Kembali
16
1
2024 Jurnal Imam Bonjol : Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol 8 · 1 ISSN 2579-3160

KONTRIBUSI PERPUSTAKAAN IAIN PONOROGO TERHADAP PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH BINAAN DALAM MENINGKATKAN MUTU LAYANAN

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo; Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa Perpustakaan dalam fungsinya meningkatkan literasi dan menyebarkan informasi melalui layanan yang baik sangat di perlukan bagi sebuah perpustakaan perguruan tinggi. Parameter layanan yang baik dapat terlihat dari keikutsertaannya dalam sebuah penilaian yang memenuhi standar akreditasi. Salah satu komponen yang harus di penuhi adalah layanan kerjasama eksternal dengan melakukan pembinaan dan kerjasama dengan perpustakaan sekolah agar dapat mengikuti akreditasi sebagai evaluasi dalam pengelolaanya. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan tentang akreditasi dan pengelolaanya pada perpustakaan sekolah telah dilakukan. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data primer ini adalah interview pengelola perpustakaan, sedangkan data sekunder adalah dokumentasi dan observasi yang relevan dengan penelitian ini. Langkah-langkah penelitian terdiri dari identifikasi, menemukan literatur yang relevan, evaluasi dan telaah kritis terhadap literatur, pengorganisasian dan menulis hasil penelitian. Hasil penelitian ini ialah: [1] Perpustakaan dari unsur SMAN masuk kategori akreditasi C dengan nilai 7.51, [2] Perpustakaan dari unsur SMKN masuk kategori akreditasi C dengan nilai 69.63, [3] Perpustakaan dari unsur MAN masuk kategori akreditasi C, [4] Perpustakaan dari unsur SMK swasta tidak terakreditasi dengan nilai 43.04, [5] Perpustkaan dari unsur MA swasta masuk kategori tidak terakreditasi dengan nilai 20.00.

Abstract

This research is motivated by the fact that libraries, in their function of increasing literacy and disseminating information through good services, are very necessary for a university library. Good service parameters can be seen from participation in an assessment that meets accreditation standards. One of the components that must be fulfilled is external collaboration services by providing guidance and collaboration with school libraries so that they can take part in accreditation as an evaluation in their management. The aim of this research is to determine the extent to which knowledge about accreditation and its management in school libraries has been carried out. This research includes descriptive qualitative research. The primary data source is interviews with library managers, while secondary data is documentation and observations that are relevant to this research. The research steps consist of identification, finding relevant literature, evaluation and critical review of the literature, organizing and writing up research results. The results of this research are: [1] The library from the SMAN element is in the accreditation category C with a score of 7.51, [2] The library from the SMKN element is in the accreditation category C with a score of 69.63, [3] The library from the MAN element is in the accreditation category C , [4] The library from the private vocational school element is not accredited with a score of 43.04, [5] The library from the private MA element is in the unaccredited category with a score of 20.00.
Keywords: School Library · College Library · Service Quality · Accreditation

Introduction

Layanan perpustakaan dilakukan untuk dapat lebih memikat, bersahabat, cepat, dan akurat. Orientasi layanan perpustakaan seyogyanya didasarkan pada kebutuhan pemustaka, dengan mengantisipasi perkembangan teknologi informasi dan layanan yang ramah, menempatkan pemustaka sebagai faktor penting dalam kebijakan perpustakaan. Secara umum layanan di perpustakaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas dalam memberikan jasa layanan kepada pemustaka tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama maupun status lainnya. Layanan yang diselenggarakan perpustakaan yaitu dengan menyediakan koleksi-koleksi berkualitas sebagai bahan untuk belajar bagi pemustaka. Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar merupakan suatu unit dalam suatu lembaga yang berperan mendorong efektifitas serta optimalisasi proses pembelajaran melalui penyelenggaraan berbagai fungsi layanan (seperti layanan media, pelatihan, konsultasi pembelajaran, dll), fungsi pengadaan/pengembangan media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Di era teknologi informasi dan persaingan era global ini sudah menjadi tuntutan zaman untuk selalu menjaga kualitas baik produk maupun service dari berbagai sektor jasa dan produsen, termasuk jasa layanan perpustakaan. Salah satu cara untuk menjaga kualitas layanan di Perpustakaan dengan melakukan penilaian dengan standar tertentu dan cara tertentu pula serta melibatkan SDM yang handal dibidangnya biasa disebut dengan asesor akreditasi dari Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional atau LAP-N dari Perpustakaan Nasional RI. Upaya ini untuk mempersiapkan proses akreditasi. Untuk mengikuti akreditasi harus ada pendampingan, maksudnya adalah ada institusi yang mendampingi sebelum mengajukan akreditasi, jadi semacam pembinaan. Karena banyaknya komponen yang harus di fahami. Bagi perpustakaan pemula (perpustakaan yang baru mau mengikuti akreditasi)tentu belum memahami borang atau komponenakreditasi. Terkait dengan hal ini, perpustakaan IAIN Ponorogo menggandeng Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) untuk mendampingi pra akreditasi mengenai borang akreditasi yang harus diisi dan dipenuhi agar mendapatkan hasil yang maksimal serta pendampingan dalam masa relaksasi nanti. Belajar dari hal tersebut, dalam melakukan program kerja tahunannya, perpustakaan mengambil tema workshop tentang akreditasi perpustakaan sekolah dalam kegiatannya. Mengingat hal tersebut, dalam asumsi awal penulis pasti banyak pula sekolah-sekolah yang mengalami kebimbangan dalam mengajukan akreditasi. Dan ternyata benar, peneliti menemukan bahwa banyak sekolahsekolah terutama perpustakaannya yang belum mengerti dan memahami bagaimana cara memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna perpustakaan, di mana ini merupakan bagian dari mutu perpustakaan. Hal tersebut dapat di temukannya dari banyaknya sekolah yang belum terakreditasi dalam sebagai tolok ukur suatu mutu dalam memberikan layanan. Kenapa perpustakaan harus ada akreditasi sebagai standar mutu layanan?, karena dengan akreditasi maka perpustakaan akan mengetahui pekerjaan apa saja yang harus dipersiapkan dan dilakukan dalam memberikan layanan yang optimal agar terwujud Pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo melihat fenomena ini maka perlu mengadakan penelitian dan mengadakan Kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam hal ini dengan “Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M)”. Lembaga ini bergerak dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perpustakaan ikut hadir dalam menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat. Dalam memberikan layanan perpustakaan, kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo tidak membeda-bedakan, apakah pengguna berasal dari dalam kampus atau luar kampus. Dalam memberikan layanan, perpustakaan selalu berusaha meningkatkan bentuk-bentuk serta jenis layanan melalui berbagai arah. Hal ini juga sudah tertuang didalam borang akreditasi bahwa perpustakaan mengharuskan untuk menjalin kerjasama dengan pihak eksternal. Salah satu bentuk nyata pelayanan pada masyarakat sekolah adalah dengan mengawal mutu perpustakaan sekolah binaannya. Maksud binaan disini adalah bahwa perguruan tinggi bekerja sesuai dengan Tri Dharma. Adapun isi dari Tri Dharma Perguruan tinggi adalah: Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehinggga dalam hal ini perpustakaan yang merupakan unit pelaksana teknis di perguruan tinggi berkewajiban memberikan dharma bakti keilmuannya kepada masyarakat sekolah. Perpustakaan perguruan tinggi islam di bawah lingkungan kementerian agama merupakan perpustakaan di level perguruan tinggi yang memiliki kewajiban membina perpustakaan yang ada di level bawahnya yaitu setara dengan sekolah lanjutan tingkat atas atau madrasah Aliyah. Disini tidak dibatasi kepada madrasah yang notabene di bawah lingkungan kementerian agama saja, namun sekolah menengah atas juga di lakukan pembinaan dan di perbolehkan bergabung dengan perpustakaan IAIN Ponorogo. Perpustakaan IAIN Ponorogo melakukan kerja Bersama-sama dengan tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) dalam memberikan pembinaan kepada masyarakat luas. Hal ini penting mengingat agar pembinaan dapat tepat sasaran dan berdaya guna dengan baik. Dengan demikian, selanjutnya pustakawan berfikir keras bahwa tentunya yang mengalami kegalauan dalam mengelola perpustakaan tidak hanya perpustakaan kampus IAIN Ponorogo saja, namun tentunya pengelola perpustakaan tingkat sekolah juga demikian. Ini asumsi dasar. Untuk memastikan apakah hal itu benar terjadi, maka peneliti melakukan pra penelitian dengan mengambil sampel sebanyak 30 sekolahan. Sekolahan tersebut berasal dari SMAN, SMKN, MAN, SMK swasta, SMA swasta, dan MA swasta yang telah menjalin Kerjasama dengan perpustakaan IAIN Ponorogo. Sekolah-sekolah tersebut di investigasi dengan memberikan kuesioner yang berisi pertanyaanpertanyaan seputar pengetahuan pengelolanya tentang pengelolaan perpustakaan. Ternyata banyak yang tidak mengetahui akan pentingnya standar mutu dan layanan pada perpustakaan masing-masing. Dan rata-rata mereka tidak memahami akan tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam melaksanakan kerja seharihari sesuai standar yang telah di tetapkan melalui akreditasi. Inilah perlunya memberikan literasi tentang mutu penyelenggaraan perpustakaan dan pemahaman kepada pengelola perpustakaan sekolah yang dikelolanya. Oleh karena itu peneliti mengambil tema “Kontribusi Perpustakaan IAIN Ponorogo Terhadap Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Binaan dalam Meningkatkan Mutu Layanan”. Terbentuknya penguasaan pengetahuan pengelola perpustakaan sekolah akan mampu mendorong adanya kehidupan yang lebih maju dan sejahtera KAJIAN TEORI Perpustakaan Sekolah Perpustakaan merupakan tempat menaruh, mencerna, serta mencari data di mana data tersebut bisa berupa bahan teks tercetak( novel, harian, referensi, serta bahan pustaka tercetak yang lain) ataupun bahan teks dalam wujud elektronik( electronic book, elektronik harian, serta bahan teks wujud elektronik yang lain) ataupun tempat pelayanan informasi warga sekitar kampus secara luas di sekitarnya (Abdul Rahman Saleh, 2009) Menurut Ibnu Ahmad Saleh perpustakaan adalah tempat pengumpulan pustaka yang diatur dan disusun dengan sistem tertentu, sehingga jika sewaktu-waktu diperlukan dapat diketemukan Kembali dengan cepat dan mudah. Ada tiga kelompok manusia yang berhubungan dengan kegiatan perpustakaan, yaitu: 1). pemustaka/pengguna yaitu dalam hal ini sivitas akademika kampus dan pengunjung atau pengguna dari luar kampus. 2) pengelola perpustakaan yaitu pustakawan dan non pustakawan, 3) mereka yang membiayai perpustakaan dalam hal ini pemerintah melalui pimpinan perguruan tinggi. Kualitas pelayanan Kualitas pelayanan adalah upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan, kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dengan kata lain ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa yang diharapkan dan kualitas jasa yang diterima atau dirasakan. Ada berbagai macam definisi yang dikemukakan berbagai ahli, namun pada prinsipnya semua mengacu pada kepuasan konsumen dari pelayanan yang ia rasakan (Fandy Tjiptono, 2006) Menurut Sviokla dalam Lupioadi bahwa kualitas memiliki delapan dimensi pengukuran yang terdiri atas aspek-aspek sebagai berikut:(Rambat Lupioadi, A. Hamdani, 2011) 1) Kinerja (performance), kinerja disini merujuk pada karakter produk inti yang meliputi merek, atribut-atribut yang dapat diukur, dan aspek-aspek kinerja individu. Kinerja beberapa produk biasanya didasari oleh preferensi subjektif pelanggan yang pada dasarnya bersifat umum. 2) Keragaman produk (features), dapat berbentuk produk tambahan dari suatu produk inti yang dapat menambah nilai suatu produk. Keragaman produk biasanya diukur secara subjektif oleh masing-masing individu (dalam hal ini nasabah) yang menunjukkan adanya perbedaan kualitas suatu produk (jasa). Dengan demikian, perkembangan kualitas suatu produk menuntut karakter fleksibilitas agar dapat menyesuaikan diri dengan permintaan pasar. 3) Keandalan (reliability), dimensi ini berkaitan dengan timbulnya kemungkinan suatu produk mengalami keadaan tidak berfungsi (malfunction) pada suatu periode. Keandalan suatu produk yang menandakan tingkat kualitas sangat berarti bagi konsumen dalam memilih produk. Hal ini menjadi semakin penting mengingat besarnya biaya penggantian dan pemeliharaan yang harus dikeluarkan apabila produk yang dianggap baik ternyata tidak andal dan mengalami kerusakan. 4) Kesesuaian (conformance), dimensi lain yang berhubungan dengan kualitas suatu barang adalah kesesuaian produk dengan standar dalam industrinya. Kesesuaian suatu produk dalam industri jasa diukur dari tingkat akurasi dan waktu penyelesaian termasuk juga perhitungan kesalahan yang terjadi, keterlambatan yang tidak dapat diantisipasi, dan beberapa kesalahan lain. 5) Ketahanan atau daya tahan (durability), ukuran ketahanan suatu produk meliputi segi ekonomis maupun teknis. Secara teknis, ketahanan suatu produk didefinisikan sebagai sejumlah kegunaan yang diperoleh seseorang sebelum mengalami penurunan kualitas. Secara ekonomis, ketahanan diartikan sebagai usia ekonomis suatu produk dilihat dari jumlah kegunaan yang diperoleh sebelum terjadi kerusakan dan keputusan untuk mengganti produk. 6) Kemampuan pelayanan (serviceability), kemampuan pelayanan bisa juga disebut dengan kecepatan, kompetensi, kegunaan, dan kemudahan produk untuk diperbaiki. Dimensi ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya memperhatikan adanya penurunan kualitas produk tetapi juga waktu sebelum produk disimpan, penjadwalan pelayanan, proses komunikasi dengan staf, frekuensi pelayanan perbaikan akan kerusakan produk, dan pelayanan lainnya. Variabel-variabel tersebut dapat merefleksikan adanya perbedaan tandar perorangan mengenai pelayanan yang diterima. Dimana kemampuan pelayanan suatu produk tersebut menghasilkan suatu kesimpulan akan kualitas produk yang dinilai secara subjektif oleh konsumen. 7) Estetika (aesthetics), estetika merupakan dimensi pengukuran yang paling subyektif. Estetika suatu produk dilihat dari bagaimana suatu produk terdengar oleh konsumen, bagaimana penampilan luar suatu produk, rasa, maupun bau. Dengan demikian, estetis jelas merupakan penilaian dan refleksi yang dirasakan oleh konsumen. 8) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), konsumen tidak selalu memiliki informasi yang lengkap mengenai atribut-atribut produk (jasa). Namun pada umumnya konsumen memiliki informasi tentang produk secara tidak langsung, misalnya melalui merek, nama, dan negara produsen. Ketahanan produk misalnya, dapat menjadi hal yang sangat kritis dalam pengukuran kualitas produk. Akreditasi Akreditasi adalah kegiatan penilaian sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan standar nasional perguruan tinggi, yang meliputi standar pendidikan, standar penelitian, dan standar pengabdian kepada masyarakat. Akreditasi diberikan kepada perguruan tinggi dan program studi. Akreditasi merupakan sistem penjaminan mutu eksternal sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi, yang bertujuan untuk menentukan kelayakan program studi dan perguruan tinggi berdasarkan kriteria yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi; dan menjamin mutu program studi dan perguruan tinggi secara eksternal baik bidang akademik maupun nonakademik untuk melindungi kepentingan mahasiswa dan masyarakat. Akreditasi menurut suharsimi arikunto adalah suatu penilaian yang dilkukan oleh pemerintah terhadap sekolah swasta untuk menentukan peringkat pengakuan pemerintah terhadap sekolah tersebut (Suharsimi Arikunto, 1988). Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia “ Akreditasi adalah pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang di berikan oleh badan yang berwenang setelah di nilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau kriteria tertentu”.(Tim Penyusun kamus, 1996). Akreditasi perpustakaan merupakan evaluasi terhadap aspek-aspek penyelenggaraan perpustakaan apakah sudah sesuai dengan standar nasional perpustakaan. Akreditasi perpustakaan juga merupakan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal untuk menilai dan mendorong peningkatan kualitas dan efektivitas perpustakaan. Salah satu tujuan akreditasi adalah memperbaiki lembaga yang diakreditasi. Perpustakaan yang belum memenuhi standar minimal sebagaimana standar perpustakaan harus membenahi diri untuk berupaya memperbaiki perpustakaanya agar memenuhi standar minimal perpustakaan.(Komarudin, 2016) Secara terminologi, akreditasi didefinisikan sebagai suatu proses penilaian kualitas dengan menggunakan kriteria baku mutu yang ditetapkan dan bersifat terbuka. Dalam konteks akreditasi sekolah dapat diberikan pengertian sebagai suatu kegiatan penilaian kelayakan suatu suatu sekolah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Badan Akreditasi Sekolah yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk pengakuan peringkat kelayakan yang terdiri dari 7 komponen. Penentuan peringkat akreditasi dirumuskan sebagai berikut: a. Terakreditasi dengan peringkat A (Amat Baik) diberikan kepada sekolah yang memperoleh jumlah nilai ratarata antara 85,01-100. b. Terakreditasi dengan peringkat B (Baik) diberikan kepada sekolah yang memperoleh jumlah nilai rata-rata antara 70,01-85,00. c. Terakreditasi dengan peringkat C (Cukup) diberikan kepada sekolah yang memperoleh jumlah nilai rata-rata antara 55,01-70,00. d. Bagi sekolah yang hasil akreditasinya kurang dari 55 dinyatakan tidak terakreditasi(Sunaryo, 2012)

Method

Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif deskriptif jenis studi kasus multisitus. Dilakukan dengan dua metode yaitu kuantitatif dan kualitatif. Obyek kuantitatif meliputi daftar borang akreditasi sekolah yang di jadikan sebagai dokumentasi.(Sugiyono, 2006) Data kualitatif diambil dari wawancara. Obyek penelitian ini ialah berupa ucapan, ungkapan, sebagai data primer serta dokumentasi dan observasi sebagai data sekundernya. Data kuantitatif di simpulkan secara matrik untuk memudahkan membaca hasil. Tehnik analisis data kualitatif menggunakan teknik menurut miler & Hubberman yaitu reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan (Emzir, 2006)

Discussion

Berikut pembahasan seluruh data dari ke lima sekolah dilakukan pengumpulan dan di lakukan pengolahan data meliputi interview, dokumentasi serta observasi tiap sekolah/madrasah yang di lakukan penelitian. Dari unsur SMA Negeri dalam hal dilakukan penelitian pada SMAN 1 Ponorogo hasil interview dengan kepala perpustakaan di dapatkan hasil bahwa dari sisi Komponen koleksi ada 1.561 eksemplar. Komponen sarana dan prasarana ada 1 komputer penelusur untuk pemustaka, karena komputer yang lain di arahkan untuk pembelajaran IT didapatkan data perpustakaan sudah menggunakan sistem dengan aplikasi SLIMs (Senayan Library Manajemen system). Komponen layanan menggunakan layanan terbuka supaya pengunjung nyaman bebas memilih buku yang dikehendaki. Komponen Tenaga/sumberdaya manusia di sini ada 3 petugas. Komponen Penyelenggaraan mengacu pada surat keputusan kepala sekolah dan sudah memiliki nomor pokok perpustakaan. Komponen pengelolaan pada sekolah ini sudah memiliki visi dan misi, tugas, serta tujuan kebijakan serta fungsi. Komponen Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat masih memprioritaskan intern sekolah. Selanjutnya di gali data kuantitatif berdasarkan isian borang akreditasi perpustakaan sekolah (Lembaga Akreditasi & Perpustakaan Nasional (LAP-N)., 2014). Berikut rekapitulasi dokumentasi dan observasi SMAN 1 ponorogo berdasarkan borang akreditasi sekolah/madrasah Tabel 1. Hasil Rekapitulasi Dokumentasi Borang Akreditasi SMAN 1 Ponorogo NO KOMPONEN JUMLAH SKOR JUMLAH SOAL BOBOT NILAI 1 Koleksi 49 13 15 11.31 2 Sarana dan Prasarana 55 13 10 8.46 3 Pelayanan 43 14 20 12.29 4 Tenaga 29 8 15 10.88 5 Penyelenggaraan 16 4 10 8.00 6 Pengelolaan 37 9 15 12.33 7 Inovasi dan Kreativitas 10 5 5 2.00 8 Tingkat Kegemaran Membaca 17 4 5 4.25 9 Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 8 4 5 2.00 Jumlah 264 74 100 71.5 Dari unsur SMK Negeri dalam hal dilakukan penelitian pada SMKN 2 Ponorogo hasil interview dengan pengelola perpustakaan di dapatkan hasil bahwa dari sisi koleksi ada 1900 judul buku penunjang, terdiri dari 3000 eksemplar serta 215 judul buku paket terdiri dari 18.826 eksemplar. Hal ini lantara pada sekolah ini terdapat 45 rombongan belajar (rombel) yang terdiri dari 6 jurusan di mana 6 jurusan itu adalah jurusan tata boga, tata busana, tata kecantikan, teknik komputer dan jaringan, perhotelan dan usaha layanan wisata. Untuk siswa yang lulus wajib menyumbangkan buku. Dari komponen sarana dan prasarana sudah menggunakan SliMs model ”bulian 9”. Dari komponen layanan terbagi menjadi beberapa layanan yaitu bimbingan pemustaka, sirkulasi peminjaman dan pengembanlian, rujukan dan referensi, bimbingan membaca, pemutaran film dan video, layanan wajib kunjung perpustakaan serta promosi perpustakaan. Layanan menggunakan layanan terbuka dan tertutup. Pada komponen tenaga bahwa jumlah tenaga berjumlah 2 orang satu seorang pustakawan dan satu lagi kepala perpustakaan yang merangkap menjadi guru IT. Komponen penyelenggaraan bahwa di bagi menjadi beberapa seksi yaitu kepala perpustakaan menyusun, mengorganisasikan, membimbing, memantau dan evaluasi kerja dan program perpustakaan di bantu pustakawan. Komponen pengelolaan bahwa perpustakaan sudah memiliki visi dan misi, tujuan, kebijakan, tugas serta fungsi dengan baik. Hal ini karena perpustakaan ini sudah pernah mengikuti akreditasi. Komponen inovasi dan kreativitas bahwa Kami bekerjasama dengan guru pengampu mata pelajaran bahasa indonesia. Dalam hal membuat puisi dan mengajarkan anak-anak untuk menghasilkan suatu karya yang dapat di kenang seperti tulisan cerita pendek. Dari karya tersebut, maka kami kumpulkan di bentuk menjadi buku, namun belum tercantum ISBN. Komponen tingkat kegemaran membaca bahwa perpustakaan menganggarkan biaya untuk langganan koran, majalah ”panjebar semangat” yang berbahasa jawa dengan tujuan untuk meunjang pembelajaran muatan lokal bahasa jawa. Komponen indeks pembangunan literasi masyarakat belum melakukan namun hanya fokus intern sekolah. Berikut rekapitulasi dokumentasi dan observasi SMKN 2 ponorogo berdasarkan borang akreditasi sekolah/madrasah NO KOMPONEN JUMLAH SKOR JUMLAH SOAL BOBOT NILAI 1 Koleksi 32 13 15 7.38 2 Sarana dan Prasarana 34 13 10 5.23 3 Pelayanan 27 14 20 7.71 4 Tenaga 15 8 15 5.63 5 Penyelenggaraan 10 4 10 5.00 6 Pengelolaan 25 9 15 8.33 7 Inovasi dan Kreativitas 5 5 5 1.00 8 Tingkat Kegemaran Membaca 6 4 5 1.50 9 Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 5 4 5 1.25 Jumlah 159 74 100 43.04 Tabel 2. Hasil Rekapitulasi Dokumentasi Borang Akreditasi SMKN 2 Ponorogo Dari unsur MA Negeri dalam hal ini dilakukan penelitian pada MAN 2 Ponorogo hasil interview dengan kepala perpustakaan di dapatkan hasil bahwa dari komponen koleksi bahwa perpustakaan memberikan kesempatan kepada penerbit untuk menawarkan buku-buku baru yang diterbitkan lalu pihak perpustakaan akan menghubungi semua guru-guru pengajar untuk melihat, memilih bahkan membaca buku-buku yang di bawa penerbit ke perpustakaan. Jadi penerbit akan meninggalkan buku tersebut dalam waktu beberapa hari kedepan, nanti akan memilih buku dan rapat dengan guru-guru mana buku yang akan di beli. Selain itu juga menyediakan formulir pembelian buku yang di kehendaki oleh pemustaka. Komponen sarana dan prasarana bahwa tidak membeli barang-barang namun di alihkan untuk perawatan barang dan sarana yang ada, karena terbatasnya dana. Komponen layanan bahwa menggunakan sistem terbuka dan tertutup. Komponen tenaga bahwa ada 4 orang dua orang guru PNS yang diperbantukan di perpustakaan dan dua orang murni pegawai perpustakaan. Komponen penyelenggaraan bahwa ada program literasi membaca di akhir pembelajaran selama 15 menit buku selain buku pelajaran. Komponen pengelolaan bahwa sudah memiliki visi misi belum pengembangan koleksi berasal dari bantuan operasional sekolah dan siswa serta guru. Komponen inovasi dan kreativitas bahwa ada keunikan yaitu diadakan program menulis surat lamaran pekerjaan oleh siswa yang telah lulus dan diadakan ”limktree” untuk mengumpulkan koleksi e-book dan ada layanan ” cineperpus”. Komponen tingkat kegemaran membaca menyediakan ruangan dan bimbingan literasi untuk anak yang mengikuti lomba secara intensif, selain itu setiap akhir pembelajaran kirakira 15 menit sebelum pelajaran berakhir, anak-anak wajib untuk membaca bukubuku non pelajaran kemudian menyimpulkan isi buku tersebut di tulis melalui google form. Komponen indeks pembangunan literasi masyarakat bahwa belum melakukan kegiatan di luar sekolah fokus intern sekolah. Berikut rekapitulasi dokumentasi dan observasi MAN 2 ponorogo berdasarkan borang akreditasi sekolah/madrasah : NO KOMPONEN JUMLAH SKOR JUMLAH SOAL BOBOT NILAI 1 Koleksi 36 13 15 8.31 2 Sarana dan Prasarana 55 13 10 8.46 3 Pelayanan 47 14 20 13.43 4 Tenaga 16 8 15 6.00 5 Penyelenggaraan 14 4 10 7.00 6 Pengelolaan 24 9 15 8.00 7 Inovasi dan Kreativitas 10 5 5 2.00 8 Tingkat Kegemaran Membaca 18 4 5 4.50 9 Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 10 4 5 2.50 Jumlah 230 74 100 60.20 Tabel 3. Hasil Rekapitulasi Dokumentasi Borang Akreditasi MAN 2 Ponorogo Dari unsur SMK swasta dalam hal ini dilakukan penelitian pada SMK PGRI 1 Ponorogo hasil interview dengan pengelola perpustakaan di dapatkan hasil bahwa dari sisi koleksi bahwa ada 800 judul buku, memiliki 10 jenis koleksiyaitu: kamus, ensiklopedia, bibliografi, katalog, indeks, direktori, hanbook/manual. Statistik, atlas dan globe. Ada juga kliping dan foto-foto kegiatan serta karya tulis siswa. Komponen sarana dan prasarana jumlah kursi 8 buah ada internet 60MBps, LCD, scanner, printer. Komponen layanan empat jenis diantaranya adalah layanan baca di tempat, layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan penelusuran informasi menggunakan layanan terbuka. Komponen tenaga terdapat 1 kepala perpustakaan dari unsur guru yang mendapat pelatihan perpustakaan dan 1 orang pustakawan. Komponen penyelenggaraan bahwa sudah memiliki nomor pokok perpustakaan hanya ada unit layanan pemustaka. Sudah ada perencanaan jangka pendek dan panjang yang di sahkan kepala sekolah. Komponen pengelolaan sudah memiliki visi dan misi serta ingin terlibat kerja sama dengan perpustakaan lain, namun hal itu belum bisa terwujud. Komponen inovasi dan kreativitas bahwa memberikan reward kepada siswa yg menyetorkan karyanya di perpustakaan dengan cara di pajang di majalah dinding untuk membuat siswa menjadi bangga sebagai motivasi. Komponen Indeks pembangunan literasi masyarakat bahwa kegiatan eksternal belum di laksanakan. Berikut rekapitulasi dokumentasi dan observasi SMK PGRI 1 ponorogo berdasarkan borang akreditasi sekolah/madrasah NO KOMPONEN JUMLAH SKOR JUMLAH SOAL BOBOT NILAI 1 Koleksi 32 13 15 7.38 2 Sarana dan Prasarana 34 13 10 5.23 3 Pelayanan 27 14 20 7.71 4 Tenaga 15 8 15 5.63 5 Penyelenggaraan 10 4 10 5.00 6 Pengelolaan 25 9 15 8.33 7 Inovasi dan Kreativitas 5 5 5 1.00 8 Tingkat Kegemaran Membaca 6 4 5 1.50 9 Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 5 4 5 1.25 Jumlah 159 74 100 43.04 Tabel 4. Hasil Rekapitulasi Dokumentasi Borang Akreditasi SMK PGRI 1 Ponorogo Dari unsur Madrasah Aliyah swasta dalam hal dilakukan penelitian pada MA Ma’arif Ponorogo hasil interview dengan kepala perpustakaan di dapatkan hasil bahwa dari sisi koleksi ada 6 judul terdiri dari 30 eksemplar tidak ada pengadaan buku sama sekali. Komponen sarana dan prasarana gedung milik sendiri ruangannya bergabung dengan ruang tata usaha. Ada 4 rak. Peralatan multimedia untuk pengunjung belum ada. Komponen pelayanan didapatkan data bahwa hanya ada layanan baca di tempat dan layanan sirkulasi. Jenis layanan referensi yang disediakan layanan meja informasi (referensi desk), layanan penelusuran, layanan konsultasi, layanan kesiagaan informasi (current information services), layanan umum terkait perpustakaan dan sumber informasi (dan lainnya). Komponen tenaga bahwa kepala perpustakaan adalah guru yang mendapat pelatihan perpustakaan serta 1 tenaga teknis serta keterlibatan tenaga dalam profesi kepustakawanan kurang dari 30%. Komponen penyelenggaraan belum memiliki nomor pokok perpustakaan dan belum memiliki program rencana jangka pendek maupun panjang. Komponen pengelolaan bahwa sumber dana dari yayasan saja. Komponen inovasi dan kreativitas bahwa keunikan perpustakaan tidak ditemukan. Komponen tingkat kegemaran membaca jumlah pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan dari keseluruhan anggota rata-rata per hari dalam datu tahun terakhir adalah kurang dari 2%. Komponen indeks pembangunan literasi masyarakat bahwa belum melakukan kegiatan eksternal. Berikut rekapitulasi dokumentasi dan observasi MA Ma’arif ponorogo berdasarkan borang akreditasi sekolah/madrasah (Pedoman Akreditasi Perpustakaan Sekolah, 2018) NO KOMPONEN JUMLAH SKOR JUMLAH SOAL BOBOT NILAI 1 Koleksi 13 13 15 3.00 2 Sarana dan Prasarana 13 13 10 2.00 3 Pelayanan 14 14 20 4.00 4 Tenaga 8 8 15 3.00 5 Penyelenggaraan 4 4 10 2.00 6 Pengelolaan 9 9 15 3.00 7 Inovasi dan Kreativitas 5 5 5 1.00 8 Tingkat Kegemaran Membaca 4 4 5 1.00 9 Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 4 4 5 1.00 Jumlah 74 74 100 20.00 Tabel 5. Hasil Rekapitulasi Dokumentasi Borang Akreditasi MA Ma’arif Ponorogo

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian di analisis dan pembahasan maka didapatkan beberapa simpulan bahwa: Faktor finansial menjadi kendala utama pengelola perpustakaan untuk mengembangkan berbagai macam program dan kegiatan yang tertuang di borang akreditasi. Peran finansial menjadi vital dalam meningkatkan mutu sebuah layanan selain faktor sarana prasarana, SDM dan TI. Masing-masing sekolah memiliki keunikan dan cara yang berbeda dalam mengelola perpustakaan untuk meningkatkan layanan yang baik kepada pemustaka. Ada sebagian sekolah yang sudah mengetahui apa itu akreditasi perpustakaan sekolah dan sudah mencoba mengajukan dengan hasil yang belum maksimal, namun ada juga sekolah yang belum mengetahui apa itu akreditasi serta komponen-komponen yang harus di penuhi. Perlu di tingkatkan peran perpustakaan perguruan tinggi dalam menjalin kerja sama/ jejaring dengan perpustakaan lain sebagai pelaksanaan borang akreditasi kampus untuk lebih giat melakukan kerjasama eksternal kampus sebagai bagian dari tridarma perguruan tinggi. Saran penulis untuk peneliti selanjutnya adalah dapat meneliti lebih komprehensif tentang penggalian ide-ide untuk meningkatkan layanan selain dari faktor finansial. Di perlukan kreativitas dari pengelolanya.