KEPEMIMPINAN SPIRITUAL DI PERPUSTAKAAN UNTUK MENGHADAPI ERA SOCIETY 5.0
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tentang kepemimpinan spiritual yang dapat diterapkan di perpustakaan untuk menghadapi era society 5.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan sosial kemasyarakatan menuju era society 5.0 menuntut perspektif kepemimpinan yang mengedepankan inovasi, motivasi, kemampuan SDM, serta hubungan kemanusiaan. Pemimpin merupakan satu faktor yang menentukan kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada era society 5.0 ini pola kepemimpinan yang baik di perpustakaan sangat dibutuhkan. Dalam konteks perpustakaan, konsep kepemimpinan spiritual akan menginspirasi dan memotivasi sumber daya manusia dalam mencapai visi dan tujuan organisasi yang pada akhirnya dapat menghasilkan SDM unggul yang memiliki kemampuan optimal dalam melakukan pelayanan perpustakaan secara produktif. Pola kepemimpinan spiritual yang menggabungkan adanya visi, harapan/keyakinan dan altruistic love dapat menjadi pilihan kepemimpinan yang dapat diterapkan di perpustakaan.
Abstract
This study aims to describe spiritual leadership that can be applied in libraries to face the era of society 5.0. The results of this study indicate that social change towards the era of society 5.0 requires a leadership perspective that prioritizes innovation, motivation, human resource capabilities, and human relations. The leader is a factor that determines the success of the organization in achieving the goals that have been set. In the era of society 5.0, a good leadership pattern in the library is very much needed. In the context of the library, the concept of spiritual leadership will inspire and motivate human resources in achieving the vision and goals of the organization which in turn can produce superior human resources who have optimal abilities in carrying out library services productively. The pattern of spiritual leadership that combines vision, hope/belief and altruistic love can be a leadership choice that can be applied in the library.
Keywords:
Spiritual Leadership
· Libraries
· Era Society 5.0
Introduction
Konsep society 5.0 yang diluncurkan Jepang 2019 lalu yang menjadikan manusia sebagai subjek utama (human centered society) dalam mengendalikan kemajuan ilmu dan teknologi. Manusia berperan lebih besar dengan mentransformasi big data dan teknologi bagi kemanusiaan demi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Di tengah banyaknya pekerjaan yang akan hilang karena otomatisasi, digitalisasi dan kapitalisme untuk mewujudkan efektivitas dan efisiensi industrialisasi, kehadiran society 5.0 menjadi paradigma baru yang humanistis (Soemarwoto, 2019). Society 5.0 sebagai komplemen Revolusi Industri 4.0 merupakan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human centered) yang berbasis pada teknologi. Untuk itu maka diperlukan pemahaman society 5.0 yang berbasis spiritualitas sebagai bekal untuk menghadapi problematika dan tantangan (Sari, 2020). Kepemimpinan spiritual merupakan sebuah paradigma baru dalam transformasi dan perkembangan organisasi untuk mendorong terciptanya motivasi internal dalam suatu organisasi. Spiritual leadership merupakan bentuk kepemimpinan yang menggunakan model motivasi intrinsik, yaitu kepemimpinan dengan menggabungkan adanya visi, harapan/keyakinan dan altruistic love. Hasil penelitian tentang Spiritual Leadership yang dilakukan oleh Fry dan Cohen dapat membantu berkembangnya nilai kemanusiaan yang positif, psikologis dan keadaan spiritual yang bermuara pada tercapainya komitmen organisasi, produktivitas dan kinerja organisasi yang menyeluruh. Spiritual merupakan inti sari dari hubungan individu secara ruh dan jiwa yang suci, sumber kebenaran, atau Tuhan yang dipercayai manusia dan bagaimana menerapkannya kepada semua orang. Kepemimpinan telah berkembang saat ini dalam memperbaiki krisis kepemimpinan akibat semakin merosotnya nilai-nilai kemanusiaan sebagai dampak dari ethical malaise dan ethical crisis. Akibatnya banyak SDM yang bekerja tanpa motivasi selain hanya untuk kebutuhan duniawi ataupun ekonomi tanpa mencintai pekerjaan dan menikmati hidup. Apabila hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin SDM yang ada akan mudah tergilas oleh revolusi industry 4.0. Oleh karena itu diperlukan orientasi kepemimpinan baru dalam suatu organisasi, yaitu kepemimpinan spiritual (Puspitasari, 2019). Penerapan spiritual leadership di bidang pelayanan perpustakaan akan menginspirasi dan memotivasi sumber daya manusia dalam mencapai visi dan tujuan organisasi yang pada akhirnya dapat menghasilkan SDM unggul yang memiliki kemampuan optimal dalam melakukan pelayanan perpustakaan secara produktif. Oleh kerena itu tipe kepemimpinan spiritual dibutuhkan untuk memimpin organisasi seperti perpustakaan yang menjadi pusat informasi di era society 5.0 ini. LANDASAN TEORI 1. Era Society 5.0 Society 5.0 muncul dari adanya berbagai tren global dewasa ini. Pergerakan kemajuan teknologi, ekonomi dan sosial yang berubah cepat mengakibatkan adanya ledakan data digital dan informasi. Era society 5.0 (masyarakat 5.0) merupakan masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai masalah dan permasalahan sosial yang timbul akibat adanya inovasi teknologi di era revolusi 4.0. Society 5.0 merupakan masa di mana masyarakat berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan dengan penyelesaian masalah sosial oleh sistem yang mengintegrasikan ruang dunia maya dan ruang fisik. Era society 5.0 merupakan era dimana peranperan manusia mulai tergantikan dengan kehadiran robot cerdas yang dianggap dapat mendegradasi peran manusia. Salah satu gambaran masyaraakt 5.0 ditandai dengan adanya robot yang dibuat oleh manusia dan memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan tujuan membantu manusia yang tentunya apabila tidak disikapi dengan baik akan merugikan manusia itu sendiri (Maryati, 2020). Menurut Santoso konsep 5.0 memungkinkan untuk penggunaan ilmu pengetahuan modern untuk melayani kebutuhan manusia. Tujuannya adalah mewujudkan masyarakat agar dapat menikmati hidup dan merasa nyaman. Perbedaan konsep 4.0 dan 5.0 adalah apabila pada 4.0 menggunakan kecerdasan untuk membuat perubahan di masa mendatang, maka konsep 5.0 lebih memfokuskan pada manusia sebagai pokok utama dalam penggunaan teknologi (Yanti, 2019). 2. Konsep Kepemimpinan Spiritual Kepemimpinan merupakan proses pengaruh di dalam kelompok untuk tujuan bersama, sedangkan spiritual berhubungan dengan kerohanian atau kebatinan yang memiliki keyakinan dan nilai-nilai yang lebih luas dibandingkan dengan agama, sehingga dapat digunakan untuk mencapai makna yang lebih besar dalam hidup. Fry mendefinisikan kepemimpinan spiritual sebagai kesatuan yang terdiri dari nilainilai, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain sedemikian rupa secara intrinsic sehingga mereka memiliki rasa pertahanan spiritual melalui panggilan tugas dan keanggotaan (Fry, 2008). Menurut Fry, kepemimpinan spiritual meliputi: (1) Menciptakan suatu visi di mana anggota dalam suatu organisasi memiliki rasa terpanggil dalam hidupnya, menemukan makna, dan membuat sesuatu yang berbeda; (2) Membangun budaya organisasi berdasarkan cinta altruistic di mana antara pemimpin dan pengikut saling perhatian, peduli, dan menghargai satu sama lain, sehingga menimbulkan rasa keanggotaan, merasa dipahami dan dihargai. Dalam pemaparannya mengenai proses kepemimpinan spiritual, Fry menegaskan bahwa pemimpin bertanggungjawab menyusun visi, tujuan, misi, strategi, dan implementasinya. Visi yang diciptakan harus jelas dan apabila dilaksanakan dapat memberikan rasa terpanggil untuk bekerja (Fry, 2003). Menurut Fry, kepemimpinan spiritual dapat dipahami sebagai sesuatu yang penting dipahami untuk mensukseskan sebuah organisasi dalam kondisi yang serba digerakkan oleh internet (Fry, 2020). Selanjutnya Tobroni mengungkapkan bahwa kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang membawa keduniawian ke dalam dimensi spiritual dan Tuhan adalah pemimpin sejati yang menginspirasi, mempengaruhi, dan menggerakkan hati nurani manusia (Tobroni, 2015). Teori kepemimpinan spiritual merupakan paradigma yang muncul untuk pengembangan organisasi dan transformasi yang menarik dari dua daerah tersebut (calling dan membership) dan memiliki potensi untuk memandu evolusi organisasi positif di mana kesejahteraan manusia dan kinerja organisasi tidak hanya dapat hidup berdampingan tetapi juga dapat dioptimalkan. Kepemimpinan spiritual berfokus pada nilai-nilai cinta altruistic yang dapat memperkuat rasa keanggotaan di organisasi. Dengan demikian dapat diartikan bahwa dalam konteks organisasi, kepempinan spiritual merupakan hubungan interaksi antara pemimpin dan bawahan dengan mengedepankan kerohanian yang mencakup keyakinan dan nilai-nilai yang lebih luas untuk mendapatkan makna yang lebih besar dalam organisasi, sehingga apa yang menjadi tujuan organisasi dapat tercapai secara bersamasama. Model awal kepemimpinan spiritual dikembangkan oleh Fry dalam kerangka motivasi intrinsic yang menyatukan kepemimpinan spiritual (vision, hope/faith, dan altruistic love) dan spiritual well-being (calling dan membership) (Putra, 2020). Tujuan kepemimpinan spiritual adalah untuk menciptakan visi dan nilai keselarasan seluruh strategi, memberdayakan tingkat individu dan tim yang selanjutnya mendorong ke tingkat yang lebih tinggi dari hasil individu dan organisasi (Putra, 2020). Kepemimpinan spiritual membutuhkan hal-hal berikut: a. Visi organisasi, di mana para pemimpin dan pengikut mengalami rasa keterpanggilan (calling) sehingga hidup mereka memiliki tujuan, makna dan membuat perbedaan. Visi mengacu kepada gambaran masa depan dengan penjelasan lebih lanjut tentang mengapa individu harus berusaha keras untuk menciptakan masa depan tersebut. Visi ini menggunakan tiga fungsi utama yang meliputi klarifikasi dari perubahan arah, menyederhanakan keputusan dan mengkoordinasikan tindakan orang-orang yang berbeda fungsi dalam memotivasi perubahan. Visi menentukan tujuan organisasi, mencerminkan ambisi yang tinggi, memberikan makna untuk bekerja dan mendorong harapan serta kepercayaan. b. Budaya organisasi, yaitu didasarkan pada nilai-nilai cinta altruistic sehingga pemimpin dan pengikut memiliki rasa keanggotaan (membership), memiliki, merasa dimengerti dan dihargai, dan memiliki pemeliharaan, kepedulian dan penghargaan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Cinta altruistic ini didasarkan pada nilai-nilai seperti kejujuran, kebaikan, ketiadaan iri hati, kemurahan, kesabaran, penerimaan, penghargaan, dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Cinta altruistic memiliki beberapa personal aoutcomes seperti komitmen organisasi yang tinggi, mengurangi tingkat stress dan produktivitas. c. Hope and faith Hope atau harapan didefinisikan sebagai keinginan dengan pemenuhan harapan. Faith atau keyakinan meningkatkan kemungkinan bahwa harapan dapat menjadi kenyataan. Faith didasarkan pada sikap, nilainilai, dan perilaku yang menunjukkan apa yang diharapkan akan terjadi. Harapan dan keyakinan akan memberi orang suatu gambaran dari mana mereka pergi dan bagaimana menuju ke sana, dan memberikan keyakinan kepada organisasi bahwa visi mereka dapat tercapai. d. Spiritual well-being, hal ini bermakna bahwa orang tidak hanya mencari kompetensi dalam pekerjaan mereka, tetapi juga perasaan tentang nilai sosial atau makna dari pekerjaan. e. Individual and organizational outcomes Setiap organisasi harus memiliki tujuan dan sasaran serta apa yang ingin dicapai. Pencapaian ini disebut hasil (outcome). Fry dan Nisiewicz menjelaskan bahwa hasil dapat dilihat dari individu dan organisasi penting seperti komitmen organisasional dan produktivitas, kinerja keuangan, kepuasan hidup karyawan, dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Method
Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan teknik yang digunakan untuk meneliti dalam memecahkan suatu masalah dengan cara penelahan terhadap buku-buku, literaturliteratur, catatan-catatan, dan laporan yang ada kaitannya dengan masalah yang dikaji dalam artikel ini. Menurut Sugiono penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian sesuai fakta-fakta yang ada terkini untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan cara penyelidikan bisa berupa penggambaran objek dan subjek dan bisa berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya (Sugiono, 2012). Adapun objek yang dikaji dalam artikel ini adalah kepemimpinan spiritual di perpustakaan dalam menghadapi era society 5.0.
Discussion
Penerapan Kepemimpinan Spiritual di Perpustakaan Kepemimpin merupakan satu faktor yang menentukan kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama (Wahab & Umiarso, 2014). Pemimpin di perpustakaan berperan strategis dalam mengoptimalkan pelayanan di perpustakaan. Kemampuan tersebut merupakan sebuah kompetensi manajerial yang dimiliki kepala perpustakaan dalam memimpin organisasinya. Untuk saat ini pemimpin dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapi society 5.0, yaitu era yang didominasi dengan berbagai pemanfaatan informasi digital dan teknologi dalam genggaman. Dalam konsep spiritual terdapat banyak manfaat yang dapat dijadikan sebagai sebuah solusi atas masalah yang terjadi di dalam internal perpustakaan. Hal positif yang dapat diambil dari penerapan konsep spiritual ini adalah adanya penekanan untuk menyertakan nilai-nilai moral ke dalam kehidupan berorganisasi. Di era society 5.0 dengan segala teknologinya ini banyak SDM yang melakukan tindakan berupa ketidakjujuran, ketidakdisiplinan serta kurangnya motivasi dalam bekerja. Untuk itu konsep spiritual yang mengedepankan niai-nilai moral menawarkan solusi atas problematika tersebut. Penerapan kepemimpinan spiritual dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan secara personal dan melakukan pembinaan kepada SDM di perpustakaan. Seperti yang diungkapkan oleh Tasmara bahwa seorang pemimpin harus mampu membuat bawahannya menerima, meyakini dan berperilaku sesuai dengan visi yang ditawarkan, terlebih dahulu pemimpinlah yang harus meyakini bahwa visi tersebut adalah benar dan merupakan solusi di masa depan(Tasmara, 2006). Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang melayai. Hal ini sejalan dengan peran perpustakaan sebagai lembaga yang memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat. Di samping kemajuankemajuan teknologi yang ada di perpustakaan, SDM juga harus memiliki kualitas unggul untuk mengantisipasi peran-peran manusia yang mulai tergantikan oleh kehadiran robot cerdas. Komputer, kecerdasan buatan, robotic bisa secara perlahan tanpa disadari akan semakin menggeser peran manusia dalam dunia perpustakaan. Hal inilah yang menjadikan pustakawan perlu memperhatikan dan mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut. Membangun dan mengembangkan profesionalisme merupakan salah satu strategi jitu yang bisa dilakukan pustakawan untuk dapat mempertahankan eksistensinya di era society 5.0 (Utomo, 2019). Adapun terdapat tiga kemampuan tertinggi yang harus dimiliki seseorang untuk menghadapi era society 5.0 yaitu kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas(Maryati, 2020). Pada era society 5.0 perpustakaan dituntut untuk menyeimbangkan ketersediaan pelayanan melalui sistem teknologi internet yang dilakukan oleh pustakawan beserta pengelola perpustakaan dalam penyediaan layanan informasi kepada pemustaka. Pelayanan perpustakaan era society 5.0 dituntut untuk lebih efektif dan efisien bagi pemustaka sehingga ketertarikan menggunakan fasilitas perpustakaan dapat terjaga (Wijonarko, 2020). Apabila hal tersebut dihubungkan dengan tipe kepemimpinan spiritual yang mencakup unsur visi, harapan/keyakinan, motivasi dan pemaknaan maka akan lebih mudah dalam menghadapi tantangan perpustakaan di masa kini.
Conclusion
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk menghadapi era society 5.0, SDM harus memiliki kualitas unggul untuk mengantisipasi peran-peran manusia yang mulai tergeser oleh kemajuan teknologi. Komputer, kecerdasan buatan, robotic bisa secara perlahan tanpa disadari akan semakin menggeser peran manusia dalam dunia perpustakaan. Hal inilah yang menjadikan perpustakaan perlu memperhatikan dan mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut. Membangun dan mengembangkan profesionalisme dengan pola kepemimpinan spiritual merupakan salah satu strategi jitu yang bisa dilakukan pemimpin perpustakaan untuk dapat mempertahankan eksistensinya di era society 5.0 agar tercipta keselarasan dengan memberdayakan individu untuk mencapai visi misi perpustakaan yang telah ditetapkan.