Kembali
16
1
2020 Jupiter Vol 17 · 2 ISSN 2777-046X

STUDI KOMPARASI KESESUAIAN PERPUSTAKAAN SMAN 2 MAROS DAN SMAN 12 MAROS BERDASARKAN STANDAR NASIONAL INDONESIA NOMOR 7329:2009 TENTANG PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang studi komparasi kesesuaian perpustakaan SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros berdasarkan SNI No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah. Adapun yang menjadi pokok masalah adalah bagaimana perbedaan antara Perpustakaan SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros menurut SNI Nomor 7329:2009 dan bagaimana tingkat pencapaian pengelolaan perpustakaan di SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros berdasarkan SNI Nomor 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lebih mendalam mengenai Bagaimana perbedaan antara Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaaan SMAN 12 Maros menurut SNI No. 7329:2009 dan Bagaimana tingkat pencapaian pengelolaan perpustakaan di SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros berdasarkan SNI Nomor 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah ditinjau dari segi: standar koleksi, sumber daya manusia, layanan perpustakaan, ruang perpustakaan, perabot dan perlengkapan serta anggaran perpustakaan. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif komparatif, metode ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Perpustakaan SMAN 2 Maros telah memenuhi 6 SNI No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah dalam hal jumlah koleksi buku teks, jumlah tenaga perpustakaan, kualifikasi pendidikan kepala perpustakaan, jenis layanan, luas area baca dan anggaran perpustakaan. Sedangkan SMAN 12 Maros telah memenuhi 8 SNI No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah yaitu jumlah koleksi buku teks, jumlah tenaga perpustakaan, kualifikasi pendidikan kepala perpustakaan, jenis layanan, luas ruang secara keseluruhan, luas area baca, luas area staf dan anggaran perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa Perpustakaan SMAN 12 Maros lebih tinggi tingkat pencapaian pengelolaannya daripada Perpustakaaan SMAN 2 Maros berdasarkan SNI No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah. Dengan persentase kesesuaian SMAN 2 Maros 37,5% sementara SMAN 12 Maros 50%.

Abstract

This research discusses the comparative study of the suitability of the libraries of SMAN 2 Maros and SMAN 12 Maros based on SNI No. 7329: 2009 concerning the school library. As for the main problem is how the difference between the libraries of SMAN 2 Maros and SMAN 12 Maros according to SNI Number 7329: 2009 and what is the level of achievement of library management in SMAN 2 Maros and SMAN 12 Maros based on SNI Number 7329: 2009 concerning School Libraries. The purpose of this research is to find out more deeply about how the differences between the libraries of SMAN 2 Maros and Library of SMAN 12 Maros according to SNI No. 7329: 2009 and How is the level of achievement of library management at SMAN 2 Maros and SMAN 12 Maros based on SNI Number 7329: 2009 concerning School Libraries in terms of: collection standards, human resources, library services, library space, furniture and equipment and library budget. The method used is descriptive comparative method, this method is a type of descriptive research with a qualitative approach. The results of this study indicate that the library of SMAN 2 Maros has met 6 SNI No. 7329: 2009 concerning school libraries in terms of the number of textbook collections, the number of library staff, the educational qualifications of the head of the library, the type of service, the reading area and the library budget. Meanwhile, SMAN 12 Maros has fulfilled 8 SNI No. 7329: 2009 concerning school libraries, namely the number of textbook collections, the number of library staff, the educational qualifications of the head of the library, the type of service, the overall space area, the reading area, the staff area and the library budget. This shows that the library of SMAN 12 Maros has a higher level of management achievement than the library of SMAN 2 Maros based on SNI No. 7329: 2009 concerning the school library. With the conformity percentage of SMAN 2 Maros 37.5% while SMAN 12 Maros 50%.
Keywords: Comparative Study · School Library · SNI No. 7329: 2009

Introduction

Pendidikan yang berkualitas tentu perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satu sarana dan prasarana adalah penyediaan perpustakaan. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa perpustakaan berperan penting dalam menunjang pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan dan pengelolaannya perlu disesuaian dengan Standar Nasional yang telah ditetapkan. Dalam hal ini Standar Nasional Indonesia Nomor 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa standar sarana dan prasarana untuk keperluan pendidikan meliputi ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, dan berekreasi serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan uraian tersebut menujukkan bahwa perpustakaan merupakan salah satu unsur penting yang harus disediakan di sekolah untuk menunjang pendidikan yang berkualitas. Mengingat sekarang ini informasi-informasi apa saja dapat dengan mudah diperoleh dengan menggunakan internet. Kehadiran internet tentu memberi kemudahan bagi setiap orang untuk mengakses informasi, namun untuk keperluan pendidikan tentu tidak terlalu disarankan menggunakan internet karena tidak menutup kemungkinan ada banyak informasi yang disediakan belum jelas referensinya. Oleh karena itu, kehadiran perpustakaan di sekolah sangat dibutuhkan untuk menyediakan informasi-informasi yang relavan dan berkualitas bagi generasi penerus bangsa. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan setiap sekolah memiliki perpustakaan yaitu, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 23 ayat 1 menyatakan bahwa, setiap sekolah/ madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi Standar Nasional dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. Peraturan tersebut secara jelas mengharuskan setiap sekolah memiliki perpustakaan yang memenuhi standar. Meskipun demikian masih banyak masalah yang dihadapi perpustakaan sekolah di Indonesia saat ini. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurjannah dengan judul “Problematika Perpustakaan Sekolah (Studi Kasus di SMP Negeri 3 Mertoyudan Kabupaten Magelang)”, menunjukkan bahwa ada beberapa problematika yang dihadapi perpustakaan SMPN 3 Mortoyudan diantaranya keterbatasan anggaran, anggaran yang disediakan untuk perpustakaan sekolah masih terbilang terbatas dan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perpustakaan. Sumber daya manusia, yang mengelola perpustakaan adalah guru yang aktif mengajar dan tidak memiliki pengetahuan tentang pengelolaan perpustakaan sebagaimana mestinya sehingga perpustakaan tidak terurus. Perabot perpustakaan yang termakan usia serta koleksi yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan siswa dan kurikulum. Bahkan masih banyak sekolah di Indonesia yang belum memiliki perpustakaan (Nurjannah, 2014: 128-129). Menurut Pungki Purnomo, persoalan yang masih dihadapi oleh perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia baik itu perpustakaan umum, sekolah, perguruang tinggi, serta perpustakaan khusus umumnya dikelolah oleh seseorang yang tidak berlatar belakang kepustakawanan (Purnomo, 2015: 69). Penelitian ini dilakukan pada dua tempat yakni Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros. Karena kedua perpustakaan sekolah tersebut sama-sama berada dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Berdasarkan hal tersebut terkait dengan penyelenggaraan perpustakaan sekolah di SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros ditinjau dari standar koleksi perpustakaan, sumber daya manusia, layanan perpustakaan, ruang perpustakaan, perabot dan perlengkapan serta anggaran perpustakaan berdasarkan Standar Nasional Indonesia Nomor 7329:2009. Tidak semua hal dalam Standar Nasional Indonesia yang di teliti, hanya yang berkaitan langsung dengan pemustaka dan terlihat oleh berbagai pihak. II. TINJAUAN PUSTAKA a. Studi Komparasi Studi komparasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan “studi artinya penelitiaan ilmiah, kajian, telaahan” sedangkan “komparasi artinya perbandingan” (Kemendikbud, 2019). Jadi studi komparasi merupakan penelitian ilmiah yang membandingkan dua kelompok atau lebih. Sedangkan menurut Nazir dalam Menisty (2015: 8) mengemukakan bahwa, studi komparasi merupakan jenis penelitian deskriptif yang tujuannya mencari jawaban secara mendasar mengenai sebab akibat, serta menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya maupun munculnya suatu fenomena. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa, studi komparasi merupakan jenis penelitian deskriptif yang digunakan untuk membandingkan dua kelompok atau lebih. b. Perpustakaan Sekolah Setiap orang memiliki pandangan tersendiri dalam memberikan sebuah pengertian terhadap suatu hal, berikut ini beberapa pengertian perpustakaan sekolah menurut pendapat para pakar, diantaranya: Menurut Lasa HS, perpustakaan sekolah merupakan sistem pengelolaan sumber informasi sebagaimana mestinya yang disediakan bukan hanya untuk para siswa namun juga untuk para guru dan karyawan (Lasa HS, 2002: 2). Menurut Ibrahim Bafadal, perpustakaan sekolah merupakan kumpulan dari bahan pustaka yang diorganisasikan secara sistematis dalam suatu ruangan yang terdiri dari koleksi buku maupun bukan buku sebagai sumber informasi bagi para siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar (Bafadal, 2006: 5). Dari beberapa penjelasan para pakar tentang pengertian perpustakaan sekolah maka dapat disimpulkan bahwa, perpustakaan sekolah merupakan sarana yang menunjang pendidikan di sekolah berupa kumpulan bahan pustaka baik yang cetak maupun non cetak yang dihimpun dalam suatu ruangan dan dikelola oleh tenaga pustakawan sebagaimana mestinya untuk membantu para siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar. c. Layanan Koleksi Perpustakaan Layanan merupakan salah satu kegiatan penting dalam menjalankan tugas dan fungsi perpustakaan. Sumber informasi yang ada dalam perpustakaan harus disebarluaskan kepada masyarakat dengan melayangkan koleksi. Koleksi perpustakaan yang telah diolah sebagaiana mestinya akan menjadi sangat berarti bila dimanfaatkan oleh masyarakat. Dengan memberikan pelayanan yang baik tentu akan menarik masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan (Wulandari, 2019). Semua perpustakaan sekolah dalam memberikan layanan kepada pemustaka harus memegang prinsip demokratisasi informasi. Artinya, pemberian layanan informasi di perpustakaan sekolah harus dapat melayani semua pemustaka tanpa membedakan status sosial, budaya, ekonomi, maupun status lainnya (Suherman, 2013: 134). Dalam pemberian layanan informasi terhadap pemustaka, pustakawan harus melayani pemustaka secara merata dan adil. Koleksi perpustakaan sekolah menurut Pawit M. Yusuf dan Yaya Suhendar adalah kumpulan dari bahan pustaka atau sumber-sumber informasi baik itu buku maupun non buku yang dikelola sebagaimana mestinya untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi para siswa dan guru dalam proses belajar mengajar (Yusuf dan Suhendar, 2013: 9). Sedangkan menurut Puji Hastuti, dalam blog pribadinya mendefinisikan koleksi perpustakaan sekolah merupakan semua jenis bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah dan disimpan serta disebarluaskan agar dapat dimanfaatkan oleh pemustaka dalam hal ini siswa, guru dan staf administrasi sekolah (Hastuti, 2019). Dari pengertian koleksi perpustakaan sekolah tersebut dapat disimpulkan bahwa, koleksi perpustakaan sekolah merupakan sekumpulan bahan pustaka yang terdiri dari buku maupun non buku yang dikelola sebagaimana mestinya untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi para siswa maupun guru dan turut serta dalam kelancaran kegiatan proses belajar mengajar. d. Standar Nasional Indonesia Nomor 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah Perpustakaan merupakan salah satu sarana penting terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Melalui perpustakaan baik itu bagi siswa maupun guru diharapkan dapat memfungsikan perpustakaan sebagai pusat sumber informasi, sehingga pengetahuannya bertambah luas dan berkualitas. Namun kenyataannya sekarang ini masih banyak sekolah yang belum mampu menyelenggarakan keberadaan perpustakaan yang memadai untuk mencapai harapan tersebut (Sutarno, 2019). Pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan terkait dengan penyelenggaraan perpustakaan di sekolah diantaranya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa standar sarana dan prasarana untuk keperluan pendidikan meliputi ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, dan berekreasi serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Serta Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 23 ayat 1 menyatakan bahwa, setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi Standar Nasional dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. Peraturan pemerintah tersebut jelas menyerukan kepada setiap sekolah di Indonesia untuk menyelenggarakan perpustakaan untuk menunjang pendidikan. Namun kenyataannya ada banyak problematika yang dihadapi oleh perpustakaan sekolah di Indonesia mulai dari masalah anggaran, sarana dan prasarana yang kurang memadai, sumber daya manusianya, bahkan masih ada sekolah yang belum menyelenggarakan perpustakaan. Menurut Pungki Purnomo, persoalan yang masih dihadapi oleh perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia baik itu perpustakaan umum, sekolah, perguruang tinggi, serta perpustakaan khusus umumnya dikelolah oleh seseorang yang tidak berlatar belakang kepustakawanan (Purnomo, 2015: 69). Standar penyelenggaraan perpustakaan sekolah merupakan standar yang dikeluarkan oleh badan standarisasi yang resmi untuk dijadikan patokan dalam mengelola perpustakaan. Dengan adanya standar ini, tentu diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi pengelola perpustakaan sekolah baik yang berlatar belakang kepustakawanan maupun yang bukan, sehingga perpustakaan dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Method

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif. Metode ini termasuk kedalam jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dengan melakukan penelitian langsung dengan menggunakan rangkaian wawancara secara mendalam, observasi dan dokumentasi untuk mengumpulkan data di lapangan. Adapun analisis deskriptif komparatif pada penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan bagaiaman perbedaan antara Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros menurut Standar Nasional Indonesia Nomor 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah. Proses pengolahan dan analisis data mengikuti teori Miles dan Huberman, sebagaimana yang dikutip Emzir, bahwa terdapat tiga macam kegiatan dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan (Emzir, 2014: 131-135). Adapun langkah-langkah pengolahan dan analisis data pada penelitian ini yaitu: Reduksi data artinya merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan dalam pengumpulan data (Sugiyono, 2018: 247). Dalam hal ini, data atau informasi yang telah dikumpulkan melalui penelitian lapangan, observasi, wawancara, dan dokumentasi di reduksi. Dimana peneliti merangkum, menyederhanakan, dan memilih beberapa data atau informasi yang penting, sehingga data yang didapatkan dapat memberikan gambaran yang jelas. Penyajian data menurut Miles dan Huberman yang paling sering digunakan dalam penyajian data untuk penelitian kualitatif adalah data disajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif (Sugiyono, 2018: 249). Dalam penelitian ini data yang telah di reduksi disajikan dalam bentuk teks atau uraian singkat dan tabel. Sehingga data atau informasi tersebut terstruktur dan memudahkan peneliti dalam memahaminya serta melihat perbandingannya. Kemudian penarikan kesimpulan dari data atau informasi yang telah terangkum yang diuraikan dalam bentuk naratif. Dimana kesimpulan tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah pada penelitian ini (Sugiyono, 2010: 99). a. Uji Keabsahan Data Uji keabsahan data perlu dilakukan untuk menghindari adanya jawaban dari informan yang tidak jujur. Pengujian data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan usaha mengecek atau menguji kebenaran (kredibilitas) data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiyono, 2018: 241). Pada penelitian ini pengujian keabsahan data yang digunakan ada tiga yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu. 1. Triangulasi Sumber Triangulasi sumber dilakukan untuk menguji atau membandingkan informasi yang diperoleh di lokasi penelitian dengan sumber yang berbeda. 2. Triangulasi Teknik Triangulasi teknik dilakukan untuk menguji kebenaran data atau informasi yang diperoleh melalui wawancara yang dibandingkan dengan informasi yang diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Untuk mendapatkan informasi yang benar-benar valid. 3. Triangulasi Waktu Data atau informasi yang dikumpulkan dengan teknik melakukan wawancara terhadap informan dipagi hari karena disaat itu informan masih segar dan belum banyak masalah, sehingga informasi yang diperoleh melalui wawancara dipagi hari lebih menghasilkan informasi yang valid. Triangulasi waktu juga dapat dilakukan dengan cara pengecekan wawancara dengan observasi dalam waktu atau situasi yang berbeda untuk memperoleh informasi atau data yang valid. Jika data yang diperoleh berbeda, maka akan dilakukan secara berulang-ulang hingga kepastian datanya ditemukan.

Discussion

a. Perbedaan Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros Menurut Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa jenis koleksi yang dimiliki Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros adalah buku teks, buku pengayaan (buku fiksi dan non fiksi), koleksi referensi dan koleksi terbitan berkala. Ini menunjukan bahwa baik itu Perpustakaan SMAN 2 Maros Maupun Perpustakaan SMAN 12 Maros belum memenuhi standar untuk jenis koleksi yaitu materi perpustakaan elektronik (internet). Perpustakaan SMAN 2 Maros maupun Perpustakaan SMAN 12 Maros telah memenuhi standar untuk jumlah koleksi buku teks, sementara untuk perbandingan koleksi non fiksi dan fiksi belum memenuhi standar. Pada koleksi referensi dan terbitan berkala pada Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros untuk koleksi referensi dan terbitan berkala belum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Namun untuk tingkat pencapaian koleksi referensi Perpustakaan SMAN 12 Maros lebih unggul dengan tingkat pencapaian kesesuaian 53,3% sementara Perpustakaan SMAN 2 Maros 26,6%. Sumber Daya Manusia (SDM) kedua perpustakaan sekolah tersebut masing-masing berjumlah 3 orang, yang terbagi atas kepala perpustakaan dan 2 orang tenaga perpustakaan. Hal ini tentu telah memenuhi standar untuk ketentuan jumlah SDM perpustakaan sekolah. Sementara untuk kualifikasi pendidikan SDM Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros untuk kepala perpustakaan telah memenuhi namun untuk staf perpustakaan belum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia No. 7329: 2009. Berdasarkan hasil penelitian pada perabot dan perlengkapan yang di tetapkan dalam standar di perpustakaan SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros hanya menyediakan rak buku, meja dan kusi baca, meja sirkulasi, perangkat komputer. Untuk papan pengumuman dan lemari katalog tidak ada. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros belum memenuhi standar untuk perabot dan perlengkapan yang telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009. Anggaran kedua perpustakaan ini juga menjadi hal yang menarik, yaitu perpustakaan SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros telah memenuhi Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 untuk standar anggaran perpustakaan. Bahkan telah melebihi dari standar yang telah ditentukan. b. Tingkat Pencapaian Pengelolaan Perpustakaan di SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros Berdasarkan Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 Adapun tingkat pencapaian pengelolaan Perpustakaan SMAN 2 Maros dan SMAN 12 Maros berdasarkan Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 yaitu: jenis-jenis koleksi perpustakaan dimana Perpustakaan SMAN 2 Maros tidak memenuhi satu dari enam jenis koleksi dalam Standar yaitu tidak menyediakan materi perpustakaan elektronik dalam hal ini internet. Perbandingan koleksi non fiksi dan fiksi, dengan perbandingan 96,34% : 3,65% yang seharusnya dalam Standar 60% : 40%. Terbitan berkala yang di langgan, dimana seharusnya Perpustakaan SMAN 2 Maros melanggan satu judul majalah dan koran, namun perpustakaan hanya melanggan koran (Tribun Timur). Koleksi referensi, Perpustakaan SMAN 2 Maros hanya menyediakan 4 dari 15 jenis koleksi referensi yang seharusnya di sediakan di perpustakaan dengan persentase kesesuaian hanya 26,6%. SDM perpustakaan, kualifikasi pendidikan tenaga perpustakaan (staf perpustakaan) belum sesuai dengan Standar. Perabot dan perlengkapan, belum sesuai dengan standar dimana perpustakaan tidak menyediakan lemari katalog dan papan pengumuman/pameran. Sedangkan Perpustakaan SMAN 12 Maros untuk tingkat capaian yaitu: jenis-jenis koleksi perpustakaan, dimana Perpustakaan SMAN 12 Maros tidak memenuhi satu dari enam jenis koleksi dalam Standar yaitu tidak menyediakan materi perpustakaan elektronik dalam hal ini internet. Perbandingan koleksi non fiksi dan fiksi, dengan perbandingan 91,94% : 8,05% yang seharusnya dalam Standar 60% : 40%. Terbitan berkala yang di langgan, dimana seharusnya Perpustakaan SMAN 12 Maros melanggan satu judul majalah dan koran, namun perpustakaan hanya melanggan koran (Tribun Timur dan Fajar). Koleksi referensi, Perpustakaan SMAN 12 Maros hanya menyediakan 8 dari 15 jenis koleksi referensi yang seharusnya di sediakan di perpustakaan dengan persentase kesesuaian hanya 53,3%. SDM perpustakaan, kualifikasi pendidikan tenaga perpustakaan (staf perpustakaan) belum sesuai dengan Standar. Perabot dan perlengkapan, belum sesuai dengan stndar dimana perpustakaan tidak menyediakan lemari katalog dan papan pengumuman/pameran. c. Komparasi Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros Menurut Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diketahui bahwa ada beberapa perbedaan antara Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros. Adapun perbandingan Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros menurut Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Pada tabel di di bawah dapat dilihat bahwa ada 4 jenis standar koleksi perpustakaan, yaitu koleksi, sumber daya manusia, sarana dan prasarana perpustakaan dan anggaran. Jenis standar nasional perpustakaan untuk koleksi baik Perpustakaan SMAN 2 Maros maupun Perpustakaan SMAN 12 Maros telah memenuhi standar untuk jumlah koleksi buku teks, sementara untuk perbandingan koleksi non fiksi dan fiksi belum memenuhi standar. Sedangkan untuk koleksi referensi dan terbitan Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros untuk koleksi referensi dan terbitan berkala belum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Pada sumber daya manusia kedua perpustakaan sekolah tersebut masing-masing berjumlah 3 orang, yang terbagi atas kepala perpustakaan dan 2 orang tenaga perpustkaan. Hal ini tentu telah memenuhi standar untuk ketentuan jumlah SDM perpustakaan sekolah. Sementara untuk kualifikasi pendidikan SDM Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros untuk kepala perpustakaan telah memenuhi namun untuk staf perpustakaan belum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia No. 7329: 2009. Tabel Perbandingan Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros Standar sarana dan prasarana Perpustakaan SMAN 2 Maros belum memenuhi Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 untuk luas ruangan secara keseluruhan, luas area koleksi, area staf dan area lain-lain, sementara luas area baca telah memenuhi standar. Sedangkan Perpustakaan SMAN 12 Maros telah memenuhi standar untuk luas ruang secara keseluruhan, luas area baca, luas area staf, sementara luas area koleksi dan area lain-lain belum memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk perabot dan perlengkapan Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros belum memenuhi standar untuk perabot dan perlengkapan yang telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009. Standar anggaran perpustakaan dapat disimpulkan bahwa baik itu SMAN 2 Maros maupun SMAN 12 Maros telah memenuhi Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 untuk standar anggaran perpustakaan. Bahkan telah melebihi dari standar yang telah ditentukan

Conclusion

1. Kesimpulan a. Perbedaan antara Perpustakaan SMAN 2 Maros dengan Perpustakaan SMAN 12 Maros yaitu Perpustakaan SMAN 2 Maros telah memenuhi 6 Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah dalam hal jumlah koleksi buku teks, jumlah tenaga perpustakaan (kepala perpustakaan dan 2 orang staf perpustakaan), kualifikasi pendidikan kepala perpustakaan, dan anggaran perpustakaan. Sedangkan Perpustakaan SMAN 12 Maros telah memenuhi 8 Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah yaitu jumlah koleksi buku teks, jumlah tenaga perpustakaan (kepala perpustakaan dan 2 orang staf perpustakaan), kualifikasi pendidikan kepala perpustakaan secara keseluruhan, dan anggaran perpustakaan. b. Tingkat pencapaian pengelolaan Perpustakaan di SMAN 12 Maros lebih tinggi dari pada SMAN 2 Maros berdasarkan Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah. Dengan persentase tingkat pencapaian kesesuaian Perpustakaaan SMAN 2 Maros 37,5% sedangkan Perpustakaaan SMAN 12 Maros 50%. 2. Saran a. Perbandingan koleksi non fiksi dan fiksi, baik Perpustakaan SMAN 2 Maros maupun Perpustakaan SMAN 12 Maros perlu memperhatikan perbandingan koleksi non fiksi dan fiksinya yang dari hasil penelitian masih jauh dari standar yang telah di tetapkan yaitu 60:40 untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. b. Perpustakaan SMAN 2 Maros perlu menambah jenis-jenis koleksi referensinya seperti buku biografi, peta, globe dll. yang di mana sekarang hanya menyediiakan kamus dan ensiklopedi untuk mendukung proses belajar mengajar. c. Dalam rangka menjadikan perpustakaan sebagai penunjang pendidikan di sekolah maka Perpustakaan SMAN 2 Maros dan Perpustakaan SMAN 12 Maros perlu membuat kebijakan lebih lanjut untuk dapat menaikkan persentase kesesuaian perpustakaan dengan Standar Nasional Indonesia No. 7329:2009.