Kompetensi Tenaga Perpustakaan Bagian Pengolahan Bahan Pustaka Dalam Memanfaatkan Aplikasi Inlislite
Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara
Abstrak
Automasi perpustakaan merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan oleh perpustakaan dimasa perkembangan teknologi teknologi masa kini. Banyaknya software automasi perpustakaan yang dapat digunakan untuk menunjang segala kegiatan perpustakaan dan tenaga perpustakaan dalam melakukan pekerjaannya secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompe tensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite yang ditinjau dari aspek pengetahuan, keterampilan, perilaku/ sikap kerja dan hambatan yang ada di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan teori social cognitive theory yang berkaitan dengan teori belajar sosial. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi tenaga perpusta akaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLIS Lite dari aspek pengetahuan, keterampilan dan perilaku/ sikap kerja dapat dikatakan baik .
Abstract
Library automation is one solution that can be used by libraries during the development of today's technology. There are many library automation software that can be used to support all library activities and library staff in carrying out their work effectively and efficiently. This study aims to determine the competence of library staff in the processing of library materials in cataloging by utilizing the INLIS Lite application in terms of knowledge, skills, behavior / work attitudes and obstacles in the Bandung Regency Archives and Library Service. This study uses social cognitive theory which is related to social learning theory. In this study using qualitative research methods with a descriptive approach. The data collection techniques in this study were through observation, interviews and documentation studies. The results obtained in this study indicate that the competence of the library staff in the processing of library materials in cataloging by utilizing the INLIS Lite application from the aspect of knowledge, skills and behavior/work attitude can be said to be good.
Keywords:
social cognitive theory
· competence
· librarians
· INLIS Lite application
Introduction
Pada era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini telah menyebar hampir disegala bidang termasuk perpustakaan. Harpida (2016) mengungkapkan bahwa “perpustakaan adalah sebuah lembaga atau tempat yang menghimpun, mengatur dan mengoraganisasikan berbagai jenis sumber informasi baik cetak maupun non cetak”. Perkembangan teknologi masa kini telah menuntut perpustakaan untuk ikut berkembang agar tidak ditinggalkan oleh pemustaka dengan lebih mengembangkan layanan berbasis digital. Hal ini dikarenakan adanya pergeseran pola atau perilaku pencarian informasi generasi saat ini yang lebih nyaman dengan mengguna kan teknologi informasi (Aeni, Indah, & Syam, 2019). Penerapan teknologi informasi tersebut dapat memudahkan pemustaka dalam pemanfaatan layanan perpustakaan secara efektif dan efisien. Salah satu contoh pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan ialah dengan menyediakan sistem informasi perpustakaan. Hal senada juga dijelaskan oleh Hidayat (2019) yang mengungkapkan bahwa “sistem informasi perpustakaan bertujuan untuk membantu pekerjaan pustakawan seperti mengolah data perpustakaan dengan menggunakan perangkat digital”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan adanya penerapan sistem informasi tersebut dapat meringankan pekerjaan pustakawan dalam mengelola perpustakan dengan efektif dan efisien. Sistem informasi perpustakaan pada umumnya diolah secara sistematik baik oleh manusia ataupun mesin yang memuat informasi untuk mendukung fungsi operasional, manajemen dan pengambilan keputusan dalam suatu instansi/ lembaga misalnya mengatur manajemen pengolaan dan manajemen layanan - layanan yang diberikan oleh perpustakaan yang menyediakan akses terhadap koleksi dokumen yang tersedia. Rahayuningsih (2013) mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan penggunaan sistem operasi dalam pekerjaan perpustakaan diharapkan dapat memperbaiki kinerja perpustakaan dan meningkatkan kualitas kepuasan penggunanya. Namun dalam penerepan sistem informasi perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk mengetahu i dan melihat seberapa efektif sistem tersebut dalam membantu operasional tenaga perpustakaan/ pustakawan maupun pemustaka. Hartono (2016) bahwa untuk mengukur efektifitas dalam penerapan sistem informasi pada perpustakaan dapat dinilai dari technically feasible (kelayakan teknis), economically profitable (menguntungkan secara ekonomi), dan socially acceptable (secara sosial dapat diterima). Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bandung merupakan perpustakaan umum yang berada dibawah naungan instansi pemerintah yang melayani masyarakat umum, khususnya menyediakan sarana penyedia informasi bagi masyarakat Kabupaten Bandung secara gratis. Pada dasarnya perpustakaan ini telah menggunakan aplikasi INLISLite sejak tahun 2013. Sebelum menggunakan aplikasi INLI SLite perpustakaan ini masih menggunakan manual. INLISLite merupakan perangkat lunak ( software ) aplikasi automasi perpustakaan yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS RI) pada tahun 2011. INLISLite merupakan akronim dari kata Integrated Library System , nama dari perangkat lunak manajemen informasi perpustakaan terintegrasi yang dibangun sejak tahun 2003 untuk keperluan kegiatan rutin pengelolaan informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS RI). Pengguna dapat mengakses INLISLite Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung dengan mengunjungi laman http://perpus.bandungkab.go.id/. Bagi pemustaka yang mengakses INLISLite Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia seperti pengaksesan OPAC untuk mengetahui ketersediaan koleksi yang ada di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung, peminjaman dan pengembalian koleksi secara mandiri berbasis online, pencarian artikel, buku tamu, baca di tempat dan keanggotaan on line. Sedangkan menu/fitur yang dapat digunakan oleh tenaga perpustakaan yakni menu back office . Kompetensi tenaga ahli di bidang perpustakaan memiliki peranan penting dalam keberhasilan dan kemajuan suatu perpustakaan. Edison (2017) bahwa kompetensi Memiliki peranan penting dalam membuat sistem perkembangan pada setiap perusahaan/ organisasi untuk mencapai tujuan yang diharapkannya. Begitupun dalam instansi, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung yang merupakan instansi penyedia layanan umum yang secara langsung kompetensi tenaga perpustakaan atau pustakawannya dinilai oleh masyarakat atau pemustaka. Peralihan dari sistem manual ke sitem otomasi INLISLite menjadikan tantangan tersendiri dalam pengoperasiannya bagi tenaga perpustakaan khususnya bagian pengolahan bahan pustaka di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung. Penggunaan sistem otomasi tersebut tentunya memiliki dampak terhadap kinerja tenaga perpustakaan atau pustakawan. Hartono (2016) juga mengungkapkan bahwa “penerapan teknologi informasi dalam suatu perpustakaan menuntut perpustakaan dan pustakawan untuk dapat responsif dalam mengaktualisasikan diri agar dapat memberikan layanan optimal bagi pengguna”. Dalam pengelolaan perpustakaan, tenaga perpustakaan harus memiliki kompetensi yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap berkaitan dengan penyediaan informasi dan pemecahan masalah informasi serta keahlian dalam menggunakan berbagai sumber, baik tercetak maupun elektronik. Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung diketahui bahwasannya selama penerapan INLISLite sejak tahun 2017 - 2020 belum adanya pengukuran kompetensi tenaga perpustakaan khususnya pada bagian pengolahan bahan pustaka. Kessler (2011) mengungkapkan bahwasann ya “pengukuran kinerja berbasis kompetensi adalah bagaimana organisasi mengevaluasi karyawan berdasarkan hasil kerja sesuai dengan apa yang telah karyawan lakukan dan bagaimana karyawan melakukan pekerjaan tersebut”. Selain itu, berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwasannya latar belakang pendidikan tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung berasal dari beragam jenjang pendidikan mulai dari magister teknik, sarjana ilmu sosial hingga SLTA. Kendati demikian, terdapat beberapa tenaga perpustakaan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung telah mengikuti seminar ataupun workshop mengenai pengolahan INLISLite sebanyak satu sampai dua kali sepanjang tahun 2017 - 2020. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Kompetensi Tenaga Perpustakaan Bagian Pengolahan Bahan Pustaka Dalam Memanfaatkan Aplikasi INLIS Lite ”. B. TINJAUAN PUSTAKA Dalam sebuah penelitian tentunya dibutuhkkan dukungan dari berbagai hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti. Adapun beberapa penelitian terdahulu , yakni , p ertama yang dikemukakan oleh Noviana dan Athanasia (2015) dengan judul “Dampak Perubahan Sistem Otomasi LI MAS ke INLISLite Bagi Kinerja Pustakawan Di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang”. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Noviana dan Athanasia mengemukakan bahwasannya Pustakawan bagian pengolahan merasa terbantu dengan peralihan sistem dari LIMAS ke INLISLite yang mana pada INLIS Lite sistem pengolahannya memudahkan pustakawan dalam mengolah bahan pustaka. Pustakawan bagian layanan dapat melayani pemustaka lebih cepat, seperti pada bagian peminjaman dan pengembalian bahan pustaka, keanggotaan dan lain sebagainya . Kedua penelitian yang dikemukaan oleh Wulandari (2019) yang berjudul “Penerapan Otomasi Perpustakaan Berbasis INLISLite V.3.1 Bagi Pustakawan di Perpustakaan Al - Washliyah Banda Aceh”. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Amas Wulandari ini mengungkapkan bahwasannya penerapan INLISLite V.3.1 di perpustakaan Perguruan Tinggi Al - Washliyah Banda Aceh memudahkan dan mempercepat kinerja pustakawan dalam segala jenis kegiatan pengelolaan perpustakaan khususnya pengolahan bahan pustakawan. Dengan penerapan INLISLite V.3.1 pustakawan bagian pengolahan bahan pustaka dapat menginput bahan pustaka lebih cepat dan tepat. Adapun beberapa kendala yang didapati dalam penerapan aplikasi INLISLite V.3.1 di perpustakaan Perguruan TinggiAlwashliyah Banda Aceh yakni pustakawan masih kesulitan dalam instalasi aplikasi, kurangnya fasilitas, kurangnya penyediaan dana serta minimnya pengetahuan pustakawan terhadap aplikasi INLIS Lite V.3. Ketiga penelitian yang dikemukakan oleh Abdul Hamid (2015) yang berjudul “Penerapan INLISLite (Integrated Library System) Di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan”. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa penerapan INLISLite di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan belum diterapkan secara optimal. Kurangnya SDM yang mengelola perpustakaan dan minimnya anggaran menjadikan salah satu faktor dari kendala penerapan INLISLite di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu diatas, terdapat perbedaan pada penelitian ini lebih membahas mengenai bagaimana kompetensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite yang ditinjau dari aspek pengetahuan, keterampilan, perilaku kerja/ sikap kerja dan hambatan dalam pemanfaatan aplikasi INLI S Lite di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung. Perkembangan TIK telah mengantarkan manusia pada perubahan sosial. Lingkungan dan perkembangan TIK telah menuntut manusia masa kini untuk terus berkembang agar tidak ketinggalan zaman. Menurut Bandura (dalam Abdullah, 2019) mengungkapkan bahwa “kemampuan kognitif manusia dalam berpikir dan belajar melalui pengamatan sosial yang berkaitan dengan motivasi, emosi dan tindakan manusia”. Dalam hal ini tenaga perpustakaan dituntut untuk mengikuti perkembangan TIK agar dapat meningkatkan kompetensi dan citra diri positif yang ada pada dirinya. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia layanan informasi harus dapat mengimbangi perkembangan zaman denga n menyediakan layanan berbasis TIK termasuk perpustakaan umum. Rahayuningsih (2013) mengungkapkan bahwa “perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang didirikan untuk melayani semua anggota masyarakat yang membutuhkan jasa informasi dan perpustakaan”. Perpustakaan umum bersifat terbuka untuk umum yang dibiayai dan didanai dari dan untuk masyarakat umum. Perpustakaan umum menyediakan berbagai sumber informasi melalui koleksi perpustakaan yang tersedia. Menurut Suwarno (2011) mengungkapkan bahwa “koleksi adalah kumpulan bahan pustaka yang ada di perpustakaan dan sudah di olah berdasarkan aturan tertentu yang nantinya dapat untuk dipinjamkan atau digunakan oleh pemakai”. Amaliah (2011) mengungkapkan bahwa pada perpustakaan umum terdapat beberapa jenis koleksi, yakni: Pertama, buku teks atau monografi yang membahas mengenai suatu permasalahan dari karya pengarang tunggal, ganda maupun editor. Monografi dapat berupa sebuah karya asli, terjemahan ataupun saduran yang dibentuk dalam satu buku atau beberapa jilid buku. Kedua, buku fiksi ialah buku yang menceritakaan rekaan, sebagainya contohnya ialah cerpen dan novel. Ketiga, majalah terbitan berkala seperti mingguan, bulanan yang berisikan informasi mutakhir. Keempat, brosur atau pamflet merupakan salah satu terbitan yang isinya bersifat sementara dengan berisikan beberapa uraian mengenai suatu hal - hal actual yang diterbitkan dalam jumlah terbatas dan tidak di perjual belikan. Kelima, buku referensi seperti kamus, ensiklopedia dan lain sebagainya. Sebagai penyedia jasa informasi, perpustakaan memiliki peranan penting dalam menyimpan, mengolah dan mendistribusikan informasi secara efektif dan efisien. Suwarno (2011) mengungkapkan bahwa “pengolahan bahan pustaka merupakan proses mempersiapkan bahan pustaka untuk digunakan di perpustakaan”. Agar koleksi perpustakaan mudah untuk dicari dan ditemukan kembali, untuk itu perpustakaan harus dapat menerapkan pengolahan bahan koleksi yang baik dan benar salah satunya dibutuhkan pengolahan katalogisasi bahan pustaka. Rahayuningsih (2013) menjelaskan bahwa “katalogisasi adalah sebuah proses pembuatan daftar keterangan lengkap mengenai koleksi yang disusun berdasarkan aturan tertentu”. Katalog perpustakaan memuat data yang berisikan bibliografi pada suatu katalog kartu maupun katalog terbacakan atau Online Public Access Catalogue (OPAC) . Hasil pekerjaan katalogisasi adalah katalog yang memuat keterangan - keterangan lengkap mengenai kondisi fisik suatu koleksi atau bahan pustaka. Adanya katalog dapat memudahkan pengguna dalam memanfaatkan koleksi yang tersedia di perpustakaan secara efektif dan efisien. Melalui katalog pengguna dapat mengetahui informasi lengkap mengenai bahan koleksi yang tersedia dari berbagai aspek seperti aspek bibliografis, isi, lokasi atau tempat penyimpanan dan keterangan lainnya. Dalam dunia perpustakaan terdapat beberapa jenis katalog yang biasa digunakan pada berbagai jenis perpustakaan. Hartono (2016) menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis katalog, diantaranya: Petama, katalog pengarang merupakan katalog yang dibuat bedasarkan susunan abjad nama pengarang. Kedua, katalog Judul ialah katalog yang disusun bedasarkan abjad judul daftar koleksi yang tersedia di perpustakaan. Ketiga, katalog subjek adalah katalog yang penyusunannya disusun berdasarkan subjek bahan koleksi yang ada di perpustakaan. Dalam penyusunan nya katalog subjek menjadi dua, yakni: Katalog subjek yang disusun berdasarkan abjad judul dan Katalog sabjek yang disusun berdasarkan urutan klasifikasi. Pengolahan perpustakaan tentunya tak lepas dari peranan tenaga profesional yakni tenaga perpustakaan / pustakawan yang mampu mengelola perpustakaan secara efektif dan efisien. Dalam Undang - Undang No.43 Tahun 2007 tentang perpustakaan menjelaskan bahwa tenaga perpustakaan terdiri dari pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan. Pada Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 1 ayat 8 dijelaskan secara rinci bahwasannya pustakawan merupakan seseorang yang memiliki kompetensi melalui pendidikan maupun pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan pengelolaan dan pelayanan di perpustakaan. Sedangkan yang dikatakan tenaga teknis perpustakaan merupakan tenaga non pustakawan yang terdapat di perpustakaan yang terdiri dari tenaga administrasi, teknisi, sekretaris, bendahara dan tenaga lainnya. Kompetensi tenaga perpustakaan/ pustakawan memiliki peranan penting dalam mengelola perpustakaan. Hutapea dan Toha (2008) mengungkapkan bahwa terdapat tiga komponen utama dalam pembentukan kompetensi, taitu, pertama, pengetahuan ( k nowledge) yang memiliki peranan penting dalam kompetensi yang dimiliki individu termasuk pustakawan dan tenaga perpustakaan. Pengetahuan yang dimiliki pustakawan memiliki peranan signifikan terkait kompetensi yang dimilikinya dan dapat memiliki dampak terhadap kinerjanya . Haryono (2018) menjelaskan bahwa “pada umumnya pengetahuan timbul dari pengalaman, perenungan (reflection) yang kemudian berkembang melalui sebuah kesimpulan (inference)” . Dalam hal ini pengetahuan pustakawan dapat menentukan keberhasilan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan berbekal pengetahuan yang cukup dapat meningkatkan efesiensi suatu perpustakaan. Kedua, keterampilan yang merupakan sebuah ilmu lahiriah yang ada pada diri manusia yang perlu dipelajari secara mendalam dengan mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Lian (2017) menjelaskan bahwasannya “keterampilan merupakan perilaku yang berkenaan dengan tugas yang dapat dikuasai melalui pembelajaran dan dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan bantuan orang lain”. Hikmawati (2021) mengungkapkan bahwa “keterampilan ialah seuatu kemampuan yang harus dikuasai setiap individu/karyawan sebagai bekal dalam mencetak prestasi pada suatu bidang pekerjaan”. Ketiga, perilaku kerja atau sikap (Attitude) . Definisi perilaku menurut Lian (2017 ), yaitu perwujudan dari kepribadian dan sikap yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungan disekelilingnya”. Dalam hal ini, perilaku kerja atau sikap individu di sebuah organisasi memiliki peranan penting dalam keberhasilan suatu organisasi. Menurut Sinamo (dalam Haryono, 2018) mengungkapkan bahwa: Terdapat beberapa paradigma di tingkat perilaku kerja yang dapat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pribadi maupun organisasi diantaranya seperti melakukan pekerjaan dengan tulus secara tuntas,benar, bekerja keras, serius, kreatif, bekerja unggul da n bekerja sempurna. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat diketahui bahwasannya perilaku kerja yang baik dapat mempengaruhi keberhasilan individu dan organisasi. Perilaku kerja yang baik dalam individu seorang pustakawan dapat meningkatkan keberhasilannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Seorang pustakawan diharapkan memiliki perilaku kerja yang baik agar dapat meningkatkan keberhasilan suatu lembaga ataupun instansi yang menaunginya dengan menunjukkan perilaku bekerja tulus, tuntas, benar, bekerja keras, serius, kreatif unggul dan tepat. Dengan memiliki perilaku kerja demikian, tentunya pustakawan dapat menunjukkan kualitas dirinya di lingkungan pekerjaannya. Adanya peranan teknologi informasi yang digunakan perpustakaan diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kinerja perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan penggunanya. Rahayuningsih (2013) mengungkapkan bahwa “komputerisasi perpustakaan merupakan penggunaan komputer pada setiap tahap pekerjaan di perpustakaan yang telah terintegritasi dengan penggunaan suatu sistem tertentu”. Dalam pemanfaatan komputerasi dan teknologi informasi di perpustakaan tentunya bukan hal yang mudah. Perlunya mempertimbangkan berbagai aspek bagi perpustakaan yang hendak memanfaatkan komputerisasi dan teknologi informasi di perpustakaannya. Rahayuningsih (2013) menyebutkan bahwa dalam melaksanakan komputerisasi perpustakaan terdapat beberapa hal yang harus di perlukan oleh suatu perpustakaan, diantaranya: Pertama, Sumber Daya Manusia , yakni petugas perpustakaan yang mengoperasikan sistem komputer dan petugas perpustakaan yang memiliki tanggung jawab terkait penggunaan dan pemeliharaan sistem komputer serta pemeriksaan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan komputer yang digunakan pada suatu perpustakaan. Kedua, perangkat keras (hardware ) merupakan segala perlengkapan fisik pada sebuah kompyter yang terdiri da ri: (a) Perangkat masukan (Input Device) dimana perangkat masukan ini memiliki fungsi untuk memasukkan data kedalam komputer dalam bentuk yang dapat dibaca oleh komputer, seperti: keyboard, mouse, scanner, barcode scanner dan lainnya ; (b) Perangkat keluaran (Output Device) merupakan perangkat keluaran (output) yang mengubah informasi digital dari komputer ke bentuk yang dapat dimengerti oleh manusia misalnya monitor, printer, speaker dan lain sebagainya. Ketiga, media penyimpanan data ialah perangkat keras yang memiliki fungsi sebagai media untuk penyimpanan data dan program secara permanen, seperti contohnya harddisk, CD - ROM, Flash disk dan lain sebagainya. Keempat, peralatan komunikasi adalah perangkat keras yang biasa digunakan untuk berhubungan antar komputer lain, seperti LAN, Modem dan lain sebagainya. Kelima, perangkat lunak (Software) merupakan sebuah program komputer yang dapat digunakan untuk melaksanakan berbagai proses pekerjaan di perpustakaan mulai dari pekerjaan pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, penelusuran bahan pustaka dan lain sebagainya. Keenam, data merupakan informasi, fakta dan angka - angka yang telah diolah oleh komputer menjadi informasi digital dan disusun dalam sebuah basis data, misalnya basis data mengenai ketersediaan koleksi yang ada di perpustakaan, keanggotaan perpustakaan, dan pengunjung perpustakaan. Dalam sebuah sistem otomasi perpustakaan tak lepas dari peranan sebuah perangkat lunak (software) . Hingga saat ini terdapat beberapa perangkat lunak ( software) yang dapat membantu sistem otomasi perpustakaan, salah satunya ialah INLIS Lite. INLIS Lite merupakan sebuah perangkat lunak atau aplikasi yang menyediakan sarana pengelolaan data perpustakaan berbasis teknologi informasi. INLIS Lite dibuat secara resmi oleh Perpustakaan Nasional RI sejak tahun 2011. Menurut Rifo (2018) mengungkapkan bahwa: INLISLite adalah sistem aplikasi otomasi perpustakaan yang telah terintegrasi dalam mendukung segala kegiatan di perpustakaan seperti pengadaan, pengolahan dan sirkulasi serta fungsi manajerial yang dikemas dalam bentuk laporan - laporan yang memudahkan dalam pengambilan keputusan pada bidang perpustakaan dan melakukan tindakan yang diperlukan dalam mengelola perpustakaannya. Sebagai salah satu perangkat lunak sistem otoma si perpustakaan, INLIS Lite memiliki beberapa karakteristik. Hakim (2016) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa karakteristik dari INLISLite , yaitu INLISLite merupakan software otomasi perpustakaan yang telah mengikuti standar metadata MARC (Machine Readable Cataloguing) dalam pembuatan katalog digitalnya. Untuk mengetahui informasi terkait MARC dapat diakses pada situs web http://www.loc.gov/marc . Selain itu, INLISLite merupakan software berbasis web (webbased application software) yang mana dalam mengoperasikannya menggunakan aplikasi browser internet yang biasa digunakan untuk menjelajahi informasi di internet. Dalam penerapan sistem otomasi perpustakaan tentunya terdapat beberapa hambatan ataupun kendala yang dihadapi. Mahmun (dalam Soraya , 2017) mengungkapkan bahwa secara garis besar terdapat beberapa hambatan dalam penerapan otomasi perpustakaan, diantaranya: (a) Rendahnya pengetahuan teknologi informasi yang dimiliki pustakawan Indonesia, dimana masih banyak pustakawan yang kurang melek terhadap perkembangan teknologi informasi ; (b) SDM yang kurang memadai dalam mengatasi permasalahan yang ada di perpustakaan ; (c) b elum tersedianya format standarisasi otomasi perpustakaan sehingga setiap perpustakaan memiliki format yang berbeda , sehingga menyulitkan proses pertukaran data antar perpustakaan ; (d) b elum tersedianya standarisasi peraturan pengkatalogan nasional sebagai contohnya pengkatalogan di Indonesia belum seragam dimana masih adanya perbedaan an tara penentuan tajuk entri utama nama pengarang ; dan (e) s umber dana yang kurang memadai dalam pengadaan software termasuk perangkat keras yang nantinya digunakan.
Method
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah metode kualitatif dengan melalui pendekatan deskriptif. Sugiyono (2020) mengungkapkan bahwa metode penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang naturalistik dimana penelitiannya dilakukan dengan kondisi alamiah (natural setting). Siyoto (2015) mengungkapkan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang pengkajiannya lebih rinci dengan membedakan antar fenomena lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknis analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 4 (empat) orang, diantaranya: Tabel 1. Informan Penelitian Sumber: Peneliti, 2021. No Nama Jenis Kelamin Usia Tingkat Pendidikan Divisi 1. Dedeh Yulia S. IP., MT Perempuan 50 Tahun S - 2 Teknik Kepala Bidang Pengolahan Bahan Koleksi 2. Dede Saepudin Laki - Laki 56 Tahun SLTA Staff Pengolahan Bahan Koleksi 3. Reiyaldi Budi Wiguna Laki - Laki 26 Tahun SLTA Staff Pengolahan Bahan Koleksi 4. Supartini, S. Sos Perempuan 50 tahun S - 1 Ilmu Sosial Staff Pengolahan Bahan Koleksi
Result & Discussion
Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung merupakan perpustakaan umum kabupaten Bandung yang terletak di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Jalan Raya Soreang, Karamatmulya, Kec. Soreang, Bandung, Jawa Barat 40912. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki struktur organisasi yang terdiri dari kepala dinas, sekretaris, sub bagian penyusunan program keuangan, sub bagian umum kepegawaian, bidang pengolahan, layanan dan pelestarian bahan perpustakaan, bidang pengembangan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca, bidang penyelenggaraan kearsipan, seksi pengembangan koleksi dan pengolahan bahan pustaka, seksi layanan otomasi dan kerjasama perpustakaan, seksi pelestarian bahan pustaka, seksi pembinaan dan pengembangan perpustakaan, seksi pembinaan dan pengembangan tenaga perpustakaan, seksi pengembangan pembudayaan kegemaran membaca, seksi pembinaan kearsipan, seksi pengawasan kearsipan, seksi pengelolaan arsip. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung merupakan perpustakaan daerah yang memiliki jumlah koleksi sebanyak 11.372 judul dengan 24. 360 eks emplar dan terdapat 962 konten digital yang tersedia. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki beberapa layanan yang dapat digunakan oleh pemustaka seperti layanan sirkulasi, loker, OPAC , ruang baca anak, ruang baca umum, ruang referensi, ruang buku penyandang disabilitas (tuna rungu ), cafebook , ruang multimedia, BI corner, ghazebo dan hotspot area, perpustakaan keliling, isabilulungan dan sistem otomasi perpustakaan INLISLite. Adanya berbagai layanan dan koleksi yang tersedia tentunya perlu dikelola oleh pustakawan yang berkometen. Apalagi pustawakan juga mampu membangun emotional branding bagi pemustakanya (Fadhli, Indah, Widya, & Oktaviani, 2019). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang bersumberkan pada hasil wawanca ra, observasi dan dokumentasi dapat diketahui bahwasannya kompetensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung , yaitu, pertama p engetahuan tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite di Dinas Arsip dan Kabupaten Bandung dapat dikatakan cukup baik. Dimana latar belakang pendidikan tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandu ng masih belum sejalur/ koheren dengan kebutuhan atau posisi seharusnya di perpustakaan. Berdasarkan Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 1 ayat 8 dijelaskan secara rinci bahwasannya : P ustakawan/ tenaga perpustakaan merupakan seseorang yang memiliki kompetensi melalui pendidikan maupun pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan pengelolaan dan pelayanan di perpustakaan. Dengan begitu apabila mengacu terhadap Undang - Unda ng diatas, dalam segi pengetahuan ilmu perpustakaan dirasa kurang memadai untuk ditempatkan diposisi sebagai tenaga perpustakaan. Akan tetapi, sebagian besar staf tenaga perpustakaan tersebut hampir secara keseluruhan mengetahui menu - menu yang terdapat pada INLISLite khususnya pengkatalogan bahan pustaka . Menurut Pesiwarissa (dalam Setiyawan, 2020) menjelaskan bahwa yang menjadi indikator pengetahuan dilihat dari : (a) p enempatan pegawai yang sesuai dengan latar Pendidikan pegawai ; (b) Penempatan pegawai yang disesuaikan dengan pengetahuan yang dimiliki terkait pekerjaan yang akan dilakukannya ; dan (c) p engetahuan yang dapat mendukung pelaksanaan pekerjaan. Meskipun demikian terdapat beberapa tenaga perpustakaan bagian pengolahan yang mampu mengolah bahan pustaka pengkatalogan secara baik dan benar. Pengetahuannya didapatkan dari mengikuti pelatihan atau workshop dan belajar secara mandiri dari buku panduan pemanfaatan INLISLite. Desakan lingkungan sekitar yang menuntut tenaga perpustakaan bagian p engolahan bahan pustaka untuk menggali informasi/ pengetahuan lebih terkait pengkatalogan dengan memanfaatkan INLISLite. Bandura (dalam Abdullah, 2019 ) mengungkapkan bahwa “kemampuan kognitif manusia dalam berpikir dan belajar melalui pengamatan sosial yan g berkaitan dengan motivasi, emosi dan tindakan manusia”. Meskipun terdapat salah satu staf yang tidak mengetahui secara detail terkait pengkatalogan dengan pemanfaatan INLISLite. Kurangnya arahan, pengetahuan dan praktik yang tidak menyeluruh menjadikan salah satu hambatan kekurangan pengetahuan pengkatalogan dalam memanfaatkan aplikasi INLISLite. Dimana hanya sebagian tenaga perpustakaan yang pernah mengikuti workshop atau pelatihan sedangkan sebagian lagi belajar dari staff tersebut. Marlina (2018) mengungkapkan bahwa: U ntuk mengasah dan meningkat pengetahauan/keterampilan kerja dapat dilakukan dengan pendidikan formal maupun memberikan pelatihan - pelatihan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan kerja, penguasaan alat atau metode baru. Pada dasarnya setiap tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka telah mengetahui dan memahami fungsi dari adanya INLISLite tersebut. Bahkan tenaga perpustakaannya pun mampu menyebutkan fitur - fitur ataupun menu yang digunakan dalam pengkatalogan ba han pustaka di aplikasi INLISLite . Namun, dalam proses pengkatalogan bahan pustaka terdapat tenaga perpustakaan yang kurang memahami menu dan fitur secara detail yang digunakan pada aplikasi INLISLite . Oleh sebab itu adanya keterbatasan pengetahuan yang di miliki menjadikan kurang optimal dalam memanfaatkan INLIS Lite untuk pengkatalogan bahan pustaka. Hartono (2016) mengungkapkan bahwa “dalam pengolahan bahan pustaka pada bagian otomasi perpustakaan terdapat beberapa kendala yang dihadapi salah satunya ialah kurangnya staff yang terlatih”. Kedua, keterampilan tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung . Tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki keterampilan yang baik, khususnya keterampilan penggunaan teknologi informasi. Dengan memiliki keterampilan menguasai teknologi informasi, tentun ya memudahkan tenaga perpustakaan dalam pemanfaatan INLISLite untuk mengolah bahan pustaka di Dinas Arsip dan Perpustakaan. Secara garis besar tenaga perpustakaan mengetahui menu - menu dan fitur yang biasa digunakan untuk pengkatalogan pada aplikasi INLISLi te . Hanya saja terdapat tenaga perpustakaan yang kurang memiliki keterampilan dalam pengkatalogan bahan pustaka pada aplikasi tersebut. Disisi lain tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki keterampilan dalam mengidentifikasi kesalahan yang terjadi pada pengkatalogan bahan pustaka di aplikasi INLISLite secara sigap dan cepat. Tenaga perpustakaan mampu memperbaiki dan menyunting ulang apabila terjadi kesalahan dalam pengkatalogan bahan pustaka di aplikasi INLISLite. Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwasannya keterampilan yang dimiliki tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam memanfaatkan aplikasi INLISLite dapat dikatakan baik dimana tenaga perpustakaan tersebut memiliki keterampilan teknis dalam penggunaan teknologi dan pemanfaatan aplikasi tersebut. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Ketiga, Perilaku atau Sikap Kerja tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan apli kasi INLISLite di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung . Perilaku atau sikap kerja tenaga perpustakaan tersebut menerima dengan baik terkait pemanfaatan INLISLite sebagai sistem informasi di perpustakaannya. Tenaga perpustakaan pun menyadari bahwa sannya dengan adanya aplikasi tersebut dapat memudahkan pekerjaannya khususnya pengolahan bahan pustaka pengkatalogan. Pemanfaat aplikasi INLISLite membuat tenaga perpustakaan bagian pengolahan dapat menjalin kerja sama dengan baik antar staf lainnya. Deng an demikian dapat membantu pekerjaan secara lebih cepat dan tepat. Senada dengan pernyataan tersebut, Mustafa (dalam Rahayuningsih, 2013) mengungkapkan bahwa pada umumnya dalam melaksanakan komputerisasi di perpustakaan terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, diantaranya mempercepat penyelesaian segala kegiatan yang berhubungan dengan proses pengerjaan di perpustakaan ; mempermudah pelaksanaan pekerjaan di perpustakaan ; meningkatkan mutu hasil pekerjaan ; meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam bekerja ; mempertinggi ketepatan hasil yang hendak dicapai ; dan menghasilkan beragam keluaran dari sekali masukan data . Adapun hambatan tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLIS Lite di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung . Pemanfaatan INLISLite sebagai sistem otomasi perpustakaan yang digunakan oleh bagian pengolahan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung memiliki beberapa hambatan yang dialami oleh tenaga pe rpustakaan tersebut diantaranya seperti kurangnya SDM yang mengetahui pemanfaatan INLISLite. Disamping itu, sarana yang kurang memadai dimana jaringan internet yang kurang stabil sebab INLISLite merupakan software yang harus terhubung pada jaringan interne t. Dalam penerapan sistem otomasi perpustakaan tentunya terdapat beberapa hambatan ataupun kendala yang dihadapi. Mahmun (dalam Soraya 2017) mengungkapkan bahwa secara garis besar terdapat beberapa hambatan dalam penerapan otomasi perpustakaan, diantaranya r endahnya pengetahuan teknologi informasi yang dimiliki pustakawan Indonesia, dimana masih banyak pustakawan yang kurang melek terhadap perkembangan teknologi informasi. Ditambah lagi penggunaan software otomasi perpustakaan ; SDM yang kurang memadai dalam mengatasi permasalahan yang ada di perpustakaan ; b elum tersedianya format standarisasi otomasi perpustakaan sehingga setiap perpustakaan memiliki format yang berbeda , sehingga menyulitkan proses pertukaran data antar perpustakaan ; b elum tersedianya standarisasi peraturan pengkatalogan nasional sebagai contohnya pengkatalogan di Indonesia belum seragam dimana masih adanya perbedaan antara penentuan tajuk entri utama nama pengarang ; dan s umber dana yang kurang memadai dalam pengadaan software termasuk perangkat keras yang nantinya digunakan .
Conclusion
Standard Spesial Library menyatakan bahwa kompetensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam pengkatalogan dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite di Dinas Arsip Dan Perpustakaan Kabupaten Bandung dapat dikatakan memiliki kompetensi yang baik. Dimana sebagian besar tenaga perpustakaaan bagian pengolahan bahan pustaka mampu memanfaatkan. Adapun penjabaran dari kompetensi tenaga perpustakaan bagian bahan putaka dalam pengkatalogan dalam memanfaatkan aplikasi INLISLite di Dinas Arsip Perpustakaan Kabupaten Bandung di ketahui bahwa, pertama, kompetensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan dalam memanfaatkan INLISLite yang ditinjau dari aspek pengetahuan dapat dikatakan baik. Dimana sebagian besar tenaga perpustakaan mampu menguasai dan memahami pengolahan bahan pustaka pengkatalogan pada aplikasi INLISLite . Meskipun secara keseluruhan tenaga perpustakaan tersebut memiliki pengetahuan yang baik terkait fun gsi, menu dan fitur yang terdapat dalam aplikasi tersebut khususnya menu yang digunakan dalam pengkatalogan bahan pustaka. Kedua, kompetensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam memanfaatkan aplikasi INLISLite yang ditinjau dari aspek keterampilan dapat dikatakan baik. Dimana tenaga perpustakaan bagian pengolahan memiliki keterampilan dalam penggunaan teknologi sehingga memudahkan dalam pengoperasian menu - menu dan fitur yang digunakan untuk pengkatalogan dalam aplikasi INLISLite . Selain itu, tenaga perpustakaan memiliki keterampilan untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi dan mampu mengatasinya serta keterampilan dalam berkomunikasi antar rekan kerja dalam menjalankan tugas ataupun tanggung jawabnya. Meskipun terdapat tenaga perpustakaan yang memiliki keterampilan kurang dalam pengkatalogan bahan pustaka dengan memanfaatkan aplikasi INLISLite. Ketiga, kompetensi tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam memanfaatkan aplikasi INLISLite yang ditinjau dari aspek perilaku/ sikap kerja dapat dikatakan baik. Tenaga perpustakaan menerima dengan baik terkait pemanfaatan INLISLite sebagai sistem otomasi perpustakaan yang membantu dalam pengolah bahan pustaka. Selain itu melalui aplikasi tersebut, tenaga perpustakaan mampu membuat rencana kerja dan dapat bekerja secara tim dengan baik. Dengan demikian tentunya dapat membantu pekerjaan lebih tersusun, cepat dan tepat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya. Adapun hambatan yang dialami tenaga perpustakaan bagian pengolahan bahan pustaka dalam memanfaatkan aplikasi INLISLite di Dinas Arsip dan perpustakaan Kabupaten Bandung ialah kurangnya SDM yang menguasai pemanfaatan aplikasi tersebut untuk mengolah bahan pustaka, jaringan internet yang kurang stabil. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengemukakan beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimabangan bagi perpustakaan dan tenaga perpustakaan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung, yakni , pertama, perlu diadakannya kegiatan seperti workshop atau pelatihan mengenai pemanfaatan INLISLite bagi seluruh tenaga perpustakaan sehingga pengetahuan mengenai pemanfaatan INLI S Lite didapatkan secara menyeluruh oleh tenaga perpustakaan. Kedua, perlu adanya praktek mandiri secara teratur agar ilmu yang didapat selama mengikuti workshop / pelatihan tidak lupa dengan demikian sering dilakukannya praktek diharapkan dapat meningkatkan keterampilan tenaga perpustakaan dalam memanfaatkan aplikasi INLISLi te. Ketiga, perlu adanya kesadaran untuk saling mengevaluasi dan mengingatkan kinerja sesama rekan kerja dalam mengolah bahan pustaka dalam aplikasi INLISLite. Keempat, Perlu diadakan rekrutmen pegawai yang sesuai dengan bidang ilmu perpustakaan agar mampu menguasai tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Kemudian karena sering mengalami gangguan sistem jaringan perlu diadakan perbaikan jaringan komputer dan internet serta memperbaharui sarana prasana yang sudah kurang baik un tuk digunakan.