Kembali
16
1
2021 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 13 · 2 ISSN 2502-4108

MODEL PENGEMBANGAN PLUG-IN SLiMS PADA KOMUNITAS SLiMS KUDUS

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui peran Komunitas SLiMS Kudus dalam pengembangan Plug-inSLiMS. Peneliti menggunakan model pengembangan open-source oleh Ibrahim Haddad dan Brian Warner dari The Linux Foundation untuk membantu mendeskripsikan pengembangan plug-inSLiMS di Komunitas SLiMS Kudus. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi terus terang,wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Komunitas SLiMS Kudus berperan sebagai sumber inspirasi dan wadah penyebaran plug-inhasil pengembangan dari anggota komunitasnya dalam pengembangan plug-inSLiMS. Berdasarkan temuan Peneliti terkait dengan penelitian berikut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut seputar pengembangan plug-indalam komunitaskomunitas SLiMS lainnya sebagai pembanding dari pengembangan plug-inSLiMS yang dilakukan oleh Komunitas SLiMS Kudus. Peneliti berharap semakin banyak penelitian serupa dilakukan maka baik dari pihak developer SLiMS, komunitas SLiMS lokal, maupun masyarakat secara umum mendapatkan gambaran bagaimana SLiMSselaku salah satu aplikasi open-sourcedikembangkan</p>

Abstract

This study aims to determine the role of Kudus SLiMS Community in development of the SLiMS plug-in. Researcher uses open-source development model by Ibrahim Haddad and Brian Warner from The Linux Foundation to help researcher describing SLiMS Plug-ins development in Kudus SLiMS Community. This research uses qualitative research method. Method of data collection is using direct observation, non-structured interviews, and documentation technique. The data analysis method is using Miles and Huberman method. The result of this study is that the role of Kudus SLiMS Community in development of the SLiMS plug-in is as a source of inspiration/idea for developing a plug-in, a place for the member of the Kudus SLiMS Community to share their developed plug-ins. Based on the findings of researcher related to the following study, in the future it is necessary to do further research about the development of the SLiMS plug-ins by other local SLiMS Community as a comparison with the development of the SLiMS plug-in by the Kudus SLiMS Community. The researcher hopes that more and more similar study is carried out so that the SLiMS application developer, local SLiMS Communities, and general public get the comprehensive picture about how SLiMS as one of the open-source based applications is developed.
Keywords: SLiMS · plug-in SLiMS · SLiMS Kudus community · open-source development model

Introduction

Penerapan teknologi informasi di perpustakaan merupakan hal yang jamak dilakukan di era digital ini. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan mengefisienkan kerja pustakawan—mengingat perpustakaan termasuk institusi yang memerlukan teknologi dalam penyebaran informasi yang mereka kelola1. Salah satu contoh penerapan teknologi informasi di perpustakaan adalah otomatisasi perpustakaan. Otomatisasi perpustakaan adalah sekumpulan perangkat lunak komputer untuk aktivitas dalam perpustakaan yang utamanya ditandai dengan pemakaian basis data yang besar, didominasi oleh kandungan cantuman tekstual, dengan fasilitas utama dari segi penemuan, penyimpanan, dan penyajian informasi2. Saat ini sudah ada banyak aplikasi otomatisasi perpustakaan, seperti KOHA, INLIS Lite, Ganesha Digital Library dan Senayan Library Management System (SLiMS). Peneliti memfokuskan penelitian pada aplikasi SLiMS karena aplikasi tersebut banyak digunakan di Indonesia sejumlah 1923 pengguna per 2019, penggunaannya sudah pada taraf mancanegara, dan memiliki komunitas aplikasi dengan website terhosting yang masih aktif hingga saat ini (Komunitas SLiMS Kudus dan Komunitas SLiMS Jakarta). Senayan Library Management System, atau biasa disebut dengan SLiMS, adalah aplikasi otomatisasi perpustakaan berbasis open-source yang dicetuskan oleh Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha. Aplikasi ini dikembangkan pertama kali pada November 2006 dan digunakan pertama kali di Perpustakaan Departemen Nasional RI—merujuk pada website SLiMS Developer Community3. Saat ini aplikasi SLiMS sudah mencapai versi yang kesembilan dengan nama SLiMS 9 Bulian. Aplikasi SLiMS banyak digunakan di Indonesia. Berdasarkan sebuah unggahan pada website resmi SLiMS4, jumlah pengguna aplikasi SLiMS yang terdaftar saat itu (per 2019) sebanyak 1923 pengguna dengan jumlah terbanyak berada di provinsi Jawa Tengah sejumlah 351 pengguna. Tidak hanya di Indonesia, aplikasi ini sendiri sudah merambah ke luar negeri. Ada sejumlah 75 institusi yang telah menggunakan aplikasi SLiMS, dengan Bangladesh sebagai pengguna paling banyak di luar Indonesia. Perkembangan SLiMS tidak terlepas dari peran komunitas SLiMS yang tersebar di Indonesia. Dari semua komunitas SLiMS, Komunitas SLiMS Jakarta dan Komunitas SLiMS Kudus memiliki website yang masih aktif hingga saat ini. Berdasarkan observasi peneliti secara daring, peneliti menemukan bahwa dari segi konten website komunitas SLiMS Jakarta lebih banyak mengabarkan tentang kegiatan-kegiatan seputar cara penggunaan aplikasi SLiMS yang dilakukan oleh komunitas tersebut, sedangkan Komunitas SLiMS Kudus lebih banyak menginformasikan seputar tutorial-tutorial yang berhubungan dengan modifikasi fitur dan plug-in tambahan untuk SLiMS. Tutorial-tutorial tersebut ditulis langsung step-by-step, berbeda dengan website Komunitas SLiMS Jakarta yang harus memutar kembali video kegiatannya (rata-rata berbentuk webinar) untuk memahami isi konten website tersebut. Beberapa contoh plug-in SLiMS dari Komunitas SLiMS Kudus adalah plug-in label barcode warna SLiMS 9, plug-in buku induk untuk SLiMS 8, plug-in bebas pustaka untuk SLiMS 8, plug-in usul/pesan buku untuk SLiMS 7, dan lain sebagainya. Konten mengenai plug-in sudah terdapat dalam website Komunitas SLiMS Kudus sejak tahun 2012. Apabila mencermati website komunitas tersebut, maka dapat diketahui bahwa postingan terbaru ditulis pada bulan April 2021 mengenai cara mengubah logo jurnal pada template SLiMS 9.4.1. Jurnal Logo. Untuk mengetahui pengembangan plug-in dari Komunitas SLiMS Kudus, peneliti sempat menghubungi pengelola website Komunitas SLiMS Kudus pada tanggal 7 Desember 2020 pukul 18:43 via Whatsapp. Peneliti menanyakan kepada beliau mengenai siapa yang mengembangkan plug-in SLiMS dari pihak komunitas tersebut. Dari wawancara tersebut diketahui bahwa pengembangan plug-in di komunitas tersebut dilakukan secara tidak terprogram. Kontributor pengembangan plug-in dari komunitas tersebut pun tidak dikhususkan pada satu atau beberapa orang yang ditunjuk, melainkan terbuka untuk dan oleh siapa saja. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai letak peran, posisi, atau kontribusi Komunitas SLiMS Kudus dalam pengembangan plug-in yang ada di website milik mereka. Hal di atas yang mendasari ketertarikan peneliti untuk mengetahui keterlibatan dan peran komunitas tersebut dalam pengembangan plug-in SLiMS, mengingat artikel tentang plug-in dalam website komunitas SLiMS Kudus cukup banyak dan penulisan artikel tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2012. Selain itu peneliti tertarik untuk meneliti Komunitas SLiMS Kudus karena komunitas tersebut berada di provinsi yang memiliki pengguna SLiMS terbanyak seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Peneliti menggunakan model pengembangan aplikasi open-source oleh Ibrahim Haddad dan Brian Warner dari The Linux Foundation5 sebagai teori utama dalam memahami proses pengembangan plug-in oleh pihak komunitas SLiMS Kudus agar dapat diketahui dan dirumuskan posisi atau peran komunitas tersebut dalam pengembangan plug-in SLiMS. Model ini digunakan karena model ini relevan untuk digunakan dalam menganalisis topik penelitian yang peneliti lakukan. Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca akan beberapa hal, seperti peran sebuah komunitas dalam pengembangan suatu hal yang mereka minati (dalam hal ini yaitu plug-in aplikasi SLiMS). Peneliti juga berharap penelitian ini bisa menjadi pemantik untuk penelitian lain yang sejenis mengenai peran komunitas-komunitas SLiMS yang lain terhadap pengembangan aplikasi SLiMS agar pihak developer utama SLiMS maupun khalayak umum mengetahui apa bentuk kontribusi yang telah diberikan komunitas SLiMS sehingga aplikasi SLiMS masih eksis hingga sekarang. Dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, belum ditemukan penelitian yang spesifik membahas tentang pengembangan plug-in SLiMS oleh komunitas SLiMS. Walaupun begitu, peneliti menemukan penelitian yang hampir serupa dengan penelitian yang ingin peneliti lakukan. Penelitian pertama berjudul ―The Role of Local Open-source Communities in the Development of Open-source Project‖ yang ditulis oleh Sinan Abdulwahhab dkk.6 Penelitian tersebut lebih membahas tentang posisi komunitas open-source lokal secara umum dalam pengembangan proyek open-source masing-masing, seperti peran komunitas Linux lokal dalam pengembangan software Linux itu sendiri.Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa antara komunitas open-source lokal dengan proyek open source saling berdampak satu sama lain. Dampak positif yang muncul adalah adanya kontribusi skrip atau kode, serta lokalisasi dan promosi proyek ke daerah komunitas masing-masing. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi oleh komunitas open-source lokal berupa masalah finansial dan keterbengkalaian proyek. Penelitian ini juga menemukan alasan atau motivasi seseorang bergabung dengan komunitas open-source lokal, seperti kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang besar sembari tetap bekerja di daerah sendiri, membantu kemanusiaan dengan cara berpartisipasi dalam memberikan software gratis, dan bersosial dengan orang yang sehobi. Selain itu, peneliti juga menemukan penelitian lain yang juga berkaitan dengan komunitas SLiMS, meskipun penelitian-penelitian tersebut hanya membahas peran komunitas SLiMS lokal dalam peningkatan kompetensi pustakawan. Penelitian tersebut berjudul ―Upaya Meningkatkan Kompetensi Pengelola Perpustakaan Melalui Kegiatan Komunitas SLiMS Kediri Raya‖ yang ditulis oleh Muhammad Hamim7. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas SLiMS Kediri Raya dalam meningkatkan kompetensi pustakawan adalah SLiMS Gathering, workshop dan pelatihan, pendampingan pelaksanaan otomasi perpustakaan, dan berbagi pengetahuan melalui kuliah online di media sosial. Kemudian penelitian selanjutnya berjudul ―Komunitas SLiMS Semarang Sebagai Ruang Inovasi Pustakawan‖ yang ditulis oleh Mochammad Riski Destrianto dan Heriyanto8. Hasil dari penelitian ini adalah Komunitas SLiMS Semarang berperan dalam menjadi ruang inovasi bagi pustakawan untuk mengembangkan kompetensinya. Selain itu, komunitas tersebut mampu memunculkan siklus pengetahuan yang dimulai dari motivasi pustakawan mengikuti komunitas, terjadinya knowledge sharing, kolaborasi dengan komunitas lain, hingga munculnya produk dari inovasi yang akan menjadi pengetahuan baru. Pengetahuan baru tersebut menjadi modal untuk membuat inovasi baru sehingga siklus pengetahuan dapat terulang kembali. Peneliti menemukan bahwa belum ada penelitian yang langsung spesifik membahas peranan komunitas SLiMS dalam pengembangan plug-in aplikasi SLiMS. Tinjauan penelitian yang pertama paling mendekati dengan penelitian peneliti, tetapi fokus permasalahan penelitian tersebut hanya terbatas pada pengembangan aplikasinya secara umum, tidak menyentuh lebih dalam seputar peran komunitas tersebut dalam pengembangan plug-in aplikasinya. Tinjauan lainnya memiliki kesamaan subyek penelitian dengan penelitian peneliti, sama sama menyinggung tentang komunitas SLiMS. Namun penelitian tersebut sama sekali tidak membahas tentang pengembangan aplikasi SLiMS, baik aplikasinya secara umum maupun plug-in aplikasi tersebut. Penelitian yang peneliti lakukan akan mendiskusikan posisi atau peranan Komunitas SLiMS Kudus dengan mencari tahu terlebih dahulu model pengembangan plug-in SLiMS yang dilakukan oleh komunitas tersebut. Setelah model pengembangan tersebut didapat dan ditelaah, peneliti bisa mengetahui dimana letak peran komunitas dalam pengembangan plug-in tersebut.

Method

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan secara daring sehubungan dengan pandemi virus COVID-19 yang tidak memungkinkan peneliti untuk bertemu langsung dengan pihak informan maupun Komunitas SLiMS Kudus. Menyiasati hal tersebut, peneliti menghubungi informan via WhatsApp (WA) dalam melakukan wawancara. Informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive Sampling adalah metode pemilihan sampel sumber data yang dipilih dengan pertimbangan tertentu, seperti orang yang dirasa paling memahami mengenai apa yang seorang peneliti harapkan atau orang yang dianggap sebagai penguasa di situasi sosial tertentu9. Informan yang peneliti pilih sebagai sumber data ialah MZ sebagai salah satu kontributor pembuatan plug-in SLiMS dari Komunitas SLiMS Kudus dan pengelola website Komunitas SLiMS Kudus (https://slimskudus.web.id) dan EP selaku Koordinator Komunitas SLiMS Kudus. Peneliti melakukan wawancara kepada MZ sebanyak dua kali dan EP sebanyak satu kali. Wawancara pertama dilakukan kepada MZ pada tanggal 18 Maret 2021 dengan cara peneliti mengirimkan pertanyaan via chat WA pada pukul 16:38 WIB, kemudian MZ mengirimkan jawaban dalam bentuk file PDF pada tanggal 19 Maret 2021 pukul 06:54 WIB. Wawancara kedua dilakukan kepada EP via telepon WA pada tanggal 23 Maret 2021 pukul 10:02 WIB. Terakhir wawancara dilakukan kepada MZ kembali via telepon WA pada tanggal 26 April 2021 pukul 20:09 WIB. Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah metode observasi terus terang—dalam hal ini peneliti berterus terang bahwa ia sedang melakukan penelitian kepada sumber data10, metode wawancara tidak terstruktur, dan metode dokumentasi. Pengujian kredibilitas data menggunakan metode triangulasidan membercheck. Peneliti menggunakan model Miles and Huberman dalam melakukan analisis data penelitian.

Result & Discussion

Dalam sebuah literatur yang ditulis oleh Sterne (2019) diketahui bahwa selengkap apapun fitur sebuah software, sang perancang software tidak dapat mengantisipasi fitur-fitur yang kemungkinan diinginkan oleh pengguna software tersebut. Jika program aplikasi tersebut tidak dirancang ramah plug-in, maka pengguna terpaksa berganti-ganti aplikasi dalam mengerjakan sesuatu karena fitur yang diinginkan berada di aplikasi lain yang berbeda; atau hanya bisa berharap fitur yang diinginkan tersedia dalam update aplikasi selanjutnya. Dalam hal inilah, lanjutnya, plug-in memberikan kemudahan kepada banyak program komputer dari segi fleksibilitas. Plug-in mengatasi kesulitan tersebut dengan cara menyatu dengan program induknya. Jika mengikuti definisi plug-in oleh Sterne (2019) di atas, maka plug-in SLiMS adalah aplikasi yang menambah fungsi baru ke dalam aplikasi induk SLiMS tanpa mengubah program itu sendiri. Di bawah ini akan diuraikan model pengembangan plug-in SLiMS pada Komunitas SLiMS Kudus merujuk pada siklus pengembangan fitur dalam model pengembangan aplikasi open-source oleh Ibrahim Haddad dan Brian Warner.20 Tahap Feature Request (Pengajuan Ide) dalam Pengembangan Plug-in di Komunitas SLiMS Kudus Ibrahim Haddad dan Brian Warner21 menjelaskan bahwa pada tahap feature request, atau pengajuan ide, segala ide fitur yang diajukan umumnya dipilih menggunakan proses-proses yang bisa terlihat oleh semua anggota komunitas. Hal ini dapat memberikan pemahaman umum mengenai fitur mana saja yang telah diajukan/diminta, tingkat prioritas sebuah fitur, status pengembangan fitur itu, bugs dan blockers yang terkait dengan fitur tersebut, dan kapan fitur tersebut direncanakan untuk dirilis.Singkatnya, dalam model pengembangan open-source oleh Ibrahim Haddad dan Brian Warner, proses pengumpulan ide dilakukan dengan mengirim usulan ide ke forum komunitas pengembang aplikasi, didiskusikan di dalam forum, dan jika disetujui barulah ide tersebut dikembangkan lebih lanjut. Peneliti menemukan beberapa perbedaan yang terdapat pada tahap pengajuan ide dalam model pengembangan open-source diatas dengan yang terjadi dalam Komunitas SLiMS Kudus. Pengembangan plug-in SLiMS oleh Komunitas SLiMS Kudus hanya dilakukan secara kolektif pada tataran diskusi, dan kemudian MZ sebagai pelaksananya. Tidak ada personil khusus yang yang ditunjuk untuk mengembangkan plug-in SLiMS. Dalam Komunitas SLiMS Kudus siapapun diperkenankan untuk mengembangkan plug-in SLiMS. Sebagaimana model pengembangan open-source Ibrahim Haddad & Brian Warner yang mengisyaratkan bahwa adanya pihak tertentu seperti komunitas pengembang ataupun pihak lain yang menyeleksi dan mengevaluasi usulan ide fitur yang diajukan. EP juga mengatakan bahwa dalam Komunitas SLiMS Kudus siapapun diperkenankan untuk berkreasi, termasuk dalam hal pengembangan plug-in. Proses pengembangan ini bukan suatu aktivitas yang diagendakan/terjadwal. Komunitas sifatnya hanya sebagai wadah untuk berbagi pikiran saja. EP juga menambahkan bahwa dalam internal kepengurusan komunitas sendiri lebih berfokus pada permasalahan SLiMS secara umum dan tidak membahas pengembangan plug-in SLiMS. Pengembangan plug-in di komunitas ini bukan sesuatu yang diagendakan. Oleh karena itu, tidak ada pihak khusus yang menyeleksi maupun mengevaluasi ide-ide pengembangan plug-in dalam Komunitas SLiMS Kudus. Seluruh anggota memiliki hak yang sama untuk memberikan masukan atau apresiasi atas gagasan siapapun yang hendak berkreasi. Segala keputusan untuk mengembangkan sebuah plug-in ada di tangan individu masing-masing—karena yang akan mengeksekusi ide tersebut juga sendiri-sendiri. Di sisi lain, persamaan antara model pengembangan open-sourceoleh Ibrahim Haddad & Brian Warner dengan pengembangan plug-in oleh Komunitas SLiMS Kudus adalah inspirasi ide fitur didapatkan di forum diskusi komunitas. Ide-ide pengembangan plug-in sendiri didapatkan dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam forum forum Komunitas SLiMS Kudus seperti di grup Facebook, WhatsApp, dan juga Telegram. Tahap Architecture and Design Discussion (Perancangan Desain dan Arsitektur Kode Fitur) dalam Pengembangan Plug-in di Komunitas SLiMS Kudus Pada tahap ini, Ibrahim Haddad dan Brian Warner22mengatakan bahwa salah satu faktor yang berperan dalam kesuksesan model pengembangan open source adalah transparasi dan kemampuan untuk mengakomondasi kolaborasi terdistribusi antar tim proyek. Kedua hal ini bisa dicapai dengan menggunakan metode komunikasi yang bisa diakses oleh semua anggota komunitas untuk diskusi perihal rancangan desain kode, pengambilan keputusan strategis, dan tinjauan kode (code review), seperti menggunakan Milis dan IRC. Seperti yang telah dijelaskan di tahap pengajuan ide fitur (feature request), pengembangan plug-in dalam Komunitas SLiMS Kudus dilakukan berdasarkan inisiatif perorangan. Walaupun pengembangan plug-in dilakukan atas dasar inisiatif sendiri, beberapa individu terkadang berkumpul bersama untuk berdiskusi baik seputar permasalahan aplikasi SLiMS secara umum maupun mengenai pengembangan plug-in SLiMS yang sedang dilakukan oleh mereka. Individu disini merupakan divisi IT Komunitas SLiMS Kudus. Perbedaan yang tampak antara pengembangan plug-in oleh Komunitas SLiMS Kudus dengan model pengembangan open-source oleh Ibrahim Haddad & Brian Warner dalam tahap ini adalah proses diskusi perihal rancangan desain dan arsitektur kode plug-in SLiMS tidak dilakukan melalui media komunikasi apapun seperti milis, IRC, maupun media sosial secara umum. Hal ini sehubungan dengan pengembangan plug-in SLiMS yang dilakukan masing-masing atas inisiatif sendiri anggota Komunitas SLiMS Kudus. Komunikasi seputar pengembangan plug-in tidak terjadi dalam grup komunitas. Meskipun terkadang ada anggota yang berkumpul bersama untuk berdiskusi, perkumpulan itu bukanlah sesuatu yang rutin dilakukan setiap adanya proyek pengembangan plug-in dan bukan pula agenda wajib komunitas. Perkumpulan tersebut pun dilakukan secara langsung tatap muka sehingga proses diskusi tidak terdokumentasikan secara menyeluruh. Tahap Implementasi/Kodingdalam Pengembangan Plug-in di Komunitas SLiMS Kudus Model pengembangan open-source menurut Ibrahim Haddad & Brian Warner23 sangat menekankan pada pengembangan kolaboratif dan tinjauan sejawat (peer review) mulai dari pencetusan ide pertama hingga fitur yang dikembangkan sudah final. Lebih lanjut lagi, Ibrahim Haddad dan Brian Warner menjelaskan kalau sebagian besar proyek open-source menggunakan alat yang telah berkembang untuk mendukung code contribution (kontribusi kode) secara simultan dari banyak kolaborator yang tersebar. Contohnya yaitu Open-source Git Repository System yang khusus dibuat untuk mendukung pengembangan Linux, tempat ribuan kontributor mengajukan kode untuk setiap rilisan yang diberikan. Seperti yang dijelaskan pada dua tahap sebelumnya, pengembangan plug in SLiMS dalam Komunitas SLiMS Kudus dilakukan sendiri-sendiri atas dasar kemauan masing-masing. Ini berarti pengimplementasian atau pengkodingan desain arsitektur kode plug-in dilakukan sendiri oleh individu yang ingin mengembangkan plug-in tersebut. Sehubungan dengan hal di atas, peneliti sempat menemukan artikel mengenai tutorial pemasangan plug-in slip dan kartu buku SLiMS 9 Bulian di goslims.web.id. Dalam artikel tersebut tertera bahwa plug-in tersebut dimodifikasi oleh MZ dan ESB. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa terdapat proses komunikasi dan koordinasi yang dilakukan antara pengembang yang satu dengan yang lainnya. Gambar II Artikel Tutorial Pemasangan Plug-in Slip dan Kartu Buku yang Dikembangkan oleh MZ & ESB di Goslims.web.id Proses modifikasi terjadi dengan tahap seperti berikut: Plug-in berkembang dengan cara seseorang membuat plug-in, kemudian plug-in yang sudah ada diunduh dan dikembangkan oleh orang lain sesuai dengan keinginannya sendiri. Plug-in yang sudah dikembangkan tersebut diunduh dan dimodifikasi lagi dan begitu seterusnya. Proses berkesinambungan tersebut terjadi karena sejak awal aplikasi dan pengembangannya bersifat open-source yang membebaskan siapapun untuk mengembangkannya. MZ menjelaskan bahwa plug-in kartu buku yang dimodifikasi oleh beliau dan ESB adalah buatan dari M. Sebelumnya plug-in tersebut hanya bisa diaplikasikan di SLiMS versi 3. MZ tergerak untuk mengembangkan plug-in itu agar bisa diterapkan di SLiMS versi 5 dan 7. Ia mengunduh plug-in tersebut, memodifikasi kode plug-in tersebut, kemudian membagikan plug-in hasil modifikasi tersebut di website Komunitas SLiMS Kudus. Hal ini menandakan bahwa ketika terdapat orang lain yang melakukan hal yang serupa, maka hal tersebut diperbolehkan karena memang begitu sifat alami dari open-source. Berdasarkan pemaparan di atas, proses implementasi dan koding dalam pengembangan plug-in oleh Komunitas SLiMS Kudus dilakukan secara kolaboratif. Di bawah ini ini merupakan daftar plug-in yang didokumentasikan dalam website Komunitas SLiMS Kudus Tabel I Daftar Plug-in yang Didokumentasikan dalam Website Komunitas SLiMS Kudus No Nama Plug-in SLiMS dalam Website Komunitas SLiMS Kudus & Tanggal pendokumentasian di Website Pengembang Plug-in Status Pengembang dalam Komunitas SLiMS Kudus 1 Plug-in E-DDC SLiMS (3/5/2015) 2 Plug-in SLiMS 8 Kartu Bebas Pustaka Versi 2: Hasil pengembangan dari plug-in kartu bebas pustaka SLiMS 5 (29/4/2017) 3 Plug-in Member Card Print Setting 2 Sisi SLiMS 5 (19/4/2019) 4 Plug-in Free Loan Card SLiMS 5 (19/4/2019) 5 Plug-in Custom Print Label and Barcode SLiMS 5 (19/4/2019) EW (pembuat) YD (pembuat); MZ (pengembang) JAS (pembuat) YD (pembuat) MT (pembuat) MZ: salah satu pengurus komunitas, pengelola website komunitas Masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai anggota grup 6 Plug-in Label Barcode Berwarna SLiMS 5 (19/4/2019) 7 Plug-in Kartu Buku (19/4/2019) HS (Pembuat) MT (Pembuat) 8 Plug-in Book Slip (19/4/2019) MT (Pembuat) 9 Plug-in SLiMS Wordpress (28/3/2015) ES 10 Plug-in Label Warna Barcode di Kiri Callnumber DDC Copy Ke (11/2/2015) 11 Plug-in SLiMS Label Plus Barcode (Warna) (17/3/14) 12 Plug-in SLiMS 7 Label Barcode Rotasi: Hasil pengembangan Plug-in Label Barkod Warna pada SLiMS 7 (11/10/2014) 13 Plug-in Grafik Pengunjung Perpustakaan pada SLiMS 7 & 8: Hasil pengembangan Plug-in Grafik Pengunjung Perpustakaan SLiMS 3.X (30/1/2017) 14 Plug-in Cetak Label Barcode SLiMS 7 (10/3/2014) 15 Plug-in Label Barcode Warna untuk SLiMS 9 (18/9/2019) HS MT (pembuat); SH (pengembang) AAH (pembuat); MZ (pengembang) HS (pembuat); MZ (pengembang) AAH (pembuat) HS (pembuat) Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. MZ: salah satu pengurus komunitas, pengelola website komunitas HS: Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. MZ: salah satu pengurus komunitas, pengelola website komunitas Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. 16 Plug-in SLiMS 5/7 Pengembalian Kilat Ada Sisa Pinjamannya (23/9/2014) 17 Plug-in Buku Induk Untuk SLiMS 8 V2: Hasil Pengembangan dari Plug-in Buku Induk Untuk SLiMS 8 (1/5/2017) 18 Plug-in Cetak Kartu Buku dan Slip Buku SLiMS 7: Hasil pengembangan dari Plug-in Cetak Kartu Buku dan SLiMS Buku SLiMS 5 (5/10/2014) 19 Plug-in Usul / Pesan Buku Online SLiMS 7 20 Plug-in Kartu Bebas Pustaka SLiMS 7: Hasil pengembangan dari plug-in kartu bebas pustaka SLiMS 5 (2/10/2014) 21 Plug-in SLiMS 5/7 Filter Pelaporan Daftar Peminjaman Anggota Berdasarkan Tipe Anggota (23/9/2014) 22 Plug-in Grafik Laporan Visitor Daftar Pengunjung Sesuai Lomba Perpustakaan Sekolah, Tricky SLiMS (26/2/2014) 23 Plug-in Buku Induk untuk SLiMS 7 (12/2/2015) 24 Plug-in SLiMS on Drupal 7 (27/3/2015) HS (pembuat) HS (pembuat); MZ (pengembang) MBS (pembuat); MZ (pengembang) - (Tidak ada keterangan) YD (Pembuat); MZ (Pengembang) HS (pembuat) IA (Pembuat) HS (pembuat) IS (Pembuat); Arie NG (pembuat, tetapi versi yang beda dari IS) Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. MZ: salah satu pengurus komunitas, pengelola website komunitas MZ: salah satu pengurus komunitas, pengelola website komunitas MZ: salah satu pengurus komunitas, pengelola website komunitas Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. Bukan pengurus, tetapi masuk dalam grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus sebagai admin grup. Tahap Continuous Testing and Integration (Uji coba) dan Deployment (Perilisan) dalam Pengembangan Plug-in di Komunitas SLiMS Kudus Proses uji coba plug-in yang dikembangan berdasarkan model pengembangan open-source oleh Ibrahim Haddad dan Brian Warner24 dilakukan sesegera mungkin karena model ini sangat menekankan untuk pendeteksian masalah dan memperbaikinya sedini mungkin. Lebih lanjut lagi, Ibrahim Haddad dan Brian Warner menjelaskan bahwa dalam perilisan fitur aplikasi open-source yang dikembangkan, fitur tersebut biasanya membuat snapshot dari rilisan fitur terakhir yang sudah stabil dan juga snapshot terkini dari kode fitur yang sedang dikembangkan. Ini bertujuan agar pengguna bisa mendapatkan rilisan fitur stabil yang terbaru, sementara di saat bersamaan para developer bisa bekerja dengan kode fitur terbaru yang saat ini sedang dikembangkan. Proses pengujicobaan plug-in SLiMS dilakukan dengan percobaan menggunakan kode plug-in yang telah dikembangkan di localhost minimal tiga kali. Setelah plug-in dirasa sudah baik, kode plug-in baru akan diunggah di website Komunitas SLiMS Kudus (http://www.slimskudus.web.id) dan disebar di media sosial, grup Whatsapp, dan Telegram komunitas. Gambar III Website Komunitas SLiMS Kudus Gambar IV Grup Telegram Komunitas SLiMS Kudus Plug-in yang telah dikembangkan juga dibuatkan tutorial penggunaannya di website Komunitas SLiMS Kudus. Sebagaimana halnya pembuatan plug-in, beberapa artikel tutorial dalam website tersebut juga tidak seluruhnya murni dibuat oleh satu orang saja, melainkan kerja kolektif. Meskipun begitu, bukan berarti artikel yang berasal dari sumber lain tersebut di-copy-paste begitu saja. Pada laman About Us diketahui bahwa artikel yang berasal dari sumber lain ditulis ulang dengan cara yang dianggap lebih mudah dipahami pembaca. Gambar V Laman About Us di Website Komunitas SLiMS Kudus Tahap Maintenance (Perbaikan) dalam Pengembangan Plug-in di Komunitas SLiMS Kudus Pada tahap ini, Ibrahim Haddad dan Brian Warner tidak menjelaskan secara khusus apa yang dilakukan dalam tahap maintenance dalam model pengembangan open-source. Plug-in yang telah juga diunggah ke Github milik Komunitas SLiMS Kudus (http://github.com/slimskudus). Tujuan plug-in tersebut diunggah ke Github adalah supaya pengembang plug-in maupun pengguna bisa melacak (track) perubahan yang terjadi dalam kode plug-in yang diunggah. Dengan cara tersebutlah maintenance plug-in SLiMS yang telah dikembangkan dilakukan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa maintenance plug-in tidak dilakukan secara terjadwal, melainkan berdasarkan skala prioritas kebutuhan yang dibuat oleh pengembang itu sendiri.

Conclusion

Jika diamati dari proses pengembangan plug-in SLiMS oleh Komunitas SLiMS Kudus, terlihat bahwa pengembangan plug-in SLiMS dilakukan berdasarkan inisiatif masing-masing individu dari anggota Komunitas SLiMS Kudus. Mengenai hal tersebut, peneliti menemukan beberapa hal terkait dengan keterlibatan Komunitas SLiMS Kudus dalam pengembangan plug-in SLiMS, yaitu berperan sebagai sumber inspirasi dan wadah penyebaran hasil pengembangan plug-in SLiMS yang dilakukan oleh anggota Komunitas SLiMS Kudus. Anggota Komunitas SLiMS Kudus dapat menyebarkan hasil pengembangan plug-in mereka di website slimskudus.web.id, di grup Facebook, Whatsapp, dan Telegram Komunitas SLiMS Kudus. Penyebaran melalui website komunitas dikelola oleh beberapa orang. Pengembang juga dapat personal menyebarkan tutorial dari hasil pengembangan plug-in SLiMS yang dilakukannya sendiri di website tersebut. Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa peran Komunitas SLiMS berkontribusi aktif dalam pengembangan aplikasi SLiMS, baik pada aplikasinya itu sendiri maupun plug-in, sebagaimana yang dilakukan oleh Komunitas SLiMS Kudus. Mereka juga membantu menjawab pertanyaan seputar SLiMS di grup FB, WA, Telegram, dan media sosial komunitas SLiMS lainnya. Selain itu, mereka juga menulis artikel, tutorial, dan petunjuk penggunaan aplikasi SLiMS dan segala fitur yang berkaitan, atau menyumbangkan hasil pengembangan plug-in maupun fitur SLiMS lainnya. Peneliti menyarankan Komunitas SLiMS Kudus dan komunitas SLiMS lainnya untuk melakukan kegiatan belajar bareng seputar pengembangan plug-in SLiMS maupun aplikasi SLiMS secara umum yang sifatnya rutin dan terjadwal. Kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan konsep seperti sinau bareng yang dilakukan oleh beberapa komunitas sejenis baik secara luring maupun daring. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman bahwa siapapun dapat ikut berkontribusi dalam mengembangan aplikasi SLiMS dan aplikasi-aplikasi open source lainnya. Semakin banyak yang ikut berkontribusi mengembangkan sebuah aplikasi open-source, semakin baik pula kualitas aplikasi tersebut.