Penguatan Budaya Baca di Perpustakaan Sekolah: Dasar Mewujudkan Masyarakat Pembelajar Sepanjang Hayat
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Tujuan utama perpustakaan sekolah adalah untuk mendukung usaha perpustakaan sekolah dalam meningkatkan keterampilan literasi siswa di sekolah: skills for finding, accessing and using information from various sources for personal and academic reasons so that student will be information literate. Walaupun penekanan tujuan utama perpustakaan sekolah pada "information literacy" pustakawan sekolah khususnya dinegara ini harus menjalankan peran kuncinya yaitu pembinaan dan penguatan budaya baca karena kebiasaan membaca siswa yang relative rendah. Beberapa strategi bisa secara konsisten dilakukan oleh pustakawan sekolah yang terlatih atau teacher librarian: provide the tools to help young people access books, not to be judgmental about children's reading choices & school librarians should model positive reading behaviour, Demonstrate that reading is valued, Make reading social and create opportunities for reluctant readers to share reading with an active or enthusiastic reader. Selain itu, Literacy development siswa juga harus dipertimbangkan apakah siswa pada fase learn to read atau read to learn. Strategi di atas bisa dilakukan sebagai dasar untuk mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat.
Keywords:
perpustakaan Sekolah/madrasah
· penguatan budaya baca
· pustakawan
· teacher librarian
Introduction
Dalam School Library manifesto disebutkan misi dan tujuan perpustakaan sekolah adalah the school library provides information and ideas that are fundamental to functioning successfully in today's information and knowledge based society. The school library equips student with life-long learning skills and * Nurhayati Ali Hasan, M. Lis., adalah dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, dan sekarang menjabat Ketua program studi IP dan Muhammad Apriliandi adalah mahasiswa aktif semester VII prodi Ilmu Perpustakaan FAH Ar Raniry LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 75 develops the imagination, enabling them to live as responsible citizens.1 Ini berarti perpustakaan sekolah harus menyediakan informasi dan ide yang merupakan dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat di era sekarang yang berbasis pengetahuan dan informasi. Perpustakaan sekolah perlu membekali pelajar atau siswanya berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat (life long learning) serta imajinasi yang memungkinkan mereka hidup sebagai warganegara yang bertanggungjawab. Salah satu badan PBB yaitu Unesco pun telah mencanangkan programnya bagi anak- anak melalui Early Childhood Care and Education (ECCE) agar menjadi fondasi bagi mereka untuk mewujud generasi yang sehat dan pembelajar sepanjang hayat.2 Menurut Brophy yang dikutip oleh Shari Buxbaun3 sedikitnya ada tiga alasan mengapa pembelajaran seumur hidup itu urgent. Alasan yang pertama karena masyarakat yang berubah sangat cepat. Kedua, pada masyarakat global individu harus lebih cepat mendapatkan informasi dan alasan ketiga kompetisi antara individu, kelompok dagang, perusahaan dan negara. Melihat dari alasan pembelajaran seumur hidup tersebut mengindikasikan information literacy menjadi satu keniscayaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata informasi berarti penerangan, pemberitahuan, kabar atau berita tentang sesuatu sedangkan kata dasar literasi berarti kemampuan membaca dan menulis.4 , , 1 IFLA School Libraries Section Standing Committee, Ifla school library guideline 2nd revised edition, Netherlands International Federation of Library Associations and Institutions, 2015, hal.16, diakses pada www.ifla.org, lihat juga Manifesto perpustakaan Sekolah IFLA/UNESCO dalam hal Perpustakaan Sekolah dalam pengajaran dan pembelajaran untuk semua, diterjemahkan oleh Mr.Hernanono, Prof. Sulistyo Basuki dan Lucya Dhamayanti on behalf of national Library of Indonesia. 2 Early childhood care and education Unesco, diakses pada http//en.unesco.org/themes/early-childhood-care-and-education/ 3 Shari Buxbaum (ed), Library Services: Perpustakaan Virtual untuk kuliah Bisnis system jarak jauh tren yang berkembang saat ini, (Jakarta: Murai Kencana, 2004), hal.9-10. 4 KBBI daring, kata kunci informasi dan literasi/diakses pada kbbi.kemdikbud.go.id 76 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 Information Literacy5 yang dalam Bahasa Indonesia sering diartikan kemelekan informasi atau keberaksaraan informasi adalah the ability to access, evaluate & use information from the variety of sources for both academic & personal reasons & to effectively communicate this knowledge to others. Jadi, kemelekan informasi adalah kemampuan seseorang dalam mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dalam kehidupan mereka sehari-hari dari berbagai sumber secara mandiri seumur hidup sehingga terciptanya masyarakat informasi. Kemelekan informasi suatu masyarakat salah satunya bisa dilihat dari eksistensi, peran dan fungsi perpustakaan ditengah-tengah masyarakat tersebut. Perpustakaan sekolah seperti telah disebutkan dalam manifesto perpustakaan sekolah tidak boleh lepas dari peran tersebut agar membekali keterampilan pembelajaran seumur hidup. Namun melihat kondisi budaya baca di negara ini masih "memprihatinkan", ada tugas yang lebih mendasar dan mendesak bagi perpustakaan sekolah yaitu reading promotion dengan dasar pemikiran bahwa membaca itu perlu diajarkan, dibina, dan dipupuk sejak dini. Islam pun mengajak pemeluknya untuk membaca. Ayat Alquran yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada surat Al Alaq adalah perintah untuk membaca. Sedemikian penting perintah itu sampai-sampai kata tersebut diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama pada ayat 1 dan 3. Allah pun menjanjikan siapapun yang membaca “demi karena Allah" maka ia memperoleh kemurahan anugerahNya berupa pengetahuan, pemahaman dan wawasan baru walaupun objek bacaannya sama.6 Tanpa budaya dan kebiasaan membaca yang tinggi, masyarakat yang literate sulit untuk dicapai. Tulisan ini ingin melihat strategi yang bisa diterapkan oleh perpustakaan sekolah dalam membudayakan membaca dengan cara yang menyenangkan mengingat sekolahlah lingkungan pendidikan pertama bagi anak setelah keluarga. Selain itu sebuah 5 Fostering Information Literacy: Connection National Standards Goals 2000 and the SCANS Report, Libraries Unlimited, 2000. Istilah- istilah lain yang semakna dengan information literacy adalah Information Inquiry; Information Competency;Information fluency; dan information problem-solving. 6 M Quraish Shihab, Kisah & Hikmah kehidupan lentera hati, Bandung: Al Mizan, 1994, hal.40. LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 77 hasil penelitian seorang guru besar di Universitas Harvard yang dikutip oleh Zaki Najib Mahmud seorang pakar Filsafat Mesir Kontemporer dalam buku Kisah & Hikmah kehidupan lentera hati menyebutkan peran generasi muda setelah 20 tahun ke depan ditentukan salah satu faktor utamanya adalah materi bacaan dan sajian yang disuguhkan kepada generasi muda tsb yang dapat membentuk pandangan hidup dan nilai-nilai yang dianut7. Untuk mentransformasi dari keunggulan komparatif yang berbasis SDA menjadi keunggulan kompetitif diperlukan SDM yang unggul yang tentunya berbasis pada pengetahuan yang kuncinya adalah membaca.8 Banyak tokoh-tokoh besar dunia adalah pembaca bahkan dijuliki “kutu buku”. Tentunya perpustakaan sekolah akan memberikan peran yang cukup besar untuk memupuk minat mereka terhadap bacaan sekaligus memilih bacaan yang baik buat mereka dan pastinya tanpa mengenyampingkan peran keluarga dan lingkungan masyarakat sekitarnya dan juga pemerintah.
Result & Discussion
B. Definisi dan misi perpustakaan sekolah/ Madrasah Sebuah perpustakaan sekolah adalah a school's physical and digital learning space where reading, inquiry, research, thinking, imagination, and creativity are central to students' information-to- knowledge journey and to their personal, social, and cultural growth.9 Melihat definisi di atas perpustakaan sekolah menjadi learnrning central space bagi siswa untuk membaca, riset, berfikir, mengembangkan imaginasi, dan berkreativitas. Perpustakaan sekolah/madrasah menurut Undang-undang Perpustakaan no 43 tahun 2007 merupakan salah satu jenis perpustakaan di Indonesia yang penyelenggaraannya harus memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar nasional Pendidikan.10 Jenis perpustakaan ini berada pada lembaga pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah. Sebagai bagian integral dari kegiatan sekolah bersangkutan, di samping sebagai pusat kegiatan belajar untuk mendukung 7 Ibid., hal.286. 8 Suherman, Mereka besar karena membaca,, Bandung: Literate publishing, 2012, hal.x IFLA School Libraries Section Standing Committee, Ifla school library guideline 2nd revised edition, Netherlands International Federation of Library Associations and Institutions, 2015, hal.16 , , 10 Undang-undang Perpustakaan no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, Jakarta: Perpusnas RI,2007, hal.15 78 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 tercapainya tujuan pendidikan sekolah/madrasah. Terkait dengan pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan, dalam undan-undang ini menyebutkan " dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran”11 Adapun misi yang diemban perpustakaan sekolah/madrasah tergantung pada misi sekolah/madrasah. Secara umum misi perpustakaan sekolah memberikan jasa pembelajaran, buku dan sumber daya informasi lainnya yang memungkinkan komunitas sekolah berkembang menjadi pemikir kritis serta pemakai informasi dalam segala format dan media.12 Jadi, perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dalam proses pendidikan di suatu sekolah untuk membantu guru mengajar dan murid belajar melalui media dan sumber yang tersedia di perpustakaan yang mencakup unsur educational, informational, cultural dan recreational dan untuk madrasah ditambah dengan unsur spiritual. Dengan kedudukannya tersebut, perpustakaan/madrasah sekolah memiliki tujuan13: a. Membantu dan memperkuat tujuan pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah; b. mengembangkan dan memperkuat kebiasaan dan kegemaran membaca dan belajar pada murid serta penggunaan perpustakaan sepanjang hayat; C. memberikan kesempatan memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, imajinasi dan keceriaan; d. membantu murid dalam pembelajaran dan keterampilan menilai serta menggunakan informasi, dengan tidak memandang bentuk, format atau media, termasuk kepekaan pada modus komunikasi dengan komunitas; e. menyediakan akses ke sumber informasi lokal, regional, nasional dan global serta kesempatan yang mengekspos murid pada gagasan, pengalaman dan opini yang beranekaragam; 11 Ibid., hal. 24. 12 Sulistyo-Basuki, “Perpustakaan sekolah: pemahaman tentang kaitan misi perpustakaan sekolah dengan misi sekolah serta dampak terhadap keberhasilan akademis murid” makalah lokakarya Perpustakaan sekolah, Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh 23-27 Oktober 2007, hal.2. 13 Ibid., hal.3. LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 79 f. mengorganisasi aktivitas yang mendorong kesadaran dan kepekaan cultural dan sosial; g. bekerja sama dengan murid, guru, pimpinan sekolah serta orang tua untuk mencapai misi sekolah; h. memaklumatkan konsep bahwa kebebasan intelektual dan akses informasi merupakan hal penting bagi terbentuknya warganegara yang bertanggung jawab dan partisispasi dalam alam demokrasi; mempromosikan membaca, sumber serta jasa perpustakaan kepada seluruh komunitas sekolah dan komunitas di luar sekolah Melihat misi dan tujuan perpustakaan sekolah diharapkan akan terbentuk masyarakat yang literate yang diawali dengan adanya kecintaan membaca di masyarakat sekolah dan luar sekolah. Di beberapa negara maju menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah menyempurnakan keberhasilan akademis muridnya dan berimbas pada kegiatan murid mencari informasi.14 C. Minat dan budaya baca Minat adalah suatu tindakan yang dilakukan karena ada dorongan.Adanya dorongan tersebut menjadi satu kebiasaan, suatu yang dilakukan rutin baik disadari atau tidak, dan budaya, suatu pola pikir, pola tindak dan prilaku orang dalam kehidupannya dari waktu ke waktu.15 Di sini yang perlu didorong atau dimotivasi untuk menjadi kebiasaan dan budaya adalah membaca. Anak-anak akan bersedia menggunakan sebagian besar waktunya untuk membaca jika mereka gemar membaca. Membaca butuh suatu pembiasaan. Pembiasaan untuk membaca inilah yang menjadi salah satu tugas crusial dan urgent di perpustakaan sekolah mengingat literasi (membaca) ini vital di era digital ini namun membaca masih menjadi permasalahan di negara kita. Ada beberapa survey dan pendapat yang mengaminkan hal ini. Dalam artikel di Suratkabar Pikiran Rakyat menyebutkan minat baca Indonesia sangat rendah dilihat konsumsi satu surat kabar 14 Lihat Carol Koechin & Sandi Zwan, Menjadikan program Perpustakaan berharga: dimanakah buktinya?(Terj) Dalam Coorsepack on School/Teacher Librarianship, Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 2006, hal.106-114 juga Sulistyo-Basuki, hal. 4-5. 15 Sutarno NS, Tanggungjawab Perpustakaan dalam mengembangkan masyarakat Informasi, Jakarta:Panta Rei, 2005, hal.70- 71. 80 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 untuk 45 Orang yang idealnya 1: 10 orang. Negara kita masih tertinggal dari Negara seperti Srilanka 1: 38 dan Filipina 1:30.16 Rendahnya minat baca ini menjadikan budaya dan kebiasaan membaca masyarakat kita rendah. Data tahun 2002 menyebutkan angka buta huruf di Negara kita 18,7 juta, 250 hingga 300 ribu siswa SD kelas 1, 2 dan 3 putus sekolah. 17 Sebelumnya, tahun 2000 organisasi International Educational achievement (IEA) menyebutkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia diurutan 38 dari 39 negara yang diteliti. Ini terendah di Negara ASEAN.18 Kemampuan dan kebiasaan membaca ini langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kualitas bangsa. UNDP (United Nations development program) menjadikan angka melek huruf ini sebagai salah satu indikator untuk menentukan indeks pembangunan manusia (Human development indeks atau HDI) dan HDI ini menentukan kualitas bangsa. Di Negara kita tentu hasilnya bisa ditebak. Literate rate di Indonesia belum tinggi sekitar 88%. Negara maju seperti Jepang 99%.Pada tahun 2003 HDI Indonesia dalam hal kualitas bangsa diurutan 112 dari 174 negara jauh dibawah Negara-negara seperti Vietnam diurutan 109, Thailand diposisi 74, Malaysia dan Brunei masing-masing diurutan 58 dan 31.19 Presiden ke 6 (enam) Indonesia pun mengakui hal ini. Beliau mengatakan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dengan melihat indikator sedikitnya toko buku dibanding jumlah penduduk. Kesesatan berfikir masyarakat yang percaya tidak perlu teori yang penting praktek.20Dalam The Jakarta Post menyebutkan Indonesia second least literate nation in the world in a list of 61 measurable countries, besting only Bostswana berdasarkan laporan penelitian Central Connecticut State University of United States.21 Berbeda dengan data di atas, menurut unesco, literasi di Indonesia sudah impressive khususnya pemuda (youth) yaitu 99.67%, namun hasil laporan programme for internasional Student assessment (PISA) tentang literasi tahun 2015, ranking Indonesia pada urutan 63 dari 69 negara. Salah satu faktor yang membuat rendahnya ranking ini adalah low reading interest. Dalam penelitian tersebut 16 Pikiran Rakyat, 8 Maret 2004. 17 Republika, 24 Januari 2003. 18 Ibid. 19 Pikiran Rakyat, 23 Maret 2004. 20 Tempo, 28 Desember 2007. 21 Arief Gunawan S," Indonesia second least literate of 61 nations" The Jakarta Post, March, 12,2016 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 81 juga menyarankan meningkatnya minat membaca menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan literacy skill" Tentunya fenomena di atas adalah suatu yang memprihatinkan dan perlu penanganan penguatan pembudayaan membaca sebagai fondasi yang salah satunya menjadi tanggungjawab perpustakaan sekolah. Dengan penanganan yang baik kita bisa beranjak ke konsep literasi yang sebenarnya. Di Indonesia membaca belum bisa dikatakan sebagai kebutuhan pokok seperti makan dan minum. Bukankah kita pun memerlukan kebutuhan intelektual juga yang salah satunya bisa didapatkan dari bacaan. D. Hambatan pembudayaan minat baca Jika dilihat dari faktor utama penghambat dari pembudayaan membaca ini Ajib Rosidi 22menilai tiga hal penyebabnya. Pertama tidak ada atau kurangnya kegemaran membaca buku yang baik yang dicontohkan oleh orang tua dan guru. Kedua, tidak ada atau kurangnya bahan-bahan bacaan yang baik yang dapat memuaskan dahaga anak-anak akan bacaan; dan ketiga tidak ada pendidikan dan pembinaan membaca, termasuk pendidikan teknis membaca di lembaga pendidikan Orang tua adalah pendidik pertama putra-putrinya. Oleh karena itu dalam soal membaca pun rumah adalah pangkalnya. DeBruin-Parecki & Krol-Sinclair menyebutkan dengan istilah Family literacy "the ways that families support the literacy development of their children". Dukungan dan keteladanan dalam pembiasaan membaca ini kurang didapatkan anak dari rumah.Banyak anak yang punya kebiasaan membaca tinggi dari keteladanan keluarga yang membaca. 23 Lingkungan sekolah tidak memberikan contoh dan dukungan yang baik dalam pembiasaan membaca. SD di Negara ini yang lebih kurang 155 ribu tidak memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai. Koleksi tidak memadai, tidak ada ruang khusus dan tidak ada pengelolanya.24 Kalaupun ada perpustakaan, perpustakaan dianggap satu 'dunia lain dan terisolasi', tidak 22 Ajib Rosidi, Pembinaan minat baca,bahasa dan sastra, Surabaya: Bina Ilmu, 1983, hal.77. 23 Wishnubroto Widarso," meningkatkan minat tulis dan minat baca", dalam buku membangun kualitas bangsa: bunga rampai sekitar perbukuan di Indonesia, yogyakarta: Kanisius, hal. 319-314. 24 pikiran rakyat, 23 maret 2004. 82 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 adanya kolaborasi antara guru dan perpustakaan.sistem pendidikan yang tidak banyak mengharuskan murid untuk membaca. Guru jarang memberikan tugas yang mengharuskan murid ke perpustakaan. Guru sastra Indonesia misalnya bisa saja menyuruh anak-anak menyiapkan laporan setelah membaca satu buku sastra. Seorang guru MTsN Windusari25, Magelang mengamati secara umum kondisi perpustakaan sekolah. Kondisi pertama, masih terlihat adanya rasa kurang peduli pada sejumlah kepala sekolah dan guru terhadap buku dan perpustakaan yang ada. Perpustakaan lebih mirip gudang dari pada perpustakaan. Kepala sekolah kurang berminat menyisihkan anggaran untuk keperluan pangadaan buku baru. Kondisi kedua; kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa mau membaca atau menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar kurang direncanakan oleh sekolah. Kondisi ketiga, kurang terjalinnya hubungan baik antara pihak sekolah dengan pihak luar, terutama orang tua sebagai stakeholder untuk membuat perpustakaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Dunia penerbitan buku di Indonesia pun masih jauh ketinggalan dari negara lain, faktor ekonomi keluarga, yang tidak mengalokasi dana khusus untuk beli buku kalaupun ada kecil sekali Rp.100.000/bulan, 2-3 buku produk penerbit lokal26 Faktor di atas diperparah dengan adanya teknologi yang melaju dengan pesat. Audio Visual (VCD/DVD, Televisi, games, computer dan handphones menjadi biasa ditengah keluarga dan masyarakat. Karena budaya lisan yang kental dan mengakar di masyarakat kita, teknologi itu hanya digunakan untuk hiburan semata. Beribu-ribu informasi di dunia cyber yang dapat ditelusuri dan dibaca tetapi karena dasarnya tidak suka membaca segala kemudahan di teknologi itu tidak ada gunanya. Bahkan bukan tidak mungkin teknologi hanya untuk menonton pornografi. Mungkin benar jika ada yang menyebutkan kondisi masyarakat kita yang pergerakannya melompat dari keadaan praliterer ke dalam masa pasca literer, tanpa melalui masa literer. Tidak pernah membaca karena budaya lisan dan tidak hendak membaca karena teknologi informatika dan telekomunikasi, informatika & broadcasting yang akhirnya suka nonton. Survey yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 25 Muh Muslih, "Budaya Baca masih di awang-Awang", UNS website 9 Desember 2007. 26 Kompas, 19 februari 2005 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 83 menyebutkan dari 132,7 juta pengguna internet di Indonesia, 768 ribu adalah anak-anak usia 10 sd 14 tahun, naik 51.8% dari tahun 2014 yaitu 88 juta. Mereka tidak aktif di media sosial tapi menonton video salah satunya youtube.27 Untuk tahun 2018 pengguna internet usia 10-14 tahun sebanyak 66,2 % 28 pada penelitian lain disebutkan aktifitas online anak-anak 6-12 tahun adalah main game online 37%, social media 29.3%, mengunduh video, music video, gambar 22.3% dan tempat mengakses internet 52.6% adalah dari rumah.29 Anak Indonesia adalah penonton TV terlama, lalu Amerika, Australia dan yang paling rendah Canada. Padahal menonton itu lebih banyak dampak negatif berbanding positif bagi anak seperti kekerasan. Penelitian di luar negeri sudah menyimpulkan ada korelasi untuk tidak menyebutkan penyebab antara tayangan kekerasan dengan prilaku anak.30 Melihat fenomena di atas penyebab yang paling sederhana adalah berpangkal dari pembiasaan. Sudahkah kita membiasakan kegemaran membaca tersebut sebagai satu pola memberi "makanan dan gizi" kepada jiwa kita. Kita hanya terpaku pada memberi makan jasmani saja, padahal internet hanya lah media, banyak konten-konten informasi yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak. Dari tidak adanya pembiasaan membaca dan faktor-faktor lainnya menunjukkan hal ini adalah permasalahan yang kompleks dan serius terus. Dari mana kita harus memulai mengatasi masalah ini? Pembiasaan harus dimulai sejak dini, usia kanak-kanak. Namun, untuk membawa anak-anak membaca bukanlah hal yang mudah. Dwianto Setyawan31 seorang penulis bacaan anak 27 Data internet Indonesia, pengguna anak-anak mengejutkan, diakses pada http://www.viva.co.id> digilife 24 oktober 2016 28 Dythia Novianty, Generasi Milenial Kuasai Penggunaan Internet Indonesia pada tahun 2018, diakses pada http://www.suara.com> tekno/16 Mei 2019 29 Lihat Nurish Surayya Ulfa, "Children Go Online" di Indonesia apa dan bagaimana?diakses pada www.researchgate.net tanggal 25 September 2019 30 TV & Violence, diakses pada http://www.indomedia.com/intisari/1999/ juli kekerasan.htm <di akses tanggal 1 Maret 2008. 31 Dwianto Setyawan, "Paradigma Buku bacaan anak", dalam buku membangun kualitas bangsa: bunga rampai sekitar perbukuan di Indonesia, yogyakarta: Kanisius, hal.272. 84 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 menyebutkan membawa anak-anak pada bacaan bukanlah seperti menyeret keledai, melainkan memikatnya, seperti menggantung seikat rumput segar di depan hidung kuda. Masalahnya mampukah kita membuat buku bacaan layak "seikat rumput segar"yang mampu memikat itu? Ini perlu kerja keras dan keinginan setiap level baik perpustakaan, sekolah dan masyarakat termasuk keluarga, penerbit, pengarang dan tentunya didukung oleh pemerintah. Setiap komponen ini bisa berkolaborasi sehingga penguatan pembudayaan minat baca tidak tertatih-tatih. E. Strategi penguatan pembinaan minat baca di perpustakaan sekolah Menurut G.K. Beers ada tiga tipe pembaca yaitu literate (confident /lifelong reader), Aliterate (reluctant atau struggling) dan Illiterate.32 Dari ketiga tipe ini yang menjadi objek penguatan pembinaan minat baca adalah tipe kedua yaitu mereka bisa membaca tetapi tidak mau membaca. Perpustakaan sekolah bisa memupuk minat anak-anak tipe tersebut untuk menjadi literate sehingga nanti tercipta literate student bekal menjadi literate society. Ada beberapa strategi33 yang bisa diterapkan untuk menciptakan lifelong reader. Pertama, provide the tools to help young people access books. Perpustakaan sekolah sebaiknya menyediakan buku bacaan yang menarik bagi anak-anak bukan hanya buku paket. Sesuaikan buku- buku yang diseleksi dengan minat dan kemampuan baca anak.Lihat apakah anak-anak masuk kategori emergent literacy sekitar usia 1- 5 tahun, learning to read sekitar usia 5-10 tahun atau kategori reading to learn, enjoy, share yaitu usia 10 tahun ke atas. Menjadi Independent reader itu sendiri baru mulai antara 10-12 tahun. Dengan melihat melihat kategori ini tentunya perpustakaan sekolah khususnya sekolah dasar bisa berperan aktif untuk menciptakan anak-anak yang gemar membaca untuk menjadi confident reader. 32 G.K. Beers, No time, no interest, no way! The three voices of aliteracy. School Library Juornal, 42 (february), hal.30-33. 33 Leanne Bowler, “Reading Promotion In School Libraries”, hand out workshop on School Librarianship, Mc Gill Canada, 2007, hal. 1-9.lihat juga,Emma Suffield, Promoting reading for pleasure in school libraries, Schools catalogue information service, issue 108, term 1, 2019 diakses pada www.scisdata.com, tanggal 26 September 2019 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 85 Seleksi bacaan anak yang kemasan/illustrasinya menarik. Dwiyanto Sityawan 34 sendiri mengakui kerapkali kemasan /illustrasi yang dibuat tidak pas dengan karakter dan isi ceritanya. Bisa jadi menjauhnya anak-anak dari buku adalah pelampiasan bentuk protes mereka. Pustakawan pun bisa menyuruh murid membaca untuk mereka. Tidak perlu banyak hanya beberapa paragraph saja. Dengan demikian pustakawan sekolah bisa menentukan level murid dalam membaca dan buku apa yang cocok untuk siswa. Selain itu bisa diketahui nada suara, kata-kata yang sulit, pengucapan dan informasi lain yang tidak mungkin dilacak melalui software computer35. Perpustakaan sekolah jangan dibuat lebih mirip gudang berbanding perpustakaan dan pustakawannya pun jangan seperti security guard yang hanya menjaga buku agar tidak hilang. Perhatian yang diberikan haruslah bersifat personal. Pustakawan dapat membantu langsung mendapatkan buku horor yang diinginkan siswa di perpustakaan berbanding hanya "menunjukkannya".36 Banyak hal yang bisa dilakukan pustakawan untuk tercapainya program pendidikan suatu sekolah. Kreatifitas pustakawan dituntut untuk melahirkan program-program yang bisa meningkatkan kecintaan anak terhadap bacaan dan perpustakaan. Kedua, Don't be judgmental about children's reading choices & school librarians should model positive reading behaviour. Seringkali kita memberikan penilaian yang tidak mendukung terhadap bacaan yang dipilih anak.Hal ini mempengaruhi keinginan membaca berikutnya. Salah satu faktor yang perlu dilihat dalam menyeleksi buku adalah faktor rasa senang anak. Selain itu, Pustakawan harus bisa menunjukkan kecintaan mereka terhadap bacaan hingga bisa jadi model lifelong reader. Guru pun sebaiknya memiliki kelompok membaca guru dan mendiskusikannya seperti yang dilakukan Apple Valley Reading Concil (AVRC) cabang dari Virginia Reading Association yang mensponsori dan menggalakkan kelompok membaca guru. Bagaimana kita berharap siswa untuk 34 Dwianto Setyawan, “paradigm ...... hal.272. 35 Matthew Penn, Beberapa hal sederhana yang dapat anda lakukan agar anak membaca" (terj) dalam Coorsepack on School/Teacher Librarianship, Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 2006, hal.99-100. 86 36 Ibid., hal.100. LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 membaca sedangkan mereka tidak melihat adanya model di sekitar mereka termasuk perpustakaan. Ketiga, Demonstrate that reading is valued. Cara ini bisa dilakukan pustakawan dengan membaca apa yang dibaca siswa, komunikasikan tentang perpustakaan dan bacaan kepada keluarga siswa, kolaborasi dengan guru-guru bidang studi seperti dengan membawa kelas pelajaran ke dalam perpustakaan dan pembuatan tugas yang mengharuskan masuk ke perpustakaan, penyelesaian projek sekolah dengan harus dibantu pustakawan juga buat program-program pengembangan minat baca seperti Reading week (program minggu untuk membaca), Sustained Silent Reading (SSR) seperti setiap 15 pertama masuk kelas atau sekolah semua siswa "diwajibkan” untuk membaca dalam hati. Keempat. Make reading social. Di sini pustakawan bertanya kepada siswa tentang buku dan karakter buku yang mereka baca. Pertanyaan bisa seputar apakah siswa menikmati buku dan bagian mana yang menjadi favoritnya. Minat pustakawan yang disadari murid membuat mereka bertanya "buku menarik lain apa yang anda miliki" dan bukan tidak mungkin sewaktu buku direkomendasikan akan dilihat teman-teman mereka dan meminta kepada anda buku yang sama. Selain itu rencanakan aktivitas sosial seputar bacaan seperti storytelling(Pembacaan cerita untuk anak)37 ,book discussion, reading club, author visit (jumpa pengarang dengan penggemarnya) dan book award ceremonies berdasarkan rekomendasi teman-temannya. Untuk anak-anak yang kompetitif, mendengar nama mereka dipanggil dan kemudian menerima hadiah sebagai pemenang membaca atau karyanya dipasang di dinding akan membuat mereka terus membaca. Pertandingan, permainan kecil dan orientasi perpustakaan bagi siswa adalah suatu yang bagus.38 Slogan-slogan seperti "ayo membaca”, “buku jendela dunia","gemarlah membaca", "cintailah buku", dll memang sebaiknya ada tetapi kalau hanya sebatas slogan tentu tidak ada pengaruhnya. Pembuktian terkait slogan tersebut menjadi lebih penting. Buat perpustakaan sebagai "tempat bermain mencintai 37 Tips penceritaan yang baik lihat Penceritaan, (trjh) dalam Coorsepack on School/Teacher Librarianship, Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, hal.124-125 38 Lihat Carol K. Lee & Janet Langford, Learning about books & libraries, Wisconsin: Alleyside Press, 2000. LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 87 buku" yang menarik yang tak kalah menariknya dengan tempat bermain di mal-mal atau di luar perpustakaan. Kelima, Create opportunities for reluctant readers to share reading with an active, enthusiastic reader. Disini ada upaya dari pustakawan untuk mempertemukan antara anak yang suka membaca dan yang enggan membaca. Karena bisa jadi seorang anak yang tidak suka membaca itu karena adanya negative feeling terhadap siswa yang suka baca. Lakukan program reading aloud (anak yang suka membaca membacakan cerita dengan keras dan dilanjutkan oleh yang tidak suka membaca) & Booktalks yang mendorong pendengar untuk membaca. Pustakawan melakukan booktalks tentang suatu buku yang telah mereka baca dan nikmati dan merekomendasikan kepada orang lain untuk membacanya juga. Langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam booktalk antara lain, ceritakan apa yang terjadi pada bagian awal saja, bacalah dengan keras beberapa bagian kunci yang menunjukkan karakter, saat yang menyenangkan, kejadian lucu, atau perubahan dalam alur cerita, akhiri booktalk dengan meninggalkan cerita yang menggantung sehingga mereka ingin membaca buku tersebut secara utuh, tinggalkan buku tersebut jika anak menginginkan dan beri saran untuk melihat buku yang sama baik pangarang, genre atau karakter utamanya39. Jika memungkinkan menghubungkan kegiatan perpustakaan dengan menggunakan visual media. Anak-anak atau pustakawan bisa membuat shadow puppets atau craft, popular culture yang diperankan dengan menggunakna visual media seperti overhead projector,dll. Strategi ini mudah untuk diterapkan oleh pustakawan dalam membina minat baca siswa. Yang penting adanya keinginan yang kuat dari pustakawan itu sendiri dan kolaborasi yang baik dengan guru dan kepala sekolah. Kepala Sekolah harus tetap memberikan anggaran sedikitnya 5% dari anggaran sekolah untuk perpustakaan sehingga perpustakaan sekolah bisa berbenah dan bisa mengadakan koleksi yang baru dengan komposisi koleksi nonfiksi 60 % dengan koleksi fiksi 40% . Dengan demikian, perpustakaan sekolah pun harus menyediakan bahan bacaan bagi 39 Booktalk (terj) dalam dalam Coorsepack on School/Teacher Librarianship, Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, hal.104. 88 LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 muridnya agar menjadi pembaca aktif. Prof suliystio Basuki40 menyebutkan pembaca aktif itu pembaca yang membaca sedikit- dikitnya 1 (satu) buku per bulan. Untuk Ketentuan anggaran pengadaan koleksi perpustakaan sudah dinyatakan dalam Undang- undang Perpustakaan tahun 2007 serta diperkuat oleh keputusan menteri Pendidikan Nasional nomor 24 tahun 2007.41 kalau hanya berharap dari buku teks yang tersedia di perpustakaan tentu budaya baca yang tinggi atau menciptakan pembaca aktif bagi siswa sulit tercapai. F. Pustakawan dan Teacher Librarian Perpustakaan sekolah/madrasah yang merupakan bagian integral sebuah sekolah/madarasah eksistensinya diharapkan mampu mendukung dan menunjang sekolah untuk mencapai visi dan misi sekolah/madrasah tersebut. Program kerja perpustakaan yang dijalankan harus mengacu dari visi dan misi sekolah. oleh karena itu,untuk menciptakan dan menjalankan program kerja bidang pengembangan pembinaan minat baca, kemelekan informasi dan pembelajaran memerlukan pustakawan sekolah yang kompeten pula. Hal ini menjadi dilematis dimana kebanyakan perpustakaan sekolah di negara ini belum dikelola oleh pustakawan. Kebanyakan kepala sekolah hanya menempatkan guru bidang studi untuk “menjaga" perpustakaan. Padahal, untuk Kompetensi kepala perpustakaan dan tenaga perpustakaan sekolah, pemerintah telah mengaturnya dalam Permendiknas no 25 tahun 2008. Namun di lapangan belum banyak sekolah yang menerapkan aturan tersebut. Sementara di sisi lain di banyak artikel menunjukkan bahwa bila pustakawan sekolah bekerja sama dengan guru maka murid dapat mencapai tingkat keterampilan literacy, membaca, belajar, memecahkan masalah serta teknologi informasi yang lebih tinggi. Hal ini tentu menuntut untuk mengupayakan satu konsep yang masih baru di negara kita yaitu teacher librarian atau guru pustakawan, sedangkan di negara lain konsep ini sudah cukup dikenal. Guru pustakawan sama dengan guru pembimbing dan 40 Suliystio Basuki, "optimalisasi Peran Perpustakaan dalam menuju proses belajar mengajar di Sekolah" dalam Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), Senarai Pemikiran Sulistyo Basuki: professor pertama Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Indonesia, Jakarta:ISIPII, 2014, hal.92 41 Suliystio-Basuki, Perpustakaan sekolah: pemahaman .....,hal.6. LIBRIA, Vol. 11, No. 2, Des 2019 89
Conclusion
Perpustakaan sekolah perlu menyadari dan menciptakan program atau kegiatan budaya membaca agar kemelekan Informasi siswa terwujud. Buatlah membaca menjadi satu budaya di sekolah dan sesuatu yang menyenangkan. Kegagalan menciptakan generasi literate berarti melahirkan generasi yang aliterate. Gerakan pembinaan dan penguatan membaca dari perpustakaan sekolah bisa memulai dan terus berperan sebagaimana fungsinya agar masyarakat pembelajar sepanjang hayat bisa terwujud. Gerakan pembinaan dan penguatan tersebut harus juga dilakukan oleh trained librarian atau teacher librarian.