Memahami Budaya Masyarakat Pekalongan Melalui Tindak Tutur Direktif di Kampung Batik Kauman
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Budaya termanifestasi dari unsur-unsur yang sangat rumit, di antaranya ialah unsur bahasa. Unsur bahasa biasa dicirikan dari perilaku komunikatif yang digunakan oleh suatu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Karya tulis ini memaparkan tentang memahami budaya masyarakat Pekalongan melalui salah satu kajian linguistik modern yang pelik untuk dikaji, yaitu tindak tutur direktif. Pendekatan yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Data dalam karya tulis ini diambil dari percakapan pemilik rumah batik dan para pegawai pembuat batiknya. Pertama, percakapan penutur direkam dan dicatat dalam bentuk tulisan. Kemudian data yang didapat dianalisa menggunakan klasifikasi bentuk tindak tutur direktif dari Prayitno. Hasil analisis data yaitu setiap pemilik rumah batik memiliki kecenderungan tersendiri dalam memilih jenis kalimat untuk mengekspresikan bentuk tindak tutur direktif. Di rumah batik Seni Budaya, pemilik lebih sering menggunakan kalimat indirek. Di rumah batik Ratna Asih, pemilik lebih sering menggunakan kalimat direk yang terkesan to the point. Dan di rumah batik Griya Batik Mas, pemilik cenderung menggunakan kalimat indirek. Sehingga, dari observasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa budaya masyarakat Pekalongan dalam mengaplikasikan tindak tutur direktif sebagian besar menggunakan kalimat indirect yang merepresentasikan kesopanan dan egaliter. Egaliter yang dimaksud adalah saling menggunakan bahasa halus dan sopan, meskipun tindak tutur tersebut dilakukan oleh pemilik terhadap karyawan.
Abstract
Culture comprises of some complicated aspects, one of them is language. The language aspect can be recognized from the communicative pattern they used in daily life. This paper sheds light on how to recognize the culture of Pekalongan societies through one of the most rigorous theories in modern linguistics that is directive. The approach of this paper is descriptive qualitative. The data is from the conversation of the owners of Rumah Batik and their batik maker employees in the batik making process. First, the conversation was recorded and noted in a written text. Then, the data were analyzed using the directive classification pattern created by Prayitno. The result of the data analysis was the three Rumah Batik Owners had different ways to express directive. In the Rumah Batik Seni Budaya, the owner frequently used indirect speech. In the Rumah Batik Ratna Asih, the owner mostly used direct speech that was to the point. The last, in the Rumah Batik Griya Batik Mas, the owner mostly used indirect speech. Therefore, from the observation above, it was stated that most Pekalongan societies preferred to use indirect directive speech act representing well mannered and egalitarianism. The egalitarian here meant that they preferred to use gentle words to each other, even though it was between the owner and the employee
Keywords:
culture
· directive
· kampung batik kauman
· pekalongan
Introduction
Budaya merupakan hal kompleks yang menjadi ciri khas suatau masyarakat tertentu. Kompleksitas yang menyusun budaya tersebut terdiri atas adat istiadat, sistem agama, perkakas, bangunan, karya seni, pakaian, dan termasuk bahasa [Tubbs, 2005]. Bahasa mampu merespresentasikan karakteristik budaya berbahasa suatu masyarakat, termasuk di dalamnya yaitu budaya dalam memilih cara menyampaikan kalimat perintah atau kalimat yang membuat seseorang melakukan sesuatu. Apakah masyarakat dalam suatu wilayah memilih menyampaikan kalimat perintah ini dengan cara yang to the point ataukah hendak mengemasnya dengan cara lain. Dalam ilmu linguistik, kajian tersebut populer disebut sebagai tindak tutur direktif. Dalam praktik kehidupan nyata, memahami wacana lisan bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Seringkali, seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Sebaliknya, apa yang menjadi maksud sesungguhnya seseorang tidaklah dituangkan dalam kata-kata. Jones, R. (2012). Dalam kondisi tersebut, risiko “missunderstanding” di sisi pragmatik cenderung tinggi terjadi. Begitulah fenomena kebahasaan yang masih menjadi problematika dari dulu hingga saat ini. Bahasa merupakan anugerah terbesar dari Tuhan semesta alam yang digunakan manusia sebagai alat komunikasi. Dalam berkomunikasi, Manusia menggunakan tuturan-tuturan yang terkadang disertai dengan perilaku atau tindakan. Tindakan mengucapkan atau bertutur manusia ini disebut sebagai tindak tutur. Tindak tutur dapat mengandung makna tertentu yang dimanifestasikan sebagai fungsi bahasa. Salah satu fungsi bahasa ialah “directive”. Menurut Yule (2006:93) tindak tutur direktif digunakan penutur untuk membuat orang lain melakukan sesuatu. Ada beberapa kategori tindak tutur direktif, yaitu perintah, permintaan, ajakan, larangan, nasihat, dan kritikan. Prayitno (2011:42). Tulisan ini akan memaparkan bagaimana memahami budaya masyarakat Pekalongan melalui tindak tutur direktif di Kampung Batik Kauman. Kampung Batik Pekalongan dipilih karena lokasinya yang kaya akan kearifan lokal usaha-usaha produksi batik. Sehinga, kekayaan data yang tersedia sangatlah mendukung dalam ihwal pengambilan data. Kali ini penulis mengambil data pada tiga rumah produksi batik yang berbeda. Pertama yaitu rumah batik “Seni Budaya”, selanjutnya“Ratna Asih”, dan “Griya Batik Mas”. Pendekatan yang digunakan ialah Deskriptif Kualitatif. Metode ini dipilih karena berbagai alasan. Diantaranya, Deskriptif Kualitatif dapat menjelaskan sebuah kajian secara komprehensif. Kemudian, pendekatan ini mampu mendorong penjelasan yang kompresensif dan dalam. Metode yang digunakan ialah metode simak dan catat. Manfaat penelitian ini secara teoritis ialah untuk meningkatkan pemahaman tentang budaya masyarakat Pekalongan dalam tindak tutur direktif, dan meningkatkan teori-teori “speech act”, secara spesifiknya pada tindak tutur direktif. Di era modern ini, perkembangan kajian “speech act” sangat signifikan. Penemuan-penemuan teori baru dibutuhkan dalam tingkatan yang cukup tinggi. Kemudian, secara praktis, manfaat penelitian ini ialah dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pragmatik, terutama bagi para pembaca. Sehingga, tulisan ini dapat memberikan kontribusi terhadap para peneliti bahasa dan budaya, penulis kajian bahasa dan budaya, dan para praktisi pendidikan bahasa. Kajian pustaka dalam penelitian ini ialah jurnal “Kesantunan Sosiopragmatik; Studi Pemakaian Tindak Direktif di Kalangan Andik SD Berbudaya Jawa” yang ditulis oleh Prayitno (2011). Tulisan tersebut menjadi penguat karena memaparkan prosentase penggunaan jenis tindak tutur direktif. Namun, dalam hal penjabaran jenis dan klasifikasi kurang begitu komprehensif. Perbedaan kajian tersebut dengan jurnal penelitian ini terletak pada keholistikan penjabaran karakteristik tindak tutur direktif. Kajian pustaka yang kedua ialah jurnal “Model Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif Pidato Perdana Presiden Jokowi” yang ditulis oleh Yusrita Yanti (2013). Jurnal tersebut membahas tentang jenis tindak tutur direktif beserta ekspresinya, realisasi bertutur, dan tindak tutur yang mengandung unsur kekuatan sebuah pidato. Perbedaan jurnal tersebut dengan tulisan ini terletak pada spesifikasinya. Tulisan ini lebih membahsa jenis tindak tutur secara detil. Selanjutnya, kajian pustaka yang terakhir ialah buku “Semantics” karya George Yule. Buku tersebut memaparkan tindak tutur direktif secara deskriptif. Namun, pemaparan tersebut hanya bersifat “minim” dan lebih menjurus ke kajian semantik dalam ranah yang lebih luas. Perbedaan buku tersebut dengan tulisan ini terletak pada spesifikasi pembahasan yang dipaparkan. Tulisan ini membahas tindak tutur secara direktif dan observasi real yang dijadikan landasan pengambilan kesimpulan. 2. Landasan Teori Budaya merupakan suatu kaidah hidup yang selalu berkembang, pun dimiliki bersama oleh suatu kelompok atau masyarakat tertentu, dan turun temurun pada suatu generasi [Tubbs, 2005]. Budaya terbentuk dari beberapa unsur, diantaranya adat istiadat, sistem agama, perkakas, bangunan, karya seni, pakaian, dan bahasa [Tubbs, 2005]. Bahasa termasuk dalam budaya yang tidak terpisahkan dari manusia, sehingga bahasa atau karakteristik elemen bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat tertentu bisa menjadi identitas budaya pada msyarakat tersebut. Teori Speech act atau akrab disebut sebagai tindak tutur merupakan salah satu kajian dalam pragmatig modern, seperti yang telah dijelaskan oleh filsuf dari Oxford, Austen (1962) yang kemudian diperluas lagi kajiannya oleh Searle (1969). Selain murid Austen, Searle, ternyata teori ini dikembangkan pula oleh Back and Harnis (1979). Tindak tutur merupakan representasi dari fungsi bahasa. Suatu tuturan yang diucapkan selalu merepresentasikan maksud dan makna tertentu yang juga merupakan fungsi dari bahasa. Menurut Austen dan Searle, tindak tutur terklasifikasi menjadi tiga jenis, yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak tutur ilokusi dibagi menjadi lima kategori, yaitu asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Searle (melalui, Rahardi, 2002:36). Kategori tuturan tersebut masing-masing memiliki fungsi komunikatif tersendiri. Salah satunya yaitu fungsi direktif.Blum-Kulka (mellaui Prayitno, 2011:32) menyatakan bahwa tindak tutur direktif dapat diukur dan diketahui fungsinya melalui sembilan modus. Kesembilan modus itu adalah menggunakan: (a) bentuk imperatif, (b) performatif eksplisit, (c) performatif berpagar, (d) pernyataan keharusan, (e) pernyataan keinginan, (f) rumusan saran, (g) pernyataan pertanyaan, (h) isyarat kuat, dan (i) isyarat halus. Prayitno (2011) membagi klasifikasi tindak tutur direktif menjadi enam bagian. Penjelasannya dapat dilihat dari tabel 1. Tabel. 1 Tindak Tutur Direktif (Prayitno, 2011) No. Bentuk tindak tutur direktif Indikator 1. Perintah a. Tuturan bermaksud menyuruh untuk melakukan sesuatu. b. Menggunakan kata ayo, biar, coba, harap, hendaklah, hendaknya, mohon, silakan, dan tolong. 2. Permintaan a. Tuturan mengandung maksud permintaan atau perbuatan meminta kepada mitra tutur. b. Menggunakan kata tolong, coba, harap, mohon, sudilah kiranya, dapatkah seandainya, diminta dengan hormat, dan dimohon dengan sangat 3. Ajakan a. Tuturan bermaksud mengajak atau menganjurkan supaya mitra tutur berbuat sesuatu. b. Menggunakan kata ayo (yo), yuk, biar, coba, mari, harap, hendaknya, dan hendaklah 4. Larangan a. Tuturan bermaksud perintah yang melarang mitra tutur untuk melakukan atau berbuat sesuatu. b. Menggunakan kata larangan, seperti jangan. 5. Nasihat a. Tuturan bermaksud agar apa yang dituturkan oleh penutur, mitra tutur dapat percaya dan terpengaruh. b. Menggunakan kata hendaknya dan sebaiknya 6. Kritikan a. Bermaksud memberi teguran kepada mitra tutur atas tindakan yang dilakukan mitra tutur. b. Kritikan bersifat membangun.
Method
Metode pengambilan dan pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode simak dan catat. Metode simak dilakukan dengan menyimak dengan seksama apa yang dituturkan pemilik terhadap karyawan pembuat batik. Menurut Sudaryanto (1988:2) metode ini disebut sebagai metode simak karena adanya upaya menyimak dengan menggunakan bahasa. Metode simak diterapkan dalam penyimakan secara seksama terhadap bahasa yang digunakan oleh pemilik terhadap para karyawan pembuat batik. Selan itu, faktor ekstralinguistik (perilaku gerak tubuh pemilik saat bertutur) juga diamati. Pertama, peneliti tanpa terlibat percakapan menerapkan metode SLBC (simak libas bebas cakap), lalu merekam percakapan atau memvideokan percakapan. Selanjutnya peneliti mentranskrip data lisan ke dalam tulisan, dan terakhir mencatat mana-mana yang termasuk tindak tutur direktif.
Result & Discussion
Data di bawah ini merupakah hasil olahan yang hanya mencantumkan data observasi pada selasa 31 oktober 2017, dalam proses pembuatan batik di Kampung Batik Kauman. Selanjutnya, temuan yang dikaji hanyalah pembahasan tentang tindak tutur imperatif, bukan klasifikasi ragam bahasa yang digunakan secara mendetail. 4.1 Rumah Batik “Seni Budaya” Berdasarkan observasi di Rumah Batik Seni Budaya, ditemukan bentuk tindak tutur direktif berupa perintah, ajakan, dan nasihat. Jenis kalimat yang digunakan ialah kalimat direk dan indirek, namun indirek lebih dominan. Dalam praktiknya, pemilik tidak selalu menggunakan kalimat deklaratif untuk memerintahkan pegawainya, melainkan menggunakan kalimat deklaratif dan introgatif. Begitu pula dengan nasihat yang tidak selalu diungkapkan dalam kalimat deklaratif, akan tetapi juga menggunakan kalimat introgatif. Pemilik rumah batik menggunakan Bahasa Jawa Ngoko terhadap seluruh karyawannya, baik karyawan dengan usia yang lebih muda, seumuran, maupun yang lebih tua. Hal tersebut merepresentasikan hubungan dan ikatan yang telah terjalin akrab antara satu sama lain. Sebagai penguat, diinformasikan oleh pemilik rumah batik bahwa seluruh karyawannya bekerja di rumah batik Seni Budaya sudah sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Meskipun sang pemilik menggunakan Bahasa Jawa Ngoko terhadap para pembuat batik, akan tetapi pemilik sering kali memberikan nasihat bukan dengan kalimat direktif, melainkan kalimat introgatif. Kemudian, memberi perintah dengan kalimat deklaratif dan mengajak para karyawan melalui kalimat deklaratif. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bahasa Jawa Ngoko digunakan bukan untuk merepresentasikan sikap “bossy” melainkan mereka sudah sangat akrab. Tabel 2. Sampel Hasil Observasi Seni Budaya No. Bentuk tindak tutur direktif Ujaran 1. Imperatif, jenis: kalimat direk, perintah Sing abang kae jupukno, Lik Imperatif, jenis: kalimat direk, perintah Kae dipeme ndhisik kaine introgatif, jenis: kalimat indirek, perintah Lha po pa’ ngenteni udan lagi dientas kaine? (dalam posisi duduk, bermaksud meminta pembuat batik mengambil kain batik yang selesai diwarnai untuk dibawa ke dalam rumah) 2. Deklaratif, jenis: kalimat indirek, ajakan Co’e luwih apik dienteni mulak-mulak liline (dalam posisi duduk kemudian mempraktikkan melukis batik dg lilin mendidih, mengajak para pembuat batik melakukan hal yang sama) 3. Deklaratif, jenis: kalimat indirek, nasihat Co’e disikat mengisor wernone dadi luwih ayu (dengan duduk santai di kursi, di depan para pembuat batik yang duduk lesehan) introgatif, jenis: kalimat indirek, nasihat Kembangan cilik luwih apik mbok baleni ping loro po’o? ( dengan duduk santai di kursi, di depan para pembuat batik yang duduk lesehan deklaratif, jenis: kalimat indirek, nasihat Apik sing ijo. (dalam keadaan berdiri dan menunjuk pewarna hijau) 4.2 Rumah Batik “Ratna Asih” Melalui observasi di Rumah Batik Ratna Asih, ditemukan tindak tutur direktif berupa perintah dan larangan. Jenis kalimat yang digunakan ialah kalimat direk dan indirek. Namun yang paling dominan digunakan ialah kalimat direk. Dalam praktiknya, pemilik sangat sering menggunakan kalimat imperatif untuk memberi perintah dan larangan. Sehingga, percakapan pemilik rumah batik tersebut terkesan to the point dan tidak berbosabasi. Tabel 3. Sampel Hasil Observasi Ratna Asih No. Jenis Ujaran 1. Imperatif, jenis: kalimat direk, perintah Ndang ngalor sik, Yu! (sambil berdiri dan mengarahkan jari telunjuk ke arah utara) Imperatif, jenis: kalimat direk, perintah Tangan kiwomu yo diluwesno, yu! (dalam keadaan berdiri dan bermimik muka santai) 2. Imperatif, jenis: kalimat direk, larangan Ojo mbok uncalno, Yu! (dalam keadaan berdiri sambil menelungkupkan tangan di badan) 3. Imperatif, jenis: kalimat direk, larangan Orausah dipindoni, Lik! (dalam keadaan jongkok bersama para pembuat) 4.3 Rumah Batik “Griya Batik Mas” Setelah melalui proses observasi dan pengamatan yang mendalam di Rumah Batik Griya Batik Mas, ditemukan tindak tutur direktif berupa perintah, permintann dan kritikan. Jenis kalimat yang digunakan ialah kalimat direk dan indirek. Namun yang paling dominan digunakan ialah kalimat indirek. Dalam praktiknya, pemilik sangat sering menggunakan kalimat deklaratif untuk memberi perintah, mengajukan permintaan dan memberi kritikan. Pemilik Rumah Batik tersebut juga menggunakan Bahasa Jawa Krama Alus untuk berkomunikasi dengan para pegawainya. Tabel 4. Sampel Hasil Observasi Griya Batik Mas No. Jenis Ujaran 1. Deklaratif, jenis: kalimat indirek, perintah Campuran rinsonipun kirang kathat, Dhe. (Sembari mengibar-ngibarkan kipas ke wajah, bermaksud meminta pegawainya menambahkan detergen ke dalam rebusan air detergen yang mendidih) 2. Deklaratif, jenis: kalimat indirek, permintaan Co’e jenengan caket kalihan canting niku, Dhe. (Sambil menunjuk canting yang ada di sebelah salah satu pegawainya, bermaksud meminta mengambilkan canting tersebut) 3. Deklaratif, kalimat indirek, kritikan Kirang ageng gambar lurik kiwo niku co’e, Kang. (dalam keadaan duduk santai engan mimik muka tenang bijaksana)
Conclusion
Dari hasil analisis data yang didapatkan pada penelitian ini, dapat ditarik keseimpulan bahwa setiap pemilik rumah batik memiliki kecenderungan tersendiri dalam memilih jenis kalimat untuk mengekspresikan bentuk tindak tutur direktif. Di rumah batik Seni Budaya, pemilik lebih sering menggunakan kalimat indirek. Di rumah batik Ratna Asih, pemilik lebih sering menggunakan kalimat direk yang terkesan gamblang dan to the point. Kemudian, di rumah batik Griya Batik Mas pemilik cenderung menggunakan kalimat indirek. Sehingga, dari observasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa budaya masyarakat Pekalongan dalam mengaplikasikan tindak tutur direktif sebagian besar menggunakan kalimat indirect yang merepresentasikan kesopanan dan egaliter. Egaliter yang dimaksud adalah saling menggunakan bahasa halus dan sopan, meskipun tindak tutur tersebut dilakukan oleh pemilik terhadap karyawan. Pemilihan bentuk tindak tutur indirect seperti demikian terbilang jarang ditemukan, terlebih di dunia modern seperti saat ini, khususnya di kalangan masyarakat kota. Sebagian besar masyarakat memilih menggunakan kalimat direk dan cenderung bossy saat berkomunikasi dengan pegawai. Bahkan bukan hanya pada ranah bos dan pegawai, melainkan antara sesama masyarakat dalam kegiatan seharharipun manusia modern lebih sering menggunakan kalimat direk dalam meminta seseorang melakukan sesuatu. Bukan berarti kalimat direk dinilai negatif, baik kalimat yang digunakan merupakan direk atau indirek semuanya baik sesuai situasi masing-masing. Namun, budaya yang ditemukan pada masyarakat di Kampung Batik Pekalongan ini cukup unik dan epic. Mayoritas masyarakat lebih memilih menggunakan kalimat indirek yang mengandung sense santun dan halus terhadap sesama ini mencerminkan budaya unggah-ungguh Jawa. Tentu seyogyanya budaya demikian ini patut kita uri-uri dan implementasikan juga agar tetap menjadi suatu kearifan lokal budaya yang tidak tergerus oleh modernisme yang membuat manusia lupa akan budayanya.