HUBUNGAN POLA BACA MAHASISWA DENGAN PRESTASIK AKADEMIK
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Pola baca mahasiswa dalam realita saat ini masih ada 2 (dua) tipe, yakni tipe kebut semalam dan bertahap. Sementara sistem belajar mengajar mengalami perubahan, yakni dari TCL (Teching Centre Learning) menjadi SCL (Student Centre Learning), dimana mahasiswa dituntut belajar mandiri. Penelitian ini bertujuan = untuk mengetahui hubungan prestasi akademik mahasiswa dengan pola baca. Artikel ini merupakakan hasil penelitian eksperimen (N=37). Teknik analysis data dengan menggunakanstatistika deskriptif, yakni analisis Chi-Square. Adapun hasil penelitian yaitu, pertama, diketahui Chi-square hitung= 4.51; Jika α = 0.10; dk=4; makaChi-square tabel= 7.78; artinya Hipotesis: ditolak. Kedua, diketahui Chi-square hitung= 8.52; Jika α = 0.10; dk=4; makaChi-squaretabel= 7.78; artinya Hipotesis: diterima. Kesimpulan penelitian yaitu,team workpengajaran yang konsisten akan memiliki peluang pada capaian prestasi akademik mahasiswa. Sebaliknya team workpengajaran yang tak konsisten akan berpengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa
Keywords:
Pola baca mahasiswa
· Prestasi akademi
· TC
· SCL
· Tim pengajar
Introduction
Dalam literatur Ilmu Perpustakaan dan Informasi dikatakan bahwa kegiatan membaca itu merupakan kegiatan artifisial, yakni kegiatan yang dipelajari dan berlangsung terus-menerus, bukan budaya. Prijana & Saefullah (2015) dalam hasil eksperimennya mengatakan bahwa mahasiswa memiliki keterampilan dan keterlatihan baca yang berbeda satu sama lainnya, dan memiliki kecepatan waktu baca yang berbeda satu sama lainnya. Mereka yang memiliki prestasi akademik lebih tinggi memiliki kecenderungan lebih cepat waktu bacanya dibandingkan dengan mereka yang memiliki prestasi akademik lebih rendah. Mereka yang memiliki prestasi akademik lebih tinggi, memiliki kebiasaan baca yang juga berbeda dengan yang memiliki prestasi lebih rendah. Mereka yang memiliki prestasi akademik lebih tinggi, sering melakukan aktivitas baca dibandingkan dengan yang memiliki prestasi akademik lebih rendah. Disini tingkat keseringan baca diartikan sebagai keterlatihan, sehingga dapat dikatakan semakin terlatih membaca, semakin cepat waktu bacanya. Disini faktor keterlatihan baca menentukan waktu baca dan jumlah kata yang dibaca. Sementara mahasiswa memiliki kebiasaan baca (reading habit), sekali baca teks langsung untuk memahami, dan memiliki pola baca sebagai berikut, kebut semalam dan pola baca bertahap. Dalam hasil eksperimen juga diketahu bahwa kemampuan baca mahasiswa yang nyaman dalam sekali baca teks pada kisaran 1000–2000 kata. Jika mereka dilakukan dalam satu malam, kemampuan efektif baca maksimum diperkirakan hanya 3 (tiga) kali baca atau memiliki rentang 3000–6000 kata. Frank Hatt (1976) dalam karya bukunya The Reading Process secara eksplisit mencoba untuk memahami apa itu membaca, who is the reader? Ia katakan “this reader, in existential reading situation, is a person who is literate”, yang selanjutnya ia tegaskan lagi bahwa “the reader is a literate person”. Sementara Adler & Doren (1940) pernah mengatakan “reading is tools”. Moyle (1973), mengingatkan bahwa membaca buku teks membutuhkan rasa senang (enjoy read), artinya kemampuan seseorang dalam membaca buku teks itu terbatas, tidak mungkin dilakukan secara terus menerus berjam-jam dalam sekali baca. Kondisi dalam diri seseorang yang bertindak sebagai kontrol adalah rasa senang, yang akan membatasi seseorang dalam aktivitas membaca. Disini yang dimaksud membaca adalah membaca aktif dan membaca pasif. Jika yang dimaksud adalah mengikuti materi perkuliahan, maka aktivitas itu adalah membaca pasif. Prijana (2016) dalam studi eksperimennya menunjukkan diketahui (N=34) dan jika α = 0.25; df = 2; maka nilai prestasi akademik mahasiswa memiliki hubungan signifikan dengan kemampuan membaca teks ilmu pengetahuan melalui metode good reading; jika α = 0.10; df = 2; maka nilai prestasi akademik mahasiswa memiliki hubungan non-signifikan dengan kemampuan baca teks ilmu pengetahuan melalui metode good reading. Ini menunjukkan metode baca good reading masih diragukan untuk mendongkrak prestasi akademik mahasiswa. Prijana & Sukaesih (2016) menggambarkan hubungan kemampuan baca mahasiswa melalui metode good reading dengan kemampuan menjawab soal multiple choice, dengan (N=34) dan jika α = 0.10; df=4;. Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menjawab soal multiple choice memiliki hubungan signifikan dengan metode baca good reading. Disini kemampuan menjawab soal multiple choice memiliki hubungan signifikan dengan metode baca good reading, dengan derajat kepercayaan 90%. Prijana & Yanto (2016) dalam studi eksperimennya yang berjudul: Uji Korelasi tentang prestasi akademik dengan metode baca mahasiswa, dengan (N=34) dan α = 0.01; df=32; diketahui prestasi akademik memiliki hubungan korelasi signifikan dengan metode baca good reading. Disini prestasi akademik memiliki hubungan korelasi signifikan dengan metode baca good reading, dengan derajat kepercayaan sampai 99%. Hal lain yang menjadi perhatian adalah adanya hasil simpulan dari penelitian Arnold Riyan pada tahun 2016 yang menunjukkan bahwa faktor dosen memiliki peran yang biasa saja atau moderat terhadap dorongan membaca mahasiswa pada buku teks. Walau demikian, instruksi dosen dalam memberikan tugas-tugas akademik cukup memiliki arti dalam mendorong mahasiswa untuk membaca buku teks. Hal ini berlaku untuk mahasiswa pada semua jenjang akademik atau dapat dikatakan bahwa tugas-tugas akademik dari dosen mampu mendorong mahasiswa untuk membaca buku teks (Riyan, Prijana & Sukaesih, 2015). Berdasarkan hasil paparan di atas, penelitian kali ini akan dilakukan pengujian tentang hubungan prestasi akademik dengan pola baca mahasiswa terkait dengan adanya faktor dosen dalam kegiatan pembelajaran.
Result & Discussion
Pertama: Dosen A dan Asisten Dosen C Dalam penelitian pertama, peneliti mencoba membangun hipotesis untuk maksud pengujian hipotesis dengan Chi-square (2X5) sebagai berikut, H0: Pola baca mahasiswa memiliki hubungan non-signifikan dengan prestasi akademik. H1: Pola baca mahasiswa memiliki hubungan signifikan dengan prestasi akademik. Dengan menggunakan program SPSS peneliti dapat mengetahui sel-sel tabel kontingensi mengenai hubungan pola baca mahasiswa dengan prestasi akademik yang dicapai, setelah tujuh kali tatap muka, seperti yang dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini. ### Tabel 1. Hubungan pola baca mahasiswa dengan prestasi akademik Diketahui Chi-square hitung = 4.51; Jika α = 0.01; dk= 4, maka diketahui Chi-square tabel = 7.78 artinya Chi-square hitung lebih kecil daripada Chi-square tabel. Jika Chi-square hitung lebih kecil daripada Chi-square tabel, maka hubungan pola baca mahasiswa memiliki hubungan non-signifikan dengan prestasi akademik. Disini Hipotesis: ditolak. Jika Hipotesis ditolak, maka artinya nilai prestasi akademik mahasiswa (nilai A, B, C, D, dan E) tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan pola baca yang dilakukan mahasiswa, yakni pola kebut semalam ataupun pola bertahap. Jika demikian, maka terdapat faktor-faktor lain yang dapat menentukan prestasi akademik. ### Pola Baca * Prestasi Akademik Crosstabulation | | Kebut Semalam | Bertahap | Total | |----------|---------------|----------|-------| | Nilai E | 0 | 0 | 0 | | Nilai D | 0 | 0 | 0 | | Nilai C | 0 | 0 | 0 | | Nilai B | 0 | 0 | 0 | | Nilai A | 0 | 0 | 0 | | Total | 0 | 0 | 0 | ### Chi-Square Tests | Chi-Square Tests | Value | df | Asymp. Sig. (2-sided) | |-------------------|-------|----|-----------------------| | Pearson Chi-Square | 4.51 | 4 | 0.341 | 7 cells (70.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .49. ### Kedua: Dosen B dan Asisten Dosen C Dalam penelitian kedua, peneliti mencoba membangun hipotesis untuk maksud pengujian hipotesis dengan Chi-square (2X5) sebagai berikut, H0: Pola baca mahasiswa memiliki hubungan non-signifikan dengan prestasi akademik. H1: Pola baca mahasiswa memiliki hubungan signifikan dengan prestasi akademik. Dengan menggunakan program SPSS peneliti dapat mengetahui sel-sel tabel kontingensi mengenai hubungan pola baca mahasiswa dengan prestasi akademik yang dicapai, setelah tujuh kali tatap muka, seperti yang dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini. ### Tabel 2. Hubungan pola baca mahasiswa dengan prestasi akademik Diketahui Chi-square hitung = 8.52; Jika α = 0.01; dk= 4, maka diketahui Chi-square tabel = 7.78 artinya Chi-square hitung lebih besar daripada Chi-square tabel. Jika Chi-square hitung lebih besar daripada Chi-square tabel, maka hubungan pola baca mahasiswa memiliki hubungan signifikan dengan prestasi akademik. Disini Hipotesis: diterima. Jika Hipotesis diterima dengan derajat kepercayaan 90%, maka artinya nilai prestasi akademik mahasiswa (nilai A, B, C, D, dan E) memiliki keterkaitan dengan pola baca mahasiswa, yakni pola kebut semalam ataupun pola bertahap. Dalam tabel kontingensi juga tampak bahwa pola baca bertahap memiliki perolehan nilai mutu akademik tinggi. Sementara pola baca kebut semalam memiliki kecenderungan dengan nilai mutu akademik lebih rendah. Pada penelitian pertama, dosen A memberikan materi kuliah secara penuh, dan asisten dosen C hadir di kelas. Materi kuliah diberikan selama tujuh kali tatap muka, dengan satu kali tatap muka memiliki bobot 3 SKS. Sementara mahasiswa menyimak dan sekali-kali mencatat materi kuliah. Setelah tujuh kali pertemuan, asisten dosen C diberikan wewenang untuk membuat soal ujian multiple choice. Disini dosen A cukup memeriksa soal-soal yang dibuat asisten dosen C. Pada penelitian kedua, dosen B memberikan materi kuliah secara kurang penuh, dan asisten dosen C lebih banyak memberikan materi kuliah. Sementara mahasiswa menyimak dan sekali-kali mencatat materi kuliah. Setelah tujuh kali pertemuan, asisten dosen C diberi wewenang untuk membuat soal ujian. Disini tampak bahwa pada penelitian pertama, pemberi materi dengan pembuat soal ujian adalah berbeda. Sementara pada penelitian kedua, pemberi materi dengan pembuat soal ujian adalah relatif sama. Kesamaan antara pemberi materi dengan pembuat soal ujian tampaknya memiliki hubungan dengan prestasi akademik mahasiswa. Ketika pemberi materi dengan pembuat soal adalah berbeda, maka pola baca mahasiswa tidak memiliki hubungan signifikan dengan prestasi akademiknya, pada α=0.10; dk=4. Namun ketika pemberi materi dengan pembuat soal ujian adalah sama, maka pola baca mahasiswa memiliki hubungan signifikan dengan prestasi akademiknya, pada α=0.10; dk=4.
Conclusion
a. Jika pemberi materi dengan pembuat soal adalah dosen yang sama, maka pola baca mahasiswa memiliki keterkaitan signifikan dengan prestasi akademik, atau dapat dikatakan pola baca mahasiswa berkaitan dengan capaian prestasi akademik. b. Pola baca dengan cara bertahap memiliki keunggulan dibandingkan dengan pola baca dengan cara kebut semalam. c. Team work pengajaran/dosen yang konsisten memiliki peluang pada capaian prestasi akademik mahasiswa. Sebaliknya, team work pengajaran/dosen yang tak konsisten akan mengganggu prestasi akademik mahasiswa. Disini artinya pemberi materi kuliah sekaligus bertindak sebagai pembuat soal ujian.