Penyiangan bahan pustaka di Perpustakaan Cinta Baca Palembang
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Artikel ini berfokus pada penyiangan koleksi di Perpustakaan Cinta Baca Palembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui cara penyiangan bahan pustaka di Perpustakaan Cinta Baca Palembang; Kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Cinta Baca Pal embang dalam melakukan penyiangan bahan pustaka. Kegiatan Penyiangan merupakan penyeleksian bahan pustaka karena beberapa faktor seperti kerusakan atau buku kurang diminati. Hasil yang didapat bahwa kegiatan penyiangan bahan pustaka Perpustakaan Cinta Baca Palembang sebagai berikut: Penyeleksian bahan pustaka berdasarkan kerusakan dan sudah 10 tahun di perpustakaan; Menghapus entri data di SliMS dan mencatat barcodenya; Bahan pustaka dijual untuk mendapatkan bahan pustaka baru. Dapat disimpulkan bahwa : Pertama, proses penyiangan bahan pustaka di Perpusakaan Cinta Baca Palembang belum efektif dan kegiatan tersebut masih sebatas pemisahan koleksi atau bahan pustaka. Kedua, kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Cinta Baca Palembang dalam melakukan penyiangan bahan pustaka adalah tidak adanya pedoman tertulis untuk melakukan penyiangan dari Pusat yaitu Perpustakaan Cinta Baca Bogor.
Abstract
This article focuses on weeding the collection at the Cinta Baca Library in Palembang. The purpose of this study was to find out how to weed library materials at the Cinta Baca Library of Palembang; Obstacles faced by the Palembang Reading Love Library in weeding library materials. Weeding is a selection of library materials due to several factors, such as damage or books that are not in demand. The results showed that the activities for weeding library materials at the Cinta Baca Library in Palembang were as follows: Selection of library materials based on d amage and had been in the library for 10 years; Delete data entry in SlimS and log the Barcode; Library materials are sold to obtain new library materials. It can be concluded that: First, the process of weeding library materials at the Palembang Cinta Bac a Library has not been effective and the activity is limited to the separation of collections or library materials. Second, the obstacle faced by the Palembang Baca Baca Library in weeding library materials is the absence of written guidelines for weeding from the Center, namely the Bogor Baca Baca Library.
Keywords:
Weeding
· Library Material
· Cinta Baca Library
Introduction
Perpustakaan mengkhususkan diri pada kumpulan karya tulis, cetakan, dan/ atau rekaman dengan menggunakan sistem standar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi pengguna (Undang-undang no. 43, 2007). Perpustakaan adalah organisasi yang mengelola sistem, perpustakaan adalah ruangan di bagian suatu bangunan atau di dalam bangunan itu sendiri, tempat disimpannya buku-buku dan terbitan-terbitan lain menurut susunan tertentu untuk digunakan oleh pembaca dan tidak untuk diperjualbelikan (Sulistyo_Basuki, 2015). Perpustakaan menyatakan bahwa itu adalah sistem informasi dimana kegiatan pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, penyajian, dan distribusi informasi berlangsung (Lasa_HS, 2005). Penjelasan diatas mengenai perpustakaan bahwa dititikberatkan pada sistem, koleksi sebagai sumber informasi yang dimana dibutuhkan tempat untuk menyusun atau mengolah koleksi yang disebut dengan gedung serta untuk pelestarian koleksi mencegah kerusakan koleksi yang lebih buruk. Dalam hal ini, perpustakaan membutuhkan gedung sebagai tempat, buku sebagai koleksi, sumber daya manusia sebagai pengolah perpustakaan, dan lain-lain. Selain itu juga, memahami kebutuhan dari pemustaka/ pengguna. Pemustaka merupakan pengguna perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan harus ditata sebaik mungkin, dan memisahkan koleksi yang keterpakaiannya kurang agar memaksimalkan tempat/ rak yang ada. Setiap kegiatan pengembangan/ pengelolaan koleksi harus dimiliki kebijakan pengumpulan untuk memandu apa yang dilakukan. Kebijakan pengumpulan memiliki dua tujuan: pertama, menyatakan apa yang dikumpulkan dan apa yang dipertahankan, kriteria apa yang digunakan dalam pengumpulan, dan bagaimana bahan dibuang; dan kedua, mungkin lebih penting, itu melindungi pustakawan di saatsaat sulit (Handis, 2007). Bahan Pustaka adalah media informasi rekam baik tercetak maupun non cetak yang merupakan komponen utama di setiap informasi, baik di perpustakaan ataupun unit informasi lainnya (Yuyu Yulia, 2010, p. 1.4). Kebijakan koleksi mempermudah dalam pengembangan bahan pustaka, agar koleksi bisa dioptimalkan dalam penggunaannya. Seperti halnya pengembangan koleksi penyiangan. Penyiangan merupakan mengeluarkan koleksi menurut susunan rak lantaran kurang diminati dan terlalu banyak eksemplarnya, sudah diterbitkan kembali maupun koleksi itu tidak relevan. Koleksi yang dipamerkan ini bisa ditransfer ke perpustakaan lain atau dihancurkan buat keperluan kertas. Kegiatan penyiangan bisa dilakukan agar stok usang tidak menumpuk pada perpustakaan dan ruang yang sebelumnya digunakan untuk stok baru. Oleh karena itu, kepemilikan perpustakaan selalu efisien dan diminati pengguna (Betrianti, 2015). Kegiatan perpustakaan yang bertujuan untuk penyisihan bahan pustaka yang masih ada pada koleksi perpustakaan yang lantaran koleksi tadi rusak, jarang digunakan, dan sudah tidak digunakan lagi, serta lantaran faktor hukum atau peraturan. Penyiangan merupakan upaya pengeluaran sejumlah koleksi menurut perpustakaan lantaran dianggap tidak relevan lagi, terlalu banyak jumlah eksemplarnya, sudah ada edisi baru, atau koleksi itu termasuk terbitan yang dilarang. Koleksi ini dapat ditukarkan dengan koleksi perpustakaan lain, dihadiahkan atau dihancurkan untuk pembuatan kertas lagi (Lasa_HS, 2005). Tolak ukur penyiangan bahan pustaka dapat dilihat sebagai berikut : 1) Kondisi fisik bahan pustaka; 2) Isi bahan pustaka; 3) Penggunaan; 4) Duplikasi; dan, 5) Dapat dipinjam dari perpustakaan lain (Fitrianto, 2018). Kegiatan penyiangan ini bertujuan untuk meningkatkan kegunaan perpustakaan di perpustakaan. Hal ini juga bagus dilakukan untuk peremajaan koleksi yang ada, jadi koleksi terus diperbarui. Perpustakaan Cinta Baca Palembang berupaya memberikan pelayanan yang terbaik untuk pemustaka. Salah satu meninjau ulang koleksi yang ada di perpustakaan, mengecek keterpakaiannya dan tahun buku tersebut. Perpustakaan Cinta Baca Palembang selalu memeriksa terlebih dahulu judul buku yang tidak mengandung unsur SARA, pornografi, terorisme dan lain sebagainya. Bahan pustaka tidak semuanya dibaca oleh pemustaka, dari segi rak juga terbatas. Maka kegiatan penyiangan ini bisa jadi solusi baik bagi perpustakaan untuk diterapkan. Meninjau ulang keterpakaian dan tahun bahan pustaka yang sudah usang.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara. Kajian kualitatif bertujuan untuk mengkaji suatu objek dan memperoleh gambaran tentang objek tersebut yang tidak terlepas dari konteks objek ilmiah tersebut. Penelitian Penelitian kualitatif menggunakan jenis dan sumber data primer. Pertama, data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber data, dalam hal ini data diperoleh dari observasi dan wawancara dengan informan peneliti terkait dengan kegiatan pengelolaan weeding di perpustakaan Cinta Baca Palembang. Dalam penelitian ini, data utama adalah hasil wawancara dengan petugas perpustakaan Cinta Baca Palembang, saat melakukan observasi lapangan dengan mengamati lokasi, pelaku, dan kegiatan yang dilakukan. Kedua, data sekunder yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah dari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pengelolaan weeding di Perpustakaan Cinta baca Palembang. Lokasi penelitian ini berada di Perpustakaan Cinta Baca Palembang. Alamat Jl. KH Wahid Hasyim, 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan Kode Pos 30254.
Discussion
Perpustakaan Cinta Baca Palembang cabang dari perpustakaan Cinta Baca Bogor. Perpustakaan Cinta Baca Palembang merupakan perpustakaan umum yang bisa dikunjungi dari berbagai kalangan masyarakat. Kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Cinta Baca sangat beragam dari peminjam dan pengembalian koleksi ataupun kegiatan bercerita. Adapun kegiatan pengembangan koleksi yang dilakukan oleh perpustakaan Cinta Baca Palembang, salah satunya penyiangan (weeding). Penyiang (weeding) ialah salah satu kegiatan atau tugas yang dilakukan oleh perpustakaan untuk menarik koleksi yang keterpakaiannya kurang. Kegiatan Penyiang (weeding) di perpustakaan Cinta Baca Palembang dari cara penyiangan dan kendala yang dihadapi. Perpustakaan Cinta Baca Palembang Sejarah Singkat Perpustakaan Cinta Baca Palembang Perpustakaan umum adalah “sebagai sarana belajar sepanjang hayat, tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, ras, atau agama”. Perpustakaan untuk masyarakat luas. Perpustakaan adalah kumpulan bahan pustaka tercetak dan rekaman, dipelihara secara teratur dan sistematis, serta berfungsi sebagai sumber informasi ilmiah, teknis, dan budaya (Undang-undang no. 43, 2007). Perpustakaan untuk penelitian ini adalah perpustakaan Cinta Baca, Cinta Baca secara Nasional lahir pada tanggal 14 September 2001 dari orang-orang yang peduli pendidikan di Indonesia. Hal ini menjadi cikal bakal terbentuklah Cinta Baca dari kepedulian sesama untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan anak bangsa. Berdirinya perpustakaan Cinta Baca ini tidak terlepas dari sosok tokoh yang ada didalamnya ialah Pardomuan Nainggolan, I Gusti Ngurah Oka dan Samuel Kristanto Lie. Ketiga tokoh ini beranggap bahwa hampir semua sekolah di Indonesia tidak mempunyai perpustakaan bahkan jika pun ada perpustakaan itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Hal ini menjadi tantangan bagi ketiganya untuk memperbaiki pendidikan yang ada melalui pembangunan perpustakaan. Awal mula dibangun perpustakaan Cinta Baca di Bogor yang menjadi pusat perpustakaan seluruh Indonesia. Sedangan perpustakaan Cinta Baca Palembang sendiri merupakan cabangnya. Hingga sekarang, perpustakaan Cinta Baca berkembang sangat baik, terutama perpustakaan pusat di Bogor. Sedangkan perpustakaan Cinta Baca Palembang berdiri pada tanggal 14 september 2009. Cinta Baca berpedoman pada misi dan visinya untuk membangun perpustakaan yang berdasarkan kecintaan pendirinya terhadap membaca. Serta kepedulian tentang anak bangsa yang kurang membaca, hal ini tercermin dari visi Cinta Baca yaitu “terciptanya manusia Indonesia yang cerdas dan berbudi luhur. Berbicara budi pekerti”. Tentu saja berbicara tentang kepribadian sangat penting bagi anak-anak di tanah air. Apalagi di era informasi yang mudah didapat. Konseling yang tepat juga harus diberikan kepada anak-anak untuk memberikan pemahaman dasar tentang membaca dan mengelola informasi. Informasi dan bahan pustaka yang ada di perpustakaan Cinta Baca sebagian besar merupakan koleksi untuk anak-anak. Tenaga Pengelola Perpustakaan Cinta Baca Palembang Perpustakaan Cinta Baca memiliki tiga pengurus, salah satunya adalah pegawai lokal. Perpustakaan Cinta Baca memiliki dua pegawai yang ditugaskan langsung ke Cinta Baca Palembang. Kedua pegawai ini bukan berlatar pendidikan ilmu perpustakaan. Namun, keduanya sudah melalui pelatihan ilmu perpustakaan dan telah melewati pembelajaran berdasarkan standar kepengurusan Cinta Baca. Pegawai Cinta Baca Palembang yaitu sebagai berikut: Cita B.R.S sebagai koordinator wilayah, Kristin S.M sebagai staf program, dan Yulianti sebagai operator lokal perpustakaan. Cita dan Kristin sudah terampil membacakan dongeng pada kegiatan rutin Cinta Baca. Selain itu, kegiatan pengelolaan juga dilakukan sesuai instruksi dari pusat. Sedangkan operator lokal juga sangat terampil dalam memberikan layanan informasi yang diperlukan. Ketiga staf sangat kompeten pada bidangnya masing-masing. Kegiatan Cinta Baca tidak sekedar berfokus ke koleksi saja, banyak kegiatan yang sudah dilakukan. Perkembangan teknologi informasi sekarang ini perpustakaan Cinta Baca berinovasi menggunakan jaringan informasi melalui channel youtube dan instagramnya sebagai promosi perpustakaan. Kegiatan secara virtual juga ikut andil dalam mengisi jadwal harian. Pelatihan dan seminar juga menjadi jadwal tersendiri bagi Cinta Baca dalam mengembangkan perpustakaan. Standar Operasional Cinta Baca adalah sebagai berikut: 1. Perpustakaan masyarakat Setiap pusat pembelajaran masyarakat yang dibangun Cinta Baca memiliki perpustakaan dengan tiga tingkat perpustakaan: a. Perpustakaan kota memiliki lebih dari 5.000 judul buku dan benda-benda dari kota-kota besar. Perpustakaan kota juga merupakan kantor wilayah dan dikelola oleh karyawan Cinta Baca. Ruang disediakan oleh Cinta Baca. b. Taman Bacaan: Dengan lebih dari 1000-2000 judul buku, terletak di kota kecil dan dikelola oleh pegawai lapangan Cinta Baca yang didukung oleh operator dari masyarakat setempat. Tempat itu memberikan kecintaan membaca. c. Pos Baca: Setidaknya ada 200 buku, tinggal di desa dan dikelola oleh masyarakat setempat dengan dukungan operator lokal. Ruang akan disediakan kotamadya atau pemerintah daerah. 2. Pendidikan Nonformal Pendidikan Nonformal bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca serta membangun dunia pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Cinta Baca mempromosikan pengembangan program non-formal. Program pendidikan non-formal yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Program yang dijalankan antara lain: kelompok membaca keluarga, kelompok bermain dan belajar anak, storytelling, speak English day, pelatihan, penyuluhan, bimbingan belajar dan lain-lain. 3. Koleksi Standar Perpustakaan meliputi koleksi anak-anak, koleksi remaja, koleksi dewasa, koleksi referensi anakanak, koleksi referensi remaja/dewasa, koran, majalah dan lainnya. Semua buku atau koleksi di Perpustakaan Cinta Baca tidak boleh menimbulkan konflik bernuansa pornografi atau SARA, atau menyalahgunakan agenda atau kekerasan partai politik. Setiap perpustakaan di Cinta Baca memiliki 70% buku untuk anak-remaja dan 30% buku untuk dewasa. Cinta Baca memiliki sistem database sendiri dengan klasifikasi buku dalam Dewey Decimal. Cinta baca tidak menawarkan buku atau koleksi religi karena alasan sebagai berikut: a. Cinta Baca tidak ingin terlibat dalam perbedaan doktrin dan denominasi yang dapat mengganggu masyarakat. b. Cinta Baca tidak ingin bersaing dengan institusi agama, berdayakan perpustakaan melalui kolaborasi jaringan. Cinta Baca memiliki sistem database sendiri dengan klasifikasi buku menurut Dewey Decimal (DDC). Namun, klasifikasi buku lain biasanya dilakukan untuk membedakan pencarian buku bagi pengunjung non-sekunder. Kategori buku untuk perpustakaan Cinta Baca adalah : a. Buku Anak-Remaja : Bahan ajar untuk anak-anak, buku untuk anak di bawah 5 tahun, buku bergambar untuk anak-anak, buku sederhana, novel untuk anak-anak, novel untuk remaja, Komik untuk anak-anak, buku non-fiksi untuk anak-anak, majalah untuk anak-anak, buku referensi untuk anak-anak. b. Buku untuk orang dewasa : keluarga, kesehatan, keterampilan, hobi, pertanian, bahasa, pengetahuan umum, bahan belajar untuk orang dewasa, biografi, novel, bisnis, dan keuangan, budaya dan kesenian , Non- Fiksi (motivasi dan lain-lain), majalah keluarga dan referensi orang dewasa. 4. Karyawan Perpustakaan Karyawan Cinta Baca adalah mereka yang direkrut dan dilatih oleh pengurus Cinta Baca sebagai karyawan atau pekerja yang memenuhi kriteria dan standar operasional Cinta Baca dan sesuai dengan aturan tenaga kerja Indonesia. Selain itu, Cinta Baca terbuka bagi masyarakat, dalam dan luar negeri yang ingin secara sukarela berpartisipasi dalam pelayanan pendidikan di masyarakat Indonesia. Cara penyiangan bahan pustaka di Perpustakaan Cinta Baca Palembang Penyiangan merupakan upaya untuk mengeluarkan sejumlah koleksi dalam jumlah besar karena dianggap tidak relevan, memiliki terlalu banyak eksemplar, memiliki edisi baru, atau merupakan publikasi yang dilarang koleksinya. Koleksi-koleksi tersebut dapat ditukar dengan koleksi perpustakaan lain, dialihkan untuk produksi kertas atau dimusnahkan kembali (Lasa_HS, 2005). Secara umum, menurut Evans & Saponaro dalam Laksmi ada empat alasan mengapa tindakan pengendalian penyiangan dapat dilakukan : a. Menghemat ruang; b. Membuat koleksi mudah diakses oleh pengguna; c.Hemat; d. mempersiapkan ruang bagi pustaka yang baru (Laksmi, 2015). Untuk itu diperlukan kegiatan penyiangan di Perpustakaan. Alasan lain untuk penyiangan disarankan oleh berbagai ahli sebagai berikut: a. Informasi yang terkandung dalam koleksi sudah ketinggalan zaman. b. Buku rusak secara fisik. c. Versi terbaru dengan nama yang sama telah terbit. d. Kebutuhan pengguna perpustakaan yang berubah. e. seiring dengan berubahnya tujuan, visi dan misi lembaga induk, demikian pula tujuan perpustakaan. f. Pustaka yang tidak perlu dengan alasan dan kriteria tertentu. g. Peralatan perawatan sangat tinggi (Laksmi, 2015). Kegiatan penyiangan bahan pustaka pada dasarnya merupakan praktik yang dilakukan di semua perpustakaan. Namun, tidak semua perpustakaan melakukan penyiang bahan pustaka. Kegiatan penyiangan didasarkan pada beberapa kriteria , antara lain: isi, penggunaan bahan pustaka, jumlah eksemplar, dan kerusakan fisik yang tidak dapat diperbaiki. Hasil wawancara yang dilakukan di Perpustakaan Cinta Baca Palembang. Kegiatan penyiangan bahan pustaka ialah: pertama, seleksi bahan pustaka yang dilakukan berdasarkan kerusakan fisik. Kerusakan fisik bahan pustaka ialah dapat dilihat dari kualitas kertasnya, lem perekatnya, lembaran kerja yang hilang, dan sulit untuk diperbaiki lagi. penyeleksian bahan pustaka tersebut tidak dilakukan dengan sengaja atau berdasarkan jadwal yang telah disebut, namun dilakukan pada saat kondisi bahan pustaka sudah tidak bisa diperbaiki lagi. kedua, seleksi bahan pustaka berdasarkan keterpakaian di perpustakaan Cinta Baca Palembang. Kegiatan penyiangan ini dilakukan dengan cara melihat koleksi yang sering dipinjam. Jika koleksi yang jarang dipinjam akan ditarik dari rak, lalu diseleksi lagi kelayakan pakainya. Setelah dipastikan tidak terpakai maka akan dikeluarkan dari entri data SliMS. Bahan Pustaka yang sudah dilakukan penyiangan akan dijual kembali untuk membeli bahan pustaka baru, terkadang juga didonasikan ke perpustakaan atau komunitas yang membutuhkan. Tergantung kebijakan dari pihak perpustakaan Cinta Baca Palembang. adapun syarat tersirat dari pihak Cinta Baca Palembang tentang penyiangan koleksi adalah kategori dalam penyiangan bahan pustaka bahan pustaka yang sudah lama misalnya yg 10 tahun di perpustakaan, bahan pustaka yang rusak/ robek/ halaman tidak lengkap dan tidak bisa diperbaiki lagi, Bahan pustaka yang tidak sesuai dengan kriteria koleksi di perpustakaan Cinta Baca Palembang seperti buku yg mengandung kekerasan, pornografi, SARA, politik. Informan mengatakan bahwa di perpustakaan Cinta Baca ini tidak ada pedoman perpustakaan secara tertulis. Akan tetapi untuk kegiatannya sendiri biasanya langsung diinformasi dari pusat yaitu perpustakaan Cinta Baca Bogor tentang kegiatan yang akan dilakukan. Seperti kegiatan penyiangan ini, sebenarnya pihak Cinta Baca tidak tau istilah ini, mungkin ada perumpamaan yang sama tapi beda istilah. Pihak perpustakaan Cinta Baca Palembang juga sudah mengkonfirmasi ke pusat mengenai penyiangan, ternyata tidak kalau pedoman atau kegiatan penyiangan itu tidak ada secara tersurat, akan tetapi lebih tersirat seperti pemberitahuan dan himbauan untuk setiap kegiatan pengelolaan perpustakaan. Kendala yang dihadapi dalam proses penyiangan bahas pustaka di Perpustakaan Cinta Baca Palembang Pada dasarnya setiap perpustakaan pasti memiliki kendala dalam penyiangan bahan pustaka. Hal ini juga dirasakan oleh pihak Cinta Baca Palembang. Hasil dari observasi dan wawancara langsung diketahui bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi oleh perpustakaan Cinta Baca Palembang, untuk pelaksanaan penyiang bahan pustaka. Kendala yang dihadapi ialah saat menyesuaikan data buku lama atau rusak yang akan diproses dalam penyiangan melewati penghapus data di SliMS. Jika data dihapus maka akan ada kekosongan data. Hal ini bisa membuat data menjadi berantakan kalau tidak diolah dengan baik.. Kegiatan menghapus entri data di Slims dilakukan oleh petugas Cinta Baca Palembang. Petugas Cinta Baca melakukan penyalinan barcode yang lama untuk untuk disalin ke entri buku baru. Hal ini biasanya akan dibuat catatan kecil untuk mengingat kembali barkode yang dihapus supaya bisa digunakan lagi untuk buku baru. walau sudah ada penanggulangannya kembali tapi barcode yang lama pasti nomornya lama kadang suka keliru, kecuali jika melihat databasenya secara mendalam ada entri bulan dan tahun input bukunya. Informan menjelaskan juga tentang kendala penyiang bahan pustaka dari pihak perpustakaan tidak ada kebijakan tertulisnya. Kebijakan tertulis yang dimaksudkan ialah tentang pedoman perpustakaan tentang penyiangan koleksi. Hal ini menjadi ketidaktahuan istilah yang digunakan dalam penelitian sedangkan pihak perpustakaan sudah melakukan penyiangan bahan pustaka. Informan juga menjelaskan informasi seperti ini tentang penyiangan biasanya diinformasikan langsung ke pihak perpustakaan Cinta Baca Palembang.
Conclusion
Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa : pertama, cara penyiangan di perpustakaan Cinta Baca Palembang diantaranya ialah (1) penyeleksian bahan pustaka berdasarkan kerusakan dan sudah 10 tahun di perpustakaan; (2) Menghapus entri data di SliMS dan mencatat Barcodenya; (3) Bahan pustaka dijual untuk mendapatkan bahan pustaka baru. Kendala yang ditemukan dalam penyiangan bahan pustaka di perpustakaan Cinta Baca Palembang ialah (1) Ulangi barcode lama agar tidak berantakan, (2) Tidak ada pedoman penyiangan bahan pustaka. Berdasarkan penyiangan di atas, disarankan hal-hal berikut: pertama, bagi pihak perpustakaan Cinta Baca palembang agar memberi perhatian tentang penyiang koleksi. Kedua, bagi perpustakaan Cinta Baca Bogor sebagai pusat bimbingan untuk memberikan pedoman pengembangan koleksi khususnya penyiangan koleksi.