Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 4 ISSN 2598-3040

Evaluasi Pemanfaatan Aplikasi Perpustakaan Digital Epusda Kabupaten Rembang Menggunakan Metode Digiqual

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang evaluasi dari pemanfaatan aplikasi perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang melalui teori DigiQUAL yang terdiri dari 12 dimensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemanfaatan aplikasiperpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang bagi masyarakat kota Rembang yang ditinjau dari metode DigiQUAL. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menganalisis tiga kategori meliputi persepsi, harapan minimum dan harapan ideal. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner secara online melalui google formulir yang disebarkan kepada responden penelitian. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai superiority gap dengan nilai negatif paling rendah berada pada dimensi accessibility, dan nilai negatif paling tinggi berada pada Digital Library as Community for Users. Sedangkan, nilai adequacy gap dengan nilai positif yang berarti nilai paling tinggi berada pada dimensi navigability, dan nilai negatif yang berarti nilai paling rendah berada pada dimensi evaluating collection. Adapun semua rata-rata dari penilaian kenyataan yang diterima lebih kecil daripada harapan ideal. Secara keseluruhan kualitas perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang berada dalam batas toleransi, Adapun pada penilaian kenyataan diterima lebih besar daripada harapan minimum terdapat dalam sebagian besar dimensi tersebut, yang berarti bahwa pengguna cukup puas dengan kualitas ePusda Kabupaten Rembang seperti dimensi Collecton Building, Resources Use, Evaluating Collection, Digital Library as Community for Users, Digital Library as Community for Developer.

Abstract

This research discusses the evaluation of the utilization of the Rembang Regency ePusda digital library application through the DigiQUAL theory which consists of 12 dimensions. The purpose of this study was to evaluate the utilization of the Rembang Regency ePusda digital library application for the people of Rembang city in terms of the DigiQUAL method. This study uses a quantitative method with a descriptive approach to analyze three categories including perceptions, minimum expectations and ideal expectations. Research data collection used an online questionnaire via Google forms which were distributed to research respondents. Sampling research using simple random sampling technique. The results showed that the value of the superiority gap with the lowest negative score was on the accessibility dimension, and the highest negative score was on the Digital Library as Community for Users. Meanwhile, the adequacy gap value with a positive value means the highest value is in the navigability dimension, and a negative value means the lowest value is in the evaluating collection dimension. As for all the average of the reality assessment received is smaller than ideal expectations. Overall the quality of the Rembang Regency ePusda digital library is within tolerance limits. As for the reality assessment, it is accepted that it is greater than the minimum expectations in most of these dimensions, which means that users are quite satisfied with the quality of the Rembang Regency ePusda such as the Collecton Building, Resources Use, Evaluating dimensions. Collection, Digital Library as Community for Users, Digital Library as Community for Developers.
Keywords: evaluation · digital library · the DigiQUAL method

Introduction

Kehadiran teknologi informasi berupa adanya genggaman gawai yang digunakan oleh masyarakat belum dapat dijadikan patokan untuk menilai kemajuan dalam kemudahan akses informasi bagi masyarakat. Oleh karenanya, menilai ketepatgunaan aplikasi-aplikasi tersebut agar sesuai dengan apa yang ditujukan menjadi urgent untuk dilakukan. Dengan kata lain, perlu dilakukan evaluasi untuk dapat mencapai keberhasilan dari pemanfaatan aplikasi. Adanya evaluasi digunakan sebagai bahan untuk menentukan penilaian dan kriteria tertentu sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dari pemanfaatan aplikasi terhadap salah satu fasilitas masyarakat yang memiliki tujuan khusus, yaitu perpustakaan digital, sebagai objek evaluasi pemanfaatan aplikasi. Perpustakaan digital menurut IFLA yakni bentuk koleksi online dengan jaminan kualitas dan kredibilitas informasi. Informasi digital yang tersedia diakumulasikan dan diproses dengan prinsip berstandar internasional dalam rangkap pengembangan dan akses koleksi yang koheren dan berkelanjutan (IFLA/UNESCO Manifesto untuk Perpustakaan Digital, 2010). Kini perpustakaan digital telah diterapkan di berbagai perpustakaan seperti perpustakan perguruan tinggi, perpustakaan khusus maupun perpustakaan umum. Penelitian ini berfokus pada perpustakaan digital di perpustakaan umum, tepatnya Perpustakaan Umum daerah Kabupaten Rembang yang memiliki perpustakaan digital bernama ePusda Kabupaten Rembang. Kini pengguna aplikasi ePusda Kabupaten Rembang pada bulan Januari 2019 - November 2022 terbilang rendah yaitu 196 pengguna, pernyataan tersebut dibuktikan dengan perbandingan penduduk Kabupaten Rembang yang berjumlah 646.477 ribu jiwa. Begitupun koleksi pada ePusda Kabupaten Rembang yang tidak sebanding dengan koleksi fisiknya, koleksi ePusda yang mencakup 718 koleksi digital, sedangkan pada perpustakaan daerah Kabupaten Rembang telah menghimpun 44 ribu koleksi. Berdasarkan observasi awal mengenai aplikasi perpustakaan digital daerah lain seperti iJepara, iPati, ePusda Kab Jombang, ePusda Kab. Gunung Kidul, ePusda Kab. Bantul, sudah mendapatkan ulasan dan rating untuk aplikasi perpustakaan digital yang dimilikinya. Bahkan pengunduh aplikasi perpustakaan digital tersebut telah mencapai 1000++ pengunduh. Sementara, aplikasi ePusda Kab Rembang ini belum mendapatkan ulasan maupun rating dari pengunduh, dan pengunduh aplikasi perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang hanya mencapai lebih dari 100++ pengunduh. Seorang pustakawan perpustakaan Kabupaten Rembang Gunawan, menyatakan bahwa aplikasi perpustakaan digital memang masih terdapat beberapa kendala seperti pengguna yang masih sedikit, koleksi digital yang belum diperbarui,beberapa koleksi yang tidak dapat dibaca, serta aplikasi yang sering eror pada saatdigunakan. Menyadari hal tersebut, seharusnya aplikasi ePusda Kabupaten Rembang dilakukan evaluasi mengidentifikasi kendala dan solusinya sehingga kualitas aplikasi dapat ditingkatkan serta memenuhi tuntutan kebermanfaatan perpustakaandigital. Fuhr dkk. (2007) (dalam Hafezi & Amanollahi, 2015) juga percaya bahwa perpustakaan digital adalah sistem informasi baru yang terus berkembang sehingga evaluasi sangat penting dalam menentukan seberapa efektif, efisien serta seberapa banyak perpustakaan digital diterima oleh pengguna. Untuk melakukan evaluasi layanan perpustakaan terdapat beberapa metode yang digunakan yaitu SERVQUAL, LibQUAL, Webqual 4.0, DigiQUAL. Penelitian ini akan dilakukan denganmenggunakan metode DigiQUAL yang diperkenalkan oleh Association Research Libraries (ARL). Hal yang mendasari penggunaan metode DigiQUAL dikarenakan metode ini digunakan untuk mengukur kualitas perpustakaan digital (Kyrillidou & Giersch, 2005). Adapun adanya pertimbangan bahwa dalam pengukuran metode DigiQUAL telah digunakan oleh beberapa peneliti dalam mengevaluasi perpustakaan digital yang sebagian besar difokuskan pada aspek kualitas layanannya (Rahimi, 2018). Pada penelitian ini, evaluasi dilakukan pada kualitas aplikasi perpustakaan digital berbasis android. Oleh karena itu metode penggunaan DigiQUAL dipilih dan diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan yakni untuk mengukur kualitas aplikasi ePusda Kabupaten Rembang. Hasil dari penilaian dimensi metode DigiQUAL tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi ePusda Kabupaten Rembang sehingga tercipta pedoman dan solusi perbaikan kendala yang diidentifikasi. 2. Landasan Teori Sebelumnya penelitian terdahulu yang bertautan dengan topik evaluasi pemanfaatan aplikasi menggunakan DigiQUAL telah dilakukan. Pada penelitian sejenis sebelumnya dijadikan sebagai penambah wawasan dalam melakukan penelitian dan menunjukkan kesenjangan dari penelitian sebelumnya. Penelitian sejenis sebelumnya yang pertama dengan judul “Evaluation of Digital Libraries of Iranian Research Institutions Based on The DigiQUAL Protocol” dengan objek penelitian nya yaitu Evaluasi perpustakaan digital dan subjeknya yaitu Lembaga Penelitian Iran. Tujuan penelitian tersebut untuk untuk mengidentifikasi situasi evaluasi perpustakaan digital Iran menggunakan protokol DigiQUAL. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu dengan studi survei evaluatif, dan menganalisisnya menggunakan metode DigiQUAL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari jumlah 8 perpustakaan digital yang diteliti diperoleh bahwa perpustakaan yang memiliki kinerja yang paling baik yakni perpustakaan digital Isfahan, dan perpustakaan yang memiliki kinerja yang paling rendah yakni perpustakaan digital Noor. Selain itu,sebagian besar perpustakaan digital yang diteliti belum mempertimbangkan adanyafasilitas komunikasi antara pengguna, pustakawan, penerbit dan pengembang.Sehubungan dengan hal tersebut, disarankan untuk menyediakan layanan yang ramah pengguna di perpustakaan digital melalui fasilitas web, seperti media sosial, untuk meningkatkan komunikasi dan kerjasama dengan pengguna. Persamaan penelitian milik Hafezi & Amanollahi (2015) dengan penelitian ini yakni pada objek penelitiannya evaluasi perpustakaan digital dan menganalisisnya menggunakan metode DigiQUAL. Sementara itu, perbedaan penelitian di atas dengan penelitianini terletak pada subjek penelitian, pada penelitian di atas yaitu Lembaga penelitian Iran, sedangkan pada penelitian ini yakni masyarakat Rembang. Selain itu tujuan penelitian pada penelitian Hafezi & Amanollahi (2015) adalah untuk untuk untuk mengidentifikasi situasi evaluasi perpustakaan digital Iran menggunakan protokol DigiQUAL, sedangkan pada penelitian ini yakni untuk mengevaluasi pemanfaatan aplikasi perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang bagi masyarakat Rembang yang ditinjau dari DigiQUAL. Metode yang digunakan pada penelitian di atas yakni studi survei evaluative dan menganalisisnya dengan metode DigiQUAL, sedangkan padapenelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Penelitian sejenis sebelumnya yang kedua dengan judul "Evaluasi Kualitas Layanan Perpustakaan Digital iJateng Menggunakan Metode DigiQUAL" milik Purwaningsih et al. (2019) Objek penelitian nya yaitu evaluasi layanan perpustakaan digital dan subjeknya yaitu pengguna iJateng. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui kualitas layanan perpustakaan digital iJateng diukur menggunakan metode DigiQUAL. Metode yang digunakan pada penelitian tersebut yakni metode kuantitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa harapan minimum terendah adalah dimensi interoperability (5,63) dimensi ini membahas kemampuan aplikasi pada perangkat yang digunakan. Harapan minimum tertinggi adalah dimensi copyright (6,21) dimensi ini mengacu pada pengelolaan hak cipta pada perpustakaan digital. Harapan sesungguhnya tertinggi adalah dimensi digital library sustainability (7,36) dimensi ini membahas mengenai pengembangan perpustakaan digital. Harapan sesungguhnya terendah adalah dimensi digital library as community for users (6,96) dimensi ini membahas adanya fitur yang memfasilitasi interaksi para pengguna. Persepsi tertinggi adalah dimensi copyright (6,8) dimensi ini membahas mengenai pengelolaan hak cipta pada perpustakaan digital. Persepsi terendah adalah dimensi interoperability (4,87) dimensi ini membahas mengenai kemampuan aplikasi pada perangkat yang digunakan. Dimensi yang dinilai sudah cukup memuaskan pengguna adalah dimensi copyright atau fitur pencarian dan untuk selebihnya kualitas layanan perpustakaan digital iJateng berada dalam zona toleransi atau masih dapat diterima oleh pengguna Persamaan penelitian milik Purwaningsih et. al dengan penelitian ini yakni pada objek penelitian yakni evaluasi perpustakaan digital, dan metode penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan DigiQUAL. Sementara itu, perbedaan penelitian di atas dengan penelitian ini pada subjek penelitian, penelitian milik Purwaningsih et. al subjek penelitiannya pengguna iJateng, sedangkan pada penelitian ini yakni masyarakat Rembang. Selain itu terdapat perbedaan pada tujuan penelitian yakni pada perpustakaan yang dijadikan penelitian, pada penelitian tersebut menggunakan perpustakaan iJateng, sedangkan penelitian ini menggunakaan ePusda Kabupaten Rembang. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi terhadap perpustakaan digital, evaluasi dilakukan dengan menggunkan metode DigiQUAL. Perpustakaan digital dapat diartikan bahwa perpustakaan digital sama halnya dengan perpustakaan biasa, pembedannya hanya pada prosedur kerja perpustakaan digital yang menggunakan basis komputer dan sumber daya digital (Hartono, 2017). Adapun menurut (Hartono, 2017) digital library merupakan aplikasi perpustakaan yang memuat koleksi digital dalam perpustakaan yang aksesnya menggunakan jaringan computer. Dari pernyataan di atas disimpulkan digital library merupakan perwujudan perpustakaan dalam bentuk modern, dengan menjadi solusi alternatif untuk menyediakan pelayanan perpustakaan bagi masyarakat, terutama pada era digital yang penuh dengan kemudahan akses. Namun perlu diingat bahwa konsep-konsep perlu direncanakan secara matang supaya digital library tepat guna. Manfaat perpustakaan digital dalam literatur (Hartono, 2017) dijabarkanbeberapa kebermanfaatan yang harus dipenuhi dari penyelenggaraan perpustakaandigital di antaranya: 1. Sebagai penghimpun dan penyedia informasi elektronik sesuai kebutuhanmasyarakat. 2. Sebagai organisator informasi. 3. Sebagai pendesiminasi koleksi digital sehingga tercipta informasi yang tepat,cepat, mudah, dan akurat. 4. Sebagai pelestari koleksi digital. 5. Sebagai regulator hak akses masyarakat terhadap informasi. Adapun kelebihan perpustakaan menurut Wahyu Supriyanto (dalam Hartono, 2017): 1. Akses jarak jauh yang mudah dan terjangkau 2. Pelestarian koleksi digital 3. Jaringan bersifat global Dari hal tersebut, bisa dilihat bahwa keunggulan perpustakaan digital jika dibandingkan dengan perpustakaan konvensional kurang lebihnya terletak pada aksesibilitas dan fleksibilitas, terutama bagi kalangan pengguna yang dapat menjelajah perpustakaan tanpa adanya batasan waktu dan hambatan yang ditemui pada perpustakaan konvensional. Dengan adanya pemanfataan aplikasi perpustkaan digital ini, sehingga perlu dilakukan untuk mengevaluasi dari pemanfaatanya. Hal tersebut diharapkan dapat mengetahui sejauh mana perpustakaan digital yang telah diciptakan dapat berkembang. Evaluasi dijabarkan kembali menjadi suatu alur kegiatan yang tersusun atas serangkaian aktivitas pengumpulan data informasi, penentuan kriteria, penilaian dan penarikankesimpulan yang selanjutnya menjadi bahan pelaksanaan keputusan (Suarta, 2017).Tujuan dari evaluasi menurut Kelsey dan Hearne dalam (Suarta, 2017) mengatakan bahwa tujuan dari pelaksanaan evaluasi adalah untuk mengukur kemajuan, kesesuaian, efektivitas, sistematika perencanaan, penilaian, titik awal, dan titik lemah dari suatu program. Program dari perpustakaan digital merupakan salah satu upaya dari peningkatan layanan perpustakaan. Dengan upaya peningkatan tersebut, perlu dilakukan evaluasi layanan dari program perpustakaan digital guna mengetahui kondisi layanan agar dapat dilakukan pengambilan tindakan selanjutnya (Purwaningsih & Dewi, 2019).Beberapa metode dapat menjadi cara evaluasi layanan, seperti SERVQUAL, Libqual, WebQual 4.0 dan DigiQUAL. Metode DigiQUAL merupakan bentuk lanjut dari metode sebelumnya, yaitu LibQUAL+, yang telah dimodifikasi sedemikian rupa (Kyrillidou & Giersch, 2005). menghasilkan DigiQUAL yang memiliki 12 dimensi kriteria penilaian di dalamnya yang terdiri dari: accessibility, navigability, interoperability, collection building, resources use, evaluating collection, digital library as community for users, digital library as community for developers, digital library as community for reviews, copyright, role of federation, dan digital library sustainability. Kriteria-kriteria di atas mengenai penilaian kualitas pelayanan perpustakaan DigiQUAL juga telah diperjelas oleh Kyrillidou & Cook (2009): 1. Accessibility, yang membahas mengenai kemudahan akses yang dinikmati oleh para pengguna saat menggunakan perpustakaan digital/ DL. Kategori ini, termasuk juga navigability, tidak hanya tentang kemudahan penggunaan aplikasi itu sendiri, tetapi juga persepsi pengguna tentang kemampuan mereka dalam menggunakan aplikasi secara mandiri, 2. Navigability, yang menjabarkan mengenai kemudahan para pengguna untuk menelusuri DL dan menemukan apa yang menjadi kebutuhan para pengguna. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kategori ini tidak hanya tentang kemudahan penggunaan aplikasi. Artinya, navigability bukan sekadar fitur dari perpustakaan digital, tetapi juga memungkinkan pengguna merasa efektif dalam memperoleh mobilitas pada aplikasi. Hal ini juga memungkinkan pengguna untuk menemukan informasi yang dibutuhkan serta membatasi pencarian ke dalam informasi yang lebih spesifik. 3. Interoperability, menyangkut kepada penilaian aplikasi berkaitan dengan perangkat yang sedang digunakan oleh pengguna, seperti kendala yang terjadi ataupun fitur-fitur pada aplikasi yang sudah dapat bekerja satu sama lainnya. 4. Collection Building, yang berkaitan dengan kemampuan DL untuk membangun sebuah koleksi. Hal ini menyangkut dengan kemampuan membangun koleksi seperti penelitian dan literatur lainnya serta pemeliharaan koleksi-koleksi tersebut, seperti halnya mengenai ketersediaan koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan dari pengguna 5. Resources Use, menyangkut kepada apakah sumber yang ada dalam DL adalah sumber-sumber yang dapat memenuhi kebutuhan para pengguna yang dinamis. Hal ini berkaitan dengan koleksi yang dapat dimanfaatkan dan diterima oleh semua kalangan. 6. Evaluating Collection, merujuk kepada kemampuan DL untuk mengumpulkan evaluasi dari para pengguna untuk masukan kedepannya, seperti adanya wadah untuk melakukan komunikasi di dalam aplikasi, sehingga aplikasi dapat mengetahui saran kritik dari penggunanya. 7. Digital Library as Community for Users, yaitu bagaimana tiap-tiap pengguna DL, pada kasus ini adalah mereka yang murni menggunakan, dapat memenuhi kebutuhan interaksi mereka dan diwadahi oleh DL. 8. Digital Library as Community for Developers, yaitu bagaimana tiap-tiap pengguna DL, pada kasus ini adalah pihak pengelola dan pengembang, dapat memenuhi kebutuhan interaksi mereka dan diwadahi oleh DL. 9. Digital Library as Community for Reviewers, yaitu bagaimana tiap-tiap pengguna DL, pada kasus ini adalah mereka yang memberikan ulasan terhadap DL, dapat memenuhi kebutuhan interaksi mereka dan diwadahi oleh DL. 10. Copyright, mengacu kepada bagaimana DL dapat mengelola hak cipta dalam DL, seperti plagiarisme dan pemberian kredit para pencipta koleksi, 11. Role of Federation, menilai bagaimana peran yang diisi oleh fitur-fitur dalam DL, meliputi alat pencarian dan berbagai fitur lainnya yang dapat menunjang kegunaan DL, dan 12. Digital Library Sustainability, membahas mengenai aspek keberlanjutan yang dimiliki oleh DL melalui berbagai upaya evaluasi dan pengembangan. Hal ini berarti apakah perpustakaan digital masih perlu untuk dikembangkan untuk kedepannya dengan adanya pertimbangan penilaian pada poin sebelumnya.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang ditekankan pada penyajian data berupa angka atau data kualitatif yang dikuantitatifkan (Hundir, 2013). Penggunaan metode kuantitatif dilakukan dengan alasan kesesuaian permasalahan penelitian, tujuan dan metode penelitian yang tepat, hasil yang diharapkan, dan sifat kelompok sasaran atau objek peneliti. Metode peneltian kuantitatif dianggap paling tepat untuk meneliti pengguna aplikasi ePusda Kabupuaten Rembang dikarenakan cara pengumpulan data yang menggunakan kuesioner dengan instrumen penelitian berupa angket. Dari hasil data tersebut akan dianalisis dan dijelaskan dalam bentuk kata-kata untuk memahami hasil evaluasi aplikasi ePusda Kabupaten Rembang. Pengertian populasi merupakan cakupan atas obyek ataupun subyek yng memiliki karakteristik tertentu, sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh sang peneliti (Darmanah, 2019). Populasi pada penelitian ini yakni jumlah dari pengguna aplikasi ePusda Kabupaten Rembang dari tahun diriliskannya yaitu Januari 2019 hingga November 2022 telah tercatat sebesar 196 pengguna. Sedangan sampel, adalah bagian dari jumlah dan karakteristik populasi (Darmanah, 2019). Terkait penentuan sampel, Suliyanto (2018) mengatakan apabila populasi penelitian berjumlah 100 orang, maka keseluruhan populasi diikutsertakan dalam penelitian, namun jika populasi jumlahnya lebih dari100 orang maka akan diambil 10 hingga 15 persen saja. Dengan itu, pengukuran sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin (Aedy, 2017). 𝑛 = 𝑁 1 + 𝑁𝑒² 𝑛 = 196 1 + 196 (10%)² 𝑛 = 196 2,96 n = 66,21 (dibulatkan menjadi 66) Keterangan: n = Total sampel N = Total populasi e² = Tingkat kesalahan sebesar 10% Dari perhitungan sampel di atas, bahwa jumlah sampel yang harus dipenuhi yaitu 66 pengguna aplikasi ePusda Kabupaten Rembang Teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan probability sampling dengan jenis simple random sampling. Simple random sampling digunakan untuk mengambil sampel tanpa adanya urutan atau acuan tertentu pada pengguna aplikasi ePusda Kabupaten Rembang yang homogen, dalam artian mengambil sebagian secara acak dari populasi yang memiliki kriteria sebagai pengguna aplikasiePusda Kabupaten Rembang untuk dijadikan sampel. Rekrutmen dalam pengambilan responden dilakukan dengan meminta data pengguna pada pihak perpustakaan Kabupaten Rembang. Kemudian peneliti memilih secara acak dari jumlah data pengguna dan menghubungi pengguna aplikasi ePusda Kabupaten Rembang untuk melakukan penyebaran kuesioner secara online melalui whatsapp. Pembuatan kuesioner pada penelitian melalui google formulir kemudian di sebarkan melalui link kepada 66 responden Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner sebagai pengambilan data penelitian ini. Kuesioner pada penelitian ini menggunakan kuesioner tertutup yang dibuat dalam bentuk pertanyaan dengan berpedoman pada aspek dalam metode DigiQUAL mencakup 12 dimensi terdiri dari accessibility, navigability, interoperability, collection building, resources use, evaluating collection, digital library as community for users, digital library as community for developers, digital library as community for reviews, copyright, role of federation, dan digital library sustainability. Kuesioner dibuat menggunakan skala likert, skala tersebut digunakan dengan cara responden dapat memilih salah satu opsi dari 9 skor untuk menjawab pertanyaan penelitian. Skor 1 mengandung makna bahwa nilai terendah dan skor 9 mengandung makna bahwa nilai tertinggi dalam penilaian. Pada kuesioner ini memuat tiga aspek penilaian yaitu harapan minimum, harapan ideal, dan kenyataan yang diterima. Masing-masing dari penilaian tersebut akan diukur dengan menggunakan skala likert. Semakin besar skor penilaian maka dimensi dinyatakan semakin baik, sebaliknya apabila skor yang diiisikan kecil maka dimenssi dinyatakan kurang baik. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yakni analisis statistik deskriptif. Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang mengandalkan deskripsi atau gambaran data yang telah terkumpul tanpa adanya tujuan untuk memberikan interpretasi dari data terkait (Muhson,2006). Penelitian ini menggunakan statistik deskriptif untuk menganalisis tiga kategori meliputi harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima dari responden terhadap layanan aplikasi berdasarkan dimensi dalam metode DigiQUAL. Ketiga kategori yakni harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima dapat dijelaskan sebagai berikut (Fatmawati, 2011): a. Kategori harapan minimum (minimum) mengacu pada penyampaian informasi oleh pemustaka mengenai tingkat pelayanan terendah yang masih dapat diterima atau ditoleransi oleh pengguna terhadap layanan perpustakaan. b. Kategori harapan ideal (desired) mengacu pada penyampaian informasi oleh pemustaka mengenai harapan yang idealnya ingin diterima oleh pemustaka terhadap layanan perpustakaan. Pelayanan yang mampu memenuhi harapan ideal pemustaka secara optimal akan menghasilkan.kepuasan pemustaka. Oleh karena itu, harapan ideal pemustaka tentu lebih tinggi nilainya daripada harapan minimum pemustaka. c. Kategori kenyataan yang diterima atau persepsi (perceived) mengacu pada penyampaian informasi oleh pemustaka mengenai kenyataan yang telah diterima oleh pemustaka dalam layanan aplikasi. Kategori-kategori tersebut nantinya akan dijadikan acuan dalam proses analisis data penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data penelitian adalah sebagai berikut (Fatmawati, 2011): 1. Menghitung skor total kenyataan yang diterima/persepsi, total skor harapan minimum, dan total skor harapan ideal dari seluruh pertanyaan. 2. Menghitung skor kenyataan yang diterima/persepsi, skor harapan minimum, dan skor harapan ideal untuk setiap butir item pertanyaan. 3. Membandingkan skor rata-rata kenyataan yang diterima/persepsi, skor rata-rata harapan minimum, dan skor rata-rata harapan ideal. Dengan demikian, akan diperoleh skor kesenjangan (gap score) untuk mengetahui kualitas layanan perpustakaan. Untuk lebih jelas, setelah analisis tersebut data juga akan digambarkan dalam bentuk diagram radar. Adapun skor kesenjangan (gap score) dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut: AG (Adequacy Gap) = P (Perceived) – M (Minimum) SG (Superiority Gap) = P (Perceived) – D (Desired) Hasil rumus tersebut, dapat dijelaskan seperti berikut: Gambar 3.1 Penentuan interpretasi dari nilai AG dan SG (Fatmawati, 2011) Pada rumus perhitungan mengenai AG dan SG tersebut terdapat 3 istilah penting, yaitu: 1. Adequacy Gap (AG), merupakan nilai selisih yang diperoleh dari skor kenyataan yang diterima/persepsi (perceived) dikurangi skor harapan minimum (minimum). Jika skor AG menunjukkan nilai positif, itu menandakan bahwa layanan yang diberikan telah melampaui atau memenuhi harapan pemustaka, sehingga pemustaka merasa "cukup puas" dengan layanan yang mereka terima. Namun, jika skor AG menunjukkan nilai negatif, itu menandakan bahwa layanan yang diberikan belum mencapai harapan pemustaka, sehingga pemustaka merasa "belum atau tidak puas" dengan layanan yang mereka terima. 2. Superiority Gap (SG), merupakan nilai selisih yang diperoleh dari kenyataan yang diterima/persepsi (perceived) dikurangi harapan ideal (desired). Jika skor SG menunjukkan nilai positif, itu menandakan bahwa layanan yang diberikan telah melebihi harapan pemustaka, sehingga pemustaka merasa "sangat puas" dengan layanan tersebut. Namun, jika skor SG menunjukkan nilai negatif, itu menandakan bahwa kualitas layanan dinilai "baik" dan berada dalam "zone of tolerance”. 3. Zone of tolerance, adalah sebuah wilayah di antara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan ideal yang diinginkan pemustaka. Persepsi pemustaka dianggap ideal ketika berada dalam wilayah ini. Zone of tolerance dapat berubah, baik meningkat maupun menurun, tergantung pada atribut-atribut layanan yang dapat dikendalikan. Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner sehingga diperlukan adanya uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas adalah tentang menggunakan data yang telah diungkapkan oleh seorang peneliti untuk mengukur keakuratan data aktual yang dihasilkan dalam objek penelitian. Untuk mengetahui validitas dari data kuesioner, maka peneliti menggunakan rumus Korelasi Produk-Moment Pearson (Pearson Product-Moment Corelation Coeficient). Untuk menentukan jumlah r tabel menggunakan cara df = (N-2) dengan keterangan N = jumlah sampel yang akan diuji (Suliyanto, 2018). Uji validitas dalam penelitian ini akan dilakukan pada 30 responden yang merupakan sampel dari populasi penelitian, maka r tabel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara df = (N-2) adalah 30-2 = 28 (Suliyanto, 2018). Nilai r tabel 28 dengan signifikan 5% yaitu 0,361. Kemudian uji validitas pada penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 25 agar efektif dan efisien. Selanjutnya setelah teruji kevalidanya, dilakukan uji reliabilitas yang mengacu pada tingkat konsistensi dan stabilitas data atau hasil. Maka, jika peneliti lain hendak mengulang penelitian terhadap objek dengan menggunakan cara serupa, maka hasil yang didapat juga serupa (Sugiyono, 2013). Pada penelitian ini pengujian reliabilitas dihitung dengan penggunaan rumus Cronbach Alpha. Adapun kriteria suatu variabel dapat dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,6 (Ghozali, 2011). Kemudian uji realibitas dilakukan denganalat bantu SPSS versi 25 sehingga hasil uji efektif dan efisien.

Result & Discussion

4.1 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Pada uji validitas ini dilakukan terhadap instrumen yang dikhususkan untuk mengetahui harapan minimum, harapan ideal, dan kenyataan yang diterima. Hasil uji validitas instrumen untuk mengukur nilai harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diteima menunjukkan bahwa semua butir pertanyaan tersebut telah terbukti valid, karena memiliki r hitung > r tabel 0,361 dengan signifikansi 5%. Sehingga instrumen untuk mengukur harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima valid dapat digunakan untuk analisis data pada penelitian. Selanjutnya pernyataan dinyatakan reliabel apabila seluruh butir pernyataan untuk mengetahui harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima dengan minimal Alpha Cronbach 0,6. Pengujian ini menyertakan 19 butir pertanyaan yang telah dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas terhadap instrumen untuk mengukur nilai harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima memiliki nilai Cronbach Alpha > α minimal 0,6 yaitu dengan nilai harapan minimun Cronbach Alpha 0,758, harapan ideal Cronbach Alpha 0,760 dan kenyataan yang diterima Cronbach Alpha 0,758. Sehingga dapat diartikan bahwa semua butir pertanyaan tersebut dinyatakan reliabel yaitu data dalam penelitian ini bersifat stabil atau konsisten meskipun dilakukan pengukuran data berulang kali hasil yang diperoleh tetap sama. 4.2 Analisis Skor Total Analisis skor total dilakukan dengan menjumlahkan skor dari penilaian, yaitu harapan minimum, harapan ideal, dan kenyataan yang diterima. Setelah jumlah total skor sudah didapatkan, langkah selanjutnya adalah perhitungan rata-rata. Tabel 1. Rata-rata Harapan Minimum, Harapan Ideal dan Kenyataan yang Diterima Harapan Minimum Harapan Ideal Kenyataan yang Diterima 4,37 7,83 5,07 Tabel 1 merupakan hasil perhitungan rata-rata harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima. Berdasarkan data yang telah diterima dari total 66 responden, menyatakan bahwa nilai tertinggi berada pada harapan ideal dengan nilai sebesar 7,83, kemudian kenyataan yang diterima sebesar 5,07 dan nilai terendah berada pada harapan minimum dengan nilai 4,37. Dari hasil data tersebut dapat dinyatakan bahwa rata-rata kenyataan yang diterima lebih besar dari ratarata harapan minimum, sehingga dapat diartikan bahwa layanan pada perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang sudah memenuhi harapan minimum dari pengguna. Sedangkan hasil dari rata-rata kenyataan yang diterima lebih kecil dari harapan ideal, dapat diartikan bahwa layanan perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang saat ini belum memenuhi harapan maksimal pengguna terhadap layanan yang telah diberikan. Tabel 2. Perolehan Adequacy Gap dan Superiority Gap Adequacy Gap (Kenyataan yang Diterima – Harapan Minimum) Superiority Gap (Kenyataan yang Diterima - Harapan Ideal) 5,07 - 4,37 = 0,70 5,07 - 7,83 = -2,76 Tabel 2 merupakan hasil dari perhitungan Adequacy Gap dan Superiority Gap. Adequacy Gap mendapat nilai positif yakni 0,70, sehingga dapat dinyatakan bahwa layanan perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang sudah memenuhi harapan minimum pengguna, yang artinya pengguna cukup puas dengan layanan yang telah diberikan. Adapun Superiority Gap mendapat nilai negative (-2,76), sehingga dapat dinyatakan bahwa layanan perpustakaan berada pada wilayah batas toleransi atau zone of tolerance, yang artinya pengguna masih dapat menerima layanan perpustakaan digital milik ePusda Kabupaten Rembang. 4.3. Analisis Berdasarkan Dimensi DigiQUAL Analisis berdasarkan dimensi DigiQUAL dilakukan dengan perhitungan pada masing-masing penilaian setiap butir pernyataan. Analisis dilakukan sesuai dengan protokol DigiQUAL akan dijabarkan secara rinci perdimensi. Berikut tabel rata-rata total penilaian dimensi dan adequacy gap, superiority gap: Tabel 3. Rata-rata Total Penilaian Dimensi dan Adequacy gap, Superiority gap No. Dimensi Harapan Minimu m Harapan Ideal Kenyataan yang Diterima Adequ acy Gap Super iority Gap 1. Accessibility 4,87 8,02 7,07 2,20 -0,95 2. Navigability 4,63 8,09 6,89 2,26 -1,20 3. Interoperability 4,91 7,86 5,79 0,88 -2,07 4. Collecton Building 4,10 7,80 3,86 -0,54 -4,18 5. Resources Use 4,12 7,85 3,92 -0,20 -3,93 6. Evaluating Collection 4,04 7,73 3,46 -0,58 -4,14 7. Digital Library as Community for Users 3,50 7,86 3,31 -0,19 -4,55 8. Digital Library as Community for Developer 3,43 7,69 3,37 -0,06 -4,32 9. Digital Library as Community for Reviews 3,46 7,51 3,51 0,05 -4,00 10. Copyright 3,80 7,75 5,78 1,98 -1,97 11. Role of Federation 4,78 7,86 5,86 1,08 -2,00 12. Digital Library Sustainbility 4,60 7,76 5,32 0,72 -2,44 Tabel 3 merupakan tabel perolehan nilai rata-rata total secara keseluruhan dimensi meliputi harapan minimum, harapan ideal dan kenyataan yang diterima serta perhitungan adequacy gap, superiority gap. Terdapat 12 dimensi beserta beberapa pertanyaan yang tercakup dalam tiap dimensinya. Dari tabel tersebut, nilai rata rata total penilaian, adequacy gap, dan superiority gap tersebut akan digunakan untuk membandingkan kualitas dari perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang dengan menggunakan diagram radar sebagai berikut: Gambar 1. Perbandingan Nilai Rata-rata Total Dimensi Gambar 1 merupakan diagram radar yang berisikan perbandingan dari setiap dimensi dalam DigiQUAL. Penyajian dengan diagram radar bertujuan untuk menyajikan data dan mengevaluasi dengan melihat perbandingan data yang ada. Di dalam diagram radar di atas, terdapat keterangan warna bahwa warna hijau menunjukkan harapan minimum, warna biru menujukkan harapan ideal dan warna kuning menunjukkan kenyataan yang diterima. Selisih antara kenyataan yang diterima dengan harapan ideal disebut sebagai nilai superiority gap. Berdasarkan diagram radar di atas dapat dinyatakan bahwa kenyataan yang diterima (warna kuning) yang paling dekat dengan harapan ideal (warna biru) yakni pada dimensi accessibility. Dimensi accessibility mendapatkan nilai negatif terendah dalam superiority gap yakni (-0,95), artinya bahwa kemampuan akses dalam aplikasi ePusda Kabupaten Rembang berada dalam zone of tolerance atau dalam batas toleransi pengguna tingkat rendah. Pengguna merasa paling rendah dalam batas toleransinya terhadap dimensi accessibility yakni pada kemudahan akses, dapat diakses setiap waktu, dan kecepatan akses yang dimiliki aplikasi perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang. Adapun kenyataan yang diterima (warna kuning) paling jauh dengan harapan ideal (warna biru) yakni pada dimensi Digital Library as Community for Users mendapatkan nilai negatif tertinggi dalam superiority gap yakni (-4,55), artinya bahwa perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang memberikan wadah interaksi bagi pengembang juga berada dalam zone of tolerance atau dalam batas toleransi pengguna tingkat tinggi. Pengguna merasa paling tinggi dalam batas toleransinya terhadap dimensi Digital Library as Community for Users yakni pada perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang memberikan wadah interaksi bagi para penggunanya. Selanjutnya selisih antara kenyataan yang diterima dengan haraapan minimum disebut sebagai nilai adequacy gap. Berdasarkan diagram radar dapat dinyatakan bahwa kenyataan yang diterima (warna kuning) yang lebih kecil dari harapan minimum (warna hijau) yakni pada dimensi evaluating collection. Dimensi evaluating collection mendapatkan nilai adequacy gap bernilai negatif yakni (-0,58), artinya bahwa dimensi yang mengukur evaluasi koleksi ePusda Kabupaten Rembang berada pada posisi terendah dalam penilaian adequacy gap. Hal tersebut menunjukan bahwa pembaruan koleksi dan fitur feedback komentar dalam aplikasi ePusda Kabupaten Rembang dianggap belum memenuhi harapan minimum pengguna. Pengguna merasa masih kurang baik terkait dimensi evaluating collection yakni pada konten atau koleksi dalamePusda KabupatenRembang selalu diperbarui dan tersedia fitur feedback yang dimiliki aplikasi masih dinilai belum puas oleh pengguna Adapun kenyataan yang diterima (warna kuning) lebih tinggi dari harapan minimum (warna hijau) yakni dimensi navigability mendapatkan nilai adequacy gap bernilai positif (2,26), artinya bahwa kemampuan navigasi pada aplikasi ePusda Kabupaten Rembang berada pada posisi tertinggi dalam penilaian adequacy gap. Hal tersebut menunjukan bahwa navigasi yang dimiliki aplikasi ePusda Kabupaten Rembang dianggap sudah memenuhi harapan minimum pengguna. Pengguna merasa sudah baik terkait dimensi navigability yakni navigasi aplikasi mampu untuk memenuhi kebutuhan pengguna ePusda Kabupaten Rembang dinilai puas olehnya.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan pada penelitian evaluasi pemanfaatan aplikasi perpustakaan digital ePusda Kabupaten Rembang dengan metode DigiQUAL terhadap 66 responden dapat ditarik simpulan bahwa nilai superiority gap dengan nilai negatif paling rendah berada pada dimensi accessibility, dan nilai negatif paling tinggi berada pada Digital Library as Community for Users. Hal tersebut berarti dimensi accessibility merupakan dimensi terbaik karena berada pada posisi paling mendekati antara kenyataan yang diterima dengan harapan ideal pengguna. Sedangkan, dimensi Digital Library as Community for Users merupakan dimensi terburuk karena berada pada posisi paling jauh antara kenyataan yang diterima dengan harapan ideal pengguna. Begitupun secara keseluruhan dimensi DigiQUAL memiliki arti yang sama karena dari hasil perhitungan nilai superiority gap semua bernilai negatif, yang membedakan hanyalah tinggi rendahnya nilai negatif tersebut. Adapun nilai adequacy gap dengan nilai positif yang berarti nilai paling tinggi berada pada dimensi navigability, dan nilai negatif yang berarti nilai paling rendah berada pada dimensi evaluating collection. Hal tersebut menunjukan bahwa dimensi navigability merupakan dimensi terbaik karena berada pada posisi kenyataan diterima lebih tinggi daripada harapan minimum. Sedangkan dimensi evaluating collection merupakan dimensi terburuk karena berada pada posisi kenyataan diterima lebih rendah daripada harapan minimum. Berdasarkan hasil penelitian ini juga dapat ditarik kesimpulan bahwa semua rata-rata dari penilaian kenyataan yang diterima lebih kecil daripada harapan ideal. Secara keseluruhan kualitas perpustakaan ePusda Kabupaten Rembang berada dalam batas toleransi, meskipun pengguna belum puas namun pengguna masih dapat menerima layanan tersebut. Adapun pada penilaian kenyataan diterima lebih besar daripada harapan minimum terdapat dalam sebagian besar dimensi tersebut, yang berarti bahwa pengguna cukup puas dengan kualitas ePusda Kabupaten Rembang meskipun masih terdapat beberapa dimensi yang dianggap pengguna kurang puas dengan kualitas ePusda Kabupaten Rembang seperti dimensi Collecton Building, Resources Use, Evaluating Collection, Digital Library as Community for Users, Digital Library as Community for Developer.