Storytelling Sejarah Melalui Foto Beranotasi: Koleksi Foto PDIKM Padangpanjang
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Keterbatasan informasi yang tersedia pada koleksi foto di PDIKM Padangpanjang menjadi kendala bagi pengunjung untuk memahami secara sistematis mengenai isi dari photc. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai kemas ulang informasi foto koleksi di PDIKM Padang Panjang dengan menyusun anotasi informatif pada setiap foto, untuk memudahkan para pengunjung memperoleh informasi terkait dengan sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi. Hasil penelitian menujukkan: (1) storytelling dapat dilakukan untuk menjelaskan foto melalui penyusunan anotasi pada setiap foto, dan menimbulkan minat belajar sejarah; (2) anotasi foto disusun dengan tahapan klasifikasi, storyline, membuat anotasi, dan kemas ulang informasi. Dengan melakukan kemas ulang informasi tersebut memberikan kemudahan kepada pengunjung PDIKM untuk memperoleh informasi yang kompregensif, sehingga sejarah dapat dipelajari secara menarik dengan metode storytelling foto beranotasi.
Abstract
Storytelling History Through Annotated Photo: Photo Collection of PDIKM Padang Panjang] Limited information provided in a collection a photo on PDIKM Padangpanjang become an obstacle for visitors as user information to understand systematically about the content of these pictures. This research aims to describe the information about the photo collection in PDIKM Padangpanjang by putting informative annotations on every photo, to facilitate visitors to obtain information relating the history and Minangkabau culture. The research methods were used qualitative approach, data collection through observation. . The research showed: (1) storytelling may be made to explain photo trough the annotations on, every photo and to learn their history; (2) annotations photo are prepared with stage classifications, storyline, make annotations, and information repackaging. Repackaging the information makes it easy for PDIKM visitors to obtain comprehensive information so that learning history is much more interesting with the annotated photo storytelling method.
Keywords:
minangkabau cultural documentation and information center (pdikm)
· historical storytelling
· annotated photo
· information repackaging
Introduction
Keberadaan museum belumlah mampu menujukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik (Achyarsyah, Rubini, e Hendrayati 2020). Pengunjung museum terlihat sepi, karena antusiame wisatawan dalam mengunjungi museum lebih rendah jika dibandingkan dengan objek wisata aslinnya. Pengunjung museum lebih banyak dari kalangan pelajar, peneliti, dan pemerhati sejarah atau budaya. Museum merupakan salah satu objek wisata heritage yang menjadi nilai tambah dari keukatan pariwisata di Indonesia, selain wisata alam, wisata kuliner, wisata buatan lainnya. Oleh sebab itu, dalam penyelenggaraan meseum dibutuhkan sebuah strategi untuk menciptakan daya tarik pengunjung untuk datang, serta memanfaatkan berbagai sumber daya informasi yang dimiliki oleh museum untuk berbagai kepentingan. Pergeseran paradigma museum pada saat ini, menuntut pengelola museum harus menyajikan koleksi museum yang informatif, dan interaktif, serta informasi yang disajikan mesti komprehensif. Museum pada awalnya memiliki konsentrasi pada hanya sebatas pengumpulan, dan perawatan koleksi disebut juga dengan collection oriented, pada saat ini orientasi tersebut bergeser dengan fokus utama yang berorientasi pada pengunjung visitor oriented (Asmara 2019). Harapan pengunjung datang ke museum untuk memperoleh informasi mengenai berbagai benda sejarah, dan budaya masa lalu dapat dipenuhi oleh pengelola museum melalui penyediaan informasi yagn dikemas dengan baik. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) merupakan salah satu museum yang memiliki berbagai jenis koleksi sejarah dan kebudayaan di Minangkabau. Museum ini didirikan pada tahun 1988 dan diresmikan pada 19 Desember 1990 di Kota Padangpanjang, provinsi Sumatera Barat oleh Yasayan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (YDIKM) diprakarsai oleh Bustanul Arifin (mantan Menteri Koperasi Republik Indonesia pada masa orde baru), dengan bantuan Abdul Hamid. Pada saat ini, pengelolaan PDIKM telah diserahkan sepenuhnya dari YDIKM kepada Permerintah Daerah Kota Padangpanjang. Pada awalnya PDIKM berdiri dengan misi memberikan kemudahan kepada masyarakat, peneliti, dan para pelajar untuk mempelajari mengenai Minangkabau, Sumatera Barat. Oleh sebab itu, sampai saat ini PDIKM konsisten untuk mengumpulkan koleksi yang berkaitan dengan kebudayaan Minangkabau. Hal tersebut dilatarbelakangi selama ini koleksi yang memuat informasi mengenai Minangkabau lebih banyak ditemukan di Perpustakaan Leiden, Belanda sehingga untuk memperoleh infromasi tersebut membutuhkan biaya, waktu, dan serta kemampuan bahasa yang baik. Namun, tidak semua masyarakat yang mampu untuk mengakses informasi di Belanda tersebut. Hingga saat ini PDIKM telah mengimpun kurang lebih 3.000 dokumen dalam berbagai media seperti buku, kliping kora, foto serta microfilm tentang Minangkabau, dengan mayoritas berbahasa Belanda, dan tulisan Arab melayu. Bedasarkan pengamatan di lapangan, pengunjung yang datang ke PDIKM berasal dari berbagai kalangan, tidak saja dari pengunjung domestik, namun juga terdapat pengunjung mancanegara yang datang untuk memperoleh informasi di PDIKM atau sekedar berwisata dengan menikmati berbagai suguhan budaya. Bangunan PDIKM berasitektur Rumah Gadang memliki ruang pameran yang menyajikan berbagai foto dalam berbagai ukuran, dan subjek. Namun, koleksi foto pada ruang pameran baru dilengkapi dengan label foto, dan tahun pengambilan foto. Belum terdapat informasi dan deksripsi mengenai aktivitas, lokasi, dan situasi sosial demografi masyarakat, benda, atau tokoh yang terdapat pada foto tersebut. Sehingga informasi yang diperoleh pengunjung sangat terbatas, dan interpretasi terhadap photo tersebut tentu berbeda-beda seseuai dengan frame of reference dan field of experience pengunjung. Museum secara umum memiliki tujuan sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat (community education), apresiasi terhadap nilai budaya (cultural appreciation), dan menikmati kegiatan yang ada di dalamnya (Gaffar 2011). Tujuan museum sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat, museum perlu menyajikan informasi informasi yang dapat memudahkan para pengunjung untuk memperoleh informasi. Sajian paket kemas ulang informasi dapat dalam berbagai bentuk, seperti pathfinder lebih dikenal dengan istilah subject guide (Wulansari, 2017). Pemberian anotasi pada foto sejarah merupakan salah satu metode dalam penyajian informasi kepada para pengunjung museum. Kemas ulang informasi berfungsi untuk memudahkan pengguna dalam memiliki informasi; menghemat waktu, tenaga, dan biaya; sarana penyebaran informasi yang efektif dan efisien; menyediakan informasi ceara cepat dalam memenuhi kebutuhan pengguna (Fatmawati, 2009). Kemas ulang informasi di museum merupakan produk yang dibutuhkan bagi para pengunjung. Pemberian anotasi pada masingmasing foto akan mempermudah pengujung museum sebagai pengguna informasi untuk memperoleh informasi, dan efisiensi dalam penelusuran informasi. Penyajian produk informasi dengan mengaitkan dengan informasi lainnya merupakan dengan interaktif dan komunikatif dalam penyajian informasi dapat memberikan daya tarik tersendiri dalam mempelajari foto-foto sejarah yang disimpan di PDIKM. Dengan demikian, penelitian ini megungkapkan langkah-langkah yang dilakukan oleh PDIKM dalam meningkatkan daya tarik dan membantu pengunjung dalam memahami informasi yang tee. Penyajian informasi dengan kemasan storytelling, akan memberikan daya tarik pengungjung. Sehingga pengunjung dari berbagai kalangan dapat mencerna informasi pada koleksi foto di PDIKM, tidak sebatas peneliti, dan mahasiswa den gan peminatan sejarah, serta kebudayaan Minangkabau saja.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan cara observasi dan studi dokumentasi. Peneliti melakukan observasi secara langsung di PDIKM Padangpanjang, mengamati setiap situasi dan mengumpulkan berbagai informasi terkait langkah-langkah yang dilakukan oleh pengelola PDIKM dalam melakukan kemas ulang informasi. Selanjutnya peneliti melakukan studi dokumentasi dengan melakukan analisis terhadap dokumen produk kemas ulang informasi yang dihasilkan oleh PDIKM. Data yang telah diperoleh direduksi untuk dapat dianalis, dan dideskripsikan mengenai langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan foto beranotasi.
Result & Discussion
3.1 Storytelling untuk Pembelajaran Sejarah Dalam diseminasi informasi kepada seseorang maupun kelompok dibutuhkan metode dan pendekatan yang digunakan, agar komunikasi dapat berlansung dengan efektif. Storytelling merupakan metode yang efektif sebagai media edukasi, serta meningkatakan literasi dini dan keterampilan dalam memahami. Metode storytelling dapat memotivasi para pembaca, atau penulis yang paling malas sekalipun, karena kegiatan ini dilakukan dengan menghubungkan kisah dengan satu atau lebih pendengar melalui suara dan gerak tubuh (Haven e Ducey 2007). Storytelling jika dimodelkan dengan benar, dapat berfungsi sebagai teknik yang efektif untuk mengembangkan keterampilan membaca. Hal ini dimungkinkan melalui kemampuan mendongeng untuk menarik perhatian siswa, sehingga meningkatkan perkembangan rasa cerita pada peserta (Miller e Pennycuff 2008). Jalannya kegiatan storytelling bergantung pada pendengar dan penutur, strategi ini memanfaatkan unsur sosial bahasa. Para peneliti telah menemukan bahwa pengajaran keaksaraan paling efektif ketika dikembangkan melalui interaksi sosial dan kolaborasi dengan orang lain. Selain itu beberapa peneliti lain telah menemukan bahwa pembaca dan penulis yang paling lemah sering kali menjadi pihak yang paling mahir dalam bercerita. Membangun hubungan sinergistik antara bahasa secara interaktif, guru dan siswa dapat menggunakan mendongeng untuk meningkatkan pembelajaran literasi (Dugan 1997). Koleksi foto PDIKM tidak saja sebatas koleksi museum, namun dimanfaatkan sebagai media untuk pembelajaran sejarah bagi masyarakat umum, dan para generasi penerus bangsa. Untuk menimbulkan minat seseorang dalam proses pembelajaran sejarah apakah itu mendengar maupun membaca buku-buku sejarah, storytelling metode yang ampuh untuk menhindari kejenuhan karena informasi disampaikan dalam suasana, menyenangkan dan akrab. Sejalan dengan hal tesebut, Scout (1985) menjelaskan mengenai penerapan storytelling agar bisa dimanfaatkan dalam belajar sejarah dari koleksi foto-foto PDIKM maka dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama, melalui storytelling pengunjung dikenalkan dengan berbagai pengalaman cerita. Kedua, memicu daya imajinasi dan khayalan para pengunjung yang mendengar informasi yang disampaikan. Ketiga, dapat memelihara dan mendorong kemmampuan komunikasi pengunjung yaitu membaca dan mendengar. Keempat, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai peristiwa, asal usul suatu tempat, keberagaman makhluk hidup serta berbagai mitologi sesuatu. Kelima, menjadi sarana untuk mengenalkan gagasan, ide, dan metode baru ataupun sebaliknya mempertanyakan konsep yang sudah ada tanpa merugikan pihak tertentu. Keenam, dapat mengarahkan diskusi menjadi lebih menarik karena suasana yang tercipta lebih akrab dan menyenangkan. Hal ini lah yang menjadikan metode storytelling memiliki daya tarik tersendiri dalam penyampaian informasi khususnya yang berkaita dengan informasi edukatif. Peran storytelling merujuk pada pendapat Soule & Wilson (2002) untuk pembelajaran sejarah terkait dengan koleksi foto PDIKM antara lain: Menjadi media untuk penyampaian nilai dan menciptakan visi dalam mengajarkan norma serta nilainilai sosial yang berlaku pada masyarakat. Dapat mengembangkan kepercayaan diri serta membangun komitmen individu, karena melalui storytelling individu dapat berkisah mengenai pengalaman, kemampuan, dan komitmen yang dimilikinya kepada pihak lain secara terbuka dan tanpa beban. Sarana sharing pengetahuan dimana individu dapat mengartikulasikan pengetahuan tacit dan berkomunikasi dengan perasaan serta membantu mereka membagikan pengetahuan tersebut lebih baik daripada yang mereka sadari. Menjadi fasilitas bagi pihak-pihak yang termasuk pada kategori unlearning. Dongeng dapat menumbuhkan motivasi untuk anak-anak yang rendah minat belajarnya. Membangun hubungan emosional, karena melalui cerita kita dapat terhubung secara emosional dengan kondisi saat cerita itu disampaikan dan dapat diingatkan kembali pada masa yang akan datang disaat cerita tersebut kembali dikisahkan. Dari penjelasan tersebut dapat tarik benang merah yaitu implementasi storytelling yang efektif pendengar memperoleh semangat dan motivasi baru, memicu rasa ingin tahu dan menciptakan hubungan emosional karena suasana yang ditimbulkannya. Melalui penyajian informasi dengan menggunakan metode storytelling. Demikian juga halnya dengan proses pembelajaran sejarah yang harus dilakukan secara interaktif, agar peristiwa mengenai masa lalu dapat disajikan kepada generasi pada saat ini dengan bahasa yang lebih komunikatif dan informatif. Tujuan pemilihan storytelling dalam menyajikan informasi sejarah dan budaya cocok untuk generasi pada saat ini. 3.2 Rancangan Foto Beranotasi Koleksi PDIKM Hasil penelitian di lapangan menunjukkan terdapat 278 koleksi foto (tidak termasuk dengan foto yang tersimpan dalam album) yang terpajang di PDIKM. Jika dikelompokkan secara garis besar maka uraian kelompok foto tersebut antara lain: Tokoh Adat dan Budaya (44 foto), Bentang Alam (53 foto), Bangunan & Warisan Budaya Benda (86 foto), Rumah Gadang (48 foto), dan Pakaian Adat (47 foto). Untuk merancang konsep storytelling dengan foto beranotasi pada koleksi foto PDIKM Padangpanjang, maka dapat dilakukan tahapan-tahapan berikut ini. 1) Klasifikasi Secara sederhana klasifikasi dapat dipahami sebagai kegiatan untuk mengelompokkan yang sama dan memisahkan yang berbeda. Klasifikasi berasal dari bahasa Latin “classis” atau proses pengelompokkan, yang berarti mengumpulkan benda/entitas yang dan memisahkan benda/entitas yang tidak sama (Sulistyo Basuki 1991). Sebagai sebuah prosedur pegelompokkan klasifikasi pada dasarnya berarti membagi sesuatu menjadi kelompok, pengelompokan, pengurutan, pengaturan, pemesanan, pemeringkatan, dan menghubungkan satu entitas dengan entitas lainnya. Terkait dengan klasifikasi dalam kajian perpustakaan (Pandita e Singh 2012), berperan untuk membuat urutan bermanfaat dari semua materi keilmuan (pelajaran) yang terdapat di perpustakaan secara skematik dan sistematik sehingga hal yang sama dapat digunakan oleh pengguna perpustakaan dengan cara yang paling nyaman tanpa membuang banyak waktu dan energi dalam mencari dokumen. Klasifikasi membantu perpustakaan mengakomodasi semua literatur yang baru diterbitkan dalam urutan pengaturan yang sudah dibuat dalam urutan bagan klasifikasi. Bahkan sebuah dokumen yang dikembalikan dengan bantuan klasifikasi memperoleh posisi yang sama dan tempat yang sama di antara urutan dokumen yang sudah dibuat. Sesuai dengan konsep klasifikasi, maka pada tahap ini kegiatan klasifikasi dilakukan untuk mengelompokkan koleksi foto-foto PDIKM berdasarkan kesamaan subjek foto. Seperti foto Rumah Gadang di kelompokkan dengan sesama Rumah Gadang, selanjutya dikelompokkan dalam jenis-jenis Rumah Gadang sebagai sub-subjeknya seperti; Rumah Gadang Ampek Baajuang diklasifikasikan sama, sehingga tampak berbagai jenis Rumah Gadang Ampek Baajuang di berbagai daerah yang ada di Minangkabau. Demikian juga halnya dengan foto tokoh, yang dikelompokkan sesuai dengan ketokohannya, seperti tokoh yang merupakan pahlawan nasional dari Minangkabau seperti Rasuna Said, Bagindo Aziz Chad, Mohammad Yamin, atau tokoh-tokoh agama dan pendidikan yang berkontribusi secara nasional seperti Buya Hamka, pernah memimpin sekolah di Padangpanjang, Rahmah el Yunusiah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang. Pengklasifikasian foto tersebut bertujuan agar para pengunjung dapat mudah memahami dan memperoleh informasi yang terdapat di ruang pajang foto sesuai dengan subjek, bahkan hingga subsubjek dari koleksi foto tersebut. Melalui pengklasifikasian foto ini pengunjung akan memperoleh informasi yang sistematis, dan kompehensif, seperti Rumah Gadang tersebut yang dapat dibedakan hingga jenis rumah gadang, bahkan sampai melihat perbedaan lokasi Rumah Gadangnya. 2) Storyline Storyline biasanya merujuk pada plot atau garis besar dari sebuah narasi, bukan deskripsi lengkap dari suatu topik (Moezzi, Janda, e Rotmann 2017). Storyline atau alur cerita sebagai satu kesatuan yang membentuk cerita, dengan cakupan yang lebih luas. Sementara pemaparan detail berada pada narasi. Melalui penggunaan alur cerita, pemaparan cerita lebih terarah dan tersistematis sehingga hasil dari proses tersebut lebih menarik (Birks et al. 2009). Penyusunan story line koleksi foto PDIKM bertujuan agar deskripsi anotasi pada masing-masing foto lebih terarah, dan memudahkan penyusun anotasi dalam menarasikan informasi yang terkait dan berhubungan dengan masing-masing foto. Sehingga informasi yang disajikan kepada penggunjung komprehensif mengenai satu objek foto. 3) Anotasi Anotasi merupakan deskripsi singkat yang menyerupai abstrak, namun secara teknis pembudayannya tidak sama dengan abstrak. Anotasi merupakan sebuah catatan yang ditambahkan pada informasi judul atau infromasi bibliografis sebuah dokumen, dengan cara komentar atau memberikan uraian penjelasan (Sulistyo Basuki 2004). Hal tersebut berarti anotasi merupakan sebuah ringkasan tentang tentang suatu karya tulis dari sumber informasi (baik berupa buku, artikel atau karya tulis lainnya). Isi dari anotasi dapat berupa informasi, kritikan, komentar, evaluasi, ataupun narasi gambaran umum dari objek yang dibuat anotasinya. Dalam pembuatanya anotasi terdiri dari berbagai macam bentuk sesuai dengan cara pengungkapan oleh pembuat anotasi apakah ingin memberikan gambaran ringkas isi suatu sumber kepada publik atau dipaparkan dengan komentar dan kritikan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai lembaga yang diamanatkan oleh UndangUndang untuk membidani masalah perpustakaan, menjelaskan tiga bentuk anotasi (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2006), diantaranya sebagai berikut ini. 1. Anotasi komentar (comment annotation) Merupakan bentuk antotasi yang memiliki muatan informasi tentang rangkuman isi dokumen. Selain itu, antorasi komentar berisi tentang komentar yang ditulis oleh penulis anotasi terahadap objek yang dideskripsikan. 2. Anotasi kritik (critical annotation) Anotasi kritik ini merupakan jenis anotasi yang dilengkapi dengan kritikan dari pembuat anotasi. Kritikan tersebut ditujukan terhadap isi, bentuk karangan, bahasa, alur cerita serta sistematika dalam penulisan anotasi. 3. Anotasi dengan catatan isi karangan (note annotation) Anotasi dalam bentuk ini biasanya disebut dengan anotasi deskriptif, yang isinya berupa ringkasan karangan yang memuat informasi yang berkaitan dengan isi sebuah dokumen, tanpa memberikan komentar dari pembuat anotasi ataupun kritikan terhadap bentuk, isi, alur, dan sistematika. Panjang sebuah deksripsi dari sebuah anotasi tergantung pada lembaga atau institusi masingmasing yang menerbitkan anotasi tersebut. Misalnya, University of New England (UNE) menetapkan dalam pembuatan anotasi dengan paragraf tunggal jumlahnya berkisar 100-300 kata. Sementara itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membuat antoasi dengan rentangan 7-9 baris. Namun, yang paling penting informasi yang dimuat didalam anotasi proporsional, dan mencakupi isi sebuah dokumen. Dalam penyusunan anotasi koleksi foto pada ruang pajang PDIKM, dititikberatkan pada bentuk deskripsi atau anotasi catatan, hal tersebut bertujuan untuk memberikan informasi singkat dan gambaran kepada para pengunjung mengenai muatan informasi yang disajikan dalam sebuah foto, sejarah terkait dengan tahun dan peristiwa yang berkaitan dengan foto tersebut, tokoh yang terdapat pada foto, lingkungan serta berbagai alat, nilai yang terkandung pada masing-masing foto. 4) Kemas Ulang Kemas ulang informasi merupakan sebuah kegiatan yang penting dilakukan oleh pusat dokumentasi informasi, baik perpustakaan, lembaga kearsipan maupun museum. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh beragamnya kebutuhan para pengguna terhadap informasi yang dikelola oleh institusi pusdokinfo. Disamping itu, kemas ulang informasi perlu dilakukan untuk mengatasi ketidaktersediaan saluran serta format yang dapat memudahkan pengguna untuk memahami informasi tersebut dengan cepat, sehingga kebutuhan informasi pengguna dapat terpenuhi dengan efektif dan efisien. Urgensi untuk melakukan kemas ulang informasi di PDIKM Padangpanjang yaitu penyajian informasi dengan kemasan sesuai dengan kebutuhan pengunjung museum. Hal tersebut dilakukan agar, karena latar belakang pengunjung tersebut berbeda-beda baik dari latar belakang pendidikan, usia, serta pekerjaan. Pentingnya melakukan pengemasan ulang informasi (Dongardive 2013) antara lain (a) untuk menyesuaikan informasi dengan kebutuhan pengguna; (b) memfasilitasi penyebaran, pengorganisasian, dan untuk komunikasi; (c) menyederhanakan informasi yang berlebihan dan beredar; (d) memfasilitasi interaktivitas antara pengguna, basis pengetahuan dan teknologi. Sehingga, kemas ulang informasi menjadi sebuah solusi untuk dapat memenuhi berbagai informasi yang dibutuhkan pengunjung PDIKM. Informasi terkonsolidasi dalam bentuk yang lebih cocok dan dapat digunakan untuk penggunjung, meskipun tidak berlatar belakang dari sebagai peneliti sejarah. . Selanjutnya, Iwhiwhu (2008) mencatat bahwa proses pengemasan ulang informasi dimulai dengan pemilihan informasi, evaluasi konten hingga ketersediaan bahan. Penyusunan anotasi untuk koleksi foto PDKIM dengan berbagai subjek yang dilakukan pengklasifikasian berdasarkan subjek, selanjutnya disusun sesuai dengan storyline kebudayaan Minangkabau. Evaluasi terhadap foto merupakan langkah penting untuk mengalisis informasi yang disampaikan dalam bentuk visual. Sehingga informasi yang disajikan dalam paket informasi baru tidak keliru karena telah melalui tahapan klasifikasi. Penyusunan kemas ulang informasi koleksi foto di PDIKM Padangpanjang bertujuan untuk menyajikan informasi yang menarik dan komprehensif kepada para pengunjung. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Oyadonghan, Fyneman, & Eke, (2019) yang menyatakan mengenai kemas ulang informasi berarti pengemasan kembali informasi yang telah tersedia atau memperbaharui dalam format yang jauh lebih menarik agar efektif dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Dengan demikian, dapat ditarik benang merah kemas ulang informasi membutuhkan pengethuan khusus, tidak saja sabatas pada kebutuhan informasi yang dimiliki oleh pemustaka, namun juga bahan yang akan digunakan untuk memuat ulang informasi yang diformat dan pengaturan sedemikian rupa untuk untuk mendapatkan pemahaman dan daya tahan yang lebih baik. Pengemasan ulang informasi yang dilakukan di PDIKM Padangpanjang bertujuan untuk memberikan tambahan nilai pada layanan informasi yang tersedia. Hal tersebut dilakukan karena proses kemas ulang informasi yang dilakukan tidak sebatas pada analisis informasi dan konten foto saja, namun meliputi kegiatan sintesis, pengeditan, penerjemahan, dan transmisi format simbolis dan medianya. Ruang lingkup pekerjaan tersebut dilakukan agar kemas ulang informasi sekaligus memastikan materi, akurasi, ketepatan, kelengkapan, kemudahan, pemahaman dan kenyamanan penggunaan informasi. Kemas ulang informasi yang dilakukan di PDIKM Padangpanjang tidak sebatas penyusunan anotasi saja, namun juga memperhatikan bentuk media sesuai dengan kebutuhan pengguna informasi atau pengunjung PDIKM. Pemanfaatan sumber daya informasi yang dimiliki oleh PDIKM perlu dengan penyediaan alat telusur berbagai pengunjung yang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kenyamanan pengunjung. Hal tesebut dapat dilakukan seperti penyediaan katalog, running image, atau dikumpulkan dalam bentuk format CD/DVD, serta berbagai jenis media lainnya. Berikut ini tampilan koleksi foto yang disimpan pada ruang pameran PDIKM Padangpang, hanya sebatas pemberian judul foto. Tidak terdapat informasi lainnya yang mendeskripkasn mengenai foto tersebut seperti gambar 1 berikut ini. Gambar 1. Koleksi foto pada ruang pameran PDIKM (Foto: Fadli, 2019) Berikut ini bentuk kemas ulang informasi yang buat dengan menggunakan anotasi pada setiap foto, bahasa yang digunakan informasi dengan mengadopsi metode storytelling yang mengaitkan satu situasi dengan situasi lainnya yang memberikan peningkatan pemahaman pengguna informasi PDIKM. Gambar 2. Rancangan foto dengan anotasi (Foto: Fadli, 2020). Berdasarkan dua gambar tersebut, gambar 1 terdapat dua buah foto koleksi PDIKM yang terpajang di ruang pameran PDIKM saat ini telihat berbeda dengan gambar 2 merupakan rancangan foto koleksi PDIKM yang telah dilengkapi dengan antotasi. Anotasi gedung asmara Diniyah Puteri tersebut misalnya, tanpa ada anotasi para pengunjung tidak akan mengetahuu informasi terkait sejarah pendirian dan pendiri dari Diniyah Putri. Dengan demikian anotasi tersebut memberikan informasi yang komprehensif, namun ringkas mengenai gambar, sejarah, serta peristiwa atau kegiatan yang direkam oleh foto tersebut. Hal ini berarti pengunjung yang datang ke PDIKM dapat mempelajari informasi secara mandiri tanpa harus bergantung pada petugas atau pemandu museum dalam memperoleh informasi.
Conclusion
Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian dapat disimpulkan (1) storytelling dapat dilakukan untuk menjelaskan foto melalui penyusunan anotasi pada setiap foto, dan menimbulkan minat belajar sejarah; (2) anotasi foto disusun dengan tahapan klasifikasi, storyline, membuat anotasi, dan kemas ulang informasi. Dengan melakukan kemas ulang informasi tersebut memberikan kemudahan kepada pengunjung PDIKM untuk memperoleh informasi yang kompregensif, sehingga sejarah dapat dipelajari secara menarik dengan metode storytelling foto beranotasi.