Kembali
16
1
2024 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 26 · 1 ISSN 2685-7138

PENELITIAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM IMPLEMENTASI KOMPETENSI PEMBELAJARAN SEPANJANG HAYAT MELALUI LITERASI INFORMASI PADA DATABASE GOOGLE CENDEKIA:SEBUAH NARRATIVE LITERATURE REVIEW

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Pembelajaran sepanjang hayat merupakan konsep pembelajaran yang dilakukan terus menerus sejalan dengan kehidupan manusia, karena pada hakikatnya manusia adalah seorang pembelajar. Perpustakaan sebagai salah satu institusi penyedia sumber informasi, dan sumber referensi yang bersifat terbuka untuk semua kalangan tidak dapat dipisahkan dengan peran pustakawan di dalamnya yang memegang peran penting dalam implementasi konsep pembelajaran sepanjang hayat di perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pustakawan dalam implementasi konsep pembelajaran sepanjang hayat di perpustakaan. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review dari rujukan yang berkaitan dengan topik pembelajaran sepanjang hayat dengan jumlah rujukan yang dianalisis sebanyak 4 rujukan dari database Google Cendekia. Pembelajaran sepanjang hayat merupakan proses belajar yang dilakukan secara terus menerus, tidak dibatasi usia, dan tidak terbatas hanya pada pendidikan formal. Pembelajaran sepanjang hayat berkaitan erat dengan literasi informasi. Pembelajaran sepanjang hayat dan literasi informasi saling berkaitan dan saling mendukung dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Individu yang memiliki keterampilan literasi informasi akan lebih efektif dalam menelusur, menggunakan, dan mengevaluasi informasi. Kemampuan literasi informasi akan memberikan peluang yang lebih besar bagi setiap individu untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Pustakawan memiliki peran penting dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat, salah satunya adalah sebagai penyedia bahan belajar. Penguasaan teknologi, ketersediaan sarana dan fasilitas, serta kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat.

Abstract

Lifelong learning is a concept of learning that is carried out continuously in line with humanlife, because in essence humans are learners. The Library as one of the institutions providing informationsources, and reference sources open to all people cannot be separated from the role of librariansinit who play an important role in implementing the concept of lifelong learning in the library. Thisresearch aims to find out how the role of librarians in implementing the concept of lifelong learninginthe library. This research uses a narrative literature review method from references relatedtothetopic of lifelong learning with the number of references analyzed as many as 4 references fromtheGoogle Scholar database. Lifelong learning is a learning process that is carried out continuously, not limited by age, and not limited to formal education. Lifelong learning is closely related to informationliteracy. Lifelong learning and information literacy are mutually related and support each other inimproving people's knowledge and skills. Individuals who have information literacy skills will bemoreeffective in searching, using and evaluating information. Information literacy will provide greater opportunities for individuals to develop their knowledge and skills. Librarians have an important roleinthe implementation of lifelong learning, one of which is as a provider of learning materials. Masteryof technology, availability of facilities, and the suitability of the program to the needs of the communityare things that need to be considered in the implementation of lifelong learning.
Keywords: Perpustakaan · Pustakawan · Pembelajaran Sepanjang Hayat

Introduction

Kegiatan belajar kini tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar secara formal di lembaga pendidikan. Tanpa kita sadari, sebenarnya kegiatan belajar sudah dilakukan oleh setiap individu bahkan sejak masih dalam buaian orang tua. Hal tersebut menjadikan karakter pembelajar melekat pada diri setiap individu. Secara tidak sadar, banyak hal-hal yang kita pelajari dari lingkungan sekitar. Informasi baru yang kita dapatkan bisa saja menjadi pengetahuan dan pengalaman baru. Melalui pengetahuan dan pengalaman yang terus bertambah, manusia akan semakin kritis terutama dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan. Oleh karena itu, konsep pembelajaran sepanjang hayat harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari. Implementasi pembelajaran sepanjang hayat tidak lepas dari peran pustakawan sebagai pihak yang bertugas menyebarluaskan informasi untuk bahan belajar masyarakat. Saat ini dunia memasuki era informasi, manusia terus menghasilkan informasi melalui gagasan-gagasan nya. Banyaknya informasi yang beredar tentunya perlu diimbangi dengan kemampuan setiap individu dalam menentukan informasi apa yang mereka butuhkan dan informasi mana yang berguna bagi mereka. Kemampuan setiap individu dalam memilih, menganalisis, dan menemukan informasi merupakan inti dari kemampuan literasi informasi. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan memahami, mengidentifikasi, membuat, dan mengkomunikasikan serta menggunakan berbagai media (Md-Ali et al., 2016). Literasi informasi menurut Pattah (2014) merupakan kemampuan untuk dapat mengidentifikasi dan menemukan informasi yang dibutuhkan, mengetahui bagaimana pengorganisasian informasi di perpustakaan, mengerti teknik penelusuran informasi, serta mampu mengevaluasi informasi dan menggunakannya secara efektif dan sesuai etika. Seorang individu dapat dikatakan sebagai individu yang melek informasi apabila individu tersebut mampu menyelesaikan permasalahan menggunakan sumber-sumber informasi yang tersedia. Kemampuan ini mengasah keterampilan untuk berpikir secara kritis. Pemberdayaan masyarakat untuk menjadi masyarakat yang melek informasi melalui kegiatan literasi informasi sudah banyak dilakukan oleh perpustakaan di Indonesia. Setiap perpustakaan memiliki kegiatan inovatif nya masing-masing untuk ikut serta dalam mewujudkan masyarakat yang melek informasi. Mendukung kegiatan belajar dan mengajar sebagai salah satu tujuan perpustakaan mengharuskan pustakawan untuk dapat mengimplementasikan serta melakukan pengembangan mengenai pentingnya literasi informasi dengan tujuan agar pemustaka mampu berpikir kritis dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (Salimet al., 2018). Dalam kegiatan belajar dan mengajar perpustakaan menjadi penyedia sumber informasi belajar, maka pustakawan yang memegang peranan untuk menyebarluaskan informasi juga perlu menguatkan kemampuan literasi informasi pemustaka untuk menjadikan pemustaka sebagai pembelajar sepanjang hayat. Pustakawan sebagai seseorang yang berhubungan langsung dengan pemustaka dituntut untuk dapat terus memberdayakan pemustaka dalam kegiatan literasi informasi. Sesuai dengan inti dari literasi informasi, yaitu menjadikan masyarakat mampu mengidentifikasi kebutuhannya masing-masing akan informasi, literasi informasi saat ini berperan dalam memastikan setiap individu mampu berpikir kritis, mampu menyampaikan argumennya, serta dapat memahami proses belajar. Dengankatalain, literasi informasi berperan dalampeningkatan intelektual setiap individu. Selain itu, literasi informasi juga memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan. Dengan keterampilan literasi informasi, pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap individu dapat lebih terarah karena melalui tahapan identifikasi kebutuhan informasi, menemukan sumber informasi, mengevaluasi sumber informasi, sampai dengan menggunakan informasi yang didapat sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Hal ini dapat mendorong individu untuk dapat memberdayakan dirinya sendiri melalui kontribusi dari pengalaman belajar. (Naik & Padmini, 2014). Dalam hal ini, pustakawan berperan menyebarluaskan informasi, tetapi pemustaka juga memiliki tanggung jawab untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan informasi, menemukan informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi sampai pada tingkatan mampu menggunakan informasi dengan bijak, hal inilah yang disebut dengan kemampuan literasi informasi. Pengalaman yang didapat setiap individu dalam praktik literasi informasi dalam proses pengambilan keputusan secara tidak langsung menjadi bahan belajar yang menunjukkan bahwa setiap individu selalu belajar bahkan di luar proses pembelajaran formal yang terjadi di dalam kelas. Dalam dinamika kehidupan masyarakat, secara sadar maupun tidak sadar sebenarnya setiap individu selalu melakukan kegiatan belajar. Beberapa individu belajar didorong oleh budaya turun temurun, beberapa individu juga belajar secara sengaja untuk memenuhi tuntutan zaman. Seorang wisatawan mencari informasi tentang daerah yang dikunjunginya, seorang ibu rumah tangga mencari tahu bagaimana cara memilih telur ayam berkualitas, atau seorang pelajar yang bertanya kepada gurunya merupakan contoh kegiatan belajar yang dilakukan setiap individu dalam berbagai aspek kehidupan (Yusup & Saepudin, 2017). Dengan mudahnya akses terhadap informasi, belajar menjadi hal yang tidak terbatas pada kegiatan di dalam ruang kelas atau bersama dengan pengajar, Dalam kehidupan sehari-hari di setiap aspek kehidupan bahkan informasi yang tidak sengaja kita temukan dapat menjadi pengetahuan baru. Berdasarkan uraian di atas, perpustakaan sebagai salah satu institusi informasi yang berdasarkan UU No. 43 Tahun 2007 Bertugas membudayakan kegemaran membaca melalui keluarga, satuan pendidikan, termasuk sampai tingkat masyarakat bertujuan untuk menjadikan masyarakat lebih melek informasi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap individu sejatinya selalu belajar baik secara sadar maupun tidak sadar. Literasi informasi juga secara sadar maupun tidak sadar merupakan bagian dari kegiatan belajar yang dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan. Literasi informasi menjadi salah satu pendukung implementasi pembelajaran sepanjang hayat (Salimet al., 2018). Literasi informasi juga berkaitan erat dengan pembelajaran sepanjang hayat setiap individu. Literasi informasi dan pembelajaran sepanjang hayat saling memperkuat satu sama lain. Literasi informasi berperan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan setiap individu terhadap informasi dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat. Hal inilah yang mendorong terciptanya masyarakat yang melek informasi. Pembelajaran sepanjang hayat menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan kualitas individu melalui pengalaman yang didapatkan yang didasarkan pada proses belajar yang berkesinambungan sejak individu tersebut dilahirkan. European Union (2019)menjelaskan pembelajaran sepanjang hayat sebagai kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu pada sepanjang hidupnya untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi dalam berbagai perspektif. Kegiatan Belajar Sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kompetensi sejatinya terus dilakukan oleh setiap individu seiring dengan peran yang dipegangnya dalam tatanan masyarakat. Pembelajaran sepanjanghayat juga tentunya memiliki tujuan utamayaitumengembangkan potensi setiapindividuuntuk mendukung setiap individuterusbertumbuh dan berkembang, maka semakin jelas bahwa pembelajaran sepanjang hayat sangat penting dalam peningkatan kualitas masyarakat (Esi, 2018). Terciptanya masyarakat yang terus belajar serta terus meningkatkan kapasitas dirinya menjadi tujuan inti dari pembelajaran sepanjang hayat. Meningkatnya kapasitas diri dari setiap individu akan ikut meningkatkan kualitas masyarakat dengan adanya masyarakat yang melek informasi dan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Penelitian mengenai pembelajaran sepanjang hayat telah diteliti oleh beberapa peneliti. Pertama Fadhli (2021) meneliti mengenai implementasi kompetensi pembelajaran sepanjang hayat melalui program literasi di perpustakaan sekolah. Berdasarkan penelitian tersebut, pustakawan menjadi faktor utama dalam manajemen dan pengembangan perpustakaan. Selain pustakawan, guru juga memiliki peran dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat melalui gerakan literasi sekolah sebagai mitra pustakawan. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Yusup and Saepudin (2017) meneliti mengenai praktik literasi informasi dalam proses pembelajaran sepanjang hayat. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa praktik literasi informasi melekat dengan karakter manusia sebagai makhluk yang terus belajar. Dengan banyaknya institusi informasi maupun lembaga formal dalam bidang pendidikan menjadikan praktik literasi informasi menjadi lebih terprogram. Penelitian yang dilakukan peneliti memiliki persamaan dan perbedaan dengan dua penelitian terdahulu. Fadhli (2021), Yusup and Saepudin (2017) dan penelitian yang dilakukan peneliti sama-sama meneliti mengenai pembelajaran sepanjang hayat. Adapun perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah, Fadhli (2021) meneliti implementasi pembelajaran sepanjang hayat melalui program literasi sekolah dengan pustakawan sebagai faktor utama dan guru sebagai mitra pustakawan. Adapun Yusup and Saepudin (2017) meneliti mengenai praktik literasi informasi dalam proses pembelajaran sepanjang hayat yang berkaitan dengan karakter manusia sebagai makhluk yang senantiasa belajar, serta dipengaruhi oleh banyaknya institusi informasi dan lembaga formal di bidang pendidikan yang mendukung proses literasi informasi dalam proses pembelajaran sepanjang hayat. Adapun penelitian yang peneliti lakukan adalah mengenai peran pustakawan dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat... Pustakawan berperan penting sekaligus memiliki tugas yang besar dalam meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia, mengingat bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan Program International Student Assessment (PISA)yang dirilis oleh OECD (2019), Indonesia Menduduki peringkat 72 dari 77 negara. Indonesia baik (2023) mengungkapkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia pada 2022 meningkat 7,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Perhitungan peningkatan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia Ini didasarkan pada frekuensi membaca per minggu sampai durasi akses internet untuk bahan bacaan. Akan tetapi, angkaini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Berdasarkan paparan di atas, penelitian yang peneliti lakukan memiliki kebaikan, yaitu peneliti mengidentifikasi peran pustakawan sebagai pemegang peranan penting yang bertugas menyebarluaskan informasi dan sumber belajar bagi masyarakat untuk menjadikan masyarakat memiliki kemampuan literasi informasi sebagai upaya dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat. Mengingat urgensi keterampilan literasi informasi yang berkaitan erat dengan pembelajaran sepanjang hayat, maka keterampilan literasi informasi harus terus diperkuat dan diberdayakan. Perpustakaan Sebagai salah satu institusi informasi memegang peran penting dalam menciptakan masyarakat yang terus belajar sepanjang hayat. Selain itu, melihat dari banyaknya informasi yang beredar, sumber belajar yang tersedia, serta keberagaman kebutuhan informasi masyarakat yang menuntut masyarakat untuk dapat memiliki keterampilan literasi informasi yang mendorong masyarakat untuk belajar sepanjang hayat, pustakawan berperan penting untuk mendukung implementasi pembelajaran sepanjang hayat melalui pemberdayaan literasi informasi. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep pembelajaran sepanjang hayat, mengetahui peran pustakawan dalam implementasi konsep pembelajaran sepanjang hayat, mengetahui kaitan konsep pembelajaran sepanjang hayat dengan literasi informasi, mengetahui apa saja tantangan dalam mengimplementasikan konsep pembelajaran sepanjang hayat, serta merekomendasikan implementasi pembelajaran sepanjang hayat melalui literasi informasi. KAJIAN PUSTAKA 1.Pustakawan Pustakawan merujuk pada seseorang yang bekerja di perpustakaan dan membantu pemustaka menemukan sumber informasi yang dibutuhkannya. Menurut UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, “pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan”. Pustakawan bukanlah sembarang orang, perlu memiliki latar belakang pendidikan pustakawan atau telah mengikuti pelatihan kepustakawanan untuk dapat menjadi seorang pustakawan. Sejak tahun 2000- an, aktivitas kerja pustakawan berkembang, tidak hanya membantu pemustaka menemukan sumber informasi yang dibutuhkannya secara manual, tetapi mulai menggunakan komputer. Menurut Siregar (2015) terdapat beberapa jenis pustakawan sesuai dengan sumber informasi yang dilayankan, seperti pustakawan sejarah yang melayani sumber sumber informasi sejarah, pustakawan hukum yang melayani sumber informasi terkait hukum, adat juga pustakawan anak, pustakawan remaja yang diharapkan akan menjadi penerus para pustakawan, ada juga pustakawanpengembangan koleksi yang bertugaskhusus pada kegiatan pengembangankoleksi di perpustakaan. Tenaga perpustakaan termasuk di dalamnya pustakawan berkewajiban untuk memberikan layanan prima kepada pemustaka, menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif serta memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya (UU No. 43 pasal 32 tentang Perpustakaan, 2007). Secara Umum Pustakawan bertugas untuk menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan informasi. Seiring dengan perkembangan zaman, pustakawan dituntut untuk terus meningkatkan kapasitasnya agar dapat mengimbangi perkembangan yang terjadi baik dalam bidang pengetahuan maupun teknologi. 2.Pembelajaran sepanjang hayat Pembelajaran sepanjang hayat sebenarnya sulit untuk didefinisikan, namun pembelajaran sepanjang hayat dapat digambarkan sebagai pembelajaran yang berlanjut sepanjang hidup. (Naik Padmini, 2014). Definisi dari pembelajaran sepanjang belum dapat didefinisikan secara pasti, namun pembelajaran sepanjang hayat mengacu pada kegiatan belajar yang terus dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Terdapat dua dimensi dalam konsep pembelajaran sepanjang hayat, yaitu dimensi vertikal yang menjelaskan bahwa pembelajaran sepanjang hayat merupakan kegiatan belajar semenjak manusia lahir sampai manusia meninggal. Lalu yang kedua adalah dimensi horizontal yang menjelaskan bahwa kegiatan belajar terjadi dalam berbagai aspek kehidupan dan berbagai aktivitas yang dilakukan manusia (Zulaikha et al., 2015). Manusia yang pada dasarnya merupakan seorang pembelajar melakukan kegiatan belajar selama masa hidupnya. Pembelajaran sepanjang hayat pertama kali dicetuskan oleh komisi internasional untuk pembangunan pendidikan ICDE, sebuah badan internasional di bawah UNESCO. Pembelajaran sepanjang hayat dapat dikatakan merupakan sebuah fenomena dalam kehidupan manusia. Dasar dari munculnya konsep pembelajaran sepanjang hayat adalah sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan belajar manusia dan kebutuhan pendidikan yang terus berkembang. Oleh karena itu, beberapa ahli mengungkapkan misi dari pembelajaran sepanjang hayat. Jannah (2013) menjelaskan bahwa pembelajaran sepanjang hayat merupakan sistem pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa kegiatan belajar mengajar dalam hidup manusia, Esi (2018) menjelaskan bahwa belajar sepanjang hayat merupakan proses yang mencakup tujuan dan belajar secara langsung. Setiap individu merumuskan tujuan belajarnya masing masing dan berupaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan berbagai sumber daya yang ada di masyarakat. Pembelajaran sepanjang hayat dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam bidang pekerjaan maupun karier, pembelajaran sepanjang hayat juga meningkatkan daya saing dan produktivitas antar individu, yang paling penting adalah pembelajaran sepanjang hayat dapat meningkatkan kualitas hidup dan keterampilan sosial masyarakat. 3.Literasi informasi Literasi informasi merupakan adopsi perilaku informasi untuk memperoleh informasi yang tepat melalui berbagai media yang sesuai untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Literasi informasi juga merupakansaranamengungkapkan ide, mengembangkanargumen, mempelajari hal baru atau sekedar menguji kebenaran sebuah informasi (Naik & Padmini, 2014). Pengetahuan dan teknologi yangsemakinberkembang yang juga diikuti olehsemakin banyaknya informasi yang dihasilkan menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan literasi informasi. Kemampuan literasi informasi tersebut mencakup keterampilan individu untuk mengetahui kapan sebuah informasi dibutuhkan dan keterampilan lain untuk mencari informasi, menemukan informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi informasi, sampai menyebarluaskan informasi tersebut sebagai upaya pemenuhan kebutuhan atas informasi serta sebagai upaya penemuan solusi dan pemecahan masalah (Septiyantono, 2014). Literasi informasi membekali individu dengan keterampilan kritis untuk terus belajar sepanjang hayat dan bersikap mandiri dalam belajar. Pentingnya Literasi informasi berkaitan dengan pembentukan warga negara yang partisipatif, peningkatan inklusi sosial, penciptaan pengetahuan baru dan pemberdayaan individu dalam pembelajaran sepanjang hayat (Naik & Padmini, 2014). Keterampilan literasi informasi memungkinkan setiap individu untuk terus belajar dan berkembang. Literasi informasi penting dalam dalam setiapaspek kehidupan, karena dalam setiap aspek kehidupan masyarakat dihadapkan dengan berbagai macam informasi. Keterampilan literasi informasi akan membantu masyarakat dalam menentukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Melalui keterampilan literasi informasi setiap individu dapat tetap terhubung dan berpartisipasi dalam masyarakat. Kemudahan akses terhadap informasi yang akurat dan terpercaya melalui keterampilan literasi informasi semakin mendorong individu untuk memperluas pengetahuan serta mengembangkan keterampilannya.

Method

Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tinjauan literatur, yaitu narrative literature review. Narrative literature review merupakan “jenis penelitian yang berfokus pada kisah-kisah manusia” (Ford, 2020). Pada metode ini pengalaman manusia dikaji melalui proses wawancara, sejarah lisan, biografi, maupun autobiografi. Metode narrative literature review juga meninjau publikasi kajian perpustakaan dan sains informasi (Fani and Rukmana, 2022). Oleh karena itu, metode ini tepat untuk digunakan dalam penelitian terkait konsep pembelajaran sepanjang hayat melalui pemberdayaan literasi sekolah dalam bidang kajian perpustakaan dan sains informasi. Narrative literature review digunakan dalam penelitian ini karena penelitian ini merujuk pada beberapa metode penelitian dan topik yang dipilih pada penelitian terdahulu. Hasil dari metode ini adalah berupa kesimpulan dari rujukan-rujukan yang dipakai. Byrne (2016) menjelaskan bahwa rujukan yang digunakan pada metode narrative literature review dapat merupakan satu rujukan saja yang memuat berbagai data untuk dianalisis dengan tujuan memperluas pengetahuan. Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa rujukan . Hasil analisis rujukan dapat dijadikan sebagai pengetahuan baru bahwa seorang pustakawan tidak hanya sekedar bertugas menghimpun informasi, mengelola informasi, menyajikan informasi, dan menyebarluaskan informasi, tetapi seorang pustakawan juga mempunyai peran penting dalam implementasi konsep pembelajaran sepanjang hayat. Machi and McEvoy (2022) menjelaskan bahwa terdapat beberapa langkah dalam menggunakan metode narrative literature review diantaranya adalah menentukan minat penelitian, topik penelitian, mengulas literatur, dan menentukan tesis. Penelitian Ini berfokus pada peran pustakawan dalam implementasi pembelajaran sepanjang hayat. Bidang penelitian ini termasuk kedalam topik literatur perpustakaan dan sains informasi. Penelitian ini mengkaji sumber sumber ilmiah yang didapat melalui jurnal elektronik. Peneliti dalam metode ini membacasumbersumber terkait topik yang diteliti, mengajukan pertanyaan dan mencari sumber-sumber lain yang dapat menjawabpertanyaan. Sumber -sumber yangdikaji dalam penelitian ini didapatkanselamabulan Maret sampai dengan April 2023padadatabase Google Cendekia denganjumlahrujukan terkait topik penelitian sebanyakempat jurnal. Sumber-sumber yangdigunakan merupakan sumber-sumber yangterbit dalam rentang waktu 2013hingga2023. NO Bibliografi data penelitian peran pustakawan dalam implementasi pembelajaransepanjang hayat melalui literasi informasi 1. Fadhli, R. (2021). Implementasi Kompetensi Pembelajaran Sepanjang Hayat Melalui ProgramLiterasi di Perpustakaan Sekolah. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 9, 19–38. https://doi.org/https://doi.org/10.24198/jkip.v9i1.27000 2. Naik, M. M., & Padmini. (2014). Importance of Information Literacy. International Journal of Digital Library Services, 4(3), 92–100. http://www.ijodls.in/uploads/3/6/ 0/3/3603729/9434.pdf 3. Yusup, P. M., & Saepudin, E. (2017). Praktik Literasi Informasi Dalam Proses PembelajaranSepanjang Hayat. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 5, 79–94. https://doi.org/https://doi.org/10.24198/jkip.v5i1.11387 4. Yuhety, H., Miarso, Y., & Baslemah, A. (2008). INDIKATOR MUTU PROGRAMPENDIDIKANSEPANJANG HAYAT. JIV-Jurnal Ilmiah Visi, 3(2), 150–170. https://doi.org/10.21009/JIV.0302.6 Untuk mendapatkan keempat literatur di atas peneliti menggunakan kata kunci “pembelajaran sepanjang hayat”, “literasi informasi” dan “pustakawan”. Peneliti menganalisis setiap rujukan dan menggarisbawahi isi dari ketiga literatur di atas yang dapat menjawab pertanyaan penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.

Result & Discussion

Pembelajaran sepanjang hayat merupakan kegiatan belajar yang dilakukan sepanjang hidup manusia. Pembelajaran sepanjang hayat tidak terbatas pada usia, melainkan dilakukan secara terus menerus sejak masa kanak-kanak sampai masa tua. Konsep ini menekankan pentingnya terus belajar, serta terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan Belajar dalam konsep pembelajaran sepanjang hayat tidak hanya belajar dengan membaca buku teks, tapi juga belajar melalui pengalaman yang didapat dari lingkungan sekitar untuk mengembangkan sikap yang memungkinkan seseorang untuk terus beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan mengatasi tantangan yang hadir. Pembelajaran sepanjang hayat mencakup pembelajaran formal, non-formal, dan informal. Pembelajaran formal merupakan pembelajaran yang terstruktur, berbasis kurikulum, dan disusun oleh institusi, misalnya pembelajaran di dalam kelas pada tingkat sekolah dasar, menengah, atas, maupun universitas. Pembelajaran nonformal merupakan pembelajaran yang tidak terstruktur dan dapat dilakukan di luar kelas, misalnya kursus dalam jaringan. Pembelajaran informal merupakan pembelajaran yang terjadi secara spontan dalam kehidupan sehari hari, jenis pembelajaran ini merupakan yang paling dekat dengan kita karena dapat diamati dan dipelajari secara langsung tanpa terikat aturan aturan tertentu, misalnya belajar dari pengalaman atau melalui pergaulan dengan orang lain. Pembelajaran sepanjang hayat memiliki kaitan dengan literasi informasi. Literasi informasi yang merupakan keterampilan setiap individu dalam menentukan informasi yang dibutuhkan, mencari informasi yang dibutuhkan, menggunakan informasi yang diperoleh, mengevaluasi informasi yang diperoleh sampai dengan menyebarluaskan atau mengkomunikasikan informasi yang diperoleh akan mendukung implementasi pembelajaran sepanjang hayat. Penelitian Naik and Padmini (2014) menjelaskan bahwa literasi informasi akan membekali setiap individu dengan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Menurut Naik and Padmini, individu yang sudah memiliki keterampilan literasi informasi akan menjadi siap untuk belajar sepanjang hayat, karena melalui keterampilan literasi informasi yang mereka miliki mereka dapat menemukan informasi yang dibutuhkan untuk setiap penyelesaian masalah atau pengambilan keputusan dengan cepat dan tepat. Dalam penelitian lain oleh YusupandSaepudin (2017) dijelaskan bahwa literasi informasi yang membekali individu dengan keterampilan yang akan membantu menjadikan individu tersebut menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam pembelajaran sepanjang hayat berkaitan dengan karakter manusia yang pada umumnya merupakan seorang pembelajar. Setiap individu belajar untuk meningkatkan kemampuan diri dan sebagai upaya untuk terus beradaptasi dengan lingkungannya. Lingkungan keluarga sampai dengan lingkungan masyarakat dapat menjadi tempat belajar bagi setiap individu. Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh YusupandSaepudin, lembaga formal yang bergerak dalam bidang pendidikan kini menjadi semakin banyak, sehingga praktik literasi informasi yang erat kaitannya dengan pembelajaran sepanjang hayat menjadi lebih terprogram. Hubungan antara literasi informasi dengan pembelajaran sepanjang hayat adalah bahwa individu yang memiliki keterampilan literasi informasi yang baik dalam hal ini adalah mampu mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan, mencari informasi yang dibutuhkan, menemukan informasi yang dibutuhkan, menggunakan informasi yang diperoleh, mengevaluasi informasi tersebut, dan mengkomunikasikan informasi tersebut dengan baik, maka individu tersebut akan lebih efektif dalam menemukan, menggunakan, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber dan memiliki peluang yang lebih besar untuk memperdalam pengetahuan dan mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Oleh karena itu, literasi informasi dan pembelajaran sepanjang hayat saling mendukung dalam meningkatkan kemampuan setiap individu dalam menyesuaikan diri di tengah perkembangan teknologi dan pengetahuan yang diikuti oleh munculnya beragam tantangan terkait informasi di zaman sekarang. Literasi informasi dan pembelajaran sepanjang hayat akan memberikan dampak yang besar terhadap kemajuan setiap individu yang akan membawa perubahan besar kepada masyarakat secara luas. Pembelajaran sepanjang hayat berkaitan dengan literasi informasi, selain itu pembelajaran sepanjang hayat juga tentunya tidak lepas dari peran pustakawan sebagai pelaksana kegiatan di perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu institusi informasi, literasi informasi sebagai salah satu program perpustakaan, dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai konsep yang didasari oleh literasi informasi, ketiga hal ini merupakan hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Program-program dan kegiatan penyebarluasan informasi di perpustakaan tidak lepas dari peran pustakawan supaya program-program yang ada di perpustakaan dapat berjalan dengan baik dan efektif, dengan demikian perpustakaan diperkirakan akan dapat menjadikan pemustaka sebagai pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, pustakawan memiliki peran penting dalam kegiatan penyebarluasan informasi, penguatan literasi informasi, dan dalam pembentukan masyarakat yang senantiasa belajar sepanjang hayat. Dalampenelitianoleh Fadhli (2021) dijelaskan bahwa pustakawan harus membangun kesadaran terkait literasi informasi. Program Literasi informasi ini yang nantinya akan memberi dampak pada terbentuknya karakter pembelajar sepanjang hayat. Menumbuhkan Kesadaran dalam diri setiap masyarakat merupakan langkah awal dari programliterasi informasi yang berkesinambungan dengan implementasi pembelajaran sepanjang hayat. Pustakawan berperan penting dalam mewujudkan masyarakat pembelajar yang terus belajar sepanjang hayat. Pustakawanberperan dalam menyediakanaksesinformasi, dalam hal ini pustakawanbertanggung jawab untuk mengembangkandan memelihara sumber informasi yangrelevan dan dibutuhkan oleh masyarakat dalam proses pembelajaran sepanjang hayat. Pemustaka harus mampu mengidentifikasi informasi yang dibutuhkannya dengan keterampilan literasi informasi, ketika pemustaka sudah berhasil mengidentifikasi informasi apa yang dibutuhkannya, pustakawan harus dapat menyediakan sumber informasi tersebut. Peranlain Pustakawan dalam kaitannya dengan pembelajaran sepanjang hayat adalah memberikan bimbingan dalamkegiatanbelajar. Pustakawan tidak hanya bertanggung jawab untuk menyediakan bahan pustaka bagi pemustaka, tapi juga bertanggungjawab untuk memberikanbimbingan kepada pemustakaatau masyarakat secara luas dalam proses pembelajaran sepanjang hayat. Bimbingan Yang diberikan oleh pustakawan dapat berupa instruksi cara menggunakan sumberdaya yang ada dengan efektif. Peranselanjutnya dari pustakawanadalah memberikan pelatihan terkait keterampilan informasi, pustakawan dapat memberikan pelatihan terkait penyaringan informasi, memilih dan menilai informasi, serta mengelola informasi dalam menjalankan peran ini. Pustakawan juga berperan dalam meningkatkan aksesibilitas, dalam hal ini pustakawan menjadi perantara informasi dan membantu masyarakat memperoleh informasi yang mereka butuhkan dengan lebih mudah. Fadhli (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pustakawan merupakan faktor utama dalam manajemen dan pengembangan perpustakaan, akan tetapi untuk menjalankan program-program yang ada di perpustakaan dengan baik dan efektif diperlukan dukungan dari pihak lain seperti guru pada perpustakaan sekolah, tenaga pendidik pada perpustakaan perguruan tinggi, maupun keluarga dan lingkungan sekitar yang berperan untuk mendorong kebiasaan literasi dan belajar sepanjang hayat. Implementasi konsep pembelajaran sepanjang hayat perlu memperhatikan beberapa hal. Yuhety et al. (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa dalam proses implementasi pembelajaran sepanjang hayat perlu memperhatikan beberapa hal seperti ketersediaan sumber belajar, motivasi dalam belajar, ketersediaan narasumber yang dipercaya mampu membantu memberikan informasi kepada masyarakat, sarana dan fasilitas, program yang sesuai dengan kebutuhan, kolaborasi antar pihak yang terkait, dan penguasaan penggunaan teknologi. Ketersediaan sumber belajar menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam pembelajaran sepanjang hayat, oleh karena itu pustakawan memiliki peran penting dalam menyediakan dan menyebarluaskan sumber belajar kepada masyarakat. Motivasi juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan sekaligus menjadi tantangan. Pustakawan juga memiliki peran dalam upaya meningkatkan motivasi belajar masyarakat menuju masyarakat pembelajar, hal ini berkaitan dengan peningkatan kesadaran terhadap literasi informasi yang disampaikan oleh Fadhli (2021) dalam penelitiannya. Motivasi dan tumbuhnya kesadaran terkait literasi informasi dan pembelajaran sepanjang hayat menjadi modal awal dalam implementasi konsep pembelajaran sepanjang hayat. Ketersediaan narasumber untuk memberikaninformasi atau melakukan pelatihankepadamasyarakat juga menjadi pertimbangandalam pembelajaran sepanjanghayat. Ketersediaan narasumber yang terpercaya diharapkan mampu membantu masyarakat mengembangkan pengetahuannya. Pembelajaran sepanjang hayat tentunya tidak dapat berjalan dan diimplementasikan dengan baik dan maksimal apabila sarana dan fasilitas yang tersedia tidak mendukung proses pembelajaran sepanjang hayat, oleh karena itu penyediaan sarana dan fasilitas perlu dipertimbangkan dengan matangagar tidak mengganggu proses belajar masyarakat. Pemilihan programdalam rangka implementasi pembelajaran sepanjang hayat tidak bisa ditentukan secara sembarang, hal ini perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat, oleh karena itu pemilihanprogram perlu dipertimbangkan dengan baik agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan berdampak secara maksimal terhadap perkembangan pengetahuan masyarakat. Pembelajaran sepanjang hayat juga memerlukan adanya kolaborasi dengan pihak-pihak terkait lainnya, tidak hanya mengandalkan satu institusi informasi saja. Adanya kerjasama dan kolaborasi dalam pembelajaran sepanjang hayat berkaitan dengan pemenuhan sumber belajar, melalui kerjasama dan kolaborasi, sumber informasi dan bahan belajar yang tersediaakansemakin beragam dan mendukungpengembangan pengetahuan masyarakat yang lebih luas. Hal lain yangperludipertimbangkan sekaligus banyak menjadi tantangan adalah terkait penguasaan penggunaan teknologi. Penguasaan Penggunaan teknologi akan berpengaruh pada akses masyarakat terhadap sumberbelajar yang tersedia. Semakinbaik Kemampuan penggunaan teknologi yang dimiliki masyarakat, maka sumber-sumber informasi dan sumber-sumber belajar yang tersedia akan semakin mudah diakses. Semakin mudah akses terhadap sumber informasi dan belajar, maka akan membantu peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Sebagai rekomendasi, dalam mengimplementasikan pembelajaran sepanjang hayat melalui literasi informasi, perpustakaan dapat mengadakan program pelatihan literasi informasi untuk membekali pemustaka dengan keterampilan pencarian yang efektif. Melihat sumber daya digital yang semakin banyak dan beragam, perpustakaan juga dapat menyediakan bimbingan terkait penggunaan sumber belajar digital. Untuk memperluas program literasi informasi dalam upaya mengimplementasikan pembelajaran sepanjang hayat, perpustakaan juga dapat bekerja sama dengan institusi pendidikan maupun komunitas dalam menyediakan kelas terbuka mengenai literasi informasi. Selain itu keterampilan penggunaan teknologi informasi yang dimiliki oleh pustakawan sebagai fasilitator dalam program literasi informasi perlu ditingkatkan guna membantu pemustaka dengan latar belakang dan kebutuhan informasi yang berbeda-beda.

Conclusion

Peran pustakawan dalam implementasi kompetensi pembelajaran sepanjang hayat melalui literasi informasi yaitu pustakawan berperan dalam menyediakan akses informasi, memberikan bimbingan dalam kegiatan belajar, memberikan pelatihan terkait keterampilan literasi informasi, dan meningkatkan aksesibilitas. Pembelajaran sepanjang hayat didefinisikan sebagai proses belajar yang dilakukan secara terus menerus, tidak dibatasi usia, dan tidak terbatas pada pembelajaran secara formal. Pembelajaran sepanjang hayat mencakup kegiatan belajar formal yang dilakukan di dalam kelas, pembelajaran non-formal melalui kursus atau pelatihan dalam jaringan, dan pembelajaran informal yang terjadi secara spontan di lingkungan masyarakat melalui pergaulan yang terjadi dalam masyarakat. Literasi informasi dan pembelajaran sepanjang hayat memiliki kaitan yang erat dan saling mendukung. Individu yang memiliki keterampilan literasi informasi yang baik akan lebih efektif dalam mencari, menggunakan dan mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi, hal ini menjadikan individu yang memiliki keterampilan literasi informasi memiliki peluang yang lebih besar untukmengembangkan pengetahuandanketerampilannya sebagai upaya pelaksanaan kegiatan belajar seumur hidup. Literasi informasi akan membekali setiap individu dengan keterampilan yang akan membantu selama proses belajar sepanjang hayat yang dilakukan oleh setiap individu. Implementasi pembelajaran sepanjang hayat perlumempertimbangkan beberapa hal agarpelaksanaan kegiatan belajar sepanjang hayat masyarakat dapat dilakukan secara efektif dan mencapai tujuannya yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan adaptasi masyarakat di tengah perkembangan pengetahuan dan teknologi serta informasi yang harus dihasilkan. Beberapapertimbangan tersebut yaitu ketersediaansumber belajar, motivasi dalambelajar, ketersediaan narasumber yang dipercaya mampu membantu memberikan informasi kepada masyarakat, sarana dan fasilitas, kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat, kolaborasi antar pihak yg terkait, dan penguasaan penggunaan teknologi. Dengan pertimbangan yang matang dan penyelesaian atas tantangan yang ada, diharapkan masyarakat dapat menjadi pembelajar yang terus belajar sepanjang hayat sesuai dengan karakternya yang merupakan seorang pembelajar. Perpustakaan dapat mendukungpengembangan karakter pembelajar yangdimiliki masyarakat melalui programliterasi informasi diantaranya dengan membangunkomunitas belajar dan diskusi, programpelatihan literasi informasi. dan peningkatan peran pustakawan sebagai fasilitator dalam literasi informasi. Peneliti berharap penelitian ini dapat bermanfaat untuk pembaca dalam memahami peran penting pustakawan dalam penerapan konsep pembelajaran sepanjang hayat, serta membantu pembaca dalam menyadari pentingnya terus belajar dalam rangka meningkatkan kualitas masyarakat. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan menggunakan metode penelitian lain dengan topik yang sama, atau dilakukan dengan metode penelitian lain dengan topik tingkat keberhasilan pustakawan dalam mewujudkan masyarakat pembelajar, dan penguatan konsep pembelajaran sepanjang hayat dalam masyarakat.