Konstribusi Tokoh dalam Dunia Perpustakaan: Analisis Pemikiran G. Edward Evans tentang Pengembangan Koleksi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Para tokoh mempunyai andil besar terhadap kemajuan bidang Ilmu Perpustakaan. Konsep dan ide-ide yang digagas menjadi kerangka berpikir dan pedoman bagi mereka yang terjun ke dalam dunia perpustakaan. Artikel ini menyajikan pemikiran G. Edward Evans mengenai pengembangan koleksi dengan rumusan patron community. Tujuannya adalah untuk memberi gambaran tentang konsep patron community yang dilakukan dalam pengelolaan perpustakaan yang dibandingkan dengan konsep pengembangan koleksi hasil pemikiran Yuyu Yulia. Isi artikel diharapkan dapat memberi inspirasi bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan, pustakawan dan semua pihak yang terlibat dalam pengembangan koleksi di perpustakaan.
Abstract
The figures have contributed greatly to the progress of the field of Library Science. Concepts and ideas are initiated into a framework and guidelines for those who enter into the world of libraries. This article presents the thought of G. Edward Evans regarding the collections development with the formulation of patrons community. It aims to give an overview of the concept of patrons community which do the management of the library compared with Yuyu Yulia’s result of thinking about the concept of collection development. The contents of the article is expected to provide inspiration for students of libraries, librarians and all parties involved in the development of the collection in the library.
Keywords:
Tokoh perpustakaan
· pengembangan koleksi
· G. Edward Evans
· Yuyu Yulia
Introduction
Keberadaan Ilmu Perpustakaan masih dipertanyakan oleh banyak pihak sampai hari ini. Tidak sedikit masyarakat yang meragukan bahwa Ilmu Perpustakaan merupakan suatu bidang ilmu, apakah penting mendalami bidang ilmu tersebut, bahkan ada yang tidak mengetahuinya karena ilmu ini memang tidak populer di mata masyarakat. Opini-opini yang berkembang tersebut dipengaruhi oleh paradigma klasik masyarakat yang beranggapan bahwa manajemen kerja di perpustakaan merupakan suatu hal yang mudah tanpa perlu ahli dibidangnya serta dapat dilakukan oleh siapa saja karena aktivitasnya hanya sebatas menjaga buku. Hanya segelintir orang yang mengetahui jika kegiatan di perpustakaan adalah hal yang sulit dan membutuhkan tenaga profesional yang memiliki skill dalam pengelolaannya, yakni skill di bidang Ilmu Perpustakaan. Apapun spekulasi masyarakat, Ilmu Perpustakaan tetap merupakan bidang ilmu yang telah eksis sejak lama. Ilmu Perpustakaan mulai diakui sejak Melvil Dewey mencetus nomor klasifikasi buku yang dikenal dengan Decimal Dewey Classification (DDC). Melvil Dewey menyusun DDC pada tahun 1873 dan menerbitkannya pada tahun 1876 sebagai pengetahuan umum yang direvisi secara berkelanjutan agar sesuai dengan perkembangan pengetahuan.1 Sedangkan istilah Ilmu Perpustakaan mulai diperkenalkan tahun 1923, ketika Universitas Chigago memulai pendidikan pustakawan pada tingkat Master.2 Meskipun kurang familiar, Ilmu Perpustakaan tetap eksis dan terus berkembang sampai detik ini, baik di dunia maupun di Indonesia. Tokoh-tokoh besar lain yang mempunyai sumbangsih pemikiran terhadap perkembangan Ilmu Perpustakaan terus bermunculan. Salah satu figur yang paling berpengaruh dan mempunyai kontribusi nyata melalui pemikirannya terhadap Ilmu Perpustakaan adalah G. Edward Evans. G. Edward Evans merupakan seorang pensiunan aktif setelah berkarir lebih dari 50 tahun di kepustakawanan. Saat ini ia tercatat sebagai pustakawan di Harold S. Colton Memorial Library and Archives di Museum Arizona Utara. Secara akademis, ia lulus dengan dua gelar sarjana yaitu Antropologi dan Kepustakawanan. Dia memulai karirnya sebagai mahasiswa magang di ruang cadangan Perpustakaan Universitas Minnesota dan menghabiskan waktu selama 25 tahun sebagai direktur perpustakaan. Posisi full time nya yang terakhir adalah sebagai Wakil Presiden Asosiasi Akademik untuk Sumber Ilmiah di Universitas Loyola Marimount, Los Angeles. Dia telah mengajar kursus kepustakawanan sebagai pelatih pustakawan dan menyelesaikan jenjang pendidikan di fakultas, sebagai asisten professor menjadi professor di Universitas California, Los Angeles. Pengalaman praktis Evans yaitu berada di lingkungan perpustakaan publik dan swasta. Selama karirnya, dia memegang dua beasiswa yaitu National Science Foundation dan Fulbright dan aktif dalam asosiasi perpustakaan di seluruh negara bagian dan nasional.3 Sebagai lulusan Fulbright, dia juga mengajar di Universitas Islandia dan ditawarkan sebagai trainer dalam menajamen dan pengembangan koleksi pada perpustakaan sekolah di Norwegia, Denmark, Swedia dan Finlandia. Ia juga sebagai penguji eskternal manajemen untuk Departemen Pendidikan Perpustakaan di Universitas Hindia Barat.4 Saat ini Evans telah mempublikasi buku-buku tentang topik yang berkaitan dengan perpustakaan, termasuk manajemen, pengembangan koleksi, pelayanan publik dan layanan teknis. Beberapa karya yang telah lahir dari kekritisan Evans, di antaranya yaitu: 1. Bibliography of Language Arts Materials for Native North Americans (1965-1974) 2. Introduction to Technical Services for Library Technicians (1971) 3. Bibliography of Language Arts Materials for Native North Americans (1975-1976) 4. Introduction To Technical Services (1993) 5. Introduction to Library Public Services (1993) 6. Developing Library and Information Center Collections (1995) 7. Management Basics for Information Professionals (2000) 8. Beyond The Basics: The Management Guide For Library And Information Professionals (2003) 9. Performance Management And Appraisal: A How To Do It Manual For Librarians (2004) 10. Leadership Basics For Librarians And Information Professionals (2007) 11. Collection Management Basics (2012) 12. Library Programs and Services: The Fundamentals, 8th Edition: Recent Titles in Library and Information Science Text Series (2015)5 Berdasarkan profil singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa Evans telah memiliki pengalaman yang sangat luar biasa dalam dunia kepustakaan, baik dari segi pendidikan maupun pekerjaaannya. Sikap konsisten dan dedikasinya tidak perlu diragukan lagi sehingga ia mampu melahirkan teori-teori yang banyak dipakai pada bidang Ilmu Perpustakaan dan diterapkan dalam pengelolaan perpustakaan. Alasan penulis memilih Evans yaitu karena beliau merupakan salah satu tokoh yang sangat konsentrasi tentang manajemen perpustakaan. Pemikirannya yang sangat memorable di ingatan orang-orang yang menempuh pendidikan dan berkecimpung dalam dunia perpustakaan adalah konsep pengembangan koleksi yang dikenal dengan patron community. Konsep yang diciptakan oleh Evans tersebut masih terus digunakan diluar maupun dalam negeri dan masih relevan dengan manajemen perpustakaan sampai sekarang.
Result & Discussion
B. Analisis Pemikiran G. Edward Evans tentang Pengembangan Koleksi Pengembangan koleksi merupakan upaya perpustakaan dalam membangun koleksi yang kuat dan tepat sasaran bagi masyarakat pengguna. Evans mendefinisikan pengembangan koleksi sebagai proses untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan bahan pustaka dalam hal kebutuhan pengguna dan sumber daya komunitas serta mencoba mengoreksi jika ada kekurangan yang muncul. Evans mengemukakan bahwa pengembangan koleksi adalah proses memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang dilayani dan cara ekonomis menggunakan sumber daya informasi.6 Karena ia fokus pada pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat, maka ia menyusun pengembangan koleksi yang dimulai dengan analisis pengguna (community analysis), yang ia deskripsikan dalam siklus "patron community". Ia merumuskan proses pengembangan koleksi dalam dalam diagram sebagai berikut: PATRON COMMUNITY Evans menjabarkan siklus patron community dalam enam komponen: 1. Analisis pengguna, pengetahuan tentang masyarakat yang dilayani adalah kunci untuk membangun koleksi yang efektif. Bagi staff pengembangan koleksi, proses Kebijakan Seleksi Evaluasi Pustakawan Seleksi Pengadaan Penyiangan Analisis Pengguna need assesment akan menyediakan data tentang informasi kebutuhan pengguna. Data yang diperoleh dari need assesment adalah bagian persiapan untuk membangun kebijakan pengembangan koleksi. Seluruh jenis perpustakaan harus berperan aktif dalam analisis pengguna karena tujuan utamanya adalah untuk mengetahui karakteristik masyarakat yang dilayani sehingga koleksi yang dibangun berdaya guna dan memcapai sasaran. 2. Kebijakan seleksi, kebijakan pengembangan koleksi merupakan pernyataan tertulis dari program yang memberikan rincian untuk membimbing pustakawan. Sebagai dokumen yang mewakili rencana kerja dan informasi yang digunakan untuk pola pikir pustakawan dan mengambil keputusan. 3. Seleksi, suatu proses untuk memutuskan bahan mana yang akan ditambahkan kedalam perpustakaan. Faktor yang mempengaruhi pengembangan koleksi yaitu tidak tersedianya dana yang cukup untuk membeli semua yang bernilai bagi masyarakat yang dilayani. Jadi, satu atau lebih pustakwan profesional harus memilih koleksi yang akan dibeli. 4. Pengadaan, setelah selektor mempunyai keputusan dalam seleksi, maka pengadaan pun dimulai. Proses pengadaan adalah memperoleh koleksi perpustakaan, apakah dengan membeli, hadiah atau pertukaran. 5. Penyiangan, koleksi yang dianggap sudah tidak bernilai atau koleksi lama, maka akan disiangkan atau dihapus dari koleksi utama. 6. Evaluasi, kegiatan ini untuk membantu penentuan dari kualitas kerja yang telah dilakukan oleh staff pengembangan koleksi. Untuk evaluasi yang efektif, maka harus kembali pada pertimbangan atau mengarah kembali pada analisis pengguna.7 Konsep ini berlaku bagi semua jenis perpustakaan dan tahap-tahap yang dilalui tersebut melibatkan pustakawan dalam pelaksanaannya. C. Perbandingan dengan Pemikiran Yuyu Yulia Pemikiran yang dituangkan oleh Yuyu Yulia mengenai pengembangan koleksi yaitu mengutip dan mengembangkan konsep berpikir yang dikemukakan oleh Evans. Menurut Yuyu Yulia, pengembangan koleksi adalah suatu proses kegiatan yang mencakup sejumlah kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan koleksi perpustakaan, termasuk menetapkan dan koordinasi terhadap kebijakan seleksi, penilaian tehadap kebutuhan pengguna dan pengguna potensial, kajian penggunaan koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka dan perencanaan untuk bekerjasama, pemeliharaan koleksi dan penyiangan.8 Yuyu Yulia yang mendapat inspirasi dari konsep Evans memiliki persamaan juga perbedaan dari hasil pemikirannya. Perbandingan pemikiran kedua tokoh dapat dilihat pada tabel berikut ini. Perban dingan Evans Yuyu Yulia Persa maan Pengembangan koleksi merupakan proses yang univerasl untuk perpustakaan. Dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan bahan pustaka yan meliputi seleksi dan evaluasi Pengembangan koleksi mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama aspek seleksi dan evaluasi Perumusan kebijakan pengembangan koleksi dengan melakukan need assesment terlebih dahulu oleh pustakawan bidang pengembangan koleksi. Untuk mengetahui siapa komunitas masyarakat yang dilayani Pustakawan yang ditugaskan dibidang pengembangan koleksi harus mengetahui betul apa tujuan perpustakaan dan siapa pemakainya. Perbe daan Perumusan kebijakan pengembangan koleksi dilakukan oleh pustakawan professional. Dilakukan dengan membangun relasi dengan pihak yang terlibat dengan masyarakat yang dilayani. Perumusan kebijakan pengembangan koleksi dilakukan oleh pustakawan senior, wakil dari fakultas atau jurusan, wakil lembaga, seperti lembaga penelitian. Seleksi dilakukan oleh pustakawan yang professional. Seleksi dilakukan oleh pustakawan, tenaga pengajar dan peneliti, mahasiswa, unit kerja lain apabila diperlukan Tidak ada identifikasi kebutuhan pengguna Mengidentifkasi kebutuhan informasi pengguna secara informal maupun formal. Kajian informal bisa dilakukan dengan cara observasi terhadap pengguna yang datang ke perpustakaan untuk mengetahui informasi apa yang dicari. Hanya menjelaskan tentang penyiangan koleksi, koleksi yang dianggap sudah tidak bernilai dan lama akan di remove dari rak koleksi. Menjelaskan penyiangan dan perawatan koleksi. Bahan pustaka memerlukan perawatan yang teratur, sistematis dan berkesinambungan. Yang dikategorikan dalam 3 jenis: 1. Fisik bahan pustaka 2. Isi keseluruhan koleksi 3. Perawatan dari teknologi dan media. Berdasarkan tabel di atas, dapat diuraikan bahwa pemikiran kedua tokoh tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan dalam pengembangan koleksi di perpustakaan. Dari segi persamaan, keduanya sepakat bahwa dalam melakukan pengembangan koleksi diperlukan perumusan kebijakan tertulis dengan tinjauan analisis pengguna terlebih dahulu sebelum pedoman tersebut disusun secara matang. Dari segi perbedaan, terdapat beberapa poin yang yang berbeda dari opini kedua tokoh tersebut. Pertama, dari analisis Evan dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah pilar utama dalam pengembangan koleksi dimana kegiatan yang dimulai dengan need assesment, perumusan pedoman seleksi hingga penyiangan dilakukan oleh pustakawan professional. Sedangkan menurut Yuyu Yulia, kegiatan pengembangan koleksi dapat melibatkan orang lain yang dianggap dapat bekerjasama, misal mahasiswa, dosen, pihak fakultas apabila perpustakaan yang dilayani adalah perpustakaan Universitas. Pihak-pihak yang dilibatkan tergantung pada perpustakaan yang dilayaninya. Kedua, Evans tidak menyebutkan bahwa adanya identifikasi kebutuhan pengguna di perpustakaan dalam patron community yang dijabarkannya. Sedangkan menurut Yuyu Yulia, perlu dilakukannya identifikasi kebutuhan pengguna yang dapat dilakukan secara formal dan informal untuk mengetahui informasi apa yang sebenarnya dicari dan dibutuhkan oleh pengguna. Ketiga, Evans hanya menyebutkan tentang penyiangan koleksi dalam gagasan idenya, koleksi yang dianggap sudah tidak layak maka ditarik secara total dari rak. Sedangkan Yuyu Yulia, selain melakukan penyiangan, perawatan koleksi juga perlu dilakukan baik yang tercetak maupun yang tersedia dalam bentuk elektronik. Pemikiran kedua tokoh tersebut dapat dijadikan rekomendasi dalam pengembangan koleksi oleh semua jenis perpustakaan dan dimana perpustakaan itu berada. Indonesia khususnya, apabila dapat menerapkan pemikiran yang ditutur oleh Yuyu Yulia, maka akan mendorong pengembangan perpustakaan menjadi lebih baik dari segi koleksi. Perpustakaan akan mempunyai petunjuk yang jelas dan terorganisir dalam memperluas koleksi, membangun koleksi yang kuat serta bernilai guna dan tepat sasaran. Hal itu akan menambah kepercayaan masyarakat terhadap perpustakaan. Perpustakaan akan dijadikan sebagai referensi pertama untuk mencari informasi, karena perpustakaan dianggap telah mampu memenuhi kebutuhan informasinya. Informasi yang dicari dan dibutuhkan sangat mudah diakses diperpustakaan.
Conclusion
Berdasarkan pemaparan konsep berpikir kedua tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa pemikiran-pemikiran yang mereka kontribusikan dalam dunia perpustakaan tidak timbul begitu saja. Keduanya sudah memiliki pengalaman yang cukup matang baik dari latar belakang pendidikan maupun pekerjaan. Meski dunia perpustakaan mengalami inovasi dan kemajuan-kemajuan, buah pemikiran mengenai pengembangan koleksi perpustakaan masih relevan dijadikan sebagai teoritis bagi yang mengenyam pendidikan dalam dunia kepustakaan serta dapat dipraktikkan atau diterapkan dalam tata kelola perpustakaan. Konsep yang dirintis oleh Evans dan dikembangkan oleh Yuyu Yulia itu diaplikasi secara benar dan serius dalam manajemen perpustakaan maka akan memberi dampak yang positif dalam pengembangan perpustakaan. Salah satu yang mempengaruhi pengembangan perpustakaan yaitu pengembangan koleksi yang efektif.