PUSTAKAWAN GURU SEBAGAI AGEN LITERASI INFORMASI DI SEKOLAH DASAR MADANIA PARUNG BOGOR
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung
Abstract
This paper aims to analyze the role of teacher librarians as agents of information literacy at Madania Parung Elementary School, Bogor. Librarians are information literacy agents in libraries. As the "agents", librarians have duties and responsibilities to users in information literacy. The teacher librarian as an information literacy agent has duties and responsibilities to its users, especially students to be information literate through the activities carried out. The Madania school library has a teacher librarian who can create information literate users from an early age. Therefore, this study examines the role of teacher librarians in information literacy. The research method used is qualitative with phenomenological methods. The results of the study can be seen as the teacher librarian is an information literacy agent at the Madania Parung Elementary School, Bogor. This can be seen from the three main roles of teacher librarians, namely teacher librarians as curriculum leaders; teacher librarians as information specialists; and teacher librarians as managers of information services. These three roles can be realized in activities carried out by teacher librarians, namely library classes, best readers, storytelling, and library tours by collaborating with various parties, both internal to the school and externally through collaboration with schools in the Bogor environment.
Keywords:
Pustakawan Guru
· Literasi Informasi
· Perpustakaan Sekolah
Introduction
Pustakawan guru merupakan profesi pustakawan sebagai agen literasi informasi di Sekolah. Literasi informasi adalah kemampuan dalam mengidentifikasi, memilah, menelusur, dan memanfatkan informasi sesuai kebutuhan secara efektif dan efisien1 . Agen literasi informasi harus memiliki kemampuan menyampaikan aspek penting literasi informasi agar pengguna mampu mengevaluasi dan memiliki keterampilan kritis terhadap informasi. Sebagai agen literasi informasi, pustakawan guru memiliki tugas dan tanggung jawab dalam membangun generasi literasi informasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pustakawan guru tidak hanya memiliki kemampuan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi saja, tetapi juga memiliki kemampuan dalam bidang pengajaran.2 Kedua kemampuan ini dibutuhkan oleh pustakawan guru sebagai agen literasi informasi agar pengguna perpustakaan terutama pengguna anak-anak mampu menjadi generasi literasi informasi sejak dini. Oleh sebab itu, pustakawan guru mengembangkan perannya di perpustakaan melalui berbagai kegiatan yang mendorong program literasi informasi dengan melibatkan berbagai pihak, baik pengguna maupun manajemen Sekolah. Sekolah Dasar Madania Parung Bogor merupakan sekolah yang menjadikan perpustakaan sebagai sumber informasi dan pusat pembelajaran. Di perpustakaan Sekolah Dasar Madania ini, terdapat staf perpustakaan dan pustakawan guru. Pustakawan guru memiliki peran sebagai agen literasi informasi di Sekolah Dasar Madania. Peran pustakawan guru sebagai agen literasi informasi dapat dianalisis melalui tiga peran utama pustakawan guru yaitu pustakawan guru sebagai pemimpin kurikulum; pustakawan guru sebagai spesialis informasi; dan pustakawan guru sebagai pengelola layanan informasi. Pustakawan guru, tidak hanya melaksanakan kegiatan teknis perpustakaan, tetapi juga proaktif dengan kegiatan yang mendorong pembelajaran mandiri siswa. Sebagai agen literasi informasi, pustakawan guru di Sekolah Dasar Madania memiliki kemampuan kepustakawanan dan kemampuan dalam mengajar. Pustakawan guru sebagai agen literasi informasi dapat dianalisis melalui berbagai kegiatan yang dilakukannya. Di Sekolah Madania, pustakawan guru menciptakan berbagai kegiatan yang kreatif dan inovatif dengan melibatkan berbagai pihak baik internal (siswa, guru, kepala sekolah) maupun ekternal (kerjasama dengan sekolah negeri dan swasta di lingkungan kabupaten Bogor). Sehingga pustakawan guru menjadi agen literasi informasi di sekolah terus mengembangkan kemampuan mandiri siswa terhadap informasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai wujud pembelajaran sepanjang hayat. TINJAUAN LITERATUR Pustakawan Guru: Australian School Library Association3 mendefinisikan pustakawan guru sebagai orang yang memiliki kualifikasi mengajar yang diakui dan kualifikasi dalam kepustakawanan. Dalam bidang pendidikan dan kepustakawanan yang luas, pustakawan guru memiliki kualifikasi yang unik. Ini berharga, karena pengetahuan kurikulum dan pedagogi dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan manajemen perpustakaan dan informasi. Pustakawan guru mendukung dan menerapkan visi komunitas sekolah mereka melalui advokasi dan membangun layanan serta program informasi dan perpustakaan yang efektif yang berkontribusi pada pengembangan pelajar seumur hidup. Pustakawan guru memiliki tiga peran utama. 1. Pustakawan guru sebagai pemimpin kurikulum: a. bekerja dengan Kepala Sekolah dan staf senior untuk memastikan hasil literasi informasi adalah fokus sekolah utama; b. terlibat dalam perencanaan kurikulum dan komite kurikulum sekolah; c. meningkatkan kesadaran staf tentang perlunya siswa untuk memperoleh keterampilan informasi dan pentingnya pembelajaran berbasis sumber daya dalam mengembangkan keterampilan ini; d. mempromosikan penggunaan proses informasi sebagai kerangka kerja untuk pengembangan keterampilan informasi dan sebagai dasar untuk pemantauan sistematis perkembangan siswa sebagai pengguna informasi; e. merencanakan, mengajar dan mengevaluasi secara kolaboratif dengan guru untuk memastikan integrasi sumber daya dan teknologi informasi yang efektif ke dalam pembelajaran siswa; f. mempertahankan keaksaraan sebagai prioritas tinggi, melibatkan siswa dalam membaca, melihat dan mendengarkan untuk pemahaman dan kesenangan; g. memberikan bantuan tambahan kepada siswa dengan kebutuhan atau kemampuan belajar tertentu, dan bagi siswa yang pertimbangan keadilan sosialnya berlaku; h. melibatkan siswa dalam pengoperasian pusat informasi untuk berkontribusi pada pemahaman mereka tentang peran layanan informasi pendidikan dalam pembelajaran dan membaca seumur hidup. 2. Pustakawan Guru sebagai spesialis informasi:4 a. memberikan akses ke sumber daya informasi melalui sistem yang efisien dan dipandu dengan baik untuk mengatur, mengambil dan mengedarkan sumber daya; b. memberikan pelatihan dan bantuan kepada siswa dan staf dalam penggunaan sistem ini secara efektif; c. menafsirkan sistem informasi dan teknologi untuk siswa dan guru dalam konteks program kurikulum; d. memberikan bantuan spesialis kepada siswa yang menggunakan sumber daya teknologi dan informasi di dalam dan di luar sekolah dan untuk penelitian independen; e. memberikan bantuan spesialis kepada siswa yang menggunakan fasilitas layanan informasi sekolah untuk membaca, melihat, dan mendengarkan secara mandiri. 3. Pustakawan guru sebagai pengelola layanan informasi: a. mengembangkan dan menerapkan strategi untuk mengevaluasi pengumpulan sumber daya dan untuk menentukan kurikulum dan kebutuhan siswa dalam konteks prioritas sekolah yang diidentifikasi; b. mengembangkan kebijakan, prosedur dan kriteria untuk memilih sumber daya yang memenuhi kebutuhan kurikulum, informasi dan rekreasi siswa; c. mengembangkan sistem dan layanan informasi yang responsif terhadap kebutuhan siswa dan guru; d. memastikan bahwa administrasi pusat informasi sekolah sehari-hari efisien dan sistem, sumber daya, dan peralatan dipelihara dengan baik; e. mengembangkan perkiraan anggaran untuk memastikan bahwa persyaratan belajar mengajar terpenuhi; f. memberikan lingkungan yang menstimulasi dan membantu yang merupakan titik fokus dan pameran bagi prestasi belajar siswa; g. mempromosikan penggunaan sumber daya dan sumber informasi, sistem dan layanan yang efektif baik di dalam maupun di luar sekolah. Literasi Informasi: Literasi informasi merupakan salah satu kompetensi dari profesi pustakawan. 5American Library Association6 pada 1989 mendefinisikan Untuk menjadi melek informasi, seseorang harus dapat mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan secara efektif informasi yang diperlukan. Pentingnya literasi informasi telah diringkas dengan terikat sebagai " Literasi informasi adalah prasyarat untuk kewarganegaraan partisipatif, inklusi sosial, penciptaan pengetahuan baru, pemberdayaan pribadi dan pembelajaran seumur hidup" 7 . The Australian Library and Information Association (ALIA) mengungkapkan pentingnya literasi tidak dapat disangkal dan penting bagi partisipasi siswa di masa depan dalam ekonomi dan masyarakat. ALIA merangkum pentingnya memiliki pustakawan guru di sekolah untuk mendukung pencapaian berbagai literasi siswa. Pustakawan guru yang berkualitas memilih sumber daya fiksi dan non-fiksi yang sesuai, dan mempromosikan, merancang dan mengoordinasikan program literasi, literatur, dan literasi informasi di seluruh sekolah untuk meningkatkan hasil literasi. Selain itu, literasi di zaman modern lebih dari sekadar membaca dan menulis. Saat ini, siswa diharuskan memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi. Ini berarti bahwa siswa tidak hanya dapat menggunakan komputer untuk melakukan pengolah kata dan spreadsheet, tetapi juga dapat membuat, membaca dan menulis secara digital untuk mengakses internet, menemukan dan mengedit informasi digital, berpartisipasi dalam komunikasi elektronik, dan menggunakan informasi dan komunikasi online jaringan. Perpustakaan Sekolah: Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang. No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan di sekolah atau madrasah. Pada umumnya tujuan perpustakaan adalah membantu sekolah memenuhi visi misinya, serta memenuhi fasilitas pendidikan pada sekolah tersebut.8 Selain itu, seperti yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 Pasal 23 Ayat 1 tentang perpustakaan, perpustakaan sekolah juga harus memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. Berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan (2011) yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional RI, perpustakaan melakukan kegiatan yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah meliputi:9 1. Kegiatan mendorong kegemaran membaca melalui dongeng, membaca bersama, dan menceritakan kembali hasil baca. 2. Pembelajaran bidang studi di perpustakaan. 3. Pengajaran program literasi informasi. 4. Terlibat dalam merencanakan perangkat pembelajaran. 5. Membantu guru mengakses dan mendayagunakan informasi publik. 6. Menyelenggarakan kegiatan membaca buku elektronik. 7. Membantu guru mengidentifikasi materi pengajaran. 8. Pembelajaran berbasis teknologi informasi bekerjasama dengan guru bidang studi.
Method
Penelitian kualitatif merupakan Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Studi fenomenologi fokus pada sesuatu yang dialami dalam kesadaran individu, yang disebut sebagai intensionalitas.10 Intensionalitas (intentionality), menggambarkan hubungan antara proses yang terjadi dalam kesadaran dengan obyek yang menjadi perhatian pada proses itu. Dalam term fenomenologi, pengalaman atau kesadaran selalu kesadaran pada sesuatu, melihat adalah melihat sesuatu, mengingat adalah mengingat sesuatu, menilai adalah menilai sesuatu. Sesuatu itu adalah obyek dari kesadaran yang telah distimulasi oleh persepsi dari sebuah obyek yang “real” atau melalui tindakan mengingat atau daya cipta. 11 Penelitian ini berfokus mendeskripsikan dan menjelaskan dinamika pengalaman hidup bagi pustakawan guru sebagai agen literasi informasi di Sekolah Dasar Madania. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam (indepth interview). Partisipan dalam penelitian ini adalah guru dan pustakawan yang menjadi pustakawan guru di Sekolah Dasar Madania Parung Bogor. Partisipan berjumlah tiga orang, mereka adalah Kamboja merupakan pustakawan guru yang memiliki pengalaman sebagai guru musik sekolah Madania dan berpengalaman di perpustakaan selama hampir 3 tahun, Mawar merupakan pustakawan guru yang memiliki pengalaman sebagai guru agama di Sekolah Dasar Madania dan staf perpustakaan selama dua tahun, dan Melati merupakan pustakawan guru merupakan lulusan sarjana program studi ilmu perpustakaan di universitas ternama Indonesia
Result & Discussion
Profesional informasi merupakan agen literasi informasi yang memerlukan pendidikan mencakup aspek penting literasi informasi yaitu definisi literasi informasi; keterampilan kritis dalam menyampaikan literasi informasi; dan kemampuan dalam mengadvokasi, mendidik, dan membangun literasi informasi kepada penggunanya12 . Pustakawan guru merupakan profesional informasi yang memiliki peran sebagai agen literasi informasi di Sekolah Dasar Madania. Pustakawan guru tersebut terdiri dari Kamboja, Mawar, dan Melati. Pustakawan guru di Sekolah Madania memiliki kompetensi dalam dua bidang yaitu dalam bidang pengajaran dan dibidang kepustakawanan. Literasi informasi sebagai gerakan memposisikan pustakawan sebagai “agen” literasi dalam menyiapkan generasi yang melek informasi. Pustakawan, dalam hal ini pustakawan sekolah, menuntun pemustaka (siswa) untuk memilih dan menentukan informasi yang paling dibutuhkan dengan skala prioritas13. Posisi tersebut tentu saja sangat sulit dan menuntut keahlian sehingga pustakawan selain harus memiliki pemahaman tentang pentingnya literasi informasi juga harus terus menerus meningkatkan kualitas sumber dayanya. Tenaga perpustakaan harus memiliki kemampuan mengajar, senantiasa memperbaharui pengetahuan (willingness to learn) dan memiliki kemampuan praktis serta selalu berupaya mengikuti perkembangan literasi informasi. Kualitas tidak hanya terbatas dalam kemampuan dalam menguasai pengetahuan saja tetapi juga mampu memahami peran serta perubahan yang terjadi secara cepat. Dengan kemajuan teknologi informasi peran pustakawan akan mengalami perubahan. Pustakawan dapat menjalankan peran barunya tetapi tidak harus meninggalkan peran kepustakawanannya. Keterampilan ini dapat diperoleh melalui pengajaran keterampilan literasi informasi 14 . Oleh sebab itu, pustakawan guru di Sekolah Dasar Madania sebagai agen literasi informasi dapat dianalisis melalui peran utama yang dilakukannya. Peran utama tersebut terdiri dari pustakawan guru sebagai pemimpin kurikulum; pustakawan guru sebagai spesialis informasi; dan pustakawan guru sebagai pengelola layanan informasi. Ketiga peran utama pustakawan guru di Sekolah Dasar Madania diwujudkan dalam berbagai kegiatan sebagai berikut:15 1. Library Class Library class bukan berbentuk belajar membaca atau membantu materi pelajaran di kelas. Pelajaran yang diberikan adalah pengetahuan tentang perpustakaan meliputi empat topik utama yaitu nilai kepustakaan, kemampuan kepustakaan, kemampuan literatur, dan kemampuan riset. Pada topik nilai kepustakaan, siswa diberikan sosialisasi perpustakaan, peraturan di perpustakaan, hingga tata cara peminjaman dan pengembalian buku. Pada topik kemampuan kepustakaan siswa diajarkan pembuatan pembatas buku, pengenalan jenis koleksi, promosi perpustakaan, nomor panggil buku, mengakses katalog, hingga membaca buku dan menceritakan kembali. Topik ini adalah topik yang paling banyak diajarkan pada siswa dalam satu tahun ajaran. Pada topik kemampuan literatur, siswa diajarkan tentang bagian buku. Bagian buku yang dimaksud adalah delapan daerah utama deskripsi bibliografi. Topik ini hanya diberikan dua kali dalam satu tahun ajaran. Topik terakhir adalah kemampuan riset. Topik ini mengajarkan siswa mencari informasi yang akurat, penelusuran koleksi referensi, dan membuat ulasan buku. Topik kemampuan riset bertujuan agar siswa dapat mencari informasi yang akurat. Pustakawan guru mengajar dengan materi berkaitan dengan bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Materi tersebut tercantum dalam Time table yang menjadi panduan dalam mengajar di setiap minggunya selama 1 tahun ajaran berlangsung. Pengajaran tersebut dikenal dengan kegiatan “library class”. Library class dilaksanakan setiap minggu secara rutin telah terjadwal masing-masing kelas dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Setiap pertemuan waktu yang diberikan dalam library class adalah 30 menit untuk kelas 1 dan 2 serta 40 menit untuk kelas 3 sampai kelas 6. Kegiatan library class dilaksanakan di ruang perpustakaan, pustakawan guru dituntut kreatif dalam memberikan materi setiap minggunya. Pustakawan guru tidak hanya menjelaskan dua arah saja, tetapi biasanya menggunakan media yang menarik bagi anak-anak disesuaikan dengan umurnya. Menurut Mawar, mengajar anak kelas 1 dan 2 sangat berbeda dengan tingkat kelas di atasnya. Anak-anak kelas 1 dan 2 memiliki rentang usia 6 sampai 7 tahun. Mereka masih cenderung lebih suka belajar sambil bermain.16 Jadi, Mawar biasanya menggunakan teknik mengajar yang variatif seperti memberikan materi fungsi bookmark sebagai salah satu cara merawat buku. Mawar tidak hanya menjelaskan atau menunjukkan bookmark tersebut tetapi berupaya membuat bookmark secara bersama sama dengan tokoh kartun yang mereka sukai. Kamboja juga memiliki pengalaman tersendiri ketika mengajar di llibrary class untuk kelas 6. Biasanya, anak kelas 6 sangat tertarik ketika menggunakan komputer dan browsing internet. Sehingga Kamboja mengenalkan OPAC berbagai perpustakaan di Indonesia. Anak kelas 6 biasanya lebih kritis dan mampu memberikan komentar bila tidak ada yang dimengerti. Jadi pustakawan guru dituntut lebih kreatif dalam memahami materi yang disampaikan.17 Melati juga memiliki pengalaman yang unik ketika mengajar library class. Dia mengaku bahwa dia baru setahun bekerja sebagai pustakawan guru Sekolah Dasar Madania. Melati memahami betul bidang perpustakaan namun belum pernah pengalaman mengajar, sedangkan saya diminta mengajar tentang perpustakaan. ketika itu, saya mengajar library class untuk kelas 3A. Muridnya sekitar 15 orang, saya harus menjelaskan materi tentang Call Number yaitu DDC. Pertemuan pertama di kelas 3A tersebut saya hanya menjelaskan kelas 000-900 menggunakan power point, anak-anak 10 menit awal mendengarkan dengan baik, tetapi selanjutnya mereka mulai tidak konsentrasi ada yang tiduran, memutari rak perpustakaan, bolakbalik ke toilet, dan ada pula yang mengobrol. Sedangkan ketika diulang kembali dengan pertanyaan mereka belum paham. Saat itu, saya berpikir metode mengajar yang saya gunakan belum tepat. Ya, akhirnya saya banyak belajar dengan guru kelas bagaimana dan menciptakan kegiatan belajar di kelas dengan kreatif tetapi mereka mengerti salah satunya dengan Games. Maksudnya, memasukkan metode belajar dengan permainan yang menarik bagi anak-anak. Dari pengalaman ketiganya, dapat dilihat bagaimana pustakawan guru memiliki peran penting dalam kegiatan library class. Kegiatan ini berbeda dari materi pelajaran kelas lain dimana guru dapat mengontrol dengan memberikan nilai, library class tidak terikat nilai sehingga kemampuan siswa mengenai perpustakaan berguna saat mereka menelusur bahan pustaka, memperlakukan bahan pustaka, dan memperkenalkan fungsi perpustakaan. Kegiatan ini sebagai wujud program literasi informasi di Sekolah Dasar Madania.18 2. Best Reader Best reader merupakan kegiatan untuk memilih pembaca terbaik dalam kurun waktu sebulan sekali dengan memajang foto di mading perpustakaan Madania. Pustakawan guru berperan dalam memilih best reader. Menurut Mawar, pustakawan guru memiliki kriteria tertentu dalam menentukan best reader diantaranya dilihat dari peminjaman bahan pustaka selama satu bulan, pertanyaan akan diajukan secara sembunyi kepada kandidat best reader saat pengembalian buku maupun saat library class, dan bagaimana kandidat tersebut memperlakukan bahan pustaka ketika berkunjung ke perpustakaan. pustakawan guru memiliki peran aktif, biasanya 3 orang pustakawan guru akan berdiskusi kandidat yang diamati, dan mereka menentukan 1 orang yang dianggap layak menjadi best reader. 3. Storytelling Kegiatan ini dilakukan dua kali pertemuan dalam setiap minggunya dari pukul 14.00-16.00. Kegiatan ini biasanya diikuti oleh siswa kelas 3, 4 dan 5 SD Madania. Mereka mengikuti kegiatan ini setelah jam pelajaran selesai, kegiatan ini merupakan kegiatan ektrakurikuler perpustakaan. Siswa dan pustakawan guru berdiskusi di ruang perpustakaan tentang bagaimana melakukan storytelling dengan baik. Menurut Kamboja, siswa biasanya aktif memilih cerita berdasarkan koleksi perpustakaan, kemudian menggunakan perlengkapan yang tersedia di perpustakaan atau bekerjasama dengan pustakawan guru membuat ide yang sesuai dengan cerita. Pustakawan berperan mengarahkan dan mendukung siswa menerapkan ide dari cerita yang akan disampaikan. Kegiatan ini ternyata, memiliki dampak yang baik bagi siswa sebab bila ada perlombaan di sekolah Madania maupun sekolah di luar Madania mereka aktif mengikutinya. Pustakawan guru bekerjasama dengan guru bahasa indonesia, bahasa inggris, dan guru kelas mempersiapkan siswa dalam perlombaan tersebut. 4. Library Tour Kegiatan ini dimaksudkan memperkenalkan perpustakaan Sekolah Dasar Madania kepada pihak eksternal. Menurut Kamboja, banyak sekali Sekolah Dasar negeri yang tertarik melihat bagaimana perpustakaan sekolah Madania. Pustakawan guru berperan penting dalam memberikan informasi secara detail kepada mereka. 19 Biasanya, pustakawan guru melibatkan siswa untuk memberikan materi dan kesan mereka terhadap perpustakaan. Siswa yang dipilih untuk menjelaskan adalah siswa kelas 5 atau kelas 6 yang telah mengikuti kegiatan perpustakaan selama bertahuntahun. Pustakawan guru berperan memberikan arahan siswa yang bertugas memberikan materi saat pertemuan formal dan siswa yang akan menjadi tour guide bagi setiap kelompok yang berkunjung untuk melihat sarana dan kegiatan perpustakaan. Bagi Melati, kegiatan ini memberikan pengalaman sendiri baginya, bahwa pustakawan guru bukan hanya sebatas memperkenalkan dunia perpustakaan di lingkungan sekolah Madania, tetapi dengan terbuka memberikan informasi kepada sekolah lain agar berkembang lebih baik. Kegiatan library class, best reader, storytelling, dan library tour merupakan wujud dari program literasi informasi perpustakaan sekolah Madania. Pustakawan guru menjadi agen penting dalam program tersebut. Dengan kualifikasi dalam dua bidang perpustakaan dan pendidikan menjadi sesuatu yang berharga, karena kedua kompetensi tersebut dipadukan guna mendukung dan menerapkan visi komunitas sekolah dengan membangun layanan serta program literasi informasi efektif yang berkontribusi pada pengembangan pelajar seumur hidup . Pustakawan guru memiliki tiga peran utama yaitu pustakawan guru sebagai pemimpin kurikulum; pustakawan guru sebagai spesialis informasi; dan pustakawan guru sebagai pengelola layanan informasi. Ketiga peran tersebut telah dijalankan oleh pustakawan guru Sekolah Dasar Madania. Pustakawan guru sebagai pemimpin kurikulum merupakan peran pustakawan guru bekerjasama dengan pihak sekolah menetapkan topik dan materi yang akan dibahas dalam library class selama setahun ajaran. Peran pustakawan guru sebagai spesialis informasi adalah memberikan pelayanan dan pelatihan kepada siswa, guru, dan staf di lingkungan Sekolah Dasar Madania. Peran pustakawan guru sebagai pengelola layanan informasi adalah menyediakan kemudahan akses informasi sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Ketiga peran utama ini mampu dikolaborasi dengan pustakawan guru menjadi satu peran besar yang terwujud dalam program literasi informasi Madania yang mereka berikan kepada pihak internal yaitu civitas akademika Sekolah Dasar Madania dan pihak eksternal yaitu sekolah negeri maupun swasta yang berkunjung ke perpustakaan Madania.
Conclusion
Pustakawan guru sebagai agen literasi informasi memiliki tugas dan tanggung jawab dalam literasi informasi di Sekolah Dasar Madania. Sebagai agen literasi informasi, pustakawan guru menciptakan kegiatan yang bertujuan membangun generasi melek informasi. Kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan guru adalah library class, best reader, storytelling, dan library tour. Kegiatan tersebut membutuhkan peran utama pustakawan guru sebagai agen literasi informasi yaitu pustakawan guru sebagai pemimpin kurikulum; pustakawan guru sebagai spesialis informasi; dan pustakawan guru sebagai pengelola layanan informasi. Pustakawan guru Sekolah Dasar Madania sebagai agen literasi informasi tidak hanya memfokuskan kegiatan literasi informasi untuk siswa saja, tetapi untuk guru dan pihak ekternal yaitu Sekolah lingkungan kabupaten Bogor. Sehingga, pustakawan guru sebagai agen literasi informasi berkontribusi dalam mengadvokasi, mendidik, dan mempromosikan program literasi informasi kepada pengguna internal dan eksternal.