka dalam penelusuran informasi di perpustakaan adalah langsung mencari dokumen yang dibutuhkannya melalui rak koleksi. Koleksi perpustakaan pada umumnya disusun dan dikelompokkan berdasarkan subyek dan nomor klasifikasi. Untuk menentukan nomor klasifikasi dokumen dibutuhkan sebuah skema klasifikasi. Skema klasifikasi merupakan pedoman yang digunakan dalam menata koleksi perpustakaan untuk memudahkan pemustaka dalam menemukan dokumen yang dibutuhkannya. Pada sebuah perpustakaan penentuan pemilihan penggunaan skema klasifikasi untuk menentukan nomor klasifikasi bahan pustaka menurut Mortimer (2003) umumnya ditentukan oleh cakupan koleksi yang dimiliki. Hal lain juga yang sangat menentukan adalah kemampuan pustakawan dalam menggunakan pedoman tersebut serta kemudahan penggunaan skema tersebut (user friendly), murah dan mudah diperoleh. Selain hal tersebut di atas menurut Chan (2016) salah satu kriteria dalam mengevaluasi skema klasifikasi untuk menentukan nomor klasifikasi adalah 1). skema klasifikasi bersifat universal, di mana skema klasifikasi tersebut dapat digunakan untuk mengklasifikasi berbagai disiplin ilmu pengetahuan, 2). Up to date, notasi klasifikasinya memuat perkembangan topik-topik terkini dalam sebuah disiplin ilmu pengetahuan, 3). Maintanace (pemeliharaan), di mana ada sebuah lembaga atau komite khusus yang bertugas untuk mengevaluasi dan mengembangkan nomor-nomor klasifikasi dalam skema tersebut. Pemeliharaan harus berkesinambungan, misalnya ada rentang waktu tertentu (7-10 tahun) yang dibutuhkan untuk merevisi nomor klasifikasi skema tersebut sesuai dengan perkembangan disiplin ilmu pengetahuan. Terdapat beberapa skema klasifikasi yang dapat digunakan dalam menentukan nomor klasifikasi dokumen, seperti Dewey Decimal classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Library of Congress Classification (LCC), Colon Classification (CC), dsb. skema ini bersifat universal di mana dapat menjadi pedoman untuk menentukan nomor klasifikasi bahan pustaka dalam berbagai subyek dan disiplin ilmu pengetahuan. DDC merupakan skema klasifikasi yang paling banyak digunakan di perpustakaan perguruan tinggi di seluruh dunia. Skema klasifikasi ini menurut Chan dalam Habsyi (2012) digunakan oleh kurang lebih 135 negara. Adapun penggunaan DDC di Indonesia menurut Dethan dan Mayesti (2022: 120) merupakan skema klasifikasi yang paling banyak digunakan di mana sebanyak 92% perpustakaan menggunakan DDC dan belum menemukan adanya perpustakaan yang menggunakan pedoman LCC. Hardiyanti & Sukarti (2022:126) dalam penelitiannya juga menemukan 98% perpustakaan perguruan tinggi di Bali menggunakan DDC dan tidak menemukan adanya skema lain. Sebaliknya Lund & Agbaji, (2018) mengamati tren penggunaan skema klasifikasi di Amerika Serikat menemukan bahwa skema klasifikasi yang paling banyak digunakan di perguruan tinggi saat ini adalah LCC sementara pengguna skema klasifikasi DDC mengalami penurunan penggunaanya di perpustakaan perguruan tinggi. Pengguna DDC tahun 1975 dari 3220 perpustakaan perguruan tinggi terdapat 1382 (42,8%) dan pada tahun 1996 menurun menjadi 910 pengguna DDC atau sebesar (25%) dan selanjutnya tahun 2017 menurun hingga mencapai 18,9 % yaitu hanya 717 perpustakaan. Dari tahun 1975-2017 penurunan pengguna sebanyak 1% setiap tahunnya. Berbeda dengan Lund & Agbaji, (2018) dalam penelitianya Landry (2023: 141) menemukan bahwa Perpustakaan Nasional Swiss telah menggunakan skema klasfikasi UDC selama delapan puluh tahun sejak tahun 1919, namun sejak tahun September 1999 DDC mulai resmi diadopsi dan digunakan oleh Perpustakaan Nasional Swiss. Selanjutnya menurut Haidar & Mary (2022:195) DDC dan LCC keduanya merupakan skema klasifikasi yang paling umum dipergunakan di perpustakaan perguruan tinggi. Awalnya keduanya dikembangkan di perpustakaan akademi dan penelitian dan sangat kuat menunjukkan struktur pengetahuan dan disiplin ilmu di perguruan tinggi. Sebaliknya UDC menurut Saleh dan Rahayu (2020:99) utamanya digunakan perpustakaan khusus seperti Institut Pertanian Bogor yang memiliki kekhususan di bidang pertanian. UDC saat ini menurut Kragelj, Borstnar (2020: 757) sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa dan termasuk skema klasifikasi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Tren penggunaan skema klasifikasi seperti yang diungkapkan di atas menarik untuk dikaji apakah perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan mengikuti pola yang sama. Hal ini mengingat perkembangan teknologi informasi telah dimanfaatkan di segala aktivitas perpustakaan termasuk dalam pengelompokan bahan pustaka. Berdasarkan hal tersebut di atas penelitian ini bertujuan untuk memvisualisasikan pola penggunaan skema klasifikasi DDC dalam pengelompokan bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan serta alasan penggunaan skema klasifikasi tertentu dalam pengelompokan bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi Sulawesi Selatan.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif kualitatif. Sumber data penelitian sebanya 49 pustakawan perguruan tinggi Sulawesi Selatan yang berasal dari 13 perguruan tinggi negeri dan 36 perguruan tinggi swasta. 49 informan tersebut berlatar belakang pendidikan S1 ilmu perpustakaan sebanyak 42 orang dengan usia 25-50 tahun, D3 perpustakaan sebanyak 2 orang dan 5 orang pengelola bukan sarjana ilmu perpustakaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur menggunakan pedoman wawancara.
Result & Discussion
Koleksi perpustakaan umumnya dikelompokkan berdasarkan subyek. Pengelompokan ini dilakukan untuk memudahkan pemustaka menemukan koleksi yang dibutuhkannya. Umumnya pencari informasi akan mencari literatur yang dibutuhkan berdasarkan tema dari penelitiannya, makalah, ataupun tugastugas lainnya yang sedang mereka kerjakan. Pengelompokan bahan pustaka menggunakan sebuah pedoman yang dikenal dengan skema klasifikasi. Pemetaan Penggunaa Skema Klasifikasi Terdapat beberapa skema klasifikasi yang umum digunakan dalam mengelompokkan bahan pustaka di berbagai perpustakaan, seperti DDC, LCC, UDC dsb. Penentuan pemilihan skema klasifkasi yang digunakan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perpustakaan. Dalam penelitian ini, jenis skema klasifikasi yang digunakan oleh perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dalam mengelompokkan koleksi bahan pustaka dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini: Tabel 1. Pengguna Skema Klasifikasi DDC Sumber: Hasil olah data penelitian 2024 Selanjutnya perpustakaan perguruan tinggi yang mengguna skema klasifikasi e-DDC dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Pengguna Skema Klasifikasi e-DDC Sumber: hasil olah data hasil penelitian 2024 Adapun perpustakaan pengguna skema klasifikasi DDC Perpusnas RI dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. Penggunaan Skema Klasifikasi DDC Perpusnas RI Sumber: hasil olah data hasil penelitian 2024 Selanjutnya perpustakaan pengguna skema klasifikasi non DDC serta perpustakaan yang belum mengguna skema klasifikasi dalam pengelompokan bahan pustakanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4. Pengguna Skema Klasifikasi Non DDC Sumber: hasil olah data hasil penelitian 2024 Data tabel 2, 3 dan 4 menunjukkan umumnya perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan menggunakan skema klasifikasi DDC. Pedoman klasifikasi yang digunakan dalam berbagai versi yaitu DDC versi asli (berbahasa Inggris) selanjutnya disebut DDC digunakan oleh 14 perpustakaan, e-DDC 31 perpustakaan, DDC Perpustakaan Nasional RI sebanyak 4 perpustakaan. Selain DDC, terdapat perpustakaan yang menggunakan skema klasifikasi UDC digunakan 1 perpustakaan dan LCC digunakan oleh 1 perpustakaan perguruan tinggi. Selanjutnya terdapat 3 perpustakaan perguruan tinggi yang tidak menggunakan skema klasifikasi standar. 1 perpustakaan menggunakan warna dalam pengelompokan koleksinya, 1 perpustakaan menggunakan buku teks klasifikasi yang di dalamnya terdapat nomor-nomor klasifikasi persepuluhan Dewey, serta 2 perpustakaan lainnya menggunakan Katalog dalam terbitan (KDT) buku yang diklasifikasi. Secara rinci jumlah perpustakaan perguruan tinggi pengguna berbagai jenis skema klasifikasi dalam pengelompokan bahan perpustakaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 5. Jumlah Pengguna Sistem Klasifikasi Sumber: Hasil olah data penelitian 2024 Selanjutnya persentase penggunaan pedoman klasifikasi di berbagai perpustakaan perguruan tinggi Sulawesi Selatan dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 1. Persentase Jumlah pengguna skema klasifikasi bahan pustaka Sumber: Hasil olah data penelitian 2024 Tabel 3 dan diagram 1 menunjukkan bahwa skema klasifikasi e-DDC merupakan skema klasifikasi yang paling banyak digunakan mengelompokkan bahan pustaka , di yaitu 55% atau 31 perpustakaan perguruan tinggi. DDC merupakan skema klasifikasi yang kedua paling banyak digunakan, yaitu sebesar 25% atau 14 perpustakaan dikuti oleh DDC perpusnas RI sebanyak 5 perpustakaan (9 %). Sementara LCC dan UDC merupakan skema klasifikasi paling sedikit penggunanya hanya 1 perpustakaan (2%). Adapun penggunaan non skema KDT 2 perpustakaan (3%), kode warna dan buku teks klasifikasi masing-masing 1 perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan (2%). Berbeda dengan hasil penelitian ini Haryanti & Sukarti (2022: 127) menemukan bahwa skema klasifikasi DDC lebih banyak digunakan di perpustakaan perguruan tinggi Bali (60%) dibanding e-DDC (40%). Pengguna dua skema klasifikasi Beberapa perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan menggunakan 2 jenis skema klasifikasi dalam mengelompokkan bahan pustaka. Misalnya menggunakan skema DDC dan versi e-DDC atau DDC ringkasan Perpusnas RI dan e-DDC. Pemilihan penggunaan 2 skema klasifikasi ini biasanya hanya satu yang menjadi skema utama sementara yang lainnya sebagai pendukung dalam mengkasifikasi. Sebagi contoh perpustakaan menggunakan skema klasifikasi DDC juga menggunakan e-DDC, maka DDC sebagai skema klasifikasi utama sementara e-DDC sebagai pendukung. Ini dilakukan untuk memudahkan penggunaan DDC karena e-DDC berbahasa Indonesia sedang DDC berbahasa Inggris. Hal ini dapat membantu kendala masalah bahasa dalam penggunaan skema klasifikasi DDC. Perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan yang menggunakan dua skema klasfifikasi berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 6. Pengguna 2 skema klasifikasi di perguruan tinggi Sumber: hasil olah data penelitian tahun 2024 Berdasarkan tabel 5 terdapat 5 perpustakaan perguruan tinggi yang menggunakan 2 versi skema klasifikasi DDC yaitu DDC dan DDC Perpustakaan Nasional RI dan e-DDC versi Indonesia. Terdapat 3 perpustakaan yang menggunakan DDC dan 2 perpustakaan perguruan tinggi yang menggunakan skema klasifikasi DDC Perpustakaan Nasional RI. Kelima perpustakaan perguruan tinggi tersebut di atas, semuanya menggunakan skema klasifikasi eDDC sebagai pedoman klasifikasi tambahan. Secara rinci jumlah perpustakaan perguruan tinggi yang menggunakan 2 skema klasifikasi dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 7. Jumlah perpustakaan yang menggunakan dua skema klasifikasi Sumber: hasil olah data hasil penelitian Tabel 6 dan 7 menunjukkan bahwa e-DDC merupakan pedoman klasifikasi yang paling diminati oleh pustakawan perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dalam mengelompokkan bahan perpustakaan. Meskipun demikian dari hasil wawancara ditemukan beberapa perpustakaan menjadikan e-DDC sebagai pedoman pembantu dalam menemukan nomor klasifikasi dalam DDC karena kendala bahasa juga karena mahalnya harga DDC. e-DDC juga digunakan sebagai skema kalsifikasi tambahan untuk mengelomokkan bahan pustaka yang bukan menjadi koleksi utama mereka misalnya perpustakaan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tana Toraja. Mereka menggunakan DDC untuk mengklasifikasi bahan pustaka bertema agama Kristen dan menggunakan e-DDC untuk subyek lainnya. Hal ini sejalan dengan temuan Kesuma, Yunita, Putri (2021: 94) dalam penelitiannya di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung yang juga menggunakan 2 skema klasifikasi DDC tercetak dan e-DDC, namun hanya DDC yang diutamakan sementara e-DDC sebagai pendukung. Selanjutnya Anawati, Cahyani, Sistarina (2022: 306) mengemukakan bahwa e-DDC digunakan sebagai penunjang, pelengkap, dan alternatif solusi ketika mengalami kendala dalam menentukan notasi namun tetap menggunakan DDC sebagai skema klasifikasi di era digital. Menurutnya meskipun mereka sudah mengetahui adanya e-DDC tapi menyakini DDC sebagai skema klasifikasi yang handal dan terpercaya. Kendala dalam memanfaatkan skema dalam bentuk digital dialami kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung seperti komputer dan jaringan internet yang kurang memadai. Alasan pemilihan skema klasifikasi Pemilihan sebuah skema klasifikasi tertentu oleh sebuah perpustakaan ditentukan oleh kebijakan masing-masing perpustakaan perguruan tinggi. Dalam penelitian ini berbagai alasan perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dalam pemilihan pedoman klasifikasi dapat dilihat sebagai berikut: 1. Skema klasifikasi Dewey Decimal Classification (asli) Skema klasifikasi Dewey Decimal Classifcation (DDC) merupakan skema klasifikasi yang disusun oleh Melvil Dewey pada tahun 1876. skema klasifikasi ini paling banyak digunakan di seluruh dunia. Penggunaan skema klasifikasi DDC di Indonesia juga umumnya digunakan di perpustakaan perguruan tinggi. Indonesia. Alasan penggunaan DDC di perpustakaan perguruan tinggi dapat dilihat dari hasil wawancara dengan para informan sebagai berikut: Nomor klas lebih spesifik DDC memiliki nomor klasifikasi yang mencakup seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Skema ini mengelompokkan disiplin ilmu pengetahuan ke dalam 10 klas utama (persepuluhan). Selanjutnya masing-masing 10 disiplin ilmu dibagi lagi ke dalam 10 divisi (perseratusan). Setiap seratus divisi tersebut kemudian dibagi lagi menjadi sub sub disiplin ilmu pengetahuan menjadi 1000 (perseribuan). Selanjutnya perseribuan tersebut dibagi lagi menjadi sub sub disiplin ilmu pengetahuan dan seterusnya. Hal in menjadikan DDC memiliki nomor klasifikasi yang sangat detail dan spesifik. Beberapa perpustakaan mengemukakan menggunakan DDC karena alasan tersebut di atas seperti perpustakaan UIN Alauddin Makassar, perpustakaan UIN Palopo, perpustakaan Akper Mappaoddang, perpustakaan UMI Makassar dan Perpustakaan Politeknik STIA-LAN Makassar, perpustakaan Stikes Gunung Sari Makassar, Perpustakaan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) TanaToraja dsb. Berikut beberapa hasil wawancara informan mengenai alasan penggunaan klasifikasi DDC: “Karena DDC cukup simple dibandingkan dengan klasifikasi lainnya serta lebih spesifik nomor kelasnya” (Pustakawan Perpustakaan Stikes Gunung Sari Makassar) Pendapat informan di atas juga diperkuat oleh informan dari perpustakaan IAKN Tana Toraja: “Nomor klasnya lebih lengkap dibanding e-DDC. Koleksi perpustakaan kami tentang kekristenan, dalam e-DDC nomornya tidak lengkap, jadi kami gunakan DDC meskipun bukunya hanya fotocopian khusus untuk klas 200”(Pustakawan Perpustakaan IAKN TanaToraja) Mengikuti standardisasi Beberapa perpustakaan menggunakan pedoman klasifikasi karena terstandardisasi, misalnya notasi klasifikasinya mencakup seluruh bidang ilmu pengetahuan. Selain itu harus menampilkan notasinya dari yang paling umum sampai ke notasi yang paling spesifik serta mengakomodasi penambahan notasi baru untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Selanjutnya sebuah pedoman klasifikasi juga harus memiliki divisi bentuk dan geografi. Dalam penelitian ini beberapa perpustakaan mengemukakan memilih skema klasifikasi DDC karena alasan tersebut di atas seperti perpustakaan UIN Alauddin Makassar, perpustakaan UIN Palopo, perpustakaan Akper Mappaoddang, perpustakaan Utsman bib Affan UMI Makassar dan Perpustakaan Politeknik STIA-LAN Makassar. Selanjutnya pustakawan Politeknik STIA-LAN Makassar juga menambahkan bahwa mereka menggunakan DDC adalah: “karena pustakawan melakukan klasifikasi sesuai dengan kaidah pedoman klasifikasi” (Pustakawan Perpustakaan Politeknik STIA-LAN Makassar). Perpustakaan UMI Makassar selain menggunakan DDC juga menggunakan pedoman klasifikasi DDC versi lainnya yaitu e-DDC yang menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh pustakawan Perpustakaan Utsman bin Affan UMI Makassar dalam wawancaranya: “menggunakan e-DDC apabila ingin mempercepat penomoran tetapi apabila terdapat keraguan maka menggunakan DDC yang fisik” (Pustakawan Perpustakaan Utsman bin Affan UMI Makassar) Pengelola Perpustakaan Politeknik Negeri Media Kreatif Makassar yang berpendapat skema klasifikasi yang digunakannya adalah: “DDC, namun jika ada KDT, maka langsung mengambil nomor klasifikasinya” (Perpustakaan Politenik Negeri Media Kreatif Makassar) Mudah digunakan Salah satu alasan pustakawan dalam memilih sebuah pedoman klasifikasi mudah digunakan (user friendly). Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kenyamanan pustakawan dalam pengolahan koleksi khususnya dalam menentukan nomor klasifikasi dokumen. Dalam penelitian ini salah perpustakaan perguruan tinggi menggunakan skema klasifikasi DDC menganggap mudah dalam penggunaanya. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan pustakawan STIEM Bongaya Makassar berikut: “lebih mudah menemukan nomor kelasnya dan sudah banyak perpustakaan yang menggunakan DDC” (Pustakawan Perpustakaan STIEM Bongaya) Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukan beberapa informan dapat disimpulkan DDC merupakan skema klasifikasi yang paling standar karena nomor klasifikasinya paling akurat, detail dan spesifik. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Putri, Sudiar, Latiar (2021: 97) bahwa penentuan nomor klasifikasi akan lebih akurat jika menggunakan DDC tercetak (asli). Alasan tidak menggunakan DDC Skema klasifikasi DDC merupakan terbitan OCLC Amerika Serikat. Hal ini membuat harga jual DDC menjadi mahal, di mana setiap perpustakaan minimal harus mengeluarkan uang sebesar 7,5 juta untuk bisa mendapatkan 1 set DDC asli. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi yang pendanaanya minim harus mencari pedoman lain yang terjangkauan dengan kondisi keuangan mereka. Sebagai jalan keluar agar koleksi perpustakaan dapat diolah dan ditentukan nomor klasifikasinya, beberapa perpustakaan perguruan tinggi memilih penggunaan e-DDC sebagai pedoman klasifikasi. Dalam penelitian ini, beberapa perpustakaan menyatakan alasan mereka tidak menggunakan DDC asli karena kondisi tersebut di atas dapat dilihat pada hasil wawancara berikut: “tidak menggunakan DDC yang cetak karena harganya sangat mahal” (Perpustakaan STIBA Makassar). Pendapat yang sama juga disampaikan informan dari perpustaka Politeknik Pariwisata Makassar dan Universitas Megarezki Makassar yang menyatakan bahwa: “tidak menggunakan DDC yang cetak karena harganya sangat mahal dan juga hanya terdapat satu keilmuan yaitu pariwisata” (Perpustakaan Politeknik Pariwisata Makassar) “Kekurangan dana membeli buku DDC dan e-DDC mudah dan cepat digunakan karena ada menu search” (Perpustakaan Universitas Megarezky Makassar) Pendapat kedua informan di atas juga didukung oleh pustakawan universitas DIPA Makassar, Universitas Bosowa dan STIE Wirabakti di mana mereka menggunakan skema kalsifikasi e-DDC dengan alasan berikut: “Karena tidak memiliki DDC berbentuk fisik” (Perpustakaan Universitas Bosowa Makassar) “Karena tidak memiliki DDC berbentuk fisik atau hardcopy jadi menggunakan e-DDC” (pustakawan STIE Wirabakti) Selain beberapa alasan yang disebutkan oleh pustakawan tersebut di atas, pustakawan Perpustakaan Universitas Sandi Karsa bahkan tidak lagi mengklasifikasi dokumennya karena pedomannya hilang meskipun awalnya mereka menggunakan skema klasifikasi DDC. Hal tersebut sebagaiman disampaikan dalam hasil wawancara di bawah ini: “sekarang pedoman DDC sudah hilang jadi jika ada koleksi, tidak diberikan nomor kelas” (Pustakawan Universitas Sandi Karsa) “ pustakawan tidak mengetahui alasannya, karena koleksi telah diklasifikasi oleh pustakawan lama” (Universitas Katholik Indonesia (UKI) Paulus Makassar) Berdasarkan hasil wawancara dapat dilihat bahwa kendala banyak perpustakaan yang tidak menggunakan skema klasifikasi DDC disebabkan skema klasifikasi ini harganya mahal sehingga sulit terjangkau. Selain itu DDC asli berbahasa Inggris. 2. Pedoman klasifikasi e-DDC versi Indonesia e-DDC merupakan skema klasifikasi bentuk elektronik berupa aplikasi yang dapat diunduh baik melalui dekstop, laptop, tablet maupun smart phone berbasis android. Ia merupakan aplikasi open source. e-DDC dikembangkan oleh Mohamad Roetmianto, seorang pustakawan dari Jawa Timur pada tahun 2010 mengadaptasi skema klasifikasi DDC, karena itu notasi klasifikasinya lebih ringkas dibanding DDC. Notasinya tidak selengkap dan sedetail DDC. Awalnya e-DDC ini dirancang untuk perpustakaan sekolah. Selain itu e-DDC berbahasa Indonesia menjadikanya mudah dipahami dan digunakan khususnya bagi pustakawan yang penguasaan bahasa Inggrisnya kurang bagus. Saat ini e-DDC mulai masif digunakan di seluruh perpustakaan termasuk perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. Berbagai alasan perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dalam memilih e-DDC dalam penentuan nomor klasifikasi bukunya dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut: Kemampuan penguasaan pedoman klasifikasi e-DDC Salah satu alasan sebuah perpustakaan menggunakan skema klasifikasi tertentu karena lebih menguasai penggunaanya dibanding skema lainnya. e-DDC merupakan skema klasifikasi yang mudah dipahami karena berbahasa Indonesia. Beberapa perpustakaan dalam penelitian ini menyatakan memilih menggunakan e-DDC sebagai pedoman dalam mengklasifikasi karena mereka lebih menguasai e-DDC berbahasa Indonesia dibanding dengan DDC yang berbahasa Inggris. Hal ini seperti yang disampaikan oleh beberapa pustakawan yang menyatakan: “karena hanya itu yang paling saya kuasai” (Perpustakaan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar) Pendapat tersebut juga didukung oleh pustakawan Universitas Cokroaminoto Makassar yang menyatakan: “karena pustakawan sebelumnya telah menggunakan pedoman tersebut, sehingga saya dapat melanjutkan implementasinya dengan mudah” (Perpustakaan Universitas Cokroaminoto) Ungkapan informan di atas mengenai lebih menguasai e-DDC dibanding DDC berkaitan dengan faktor bahasa di mana DDC asli berbahasa Inggris sementara e-DDC dibuat secara khusus dalam bahasa Indonesia untuk dapat digunakan secara luas oleh pengelola perpustakaan yang ada di Indonesia. e-DDC mudah digunakan karena memiliki menu search Penggunaan skema klasifikasi elektronik dalam pengolahan koleksi memudahkan pustakawan dalam menentukan nomor klasifikasi. e-DDC sebagai skema klasifikasi elektronik mudah digunakan karena dilengkapi beberapa fitur. Salah satu fitur e-DDC yang paling sering digunakan adalah menu search. Fitur ini digunakan untuk mencari nomor klasifikasi melalui kata kunci buku yang sedang diklasifikasi. Menu ini dianggap memudahkan pustakawan dalam menentukan nomor klasifikasi karena cukup menginput subyek atau kata kunci maka aplikasi e-DDC akan menampilkan beberapa nomor klasifikasi yang dapat dipilih oleh pustakawan. Selain itu e-DDC dirancang berbahasa Indonesia sehingga mudah digunakan (user friendly). Dalam penelitian ini menurut informan faktor mereka memilih e-DDC adalah: “belum memiliki pedoman klasifikasi tercetak dan e-DDC memudahkan pencarian nomor klasifikasi” (Perpustakaan Universitas DIPA Makasssar) Pendapat di atas didukung oleh penyataan pustakawan STIE Nobel dan STIE-YPUP bahwa: “e-DDC mudah digunakan karena memiliki menu search” Cepat dan efisien Salah satu alasan e-DDC mudah digunakan dalam mengelompokkan bahan pustaka adalah karena akses yang cepat dan mudah serta efisien menemukan nomor klasifikasi. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh pustakawan perpustakaan Stikes Panakkukang Makassar, pustakawan Universitas Negeri Makassar, pustakawan Perpustakaan Universitas Sawerigading Makassar, pustakawan Perpustakaan Universitas Ciputera Makassar: “e-DDC memungkinkan akses cepat dan mudah ke informasi” (Perpustakaan Stikes Panakkukang Makassar) “karena lebih mudah dan mempersingkat waktu” (Perpustakaan Universitas Negeri Makassar) “lebih mudah dan cepat dalam mengelola dan menentukan nomor klasifikasi” (Perpustakaan Universitas Sawerigading Makassar) “Penggunaannya gampang dan praktis dan bisa mencari kata kuncinya dengan cepat” (Perpustakaan Universitas Ciputera Makassar) Pendapat tersebut di atas juga didukung oleh pustakawan dari Stikes Stellah Maris dan Universitas Islam Makassar yang menambahkan bahwa e-DDC selain mudah digunakan juga efisien dalam menentukan nomor klasifikasi berikut pendapat mereka tentang kemudahan penggunaan e-DDC: “Karena lebih mempermudah dan mengefisienkan waktu dalam proses klasifikasi” (Perpustakaan Universitas Islam Makassar) “jika pakai e-DDC lebih cepat dan efisien daripada DDC cetak” (Perpustakaan Stikes Stella Maris Makassar) Pustakawan perpustakaan Utsman bin Affan setuju bahwa e-DDC mudah dalam digunakan dalam mengklasifikasi, meskipun demikian mereka menganggap bahwa pedoman utama mereka tetaplah DDC asli. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan berikut: “menggunakan e-DDC apabila ingin mempercepat penomoran tetapi apabila terdapat keraguan maka menggunakan DDC yang fisik [DDC asli]” (Perpustakaan Utsman bin Affan UMI) Salah satu kelebihan e-DDC dalam kegiatan pengelompokan bahan pustaka adalah cepat dan efisien untuk menemukan nomor klasifikasi. Menurut Putri, Sudiar, Latiar (2021: 97) dalam penelitian berdasarkan hasil wawancara terhadap 6 informannya menemukan bahwa penggunaan aplikasi e-DDC sangat membantu, memudahkan, dan dalam segi waktu lebih efisien dalam melakukan kegiatan klasifikasi. Meskipun demikian menurutnya penentuan nomor klasifikasi akan lebih akurat jika menggunakan DDC tercetak(asli). Haryanti & Sukarti (2022: 129) juga menemukan bahwa dibandingkan e-DDC jauh lebih efektif penggunaanya dibanding DDC. Ia mudah digunakan dan mudah diakses. Membantu dalam Pengindeksan subyek Aplikasi e-DDC selain sebagai pedoman klasifikasi yang mudah digunakan karena adanya menu search juga cepat dalam menemukan nomor klasifikasi. Selain itu e-DDC juga membantu kegiatan pengindeksan subyek. Fungsi utama dari e-DDC adalah sebagai pedoman klasifikasi yang digunakan untuk menentukan nomor klasifikasi atau mengelompokkan bahan perpustakaan. Meskipun demikian beberapa perpustakaan selain menggunakannya sebagai pedoman klasifikasi juga menggunakannya dalam pengindeksan subyek serta menentukan subyek. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan pustakawan perpustakaan Universitas Teknologi Makassar: “lebih mudah dalam pengolahan dan akses informasi serta membantu klasifikasi dan pengindeksan koleksi” (Perpustakaan Universitas Teknologi Makassar) Pendapat di atas juga didukung oleh pendapat pustakawan Perpustakaan Politeknik Negeri Ujung Pandang yang menyatakan: “mudah dalam menentukan subyek dan penentuan buku di rak” (Perpustakaan Politeknik Negeri Ujungpandang) Sistem sudah terotomasi Secara fisik e-DDC berbentuk elektonik sehingga skema klasifikasi ini dikenal dengan aplikasi e-DDC bahasa Indonesia. Aplikasi e-DDC dilengkapi beberapa fitur yang memudahkan pencarian nomor klas melalui kata kunci. Pada dasarnya e-DDC sama saja dengan skema klasifikasi DDC secara umum hanya saja aplikasi ini dikembangkan dalam bentuk elektronik serta beberapa modifikasi untuk bisa lebih mudah digunakan oleh perpustakaan di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut di atas, salah satu alasan perpustakaan Universitas Hasanuddin memilih menggunakan e-DDC dibanding DDC aslinya menurut mereka adalah: “karena sistem perpustakaan Hasanuddin sudah sistem otomasi dan tidak lagi menggunakan manual[DDC cetak]” (Perpustakaan Universitas Hasanuddin Makassar) Berdasarkan hasil wawancara yang telah dikemukan oleh pustakawan dari beberapa perpustakaan perguruan tinggi yang menggunakan aplikasi e-DDC dapat dilihat bahwa faktor utama mereka memilih skema klasifikasi ini karena lebih cepat menemukan nomor klasifikasi melalui menu search serta efisien karena hemat waktu dan mudah digunakan karena e-DDC berbahasa Indonesia serta murah karena aplikasinya open source. Meskipun demikian seharusnya mereka mempertimbangkan kelengkapan dan keakuratan nomor klas mengingat koleksi perpustakaan lebih banyak dan kompleks dibanding perpustakaan sekolah.Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Menurut Putri, Sudiar, Latiar (2021: 97) bahwa aplikasi e-DDC sangat membantu, memudahkan, dan dalam segi waktu lebih efisien dalam melakukan kegiatan klasifikasi. Meskipun demikian menurutnya penentuan nomor klasifikasi akan lebih akurat jika menggunakan DDC tercetak (asli). 3. Library of Congress Classification (LCC) Skema klasifikasi LCC awalnya dikembangkan untuk perpustakaan akademik dan penelitian pada abad kesembilan belas. Sistem klasifikasi ini disusun untuk digunakan mengatur susunan buku di perpustakaan kongres Amerika Serikat. Sistem klasifikasi LCC umumnya digunakan di perpustakaan akademi atau perguruan tinggi Amerika Serikat. Pengguna LCC di perpustakaan Indonesia masih sedikit dibanding dengan pengguna DDC. Dalam penelitian ini LCC digunakan oleh Perpustakaan Sekolah Tinggi Theologi Indonesia Timur (STT Intim) dalam mengelompokkan bahan pustakanya. Alasan perpustakaan STT Intim menggunakan LCC menurut informan adalah: “karena sekolah khusus jadi tidak bisa berpatokan pada satu pedoman saja” (Perpustakaan STT Intim). Skema klasifikasi LCC merupakan sistem klasifikasi yang bersifat eneumeratif, di mana notasi klasifikasinya sudah mendaftar semua subyek yang dibahas dalam sebuah disiplin ilmu pengetahuan sehingga notasinya sangat lengkap. Pustakawan tidak perlu membangun sendiri notasi klasifikasi buku yang diolah karena nomornya sudah jadi dan terdaftar dalam LCC. Hal ini menjadi alasan mereka menggunakan LCC. Temuan ini berbeda dari hasil penelitian Dethan dan Mayesti (2022: 120) yang menyatakan 92% perpustakaan di Indonesia menggunakan DDC dan belum menemukan adanya perpustakaan yang menggunakan skemas klasifikasi LCC. 4. Universal Decimal Classification (UDC) Salah satu skema klasifikasi yang banyak digunakan oleh perpustakaan di dunia ini adalah sistem klasifikasi UDC. Sistem klasifikasi ini dikembangkan oleh Paul Otlet dan Henry La Fontain serta Frits Donker Druyvis. Notasi UDC mengadopsi skema klasifikasi DDC dengan perbedaan klas utama UDC terdiri dari satu digit (0-9) sedangkan DDC notasinya 3 digit (000-900). Perbedaan lainnya UDC menggunakan simbol dalam nomor klasinya sedangkan sistem klasifikasi DDC menggunakan angka murni. Pengguna sistem klasifikasi UDC di Indonesia tidak sebanyak DDC. Sistem klasifikasi UDC di Indonesia umumnya digunakan oleh perpustakaanperpustakaan di bawah naungan kementerian pertanian RI. Pedoman ini digunakan baik di perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan kementerian maupun litbang pertanian di seluruh Indonesia. Dalam penelitian ini UDC digunakan oleh Perpustakaan Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa. Alasan penggunaan UDC di perpustakaan ini dalam wawancara dikemukan bahwa: “menggunakan UDC dari Kementan RI, karena di aplikasi DDC tidak lengkap” (Perpustakaan Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa) 5. Sistem warna Pengelompokan bahan perpustakaan menggunakan sistem warna maksudnya adalah memberikan warna tertentu sebagai kode sebagai pengganti nomor klasifikasi. Pemberian warna khusus ini diberikan pada buku sebuah dengan subyek atau disiplin ilmunya sesuai dengan kebijakan perpustakaan setempat, mis. Warna hijau, kuning, merah, dsb. Umumnya penggunaan warna biasanya digunakan di beberapa perpustakaan untuk membedakan jenis koleksi, misalnya koleksi referensi atau koleksi umum. Dalam penelitian ini ditemukan satu perpustakaan yang mengelompokkan bahan perpustakaannya menggunakan warna yaitu perpustakaan politeknik pariwisata Makassar. Perpustakaan ini belum memiliki seorang pustakawan untuk mengolah koleksi yang dimilikinya. Alasan penggunaan kode warna dalam pengelompokan bahan perpustakaannya dinyatakan oleh pengelola perpustakaan dalam hasil wawancara berikut: “tidak menggunakan DDC yang cetak karena harganya sangat mahal dan juga hanya terdapat satu keilmuan yaitu pariwisata” (Perpustakaan Politeknik Pariwisata Makassar) 6. Buku Klasifikasi Persepuluhan Dewey oleh J.N.B. Tairas Buku klasifikasi persepuluhan Dewey karya J.N.B Tairas merupakan salah satu bacaan yang membahas tentang sistem klasifikasi DDC. Buku ini ditulis oleh satu tokoh kepustakawan Indonesia yaitu bapak J.N.B. Tairas. Buku ini dalam pembahasannya memuat nomor klasikasi DDC mulai dari kelas utama klas 000900 (persepuluhan), perseratusan hingga perseribuan. Secara umum buku ini dapat digunakan untuk mengelompokkan bahan pustaka jika belum memiliki pedoman yang standar serta memiliki koleksinya kurang dari 1000 judul. Buku klasifikasi ini digunakan oleh perpustakaan Universitas Pancasakti dalam pengelompokan bahan pustakanya. Alasan penggunaan buku ini menurut informan adalah: “Buku klasifikasi persepuluhan Dewey J.B Tairas, karena pustakawan mendapatkan ilmu DDC persepuluh dari pelatihan” (Perpustakaan Universitas Pancasakti Makassar). Berdasarkan hasil wawancara dapat dilihat bahwa penggunaan buku ini disebabkan belum adanya pustakawan dan SDM yang memahami penggunaan skema klasifikasi standard seperti DDC, UDC, LCC dsb. 7. Katalog dalam Terbitan (KDT) KDT ini biasanya terdapat pada halaman verso buku atau halaman di balik halaman judul buku. Idealnya KDT ini dibuat oleh sebuah lembaga resmi seperti perpustakaan nasional RI sebelum buku diterbitkan dan disebarluaskan secara luas. Pada kenyataannya di Indonesia KDT umumnya dibuat sendiri oleh penulis. KDT merupakan katalog yang memuat data-data penting tentang sebuah buku seperti judul, penanggung jawab, edisi, daerah publikasi, data fisik, ISBN dan sebagainya. Selain itu dalam KDT terdapat nomor klasifikasinya yang dapat digunakan untuk mengelompokkan buku. KDT digunakan oleh perpustakaan UIT Makassar dalam pengelompokan bahan pustaka. Alasan penggunaan KDT menurut informan adalah: “Menggunakan KDT (katalog dalam terbitan), karena kurang pegawai” (Perpustakaan Universitas Indonesia Timur (UIT)) Berdasarkan hasil wawancara dapat dilihat beberapa perpustakaan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan yang tidak menggunakan skema klasifikasi standard seperti DDC, UDC dan LCC disebabkan oleh kurangnya SDM yang dapat menguasai dan memahami penggunaan skema klasifikasi tersebut serta harga skema klasifikasi DDC mahal.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa: pertama secara umum skema klasifikasi DDC yang paling banyak digunakan oleh perpustakaan dalam mengelompokkan bahan perpustakaan yaitu sebanyak 44 perpustakaan perguruan tinggi. Ada 2 perpustakaan dari 49 perpustakaan yang disurvei menggunakan skema klasifikasi non DDC yaitu LCC dan UDC serta ditemukan 3 perpustakaan yang belum menggunakan skema klasifikasi tapi menggunakan kode warna, KDT dan buku teks klasifikasi. Secara detail skema klasifikasi DDC terbagi 3 jenis pedoman, yaitu skema klasifikasi DDC, DDC Perpusnas RI dan e-DDC (aplikasi e-DDC) versi Indonesia adaptasi dari klasifikasi DDC ringkas terjemah bahasa Indonesia. Dari ketiga skema DDC tersebut e-DDC merupakan skema klasifikasi yang paling banyak pengguna yaitu sebanyak 55% diikuti DDC berbahasa Inggris (25%) dan paling sedikit digunakan DDC ringkas Perpustakaan Nasional RI (9%). Kedua alasan pemilihan pedoman klasifikasi yang dikemukakan oleh narasumber dalam penelitian ini, yaitu perpustakaan menggunakan skema klasifikasi DDC, karena notasi dalam DDC lebih spesifik atau detail, sesuai standard dan mudah digunakan. Adapun perpustakaan yang tidak menggunakan DDC berpendapat DDC asli sangat mahal tidak bisa terjangkau biayanya serta bahasa Inggris menjadi kendala utama.. Adapun penggunaan e-DDC versi Indonesia mudah digunakan karena berbahasa Indonesia dan memudahkan menemukan nomor klasifkasi dengan cepat dan efisien karena aplikasi ini dilengkapi dengan menu search. Melalui bantuan menu search, pengguna dapat menemukan nomor klasifikasi dengan cepat melalui kata kunci atau subyek buku yang diklasifikasi. Aplikasi e-DDC banyak digunakan juga karena aplikasi ini merupakan open source selanjutnya versi terbaru meskipun harus membayar tapi harganya masih terjangkau kurang. Selanjutnya perpustakaan pengguna LCC beralasan subyek koleksi perpustakaan spesifik. Notasi klasifikasi untuk subyek agama lebih lengkap dalam LCC dibanding skema klasifikasi lainnya. Sementara perpustakaan yang belum menggunakan skema klasifikasi dalam mengelompokkan bahan pustakanya karena kurangnya SDM yang memahami penggunaan skema klasifikasi DDC, UDC ataupun LCC. Penelitian ini memiliki keterbatasan dana dan waktu dalam pengumpulan data karena masih banyak perpustakaan yang belum terdata mengingat luasnya daerah provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini berimplikasi bagi pustakawan dalam memilih skema klasifikasi tepat yang lebih akurat dan detail untuk mengelompokkan bahan pustaka sesuai dengan jumlah dan cakupan bidang pengetahuan koleksi perpustakaannya. Selain itu menjadi bahan kajian dalam pengembangan kurikulum pada prodi ilmu perpustakaan UIN Alauddin Makassar serta memperkaya pengembangan materi ajar dalam mata kuliah klasifikasi.