PENDIDIKAN PUSTAKAWAN BAGI MASA DEPAN PERPUSTAKAAN
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Pustakawan perlu menguasai pengetahuan di bidang kepustakawanan sebagai dasar dalam menjalankan tugasnya. Akan menjadi kurang efektif jika pustakawan sebagai manajer dalam sebuah perpustakaan tidak memiliki pengetahuan di bidang kepustakawanannya. Begitu juga dengan pengetahuan dalam bidang pengembangan pelayanan, penelusuran informasi, pengolahan dan pengemasan bahan pustaka, perlu terus diasah dengan memperhatikan dinamika teknologi informasi yang terus berubah. Seorang pustakawan harus memiliki sikap terbuka terhadap pembaharuan namun tidak meninggalkan nilai-nilai dasar kepustakawanannya. Peningkatan pengembangan perpustaakaan sejalan dengan peningkatan citra positif perpustakaan. Jika sebuah lembaga perpustakaan tidak memiliki rencana kerja yang jelas akan pengembangan, maka dapat dipastikan bahwa tidak akan ada perubahan citra di mata pengguna perpustakaan. Untuk mewujudkan hal tersebut secara ideal, diperlukan pustakawan kreatif, inovatif dan informatif dalam mengemas dan menyampaikan informasi kepada pengguna seiring dengan perkembangan dunia informasi.
Abstract
Librarians need to master knowledge in the field of librarianship as a basis for carrying out their duties. It would be less effective if the librarian as manager in a library does not have knowledge in the field of librarianship. Likewise with knowledge in the field of service development, information tracking, processing and packaging of library materials, it needs to be continually sharpened by paying attention to the dynamics of information technology that is constantly changing. A librarian must have an open attitude towards renewal but not abandon the basic values of the librarians. The improvement of library development is in line with the improvement of library's positive image. If a library institution does not have a clear work plan for development, it is certain that there will be no image change in the eyes of library users. To realize this ideally, we need creative, innovative and informative librarians to package and deliver information to users in line with the development of the information world.
Keywords:
Education for Librarian
· Librarian
· Information
Introduction
Perpustakaan sebagaimana yang berkembang saat ini telah digunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya. Perpustakaan pada prinsipnya mempunyai tiga kegiatan pokok yaitu pertama mengumpulkan kedua melestarikan dan yang ketiga menyediakan dan menyajikan informasi. Perpustakaan dengan tugas dan fungsinya sebagai sumber informasi dan media pembelajaran, dimana dalam fungsinya tersebut perlu adanya tenaga profesional seorang pustakawan untuk mewujutkan tujuan perpustakaan. Perpustakaan dalam pandangan masyarakat tradisional hanyalah sebagai informasi dan layanan. Tetapi sejak adanya teknologi infomasi perpustakaan berfungsi sebagai tempat menyimpan, mengumpulkan, mengelola, dan mendistribusikan secara luas ilmu pengetahuan yang lebih efektif guna untuk melayani pengguna perpustakaan dengan baik. Pustakawan perlu menguasai pengetahuan di bidang kepustakawanan sebagai dasar dalam menjalankan tugasnya. Akan menjadi kurang efektif jika pustakawan sebagai manajer dalam sebuah perpustakaan tidak memiliki pengetahuan di bidang kepustakawanan. Begitu juga dengan pengetahuan dalam bidang pengembangan pelayanan, penelusuran informasi, pengolahan dan pengemasan bahan pustaka, perlu terus diasah dengan memperhatikan dinamika teknologi informasi yang terus berubah. Seorang pustakawan harus memiliki sikap terbuka terhadap pembaharuan namun tidak meninggalkan nilai-nilai dasar kepustakawanannya. Peningkatan pengembangan perpustakaan sejalan dengan peningkatan citra positif perpustakaan. Jika sebuah lembaga perpustakaan tidak memiliki rencana kerja yang jelas akan pengembangan, maka dapat dipastikan bahwa tidak akan ada perubahan citra di mata pengguna perpustakaan.1 Untuk mewujudkan hal tersebut secara ideal, diperlukan pustakawan inovatif dan informatif dalam mengemas dan menyampaikan informasi kepada pengguna seiring dengan perkembangan dunia informasi dan kemajemukan pengguna perpustakaan.2 Perubahan tersebut tidak bisa dihin dari Perpustakaan, Pustakawan dan harapan pengguna perpustakaan tampaknya berada dalam keadaan terus-menerus berubah. perubahan masa depan secara akurat hampir mustahil. Kita bisa mengidentifikasi tren masa kini untuk membantu kita memahami masa depan yang mungkin terjadi. Tren saat ini mengisyaratkan perubahan besar dan melebihi bayangan banyak orang sebelumnya yang ditandai dengan munculnya teknologi baru, perubahan dalam penerbitan, prilaku pencarian informasi pemustaka yang pada saat ini tumbuh sangat signifikan menggunakan Google, Wikipedia dan berbagai media data lain yang bisa didapat dengan sangat cepat dan murah meriah bahkan gratis. Ketersedian berbagai sumber informasi terus meningkat dalam berbagai bidang dengan jumlah yang sulit dihitung. Generasi pada saat ini adalah generasi yang sangat akrab dengan smartphone dan komputer tablet yang menawarkan akses nirkabel ke Internet yang merevolusi cara mereka kerja, bersekolah, dan kehidupan dalam aktivitas lainnya. Dengan peralatan yang mereka punya mereka bisa mengaksesnya secara online tanpa tak terbatas dengan perangkat mobile yang mereka punya ke berbagai pangkalan data yang ada diinternet. Disisi lain banyak faktor-faktor seperti pendanaan untuk perpustakaan mulai dari Perpustakaan desa, umum dan Perguruan Tinggi yang tidak menentu. Model pelayanan dengan segala ketersedian fasilitas yang mereka miliki saat ini seakan yang tidak bisa diramal masa depannya. Banyak perpustakaan belum dan bahkan tidak mampu menyedia layanan perpustakaan yang dapat diakses di manamana untuk mendaptkan teks lengkap berupa buku dan artikel ilmiah dalam berbagai bahasa. Dalam kondisi yang tak menguntungkan ini akankah ada jalan keluar yang dapat kita tempuh agar profesi pustakawan tidak menjadi profesi yang lapuk dimakan usia dan menua dengan sendirinya ketika sudah ditingglakan oleh pemustaka. Akankah profesi pustakawan akan terus berjalan menuju ajalnya sebagai hasil samping ketidaksiapan mereka dalam menyambut tantangan tersebut.
Discussion
Pustakawan merupakan salah satu sumber daya yang menggerakkan sumber daya lain dalam organisasi perpustakaan yang memungkinkan perpustakaan dapat berperan secara optimal didalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, sehingga pustakawan menjadi ujung tombak keberhasilan dalam penyebarluasan informasi di perpustakaan. Dalam UU No 43 tahun 2007, dikatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Fenomena saat ini adalah pustakawan tidak hanya bertugas sebatas menyusun dan mendata buku. Pustakawan juga harus mampu menerapkan suasana senyaman mungkin, bukan hanya dari segi fasilitas serta kelengkapan buku, namun memperlakukan pengunjung dan khususnya anggota perpustakaan sebagai aset penting perpustakaan untuk meningkatkan kemajuan perpustakaan. Kebutuhan pemustaka diperlukan untuk membuat gerakan semakin solid dan komitmen bersama untuk mengelola perpustakaan secara kreatif dan inovatif dengan tetap mengedepankan kebersamaan. pustakawan harus kreatif mengembangkan berbagai akitifitas dan kratifitas baru demi mengembangkan perpustakaan. Pemustaka memiliki hak untuk memperoleh informasi yang cukup, khususnya mengenai bagaimana informasi yang diperlukan itu diperoleh. Tata aturan di perpustakaan harus tetap ditegakkan dan dipatuhi. Banyak pemustaka yang bersifat egois, yang secara sangaja merusak buku, majalah, atau koran yang menjadi koleksi perpustakaan demi keuntungannya pribadinya tanpa mempedulikan kepentingan pemustaka lain. Banyak di antara yang suka menyobek beberapa halaman dari buku, majalah, mencoret-coretnya, atau bahkan mencuri buku yang diperlukannya. Jelas ini semua sangat merugikan semua pihak. Namun dengan teknologiseperti CCTVdan sensor yang ditempatkan di gerbang pintu keluar perpustakaan akan sangat memudahkan pengontrolannya dalam menghadapi tindakan yang tidak beradab tersebut.3 Pada masa yang penuh dengan dunia teknologi semua orang akan melalui banyak perubahan pekerjaan untuk menghadapi tantangan masa depan. Teknologi Informasi dan Komunikasi telah mengubah peran tidak hanya perpustakaan tetapi juga pustakawan di lingkungan yang berubah di mana mereka bekerja saat ini. Peran pustakawan berubah untuk menghadapi tantangan baru yang ditimbulkan oleh teknologi informasi. Pustakawan harus percaya diri dan kompeten bahwa mereka dapat mempersiapkan diri untuk tantangan baru, berurusan dengan teknologi, mengelola perubahan secara efektif dan mengklaim peran profesional yang baru. IFLA dalam laporanya tahun 2013 mengidentifikasi lima tren tingkat tinggi abad21 yang menjadi tantangan banyak pihak yaitu akses informasi, pendidikan, privasi, bentukbentuk baru keterlibatan digital dan transformasi teknologi. Demikian pula halnya di bidang layanan perpustakaan ada enam tren yang sedang ke berbagai bentuk perpustakaan keseluruh penjuru dunia yang mesti dicermati dan diikuti oleh perpustakaan dan pustakawan sebagaimana yang disarankan oleh Jaguszewski, Janice, dan Karen Williams bahwa perpustakaan dan pustakawan masa kini harus mencermati enam tren berikut: 1. Pengembangan layanan perpustakaan berpusat pada pemustaka 2. Pengembangan model perpustakaan hibrida dan pustakawan spesialis 3. Fleksibilitas organisasi yang harus memenuhiperubahan kebutuhan pemustaka 4. Peningkatan peran penghubung 5. Berkolaborasi 6. Menciptakan dan mempertahankan tenagakerja secara fleksibel Menurut Bhat, K. Shivananda dalam bukunya mengatakan bahwa ada beberapa tantangan utama perpustakaan dan pustakawan abad 21 1. Ledakan informasi 2. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi 3. Pertumbuhan peledak dan penggunaansumber daya web 4. Berkurangnya anggaran perpustakaan 5. Meningkatnya biaya dokumen cetak 6. Penggunaan intensif sumber daya digital 7. Tingkat harapan pengguna semakin tinggi 8. Lingkungan belajar virtual interaktif 9. Evolusi lembaga pendidikan maya 10. Berubahnya sifat dan jumlah sumber dayainformasi 11. Pola-pola baru dari penerbitan ilmiah dankomunikasi 12. Pengembangan perpustakaan digital, virtualdan hybrid 13. Toko buku online dan layanan informasi PERAN PERPUSTAKAAN Peran4 perpustakaan secara signifikan akan berubah dalam tahuntahun mendatang hal ini karena didorong oleh perubahan kemajuan teknologi. Di masa depan, perpustakaan akan melayani masyarakat lebih beragam budaya. Perpustakaan memang memainkan peranan penting dalam memberikan akses ke sumber daya penting untuk mereka yang tidak memiliki sarana sendiri. Selain itu, mereka memberikan kesempatan untuk berlatih dan bereksperimen dengan teknologi informasi. Perubahan perpustakaan dan dampak teknologidengan memiliki visi yang jelas dan menciptakan kemitraan dengan orang-orang yang kita layani. Perubahan zaman mendorong pemustaka tidak lagi sama dengan pencari informasi yang datang pada zaman berikutnya sebagaimana dapat kita pahami dari pendapat Elaine R. Martin (2013) bahwa ketika perubahan terjadi, pustakawan dituntut lebih banyak, ketika sebelumnya hanya perlu ahli dalam subjek tertentu, menjadi generalis yang menavigasi menuju menjadi ahli dalam penggunaan teknologi dan melatih orang lain.5 Elaine R.Martin Berkata: When change occurs, librarians fall away from the previous emphasis on specific subject expertise, becoming generalists who navigate toward becoming experts in the use of technology and the training of others. Meskipun peran dan pendekatan pustakawan dapat bervariasi dari satu institusi ke yang lain, pada tingkat yang paling dasar itu tidak berubah secara signifikan, sebagaimana dikatakan oleh Braude, Robert M (1997) “apa yang telah berubah adalah lingkungan di mana peran dilakukan dan alat yang digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas kita (what has changed is the environment in which the role is carried out and the tools used to accomplish the tasks) . Langkah cepat kemajuan teknologi menantang pelatihan dan keterampilan pustakawan. Dalam katakata Marshall McLuhan, “Setiap teknologi secara bertahap menciptakan lingkungan yang sama sekali baru manusia” (1964, p. Viii) dan manusia yang terlibat dimengerti memiliki periode penyesuaianyang lebih terbuka untuk kolaborasi dan pendekatan multi-disiplin akan menjadi kunci inovasi. Laporan NMC Horizon (2015) menunjukkan bahwa masa depan kaya dengan kesempatan untuk perpustakaan dan pustakawan di dunia perubahan yang cepat dan terus menerus. Adaptasi dan fleksibilitas akan menjadi kunci untuk menyediakan ruang dan jasa yang merespon kebutuhan pengguna dan harapan, sambil memastikan model operasi yang solid dan layak baik hari ini dan di masa depan. Jika perubahan zaman ini tidak kita segera respon secara positive maka profesi pustakawan hanya menghitung hari dan semakin ditinggalkan oleh para masyarat pengguna perpustakaan. Asosiasi Perpustakaan Amerika (ALA) merespon perubahan ini dengan meluncurkan kampanye kesadaran publik baru, yang disebut “Libraries Transform,” pada tahun 2015. Transformasi Perpustakaan ini berusaha untuk menggeser pola pikir bahwa “perpustakaan sudah usang untuk dimiliki” menjadi “perpustakaan sangat penting,” dan mengubah persepsi bahwa “perpustakaan hanyalah tempat yang tenang untuk melakukan penelitian, menemukan sebuah buku, dan membaca” menjadi ‘perpustakaan merupakan pusat komunitas mereka,tempat untuk belajar, membuat dan berbagi, dengan bantuan staf perpustakaan dan sumber daya yang mereka berikan. Kampanye Transformasi Perpustakaan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang nilai, dampak, dan layanan yang diberikan oleh para profesional perpustakaan dan perpustakaan dari semua jenis. Kampanye ini menampilkan bagaimana perpustakaan mengubah masyarakat dan kehidupan individu6 , bagaimana perpustakaan terus berubah untuk memenuhi berubah dengan cepat kebutuhan abad ke-21, dan bagaimana profesional perpustakaan terus berubah untuk memenuhi kebutuhan yang berkembang dari masyarakat di mana mereka layani. Pusat kampanye bersifat provokatif “Karena” adanya pernyataan yang menantang individu untuk memikirkan kembali apa yang mereka ketahui tentang perpustakaan7 . perpustakaan elektronik masa depan adalah perpustakaan yang dapat mendukung pembelajaran jarak jauh dan seumur hidup belajar, perpustakaan bukan buku lagi secara fisik ide ini dapat kita pahami dari Hawkins. Hawkins ramalan tahun 1994 meramalkan: “the potential wonders of an electronic, informationrich environment, and the realisation of the dream seemed imminent with the advent of the ‘information superhighway’, a term today that seems almost quaint. Hawkins envisaged the electronic library supporting distance learning and lifelong learning: ‘a library is not a place and is about much more than books. Karena adanya tuntutan zaman maka perubahan model layanan perpustakaan telah pindah dari pustakawan yang berperan untuk memberikan koleksi yang mempersiapkan dan menciptakan akses ke semua data yang tersedia pada pemustaka, sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi para pengguna. Kepustakawanan adalah seni dan ilmu8 . Pustakawan mempelajari ilmu informasi dan bagaimana bekerja dengan klien untuk membantu mereka menemukan solusi untuk kebutuhan informasi mereka. 9 Pustakawan juga harus belajar dengan cepat bahwa ada suatu seni untuk bekerja dengan orang-orang, untuk menemukan jawaban atas pertanyaanpertanyaan sulit dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dan dalam mengetahui mana sumber daya informasi yang digunakan untuk menemukan informasi yang sedang dicari dalam waktu singkat. 10 Untuk dapat memenuhi peran pustakawan masa kini kita dapat mempertimbangkan pendapat Coghill, Jeffrey G., and Roger G. Russell (2016) yang menyaranakan agar pustakawan memiliki keterampilan secara umum berikut: a. Adaptasi: sebagai seorang pustakawan kita harus mampu beradaptasi b. Fleksibilitas: pustakawan tidak hanya duduk dimeja referensi menunggu pelanggan merekauntuk datang meminjamkan buku, namun Sebaliknya, pustakawan harus mampu bertemu dengan pemustaka atau pelanggang perpustakaan dimana mereka bekerjaatau tinggal. c. Kemampuan untuk multitasking: seorang pustakawan harus mampu menguasai banyak perangkat teknologi. hubungan interpersonal yang harusdibangun dan dipelihara. Pustakawan tidaklagi terbatas pada tempat dinding perpustakaan, tetapi keluar ke “alam liar” untuk bertemuklien atau pelanggan di mana mereka bekerjadan di mana mereka membutuhkan bantuan. d. Kreativitas: sebagai seorang pustakawan kita harus kreatif dalam memberikan ide-ide cemerlang, supaya pemustaka yang dating keperpustakaan tersebut tertarik. Dalam konteks keahlian profesi pustakawan Komisi Pengetahuan Nasional India mengemukakan 7 keterampilan yang yang harus dimiliki adalah yaitu: a. Keterampilan penanganan perpustakaan daninformasi. b. Orientasi layanan c. keterampilan pengetahuan ICT d. Komunikasi dan pelatihan keterampilan e. Pemasaran dan kemampuan presentasi f. Memahami keragaman budaya g. keterampilan pemetaan Pengetahuan Pendapat yang yang hampir sama dikemukanoleh Martin, Elaine R (2014) bahwa pustakawan memiliki keahlian sebagai berikut: 1. Keahlian dalam perpustakaan dan informasiilmu pengetahuan dan bidang studi; 2. Kemampuan untuk mengantisipasi pertanyaan; 3. Kemampuan untuk mengakses informasi dariberbagai sumber; 4. Keterampilan dalam pencarian informasi; 5. Kemampuan untuk mengevaluasi danmenganalisa informasi; dan Keterampilan dalam layanan informasi penawaran yang disesuaikan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dimanapun mereka berada11
Conclusion
Perpustakaan merupakan pusat informasi sebuah lembaga pemberi layanan informasi kepada masyarakat dan pelestarian budaya bangsa dalam bentuk bahan pustaka untuk keperluan pendidikan, penerapan ilmu dan teknologi, serta pengembangan kebudayaan, Perpustakaan pada prinsipnya mempunyai tiga kegiatan pokok yaitu pertama mengumpulkan kedua melestarikan dan yang ketiga menyediakan dan menyajikan informasi. Untuk mewujutkan tujuan dari sebuah perpustakaan maka perlu adanya tenaga pustakawan yang profesional yang menjunjung nilai dan norma juga berdasar pada kode eik profesinya, semoga dengan tulisan ini harapan dari penulis perpustakaan untuk kedepannya akan jauh lebih diminati dan banyak peminatnya dan tidak hanya dijadikan sebagai berkumpulnya buku-buku, diharapkan juga setiap pustakawan tidak jutek dan ramah lingkungan.dan bisa menjalankan kewajibannya sebagai pustakawan profesional (sumadiria 2009) Saran Pustakawan dan petugas perpustakaan diharapkan lebih aktif dan respons dalam mengamati dinamika masyarakat beserta kebutuhan infor-masinya. Dengan mengamati, pustakawan dan petugas perpustakaan dapat menganalisa tema apa saja yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik pengguna guna memberikan pelayanan prima. Pengguna yang merasa terpuaskan dapat berperan sebagai media promosi secara tak langsung bagi perpustakaan karena sudah dapat dipastikan mereka akan menceritakan kepada teman temannya mengenai kepuasan yang mereka dapatkan. Fasilitas yang baik akan membuat citra perpustakaan jauh dari kata negative dan tidak menguntungkan bagi masyarakat.