Kembali
16
1
2021 IJAL (Indonesian Journal of Academic Librarianship) Vol 5 · 1 ISSN 2597-9957

Libri cafe: Kolaborasi kafe dan perpustakaan sebagai sarana learning commons dalam upaya meningkatkan literasi informasi pemustaka (Studi Kasus Perpustakaan Universitas Syiah Kuala)

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Perkembangan zaman yang semakin pesat ini tentunya menjadi sutau tantangan bagi dunia perpustakaan mengingat pemustaka kini mulai meninggalkan perpustakaan yang menjadi sumber informasi dan beralih ke sistem informasi yang lebih canggih. Berdasarkan hal te rsebut, perpustakaan perlu melakukan gebrakan baru guna tetap menjaga eksistensinya dan menarik minat baca serta menguapayakan kemampuan literasi informasi pemustaka untuk terus berkembang. Artikel ini membahas mengenai Kerjasama ataupun kolaborasi yang ya ng dilakukan oleh perpustakaan dan kafe dalam meningkatkan literasi dan juga keinginan untuk mengunjungi perpustakaan Universitas Syiah Kuala dan Coffe Cho. Dengan adanya artikel ini diharapkan untuk dapat menjadi inspirasi bagi pembaca untuk dapat menuangkan ide yang berupaya untuk menjaga eksistensi perpustakaan dan juga untuk mearik minat baca serta meningkatkan literasi masyarakat.

Abstract

The rapid development of this era is certainly a challenge for the world of libraries considering that the library is now starting to leave the library that becomes a source of information and switch to more sophisticated information systems. Based on this, the library needs to make a new breakthrough to maintain its existence and attract reading interest and evaporate the ab ility of information literacy to continue to grow. This article discusses the cooperation or collaboration carried out by libraries and cafes in improving literacy and also the desire to visit the libraries of Syiah Kuala University and Coffe Cho. With this article is expected to be an inspiration for readers to be able to pour ideas that seek to maintain the existence of libraries and also to attract reading interests and improve public literacy.
Keywords: Libri Café · Collaboration · Learning Common · Library

Introduction

Perkembangan arus globalisasi yang terus berkembang saat ini memberikan dampak yang besar tentunya juga dirasakan oleh perpustakaan sebagai lembaga yang berfungsi sebagai penyedia informasi dan meningkatkan minat baca perlu melakukan inovasi baru dengan fasilitas yang ada di perpustakaan untuk menarik minat baca masyarakat. sarana dan prasarana perpustakaan merupakan alat ataupun perabotan yang disediakan di perpustakaan yang semuanya itu memilki fungsi sebagai fasilitas yang berguna untuk memudahkan pemustaka untuk memanfaatkan koleksi yang tersedia di perpustakaan (yusuf and Suhendra, 2007). Berdasarkan hal tersebut, hadir pula suatu konsep baru yaitu learning commons yang dapat membatu dalam proses pengelolaan dan juga menyediakan fasilitas di perpustakaan. Learning commons dapat diartikan sebagai pemanfaatan ruang yang kosong di perpustakaan sebagai tempat yang dapat digunakan untuk belajar, dimana tuangan ini juga dilengkapi dengan peralatan ataupun fasilitas yang mendukung kemajuan perpustakaan dengan diringi dengan kemajuan teknologi yang ada dan juga fasilitas ini berada didalam gedung yang sama sehingga mudah di akses dan juga dapat mendukung proses belajar di perpustakaan. Salah satu konsep learning commons yang dapat membatu proses pembelajaran dan juga meningkatkan rasa keinginan untuk berkunjung bagi pemustaka di perpustakaan ialah dengan menyediakan fasiliats yang berupa kafe ataupun warung kopi di dalam gedung perpustakaan. Dengan adanay fasilitas jafe di perpustakaan tentunya akan menghadirkan kesan keren dan eksis di lingkungan masyarakat. selain untuk menciptakan citra yang bagus untuk perpustakaan, dengan adanya konsep ini tentunya akan membantu masyarakat ataupun pemustaka untuk mendapatkan komposisi yang setara antara edukasi dan juga rekreasi/hiburan. Perpustakaan yang menerapkan konsep ini adalah perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Dan kafe ini diberi nama dengan istilah Libri Café. Perpustakaan kafe (Libry Café) dapat menjadi terobosan baru untuk meningkatkan minat kunjung dan minat baca masyarakat dengan memanfaatkan ruangan yang ada diperpustakaan. Adapun tujuan dari adanya kolaborasi antara perpustakaan dan kafe ini yaitu memberikan citra baru perpustakaan yaitu dengan memciptakan ruangan yang nyaman, menyenangkan tempat yang nyaman, kekinian dan juga trendy, sehingga dapat memunculkan rasa keinginan masyarakat untuk berkunjng ke perpustakaan. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan perpustakaan yang berupaya untuk mengoptimalkan tugas dan juga fungsi dari perpustakaan, meningkatkan minat kunjung dan juga minat baca serta meningkatkan literasi informasi masyarakat serta sebagai sarana untuk berinteraksi masyarakat antara satu dengan lainnya. Kajian pustaka Adapun beberapa penelitian tentang perancangan sistem informasi sebagai kajian pustaka pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Penelitian pertama dilakukan oleh Fahrur Razi yang berjudul “respon pemustaka terhadap libri cafe sebagai sarana learning commons di UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala”. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu metode kualitatif. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Pemustaka sangat senang dan mendukung adanya fasilitas kafe ini di UPT. Perpustakaan Universitas Malikussaleh. (2). Pemustaka memberkan pernyataan bahwa fasilitas kafe merupakan sarana yang sangat mendukung dan juga meningkatkan untuk minat mereka untuk berkunjung dan sesuai untuk kegiatan pembelajaran di UPT.Perpustakaan Unsyiah. (3) Pemustaka juga menyatakan bahwa mereka sangat tertarik untuk terus mengunjungi perpustakaan karena adanya rasa nyaman seingga betah berlama-lama di perpustakan. 2. Penelitian kedua dilakukan oleh Suci Rhomana Sari yang berjudul “penerapan learning commons di perpustakaan Al-Ma’ashir SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta”. Metode yang digunakan dalam penelitian Adapun hasil dari penelitian tersebut yaitu perpustakaan Al-Ma’ashir telah menerapkan konsep learning commons, hal ini dapat di lihat dari perpustakaan yang telah menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan learning commons itu sendiri. kegiatan perpustakaan memiliki peran penting dalam menerapan konsep learning commons ini sebagai mana yang kita ketahui perpustakaan merupakan jantungnya sekolah. Oleh karena itu peran perpustakaan dapat dilihat dari penyediaan layanan yang menggunakan konsep learning commons dan meningkatkan fasilitas yang mendukung aktivitas learning commons. Aktivitas ataupun kegiatan yang merupakan karakteristik dari learning commons yaitu memaanfaatkan ruangan diperpustakaan sebagai tempat untuk mencari informasi baik itu berdiskusi, browsing, menonton televisi, mengeprint bahan pembelajaran dan lain-lain. Dari beberapa peneletian di atas, dapat disimpulkan bahawa persamaan dengan penulis yaitu adalah dalam subjek yang dikaji yaitu membahas topik tentang learning commons. Dan yang enjadi perbedaan yaitu pada penelitian membahas tentang respon pemustaka terhadap libri cafe sebagai sarana learning commons di UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, sedangkan penulis membahas mengenai latar belakang adanya Libri Cafe sebagai Sarana Learning commons dalam upaya meningkatkan literasi informasi pemustaka di. UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Sedangakn perbedaan antara penelitian kedua dengan yang penulis lakukan yaitu pada konsep learning commons nya itu sendiri, jika pada penelitian sebelumnya penerapan learnig commons itu terletak pada fasilitas ruangan perpustakaan itu sendiri, sedangkan pada penelitian yang pemulis laukan penerapan konsep learning commons ini terletak pada munculnya fasilitas baru yang berupa warung kopi atau libri cafe. Kerangka teori Kolaborasi Pada dasarnya, kolaborasi dapat dipahami sebagai proses antara dua oranng atau lebih yang bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas untuk mencapai sutau tujuan tertentu. Kolaborasi ini memainkan peran sosial yang penting dalam keberhasilan sutau organisasi lantaran tujuan yang akan cepat dicapai. Kolaborasi bisa juga dapat didefenisikan sebagai proses pencapain tujuan dan tujuan ini dapat dicapai dengan cara seperti: 1. Membangun dan mengembangkan serta membagi tanggung jawab untuk mencapai tujuan. 2. Menggunakan semua sumber daya termasuk keahlian dan juga pengalaman maing-masing mitra untuk bekerjasama mencapai tujuan. Kerjasama berfokus pada pembagian risiko dan akuntabilitas masa depan untuk menghindari penyalahgunaan kekuasan oleh pihak yang berwenag. Ini akan meningkatkan kemungkinan mencapai suatu tujuan atau lebih. Lagi pula kendala terbesar yang dapat mengganggu proses kerja sama ataupun kolaborasi ada 3 hal yaitu waktu, kepercayaan dan tempat/jarak. Berbicara mengenai kerjasama ataupun kolaborasi, artikel ini memuat pokok bahasan mengenai kerja sama ataupun kolaborasi antara UPT perpustakaan Unsyiah dengan kafe Coffe Cho yang bertujuan untuk saling membantu dalam bentuk libri café sebagai sarana Learning Commons. Adapun tujuan dari adanya kolaborasi: 1. Membantu dalam memecahkan suatu kendala/masalah Seperti yang kita ketahui bahwa melalui Kerjasama, tentunya akan dapat dengan udah menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Misalnya Ketika kita telah kehabisan ide ataupun cara untuk melakukan suatu pekerjaan, maka kita dapat meminta bantuan kepada orang lain yang tentunya mempunyai perspektif tersendiri. Kita juga dapat melakukan brainstorming dengan tin kita maupun rekan kerja untuk mendapatkan pendapatnya. Singkat cerita dengan adanya kolaborasi ataupun Kerjasama ini kita dapat mengumpulkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, untuk mendapatkan solusi yang sedang kita hadapi. 2. Mendekatkan individu maupun kelompok dalam organisasi Dengan adanya kerja sama maka akan tercipta kekompakan yang terjadi karena adanya suatu interaksi yang dilakukan secara berkesinambungan antara satu orang dengan yang lainnya maupun antar kelompok/organisasi. 3. Sebagai pembelajaran antara satu satu orang dengan yang lainnya maupun antar kelompok/ organisasi Salah satu hal yang menarik yang kita dapatkan dari bekerja secara kolabotif yaitu kita mendapat ilmu baru dan juga pengalaman baru dari orang-orang yang memilki keahlian dan latar belakang yang berbeda-beda. Berkolaborasi dengan anggota tim ini tentunya harus di anggap sebagai pengalaman belajar dan kita diharuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk mnegembangkan diri dengan belajar dari oranng lain. 4. Mengarah kepada tingkat retensi yang tinggi Setelah adanya koneksi yang telah dibuat, hal ini tentunya akan memunculkan sikap rasa percaya kepada teman atau tim yang berada dalam jalinan rekan Kerjasama. Mengingat untuk memajukan dan mengembangkan organisasi maka harus dilakukan suatu kerjasama yang teratur dan terarah dengan begitu rasa kepercayaan akan terbangun dengan sendirinya. 5. Meningkatkan moral di seluruh organisasi Dengan adanya kolaborasi, ini menandakan bahwa organisasi itu merupakan organisasi yang terbuka, yang terhubung dan juga terlibat. Ini tentunya menarik bagi individu yang bekerja dalam organisasi tersebut baik yang sudah menjadi bagian sejak lama ataupun yang akan menjadi bagian tim diwaktu yang akan datang. Jika dibandingkan dengan organisasi yang tertutup dan tidak terbuka untuk ini tentunya akan mengurangi minat orang lain untuk menjadi bagian dari organisasi dan memutuskan untuk mencari organisasi atau ke tempat kerja yang lain. Libri cafe Libri Cafe merupakan kafe Perpustakaan Unsyiah yang menggunakan konsep Learning Commons. Kafe ini dikelola bersama oleh Perpustakaan Unsyiah dan Kafe Coffe Cho. Usulan pendirian kafe dimulai saat penanggung jawab UPT dimulai. Perpustakaan Unsyiah, Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom, dan M.Eng.Sc mengunjungi Inspirasi Kopi yang awalnya bernama Coffee Cho, dan menawarkan diri untuk bekerja di sebuah kafe di pojok Perpustakaan Unsyiah. Dibuka pada tahun 2016, kafe ini terletak di lobi perpustakaan dan menyajikan berbagai hidangan dalam interior yang menawan, termasuk minuman seperti kopi dan teh. Di sekitar kafe terdapat kafetaria perpustakaan yang menjual biskuit, roti, air mineral, dan alat tulis, di sebelahnya terdapat panggung mini untuk acara santai. Staf Libri Cafe adalah mahasiswa Unsyiah dari berbagai fakultas seperti Ekonomi, Teknik, MIPA, dan mahasiswa UIN Ar-Raniry. Perpustakaan Unsyiah buka dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam dan Libri Cafe buka sampai akhir tahun 2017, namun mulai awal tahun 2018 sampai sekarang Libri Cafe buka dari hari Senin sampai Jumat dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Adapun maksud dari Libri Cafe dalam artikel ini ialah fasilitas kafe perpustakaan Unsyiah, atas kerjasama perpustakaan dengan kafe Coffe Cho yang berfungsi sebagai fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran serta pula meningkatkan minat baca, serta jua literasi berita pemustaka. seperti kafe pada umumnya, Libri Cafe juga menyajikan aneka minuman bagi pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan dan bisa dimanfaatkan menjadi tempat beristirahat sejenak. Learning Commons Learning Commons dapat didefinisikan sebagai konsep pemanfaatan ruang perpustakaan sebagai tempat belajar, dengan sarana dan prasarana untuk mendukung kemajuan teknologi, dan pada lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri untuk mendukung proses pembelajaran (Beagle 2011). Learning Commons sering disebut sebagai tempat multifungsi bagi mahasiswa, baik informal maupun formal, untuk bertindak sebagai ruang dan tempat kerja yang fleksibel, netral, serta tempat untuk kolaborasi, pengembangan pengetahuan, dan inovasi. Secara umum, kami menyimpulkan bahwa konsep Learning Commons adalah untuk menyediakan layanan dan fasilitas yang memungkinkan pengguna untuk terlibat dalam berbagai kegiatan seperti belajar, bekerja, meneliti, mencari informasi, dan berinteraksi dengan semua orang di perpustakaan. dapat melampirkannya. Memiliki siswa dan siswa, guru dan siswa, serta pustakawan dan pustakawan dalam satu area/lokasi (Kumalawati, 2014). Konsep Learning Commons diterapkan di UPT. Dengan menyediakan kafe perpustakaan, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Kafe perpustakaan yang diberi nama Libri Cafe ini bertujuan untuk menjadi fasilitas pendukung yang memberikan kesan nyaman dan santai bagi pengguna saat berada di perpustakaan. Tujuan Learning Commons yang diterapkan di perpustakaan akademik memiliki beberapa tujuan, yaitu: 1. Menarik minat kunjung pemustaka ke perpustakaan untuk melakukan berbagai hal dalam proses belajar, bekerja dan melakukan aktivitas lainnya di perpustakaan 2. Adanya pembelajaran yang bersifat kolaboratif 3. Memprediksi lingkungan siswa dan metode pembelajaran 4. Menciptakan suasana yang terbuka di perpustakaan. Ada banyak hal yang mempengaruhi munculnya ide learning commons diantaranya (Kumalawati, 2014); 1. Pemustaka cenderung menolak untuk berkunjung ke perpustakaan. Pengguna cenderung menolak akses ke perpustakaan. Komunitas ilmiah percaya bahwa komunitas ilmiah tidak lagi harus pergi ke perpustakaan karena semua titik akses ke informasi dan koleksi digital (e-journal, e-book, sumber daya) dapat diakses langsung kapan saja, di mana saja melalui perangkat elektronik / seluler. 2. Sedikit gambaran perpustakaan dan pustakawan tentang keberadaan koleksi digital. Ketika perpustakaan mulai mengembangkan koleksi digital dengan membuat koleksi sebanyak mungkin tersedia untuk dibeli dalam format digital, koleksi cetak tidak mendapat banyak perhatian dan hanya koleksi lama yang tampaknya tersedia. 3. Perubahan pola pembelajaran bagi pengguna akademik di era digital. Pengguna saat ini memasuki generasi digital, dan kehidupan mereka sangat dekat dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka biasanya belajar dengan mendengarkan musik, menikmati jajanan, dan mengakses internet. Misalnya, membalas email, mengobrol online, atau bergabung dengan media sosial. Menyikapi pola pembelajaran ini, perpustakaan perlu menyediakan ruang yang fleksibel dan nyaman. Karena perpustakaan terus bersikeras pada konsep perpustakaan tradisional, pengguna juga ragu untuk tinggal di perpustakaan lebih lama. Mengingat faktor-faktor ini, jelas bahwa perpustakaan perlu mengembangkan dan mengubah konsep manajemen perpustakaan. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk menerapkan konsep learning commons pada perpustakaan perguruan tinggi: 1. User-Centered Perpustakaan yang berpusat pada pengguna dianggap berhasil jika berorientasi pada kebutuhan pengguna dan bukan hanya pada penyediaan teknologi. Mengenali dan memahami apa yang dibutuhkan pengunjung dan apa yang sering mereka gunakan adalah hal yang penting untuk diketahui oleh perpustakaan. Misalnya, perpustakaan dapat menggunakan sudut perpustakaan untuk menyimpan perlengkapan kantor seperti pulpen, pensil, gunting, penggaris, dan aksesoris lain yang dapat digunakan pengunjung. Dengan cara yang sederhana ini, perpustakaan akan dapat sedikit memahami dan memenuhi kebutuhan pengguna selama berada di perpustakaan. 2. Fleksibel Pembuatan perpustakaan yang fleksibel, tidak kaku, dan mudah beradaptasi. Kebijakan dan aturan yang berlaku di perpustakaan diharapkan dapat disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi kebutuhan pengguna. Seperti yang kita ketahui bahwa generasi digital adalah generasi yang tidak menyukai aturan yang kaku. Generasi ini tidak akan merasa nyaman jika berada di ruangan yang memiliki banyak batasan, ruangan yang tidak bisa ramai, tidak bisa membawa makanan, tidak bisa memakai topi. Generasi ini membutuhkan penjelasan yang masuk akal tentang pembatasan yang diberlakukan. 3. Information Desk Menyediakan layanan dukungan teknis atau layanan informasi yang dapat membantu pengguna menemukan informasi yang mereka butuhkan. Layanan ini sangat penting bagi perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Tidak semua pengguna tahu apa yang harus dilakukan di perpustakaan, sehingga meja informasi harus ditempatkan di ruangan khusus yang dapat menjadi one stop shop informasi bagi semua pengguna. Layanan ini akan sangat berguna jika ditempatkan di lokasi pintu masuk perpustakaan. 4. Keterbukaan Menghilangkan hambatan antara pengguna dan pustakawan, menciptakan keterbukaan antara pengguna dan pustakawan agar tercipta interaksi yang baik dan memberikan kemudahan bagi pengguna. Cobalah untuk menyapa atau setidaknya melakukan sedikit percakapan dengan pengguna. Metode ini harus menciptakan suasana terbuka antara klien dan perpustakaan sehingga tidak terkesan kaku. 5. Asas Kepercayaan Percayai pengguna yang datang ke perpustakaan sehingga mereka juga memercayai perpustakaan sebagai tempat penedia informasi yang mereka butuhkan. Misalnya, kepercayaan pada akses informasi. Adanya pembatasan akses terhadap koleksi seperti koleksi karya ilmiah tentunya akan menimbulkan kecurigaan kepada pengguna dan tentunya mereka akan merasa tidak dipercyaa. 6. Publikasi Memanfaatkan setiap kesempatan untuk mempublikasikan tentang perpustakaan untuk mendekatkan perpustakaan kepada penggunanya, misalnya dengan membuat buletin perpustakaan yang berisi informasi tentang kegiatan perpustakaan, koleksi baru, layanan dan fasilitas, atau mungkin artikel/tulisan pendek oleh pustakawan . dan juga dapat memberi pengguna kesempatan untuk berkontribusi pada penyelesaian buletin perpustakaan. 7. Menghapus hambatan (remove barriers) Menurut Harland, tiga hambatan perlu dihilangkan, yaitu hambatan fisik, emosional, dan virtual. Hambatan fisik seperti ruang perpustakaan yang tidak nyaman bagi pemustaka, bahan pustaka tidak terawat, kepemilikan perpustakaan tidak mencukupi. Hambatan emosional seperti sikap dan perilaku pustakawan yang acuh tak acuh atau tidak menyenangkan terhadap pengguna, hambatan virtual seperti situs web layanan yang dilindungi (dengan password), lambatnya akses ke jaringan. Upaya harus dilakukan untuk menghilangkan hambatan tersebut. Mematahkan batas antara pustakawan dan pustakawan bisa jadi sulit, karena pustakawan umumnya sangat tertutup dan membatasi akses ke pustakawan di perpustakaan. Melalui konsep Learning Commons, Harland menekankan bahwa pengguna sering merasa tidak nyaman ketika melihat seorang pustakawan melakukan pekerjaan serius dan duduk di belakang monitornya seolah-olah tidak ada yang mengganggunya. Karena itu, pustakawan merasa nyaman saat berada di perpustakaan. Literasi Informasi Literasi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu literasi, dimana kata literasi berasal dari bahasa latin yang berarti literasi atau huruf, dalam hal ini sering diartikan sebagai literasi. Secara harfiah, literasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Umumnya, orang yang bisa membaca dan menulis disebut buta huruf dan orang yang tidak bisa membaca dan menulis disebut buta huruf. Menurut Kern, literasi adalah literasi (kemampuan membaca dan menulis) (Kern 2000). Selanjutnya, literasi juga memiliki arti yang sama dengan belajar dan memahami sumber bacaan. Selain itu, Kern menjelaskan bahwa literasi adalah situasi sosial, sejarah dan budaya untuk menciptakan dan menafsirkan makna melalui teks (Kem, 2000). Literasi membutuhkan setidaknya kepekaan yang nyata terhadap konteks antara konvensi tekstual dan penggunaannya. Idealnya, hubungan ini harus direfleksikan secara kritis. Peka terhadap maksud/tujuan, literasi bersifat dinamis, tidak statis, dan dapat bervariasi antar komunitas dan budaya maupun antar budaya. (Kern 2000) Literasi membutuhkan berbagai keterampilan kognitif, pengetahuan tentang bahasa lisan dan tulisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan tentang budaya. (Kern 2000). Seperti yang dikatakan Ramdhoni (2013), literasi merupakan peristiwa sosial yang membutuhkan keterampilan tertentu yang diperlukan untuk menyampaikan dan menerima informasi secara tertulis. Berdasarkan pendapat sebelumnya, pada dasarnya dapat dijelaskan bahwa literasi adalah aktivitas sosial dengan kemampuan menciptakan dan menjelaskan makna melalui teks. Literasi membutuhkan berbagai keterampilan untuk mengirimkan dan menerima informasi secara tertulis. Literasi sudah mulai digunakan secara lebih luas, namun tetap mengacu pada literasi atau keterampilan dasar yaitu membaca dan menulis. Pada dasarnya yang terpenting dari kata literasi adalah terbebas dari buta huruf untuk memahami semua konsep secara fungsional, dan cara untuk memperoleh keterampilan literasi adalah melalui pendidikan. Clay menjelaskan literasi terdiri dari literasi awal, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, literasi visual. Komponen-komponen literasi menurut penjelasan Clay adalah sebagai berikut: (Clay 2001) 1. Literasi dini (Early Literacy) Pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial menentukan kemampuan mereka untuk mendengar bahasa lisan dan berkomunikasi dengan gambar melalui bahasa lisan. Pengalaman seseorang berkomunikasi dalam bahasa ibunya menjadi dasar bagi pengembangan kemampuan literasi dasar. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa literasi dini dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan berbahasa, dan literasi dapat memudahkan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa dan gambar yang ada di lingkungannya. 2. Literasi Dasar (Basic Literacy) Mampu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan berhitung. Di antara keterampilan literasi dasar, kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis dan berhitung berkaitan dengan kemampuan mempertimbangkan, memahami informasi, mengkomunikasikan dan mendeskripsikan informasi berdasarkan pemahaman dan menarik kesimpulan. 3. Literasi Perpustakan (Library Literacy) Perpustakaan harus lebih maju, menarik dan memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu; Tambahkan fasilitas, materi pembelajaran, dan layanan. Komunitas literasi merupakan dukungan yang efektif bagi pengembangan budaya belajar. Perpustakaan yang baik harus mampu berperan sebagai pusat pembelajaran, bahkan sebagai mesin perubahan sosial. 4. Literasi Media (Media Literacy) Memiliki kemampuan untuk memahami berbagai media (seperti cetak, elektronik, digital) dan memahami tujuan penggunaan teknologi. Literasi media memungkinkan masyarakat untuk secara aktif mencari informasi yang tepat berdasarkan bahan referensi yang ada untuk meningkatkan tingkat pengetahuannya sehingga informasi yang diperoleh dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. 5. Literasi Visual (Visual Literacy) Dengan pengetahuan media dan kompetensi teknis yang tinggi, mereka menggunakan materi audiovisual secara kritis dan bermartabat. Penafsiran materi gambar yang membanjiri media cetak di televisi dan internet setiap hari harus dikelola dengan baik. Namun, Anda harus memeriksa banyak manipulasi dan hiburan berdasarkan etika dan nilai kesesuaiannya. 6. Literasi Teknologi (Technology Literacy) Memahami kemampuan mengikuti integritas teknis perangkat keras, perangkat lunak, dan etika dalam penggunaan teknologi. Selanjutnya, kita belajar tentang teknologi percetakan, presentasi dan akses Internet. Dalam praktiknya, kita juga memahami keterampilan komputer, termasuk menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Berdasarkan definisi tersebut, pendidikan teknik dapat dijelaskan sebagai jenis keterampilan yang terdiri dari ilmu pengetahuan, berpikir kritis, dan pengambilan keputusan yang bertujuan untuk menggunakan teknologi/inovasi manusia secara efektif, khususnya di bidang pendidikan.

Method

Pada sebuah penelitian ilmiah, metode penelitian memegang peranan penting dalam menentukan tercapai atau tidaknya tujuan dari suatu penelitian. Metode penelitian merupakan jalan atau cara yang dipakai oleh peneliti dalam memperoleh atau mengumpulkan data penelitian, sehingga tujuan dan hasil dari suatu penelitian dapat tercapai seperti yang diharapkan (Sugoyono, 2013). Metode penelitian pada artikel ini menggunakan kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian (Moleong, 2007). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha menggambarkan atau memotret suatu gejala, peristiwa, dan kejadian yang menjadi pusat perhatian di lapangan secara langsung tanpa ada pemberian perlakukan istimewa terhadap peristiwa tersebut (Noor, 2011). Peneliti berupaya menjelaskan, menganalisis, dan menginterpretasikan data-data yang tidak tersusun yang telah diperoleh dari lapangan, kemudian menatanya menjadi suatu representasi yang kompleks dan holistik. Data tersebut dapat diperolah melalui beberapa metode yaitu observasi, wawancara dan studi Pustaka. Peneliti melakukan observasi di UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala untuk melihat fasilitas libri cafe sebagai sarana learning commons. Wawancara dilakukan pada pustakawan yang bertugas dan karyawan yang bertugas mengelola kafe untuk mengetahui latar belakang adanya fasilitas kafe di dalam gedung perpustakaan.

Result & Discussion

Kolaborassi antara Kafe dan Perpustakaan dalam menciptakan Libri Café sebagai sarana learning commons Perpustakaan Universitas Syiah Kuala didirikan pada tahun 1970, pada saat itu masih menggunakan gedung Fakultas Ekonomi. Perpustakaan berstatus sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT) pada tahun 1980. Pada tahun 1994 gedung perpustakaan memiliki gedung sendiri. Sejak April 1994, dengan Surat Keputusan Rektor No. 060 tahun 1994, pendayagunaan UPT Perpustakaan Unsyiah ditingkatkan, yaitu dengan menggabungkan seluruh perpustakaan yang ada di lingkungan Unsyiah di dalam satu wadah UPT Perpustakaan. Sejak tahun 1970 sampai dengan sekarang perpustakaan telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan. Sebagai pusat sumber informasi, dan untuk menjalankan fungsinya dengan baik maka perpustakaan menyediakan fasilitas yang memadai guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan pemustaka. Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi maka UPT perpustakaan Unsyiah membuat trobosan baru berupaya menjaga eksistensi perpustakaan dan menumbuhkan minat kunjung pemustaka. Dalam menciptakan inovasi baru UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala menyediakan fasilitas kafe (warung kopi) yang bernama Libri Cafe. Kafe yang berada di lantai 1 Perpustakaan Unsyiah tersebut diresmikan oleh Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng pada Grand Opening Libri Cafe di UPT. Perpustakaan Unsyiah Rabu, 2 November 2016. Usulan diadakannya fasilitas kafe bermula saat Kepala UPT. Perpustakaan Unsyiah, Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom, M.Eng.Sc mengunjungi Inspirasi Kopi yang pada awalnya dikenal sebagai Coffee Cho dan kemudian menawarkan kerjasama mengadakan kafe corner di Perpustakaan Unsyiah. Libri Cafe merupakan kafe Perpustakaan Unsyiah yang menggunakan konsep Learning Commons. Kafe ini dikelola bersama oleh Perpustakaan Unsyiah dan Kafe Coffe Cho. Usulan pendirian kafe dimulai saat penanggung jawab UPT dimulai. Perpustakaan Unsyiah, Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom, dan M.Eng.Sc mengunjungi Inspirasi Kopi yang awalnya bernama Coffee Cho, dan menawarkan diri untuk bekerja di sebuah kafe di pojok Perpustakaan Unsyiah. Dibuka pada tahun 2016, kafe ini terletak di lobi perpustakaan dan menyajikan berbagai hidangan dalam interior yang menawan, termasuk minuman seperti kopi dan teh. Di sekitar kafe terdapat kafetaria perpustakaan yang menjual biskuit, roti, air mineral, dan alat tulis, di sebelahnya terdapat panggung mini untuk acara santai. Staf Libri Cafe adalah mahasiswa Unsyiah dari berbagai fakultas seperti Ekonomi, Teknik, MIPA, dan mahasiswa UIN Ar-Raniry. Perpustakaan Unsyiah buka dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam dan Libri Cafe buka sampai akhir tahun 2017, namun mulai awal tahun 2018 sampai sekarang Libri Cafe buka dari hari Senin sampai Jumat dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Seperti yang kita ketahui, libri cafe merupakan hasil kolaborasi yang menggunakan konsep learning commons yang diterapkan di perpustakaan akademik, yang tentunya memiliki beberapa tujuan yaitu membangkitkan minat pengguna untuk belajar, bekerja dan aktivitas lainnya di perpustakaan. Libri Cafe juga menawarkan layanan koneksi internet yang terintegrasi dengan WiFi perpustakaan yang dapat diakses oleh pengguna di Libri Cafe dan perpustakaan. Dengan dikembangkannya perpustakaan kafetaria ini, dimaksudkan agar perpustakaan menjadi tempat dimana orang bisa bertemu, bertukar pikiran dan berdiskusi di sebuah kafe, dan dengan menambahkan konsep kafe ini, citra perpustakaan yang terkesan serius bisa menjadi tenang. turun. dan membosankan di tempat yang menyenangkan. Kelemahan dalam pengembangan Libri Cafe Pengembangan perpustakaan kafe ini juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya: 1. Dengan adanya libri cafe ini menyebabkan koleksi perpustakaan rentan mengalami kerusakan akibat noda makanan/minuman, 2. Pihak perpustakaan harus menambah tenaga lain selaian pustakawan untuk dapat melayani pemustaka yang datang untuk memesan makanan ataupun minuman 3. Membutuhkan dana yang lumayan besar untuk mengadakan fasilitas dan juga desain perpustakaan

Conclusion

Dalam mengembangkan perpustakaan, maka pustakawan perlu melakukan inovasi baru melalui kerjasama dengan perpustakaan lain maupun pihak lain yang dapat membantu perpustakaan dalam menjalankan fungsi dan perannya serta meningkatkan minat baca pemustaka. Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan kerjasama antara perpustakaan dengan kafe, seperti yang kita lihat sekarang mahasiswa lebih sering mengunjungi kafe dari pada perpustakaan dengan alasan merasa lebih santai saat mencari informasi. Berdasarkan hal tersebut, maka UPT perpustakaan Unsyiah melakukan kerjasama dengan Coffe Cho untuk membuat libri cafe. Libri cafe ini merupakan sarana Learning commont di perpustakaan, yaitu ruangan yang dapat digunakan dengan formal maupun informal oleh mahasiswa yang berkunjung keperpustakaan. Banyak hal yang menjadi kelemahan saat mengembangakan Libri cafe dan dengan kelemahan tersebut maka kerjasama antara perpustakaan dan juga café harus lebih ditingkatkan lagi dalam mempromosikan sehingga banyak yang berkunjung, mengadakan sosialisasi mengenai kebersihan perpustakaan sehingga pemustaka juga turut membantu menjaga kebersihan dan mengatisipasi kerusakan koleksi.