ANALYSIS OF THE USE OF G EDWARD EVANS THEORY, YUYU YULIA AND ALA IN THE DEVELOPMENT OF A LIBRARY OF GENERAL LIBRARY BASED ON SOCIAL INCLUSION
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Tujuan pembuatan artikel ini untuk mengetahui pegembangan koleksi perpustakaan umum berbasis inklusi sosial yang diharapkan menjadi pepustakaan yang inklusif bagi masyarakat pengguna. Hal ini para pengguna tidak lagi menganggap perpustakaan hanya sebagai simbol dan berisikan buku dan rak saja akan tetapi perpustakaan juga bisa diguakan dalam basis inklusif bagi masyarakat pengguna dan dengan pegembangan koleksi yang meliputi pengadaan, kajian pengguna, kebijakan koleksi, seleksi serta kerjasam. Dalam pegembangan koleksi terdapat beberpa konsep seperti konsep pegembagan koleksi dari evan, yuyu dan ALA dan dari semua konsep ini dapat digunakan dalam pegembangan koleksi di era informasi yang dapat mendorog sebuah perpustakaan dapat bertransformasi menjadi perpustaaan yang inklusif bagi masyarakat informasi. Hasil komparasi tiga konsep pegembangan koleksi maka yang sesuai dengan keadaan saat ini iyalah konsep yan dituangkan oleh yuyu yulia yang mementingkan kebutuhan pengguna serta tidak terlepas juga dari konsep-konsep pendukung lainya seperti yang di kemukakan oleh evans dan ALA.
Abstract
The purpose of this article is to determine the development of public library collections based on social inclusion which are expected to become inclusive libraries for the user community. This means that users no longer regard the library as just a symbol and contain books and shelves, but the library can also be used on an inclusive basis for the user community and with the development of collections that include procurement, user studies, collection policies, selection and cooperation. In the development of collections there are several concepts such as the concept of building collections from evan, yuyu and ALA and all of these concepts can be used in the development of collections in the information age that can encourage a library to be transformed into an inclusive library for the information society. The results of the comparison of the three collection development concepts, according to the current situation, are the concepts outlined by Yuyu Yulia who are concerned with the needs of users and are also inseparable from other supporting concepts as put forward by Evans and ALA.
Keywords:
perpustakaan umum
· inklusi sosial
· pegembagan koleksi
Introduction
Perkembangan perpustakaan di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat. dapat dilihat dari berbagai daerah yang sampai saat ini sudah memiliki perpustakaan baik itu dari perpustakaan umum maupun perpustakaan desa. Perpustakaan juga salah satu lebaga yang sangat berperan penting dalam menyediakan sumber-sumber informasi yang sangat akurat dalam proses penyediaan informasi. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa salah satu fungsi perpustakaan umum ialah degan menyediakan informasi yang sesuai degan kebutuhan para pengguna informasi. Kebutuhan informasi yang ada pada perpustakaan umum sangatlah penting dan berharga, karena pepustakaan harus siap menyediakan informasi-informasi yang yang sesuai degan kebutuhan para pengguna baik itu kebutuhan informasi konvensional maupun digital. Degan banyak nya informasi yang disediakan perpustakaan umum dapat meningkatkan kelancaran dan kemudahan bagi para pengguna informasi. Perpustakaan umum sudah sepatutnya menjadi lembaga inklusi sosial bagi masyarakat akan tetapi perpustakaan hanya berisikan buku dan rak saja serta banyak masyarakat yang kurang mengetahui apa-apa aja yang ada di perpustakaan itu. Hal ini di perparah degan banyak nya asumsi pustakawan yang menyebutkan bahwa masyarakat yang tidak ke perpustakaan itu dikarenakan oleh dirinya sendiri yang tidak mau ke perpustakaan, dan pustakawan hanya bertugas menyediakan dan menawarkan informasi serta layanan kepada setiap masyarakat yag datang ke perpustakaan. Bagi kalangan ekslusif yang hanya mengira bahwa perpustakaan hanya di peruntukan untuk orang-orang yang memiliki kelas sosial seperti ekonomi, pekerjaan dan gender, ras, warna kulit, miskin, hal ini menjadikan suaru gologan terekskusi sehingga dari hal ini terciptalah suatu gologan di masyarakat yang terekskusi dan di marjinalkan bahwakan tidak dianggap di masyarakat. Dalam hal ini telah terbukti bahwa perpustakaan umum dianggap sebagai salah satu tempat yang berisikan dan dikunjungi oleh orang-orang tertentu saja dan perpustakaan seharusnya dapat menciptakan sesuatu kegiatan seperti inklusi sosial bagi masyarakat agar semua masyarakat tau dan mengerti bahawa di perpustakaan juga menyediakan berbagai sumber informasi bagi para pengguna yang memiliki sesuatu kebebasan dalam mengekspresikan minat dan bakatnya melalui fasilitas yang ada di perpustakakan. Dalam perpustakaan umum juga hendaknya menyediakan sumber-sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menciptakan kegiatan inklusi sosial bagi masyarakat informasi saat ini. Tentunya sesuatu yang harus di benahi oleh perpustakakan umum saat ini iyalah degan memastikan bagaimana proses penciptaan suasana yang sesuai dengan para pengguna. Perpustakaan umum tentunya harus tegas dalam mengambil tindakan dalam proses pengembangan koleksi di perpustakaan seperti pegadaan bahan bacaan yag sesuai dan membuka akses kepada setiap pengguna dalam menggunakan fasilitas yang ada pepustakaaan umum. Di era masyarakat informasi saat ini tentu perkerjaan rumah bagi perpustakaan umum yang seharuasnya dikerjakan dan di rencanakan dalam proses menyediakan informasi dan menyeimbangkan kebutuhan informasi dengan kesediaan informasi yanga ada. Perpustakaan juga bukan hanya tempat menyediakan informasi tapi bisa juga bertranformasi menjadi pegembagan masyarakat sehinga dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat informasi. Kehadiran perpuatakaan umum juga semertinya dapat merubah paradigma baru dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar kontekstual yang dapat melatih suatu keterampilan pengguna yang semestinya dapat melibatkan seluruh pemangku kepentingan.1 Dalam hal ini pegembagan koleksi perpusakaan harus berjalan degan baik sehingga kebutuhan para pengguna informasi dapat rerpenuhi. Perpustakaan umum perlu melakukan terobosan baru dan siap bertransformasi degan kedaan zaman dan tuntutan para pengguna informasi. Dalam hal ini tentu perlu perbaikan kualitas informasi yang ada di perpustakaan itu sendiri dalam pegembagan koleksi perpustaskaan umum berbasis inklusi sosial pada kalagan masyarakat informasi perlu adanya perbaikan- perbaikan yang harus dimulai dari pengadaan bahan pustaka, pemilihan jenis bahan informasi, penyiangan dan prosedur yang harus dilakukan dalam proses pengembangan. Degan demikian perpustakaan dapat mengindentifikasi seberapa besar kebutuhan dan keinginan para pengguna. Pada zaman digital saat ini masyarakat informasi sepertinya perlu merasakan bagaimana fungsi perpustakaan umum itu dan apa saja manfaat perpustakaan umum itu bagi mereka. Oleh sebab itu, perpustakaan umum yang berbasis inklusif ini dapat membantu para pengguna informasi dalam menyalurkan bakat dan keterampilannya di dalam sebuah perpustakaan. Ketika hal ini terjadi pada perpustakaan umum maka hak-hak pengguna sudah dapat dipastikan dapat terpenuhi walaupun belum maksimal dalam proses penyediaan sumber- sumber informasi. Untuk itu perpustakaan umum khususnya dapat lebih aktif dalam proses mencari kebutuhan-kebutuhan apa saja yang mesti dipenuhi dari pengguna sehingga perpustakakan dapat berfungsi degan baik dan perpustakaan juga bukan hanya dipandang sebagai pemyedia informasi berupa buku, rak dan lain sebagainya tapi untuk saat ini perpustakaan harus mampu bertransformasi menjadi sesuatu lembaga yang inklusif di era masayarakat informasi. Perpustakaan umum juga dibentuk untuk melayani kebutuhan informasi bahan bacaan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai golongan tanpa memandang usia, ras, agama, status sosial, ekonomi dan gender. Siapapun berhak mendapatkan dan menikmati layanan perpustakaan. Perpustakaan umum biasanya berdiri untuk melayani masyarakat dalam lingkup tertentu, umumnya tingkat kota dan provinsi. Perpustakaan umum daerah memiliki tugas dan fungsi sebagai pusat deposit daerah, pusat penelitian daerah, dan memberikan layanan informasi, pendidikan dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Sehingga sudah sewajarnya perpustakaan umum daerah memastikan layanannya mencakup seluruh masyarakat kota atau provinsi tersebut. Siapapun dia, apapun latar belakang sosialnya.2 Perpustakaan dapat mengambil peran bukan hanya sebagai pusat informasi lebih dari itu perpustakaan dapat bertransformasi menjadi tempat dalam pengembangan diri masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Method
Metode yang digunakan dalam pembahasan ini yang menjelaskan tentang perpustakaan umum yang berbasis inklusi sosial di kalagan masyarakat informasi degan menggunakan metode studi literatur yang sudah di analisis serta yang bersifat deskriptif. Dalam studi literature ini penulis lebih banyak membaca dan melihat sumber-sumber yang berkaitan degan pegembangan koleksi Serta berusaha untuk mengkomparasikan tiga teori yang berkenaan dengan pegembangan koleksi.
Discussion
1. Perpustakaan Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Atau suatu unit kerja yang subtansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pengguna jasa layanan.3 Perpustakaan merupakan sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.4 2. Perpustakaan Umum Perpustakaan umum salah satu perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial.5 Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum.6 Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang menampung atau menghimpun dan menyebarkan segala macam informasi kepada masyarakat luas semua tingkatan tanpa terkecuali. Tidak dibatasi pada lokasi dan masyarakat tertentu saja seperti pada jenis perpustakaan lainnya, tetapi luas tak terbatas dan beragam. Walaupun kurang mendalam bidang koleksinya perpustakaan umum tujuannya melayani kebutuhan masyarakat akan informasi secara menyeluruh di suatu daerah tertentu tanpa memisah-misahkan stratifikasinya di masyarakat. Hal ini berarti lokasi perpustakaan umum beragam sesuai dengan heterogennya masyarakat yang dilayaninya baik usia, pendidikan, pekerjaan (mata pencarian), fisik, ras dan sebagainya.7 3. Perpustakaan Umum Sebagai Lembaga Inklusi Berkembangnya zaman menuntut sebuah perpustakaan umum untuk dapat terus bertransformasi menjadi sebuah lembaga yang berbasis inklusi social dikalagan masyarakat informasi saat ini dan dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat pengguna guna menambah wawasan dan ilmu pegetahuan. Dalam perpustakakan umum hendaknya menyediakan informasi-informasi yang sesuai degan keinginan dari para pengguna informasi itu sendiri sehingga tercapailah sesuatu yang dinamakan inklusi sosial. Kegiatan yang mestinya dapat dilakukan oleh perpustakaan umum dalam menciptakan perpustakaan yang berbasis inklusif iyalah degan terus mengembangkan diri perpustakaan dalam proses menghadapi kemajuan dan menyeimbangkan dengan keadaan zaman saat ini. Melihat lebih jauh betapa pentingnya peran perpustakaan dalam proses mencerdaskan masyarakat degan inovasi-inovasi baru yang membuat lembaga perpustakaan bukan hanya tempat berkunjung tapi bias juga digunakan sebagai tempat rekreasi dan pegembangan minat dan bakat dari para pengguna informasi. Didalam perpustakaan umum juga seharusnya menyediakan beragam jenis informasi yang menunjang seperti koleksi fiksi dan non fiksi baik itu berbentuk digital maupun konvensional yang sudah teruji kemutakhiran informsinya. Dalam hal ini pegembangan koleksi begitu diharapkan akan kualitas pegembanganya yang berdampak kepada kebutuhan para pengguna informasi. Di era informasi saat ini semua orang mengiginkan sebuah informasi yang sangat mudah, akurat dan relevan sehingga perpustakakan dapat memberikan layanan yang tepat. Layanan dalam perpustakaan umum seharusnya diterapkan melalui petugas perpustakaan degan memberikan layanan langsung maupun dengan layanan yang tidak langsung. Dalam hal ini peran perpustakaan umum dalam proses pegembangan koleksi guna menciptakan sebuah perpustakaan yang berbasis inklusi sosial. 4. Defenisi Pegembangan Koleksi Perpustakaan Sebuah perpustakaan tentunya memiliki Pengembangan bahan koleksi di perpustakaan (Library Collection Development ), Adalah suatu upaya yang harus dilakukan oleh perpustakaan, guna meningkatkan kualitas layanan layanan di perpustakaan dengan menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna atau pemustaka. Dalam hal ini perpustakaan menjadi penegah (intermediary) dengan mempertemukan antara kebutuhan pemakai dengan koleksi yang ada di perpustakaan. Dalam artian perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mempertemukan antara 2 variabel pemustaka dan informasi. Dan juga perpustakaan harus mampu menyediakan berbagai jenis koleksi sesuai dengan kebutuhan pemustaka, dengan demikaian perpustakaan akan meningkatkan kualitas dan nilai budaya masyarakat mealalui penyediaan bahan bacaan bagi para pemustaka.8 Dalam pengembangan koleksi banyak kegiatan yang biasanya dilakukan oleh seorang profesional pustakawan dalam proses mengembangakan sebauh perpustakaan diantaranya dapat dilakukan dengan pengadaan koleksi, penyiangan, preservasi, stop of nime, dan evaluasi. Dalam hal ini perlu dilakukan juga analisis pengguna informasi sehingga dalam pengembangan koleksi pustakawn sudah mengetahui setiap porsi kebutuhan dari para pengguna. 5. Program-Program Pendukung Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Konsep inklusi sosial pertama kali muncul pada tahun 1970-an di prancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di negara-negara eropa, yang memiliki dampak yang meningkat pada kerugian sosial di eropa. Konsep ini menyebar ke seluruh eropa dan inggris sepanjang tahun 1980-an dan 90-an.9 Inklusi sosial di bidang perpustakaan mulai diwacanakan pada tahun 1999 melalui dokumen Libraries for All: Social Inclusion in Public Libraries Policy Guidance for Local Authorities in England October 1999. 7 kunci dalam pengembangan inklusi sosial di bidang perpustakaan, yaitu: a. perlunya inklusi sosial di perpustakaan umum, b. kontek inklusi sosial, c. identifikasi dan hambatan keterlibatan masyarakat, d. kebijakan inklusi sosial, e. sarana untuk mencapai tujuan, f. tantangan yang dihadapi perpustakaan, g. proses konsultasi. 6. Strategi Pegembangan Koleksi Perpustakaan Umum Di Era Inklusi Sosial Dalam proses pengembangan koleksi di perpustakaan penting untuk dipikirkan degan matang bagaimana sterategi yang tepat dalam pengembangan koleksi di perpustakaan umum yang berbasis inklusi sosial masyarakat pengguna. Dalam hal ini strategi yang digunakan dalam pegembangan koleksi perpustakaan umum yang di anggap salah satu yang dinamis dan berkelanjutan antaranya: a. Analisis kebutuhan informasi pengguna perpustakaan b. Merumuskan dan menentukan kebijakan seleksi bahan pustaka yang sesuai degan tujuan perpustakaan. c. Pengadaan bahan pustaka yang dapat membangun suatu kondisi koleksi yang seimbang. d. Melihat rekan kerjasama yang kompetitif dalam melihat anggaran yang rasional. e. Menentukan vendor yang terpercaya f. Evaluasi kebijakan pegembangan koleksi guna meminimalisir kesalahan yang terjadi di perpustakaan. g. Menyediakan informasi yang sesuai degan keingginan masyarakat pengguna. h. Perpustakaan dapat menentukan informasi yang sesuai degan minat dan bakat para pengguna informasi. i. Dalam pengembangan koleksi tidak terlepas dari yang namanya angaran. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa pegembangan koleksi saat ini perlu mengacu kepada pengguna informasi serta kebutuhan apa yang diambil dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam proses pengembangan koloeksi di nperpustakaan umum. Dan dalam pengembangan bahan pusta yang berbasis inklusi sosial iyalah harus mengacu kepada tahapan-tahapan pegembangan koleksi yang baik dan tersusun degan sistematis hal ini dapat dilihat dari beberapa teori-teori yang membahas mengenai pengembangan koleksi tentu kita mengenal teori evan dalam proses pengembangan koleksi di perpustakaan. Dengan ni Dalam proses pengembangan koleksi di perpustakan maka kita dapat juga mengaju kepada pendapat Yuyu Yulia dalam masalah pegembangan koleksi di perpustakan. Pegembangan koleksi berdasarkan penjelasan Evan10: Dalam hal ini teori evan menjelaskan mengenai pegembangan koleksi dapat dilihat melalui analisis pengguna diantaranya teori Evan di patron community iyalah: a. Analisis pengguna Dalam hal ini dalam proses pengembangan koleksi hendaknya perpustakaan melakukan analisis pengguna informasi di perpustakaan sehingga dalam proses pengadaan bahan koleksi sudah di ketahu bahwa bahan kolekasi yang akan di adakan dan yang akan di beli, serta analisis pengguna juga dapat menentukan seberapa besar sebuah kolelksi diminati dan di butuhkan oleh para pengguna informasi yang ada di perpustakaan. b. Kebijakan seleksi Kebijakan seleksi bahan pustaka dapat dilakukan dalam proses yang sangat detai dan dalam menentukan sebuah kebujakan hendaknya perpustakaan mengecek kembali bahan-bahan pustaka yang akan diadakan dan degan adanya kebijakan seleksi ini dapat memudahkan pustakawan dalam mengindentifikasi sebuah kesalahan dalam proses pengadaan bahan pustaka. c. Seleksi Tahapan ini dapat dilakukan setelah kebijakan koloesi sudah dilakukan dan tibalah saatnya melakukan sebuah seleksi bahan pustaka, apakah bahan pustaka ini layak di ambil dan di pajang. d. Pengadaan Setelah melakukan prose seleksi dilakukan maka tim seleksi langsung mengambil kebijakan dan memutuskann bahwa bahwa proses pengadaan sudah dapat dimulai. Dalam hal ini yang dinamakan proses pengadaan iyalah sesuatu keingginan untuk memiliki sebuah sumber informasi yang dapat berwujud fisik maupun non fisik. Contohnya pengadaan yan fisik seperti bahan monograf dan yang non fisik seperti pengadaan bahan elektronik seperti e-book. e. Penyiangan Kegiatan penyiangan bahan pustakan inidilakukan oleh petugas perpustakaan seprti mengambil kembali koleksi yang sekiranya sudah dinaggap tidak bernilai atau koleksi lama maka akan ditarik kembali dari daftar koleksi utama. f. Evaluasi Evaluasi koleksi yang dilakukan oleh petugas yang sudah ditentukan dan hal ini juga dapat memnjadi penentuan kulaitas kerja yang sudah dilakukan olek staff pengembangan koleksi. Dan dalam mencapai suatu evaluasi yang efektig maka kembali lagi melihat pada analisis pengguna. Pemikiran yang dituangkan oleh Yuyu Yulia mengenai pengembangan koleksi yaitu mengutip dan mengembangkan konsep berpikir yang dikemukakan oleh Evans. Menurut Yuyu Yulia, Pengembangan koleksi adalah suatu proses kegiatan yang mencakup sejumlah kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan koleksi perpustakaan, termasuk menetapkan dan koordinasi terhadap kebijakan seleksi, penilaian terhadap kebutuhan pengguna dan pengguna potensial, kajian penggunaan koleksi, evaluasi koleksi, identitas kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka dan perencanaan untuk bekerjasama, pemeliharaan koleksi dan penyiangan. Yuyu Yulia yang mendapat inspirasi dari konsep Evans memiliki persamaan juga perbedaan dari hasil pemikirannya. Perbandingan pemikiran kedua tokoh dapat dilihat seperti berikut ini. D. Perbandingan pemikiran Evans Dan Yuyu Yulia 1. Persamaan a. Pemikiran Evans Pengembangan koleksi merupakan proses yang univerasl untuk perpustakaan. Dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan bahan pustaka yang meliputi seleksi dan evaluasi. Perumusan kebijakan pengembangan koleksi dengan melakukan need assesment terlebih dahulu oleh pustakawan bidang pengembangan koleksi. Untuk mengetahui siapa komunitas masyarakat yang dilayani. b. Pemikiran Yuyu Yulia Pengembangan koleksi mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama aspek seleksi dan evaluasi Pustakawan yang ditugaskan dibidang pengembangan koleksi harus mengetahui betul apa tujuan perpustakaan dan siapa pemakainya. 2. Perbedaan a. Pemikiran Evans 1) Perumusan kebijakan pengembangan koleksi dilakukan oleh pustakawan professional. Dilakukan dengan membangun relasi dengan pihak yang terlibat dengan masyarakat yang dilayani. 2) Seleksi dilakukan oleh pustakawan yang professional. 3) Tidak ada identifikasi kebutuhan pengguna. 4) Hanya menjelaskan tentang penyiangan koleksi, koleksi yang dianggap sudah tidak bernilai dan lama akan di remove dari rak koleksi. b. Pemikiran Yuyu Yulia 1) Perumusan kebijakan pengembangan koleksi dilakukan oleh pustakawan senior, wakil dari fakultas atau jurusan, wakil lembaga, seperti lembaga penelitian. 2) Seleksi dilakukan oleh pustakawan, tenaga pengajar dan peneliti, mahasiswa, unit kerja lain apabila diperlukan. 3) Mengidentifikasi kebutuhan informasi pengguna secara informal maupun formal. Kajian informal bisa dilakukan dengan cara observasi terhadap pengguna yang datang ke perpustakaan untuk mengetahui informasi apa yang dicari. 4) Menjelaskan penyiangan dan perawatan koleksi. Bahan pustaka memerlukan perawatan yang teratur, sistematis dan berkesinambungan. Yang dikategorikan dalam 3 jenis: Fisik bahan pustaka, Isi keseluruhan koleksi Perawatan dari teknologi dan media. Berdasarkan informasi di atas, dapat diuraikan bahwa pemikiran kedua tokoh tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan dalam pengembangan koleksi di perpustakaan. Dari segi persamaan, keduanya sepakat bahwa dalam melakukan pengembangan koleksi diperlukan perumusan kebijakan tertulis dengan tinjauan analisis pengguna terlebih dahulu sebelum pedoman tersebut disusun secara matang. Dari segi perbedaan, terdapat beberapa poin yang yang berbeda dari opini kedua tokoh tersebut. Pertama, dari analisis Evan dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah pilar utama dalam pengembangan koleksi dimana kegiatan yang dimulai dengan need assesment, perumusan pedoman seleksi hingga penyiangan dilakukan oleh pustakawan professional. Sedangkan menurut Yuyu Yulia, kegiatan pengembangan koleksi dapat melibatkan orang lain yang dianggap dapat bekerjasama, misal mahasiswa, dosen, pihak fakultas apabila perpustakaan yang dilayani adalah perpustakaan Universitas. Pihak-pihak yang dilibatkan tergantung pada perpustakaan yang dilayaninya. Kedua, Evans tidak menyebutkan bahwa adanya identifikasi kebutuhan pengguna di perpustakaan dalam patron community yang dijabarkannya. Sedangkan menurut Yuyu Yulia, perlu dilakukannya identifikasi kebutuhan pengguna yang dapat dilakukan secara formal dan informal untuk mengetahui informasi apa yang sebenarnya dicari dan dibutuhkan oleh pengguna. Ketiga, Evans hanya menyebutkan tentang penyiangan koleksi dalam gagasan idenya, koleksi yang dianggap sudah tidak layak maka ditarik secara total dari rak. Sedangkan Yuyu Yulia, selain melakukan penyiangan, perawatan koleksi juga perlu dilakukan baik yang tercetak maupun yang tersedia dalam bentuk elektronik. Pemikiran kedua tokoh tersebut dapat dijadikan rekomendasi dalam pengembangan koleksi oleh semua jenis perpustakaan dan dimana perpustakaan itu berada. Indonesia khususnya, apabila dapat menerapkan pemikiran yang ditutur oleh dua tokoh diatas, maka akan mendorong pengembangan perpustakaan menjadi lebih baik dari segi koleksi. Perpustakaan akan mempunyai petunjuk yang jelas dan terorganisir dalam memperluas koleksi, membangun koleksi yang kuat serta bernilai guna dan tepat sasaran. Hal itu akan menambah kepercayaan masyarakat akan informasi-informasi yang ada disebuah perpustakaan yang dapat menimbulkan kelancaran bagi para pengguna informasi degan pegembangan kolesi yang baik maka akan terciptalah informasi yang terpercaya serta akurat dan menjamin akan kesediaan informsinya sehingga perpustakaan dapat digunakan dan dapat disebut degan perpustakaan inklusif bagi para pengguna. Dalam pegebangan koleski kita tidak hanya membahasa dua pendapat saja seperti evan dan yuyu yulia akan tetapi masih ada konsep pegembangan koleksi yang di gagas oleh ALA (Assosiation Librarry Amaerica) diantaranya adalah : Prosedur pengembangan koleksi adalah suatu istilah yang sering digunakan secara luas pada dunia perpustkaan, dalam artian pustaka apa saja yang mesti disediakan didalam perpustakaan, yang melipusti koleksi bahan pustaka dalam bentuk cetak, monografi, majalah, bahan mikro dan masih banyak lagi, Menurut ALA Glossary of Library and information science,(1983) pengertian pengembangan koleksi adalah11 : Prosedur pengembangan koleksi adalalah suatu kegiatan memilih dan melakukan pengadaan sesuai dengan prosedur dari para pustakawan dan juga dengan pengguna di perpustakaan, kesepakatan yang dimaksud dalam hal pengembangan koleksi disini iyalah dengan melakukan rapat kordinasi oleh berbagai pihak diantaranya kepala perpustakaan, staf dan para pustakawan yang ada di perpustakaan. Pengembangn koleksi di dasar atas 5 asas dinataranya : 1. Kerelevanan Koleksi yang dipih dalam hal pengadaan hendaknya sesuai dengan kebutuhan proses blajar mengajar di perpustakaan perguruan tinggi, dan sesuai dengan kebutuhan peneliti agar perpustakaan menjadi sebuah pusat dalam pencarian informasi yang relevan. 2. Berorientasi keapada pengguna Pengembangan koleksi perlu di utamakan dari segi kebutuhan pengguna di perpguruan tinggi baik dari peneliti, profesor, tenaga ahli, dan juga dilihat dari jenjang pendidikan perguruan tinggi (S1, S2 dan S3), agar tercapainya atau terpenuhinya kebutuhan bagi para pengguna dan masyarakat. 3. Kelengkapan Seharusnya perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi buku dalam bentuk cetak saja akan tetapi perpustakaan harus mampu mnyediakan koleksi dalam bentuk digital karena perkembangan teknologi saat ini semakin berkembang pesat, salah satu koleksi dalam bentuk koleksi yang digital iyalah seperti ebook, junal nasional dan internasional. 4. Kemuktakhiran Hendaknya koleksi yang di pesan mukhtahir, sesuai dengan perkembangan zaman dengan memilih koleksi- koleksi terbaru yang sudah di perbaharui sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. 5. Kerjasama Salah satu asas dalam pengembangan koleksi yaitu melaukan kerjasama dengan perpustakaan maupun penerbit, yang menyangkut kepentingan dalam hal pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi, guna terpenuhinya kebutuhan bagi para peneliti maupun pengguna. Dari beberapa teori dalam pegembangan koleksi yang sudah di paparkan diatas maka perlu dilihat atapun ditinjau kembali teori kebijakan yang mana yang sekiranya sesuai dengan keadaan saat ini dalam ruanglingkup perpustakaan. Dalam hal ini yang dapat diambil untuk dijadikan acuan dalam pegembangan koleksi sepertinya lebih cenderung ke pemikiran yuyu yulia karena dalam pegembangan koleksi perlu melakukan anaisis kebutuhan pengguna serta dalam hal ini tidak terlepas dari beberpa teori pendukung yang berkaitan seperti konsep pengembangan koleksi edwar evans dan ALA..
Conclusion
Pengembangan koleksi di perpustakaan umum yang berbasis ingklusif dalam hal ini membahas mengenai pegembangan koleksi di kalagan masyarakat informasi tentu sangat berpegaruh terhadap tingkat kebutuhan para pengguna informsi dan mengenai masalah ini banyak pegembangan koleksi yang dapat digunakan dalam proses pegembangan koleksi mulai dari teori evan yang hanya memaparkan kajian pengguna, kebijakan seleksi, seleksi, pengadaan, penyiangan dan evaluasi koleksi dan konsepnya yuyu yulia yang mengatakan bahwa dalam pegembangan koleksi meliputi, pegembangan koleksi perpustakaan, menetapkan dan koordinasi terhadap kebijakan koleksi, penilaian kebutuhan pengguna, pengguna potensial, kajian pengguna koleksi, evaluasi koleksi, indentitas kebutuhan, seleksi bahan pustaka dan merencanakan kerjasama. Dalam hal ini tidak lupa pula bahwa selain dari itu ada juga pendapat dari ALA yang menyebutkan bahwa dalam pegembagan koleksi didasarkan dari bebrapa asas diantaranya iyalah, kerelevanan, berorientasi pada pengguna, kelengkapan, kemutakhiran, kerjasama. Dalam hal ini sangat jelas banyak komponen dalam proses pegembangan koleksi yang dapat digunakan dalam proses pegembagan koleksi yang dapat menunjang kualitas pegembangan sumber-sumber informasi di sebuah perpustakaan sehingga dapat mempermudah pengguna dalam menemukan informasi yang mutakhir di era masyarakat informasi saat ini. Penjelasan konsep- konsep pegembangan koleksi yang digagas oleh evan dan yuyu yulia saja tapi ada konsep pegembangan koleksi yang juga di jelaskan oleh ALA(Assosistion Librarry America) dapat juga kita lihat dan kita kenali diantarannya membahas konsep pegembagan koleksi seperti kerelevanan sebuah koleksi, berorientasi pada pengguna, kelengkapan, kemutakhiran informasi didalamnya, serta melakukan kerjasama. Dari beberapa konsep pegembangan koleksi ini dalam sebuah perpustakaan umum dalam proses menunjang terciptanya perpustakaan yang inklusif bagi para pengguna informasi sehingga pengguna informasi merasa perpustaaan itu hanya berisikan buku akan tetapi perpustakaan juga mengadakan berbagai macam bahan koleksi baik itu koleksi digital maupun konvensional