Kembali
16
1
2019 LIBRIA : Library of UIN Ar-Raniry Vol 11 · 1 ISSN 2549-8606

MANAJEMEN KINERJA GURU PUSTAKWAN DALAM PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA SMAN 2 MEULABOH

Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Abstrak

Guru pustakawan adalah guru sekolah yang mendapatkan pendidikan atau pelatihan di bidang perpustakaan, selain tugas mengajar juga bertugas di perpustakaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data: obeservasi, wawancara dan studi dokumentasi. Adapuntujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui penyusunan program, pelaksanaan program, upaya atau strategi m dan faktor pendukung dan penghambat kinerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah pada SMAN 2 Meulaboh, dengan subjek penelitian adalah Kepala Sekolah, dan Guru Pustakawan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa (1) Belum terdapatnya; (2) Program/kegiatan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh sebagian dapat terlaksanakan, namun sebagian lagi belum terlaksanakan sepenuhnya dan ada kegiatan yang sama sekali belum terlaksana; (3) Upaya pemberdayaan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh yang dilakukan oleh guru pustakawan adalah dengan melakukan lomba siswa/siswi peminjam buku terbanyak, pembinaan bakat dan minat siswa dan menggalakkan kegiatan membaca sebelum memulai pelajaran serta melakukan kerjasama dengan Dinas terkait untuk membentuk GLS (Gerakan Literasi Sekolah); dan (4) terdapat faktor pendukung kinerja guru pustakawan dalam pemberdayaan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh serta faktor penghambat kinerja guru pustakawan dapat menunjang manajemen kinerja guru pustakawan pada SMAN 2 Meulaboh seperti sarana-prasana, pustakawan dan lain sebainya.
Keywords: Kinerja · Guru Pustakawan · dan SMAN 2 Meulaboh

Introduction

Masalah Perpustakaan sekolah merupakan prasarana yang wajib tersedia dalam setiap satuan pendidikan, berguna untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan seperti yang tertuang pada pasal 42 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sementara dalam UU Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan juga dijelaskan bahwa: "Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi Standar Nasional Perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. "Oleh karena itu, sebuah perpustakaan hendaknya dapat mendukung suksesnya pendidikan yang berlangsung di sekolah tersebut dan didirikan dengan mengacu pada parameter yang berlaku. Sutarno¹ mendefinisikan bahwa: Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada di sekolah, dikelola oleh sekolah, dan berfungsi untuk sarana kegiatan belajar-mengajar, penelitian yang sederhana, menyediakan bahan bacaan guna menambah ilmu pengetahuan, sekaligus tempat berekreasi yang sehat di sela- sela kegiatan rutin dalam belajar. Untuk mengelola perpustakaan sekolah biasanya ditunjuk seseorang, baik itu guru bidang studi tertentu pada sekolah yang bersangkutan maupun non guru (pustakawan) yang berlatar pendidikan bidang perpustakaan. Sehubungan dengan hal itu, Good mendefinisikan bahwa "Perpustakaan sekolah adalah an organized collection of housed in a school for the use of pupils and teachers and in charge of librarian of a teacher.” Artinya bahwa perpustakaan sekolah merupakan sebuah ruang yang mengorganisasikan koleksi agar dapat dipergunakan oleh para siswa dan guru.Dalam penyelenggaraannya perpustakaan sekolah memerlukan seorang pustakawan yang bisa diambil dari seorang guru pada sekolah tersebut.2 Dalam perkembangannya, guru yang diberi tugas tambahan oleh kepalasekolah sebagai pengelola perpustakaan disebut guru 1 Sutarno, NS. Membina Perpustakaan Desa: Dilengkapi dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. (Jakarta: Sagung Seto. 2008), hlm. 47 2 Bafadal, Ibrahim. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara.2011), hlm. 4 pustakawan) tanpa dibekali dengan pendidikan dan pelatihan mengenai perpustakaan sekolah. Permasalahan lain adalah guru yang ditempatkan di perpustakaan merupakan guru yang bermasalah yang kemudian dibebastugaskan mengajar oleh kepala sekolah atau guru yang akan memasuki masa pensiun. Bahkan terkadang kepala sekolah menempatkan guru di perpustakaan tanpa melihat bahwa guru tersebut memiliki minat atau tidak pada perpustakaan.Masalah-masalah tersebut pada akhirnya membuat perpustakaan menjadi tak bernilai bagi sekolah.Seyogyanya sebuah perpustakaan sekolah dikelola oleh pustakawan yang memiliki latar pendidikan perpustakaan, tetapi pada kenyataannya banyak perpustakaan sekolah para pengelolanya adalah guru di sekolah tersebut.Hal ini menyebabkan tugas para guru yang menjadi pengelola perpustakaan menjadi bertambah.Selain menjalankan tugas utama mereka menjadi guru, mereka juga menjadi pengelola perpustakaan. Pada Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh, kepala sekolah menunjuk seorang guru sebagai kepala perpustakaan yang merangkap sebagai pustakawan. Hal tersebut merujuk pada Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah yang menetapkan bahwa "Setiap sekolah/madrasah untuk semua jenis dan jenjang yang mempunyai jumlah tenaga perpustakaan sekolah/madrasah lebih dari satu orang, mempunyai lebih dari 6 rombongan belajar (rombel), serta memiliki koleksi minimal 1000 (seribu) judul materi perpustakaan dapat mengangkat kepala perpustakaan sekolah/madrasah." Guru tersebut juga telah dihargai 12 jam mengajar/tatap muka sebagai beban sebagai kepala perpustakaan seperti yang tertuang dalam pasal 54 ayat 4 PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru, yang menetapkan bahwa "Beban kerja kepala perpustakaan satuan pendidikan yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu." Oleh karena itu sudah seharusnya seorang guru pustakawan berperan aktif dan berkinerja secara maksimal dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah. Berdasarkan paparan permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai Manajemen Kinerja Guru Pustakawan dalam Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah Pada SMAN 2 Meulaboh.

Result & Discussion

Pendidikan merupakan proses yang terus berlangsung seumur hidup. Proses pendidikan yang berlangsung di sekolah merupakan sistem terencana dan terarah yang di dalamnya melibatkan siswa, guru dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.Dalam mendukung pendidikan yang bermutu bagi sebuah sekolah, maka sangat dibutuhkan sebuah perpustakaan sekolah sebagai gudang ilmu dan sumber informasi pengetahuan serta referensi utama dalam pembelajaran.Perpustakaan sekolah juga merupakan salah satu fasilitas penunjang proses pembelajaran di sekolah sebab berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru. Dalam proses belajar mengajar, perpustakaan sekolah dapat memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, dalam mengelola sebuah perpustakaan di sekolah, sangat diperlukan guru pustakawan yang memiliki manajemen kinerja yang baik dalam meningkatkan pemberdayaan dan manajemen pengelolaan perpustakaan. Untuk mengetahui kinerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah pada SMAN 2 Meulaboh,maka dilakukan suatupenelitian dengan didasarkan pada tujuan penelitian yang telah dirumuskan pada bab pendahuluan. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, dalam usaha untuk memperoleh sejumlah data dan informasi yang akurat, maka peneliti melakukan wawancara, observasi dan studi dokumentasi dengan menjadikan kepala sekolah, guru pustakawan, serta sejumlah guru dan siswa sebagai informan dan SMAN 2 Meulaboh, Aceh Barat sebagai lokasi penelitian. Dari data-data, maka diperolehlahhasil penelitian dan pembahasan yang dipaparkan berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan secara berurutan. Adapun hasil penelitian yang diperoleh pada SMA Negeri 2 Meulaboh tentang Manajemen Kinerja Guru Pustakawan dalam Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah diantaranya ialah sebagai berikut: a. Penyusunan program kerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah pada SMAN 2 Meulaboh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: penyusunan program kerja Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh yang seyogyanya dilakukan dengan merumuskan sejumlah visi, misi, tujuan dan sasaran perpustakaan. Setelah visi, misi, tujuan dan sasaran tersusun, barulah dibahas seluruhnya dalam Rapat Kerja (RAKER) sekolah yang rutin dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru, yaitu pada Bulan Juni setiap tahunnya, yang melibatkan Kepala Sekolah, para Wakil Kepala Sekolah (bidang Kurikulum, Kesiswaan, Sarana dan Prasarana dan Humas), Guru Pustakawan, serta Ketua komite sekolah untuk menyusun program perpustakaan sekolah sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah yang telah disusun sebelumnya. Namun, berdasarkan hasil penelitian yang peneliti temui pada SMA Negeri 2 Meulaboh sampai saat ini belum ada program kerja yang teratur dan tertulis terhadap perpustakaan sekolah. Pengelolaan perpustakaan SMA Negeri 2 Meulaboh pun masih tergolong dalam kategori model pengelolaan lama yang manual dan belum terintegrasi digital. Hasil wawancara dengan Guru Pustakawan SMAN 2 Meulaboh menyatakan bahwa: Adapun mengapa saat ini SMAN 2 Meulabnoh belum mempunyai program kerja yang di rumuskan sesuai dengan visi, misi dan tujuan perpustakaan sekolah, membahas visi, misi dan tujuan perpustakaan sekolah jangka pendek, menengah dan jangka panjang, mengidentifikasi permasalahan dan hambatan dalam pencapaian visi, misi dan tujuan perpustakaan sekolah, memikirkan, mencari, dan menemukan alternatif solusi penyelesaian masalah/hambatan disebabkan selama ini bagi kami selama ini mempunyai keterbatasan dalam penyusunan ini. hal ini disebabkan karena Sumber Daya Manusia yang ada di perpustakaan SMA 2 Meulaboh pun hingga saat ini terbatas dan masih merangkap jabatan. Hal ini juga menjadi suatu akibat dalam proses penyusunan program kerja perpustakaan tidak terpenuhi disebabkan dengan tugas tambahan lain yang cukup besar. Pernyataan tersebut di atas dilanjutkan oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Meulaboh, yang menyatakan bahwa: Kepala Sekolah sangat mendukung penuh terhadap manajemen perpustakaan agar terlaksana dengan baik.Namun, karena keterbatasan SDM pada sekolah kami, maka yang seharusnya Kepala Sekolah menerima perencanaan program kerja perpustakaan yang diajukan oleh guru pustakawan dan staf perpustakaan tidak terealisasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena tenaga guru pustakawan yang bertugas di perpustakaan sekolah hanya satu orang, dan beliaupun merangkap jawaban sebagai Wakil Kepala Sekolah. Akibat banyaknya tugas yang harus diselesaikan pula, maka terjadilah suatu kendala dalam penyusunan program perpustakaan sekolah. Apalagi keterbatasan ditambah keterbatasan dalam segi ilmu perpustakaan, sehingga penyusunan rencana/program kerja perpustakaan, mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan perpustakaan sekolah, berusaha mencari atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan perpustakaan sekolah serta fasilitas pendukung yang diperlukan, dan mengawasi serta mengevaluasi setiap program yang dilaksanakan di perpustakaan tidak terlaksana dengan baik. Guru pustakawan yang seharusnya bertugas untuk memikirkan dan merumuskan kembali visi, misi, tujuan dan sasaran perpustakaan sekolah yang lebih baik dan konkret. Namun, guru pustakawan di SMA Negeri 2 Meulaboh bekerja sendiri karena keterbatasan personil perpustakaan sekolah.Keterbatasan ini juga disebabkan akibat kurangnya pengetahuan tentang ilmu perpustakaan. Dapat disimpulkan bahwa, saat ini pada SMAN 2 Meulaboh belum ada tersusunnya sebuah program kerja pepustakaan sekolah secara lebih jelas dan terperinci, hal ini disebabkan karena keterbatasan kelimuan guru pustakawan yang di tempatkan pada perpustakaan dalam mengelola dan memanajemeni perpustakaan. Faktor lain ialah guru pustakawan yang mendapat posisi sebagai pengelola perpustakaan juga merangkap jabatan lain di sekolah sebagai Wakil Kepala Sekolah, sehingga dalam penyusunan program terjadi hambatan disebabkan dengan beban tugas yang cukup tinggi. Kemudian, kendala lain juga di dapatkan bahwa pengelola perpustakaan pada SMAN 2 Meulaboh tidak berjalan optimal juga disebabkan pada perpustakaan hanya terdapat satu orang guru pustawan yang sekaligus merangkap sebagai Kepala Perpustakaan dan pengelola perpustakaan, tanpa dibantu oleh tenaga lainnya. b. Pelaksanaan program kerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah padaSMAN 2 Meulaboh. Dalam penelitian ini, pelaksanaan program kerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah pada SMAN 2 Meulaboh dapat dilihat dari pengorganisasian atau pembagian tugas, serta pelaksanaan beberapa program kerja yang telah disusun sebelumnya. Hasil penelitian menyatakan bahwa deskripsi pelaksanaan program kerja Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh masih berpaku pada model gaya lama yang masih menggunakan metode manual dalam menyusun program kerja perpustakaan. Diantara pelaksanaan program pun masih pada pelaksanaan program kerja operasional saja. Adapun program operasional yang dimaksud ialah sebagai berikut: Berdasarkan data pelaksanaan program kerja operasional yang dilaksanakan oleh guru pustakawan SMAN 2 Meulaboh terlihat jelas bahwa masih banyak program yang masih tergolong dalam kategori program berketerangan 'sebagian terlaksana'. Hal ini membuktikan bahwa program kerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah masih terjadi hambatan dan terdapat manajemen pengelolaan perpustakaan belum terlaksana dengan baik sebagaimana manajemen perpustakaan sekolah. Pengelolaan program pun masih menggunakan konsep lama, seharusnya sudah menggunakan digital dan aplikasi perpustakaan seperti Senayan Library Management System (SliMS) dan lain sebagainya untuk memudahkan guru pustakawan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Dari keterangan di atas juga ditemukan bahwa, upaya pengawasan dan evaluasi kinerja terhadap guru pustakawan juga masih belum optimal dilaksanakan. Sebab, penilaian kinerja tersebut belum mampu memberikan efek terhadappeningkatan kinerja guru pustakawan. c. Upaya atau strategi yang dilakukan guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah pada SMAN 2 Meulaboh. Walapun masih terlihat belum optimalnya pengelolaan perpustakaan sekolah dengan baik, Namun guru perpustawan pada SMAN 2 Meulaboh terus merumuskan bebagai uapaya yang dilakukan guna mendukung dalam pemeberdayaan perpustakaan sekolah.Diantara upaya atau strategi yang dilakukan ialah dengan bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Barat dengan membentuk GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dan memilih siswa-siswa terbaik di SMA 2 Meulaboh untuk membentuk kepengurusan.Hal ini dilakukan untuk mendukung dan membantu dalam kinerja perpustakaan sekolah untuk lebih baik.Dengan program utama GLS ialah dengan menggalakkan siswa SMA 2 Meulaboh untuk membaca dan berkunjung keperpustakaan dan juga mereka ini juga dilibatkan dalam perpustakaan termasuk membantu guru pustakawan dalam menjalankan tugas dan fungsinya menjalankan perpustakaan agar aktif dan berjalan. Guru pustawan juga melakukan beberapa kegiatan dalam upaya pemberdayaan perpustakaan sekolah, adapun kegiatan- kegiatan tersebut berupa: lomba pemilihan siswa teraktif atau terbanyak dalam peminjaman koleksi, pembinaan bakat dan minat siswa dalam mengikuti beberapa perlombaan, misalnya lomba duta bahasa, pidato, puisi, cerdas cermat dan sebagainya. Pembinaan dilakukan di perpustakaan sebab perpustakaan menyediakan beberapa koleksi terkait untuk penguatan minat dan bakat siswa tersebut. Kemudian, peminjaman buku paket per siswa setiap semesternya Saat ini, jumlah siswa pada SMAN 2 Meulaboh berjumlah 620 siswa.Tentunya jumlah tersebut juga menjadikan tugas baru bagi Guru Pustakawan SMAN 2 Meulaboh untuk melakukan program digitalisasi perpustakaan agar semua siswa mau masuk ke perpustakaan.Pihak perpustakaan sudah mengusulkan program digitalisasi tersebut.Tetapi, menyangkut realisasinya belum tahu kapan akan direalisasikannya. Pengadaan buku setiap tahun ada dan yang terbanyak adalah tahun 2016/2017.Namun, yang menjadi kendala saat ini ialah koleksi yang sudah cukup banyak. Sehingga terpaksa digudangkan akibat sarana dan ruang perpustakaan tidak menampung banyaknya koleksi yang ada Dapat disimpulkan bahwa upaya atau strategi guru pustakwan yang dilakukan SMAN 2 Meulaboh dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah ialah dengan melakukan berbagai kegiatan lomba, pemilihan siswa teraktif atau terbanyak dalam peminjaman koleksi, pembinaan bakat dan minat siswa dalam mengikuti beberapa perlombaan. Selain itu, juga dilakukan pembentukan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dengan melibatkan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Aceh Barat.Hal ini dilakukan karena selama ini minat baca siswa pada SMAN 2 Meulaboh mulai berkurang dan untuk membangkit minat baca siswa maka perlu dilakukan kerjasama dengan Dinas Arsip untuk membentuk sebuah gerakan literasi sekolah. d. Faktor pendukung dan penghambat kinerja guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah pada SMAN 2 Meulaboh. Faktor pendukung guru pustakawan dalam pemberdayaan perpustakaan sekolah diantaranya ialah guru pustakawan mendapatkan kepercayaan dan dukungan penuh dari Kepala Sekolah dan rekan sejawat, sehingga dalam meningkatkan pengetahuan mengenai bidang kepustakaan guru pustakawan pada SMAN 2 Meulaboh tidak terhambat, termasuk mealakukan kerjasama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Aceh Barat dalam membentuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan program lainnya, disebabkan karena pengetahuannya tentang ilmu

Conclusion

a. Kesimpulan 1. Belum terdapatnya penyusunan program/kegiatan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh. Hal ini disebabkan oleh kemampuan karena Sumber Daya Manusia yang ada di perpustakaan SMA 2 Meulaboh hingga saat ini terbatas dan masih merangkap jabatan. Hal ini juga menjadi suatu akibat dalam proses penyusunan program kerja perpustakaan tidak terpenuhi disebabkan dengan tugas tambahan lain yang cukup besar. 2. Program/kegiatan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh sebagian dapat terlaksanakan, namun sebagian lagi belum terlaksanakan sepenuhnya dan ada kegiatan yang sama sekali belum terlaksana. Oleh karena itu, kinerja guru pustakawan masih dalam kategori kurang berdasarkan hasil penilaian kinerja yang telah dilakukan. 3. Upaya pemberdayaan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh yang dilakukan oleh guru pustakawan adalah dengan melakukan kerjasama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Aceh Barat untuk membentuk peminjaman GLS (Gerakan Literasi Sekolah), melakukan pengadaan buku paket pelajaran, lomba siswa/siswi peminjam buku terbanyak, pembinaan bakat dan minat siswa dan menggalakkan kegiatan membaca sebelum memulai pelajaran. 4. Faktor pendukung kinerja guru pustakawan dalam pemberdayaan Perpustakaan SMAN 2 Meulaboh adalah guru pustakawan mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari kepala sekolah dan rekan sejawat untuk mengelola perpustakaan, Sementara, faktor penghambat kinerja guru pustakawan adalah kondisi lingkungan kerja yang masih kurang kondusif dan kurangnya fasilitas atau sarana prasarana di perpustakaan yang dapat menunjang kinerja guru pustakawan serta tenaga pustakawan.