Kembali
16
1
2017 Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol 26 · 2 ISSN 2541-0814

Transformasi Perpustakaan Desa Untuk Pemberdayaan Masyarakat: Studi Kasus Di Desa Margamukti - Pangalengan Bandung Tranformation of Village Library for Community Empowerment: Case Study in Margamukti Village - Pangalengan Bandung

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Perpustakaan memiliki peran, fungsi, dan tujuan yang strategis. Selain turut mencerdaskan bangsa serta menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca, perpustakaan juga diharapkan mampu berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran aktif perpustakaan desa dan transformasinya dalam pemberdayaan masyarakat agar dapat berkontribusi dalam membangun desa dan memberdayakan masyarakat. Penelitian dilakukan pada bulan Mei - September 2017 dengan menggunakan metode studi kasus dan pendekatan kualitatif pada perpustakaan desa Pabukon Saba Desa di Desa Margamukti, Pangalengan-Bandung. Data diperoleh melalui pengamatan, analisis dokumen, dan wawancara mendalam terhadap responden, yaitu pengurus perpustakaan desa, kepala desa, dan kelompok tani. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perpustakaan dikembangkan dengan berbasis teknologi informasi dan komunikasi serta potensi lokal, sebagai tempat untuk memperoleh informasi dan beragam pengetahuan bagi masyarakat. Berbagai program pelibatan masyarakat dalam belajar dan berkegiatan di bidang pertanian, perkebunan, dan ekonomi kreatif dikembangkan secara inovatif oleh pengelola perpustakaan. Untuk menjangkau masyarakat yang ada di pelosok, disediakan layanan mobil perpustakaan keliling. Kemitraan dilakukan dengan berbagai stakeholder, baik yang ada di desa maupun di luar desa, untuk bersama-sama melakukan program pemberdayaan masyarakat. Selain mendapat anggaran dari dana desa, perpustakaan juga memperoleh dana dari kegiatan usaha pertanian dan perkebunan. Masyarakat desa memperoleh dampak positif yang nyata dari perpustakaan berupa peningkatan kesejahteraan, keterampilan, dan pengetahuan. Perpustakaan Pabukon Saba Desa berhasil melakukan transformasi dan berperan aktif dalam pembangunan desa melalui pemberdayaan masyarakat dengan konsep ekonomi hijau berbasis literasi.

Abstract

Library has strategic role, function and goals. In addition to improve nation's intellectual and grow interest and reading habits, library is also expected to play an active role in community empowerment. The purpose of this study was to find out how the village library can play an active role in community empowerment and why the village library to transform so as to contribute in developing village and empowering community. The study was conducted in May - September 2017 using a case study method with qualitative approach on village library 'Pabukon Saba Desa' in Margamukti Village, Pangalengan, West Java. Data were obtained through observation, document analysis and in-depth interviews to respondent (village library managers, village heads and farmer groups). The results revealed that the library was developed with information and communication technology and local potential, as a place to obtain information and various knowledge for the community. Various community engagement programs for learning and activities in agriculture, plantation and creative economy were developed innovatively by library managers. To reach the existing community in remote areas, mobile library car service was provided. Partnerships were conducted with various stakeholders, both in the village and outside the village, to jointly undertake community empowerment programs. In addition to obtain budgetary support from village funds, the library also obtains funding from agriculture and plantation-based business activities. Villagers gain a real positive impact from libraries in the form of improved welfare, skills and knowledge. The ‘Pabukon Saba Desa’ library has successfully transformed and actively participated in village development through community empowerment with the concept of a literacy-based green economy.
Keywords: Village library · role of library · community empowerment · community involvement · library tranformation

Introduction

Pemberdayaan masyarakat menjadi topik yang selalu diperbincangkan dalam berbagai forum dan sering kali menjadi bahan kajian dalam berbagai ranah akademis di perguruan tinggi. Bahkan isu pemberdayaan masyarakat menjadi program yang tidak pernah berhenti dilakukan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hingga saat ini dan ke depan, isu ini akan menjadi perhatian banyak pihak, terutama pemerintah, sebagai bagian dari program pembangunan sumber daya manusia. Dalam era pemerintahan saat ini, isu dan program pemberdayaan masyarakat menjadi perhatian yang sangat serius. Bahkan masalah ini kemudian menjadi urusan berbagai sektor yang ditangani oleh berbagai kementerian, termasuk beberapa lembaga pemerintah nonkementerian. Pemerintahan Presiden Joko Widodo pun menegaskan bahwa pembangunan manusia dan pemberdayaan masyarakat harus melibatkan lintas sektor agar menghasilkan dampak yang nyata dan optimal. Berbagai program pembangunan, baik infrastruktur maupun sumber daya manusia, kini tidak hanya berpusat di ibu kota atau kota-kota besar, tetapi pemerintah kini juga fokus pada daerah terluar dan perbatasan antarnegara, daerah pelosok, pedalaman, dan desa-desa di seluruh Nusantara. Pembangunan kini lebih diprioritaskan pada masyarakat di daerah-daerah tersebut. Sejak ada Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kini pembangunan mulai merata hingga ke pelosok pedesaan. Pembangunan sarana dan prasarana (infrastruktur) hingga sumber daya manusia untuk pemberdayaan masyarakat terus ditingkatkan oleh pemerintah desa bersama masyarakat. Pemerintah pada tahun 2017 memberikan dana desa sebesar Rp800 juta bagi setiap desa. Selain itu, ada dana dari Alokasi Dana Desa (ADD) yang digelontorkan oleh masing-masing kabupaten serta hasil Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dan pengembalian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dari berbagai anggaran tersebut, setiap desa sejak tahun 2017 memiliki dana pembangunan yang cukup besar, bisa lebih dari satu miliar rupiah. Oleh karena itu, banyak pembangunan yang dilakukan di desa, baik itu perbaikan kondisi jalan desa, saluran air, dan sanitasi lingkungan maupun renovasi bangunan kantor desa dan sarana umum seperti tempat peribadatan, pasar desa, dan balai pertemuan warga. Salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian agar program pemberdayaan masyarakat berhasil adalah kesiapan dan kemampuan masyarakat untuk melakukan program pemberdayaan. Artinya, masyarakat perlu memiliki pengetahuan, informasi, dan keterampilan yang memadai. Bagi masyarakat yang sudah tidak berada pada usia sekolah, diperlukan suatu upaya maupun sarana agar tetap dapat belajar sepanjang hayat. Dengan berbekal informasi dan pengetahuan, mereka dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, dan menjawab setiap tantangan dan persoalan yang dihadapi dan terlibat aktif dalam kegiatan dan program pemberdayaan. Sarana belajar yang dapat dimanfaatkan oleh warga masyarakat di desa adalah Perpustakaan Desa (Perpusdes), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Ada pula sarana lain yang disediakan oleh pihak tertentu, seperti pojok baca, taman baca, rumah pintar, dan perpustakaan pribadi. Presiden Joko Widodo dalam Kuwado (2017) menegaskan bahwa anggaran yang tersedia dalam program pembangunan desa juga harus digunakan untuk membangun perpustakaan desa dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat desa semakin gemar membaca. Hal tersebut mengindikasikan pentingnya desa memiliki perpustakaan sebagai sarana belajar dan berkegiatan bagi masyarakat dan pemerintah berperan dan bertanggung jawab untuk menyediakan sarana tersebut bagi masyarakat. Salah satu desa di Kabupaten Bandung yang berhasil mendirikan dan mengembangkan perpustakaan desa adalah Desa Margamukti di Kecamatan Pangalengan. Pada tahun 2017, perpustakaan desa yang diberi nama Pabukon Saba Desa berhasil menjadi juara satu dalam lomba perpustakaan desa tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan Pabukon Saba Desa berhasil membangun jejaring kerja sama kemitraan dengan berbagai stakeholder. Berbagai program pemberdayaan masyarakat berhasil dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui program pelibatan masyarakat (community engagement) secara berkelanjutan. Hal itulah yang menjadi keunggulan perpustakaan ini sehingga mampu menjadi perpustakaan desa terbaik di Indonesia pada tahun 2017. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui peran aktif perpustakaan Pabukon Saba Desa dalam pemberdayaan masyarakat dan transformasinya agar dapat berkontribusi dalam pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian difokuskan pada pertanyaan tentang (1) mengapa perpustakaan desa ini didirikan dan dikembangkan oleh pemerintah desa dan warga masyarakat, (2) bagaimana cara yang dilakukan oleh pengurus perpustakaan desa ini sehingga dapat berkontribusi bagi pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat, serta (3) transformasi atau perubahan apa yang dilakukan sehingga perpustakaan desa ini layak menjadi percontohan bagi desa lainnya dalam program pemberdayaan masyarakat.

Method

Penelitian ini berupaya meneliti dan mengkaji fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, berupa proses organisasional dan manajerial yang terjadi di perpustakaan desa. Berbagai perubahan yang terjadi dalam proses pengembangan perpustakaan desa yang diteliti menjadi perhatian serius, kemudian hasilnya dianalisis secara kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2017 dengan menggunakan metode studi kasus. Creswell (2010) menjelaskan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian yang di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Artinya, seluruh aktivitas, proses maupun program yang dilakukan oleh subjek berusaha diselidiki secara cermat dan menyeluruh. Objek yang diteliti adalah perpustakaan desa yang diamati dan ingin diketahui secara holistik peran dan fungsinya sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat di Desa Margamukti. Subjek dalam penelitian ini adalah ketua dan pengurus perpustakaan desa Pabukon Saba Desa, Kepala Desa, dan kelompok tani di Desa Margamukti sebagai responden. Selain itu, pihak dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat berperan sebagai narasumber dalam proses triangulasi hasil penelitian.

Result & Discussion

Awal Pendirian Perpustakaan Perpustakaan di Desa Margamukti atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Pabukon Saba Desa, merupakan salah satu perpustakaan desa yang ada di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Pabukon Saba Desa mulai dirintis pada tahun 2007, tepatnya pada bulan Agustus melalui semangat memperingati hari kemerdekaan RI. Pemerintah Desa Margamukti bahumembahu dengan masyarakat mengumpulkan buku-buku bekas yang masih layak baca untuk menjadi koleksi perpustakaan. Pada tahun 2008, Pabukon Saba Desa mendapat bantuan buku dari Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat melalui Kegiatan Bimtek dan Pelatihan Perpustakaan. Kegiatan tersebut merupakan program pemerintah untuk mengembangkan dan membina perpustakaan desa dalam rangka meningkatkan ketersediaan bahan bacaan bagi masyarakat. Selain dari Perpustakaan Provinsi Jawa Barat, bantuan buku juga diperoleh dari Perpustakaan Kabupaten Bandung dan beberapa mitra Pabukon Saba Desa. Pada tahun 2009, Kepala Desa Margamukti mengukuhkan secara resmi Pabukon Saba Desa melalui SK Pendirian Perpustakaan Desa No. 040/SK.8/2009. Namun pada tahun yang sama, tepatnya pada 2 September, desa ini mengalami musibah gempa bumi berkekuatan 7,2 SR yang menghancurkan bangunan kantor desa, juga bangunan perpustakaan desa. Pada tahun berikutnya, pelayanan perpustakaan untuk sementara dipindahkan ke salah satu kampung, yakni Kampung Rancamanyar. Namun pada bulan Desember di tahun yang sama, perpustakaan desa ini kembali mengalami musibah tertimpa banjir bandang karena bangunan perpustakaan tersebut berada di dekat aliran sungai. Kemudian pada tahun 2011 perpustakaan desa ini kembali dipindahkan ke kompleks perkantoran desa yang telah dipugar dan direnovasi pascamusibah yang melanda desa ini. Pada tahun tersebut, melalui perbaikan tata kelola dan pengembangan kegiatan layanan, Pabukon Saba Desa mendapat anugerah sebagai perpustakaan desa terbaik dan berprestasi dari Pemerintah Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2012, dengan semangat baru Pabukon Saba Desa melakukan pelayanan dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Unit Kampung Kertamanah dan Taman Baca @Home di beberapa dusun. Menurut Responden 1, Kepala Desa Margamukti, kata Pabukon berasal dari bahasa Sunda yang berarti perbukuan, yang mengandung arti sebagai tempat menyimpan buku, tempat menggali berbagai informasi. Sementara kata Saba berarti bepergian (mobile), tidak statis. Harapannya bahwa dengan menggunakan kata tersebut, perpustakaan desa ini bisa memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat desa maupun kecamatan di Pangalengan. Pengelolaan Perpustakaan Menurut Responden 2, Ketua Pengelola Pabukon Saba Desa, visi yang ingin dicapai dengan nama Pabukon Saba Desa adalah terwujudnya masyarakat Desa Margamukti yang cerdas, mandiri, dan sejahtera melalui layanan perpustakaan berbasis ekonomi hijau alam pedesaan. Artinya, layanan unggulan yang diselenggarakan oleh perpustakaan ini dikembangkan dengan memanfaatkan potensi alam yang ada di sekeliling desa, seperti pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan lahan perkebunan, peternakan, dan lain-lain. Sinergi antara alam dan manusia untuk kemaslahatan menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh pengelola perpustakaan ini. Pengembangan pengelolaan Pabukon Saba Desa tentunya memerlukan anggaran yang memadai agar penyelenggaraan perpustakaan dapat dilakukan secara optimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Perpustakaan desa ini secara rutin memperoleh anggaran melalui Alokasi Dana Perimbangan Desa (ADPD) sebesar satu juta rupiah per tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Responden 1, Kepala Desa Margamukti sebagai bentuk pelaksanaan amanat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tentang Perpustakaan. Bahkan sesuai dengan Permendes Nomor 22 tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2017, anggaran untuk perpustakaan ini ditingkatkan untuk menunjang pengembangan perpustakaan, penambahan fasilitas dan koleksi bahan bacaan, serta untuk membiayai berbagai program kegiatan pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Anggaran perpustakaan Pabukon Saba Desa juga berasal dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) beberapa perusahaan dan stakeholder lainnya serta hasil swadaya masyarakat. Perpustakaan memperoleh dana bantuan CSR dan hasil swadaya masyarakat sebesar Rp25 juta setiap tahun. Dana yang cukup besar tersebut digunakan untuk melengkapi perpustakaan dengan berbagai sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menunjang pengelolaan koleksi dan layanan. Aplikasi sistem informasi perpustakaan sudah digunakan untuk mengelola koleksi dan menunjang pelayanan sirkulasi maupun penelusuran koleksi. Koneksi internet juga disediakan untuk akses informasi bagi masyarakat pengguna perpustakaan. Selain itu, Pabukon Saba Desa juga menyediakan layanan Mobil Perpustakaan Keliling untuk menjangkau masyarakat desa di pelosok dusun dan kampung. Pengelolaan Pabukon Saba Desa hingga saat ini telah dilakukan sesuai dengan standar acuan dari pemerintah, yakni Standar Nasional Perpustakaan (SNP) yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Pemanfaatan Pabukon Saba Desa terus meningkat sejak tahun 2014 seiring dengan ketersediaan koleksi yang makin lengkap dan berkualitas serta jangkauan pelayanan perpustakaan yang luas. Peningkatan pemanfaatan perpustakaan ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan ke perpustakaan, peminjaman koleksi, dan keanggotaan yang terus bertambah sejak 2014 hingga 2017 (Tabel 1). Data tersebut menunjukkan bahwa warga Desa Margamukti memiliki kesadaran yang cukup tinggi dalam hal kebiasaan dan budaya membaca. Hal tersebut menjadi alasan yang kuat untuk terus mengembangkan perpustakaan desa ini dengan berbagai cara, daya, dan upaya, baik dari aspek penyediaan koleksi, sarana prasarana pendukung layanan, serta fasilitas kegiatan pelibatan masyarakat. Semua hal tersebut diarahkan agar masyarakat desa semakin berdaya dan mampu hidup lebih sejahtera. Tabel 1. Jumlah kunjungan, peminjaman koleksi, dan keanggotaan perpustakaan Pabukon Saba Desa, Desa Margamukti, Pangalengan, Bandung 20142017. Uraian Tahun 2014 2015 2016 2017 Kunjungan (orang) 3247 3366 6838 3566 Peminjaman koleksi (judul) 1754 2380 4438 2334 Keanggotaan (orang) 0696 1227 1716 3256 Sumber: Statistik Pabukon Saba Desa (2017). Keberadaan perpustakaan desa tersebut membawa dampak positif terhadap penurunan angka buta huruf. Menurut Responden 1, jumlah warga buta huruf pada tahun 2012 berjumlah 201 jiwa dari 16.034 jiwa, namun kemudian menurun drastis pada tahun 2017 menjadi hanya 10 jiwa dari 17.195 jiwa penduduk Desa Margamukti. Hal tersebut menunjukkan bukti nyata keberhasilan layanan dan kegiatan belajar yang diselenggarakan oleh perpustakaan Pabukon Saba Desa bagi masyarakat Desa Margamukti. Pengembangan Kegiatan Perpustakaan dalam Pemberdayaan Masyarakat Program layanan unggulan perpustakaan desa telah dikembangkan sejak tahun 2013 hingga 2017. Berbagai program implementatif berbasis bahan pustaka (literasi/ keaksaraan) dikembangkan melalui program pemberdayaan masyarakat dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa. Program pemberdayaan masyarakat tersebut melibatkan petani, pemuda, dan kalangan ibu-ibu dan remaja putri. Salah satu program tersebut ialah Program Bank Sampah Berbasis Literasi/ Keaksaraan. Program ini berupaya mengubah pandangan masyarakat tentang sampah yang semula sebagai barang tidak berguna menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku aneka kerajinan tangan seperti tikar dari bekas bungkus kopi (sachet), polibag tanaman dari bungkus plastik sabun cair atau minyak goreng. Berikutnya program pertanian hidroponik untuk memanfatkan lahan sempit untuk pembibitan. Hasil pembibitan ini dapat digunakan oleh masyarakat sendiri untuk penanaman pohon maupun bertanam sayuran di kebun. Melalui proses pembelajaran secara aktif di perpustakaan desa, petani labu siam di Desa Margamukti dapat menerapkan pengetahuan cara bercocok tanam labu siam yang diperoleh dari buku atau informasi di internet. Kini hasil kebunnya rata-rata mencapai 25.000 buah per bulan. Selain itu, masyarakat desa juga dapat mengembangkan tanaman hias untuk kebutuhan penataan halaman rumahnya sendiri maupun usaha budi daya tanaman hias dengan memanfaatkan lahan sempit sehingga lahan menjadi produktif. Responden 3, salah satu petani di desa ini mengatakan bahwa dengan topografi dan cuaca di Pangalengan yang sejuk dan dikelilingi perbukitan dan pegunungan, tanaman hias dapat tumbuh subur dan menghasilkan bunga yang berkualitas baik. Kalangan pemuda juga dilibatkan dalam kegiatan pemberdayaan, misalnya dalam budi daya dan pembibitan ayam kampung. Menurut Responden 4, salah satu pemuda di Desa Margamukti, melalui pembelajaran yang diperoleh dari perpustakaan desa, para pemuda dapat mengembangbiakkan ayam kampung yang berkualitas dan tahan penyakit. Selain itu, pengelola perpustakaan juga melakukan kemitraan dengan perusahaan perkebunan PTPN VIII Kertamanah dalam pemanfaatan lahan perkebunan untuk pembibitan dan produksi kopi malabar. Masyarakat yang berpartisipasi dalam program ini mendapat pengetahuan tentang budi daya tanaman kopi dari hasil membaca dan mengakses informasi di perpustakaan desa serta penyuluhan dari PTPN VIII Kertamanah. Pengembangan kegiatan layanan perpustakaan desa dalam pemberdayaan masyarakat tidak hanya melalui program pelibatan masyarakat dalam bidang pelestarian lingkungan, pertanian, dan perkebunan, tetapi juga pemberdayaan ibu-ibu dan remaja putri dalam mengolah bahan pangan lokal berbasis literasi (keaksaraan), misalnya membuat olahan makanan ringan (cheese stick) berbahan sayuran. Aneka kreasi pangan dikembangkan dengan memanfaatkan hasil pertanian/ perkebunan masyarakat secara mandiri. Pabukon Saba Desa selama ini dikembangkan melalui kerja sama kemitraan dengan berbagai lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Bentuk kerja sama kemitraan tersebut meliputi pengembangan koleksi, pembinaan kegiatan layanan, fasilitasi anggaran dan infrastruktur, serta pembinaan kewirausahaan dan kelembagaan. Menurut Responden 2, tanpa dukungan dan kemitraan dengan berbagai stakeholder tersebut, Pabukon Saba Desa sulit untuk berkembang dan maju seperti saat ini. Dukungan penuh Pemerintah Desa Margamukti juga sangat berperan dalam pengembangan perpustakaan. Pengelola Pabukon Saba Desa yang berdedikasi tinggi juga menjadi faktor penting dalam pengembangan perpustakaan desa tersebut yang mengantarkan perpustakaannya menjadi perpustakaan desa terbaik tingkat nasional. Hal ini dikemukakan oleh Responden 1, yang mengakui bahwa idealisme, kreativitas, kerja keras, semangat, dan kekompakan seluruh pengelola Pabukon Saba Desa telah menjadikan perpustakaan desanya menjadi salah satu perpustakaan desa terbaik tingkat nasional. Dukungan dari desa terutama dari segi anggaran dan kebijakan terus diupayakan. Hal tersebut sesuai dengan komitmen untuk melaksanakan regulasi yang telah ada, salah satunya Permendesa Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2017, Tabel 2. Bentuk kerjasama Pabukon Saba Desa dengan berbagai lembaga, 20082017. Lembaga Tahun Bentuk Kerjasama Lembaga Pemerintah Dispusipda Provinsi Jawa Barat 2009-sekarang Penambahan koleksi buku Dispusipda Kabupaten Bandung 2008-sekarang Pembinaan Taman Baca Disdikbud Kabupaten Bandung 2013-sekarang Pembinaan Kegiatan Layanan Baca Pemerintah Desa Margamukti 2007-sekarang Pembinaan kegiatan dan fasilitasi dana operasional Universitas Padjadjaran 2017 Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) Lembaga non pemerintah/stake holder Rotary Internasional Distrik Kota Bandung 2010-2011 Program penambahan bahan bacaan Yayasan Delta Media 2011-2012 Penambahan bahan bacaan dan sponsorship kegiatan Forum TBM dan Gerakan Kabupaten 2012-sekarang Pembinaan kegiatan layanan perpustakaan Bandung Membaca (KABACA) PTPN VIII Kebun Kertamanah 2012-sekarang Pemberian izin penggunaan/pemanfaatan lahan untuk kegiatan TBM dan pembibitan tanaman Star Energy Geothermal WWL 2012-sekarang Bantuan bangunan layanan baca, bank sampah, hidroponik, dan bahan bacaan. Koperasi Nurkayana 2013-sekarang Pendampingan kewirausahaan dan kelembagaan PKBM Cipta Mandiri 2013-sekarang Pendampingan kegiatan layanan literasi/keaksaraan. Masyarakat Pemustaka Perpustakaan (MAPUSTA) Kab. Bandung 2015-sekarang Program kegiatan layanan peningkatan minat baca selain berbagai regulasi lain yang terkait dengan desa. Responden 2 mengharapkan bahwa keberhasilan yang telah diraih dapat terus ditingkatkan dan menjadi inspirasi bagi pengembangan perpustakaan desa lain di Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat maupun di seluruh pelosok Nusantara, sebagai upaya mendukung budaya literasi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Transformasi Perpustakaan Meski berada di pelosok, Pabukon Saba Desa berbeda dengan kebanyakan perpustakaan desa lainnya. Pada umumnya, kondisi perpustakaan desa sangat tidak memadai dan kurang dikelola dengan baik. Hal tersebut sering kali disebabkan oleh tidak adanya pengelola dan fasilitasi dari pemerintah desa untuk penyelenggaraan operasional perpustakaan. Alih-alih dapat terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat, untuk menjalankan peran dan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar dan kegiatan membaca masyarakat saja hampir tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Keterlibatan perpustakaan desa dalam program pemberdayaan masyarakat masih sangat jarang. Umumnya keberadaan perpustakaan hanya dikaitkan dengan upaya menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca masyarakat dan seolah urusan itu hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan. Apabila kondisi minat dan kebiasaan membaca masih rendah, maka dikatakan bahwa perpustakaan kurang berperan sebagaimana mestinya. Padahal dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU Nomor 43 Tahun 2007, dikemukakan bahwa perpustakaan memiliki peran, fungsi, dan tujuan yang strategis. Selain turut mencerdaskan bangsa dan menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca, perpustakaan juga diharapkan mampu berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat. Sutarno (2008) menyatakan bahwa perpustakaan desa mengemban misi untuk menanamkan pengertian dan pemahaman yang utuh dan lengkap tentang pentingnya penguasaan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan menguasai itu semua, diharapkan masyarakat lebih siap untuk diberdayakan dan mampu berdaya guna. Dunia perpustakaan di Indonesia saat ini sedang giat mengembangkan suatu model pengembangan perpustakaan sehingga diharapkan perpustakaan dapat bertransformasi dengan mengoptimalkan peran dan fungsinya sebagai pusat belajar dan kegiatan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas hidup. Kesejahteraan masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi (kemampuan daya beli) menjadi tujuan dari program yang diinisiasi oleh Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI). Program tersebut dikenal dengan Perpuseru yakni akronim dari Perpustakaan Seru. Perpuseru diselenggarakan melalui kemitraan antara CCFI dengan perpustakaan, mulai dari tingkat nasional hingga perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat. Dalam wawancara dengan Direktur Program Perpuseru, Erlyn Sulistyaningsih, dinyatakan bahwa melalui program semacam ini, diharapkan paradigma perpustakaan dapat berubah (bertransformasi). Artinya perpustakaan diharapkan dapat naik kelas dengan terlibat aktif dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional maupun agenda prioritas pemerintah seperti tertuang dalam “Nawacita”. Dalam rumusan Nawacita disebutkan bahwa agenda pembangunan Indonesia diprioritaskan dari pelosok untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat, peningkatan produktivitas, serta mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat (Kompas 2017). Pemberdayaan merupakan proses, cara, atau perbuatan memberdayakan. Menurut Azis et al. dalam Retno et al. (2015), pemberdayaan adalah beralihnya fungsi individu yang semula objek menjadi subjek sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya akan dicirikan dengan relasi antarsubjek dengan subjek lain yang intinya adalah pemanusiaan. Dengan memerhatikan pendapat tersebut, pemberdayaan (empowerment) menurut Retno et al. (2015) adalah upaya untuk membantu seseorang atau kelompok dengan menolong diri mereka sendiri melalui pengembangan kemampuan yang nantinya dapat diberdayakan dalam meningkatkan taraf kehidupannya. Berdasarkan pengertian tersebut, apa yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Pabukon Saba Desa merupakan wujud nyata pelaksanaan pemberdayaan masyarakat. Pabukon Saba Desa telah berupaya terlibat aktif dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan masyarakat berbasis literasi serta akses informasi dan pengetahuan. Upaya tersebut bahkan telah membuahkan hasil yang cukup optimal. Menurut Responden 2, perpustakaan yang dikelolanya bersama sebelas pengurus lainnya tidak hanya berfungsi dalam memberantas buta huruf atau meningkatkan kegemaran membaca masyarakat semata, namun juga berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat melalui pengetahuan dan informasi yang diperoleh melalui perpustakaan desa. Lebih jauh dikemukakan bahwa kehadiran Pabukon Saba Desa telah berkontribusi dalam membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama dalam bidang perkebunan, peternakan, industri olahan makanan ringan, dan kerajinan kreatif berbasis sampah. Langkah yang dilakukan oleh pengurus perpustakaan desa mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa, terutama Kepala Desa saat ini. Keberadaan Pabukon Saba Desa melalui upaya pemberdayaan masyarakat diakui tidak hanya menurunkan angka buta huruf, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup warganya. Terlebih ketika Desa Margamukti semakin banyak meraih prestasi, termasuk prestasi yang diraih oleh perpustakaannya, semakin meningkat semangat dan rasa bangga warga masyarakat terhadap desanya. Hal tersebut menurut Responden 1 menjadi modal yang cukup baik untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan di desanya. Pelibatan masyarakat salah satunya dapat disalurkan melalui aktivitas belajar dan kegiatan pemberdayaan di perpustakaan desa. Program yang dikembangkan oleh Pabukon Saba Desa merupakan bentuk transformasi dari peran dan fungsi perpustakaan desa sehingga manfaatnya dapat lebih nyata dirasakan oleh masyarakat desa.

Conclusion

Kesimpulan Perpustakaan Pabukon Saba Desa didirikan untuk mewujudkan masyarakat Desa Margamukti yang cerdas, mandiri, dan sejahtera melalui berbagai layanan perpustakaan berbasis potensi alam yang ada. Pabukon Saba Desa dapat maju dan berkembang karena adanya komitmen semua pihak yang terlibat dan terkait. Idealisme, semangat, kreativitas, dan inovasi dari pengelola perpustakaan menjadi motor penggerak keberhasilan program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi hijau dan dukungan kemitraan berkelanjutan. Melalui edukasi, masyarakat lebih mudah diberdayakan. Perpustakaan desa dapat menjadi sarana untuk mewujudkan visi, misi, dan program pemerintah desa untuk mensejahterakan masyarakat. Melalui inovasi layanan, Pabukon Saba Desa telah melakukan tranformasi sehingga perpustakaan tidak hanya menjadi tempat untuk menumbuhkan kegemaran membaca, tetapi juga terlibat aktif dalam pemberdayaan masyarakat. Saran Pengelola Perpustakaan Pabukon Saba Desa, Pemerintah Desa Margamukti, dan masyarakat Desa Margamukti diharapkan terus mengupayakan keberlanjutan pengelolaan perpustakaan desa. Partisipasi masyarakat dapat terus dibangun melalui program pemberdayaan serta pelibatan masyarakat dalam kegiatan yang kreatif dan inovatif. Kemitraan yang telah terjalin dapat dilanjutkan dan ditingkatkan dengan membangun jejaring kerja sama dengan stakeholder lainnya guna membangun sinergitas yang lebih baik dan saling menguntungkan.