Kembali
16
1
2021 LIBRIA : Library of UIN Ar-Raniry Vol 13 · 2 ISSN 2549-8606

Strategi Networking dan Fundraising dalam Pengelolaan Perpustakaan Desa (Studi Kasus Perpustakaan Adz-Dzikra Gampong Pineung)

Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Abstrak

Tulisan ini berjudul Strategi Networking dan Fundraising dalam Pengelolaan Perpustakaan Desa dengan Studi Kasus di Perpustakaan Adz-Dzikra Gampong Pineung. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pengurus perpustakaan desa terutama Perpustakaan Adz-Dzikra dalam mengelola perpustakaan dan apa saja urgensi networking dan fundraising bagi perpustakaan. Membangun kemitraan dengan setiap pihak merupakan langkah baik terutama menjalankan promosi perpustakaan kepada pemustaka maupun calon pemustaka yang nantinya bisa menjadi bagian daripada donatur yang mempunyai concern dalam pembinaan minat baca dan mendukung langkah memajukan pendidikan meskipun dalam ruang lingkup desa/gampong.

Abstract

This paper is entitled Networking and Fundraising Strategy in Village Library Management with Case Studies in the Adz-Dzikra Library located in Gampong Pineung. The purpose of this paper is to find out how the strategy of village library administrators, especially the Adz-Dzikra Library in managing the library and what the urgency of networking and fundraising for the librariy is. Building partnerships with each party is a good step, especially carrying out library promotions to users and prospective users who can later become part of donors who have concerns in fostering interest in reading and support steps to develop the quality of education even though it is within the scope of the village/gampong.
Keywords: networking · fundraising · perpustakaan desa

Introduction

Gerakan nasional revolusi mental telah digaungkan yang bertujuan untuk mengubah cara pandang, cara pikir, cara berperilaku, dan cara kerja bangsa Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja, gotong royong, yang berlandaskan Pancasila sehingga bangsa Indonesia menjadi negara yang maju, modern, makmur, sejahtera dan bermartabat. Tujuan dari gerakan ini tidak lain adalah untuk membangun karakter bangsa Indonesia yang belum dalam performa terbaik untuk lebih ditingkatkan lagi. Bentuk prioritas nasional ini tidaklah mudah untuk dilakukan jika tidak ada kesadaran dalam pribadi masing-masing dan dukungan dari setiap pihak yang mengakui dirinya adalah penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagian daripada revolusi mental salah satunya adalah cara masyarakat Indonesia dalam memandang pentingnya membaca dan pentingnya perpustakaan. Budaya membaca masih menjadi polemik bagi Bangsa Indonesia dikarenakan sederet survei telah memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan membaca yang kurang baik. Data mengenai kemampuan membaca yang populer diperbincangkan bahkan menjadi kontroversi adalah data dari World's Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State University Amerika Serikat yang dirilis pada awal tahun 2017, dimana Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara partisipan survei dalam hal kemampuan literasi. Di tahun 2016, Hasil Indonesia National Assesment Program yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan & Kebudayaan mengungkapkan data bahwa rata-rata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar di Indonesia adalah 46,83% berada pada kategori Kurang, hanya 6,06% berada pada kategori Baik, dan 47,11 berada pada kategori Cukup. Melihat data-data diatas sebagian kalangan menganggap bahwa budaya membaca adalah "kelemahan” bagi masyarakat Indonesia yang lebih menyukai budaya lisan terhadap sesuatu seperti berbicara, bercerita, dsb daripada memuat tulisan dan menjadikannya bahan bacaan yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Aktivitas membaca tentunya memerlukan wadah atau tempat yang nyaman dan berisikan bahan bacaan yang dinamakan Perpustakaan. Berdasarkan UU No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka akan ditremukan definisi yaitu "institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memnuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”. Pada pasal 3 menyebutkan “Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa". Dan pada pasal 16 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan menyebutkan bahwa penyelenggaraan perpustakaan salah satunya adalah perpustakaan desa. Masyarakat aceh mengenal perpustakaan desa dengan sebutan perpustakaan gampong. Gampong adalah pembagian wilayah administratif setingkat kelurahan di Provinsi Aceh, Indonesia. Gampong berada di bawah Mukim. Gampong merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun dalam tulisan ini yang menjadi objek penelitian adalah Perpustakaan Adz-Dzikra yang terdapat di Gampong Pineung, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Discussion

1. Urgensinya Networking dan Fundraising bagi Perpustakaan Sebuah perpustakaan yang berdiri diharuskan memiliki seseorang ataupun tim pengurus perpustakaan yang memiliki tujuan yang jelas dan niat yang tulus untuk kebaikan lingkungan gampong tersebut dan kebutuhan orang banyak sebagaimana yang tertera pda pembukaan UUD 1945 alinea keempat dengan bunyinya "mencerdaskan kehidupan bangsa". Peran perpustakaan dalam menyikapi tantangan yang datang dari lingkungan sekitar agar terhindar dari kevakuman adalah dengan memperhatikan bidang capacity building (penguatan dang pengembangan secara kelembagaan) yang mana perpustakaan dituntut aktif dan kreatif untuk meningkatkan minat hadir masyarakat ke perpustakaan. Adapun bagian daripada capacity building adalah networking dan fundraising. Program networking dan fundraising bagi seluruh jenis perpustakaan termasuk perpustakaan desa atau gampong adalah terciptanya mitra kerja sebanyak-banyaknya baik dari institusi pemerintah maupun swasta dalam menumbuhkembangkan eksistensi perpustakaan. Fenomena perpustakaan on-off ramai terjadi termasuk perpustakaan di Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan terjadinya ketidakseimbangan pihak pengurus perpustakaan dengan lembaga yang mendanainya, maka perpustakaan diharapkan nantinya mampu mandiri dan kreatif agar perpustakaan tetap hidup salah satunya dengan networking. Networking berasal dari bahasa Inggris yang artinya menggalang kemitraan atau jaringan. Pentingnya networking bagi penguatan kelembagaan perpustakaan diantaranya yaitu: a. Perpustakaan perlu ketahanan hidup (survival) Setiap perpustakaan yang menjalankan roda kelembagaannya pasti membutuhkan dukungan dana dan dana dapat diperoleh dari mitra kerja untuk biaya operasional lembaga dan dana bisa diperoleh dari mitra kerja sebagai donator semakin besar donatur dan mitra kerja (jaringan), maka perpustakaan akan semakin besar dan panjang kemungkinan untuk hidup dan beroperasional. b. Perpustakan perlu pengembangan program Perpustakaan membutuhkan alat dan bahan untuk melakukan pengembangan dan memperbesar skala organisasi dan program, sehingga dukungan dana sangat dubutuhkan, dan darin waktu ke waktu dituntut semakin besar. Karena kemajuan teknologi informatika juga akan menuntut kemajuan perpustakaan. Jadi perpustakaan membutuhkan dana untuk melakukan pengembangan dan memperbesar skala organisasi dan program, ekspansi dan pengembangan. c. Perpustakaan harus mandiri Dalam penguatan kelembagaan perpustakaan, dana sangat penting untuk memperkuat posisi tawar. Semakin besar perpustakaan dapat menghimpun dana, maka akan semakin kuat pula independensi perpustakaan terhadap pihak lain, reducing dependency. d. Perpustakaan harus membangun konstituen Perpustakaan selain berusaha memperbanyak meraih dana, juga semakin banyak pendukung. Memperbesar dana berarti juga memperbesar sumber, serta orang yang memberi atau menyalurkan dana, building constituency. e. Perpustakaan harus berpikir jangka panjang Creating a viable and sustainable organisation, perpustakaan perlu mempersiapkan eksistensi dalam jangka panjang. Instrumen untuk menjamin keberlanjutan perpustakaan tentu memerlukan dana. Perpustakaan perlu mempersiapkan eksistensi dalam jangka panjang, artinya perpustakaan bukan lahan proyek sekali jalan langsung selesai. Tidak ada dalil mengelola perpustakaan atau lembaga perpustakaan berhenti karena masa pendidikan selesai. Kreasi dan keberlanjutan perpustakaan masih terus menerus dibutuhkan oleh masyarakat. Setelah mengetahui pentingnya networking bagi perpustakan, maka terdapat kiat-kiat yang harus dipersiapkan agar program menggalang kemitraan ini berjalan dapat semestinya dan lembaga yang mengenal perpustakaan tersebut akan lebih yakin untuk dapat membantu perkembangan perpustakaan, antara lain: a) Menentukan basis perpustakaan dengan menonjolkan karakter khusus yang dimiliki perpustakaan, b) Mengenali mitra dan pesaing perpustakaan, c) Pertajam visi perpustakaan, d) Menentukan saat-saat berharga dengan cara membuat kegiatan di hari-hari tertentu baik itu hari libur nasional ataupun hari peringatan yang terkait dengan perpustakaan, e) Ciptakan pelayanan prima di perpustakaan agar terciptanya hubungan baik dengan para donatur/mitra serta pemustaka, f) Merubah keluhan menjadi senyuman, g) Tetap dekat dengan siapa saja, h) Merancang dan menerapkan standar pelayanan, dan i) Pengembangan program layanan agar masyarakat menyenangi pengelolaan dan pelayanan yang digarap oleh perpustakaan. Sedangkan fundraising merupakan proses mempengaruhi masyarakat baik peorangan atau institusi (lembaga) agar menyalurkan dana (simpati) kepada institusi atau lembaga. Pada program fundraising, adapun hal-hal yang dapat diharapkan demi perkembangan perpustakaan diantaranya: a. Dana operasional yang merupakan sumber daya utama demi menjaga keberlangsungan setiap program yang perpustakaan selenggarakan, b. Sumberdaya non dana, yang berupa barang atau jasa, tenaga atau volunteer yang bisa mempengaruhi eksistensi perpustakaan, dan c. Simpati/dukungan, yang bisa datang dari mana saja baik di pemerintah desa, atau tingkat kabupaten bahkan influencer yang bisa menambah popularitas dan dampak positif lainnya bagi perpustakaan. Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh pengurus perpustakaan dalam rangka program fundraising, baik pada instansi pemerintah maupun swasta adalah sebagai berikut: a. Observasi Instansi Melakukan pengamatan dan penelitian secara mendalam terhadap lembaga donor, baik pemerintah atau swasta, perorangan atau perusahaan yang mempunyai kebijakan-kebijakan, skala prioritas, atau dana hibah yang teridentifikasi bisa diakses oleh perpustakaan. b. Mencari Informasi Pengajuan Proses selanjutnya adalah mencari informasi bagaimana prosedur pengajuan permohonan atau model proposal yang dibutuhkan. c. Mengajukan permohonan Pengurus perpustakaan harus bisa meyakinkan pemberi dana dengan memberi data dan fakta sebanyak dan selengkap mungkin kendati hanya lewat beberapa lembar proposal. d. Lakukanlah Lobi Dalam fundraising, memang perlu adanya lobi-lobi khusu untuk kelancaran permohonan yang disampaikan. Orang yang melakukan lobi juga harus memiliki data informasi yang lengkap, akurat dan dikuasai, jika tidak, lobi tidak akan bermakna dan berpengaruh. Dalam melobi juga diperlukan orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi, diplomasi yang bagus dan ahli di bidang negosiasi. e. Ucapkan Terimakasih Mengucapkan apreasiasi dan rasa terimakasih merupakan hal yang sederhana namun penting sekali dari sisi sopan santun pergaulan di tengah masyarakat. Ucapan terimakasih dapat disampaikan baik melalui surat, lewat pembicaraan telepon, berkunjung secara langsung kepada pemberi bantuan ataupun melalui pemberian cendera mata. f. Beri Laporan Kegiatan Setelah pengurus perpustakaan mendapatkan kucuran bantuan dari donatur, langkah terakhir yang dilakukan oleh pengurus perpustakaan adalah menyajikan laporan kegiatan. Hal tersebut menjadi bukti dan fakta untuk meningkatkan kepercayaan donatur dan akan menaikkan citra positif yang telah disandang oleh perpustakaan agar nantinya donatur bisa menyalurkan bantuan dan kepercayaan yang lebih besar lagi. 2. Strategi Networking dan Fundraising dalam Penyelenggaraan Perpustakaan Adz-Dzikra Gampong Pineung Gampong Pineung pada awalnya adalah lahan/area persawahan dan perkebunan warga dari penduduk luar. Gampong yang terbentuk pada awal tahun 1938 ini yang awalnya hanya memiliki kepala keluarga di beberapa titik-titik tertentu saja seiring berjalan waktu terjadi peningkatan penduduk yang memenuhi lahan-lahan kosong yang ada di gampong tersebut. Menurut wawancara awal penulis dengan Irhas Rizqy selaku Kepala Perpustakaan Adz-Dzikra, perjalanan literasi di Gampong Pineung dibuka dengan hadirnya sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM) yang terletak di lantai 2 masjid gampong yakni Masjid Darul Falah. Taman baca masyarakat tersebut dinamakan TBM Azkia yang beroperasi pada tahun 2011. TBM Azkia memiliki banyak koleksi buku-buku cerita terutama yang bergenre anak-anak dikarenakan lokasinya di dalam masjid dan sering dikunjungi oleh anak-anak yang sedang menimba ilmu di Taman Pendidikan Agama (TPA) Darul Falah Gampong Pineung dan dikelola langsung oleh pemuda setempat yang juga merupakan pengurus TPA tersebut. Namun dalam perjalanannya, TBM Azkia menjalani masa vakum pada tahun 2015 dikarenakan tidak adanya kader yang melanjutkan amanah mengelola TBM. Perpustakaan yang diidam-idamkan oleh masyarakat setempat lahir dari kerja keras Irhas Rizqy yang merupakan Sarjana Ekonomi Syari'ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan juga merupakan pemuda asli gampong tersebut guna melanjutkan TBM Azkia yang telah vakum. Pada awalnya, Irhas mengikuti sosialisasi minat baca yang diselenggrakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh pada tahun 2017 yang merupakan anjuran dari pemerintah gampong. Berangkat dari sosialisasi tersebut yang memberikan edukasi mengenai kiat meningkatkan minat baca dan informasi bagi penyelenggara perpustakaan di beberapa gampong yang memiliki kendala baik koleksi ataupun standar administrasi perpustakaan, akhirnya Irhas mengetahui jika koleksi bisa didapatkan secara cuma-cuma dengan mengirimkan sebuah proposal permintaan buku sumbangan kepada Perpustakaan Nasional Indonesia. Proposal ini dijawab oleh pihak Perpustakaan Nasional dengan jumlah ±300 buku dan dititipkan sumbangan buku tersebut kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh untuk dapat diteruskan kepada Irhas di Gampong Pineung. Pada Tahun 2018 Irhas mulai bergerak membangun cikal bakal perpustakaan gampong pertama di Gampong Pineung yakni Perpustakaan Adz-Dzikra dengan bantuan teman-teman yang memiliki visi yang sama untuk meningkatkan literasi di gampong tersebut setelah padam beberapa tahun. Disisi lain Irhas juga dibantu oleh pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Banda Aceh yang sudah mengenalnya semenjak beberapa kali mengikuti penyelenggaraan sosialisasi minat baca yakni pada tahun 2017, 2018, dan terakhir pada 2019. Antusiasme pemuda tersebut dalam proses mendirikan perpustakaan gampong membuat tim dari Dispusip Kota Banda Aceh menjadikannya salah satu destinasi monitoring dan evaluasi (monev) serta salah satu perpustakaan gampong binaan Dispusip Kota Banda Aceh hingga saat ini. Adapun proses yang telah dilakukan oleh Irhas dan kawan-kawan merupakan bagian dari penerapan networking (sinergitas antar lembaga) dan fundraising (strategi penggalangan dana dan menggalangsimpatisan) yang termanifestasi melalui Perpustakaan Adz-Dzikra dalam upaya menghidupkan konsep filosofi longlife education (pendidikan sepanjang hayat) di Gampong Pineung. Untuk menambah keterampilan pengurus dalam mengelola perpustakaan, tim dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh melakukan monitoring dan evaluasi (monev) serta melakukan pembinaan terhadap Perpustakaan Adz-Dzikra. Alhasil, Perpustakaan Adz-Dzikra Gampong Pineung meraih juara satu dalam perlombaan perpustakaan gampong terbaik se-Kota Banda Aceh tahun 2020 dan juara harapan kedua saat mewakili Kota Banda Aceh untuk jenis lomba perpustakaan gampong terbaik pada perlombaan Literasi se-Aceh 2020. Hal ini tidak terlepas daripada komitmen pengurus perpustakaan dan rasa peduli masyarakat Gampong Pineung terhadap literasi dan pengembangan budaya membaca. Adapun yang menjadi langkah Perpustakaan Adz-Dzikra dalam upaya menggalang kemitraan dan dana untuk menjalankan program adalah: a. Membuat proposal permohonan buku kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Melalui hal ini Perpustakaan Adz-Dzikra memperoleh ±300 buku b. Mengikuti serangkaian program yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Banda Aceh. Hal ini membuat terjalinnya relasi dan penguatan kemitraan dengan Dispusip Kota Banda Aceh. c. Membangun relasi yang baik dan kuat kepada instansi terkait seperti Dispusip Kota Banda Aceh dan Dispusip Provinsi Aceh untuk menatik perhatian instansi tersebut dalam membina dan membimbing pengurus Perpustakaan Adz-Dzikra d. Menggalang simpati dari Pemerintah Gampong Pineung yang berdampak kepada perizinan untuk mendirikan perpustakaan gampong dan berada dibawah struktur organisasi Pemerintah Gampong Pineung. e. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk menumbuhkan minat membaca masyarakat gampong dan menjadi wasilah bagi Perpustakaan Adzikra untuk menjalan promosi perpustakaan. f. Mengikuti kegiatan lomba perpustakaan gampong/desa sebagai upaya meraih pengalaman dalam bidang promosi dan menjadi alat tukar-pikiran antara Perpustakaan Adz-Dzikra Gampong Pineung dengan perpustakaan gampong di tingkat sekitar Kota Banda Aceh maupun tingkat provinsi. g. Membuat laporan tahunan yang menampilkan kinerja pengurus setiap tahun untuk menjadi bahan evaluasi pengurus Perpustakaan Adz-Dzikra dan bukti pengadian perpustakaan kepada Pemerintah Gampong Pineung. 3. Layanan dan Kegiatan Perpustakaan Adz-Dzikra Pengurus Perpustakaan Adz-Dzikra mempunyai fokus utama pada dalam membangun perpustakaan yakni memberikan pengalaman membaca yang tidak terlupakan disamping untuk menambah wawasan serta untuk mengisi waktu luang melakukan suatu hal yang bermanfaat. Maka dari itu, Perpustakaan Adz-Dzikra menyediakan berbagai koleksi dan berbagai layanan. Selain itu, hal tersebut juga menjadi upaya untuk membentuk karakter generasi muda Gampong Pineung yang lebih religius, kreatif, dan mandiri serta mampu sinergi dengan program-program pemerintah Gampong Pineung. Hingga saat ini pengurus Perpustakaan Adz-Dzikra berjumlah 6 orang dengan Irhas Rizqy, S.E sebagai Kepala Perpustakaan Adz-Dzikra. Perpustakaan Adz-Dzikra seperti perpustakaan pada umumnya yang beroperasi dengan standar operasional dan menerapkan layanan-layanan guna membantu pemustaka saat mengunjungi perpustakaan. Adapun layanan-layanan yang dimiliki oleh Perpustakaan Adz-Dzikra antara lain : a. Layanan Sirkulasi Pustakawan melayani peminjaman sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan yaitu setiap hari Senin - Jumat pukul 16.30 – 18.00 wib. b. Layanan Pendidikan Pemakai Pustakawan memberikan informasi mengenai cara pemanfaatan koleksi dan layanan perpustakaan secara efektif dan efisien. c. Layanan Anak Perpustakaan menyediakan koleksi untuk anak-anak, seperti buku bercerita bergambar/berwarna-warni dan majalah anak-anak. d. Layanan Remaja Perpustakaan menyediakan koleksi untuk remaja, seperti buku biografi pahlawan, biografi tokoh terkenal, buku romansa, dan buku fiksi maupaun non fiksi. Dalam usaha mempromosikan budaya membaca bagi setiap kalangan baik anak-anak, remaja dan masyarakat setempat, Perpustakaan Adz-Dzikra bekerjasama dengan berbagai pihak mengadakan beragam kegiatan untuk meningkatkan motivasi dan minat membaca seperti : a. Pelatihan karya tulis ilmiah Pelatihan ini ditujukan kepada pemuda Gp. Pineung dan kalangan umum untuk memberikan pengetahuan dasar sistematika penulisan dan membantu mengasah skill peserta pada saat merancang karya tulis ilmiah seperti opini, essay, berita dan lain sebagainya. Pada pelatihan tersebut Pengurus Perpustakaan Adz-Dzikra sebagai penyelenggara mendatangkan narasumber yang ahli dalam bidang karya tulis ilmiah. b. Sosialisasi minat dan budaya baca masyarakat Sosialisasi minat dan budaya baca masyarakat merupakan kerjasama Perpustakaan Adz-Dzikra dengan Perpustakaan Kota Banda Aceh. Pemateri sosialisasi berasal dari dosen Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry dan Dinas Perpustakaan Kota Banda Aceh. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan motivasi pentingnya budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari dan tidak mengenal usia. Peserta sosialisasi merupakan kalangan mahasiswa, ibu rumah tangga dan masyarakat desa setempat. c. Kegiatan membaca rutin bersama santriwan/wati TPA Darul Falah Gp. Pineung Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diperuntukkan kepada kalangan anak-anak terutama santriwan/wati TPA Darul Falah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan budaya membaca sedari kecil ini dengan bantuan arahan dan bimbingan saat membaca oleh Ustadz/zah. Program-program yang telah dilaksanakan oleh Perpustakaan Adz-Dzikra tersebut sedikit banyaknya mendatangkan perubahan bagi masyarakat sekitar dalam menyikapi perpustakaan baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, dan juga Pemerintah Gampong Pineung. Perubahan yang terjadi pada anak-anak adalah mereka senang untuk berkunjung ke perpustakaan dikarenakan mereka bisa mendapatkan koleksi buku yang bagus dan berwarna sehingga pada sore harinya ada anak-anak yang mengunjungi perpustakaan. Sedangkan perubahan yang terjadi pada masyarakat gampong secara umum adalah adanya dukungan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus perpustakaan. Hal tersebut menambah semangat dan motivasi pengurus perpustakaan saat bekerja.

Conclusion

Berdasarkan uraian pada penjelasan sebelumnya, hal yang dapat disimpulkan adalah: a. Upaya pendirian Perpustakaan Adz-Dzikra dipelopori oleh Irhas Rizqy, SE yang menjalin kedekatan dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh dan mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh untuk membangun perpustakaan di Gampong Pineung. b. Perpustakaan hendaknya menjadikan langkah networking dan fundraising sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan perpustakaan namun harus dapat dipastikan perpustakaan mampu menjalankan kepercayaan dari mitra yang telah menyalurkan bantuannya kepada perpustakaan. c. Dalam penyelenggaraan perpustakaan dibutuhkan dukungan, kerjasama dan keterbukaan informasi dari setiap pihak baik dukungan dari internal pengurus perpustakaan, atau pihak pemerintah desa/gampong ataupun pihak instansi dinas terkait yang mampu membina dan menyalurkan bantuan baik materi, non-materi dan dukungan demi kelancaran kinerja perpustakaan.