Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000 – 2019
Universitas Sriwijaya; Universitas Sriwijaya; Universitas Sriwijaya; Universitas Sriwijaya
Abstrak
Kesenian Wayang Kulit tidak hanya ada di Pulau Jawa, tetapi juga ada di Pulau Sumatera tepatnya di Kota Palembang. Namun, keberadaan wayang Palembang berbeda dengan di Jawa. Hal ini lah yang menjadi masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana eksistensi kesenian Wayang Kulit Palembang tahun 2000-2019. Sehingga Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan atau memperoleh berbagai informasi tentang bagaimana eksistensi kesenian wayang kulit Palembang tahun 2000-2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode historis atau metode sejarah, yang diawali dengan teknik yang disebut heuristik, melakukan wawancara, dan jika data terkumpul harus dikritik atau verifikasi. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa Kesenian wayang ini mulai pudar ditengah-tengah masyarakat. Hal ini disebabkan oleh arus globalisasi serta kurangnya minat untuk mempelajari pagelaran wayang Palembang, tidak ada penerus atau kader yang melestarikannya dan juga karena pergeseran atau bahkan persaingan dengan budaya modern. Eksistensi wayang mulai memudar sejak tahun 2012 dengan adanya pergantian-pergantian pengurus Perpadi (Persatuan Pedalangan Seluruh Indonesia), sehingga perlu adanya strategi kembali yang dapat menghidupkan atau meningkatkan kesenian wayang kulit Palembang. Banyak upaya yang telah dilakukan Sanggar Sri Palembang untuk memperkenalkan wayang Palembang kepada masyarakat, melalui promosi di koran, radio, dan televisi serta melakukan workshop-workshop dengan dinas pariwisata dan kebudayaan. Namun masih belum ada perubahan dikarenakan masyarakat Palembang yang memang kurang menyenangi wayang.
Abstract
Wayang Kulit art is not only in the Jawa Island, but also in the Sumatera Island, especially in Palembang City. However, the existence of Wayang Palembang is different with the one in the Jawa Island. This is the problem in this research, that is How the Existence of Wayang Kulit Arts in Palembang 2000-2019. So that this research has the aim of obtaining or gaining various information about how the existence of Palembang Wayang Kulit Arts 2000-2019. The method used in this research is using the historical method, which begins with a technique called heuristics, conducting interviews, and if the data collected must be criticized or verified. The results of this study indicate that the wayang art is starting to fade in the midst of society. This is due to the current globalization as well as the lack of interest in studying Wayang Palembang shows, there are no successors or cadres who preserve it and also because of shifts or even competition with modern culture. The existence of wayang began to fade since 2012 with changes in the management of the Perpadi (Association of Indonesian Pedalangan). So there is a need for a return strategy that can revive or improve Palembang's Wayang Kulit Arts. Many efforts have been made by Sanggar Sri Palembang to introduce Wayang Palembang to the public, through promotions in newspapers, radio, and television as well as conducting workshops with the tourism and culture office. But there is still no change because the people do not like wayang
Keywords:
existence
· art
· wayang palembang
Introduction
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki aneka ragam bentuk kebudayaan di setiap daerahnya. Kebudayaan didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Maka identitas suatu bangsa adalah kebudayaan yang dimiliki, sekecil apapun kelompok sudah pasti mempunyai kebudayaan. Kebudayaan dan masyarakat juga tidak bisa dipisahkan. Kebudayaan tidak akan ada tanpa masyarakat. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta Buddaya yang artinya budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Dalam kehidupan sehari-hari istilah kebudayaan juga diartikan sebagai kesenian. Kebudayaan di setiap bangsa terdiri dari unsur-unsurnya. Tujuh unsur budaya yang dianggap sebagai Cultural universal yaitu peralatan, mata pencarian hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan dan religi (Soekanto, 2015). Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung kepercayaan, pengetahuan, moral, kesenian, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lainnya yang didapat individu sebagai anggota masyarakat (Supiyah, 2018). Berdasarkan Pasal 4 yang tercantum dalam Undang-Undang No. 5 tahun 2017 berisikan tujuan pemajuan kebudayaan diantaranya adalah memperkaya keragaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan melestarikan warisan budaya bangsa. Jadi selain untuk kepentingan kebudayaan bangsa itu sendiri juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat. Salah satu obyek pemajuan kebudayaan adalah bidang seni. Di bidang seni perlu dikembangkan dan dilestarikan jenis-jenis kesenian yang berada di tengah masyarakat. Berbagai macam kesenian tradisional berada di tengah masyarakat di berbagai daerah di Indonesia salah satunya cerita wayang kulit. Cerita wayang merupakan salah satu jenis sastra tradisional yang masih dikenal dan memasyarakat hingga kini. Cerita wayang disebut sebagai sastra atau cerita tradisional karena telah amat lama menjadi milik bangsa dan mewaris secara turun-temurun kepada tiap generasi terutama secara lisan khususnya pada masyarakat Jawa (Nurgiyantoro, 2011). Kesenian wayang kulit juga memiliki kerajinan seni yang berkualitas tinggi, karena bentuk tokohnya sendiri diambil dengan berbagai bentuk seni lukis, kriya serta menyambungkan dengan musik vokal, instrumental, drama, tarian sastra, serta seni dalang juga yang perlu dibekali keterampilan, hal ini cukup untuk menarik perhatian dan menghidupkan karakter dari wayang kulit sendiri (Heriwati et al., 2019). Palembang sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki kesenian budaya lokal wayang kulit. Letak kesenian Wayang Palembang ini berada di wilayah Kelurahan 36 Ilir, Tangga Buntung, Kecamatan Ilir Barat II atau yang lebih dikenal dengan Sanggar Sri Palembang yang mementaskan Wayang Kulit Palembang. Wayang kulit Palembang adalah salah satu wujud kekayaan lokal yang sampai saat ini masih diperjuangkan oleh pejuang seni agar tidak punah. Wayang kulit salah satu kesenian daerah, jarang diminati oleh generasi saat ini, hal inilah yang menyebabkan wayang dikatakan hampir punah. Ada beberapa tulisan juga yang membahas mengenai wayang Palembang yaitu jurnal oleh Robert Budi Laksana dengan judul bentuk figur tokoh wayang kulit Palembang akulturasi budaya Jawa – Melayu. Tulisan ini mendeskripsikan tentang figur –figur tokoh wayang kulit Palembang dan menuliskan keberadaan kesenian ini (Laksana, 2018). Selanjutnya tulisan berjudul wayang dan pengembangan karakter bangsa, ditulis oleh Burhan Nurgiyanto mendeskripsikan tentang wayang yang harus dilestarikan karena memiliki arti nilai tradisional tersendiri yang harus dijaga eksistensinya (Nurgiyantoro, 2011). Penelitian selanjutnya oleh Aminatul Fadilla yang menulis tentang wayang Palembang dalam Lakon Bambang Dharmojati oleh Dalang Kiagus Wirawan bersama Sanggar Sri Palembang. tulisan ini mendeskripsikan bagaimana lakon Bambang Dharmojati dalam wayang Palembang (Fadilla, 2019). Maka itu peneliti tertarik mengambil judul ini untuk mengetahui eksistensi wayang kulit Palembang pada tahun 2000-2019. Selanjutnya peneliti ingin mengetahui bagaimana upaya pejuang kesenian tradisional maupun pemerintah untuk mempertahankan eksistensi dan melestarikan kebudayaannya agar tidak punah atau tergerus budaya lain. Tulisan ini akan memaparkan mengenai eksistensi kesenian wayang kulit palembang pada tahun 2000-2019. Tulisan ini juga bertujuan untuk mengetahui perkembangan keadaan wayang Palembang saat ini, adakah upaya – upaya yang dilakukan oleh pemerintah maupun sanggar sri sendiri dalam mempertahankan kesenian wayang kulit Palembang agar tetap dikenal maupun diingat di kalangan masyarakat. Saat ini salah satu alasan wayang kurang diminati karena menyebarnya budaya – budaya dari luar yang menyebabkan wayang semakin terpinggir dan mulai tergeser oleh seni modern lainnnya.
Method
Metode penulisan yang digunakan adalah metode sejarah atau metode Historis. Metode penelitian sejarah adalah metode penelitian dan penulisan sejarah yang diawali dengan teknik yang disebut heuristik dan menggunakan prosedur atau teknik yang sistematis dan sistematis yang sejalan dengan penulisan sejarah. Pada tahap awal penulis berusaha mengumpulkan data-data berupa buku-buku dan sumber- sumber lainnya yang berhubungan dengan masalah yang akan penulis bahas dalam penulisan karya ilmiah ini. Kemudian langkah pengumpulan sumber- sumber sejarah dalam bentuk dokumen dokumen, maka yang harus dilaksanakan berikutnya adalah mengadakan kritik (verifikasi) sumber, terutama terhadap sumber sumber yang pertama, langkah ini disebut sebagai kritik sumber baik terhadap materi sumber maupun terhadap substansi sumber. Langkah selanjutnya adalah masuk ke tahap eksplanasi dalam sejarah, pada tahap ini memaknai semua fakta-fakta dan data-data yang telah dipilih dan dianggap layak untuk kemudian di padukan hingga mendapatkan sebuah kesimpulan sejarah. Setelah didapati sebuah kesimpulan pada tahap akhir kemudian penulis memasuki tahap akhir penulisan yakni, tahap penyajian hasil penulisan kedalam bentuk sebuah tulisan ilmiah (Irwanto & Sair, 2014: 89).
Discussion
3.1 Sejarah Singkat Kesenian Wayang Kulit palembang Kata Wayang berasal dari kata ‘bayang’, bayangan atau menurut etimologi artinya ‘hyang’ roh, leluhur. Artian mengacu kepada dugaan bentuk awal wayang yang berbentuk teater bayangan ritual tujuannya untuk komunikasi dengan roh leluhur. Tetapi dokumentasi mengenai hal ini sangat terbatas, pengertian wayang menyatakan sekaligus objek atau artefak dapat dikatakan seperti boneka wayang dengan pembuatan dan teknik yang beragam (Gunarto et al., 2020). Wayang pada umumnya digunakan diberbagai bidang seperti pendidikan, komunikasi, konseling, dan psikologi (Tzuriel & Remer, 2018). Wayang adalah seni pertunjukkan yang populer di berbagai daerah selain Bali, Jawa yakni di Sumatera dan Semenanjung Malaya yang ditetapkan oleh UNESCO tahun 2003 sebagai pertunjukkan bayangan boneka dari Indonesia. UNESCO merupakan lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB. Wayang adalah warisan karya yang tak ternilai dalam seni bertutur. Bayangan boneka serta keunikkan yang membuat UNESCO memasukkan wayang kedalam daftar refrensif budaya tak benda warisan manusia (Houtman, 2017). Seni memainkan wayang yang biasa disebut pagelaran, merupakan kombinasi harmonis dari berbagai unsur kesenian. Pada pagelaran wayang kulit dituntut adanya kerjasama yang harmonis baik unsur benda mati maupun benda hidup (manusia). Unsur benda mati yang dimaksud adalah sarana dan alat yang digunakan dalam pagelaran wayang kulit. Sementara unsur benda hidup (manusia) adalah orang-orang yang berperan penuh dalam seni pagelaran wayang kulit (Kusbiyanto, 2015). Sejarah wayang Palembang sendiri, jika dilihat dari bukti tertulis atau catatannya belum ada yang membuatnya. Berdasarkan penelitian museum wayang di Jakarta tahun 2008 mengungkapkan dilihat dari wayang yang tersisa 20 sampai 30 di sanggar Sri oleh kakek Pak Wirawan. Jika dilihat dari segi fisiknya mereka mengambil kesimpulan masuknya wayang Jawa ke Palembang ini pada abad ke-17 yakni pada masa kesultanan. Palembang dan Jawa memiliki hubungan, kebudayaan terbawa ke Palembang melalui Aryo Dila. Wayang ini juga dibawa oleh bangsawan Jawa yang hijrah ke Palembang, dimasa ini Demak dengan Majapahit sedang terjadi pergolakan sehingga mereka juga mencari tempat aman untuk disinggahi serta menghibur masyarakat sehingga berkembanglah budaya seni yakni pertunjukkan wayang (Wirawan, wawancara pada tanggal 15 oktober 2020) Terdapat dua pendapat mengenai adanya wayang Palembang. Pendapat pertama mengatakan bahwa masuknya wayang Palembang sejak awal kerajaan Palembang abad ke-15, pada saat itu Brawijaya mengirimkan Aryodillah kemudian mengirim putri campa yang sedang mengandung, lalu melahirkan anak yang bernama Raden Fatah. Kemudian pendapat kedua mengatakan bahwa masuknya wayang ke Palembang bukan melalui kerajaan namun melalui masyarakat biasa. Ada orang Palembang yang belajar mendalang menggunakan bahasa Palembang (Vebri Al Lintani, wawancara pada tanggal 12 Desember 2020). 3.2 Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000 sampai 2019 Pergelaran wayang pada abad ke-17 masih menggunakan bahasa Jawa, namun karena orang Palembang tidak mengerti bahasa Jawa, seiring berjalannya waktu berganti menjadi bahasa Palembang. Sehingga mudah bagi masyarakat menerjemahkannya ke Palembang asli, karena terdapat kesamaan dalam bahasa. Kemudian dilatih Dalang Palembang untuk memainkan wayang agar memudahkan jika nanti ada alat musik atau wayang yang tidak berfungsi, sehingga tidak perlu jauh menuju Jawa. Ada beberapa dalang seperti dalang Lot, dalang Jang dan lainnya, wayang ini juga telah dimainkan dengan menggunakan bahasa Palembang hanya saja aransemen musik masih bercampur dengan Jawa. Alat musik yang dimainkan juga tidak selengkap di Jawa karena khawatir akan jarak yang jauh, jadi dibawakan yang penting saja seperti gendang, gong, laron, dan kenong (Wirawan, wawancara pada tanggal 15 oktober 2020). Pada tahun 1900-an orang Palembang berhasil menjadi dalang sendiri, namun terjadi penjajahan dan perang lainnya sehingga pergelaran wayang ini hilang. Tahun 1950 wayang kulit Palembang muncul kembali dengan nama Sanggar Sri wayang Kulit palembang yang di prakarsai oleh kakeknya Pak Wirawan, berdiri kembali dengan dalang, bahasa Palembang juga dengan iringan gamelan klasik tetapi aransementnya telah campuran melayu tidak mengikut Jawa lagi. Pada tahun 1970 yang menjadi dalang adalah ayang pak Wirawan mewarisi ilmu dari kakeknya hingga tahun 1980-an (Vebri Al Lintani, wawancara pada tanggal 12 Desember 2020). Pada tahun 1980 wayang kembali mengalami kemunduran, gamelannya ada yang rusak tidak bisa diperbaiki karena hanya di Jawa yang ada, untuk memesan yang baru harganya juga lumayan tinggi. Sehingga pada tahun 2000-an tepatnya 2004 eksistensi wayang kembali lagi lahir ketika pihak UNESCO memberi bantuan kepada sanggar Sri wayang kulit Palembang. saat itu UNESCO sedang mencari beberapa kebudayaan Indonesia yang bisa dihidupkan kembali. Sanggar Sri mendapatkan bantuan 50 wayang kulit dan seperangkat gamelan untuk digunakan kembali dalam pagelaran. Pagelaran dilakukan tahun 2006 di depan museum Sultan Mahmud Badaruddin II, diperhitungkan sejak 2006-2009 telah banyak melakukan pagelaran, bahkan ada yang terjadwal rutin setiap bulannnya. Namun seiring perkembangan zaman kesenian ini mulai seperti tak dikenal lagi oleh masyarakat karena modernisasi kebudayaan juga yang menyebabkan banyak masyarakat lebih memilih seni pertunjukkan lainnya. Pada tahun 2016 Pak Wirawan mengajukan bantuan ke pihak kementrian kebudayaan Jakarta dan mendapatkan dana sekitar 95 juta untuk dibelikan 50 wayang lagi serta gamelannya. Jadi total keseluruhan jumlah wayang ada sekitar 102 tapi masih terhitung jauh dari cukup. Tahun 2000-an Kominfo Palembang memberikan bantuan berupa sound system, 2 speaker dan 3 microphone (Wirawan, wawancara pada tanggal 15 oktober 2020) Dari hasil wawancara dapat kita lihat perkembangan kesenian wayang kulit Palembang melalui Sanggar Sri Palembang ditengah masyarakat dari tahun 2000-an sampai 2019. Pada tahun 2004 wayang kulit yang sempat pudar bangkit kembali ketika UNESCO memberikan bantuan. Tahun 2006 pagelaran wayang kulit selalu dilakukan di kalangan masyarakat sampai 2009, bahkan jadwal perbulan yang rutin. Namun setelah tahun tersebut kembali seperti biasanya mulai berkurang pagelaran dan tidak sebanyak ditahun 2009 tersebut. Tahun 2016 Sanggar Sri mengajukan bantuan ke Kementrian Kebudayaan Jakarta untuk menambah wayang dan alat musiknya. Namun sampai sekarang semakin menurun pagelaran kesenian wayang kulit ini karena jarang dilakukan bahkan tidak ada jadwal sama sekali. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya eksistensi kesenian wayang kulit Palembang yaitu: 1. Kesenian Wayang kulit Palembang pada saat ini telah memudar, hal ini disebabkan oleh ilmu perdalangan dan gamelan tidak diturunkan kepada anak-anaknya. Kemudian pergelaran kesenian wayang kulit tidak menjamin kehidupan sehari-hari, karena pada saat ini mereka dibayar dengan beras yang kadang satu karung dibagi 10 orang dan waktu tampil juga tidak setiap hari namun satu minggu atau satu bulan sekali. 2. Wayang kulit bukan tardisi Palembang, karena wayang merupakan tradisi Jawa yang di bawa ke Palembang. Kemudian dalam syariat Islam, Masyarakat adat Palembang umumnya kurang tertarik dengan seni. Masyarakat Palembang menyukai seni yang memotivasi seseorang untuk meneguhkan keimanannya. 3. Kurangnya perhatian dari pemerintah, karena yang bertanggungjawab untuk menghidupkan kembali kesenian itu adalah dari pemerintah. Selain pemerintah, Dewan Kesenian Palembang juga harus ikut andil dalam melestarikan wayang Palembang. Sehingga kesenian wayang kulit Palembang dapat hidup kembali. Banyak warga Palembang yang belum menyaksikan langsung pagelaran wayang kulit, bahkan ada yang baru menggetahui bahwa Palembang juga memiliki kesenian wayang. Sehingga eksistensi Wayang Kulit Palembang kurang di masyarakat Palembang itu sendiri (Muhammad Ikhsan, wawancara pada tanggal 13 Desember 2020). Wayang harus dilestarikan eksistensinya dan menjadi tugas seluruh daerah khususnya Palembang yang memiliki budaya wayang tersebut. Kesenian wayang kulit di Palembang memiliki sanggar yang bernama Sanggar Sri Wayang Palembang yang terus melakukan pengembangan dan pelestarian. Eksistensi daerah dewasa ini tidak lepas dari nilai-nilai luhur tradisional yang memiliki sejarah yang amat panjang dalam mengawal pertumbuhan dan kemajuan bangsa ini yang salah satunya adalah budaya wayang. Dalam era global dewasa ini keunggulan lokal amat dibutuhkan karena hal itulah yang membedakan dengan daerah lainnya. 3.3 Jenis Wayang Kulit Palembang yang paling sering dimainkan Adapun ciri khas kesenian wayang kulit Palembang dalam pagelarannya yaitu lebih sederhana daripada pagelaran wayang di Jawa. Nuansa wayang Palembang dominan menggunakan warna merah dan hijau, tidak ada sinden, kemudian alat yang musik yang digunakan lebih sederhana (Wirawan, wawancara pada tanggal 15 oktober 2020). Berikut merupakan beberapa tokoh Wayang Kulit Palembang yang sering ditampilkan dalam pagelaran Wayang. Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3 Gambar 4. Gatotkaca Puntadewo Arjuna Pendito Abiyasa Gambar 5. Gambar 6 . Gambar 7. Gambar 8. Nakula Bima Petruk Semar (Sumber: Dokumen Pribadi) 1) Gatotkaca Gatotkaca ialah anak dari Arya Werkundara yang merupakan pandawa dengan istrinya Dewi Arimbi dari putri raja Pringgadani. Letak kakinya dikenal dengan jangkuhan Raton serta dua pasang Uncul Kencana, dua pasang Uncul Wastradan Clana Cide Puspita yang bermotif perang barang. Gatotkaca juga memakai atribut lain seperti kelatbahu naga Pangangrang, lingkar, gelang tangan dan keroncong. Gatotkaca memiliki muka yang hitam bersatu padu, dalam ciri-ciri satuan wayang yang memberikan gambaran air muka dan watak, badan Bersatu padu dan muka diwarnai hitam juga. Kemudian Wanda Gentur (dhukun) kilat (Laksana, 2018). Gatotkaca merupakan anak dari Bima yang fisiknya hampir sama, seperti pada bagian muka dan tinggi tubuh, hal inilah yang membuat sifat mereka juga sama. Kesamaan mereka terlihat dalam kekuatan, ketenangan, keberanian, kecepatan, dan ketenangan mereka. Kemampuan yang ada pada Gatotkaca yaitu bisa terbang dengan keadaan siaga dengan berdiri dengan) menempatkan (kedua) tangan pada pinggang (Haryadi & Khamadi, 2004). 2) Puntadewo Salah satu pandawa lima yang paling tua yaitu Puntadewo sekaligus raja Amarta. Puntadewo memiliki tampilan yang luruh, letak wajahnya terpukul, hidungnya kecil, bola mata mirip dengan bulir padi, dan mulutnya memperlihatkan gambaran gigi. Aksesoris yang digunakannya yaitu mahkota rambut yg digelung membelakang dan dihias sedemikian rupa, badannya alus dengan hiasan gajah gelar, menggunakan sumping Prabanagyun, di kakinya banyak terdapat motif semen ningrat di tepian dodot dengan motif semen jrengut seling gurda (Laksana, 2018). 3) Arjuna Pandu Dewanata dan Dewi Kunti mempunyai putra yaitu Arjuna. Ciri fisik Arjuna hampir sama dengan Puntadewo yaitu bermuka terpukul, hidung walimiring, mata liyepan, dan mulutnya salitan. Arjuna memakai mahkota dengan gekung minangkara, sumping waderan, dan tubuh satria alus ada penggambaran gajah gelar. Arjuna juga menggunakan kain bagian bawah didalam pocong polos yang mempunyai motif sekar jeruk dengan manggaran di belakangnya. Tanggannya terdapat tanda kelat bahu dan tidak memiliki gelang. Tampilan Arjuna alusan bahkan tanpa atribut (Laksana, 2018). Watak Arjuna dan Bima sangat berbeda. Arjuna adalah satria yang sederhana, pendiam, tenang, lembut dan pintar. Namun sifat lembutnya dipergunakan untuk menarik perhatian wanita, karena katakatanya yang santun dengan suaranya yang tegas tetapi ringan. Arjuna tidak memakai perhiasan di tubuhnya, hal ini menunjukkan kesederhanaanya yang meninggalkan kemewahan dunia (Haryadi & Khamadi, 2004). 4) Pendito Abiyasa Palasara dan Dewi Setyawati memiliki putra yang bernama Abiyasa yang kemudian menikah dengan Santanu dari negara Astina. Abiyasa ini merupakan pandita yang memiliki watak luhur, letak muka temukul, mata liyepan yang di perbaharui mejadi mata orang tua. Kulitnya keriput, hidung lancip atau walimiring serta mulut salitan yang digambarkan tidak punya gigi. Abiyasa mempunyai mahkota ubel-ubel atau puttut, terdapat hiasan sumping mangkara, memakai rembing dan nyamat. Ia juga menggunakan jubbah dengan tubuhnya yang melengkung kedepan. Ia juga mengenakan keris agar dapat meletakkan tasbih dan mengenakan kain yang panjang, kemudian terdapat motif parang rusak tetapi Abiyasa, tangan kanannya terdapat irasan sembari memegang senjata Trisula, namun ia tidak menggunakan sepatu (Laksana, 2018). 5) Nakula Dilihat secara visual, Nakula memiliki badan yang kecil, tetapi kuat dan gesit serta memiliki paras yang rupawan. Wajah Nakula hampur sama dengan dewa karena meraka adalah saudara kembar yang identik. Hanya pada dahinyalah yang memiliki perbedaan. Dahi Nakula lebar bertitik. Pakaian yang dikenakan Nakula yaitu sumping sureng pati, gelungsupit urang, gelang tangan susun, kalung ulur-ulur, gelang kaki binggel, kelat bahu naga mangsa, dan menggunakan dodot bokongan dengan sembulihan. Nakula memiliki watak yang jujur, santun, setia, pemikir dan pintar dalam menyimpan rahasia (Maharani et al., 2019). 6) Bima Bima adalah penjelmaan dari Dewa Bayu. Bima merupakan sosok yang dikenal dengan kegagahannya. Watak yang dimiliki Bima yaitu siaga, pendiam, tidak banyak tanya, tenang, tidak gentar, kuat, lincah, dewasa, tidak sombong, namun ia mudah emosi dan tidak sabar jika membasmi kemungkaran dengan senjatanya yaitu kuku pancanaka dan Gada Rujakpolo. Bima bukan karakter yang banyak tertawa, ia secara langsung menyampaikan maksud dan tujuan dangan suara yang besar dan tegas. Letak tangannya di pinggul, hal ini menunjukkan watak Bima yang keras kepala dan tidak mudah untuk diajak diskusi. Selain itu Bima tidak memakai perhiasan, hanya gelang dan kelat bahu pada tubuhnya, ini mememperlihatkan ia telah meninggalkan kehidupan duniawi (Haryadi & Khamadi, 2004). 7) Petruk Petruk bertampilan santai dan tenang. Matanya kedelen yang telah di perbaharui, hidung dewa, tubuh ngropoh dewa, mulut mesem, badan gambling, dengan pocong dagelan yang bermotif pohon kelapa longgar Aksesoris yang digunakan yaitu kalung gentha, sepatu, dan memakai besi baja dan kayu. Petruk selalu memperlihatkan ekspresi yang ceria dengan muka senang dan gembira (Laksana, 2018). Petruk juga dikenal dengan tokoh yang lucu seperti saudaranya. Sebagai abdi ia berwatak bijaksana seperti suka memberi petunjuk, sabar, berderma, berani, tetapi juga suka bercanda (Haryadi & Khamadi, 2004). 8) Semar Semar memiliki watak yang selalu serius, hidung kecil, mata rembesan atau mata sedi, mulut kasar badan yang gemuk dan pendek. Pada tangganya terdapat gelang dagelan dengan jari-jari mengepal serta lancip. Aksesoris lainnya anting-anting Lombok abang, letak kaki pocong sagelan ada motif poleng, dengan warna hitam, merah dan putih yang seragam dengan Punokawan atau pelayan lainnya (Laksana, 2018).
Conclusion
Kesenian Wayang Kulit Palembang merupakan salah satu tradisi dan budaya masyarakat Melayu Palembang yang memiliki sejarah panjang. Secara historis kesenian ini diperkenalkan oleh elit penguasa Kerajaan Majapahit yang datang ke Palembang pada abad ke-17 yaitu pada masa Kesultanan. Kemudian berkembang dan dimodifikasi dengan unsur-unsur budaya Melayu Palembang. Pertunjukan Wayang Palembang memiliki keunikan dan kekhasan dalam bahasa yang digunakan oleh dalang, tampilan wayang sendiri atau perangkat pertunjukannya. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi dan adaptasi yang harmonis antara budaya Jawa dan budaya Melayu Palembang. Sayangnya, masa keemasan wayang kulit Palembang pernah redup dan berakhir pada tahun 1980 hingga 2004 dikarenakan banyak alat musiknya yang rusak, namun tidak bisa diperbaiki karena orang Palembang sendiri tidak ada yang menjadi pembuat gamelan. Kemudian pada tahun 2006 -2009 mulai jaya kembali dengan banyak melakukan pagelaran. Bisa dikatakan eksistensi wayang Palembang saat ini sudah tenggelam atau punah karena tidak ada penerus atau kader yang melestarikannya dan juga karena pergeseran atau bahkan persaingan dengan budaya modern. Eksistensi wayang mulai memudar sejak tahun 2012 dengan adanya pergantian-pergantian pengurus Perpadi (Persatuan Pedalangan Seluruh Indonesia). Disisi lain generasi muda di Sumatera Selatan khususnya kota Palembang juga kurang tertarik menekuni seni tradisi dalam pertunjukan wayang kulit Palembang karena dianggap kurang menarik, tidak menjanjikan penghasilan, dan sebagainya. Banyak upaya yang telah dilakukan Sanggar Sri Palembang untuk memperkenalkan wayang Palembang kepada masyarakat, melalui promosi di koran, radio, dan televisi serta melakukan workshopworkshop dengan dinas pariwisata dan kebudayaan. Tetapi masih belum terdapat perubahan dikarenakan masyarakatnya yag memang kurang menyenangi wayang. Dalam menjaga eksistensi nya wayang kulit Palembang melalui Sanggar Sri wayang ini telah melakukan pengembangan dengan berbagai upaya. Seperti memperbarui alat musik, menambah wayang, mencari ide cerita baru. Namun masyarakat memang kurang minat pada kesenian ini. Sehingga kesenian ini sudah jarang sekali tampil seperti dulu. kita berharap dari pihak pemerintah maupun budayawan bahkan masyarakat dapat membantu melestarikan kesenian wayang kulit Palembang ini.