PENGEMBANGAN KOLEKSI UNTUK PROGRAM INTERNASIONALISASI JURNAL BIDANG GEOSAINS DI INDONESIA: ANALISIS SITASI
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Dengan analisis sitasi, penelitian ini menginvestigasi frekuensi pengutipan, usia sitasi, penerbit, dan indeks tertimbang jurnal pada dua terbitan berkala geosains program internasionalisasi periode 20142016. Hasil menunjukkan dari 1742 referensi yang dianalisis, koleksi jurnal lebih diperhitungkan dengan jumlah sitasi hingga 58.27%. Sitasi secara berulang sebesar 40.2% dari 408 judul, mengindikasikan adanya kontribusi jurnal-jurnal lain yang lebih besar untuk kesempurnaan artikel penulis. Distribusi usia sitasi yang ditampilkan untuk manajemen penyediaan akses, penyimpanan, dan penyiangan, diketahui rasionya 17.06 dengan rentang 0-126 tahun. Kendati masih lebih pendek dari sejumlah studi yang pernah dilaporkan, sitasi jurnal berusia tinggi membuktikan mutunya terbangun secara baik. Temuan lainnya, terdapat 191 penerbit dimana Elsevier, Wiley, dan Springer lebih diminati penulis. Tren ini dapat menjadi landasan untuk mempertahankan sejumlah penerbit sebagai penyedia jurnal. Fakta menarik lain, para penulis tidak selamanya mengandalkan sumber jurnal terindeks Scopus. Bahkan menurut peringkat indeks tertimbang, jurnal-jurnal Indonesia mampu bersaing dan teruji manfaatnya. Sebagai upaya kesinambungan serta percepatan internasionalisasi jurnal-jurnal geosains lainnya di Indonesia, konsistensi perpustakaan termasuk diandalkan melalui pengembangan koleksi serial tepat guna dan berkualitas.
Keywords:
Pengembangan koleksi
· analisis sitasi
· geosains
· jurnal ilmiah
Introduction
Ditengah isu miring efektivitas pemanfaatan bahan perpustakaan, keputusan pengembangan koleksi kembali dipertanyakan. Fakta tidak digunakannya 97% koleksi e-resources di Perpusnas RI (Nurmalia et al., 2016:68) merupakan momen penting bagi perpustakaan menengok ulang teknik pengembangan koleksinya. Tidak hanya berlaku tunggal, seluruh perpustakaan yang melakukan fungsi untuk memenuhi kebutuhan, baik pendidikan ataupun riset, penting melihat strategi dalam memilih koleksi. Untuk memenuhi kebutuhan penelitian, pengembangan koleksi akan melahirkan banyak pertimbangan. Kendati dewasa ini pertimbangannya cenderung berkutat soal pendanaan. Sangat realistis, mengingat perpustakaan berkewajiban menyesuaikan ketersediaan dana dengan kebutuhan pemustakanya. Apalagi di Indonesia, pemerintahnya rutin menginstruksikan efisiensi anggaran. Dengan keterbatasan anggaran, seleksi koleksi untuk memenuhi kebutuhan penelitian akan semakin kritis dan menantang. Manfaat dari pengembangan koleksi cenderung terlupakan, bahkan terkadang dilihat sebelah mata. Situasi ini belum sepenuhnya disadari oleh pemangku kepentingan yang terbiasa mengukur efektivitas berdasarkan kapasitas unduhan, jika dikaitkan dengan e_x0002_resources. Padahal imbas dari pengembangan koleksi, tidak terhitung seberapa banyak para profesional, ahli, atau pakar yang berhasil dicetak. Kondisi ini relevan ketika direlasikan dengan keterpakaian koleksi perpustakaan guna merampungkan disertasi atau tesis mereka. Demikian juga menuntaskan kegiatan riset guna penyebarluasan hasil_x0002_hasilnya. Bahkan jika tersebarluas ke publikasi bereputasi internasional atau terindeks prestise, reputasi institusi dan negara si pemangku kepentingan turut terangkat. Dalam kondisi yang obyektif, indikator keterpakaian koleksi dalam publikasi semacam itu lebih relevan dibandingkan total unduhan. Sering kali indikator unduhan dijadikan isu-isu inefisiensi anggaran yang mengakibatkan pengembangan koleksi kurang mendapat legitimasi. Belakangan ini Indonesia terus membangun kepercayaan dalam ajang publikasi internasional. Ini masih menjadi problem serius disaat posisi Indonesia masih berada di urutan ke-55 (SCImago, 2017). Upaya menaikan kepercayaan hingga kini masih dilakukan secara bertahap agar daya saing bangsa mampu mengikuti persaingan global. Melalui program internasionalisasi, publikasi seperti jurnal ilmiah terus ditingkatkan mutunya. Jurnal-jurnal yang kini terindeks seperti di DOAJ atau Index Copernicus, didorong hingga memenuhi standard Scopus. Selain di DIKTI, LIPI termasuk institusi pembina yang mendorong program internasionalisasi. Hingga Desember 2016, program ini diikuti empat institusi dengan total enam jurnal (http://pusbindiklat.lipi.go.id). Diantara tiga bidang, geosains (kebumian) termasuk yang diinisiasi dua institusi, Kementerian ESDM dan LIPI. Untuk itu sumber literatur yang mengilhami penulisan artikel di jurnal program internasionalisasi bidang geosains, dikaji sebagai rekomendasi pengembangan koleksi serial perpustakaan. Untuk mengkaji sumber-sumber referensi yang terdapat pada artikel jurnal di atas, digunakan analisis sitasi. Tujuan kajian terbagi dalam tiga indikator untuk memberi hasil yang komprehensif sebagai pertimbangan keputusan pengembangan koleksi. Adapun tujuannya yaitu: (1) mendeteksi frekuensi keterpakaian jurnal, (2) menginvestigasi usia sitasi maupun penerbit jurnal ilmiah, dan (3) menyelidiki indeks tertimbang (weight index) jurnal yang di sitasi. Dari hasil analisis sitasi ini, perpustakaan mempunyai informasi prioritas kebutuhan koleksi jurnal sebagai dasar pengambilan keputusan. Hasil kajian juga berprospek mendorong pemakaian jurnal secara konsisten dan besar-besaran untuk meningkatkan kualitas artikel. Dengan demikian mampu menambah jurnal-jurnal geosains lain ke dalam program internasionalisasi
Method
Kajian ini mengambil data dari daftar referensi yang terdapat di artikel jurnal topik geosains program internasionalisasi. Sumbernya berasal dari pangkalan data (Tabel 1) kurun waktu 2014-2016. Untuk kebutuhan analisis, elemen referensi di separasi dan pemanfaatannya terbatas pada tahun terbit, judul publikasi, serta jenis koleksi. Judul publikasi akan di validasi guna memastikan keakurasian dua elemen lainnya, memakai Google Scholar dan/atau Google. Terhadap jurnal yang berganti nama, perhitungan jumlah sitasinya digabungkan dengan judul terbarunya. Lantas untuk menentukan impact factor digunakan SJR (http://www.scimagojr.com), dengan alternatif lainnya yaitu Journal Metrics (https://journalmetrics.scopus.com). Instrumen alternatif ini dirujuk sebagai sarana pembanding dalam rangka kepentingan validasi. Untuk keperluan pengukuran indeks tertimbang (WI) jurnal, total penulis yang terdapat pada artikel juga direkam. Berpedoman straight counting (penulis pertama), nama yang disebut berulang saat mensitasi jurnal tertentu tetap dihitung sekali. Kajian ini mencatat pentingnya verifikasi nama penulis untuk menilai kekonsistenan, berbasis afiliasinya. Adakalanya penulis yang sama, berciri lebih dari satu suku kata, ditulis sebagiannya dengan singkatan. Demikian juga akibat tanda spasi atau nama penulis dengan ejaan lama dan baru. Sementara itu pengukuran WI menggunakan: WI (Jurnal−J)= Σ Penulis yang Mensitasi (Jurnal−J) Σ Artikel (2014−2016) x Frekuensi Sitasi (Jurnal−J) Selain untuk merekam data, Ms. Excel kembali dimanfaatkan guna mempelajari tabulasi data, termasuk pemeringkatan. Kemudian untuk perhitungan angka_x0002_angka statistik, pemrosesan data, dan grafik (Terekhov, 2017:1220). Untuk pemeringkatan, penyusunannya dilakukan secara alfabet mulai dari jumlah tertinggi hingga yang terkecil. Sedangkan untuk memudahkan observasi maka tabulasi disederhanakan, dipindahkan, dan selanjutnya diterjemahkan secara deskriptif. Tabel 1. Jurnal ilmiah bidang geosains program internasionalisasi LIPI Nama Jurnal (Penerbit) Pangkalan Data Kapasitas Sampel Indonesian Journal on Geoscience (Badan Geologi, Kementerian ESDM) https://ijog.geologi.esdm.go.id 45 Artikel Marine Research in Indonesia (Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI) http://mrijournal.or.id 28 Artikel LIPI
Result
Dari hasil pemeriksaan terhadap sampel artikel yang di analisis, 1.742 referensi dipergunakan penulis untuk memproduksi 73 artikel. Adapun jumlah rata-ratanya mencapai 23.86 sitasi dengan rentang kemunculan 6 hingga 68 referensi. Sesuai tujuan kajian, referensi-referensi yang berhasil teridentifikasi, dianalisis dan diekspos ke dalam tiga sub pembahasan. a. Keterpakaian Terbitan Berkala Setelah dilakukan pemetaan sumber referensi, ditemukan sembilan jenis literatur dan jurnal menempati posisi terbaik hingga 58.27% (Gambar 1). Hasil ini kembali menegaskan, posisi jurnal begitu diperhitungkan untuk kesuksesan penulisan artikel. Deretan fakta yang telah dikemukakan sebelumnya dan kini pada topik geosains, membuat jurnal kian digdaya di kalangan peneliti. Bagi peneliti/penulis, jurnal digunakan dengan berbagai alasan. Dari lima alasan, Nisha et al. (2012:61) mengekspos bahwa kepentingan riset untuk tesis/disertasi/proyek serta publikasi artikel menjadi latar belakang utama mengapa pengguna memanfaatkan jurnal. Kedua alasan ini terbilang relevan karena imbasnya signifikan bagi penciptaan kader-kader pakar, termasuk untuk kemajuan sains. Kendati dihadapkan dengan keterbatasan anggaran, mengorbankan jurnal dalam pengembangan koleksi adalah tindakan berkategori risiko tinggi. Sementara itu dalam memproduksi 73 artikel geosains, 408 judul jurnal dimanfaatkan penulis dengan frekuensi sitasi bervariasi (Gambar 2). Pemanfaatan secara berulang masih lebih kecil atau 40.2% dari jumlah judul yang teridentifikasi. Pola pemanfaatan sekali pakai sepertinya menjadi hal biasa Kendati besarannya dapat melebihi dari hasil yang diungkap dalam kajian ini yakni sebesar 59.8%. Misalnya Kelly (2015:868) yang menemukan 62.1 hingga 80.0% jurnal hanya di sitasi untuk satu artikel saja. Kemudian Griffin (2011:235) mencapai 61.0%, Barnett-Ellis et al. (2016:9) sebanyak 61.2% (440/719), dan Delwiche (2016:23) sebesar 64.5% (526/815). Kesempurnaan kegiatan riset ataupun publikasi ilmiah bidang tertentu adakalanya tidak hanya dipengaruhi satu disiplin ilmu semata. Subjek lain bisa juga berkontribusi kendati tidak menonjol atau sekedar melengkapi topik utamanya. Dampaknya, pola sekali sitasi terhadap satu artikel mempunyai peluang yang besar. Oleh karena itu tidak patut jika menilai dan berpandangan bahwa fakta_x0002_fakta di atas merupakan cerminan kurang berhasilnya pengembangan koleksi jurnal di perpustakaan. Gambar 1. Keterpakaian sumber referensi Gambar 2. Distribusi sitasi berdasarkan judul jurnal ilmiah b. Usia Sitasi dan Penerbit Jurnal Sebuah histogram sitasi jurnal ilmiah berdasarkan usia ditampilkan pada Gambar 3. Tingkat kemutakhiran lima tahun terakhir diketahui sebesar 21.5%. Sedangkan kumulatif hingga sepuluh tahun mencapai 41.0%. Sementara itu terdapat kecenderungan, semakin tinggi usia jurnal, diikuti penurunan frekuensi sitasi. Kajian ini juga mendapati rerata usia jurnal yang di sitasi senilai 17.06 dengan rentang 0-126 tahun. Rentang ini lebih pendek dari bidang sejenis yang pernah dilaporkan Kaczor (2014:96), Kimball et al. (2013:362), Wiley (2014:85), dan Stephens et al. (2013:455), masing_x0002_masing 295, 323, 170 (1843-2013), serta 130 tahun. Pengutipan jurnal berusia lama mungkin terkait reputasi yang tinggi atau paling tidak menjadi bukti bahwa mutunya terbangun dengan baik. Bagi perpustakaan, distribusi usia sitasi dapat dimanfaatkan untuk manajemen koleksi jurnal dalam hal penyediaan akses, penyimpanan, dan penyiangannya. Salah satu kriteria umum dalam menseleksi jurnal adalah reputasi dan kualifikasi penerbitnya (Johnson et al., 2014:107). Pada kajian ini, ditemukan 191 penerbit yang sebagiannya ditampilkan dengan keterwakilan 79.21% dari jumlah sitasi jurnal (Tabel 1). Setengah lebih sitasi jurnal atau 52.91% diketahui berasal dari penerbit berkelas seperti Elsevier, Wiley, dan Springer. Bukan hanya di geosains, ketiganya juga menguasai serta berdampingan sama persis pada cabang ilmu lainnya (Keogh, 2012:218), bahkan terkadang sekedar bertukar posisi (Dees, 2016:56). Sumber teranyar juga menyebutkan, penerbit dimaksud masuk dalam peringkat tiga besar yang memasok terbitan terindeks Scopus hingga 23% (Elsevier, 2017:3). Antusiasme pemakai yang tercermin pada Tabel 2 bisa menjadi landasan bagi perpustakaan untuk terus mempertahankan penerbit-penerbit berkelas di kegiatan pengembangan koleksi jurnal. Gambar 3. Histogram usia sitasi jurnal ilmiah Tabel 2. Sebaran penerbit terbitan berkala bidang geosains Penerbit Sitasi (%) Penerbit Sitasi (%) Elsevier 3 5 1 (34 .58 %) Geological Society of London 6 (0. 59 %) Wiley 1 0 0 (9. 85 %) Magnolia Press 6 (0. 59 %) Springer 8 6 (8. 47 %) Pacific Community 6 (0. 59 %) Geological Society of America 1 9 (1. 87 %) Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI 6 (0. 59 %) Nature Publishing Group 1 7 (1. 67 %) Public Library of Science 5 (0. 49 %) Taylor & Francis 1 7 (1. 67 %) Pusat Penelitian Geoteknologi, LIPI 5 (0. 49 %) Inter-Research Science Publishing 1 6 (1. 58 %) Royal Society of London 5 (0. 49 %) Society of Economic Geologists 1 6 (1. 58 %) Universitas Gadjah Mada 5 (0. 49 %) Badan Geologi 1 3 (1. 28 %) University of Chicago Press 5 (0. 49 %) Oxford University Press 1 3 (1. 28 %) University of Guam 5 (0. 49 %) Pusat Survei Geologi, Badan Geologi 1 2 (1. 18 %) Academia Sinica 4 (0. 39 %) Penerbit Sitasi (%) Penerbit Sitasi (%) Puslit. Oseanografi dan Puslit. Limnologi, LIPI 1 1 (1. 08 %) Ikatan Ahli Geologi Indonesia 4 (0. 39 %) American Assoc. for the Advancement of Science 9 (0. 89 %) Indian Academy of Sciences 4 (0. 39 %) American Society for Microbiology 9 (0. 89 %) Institut Pertanian Bogor 4 (0. 39 %) Cambridge University Press 8 (0. 79 %) Institut Teknologi Bandung 4 (0. 39 %) American Assoc. of Petroleum Geologists 7 (0. 69 %) National Academy of Sciences 4 (0. 39 %) American Chemical Society 7 (0. 69 %) Persatuan Geologi Malaysia 4 (0. 39 %) Universitas Diponegoro 7 (0. 69 %) SEPM 4 (0. 39 %) Sumber: data primer yang diolah, 2017 c. Indeks Tertimbang Jurnal Implementasi indeks tertimbang terhadap 408 jurnal telah menghasilkan pemeringkatan yang tersaji di Tabel 2. Jika indeks tertimbangnya sama, pemeringkatan diuji kembali melalui instrumen IF-SJR. Dalam kajian ini, jumlah jurnal yang ditampilkan sekurangnya pernah di sitasi empat kali. Dari hasil pemeriksaan setiap jurnalnya, jumlah pemakai berada pada kisaran satu hingga sepuluh orang. Baik pengarang pertama dan pendukung, nama yang unik jumlahnya mencapai 174 orang. Dengan straight counting, total nama unik pengarang menjadi 64 orang dan tidak seimbang dengan kapasitas artikel yang dianalisis. Sementara itu hasil pada Tabel 3 mengindikasikan bahwa konsumsi referensi tidak selamanya dipengaruhi jurnal-jurnal terindeks Scopus. Untuk keberhasilan diseminasi artikel topik geosains, para pengarang terbilang antusias memilih jurnal yang diprakarsai penerbit Indonesia. Antara lain Indonesian Journal on Geoscience serta Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. Keduanya juga masuk dalam peringkat sepuluh besar dan mampu bersaing dengan jurnal bereputasi lainnya. Kajian ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa judul serial yang di sitasi cenderung memiliki kesamaan dengan fakta-fakta sebelumnya. Diantaranya temuan Anilkumar et al. (2013:118) mengenai sepuluh jurnal favorit untuk riset geosains serta daftar terbitan berkala yang diungkap Putirka (2016:497). Melihat trennya, jurnal yang telah teruji manfaatnya sebaiknya tetap diproritaskan untuk diakuisisi. Untuk itu kesinambungan dan percepatan internasionalisasi jurnal-jurnal geosains di Indonesia termasuk mengandalkan konsistensi perpustakaan dalam memasok koleksi serial tepat guna dan bermutu. Tabel 3. Peringkat jurnal berdasarkan indeks tertimbang Pe ri ng ka t Judul Terbitan Berkala WI JP FS % FS IF-SJR 1 Marine Pollution Bulletin 4.068 9 33 3.25 1.302 2 Journal of Asian Earth Sciences 2.342 9 19 1.87 1.348 3 Journal of Geophysical Research 2.082 8 19 1.87 1.996 4 Tectonophysics 1.753 8 16 1.58 1.706 5 Marine Ecology Progress Series 1.753 8 16 1.58 1.279 6 Indonesian Journal on Geoscience 1.507 10 11 1.08 0.000 7 Nature 1.479 9 12 1.18 18.134 8 Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 1.205 8 11 1.08 0.000 9 Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology 1.151 7 12 1.18 1.303 10 Estuarine, Coastal and Shelf Science 1.096 5 16 1.58 0.997 11 International Journal of Coal Geology 1.041 4 19 1.87 1.843 12 Economic Geology 0.877 4 16 1.58 1.651 13 Geology 0.863 7 9 0.89 3.112 14 Science 0.863 7 9 0.89 13.535 15 Environmental Pollution 0.740 3 18 1.77 1.786 16 Geochimica et Cosmochimica Acta 0.685 5 10 0.99 2.626 17 Jurnal Sumber Daya Geologi 0.616 5 9 0.89 0.000 18 Contributions to Mineralogy and Petrology 0.548 5 8 0.79 2.235 19 Journal of Geochemical Exploration 0.548 4 10 0.99 1.047 20 Resource Geology 0.534 3 13 1.28 0.517 21 AAPG Bulletin 0.479 5 7 0.69 1.900 22 Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 0.479 5 7 0.69 0.937 23 Journal of the Marine Biological Asso. of the United Kingdom 0.479 5 7 0.69 0.382 24 Chemical Geology 0.452 3 11 1.08 1.810 25 Journal of Volcanology and Geothermal Research 0.438 4 8 0.79 1.801 26 Aquaculture 0.438 2 16 1.58 1.101 27 Bulletin of the Geological Society of America 0.411 3 10 0.99 2.426 28 Journal of Structural Geology 0.370 3 9 0.89 1.466 29 Limnology and Oceanography 0.329 4 6 0.59 1.712 30 Marine Biology 0.329 4 6 0.59 1.198 31 Island Arc 0.329 3 8 0.79 0.638 32 Earth and Planetary Science Letters 0.274 4 5 0.49 3.171 33 PLoS ONE 0.274 4 5 0.49 1.201 34 Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan 0.274 4 5 0.49 0.000 35 Tectonics 0.247 3 6 0.59 2.326 36 Journal of Petrology 0.247 3 6 0.59 2.317 37 Applied and Environmental Microbiology 0.247 2 9 0.89 1.691 38 Organic Geochemistry 0.247 3 6 0.59 1.620 39 Bulletin of Volcanology 0.219 4 4 0.39 1.591 40 Ore Geology Reviews 0.219 4 4 0.39 1.523 41 Current Science 0.219 4 4 0.39 0.285 42 Procedia Earth and Planetary Science 0.219 4 4 0.39 0.178 43 Majalah Geologi Indonesia 0.219 4 4 0.39 0.00 Science of The Total Environment 0.205 3 5 0.49 1.621 45 Lithos 0.164 3 4 0.39 2.517 46 Fuel 0.164 2 6 0.59 1.744 47 Chemosphere 0.164 3 4 0.39 1.417 48 Archives of Environmental Contamination & Toxicology 0.164 2 6 0.59 0.826 49 Zootaxa 0.164 2 6 0.59 0.358 50 SPC Beche-de-Mer Information Bulletin 0.164 2 6 0.59 0.000 51 Oseana 0.164 3 4 0.39 0.000 52 PNAS 0.164 3 4 0.39 6.321 53 Environmental Science & Technology 0.137 2 5 0.49 2.538 54 Paleoceanography 0.137 2 5 0.49 2.349 55 Journal of Paleolimnology 0.110 2 4 0.39 0.957 56 Journal of Environmental Radioactivity 0.110 2 4 0.39 0.955 57 Journal of Natural History 0.110 2 4 0.39 0.429 58 Marine Micropaleontology 0.068 1 5 0.49 0.989 59 Micronesica 0.068 1 5 0.49 0.000 60 Journal of Zoology 0.055 1 4 0.39 1.085 61 Journal of Applied Phycology 0.055 1 4 0.39 0.755 62 Zoological Studies 0.055 1 4 0.39 0.532 63 Geological Society of Malaysia Bulletin 0.055 1 4 0.39 0.127 64 Zoologischer Anzeiger 0.055 1 4 0.39 0.722
Conclusion
Untuk mengembangkan koleksi serial, telah dianalisis 1742 referensi yang tercantum dalam 73 artikel jurnal geosains program internasionalisasi. Fakta menarik yang dijumpai memberi indikasi bahwa jurnal begitu diperhitungkan untuk keberhasilan penulisan artikel. Indikasi ini terlihat dari kapasitas sitasinya hingga 58.27% yang terpetakan ke dalam 408 jurnal. Keterpakaian jurnal secara berulang sebesar 40.2%, mengindikasikan adanya kontribusi judul-judul lain di luar topik geosains guna kesempurnaan artikel para penulis. Temuan lainnya, usia jurnal yang disitasi memiliki rasio 17.06 dengan rentang 0-126 tahun. Kendati masih lebih pendek dari sejumlah kajian yang pernah dilaporkan, sitasi jurnal berusia tinggi menjadi bukti bahwa kualitasnya terbangun secara baik. Sementara itu distribusi sitasi menurut usia dapat membantu perpustakaan dalam hal penyediaan akses, penyimpanan, dan penyiangan jurnal. Dari jumlah jurnal digunakan, sebanyak 191 penerbit berhasil ditemukan. Elsevier, Wiley, dan Springer lebih diminati penulis, terlihat dari kumulatif sitasinya hingga 52.91%. Tren demikian dapat menjadi landasan untuk mempertahankan penerbit-penerbit bereputasi sebagai penyedia jurnal. Bukti lain yang terungkap, penulisan artikel geosains tak selamanya mengandalkan sumber jurnal terindeks Scopus. Bahkan menurut peringkat indeks tertimbang, jurnal-jurnal Indonesia terlihat mampu bersaing dan teruji manfaatnya. Sebagai upaya kesinambungan serta percepatan internasionalisasi jurnal-jurnal geosains di Indonesia, konsistensi perpustakaan termasuk diandalkan melalui akuisisi koleksi serial tepat guna dan berkualitas.