Hubungan Perilaku Pencarian Informasi dengan Pengalaman Sebagai Anggota Pramuka
Universitas Pamulang; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku pencarian informasi dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis korelasi Rank Spearman. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan studi pustaka. Adapun populasi dari penelitian ini adalah anggota Gerakan Pramuka UIN SGD Bandung dari angkatan 2015, 2016 dan 2017 dengan jumlah 313 orang, sedangkan sampel pada penelitian ini sebanyak 76 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik simple random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara perilaku pencarian informasi dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka, dengan koefisien korelasi 0,507 dengan tingkat hubungan moderat.
Abstract
The aim of this research is to understand the relationship between the information seeking behavior and experience gained by scout members. Methods this study used a quantitative approach with an analysis of the correlation of Spearman Rank. Data collection techniques in the study using questionnaires and study of the literature. As for the population of this research is a member of the scouting movement UIN SGD Bandung from the 2015, 2016 and 2017 with a total of 313 people, whereas the samples on this research as many as 76 people. The sampling technique used in this study is simple random sampling technique. The results of this research show that there is a positive relationship between information seeking behavior with experience gained by Scouts members, with the correlation coefficient 0.507 with a moderate level of relationship.
Keywords:
information seeking behavior
· scouting
· scout members
· experience
Introduction
Informasi merupakan sebuah kebutuhan primer bagi hampir setiap orang pada era modern ini. Tidak hanya itu, menurut Postman dalam Koswara (1998:120) menyebutkan bahwa informasi sekarang ini layaknya suatu komoditas yang dapat diperjual belikan, dipakai sebagai hiburan, ataupun dikenakan seperti pakaian untuk meningkatkan status. Perkembangan bentuk maupun cara mendapatkan informasi terjadi sangat cepat hal tersebut dikarenakan perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih, dengan adanya teknologi tersebut informasi dapat diperoleh oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja tanpa ada batasan ruang dan waktu. Saat ini semua orang membutuhkan informasi, baik dilihat dari tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status dan latar belakang tidak akan bisa melepaskan diri dari pegaruh dan peran informasi. Untuk mendapatkan informasi tersebut setiap individu mempunyai cara yang berbeda-beda, mulai dari bertanya, berdiskusi, membaca buku, menelusuri internet dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang dalam proses kehidupannya membutuhkan informasi yang sesuai dengan tugas-tugas dalam seluruh aspek kehidupannya, informasi yang sesuai dengan tuntutan hasrat untuk memenuhi kebutuhan yang selalu berkembang dan sejalan dengan perkembangan kehidupannya (Yusup, 1995:3). Kebutuhan akan informasi muncul ketika seseorang menyadari bahwa mereka tidak memiliki atau kekurangan pengetahuan atau pemahaman untuk mencapai tujuan, menjawab pertanyaan, dan sebagainya (Batley, 2007:19). Proses pencarian informasi merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan informasi yang muncul akibat adanya kesenjangan pengetahuan yang ada dalam diri seseorang. Kebutuhan informasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai motif, menurut Yusup dan Subekti (2010:86) manusia mempunyai berbagai macam motif dan cara dalam memanfaatkan informasi. Selain itu, menurut Belkin dan Vickery (1985) kebutuhan informasi dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, antara lain latar belakang sosial, budaya, pendidikan, tujuan yang ada dalam seseorang serta lingkungan sosialnya. Dikaitkan dengan kebutuhan informasi oleh seorang individu dalam upaya pengembangan diri, maka seorang individu akan berusaha memilih media komunikasi yang akan digunakan sebagai saluran untuk mencari dan memenuhi kebutuhan informasinya (Yusup dan Subekti, 2010:90). Manusia akan menunjukkan proses pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhan informasinya melalui media-media informasi. Dalam proses pencarian informasi tersebut setiap individu memiliki perilaku pencarian informasi dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Perilaku pencarian informasi menurut Ellis dkk., (1993:356) memiliki delapan tahapan penemuan informasi yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending. Menurut Wilson dalam Yusup dan Subekti (2010:100), perilaku pencarian informasi merupakan keseluruhan kegiatan dan perilaku manusia yang berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian dan penggunaan informasi baik secara aktif maupun pasif. Secara arti sempit perilaku pencarian informasi adalah kegiatan seseorang yang dilakukan untuk memperoleh informasi guna memenuhi kebutuhannya. Ketika membutuhkan informasi, anggota Gerakan Pramuka pun menunjukkan perilaku pencarian informasinya dengan mencari dari berbagai sumber. Karena zaman semakin berkembang, para anggota Pramuka pun mengikuti perkembangan zaman tersebut dengan menggunakan teknologi informasi sebagai sumber informasinya untuk berdiskusi. Menurut Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (2019), dalam AD/ART Gerakan Pramuka Pasal 10 metode belajar kepramukaan bersifat interaktif dan progresif, kegiatan pramuka dapat dilaksanakan di alam terbuka tentunya masih dalam pengawasan Pramuka dewasa (usia 26 tahun ke atas). Harapannya dengan melaksanakan kegiatan di luar ruangan atau di alam terbuka, pikiran para anggota Pramuka lebih luas dan tidak mudah bosan ketika melaksanakan kegiatan kepramukaan. Para anggota Pramuka biasanya belajar teori di dalam ruangan sedangkan di luar ruangan atau di alam terbuka merupakan media untuk menerapkan teori yang telah dipelajari selama di dalam ruangan. Penerapan teori tersebut memberikan pengalaman yang berarti bagi para anggota Pramuka dan pengalaman tersebut berguna untuk di kehidupan selanjutnya. Pengalaman memang sangat mudah untuk dicapai, setiap orang bisa merasakan atau mendapatkan pengalaman terlebih pada anggota pramuka selama beraktivitas dalam berorganisasi. Menurut Siagian (2008:60), pengalaman adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dilakukannya dalam perjalanan hidupnya. Selain berguna untuk dirinya, pengalaman yang dialaminya akan berguna sebagai pedoman bagi orang lain jika ia memberikan atau menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Sebagai mana yang dijelaskan oleh Notoatmojo dalam Laily (2016:11) pengalaman yang terjadi dapat diberikan kepada siapa saja untuk digunakan dan menjadi pedoman serta pembelajaran manusia. Pengalaman manusia terus bertambah dan tumbuh seiring dengan bertambahnya umur, kesempatan, dan tingkat kedewasaan manusia dan bertambah kompleks seiring berjalannya waktu. Bertambahnya pengalaman yang dialami manusia tidak sekedar menjadi tumpukan pengalaman demi pengalaman yang lepas, tetapi dapat terjadi suatu perpaduan yang memperkaya dan menumbuhkan pribadi yang mengalami, walau hal itu tidak terjadi begitu saja. Seorang tokoh filsafat pragmatis yang bernama John Dewey membuat konsep pendidikan yang berbasis pengalaman, menurutnya pendidikan berbasis pengalaman adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan pada peserta didik yang menjadikan pengalaman sebagai sarana, media sekaligus sebagai tujuan (Dewey dalam Musta’in, 2016:12). Seperti halnya Gerakan Pramuka lainnya, Gerakan Pramuka yang berpangkalan di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (Pramuka UIN SGD Bandung) adalah salah satu organisasi Gerakan Pramuka yang mempunyai beragam kegiatan yang positif, bermanfaat dan tentunya memberikan pengalaman bagi yang mengikutinya. Pramuka UIN SGD Bandung selain memiliki berbagai prestasi, Gerakan Pramuka UIN SGD Bandung ini juga sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan mulai dari tingkat ranting hingga tingkat nasional. Pada tahun 2018 kemarin, beberapa anggota unit Protokolnya diamanahi tugas dalam rangka peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-73 tingkat Nasional di Istana Negara. Hal tersebut memungkinkan mereka dalam melakukan berbagai aktivitas itu selalu mencari informasi guna mengembangkan kebutuhan pengembangan dirinya sebagai anggota Pramuka, oleh karena itu saya tertarik bagaimana perilaku mereka dalam memenuhi kebutuhan informasinya guna menambah pengalaman dalam berorganisasi khususnya organisasi Pramuka. Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku pencarian informasi dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka berdasarkan teori Ellis dkk., (1993:356) dan teori Siagian (2008:60). Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu informasi dan perpustakaan khususnya kajian perilaku pencarian informasi dan menjadi referensi bagi penelitian yang sejenis. Manfaat praktis, bagi penulis menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai segala hal yang terjadi di lapangan khususnya di tempat penelitian serta menjadi ajang penerapan teori-teori yang diperoleh selama perkuliahan. Bagi Gerakan Pramuka diharapkan menjadi masukan, evaluasi bagi penyelenggara pendidikan kepramukaan supaya bisa memperhatikan kebutuhan informasi dan perikau peserta didik dalam pencarian informasi. Bagi masyarakat, diharapkan dapat menjadi bahan bacaan yang menambah pengetahuan dan wawasan mengenai perilaku pencarian informasi khususnya yang terkait dengan anggota Pramuka. Bagi pustakawan, agar selalu memperhatikan kesesuaian informasi yang dibutuhkan dengan latar belakangnya pemustaka. 2. Landasan Teori Informasi pada dasarnya adalah beberapa kumpulan data yang telah diolah dan disebarluaskan dengan harapan bisa mendukung seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Secara umum informasi dapat diartikan data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna baik dalam bentuk pengetahuan atau keterangan yang sudah ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, yang berguna untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Dalam informasi terkandung makna antara lain data, fakta, ataupun hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Menurut Estabrook dalam Yusup dan Subekti (2010:1) informasi adalah suatu rekaman fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusan-putusan yang dibuat. Akan tetapi jika rekaman fenomena tersebut hanya diketahui oleh kita dan tidak disebarkan dalam bentuk lisan maka hal tersebut bukanlah suatu informasi bagi orang lain. Berbeda dengan McLeod dalam Yakub (2012:8) menurutnya informasi adalah: Data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan berarti bagi yang menerimanya. Informasi pada dasarnya merupakan data yang telah diproses sedemikian rupa yang mengalami beberapa proses demi terciptanya informasi sehingga hasil akhir dari informasi ini berguna untuk meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan informasi tersebut. Informasi ini dapat berbentuk data mentah, data tersusun, kapasitas sebuah saluran informasi, dan sebagainya. Berikut merupakan gambaran mengenai pemrosesan data: (Sumber: Kadir, 2003:31) Gambar 1. Pemrosesan Data Menjadi Informasi Gambar tersebut menjelaskan bahwa terbentuknya suatu informasi sebelum sampai ke tangan yang membutuhkannya mengalami proses terlebih dahulu. Data yang dimiliki oleh pemakai akan diproses dalam database dengan cara pemilihan atau penyeleksian yang bertujuan untuk membedakan data yang berguna, data yang lengkap dan sebagainya untuk kemudian output dari proses tersebut disajikan kepada pemakai. Menurut Davis (2002:28), informasi merupakan sebuah kumpulan data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam rangka pengambilan keputusan saat ini atau mendatang. Maka dari itu supaya informasi dapat berguna, informasi harus melalui pengelolaan terlebih dahulu. Beberapa definisi di atas lebih menitik beratkan informasi merupakan kumpulan data, fakta dan juga fenomena yang didasarkan oleh penerimaan panca indera manusia, informasi yang berisi fakta dan fenomena tersebut dihimpun atau diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa maupun kata yang kedepannya akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Suatu fenomena jika hanya disimpan oleh yang mengetahui fenomena tersebut maka tidak akan menjadi informasi, namun jika fenomena tersebut disebarluaskan oleh orang yang mengetahuinya kepada orang lain maka akan terjadi suatu pembentukan informasi. Seiring berkembangnya zaman, kebutuhan akan informasi terus meningkat hal tersebut mengakibatkan banyaknya tuntutan seseorang terhadap informasi, diantaranya seseorang menginginkan informasi tersebut akurat, relevan ekonomis, cepat, tepat serta mudah dalam mendapatkannya. Sehingga apabila seseorang berada dalam suatu bidang tertentu, maka fungsi informasinya akan berkembang sesuai dengan bidang yang sedang dia geluti, hal tersebut terjadi karena kebutuhan akan informasi setiap orang berbeda-beda. Namun setidaknya menurut Yusup dan Subekti (2010:11) fungsi informasi yang utama adalah: “Sebagai data dan fakta yang sanggup membuktikan adanya suatu kebenaran, sebagai penjelas halhal yang sebelumnya masih meragukan, sebagai prediksi untuk peristiwa-peristiwa yang mungkin akan terjadi pada masa yang akan datang. Kenyataannya informasi itu banyak fungsinya, tidak terbatas satu bidang atau aspek saja, akan tetapi menyeluruh, hanya bobot dan manfaatnya saja yang berbeda disesuaikan dengan kondisi yang membutuhkannya.” Ketika seseorang ingin mendapatkan informasi guna memenuhi kebutuhan informasinya, mereka akan membutuhkan sumber informasi. Menurut Yusup dan Subekti (2010:12), pada dasarnya, sumber informasi sebenarnya dapat ditemukan di mana saja. Baik itu di pasar, sekolah, rumah, buku-buku, majalah, surat kabar, lembaga-lembaga suatu organisasi komersial, perpustakaan, dan sebagainya. Dengan kata lain, di manapun suatu benda atau peristiwa berada dan bagaimanapun bentuknya, semua itu akan dapat menjadi suatu informasi tertentu, yang kemudian dapat direkam dan disimpan jika diperlukan, baik dalam media cetak maupun media elektronik. Setiarso dan Triyono (1997:5) menyatakan bahwa sumber informasi juga terdapat pada beberapa objek sebagai berikut: 1. Manusia sebagai sumber informasi dapat di baik secara lisan maupun tertulis. Yang lazim digunakan untuk sumber ini adalah pertemuan secara langsung, seperti dalam bentuk ceramah, konferensi, seminar, ataupun melalui obrolan santai, dan lain-lain. 2. Organisasi, badan atau lembaga penelitian baik pemerintah maupun swasta yang bergerak dalam bidang sejenis merupakan sumber informasi penting. Mereka memiliki kapasitas atau kemampuan karena mempunyai fasilitas seperti tenaga peneliti, peralatan dan laboratorium, perpustakaan, dan jasa informasi lainnya. 3. Literatur terbagi menjadi 2 bentuk, yaitu: a. Literatur primer, merupakan bentuk dokumen yang memuat karangan lengkap dan asli. Bentuknya berupa makalah, koleksi karya ilmiah, buku pedoman, buku teks, publikasi resmi, terbitan berkala, dan sebagainya. b. Literatur sekunder, disebut juga sebagai sarana dalam penemuan informasi pada literatur primer. Bentuknya berupa indeks, bibliografi, daftar pustaka, abstrak, tinjauan literatur, katalog induk dan sebagainya. Perilaku Pencarian Informasi dan Pengalaman Perilaku pencarian informasi menurut Faturrahman (2016) berdasarkan model Johnson terkait dengan pengalaman langsung seseorang mempengaruhi akan keperluan informasi. Pengalaman langsung tersebut contohnya penderita penyakit kanker terdorong untuk mencari informasi-informasi mengenai kanker. Salah satu faktor tersebut terciptalah kebutuhan informasi yang menghasilkan suatu tindakan pencarian informasi. Selian itu terkait kajian yang dilakukan oleh Winarsih dan Ati (2013) dengan menggunakan model Ellis terlihat dalam mencari informasi yang dibutuhkan, setiap taruna memiliki perilaku yang berbeda-beda. Hal ini didasarkan atas kebutuhan, tingkat pengetahuan, dan pengalaman taruna pada saat mencari informasi yang dibutuhkan. Hal ini menunjukkan pengalaman seseorang sangat mempengaruhi perilaku pencarian informasi. Selain itu model perilaku pencarian informasi yang dikemukakan Kuhlthau (2000) pada tahap inisiasi seseorang dalam menyelesaikan permasalahan dalam proses pencarian informasi menggunakan pengalaman yang pernah dilakukan oleh dirinya untuk mengatasi masalah tersebut. Hal ini juga dikuatkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Kurniawan (2015) yang menunjukkan bahwa pengalaman seseorang berpengaruh pada tahap inisiasi dalam proses pencarian informasi. Kebutuhan dan pencarian informasi ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Segala aspek kehidupan manusia pasti berkaitan dengan informasi, karena kebutuhan informasi selalu ada dalam diri manusia. Pemakai, kebutuhan, sumber yang digunakan dan pemanfaatan informasi merupakan hal yang sangat berkaitan dengan perilaku pencarian informasi. Perilaku manusia merupakan segala tingkah laku manusia yang terjadi berdasarkan atas kesadaran diri dan kebutuhan yang berkaitan dengan keterlibatan informasi. Menurut Yusup dan Subekti (2010:100) komponen perilaku terdiri dari motivasi, cara berfikir, cara cara bertindak dan cara berinterksi. Perilaku manusia dipengaruhi oleh motif dan sikapnya atas suatu fenomena atau gejala sosial. Perilaku seseorang akan berbeda satu sama lainnya ketika berhadapan dengan objek atau peristiwa tertentu. Wilson dalam Yusup dan Subekti (2010:100) memaparkan pandangannya mengenai perilaku informasi sebagai berikut: a. Perilaku informasi (information behavior) merupakan keseluruhan perilaku manusia berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian dan penggunaan informasi baik secara aktif maupun pasif. b. Perilaku penemuan informasi (information seeking behavior) merupakan upaya menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam upaya ini, seseorang dapat saja berinteraksi dengan sistem informasi hastawi (misalnya, surat kabar, majalah, perpustakaan), atau yang berbasis komputer. c. Perilaku pencarian informasi (information searching behavior) merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Perilaku ini terdiri atas berbagai bentuk interaksi dengan sistem, baik ditingkat interaksi dengan komputer (misalnya penggunaan mouse atau tindakan mengklik sebuah link), maupun ditingkat intelektual dan mental (misalnya penggunaan strategi Boolean atau keputusan memilih buku yang paling relevan diantara deretan buku di perpustakaan). d. Perilaku penggunaan informasi (information user behavior) terdiri dari tindakan-tindakan baik secara fisik dn mental yang dilakukan seseorang dalam menemukan informasi untuk digabungkan dengan pengetahuan dasar yang telah dimiliki sebelumnya. Ellis (1987) mengemukakan teori dari penelitiannya yang diberi nama behavioral model of information seeking strategies. Ia mengembangkan teori perilaku pencarian informasi yang dikaitkan langsung dengan information retrieval system. Ellis mengadakan penelitian di kalangan para ilmuwan yang sedang melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka, yaitu mencari sumber bacaan, meneliti di lapangan atau di laboratorium, menulis makalah, mengajar, dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu adalah sebuah teori untuk menjelaskan perilaku informasi secara umum dalam bentuk serangakaian kegiatan yang terdiri dari enam tahap yaitu: starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracing. Kemudian pada tahun 1993 model ini dikembangkan Ellis bersama dengan Cox dan Hall dengan membandingkan perilaku penemuan informasi peneliti bidang ilmu sosial dengan peneliti bidang fisika dan kimia sehingga melahirkan delapan tahapan penemuan informasi yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending (Ellis dkk., 1993:356). Berikut ini kedelapan tahapan penemuan informasi (Ellis dkk., 1993:356): a. Starting, merupakan titik awal penemuan informasi atau pengenalan awal terhadap rujukan. b. Chaining, diidentifikasikan sebagai hal yang penting pada perilaku penemuan informasi. Kegiatan ini ditandai dengan mengikuti mata rantai atau mengaitkan daftar literatur pada rujukan inti. c. Browsing, merupakan kegiatan yang ditandai dengan kegiatan penemuan informasi dengan cara penelusuran semi terstruktur karena telah mengarah pada bidang yang diamati. Kegiatan pada tahap ini efektif untuk mengetahui sumber-sumber yang menjadi sasaran potensial untuk ditelusuri. d. Differentiating, merupakan kegiatan membedakan sumber informasi untuk menyaring informasi berdasarkan sifat kualitas rujukan. e. Monitoring, merupakan kegiatan memantau perkembangan yang terjadi terutama dalam bidang yang diminati dengan cara mengikuti sumber secara teratur. f. Extracting, aktivitas yang berhubungan dengan melanjutkan pencarian dengan menggali lebih dalam sumber informasi dan mengidentifikasi relevansi materi yang ada dengan selektif. g. Verifying, ditandai dengan kegiatan pengecekan atau penilaian terhadap informasi, apakah informasi yang didapat telah sesuai atau tepat dengan yang diinginkan. h. Ending, tahap akhir ini ditandai dengan pemanfaatan informasi yang telah diperoleh, kepuasan yang diterima setelah memanfaatkan informasi, dan terpenuhinya kebutuhan informasi. Pada tahapan ini juga merupakan tahapan akhir, dimana seseorang melakukan diskusi bersama pihak lain yang dianggap lebih mengetahui informasi yang dikaji guna dalam menentukan informasi mana yang bisa digunakan. (Sumber: Ellis, dkk., dalam Herlina, 2015:195) Gambar 2. Model Perilaku Pencarian Informasi Ellis, dkk. Menurut Siagian (2008:60) pengalaman adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dilakukannya dalam perjalanan hidupnya. Upaya mengambil pelajaran tersebut nantinya membuat seseorang menjadi tahu kemudian dari hasil tahu tersebut menghasilkan pengetahuan. Defenisi lain Sudarminta dalam Musta’in (2016) menyebutkan bahwa pengalaman merupakan keseluruhan kegiatan dan hasil yang kompleks serta bersegi banyak dari interaksi aktif manusia, sebagai makhluk hidup yang sadar dan bertumbuh, dengan lingkungannya yang terus berubah dalam perjalanan sejarah. Selain berguna untuk dirinya, pengalaman yang dialaminya akan berguna sebagai pedoman bagi orang lain jika ia memberikan atau menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Sebagai mana yang dijelaskan oleh Notoatmojo dalam Laily (2016:11), pengalaman yang terjadi dapat diberikan kepada siapa saja untuk digunakan dan menjadi pedoman serta pembelajaran manusia. Pengalaman manusia terus bertambah dan tumbuh seiring dengan bertambahnya umur, kesempatan, dan tingkat kedewasaan manusia dan bertambah kompleks seiring berjalannya waktu. Bertambahnya pengalaman yang dialami manusia tidak sekedar menjadi tumpukan pengalaman demi pengalaman yang lepas, tetapi dapat terjadi suatu perpaduan yang memperkaya dan menumbuhkan pribadi yang mengalami, meskipun hal tersebut tidak terjadi begitu saja. Seorang tokoh filsafat pragmatis yang bernama John Dewey bahkan membuat konsep pendidikan yang berbasis pengalaman, menurutnya pendidikan berbasis pengalaman adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan pada peserta didik yang menjadikan pengalaman sebagai sarana, media sekaligus sebagai tujuan (Dewey dalam Musta’in, 2016:12). Hal ini juga berlaku dalam Gerakan Pramuka melalui kegiatan kepramukaan proses pendidikan bagi para anggota pramuka sebagai peserta didik. Seperti yang dinyatakan oleh Anggadiredja dkk. (2011:19) bahwa: Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan sepanjang hayat yang berkesinambungan bagi peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kepramukaan juga dapat didefinisikan sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan bagi remaja maupun pemuda dimanapun, kapanpun, sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, serta memberikan darma dan bakti sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Kepramukaan ialah proses pendidikan di luar sekolah dan keluarga dalam bentuk kegiatan yang dilaksanakan di alam terbuka, kapanpun, di manapun serta di dalamnya terdapat kegiatan yang menarik dan menyenangkan, menangtang, yang mengajarkan tentang tanggung jawab, kedisiplinan. Pelaksanaan kegiatan didasarkan pada Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan, kepentingan dan perkembangan masyarakat sekitar dan bangsa Indonesia. Menurut Undang-undang Gerakan Pramuka No. 12 tahun 2010 (Bab I Pasal 1) Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Gerakan Pramuka merupakan wadah bagi anggota Pramuka di Indonesia. Gerakan Pramuka merupakan satu-satunya wadah (organisasi) berbadan hukum yang berhak menyelenggarakan kepramukaan di Indonesia. Pramuka adalah sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka yang berusia antara 7-25 tahun dan berkedudukan sebagai peserta didik, yaitu Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega. Peserta didik yang di maksud adalah terdiri dari: a. Pramuka siaga, berusia 7 sampai dengan 10 tahun; b. Pramuka penggalang, berusia 11 sampai dengan 15 tahun; c. Pramuka penegak, berusia 16 sampai dengan 20 tahun; dan d. Pramuka pandega, berusia 21 sampai dengan 25 tahun. (Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2014:37) Selain peserta didik, dalam Gerakan Pramuka juga ada yang disebut tenaga pendidik. Tenaga pendidik biasanya berasal dari golongan anggota dewasa atau anggota Gerakan Pramuka yang berusia di atas 25 tahun. Tenaga pendidik terdiri atas: Pembina pramuka; Pelatih pembina pramuka; Pamong satuan karya pramuka adalah anggota dewasa Gerakan; dan Instruktur (Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2014:38). Sehingga berbagai aktivitas kepramukaan yang dilakukan oleh anggota pramuka menjadikan sebuah pengalaman guna mendukung proses pembentukan kecakapan peserta didik yang menjadikan pengalaman sebagai sarana, media sekaligus sebagai tujuan pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang digunakan pada penelitian ini, sedangkan metode pada penelitian ini menggunakan korelasional yang merupakan kelanjutan dari metode deskriptif. Metode korelasi bertujuan untuk meneliti sejauh mana variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lainnya. Ketika uji korelasinya hanya dua variabel yang dihubungkan satu sama lain, maka korelasinya disebut korelasi sederhana (simple correlation), sedangkan jika uji korelasinya lebih dari dua variabel yang dihubungkan, maka disebut korelasi ganda (multiple correlation) (Rakhmat, 2007:27). Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi pada penelitian ini merupakan anggota Gerakan Pramuka UIN SGD Bandung dari angkatan 2015, 2016 dan 2017 dengan jumlah populasi 313 orang dan sampel sebanyak 76 responden. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah dengan teknik Simple Random Sampling (pengambilan sampel secara acak) karena teknik ini tanpa memperhatikan strata yang ada didalam populasi tersebut. Menurut Sugiyono (2015:82), simple random sampling merupakan bagian dari probability sampling (sampling peluang), yang mana pengertian probability sampling itu sendiri merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Untuk mengetahui jumlah sampel yang dicari, jumlah populasi yang diketahui dapat diolah dengan rumus yang dikemukakan oleh Yamane dalam Bungin (2005:105): n= N Nd²+1 keterangan: n = jumlah sampel N = jumlah populasi d = tingkat perkiraan kesalahan 10%, derajat kepercayaan 90% n= 313 313 (0,1)²+1 n= 313 313 (0,01)+1 n= 313 4,13 n= 75,78 76 orang Setelah diketahui jumlah sampelnya, selanjutnya peneliti menentukan sampel/responden terpilih yang akan dimasukkan ke dalam kerangka sampling dengan menggunakan software komputer bernama MINITAB versi 17. Jenis dan Sumber Data Pada penelitian ini terdapat 2 data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh melalui studi pustaka yang berasal dari sumber-sumber tertulis seperti buku, jurnal dan lain sebagainya. Uji Validitas dan Reliabilitas Uji validitas pada penelitian ini menggunakan analisis korelasi pearson product moment dengan cara mengkorelasikan jumlah skor faktor dengan skor total. Menurut Siregar (2011:163), bila korelasi faktor tersebut memiliki nilai rhitung > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut memiliki validitas konstruk yang baik. Seperti yang diungkapkan oleh Sugiyono (2015:126), bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat. Pada penelitian ini peneliti menggunakan program SPSS untuk uji validitas. Sedangkan untuk uji reabilitas menggunakan alpha cronbach, dengan ketentuan suatu variabel dikatakan reliable jika menghasilkan nilai koefisien reliabilitas > 0,60 (Siregar, 2011:175). Kerangka Konseptual dan Operasional Pada penelitian ini, perilaku pencarian informasi menjadi variabel bebas (variabel X) dan pengalaman diperoleh sebagai anggota Pramuka menjadi variabel terikat (variabel Y). Definisi konseptual perilaku pencarian informasi menurut Ellis dkk., (1993:356) memiliki delapan tahapan penemuan informasi yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending. Sedangkan definisi konseptual pengalaman menurut Siagian (2008:60) adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dilakukannya dalam perjalanan hidupnya. Selain berguna untuk dirinya, pengalaman yang dialaminya akan berguna sebagai pedoman bagi orang lain jika ia memberikan atau menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Berikut merupakan penjelasan operasionalisasi dari masing-masing variabel untuk penelitian ini: Variabel bebas (Variabel X): Perilaku Pencarian Informasi Starting Indikator: Memahami kebutuhan informasi Memulai mencari informasi Chaining Indikator: Menentukan sumber utama yang digunakan untuk pencarian informasi, serta alasan menggunakan sumber tersebut Browsing Indikator: Memilih jenis informasi yang hendak dicari Menetukan cara yang dilakukan dalam pencarian informasi Differentiating Indikator: Menyeleksi informasi yang telah diperoleh Monitoring Indikator: Pemantauan informasi secara intensif Menentukan sumber yang digunakan untuk memantau informasi Menemukan informasi baru Extracting Indikator: Menggali lebih dalam dan mengidentifikasi informasi yang telah diperoleh Verifying Indikator: Memeriksa ketepatan dan keakuratan informasi yang diperoleh Ending Indikator: Pemanfaatan informasi yang telah diperoleh Kepuasan setelah melakukan pencarian informasi Variabel terikat (Variabel Y): Pengalaman sebagai Anggota Pramuka Variabel Y: Pengalaman Indikator: Bertambahnya pengetahuan dan hardskill kepramukaan Bertambahnya soft skill dan hardskill Evaluasi diri Kedua variabel pada penelitian ini menggunakan skala pengukuran ordinal, maka koefisien korelasi akan dihitung menggunakan rumus korelasi rank spearman. Korelasi rank spearman digunakan untuk mengukur tingkat atau eratnya hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat yang berskala ordinal (Riduwan dan Sunarto, 2012:74). Berikut rumus korelasi rank spearman (Siegel, 1992:256-257): rs = 1 6 ∑ 𝑑ᵢ² 𝑛 (𝑛2−1) Keterangan: rs : koefisien korelasi rank spearman di : selisih angka yang dibuat untuk kelompok X dan Y n : banyaknya sampel Jika data yang dianalisis memiliki rank yang sama cukup banyak maka dapat digunakan rumus (Siegel, 1992:256-257) sebagai berikut: 𝑟s = ∑𝑥 2+∑𝑦 2−∑𝑑ᵢ² 2√∑𝑥²∑𝑦² Keterangan: rs = Koefisien Korelasi Spearman Rank x = Jumlah Ranking yang sama pada variabel x y = Jumlah Ranking yang sama pada variabel y di = Jumlah hasil pengurangan antara rangking yang terdapat pada variabel x dan variabel y melalui pengkuadratan n = Banyaknya sampel Untuk penelitian ini, tingkat kesalahan yang ditolerir atau tingkat signifikansi (α) ditetapkan sebesar 5% (0,05) pada tes dua sisi (two tailed test). Jika ingin mengetahui tingkat hubungan antara independent (X) dengan variabel dependen (Y), dapat diterangkan berdasarkan tabel nilai koefisien korelasi berikut: Tabel 1. Tingkat Hubungan Interval Koefisien Tingkat Hubungan Kurang dari 0,20 Slight (hubungan lemah) 0,20 – 0,40 Low correlation (hubungan rendah) 0,40 – 0,70 Moderate corelation (hubungan moderat) 0,70 – 0,90 High correlation (hubungan tinggi) 0,90 – 1,00 Very high correlation (hubungan sangat tinggi) (Sumber: Guilford dalam Prijana dkk., 2016:227)
Result & Discussion
a. Hubungan Tahap Starting (Memulai Pencarian Informasi) (X1) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Starting (X1) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan starting tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan starting berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 2. Hubungan Tahap Starting (Memulai Pencarian Informasi) (X1) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X1 & Y 0,574 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,574. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,574 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan starting terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Ketika memulai sebuah pencarian informasi, tentunya terlebih dahulu harus mengetahui kebutuhan informasi yang akan dicari. Kebutuhan informasi itu mucul karena adanya motif, salah satunya motif individu yang dikemukakan oleh Wilson (1999) yang menyatakan bahwa kebutuhan informasi itu dipengaruhi oleh motif individu yang terdiri dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan afektif dan kebutuhan kognitif. Memahami informasi yang akan dicari merupakan hal yang penting karena dapat berpengaruh dalam efektivitas dan efisiensi waktu pencarian informasi. Selain harus memahami informasi yang akan dicari, menentukan media pencarian informasi juga merupakan hal penting. Menurut Yusup dan Subekti (2010:12), pada dasarnya, sumber informasi sebenarnya dapat ditemukan di mana saja. Baik itu di pasar, sekolah, rumah, buku-buku, majalah, surat kabar, lembagalembaga suatu organisasi komersial, perpustakaan, dan sebagainya. Karena beragamnya sumber atau media informasi, maka dari itu harus dilakukannya pemilihan sumber informasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang berkualitas dan dapat dipercaya kebenarannya. b. Hubungan Tahap Chaining (Penghubung dalam Menemukan Informasi) (X2) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Chaining (X2) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan chaining tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan chaining berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 3. Hubungan Tahap Chaining (Penghubung dalam Menemukan Informasi) (X2) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X2 & Y 0,418 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,418. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,418 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan chaining terdapat hubungan yang dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Pada tahap chaining menurut Ellis dkk. (1993:359) adalah kegiatan merunut rangkaian sitasi atau bentuk hubungan referensial antar materi atau sumber-sumber yang diidentifikasi selama aktivitas starting atau secara singkat mengikuti mata rantai atau mengaitkan literatur dari rujukan awal. Setelah merunut sumber-sumber informasi yang ditemukan ketika aktivitas starting, maka sumber tersebut dikerucutkan untuk dijadikan sebagai sumber utama berikut dengan alasan logis penggunaan sumber tersebut sebagai sumber utama. Pada tahap ini, seseorang mulai menghubungkan antara kebutuhan informasi mereka dengan alat bantu penelusuran sebagai sumber informasi. Seperti yang diungkapkan Yusup (1995:10) bahwa sumber informasi terbagi tiga: 1. Sumber primer, informasi yang diterbitkan pertama kali dari penerbit atau dari sumbernya secara lengkap dan asli. Contohnya narasumber, tulisan dalam majalah, surat kabar, laporan penelitian, buku pedoman, tesis dan desertasi. 2. Sumber sekunder, segala jenis ringkasan sumber primer dan merupakan alat bantu untuk menemukan sumber primer. Contohnya informasi yang tersimpan dalam buku atau majalah seri (abstrak, indeks dll). 3. Sumber tersier, keterangan atau tulisan dari sumber-sumber tertentu yang dapat digunakan untuk mengetahui atau menelusur sumber informasi sekunder atau pada intinya ringkasan sumber sekunder. Contohnya katalog bahan-bahan referensi dan katalog indeks bidang tertentu. c. Hubungan Tahap Browsing (Menelusur Informasi) (X3) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Browsing (X3) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan browsing tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan browsing berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka Tabel 4. Hubungan Tahap Browsing (Menelusur Informasi) (X3) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X3 & Y 0,455 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,455. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,455 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan browsing terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Pada tahap ini, seseorang melakukan pencarian informasi dengan lebih terstruktur dan mulai mengarah pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan informasinya (Ellis dkk., 1993:359). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dipersempitnya informasi yang hendak dicari terkait informasi kepramukaan. Selain itu, pada tahap ini juga ditentukannya cara dalam pencarian informasi. Dalam prakteknya, cara penelusuran informasi dilakukan dengan cara berdiskusi dengan orang yang kompeten, mencari lewat media cetak dan elektronik, penelusuran melalui search engine dan media sosial. Keberhasilan penelusuran informasi menurut Ayumi (2015:797) dapat dipengaruhi dengan strategi penelusuran yang digunakannya. Pernyataan tersebut didukung oleh Masruriyah (2009:96) bahwa kemampuan dalam mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menyeleksi serta menggunakan informasi secara efektif, maka seseorang akan memiliki keterampilan dan strategi-strategi dalam mencari informasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. d. Hubungan Tahap Differentiating (Pembeda/Seleksi Informasi) (X4) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Differentiating (X4) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan differentiating tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan differentiating berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 5. Hubungan Tahap Differentiating (Pembeda/Seleksi Informasi) (X4) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X4 & Y 0,370 0,001 Rendah H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,370. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,370 menandakan hubungan yang rendah (low correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan differentiating terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Setelah didapatkan informasi yang dicari, selanjutnya masuk ketahap seleksi informasi. Menurut Ellis dkk. (1993:359) tahap differentiating adalah kegiatan memilah informasi yang diperoleh dengan memanfaatkan pengetahuan mengenai perbedaan ciri-ciri sumber informasi (misalnya, pengarang, cakupan, tingkat detail, dan kualitas) tersebut guna mengetahui kualitas informasi. Seleksi informasi ini berdasarkan beberapa kriteria sebagai mana yang disampaikan oleh Jogiyanto dalam Yakub (2012:9) kualitas dari informasi tergantung dari tiga hal yaitu terdiri dari; accurate, timeliness, dan relevance. Sehingga nantinya dapat dikelompokkan informasi yang telah diperoleh apakah sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah disampaikan menurut Jogiyanto. e. Hubungan Tahap Monitoring (Pemantauan Informasi) (X5) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Monitoring (X5) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan monitoring tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan monitoring berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 6. Hubungan Tahap Monitoring (Pemantauan Informasi) (X5) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X5 & Y 0,409 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,409. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,409 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan monitoring terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Perkembangan informasi yang pesat menjadi latar belakang dari adanya pemantauan informasi. Menurut Ellis dkk. (1993:359) monitoring merupakan kegiatan memantau perkembangan yang terjadi terutama dalam bidang yang diminati dengan cara mengikuti sumber secara teratur. Setiap hari jutaan informasi tercipta melalui berbagai media. Oleh karena itu jika seseorang tidak melaksanakan pemantauan atau mengikuti perkembangan informasi, orang tersebut akan sangat tertinggal dari yang lain. Semakin banyaknya informasi, maka semakin banyak pula sumber informasi yang bermunculan. Dalam pemilihan sumber informasi ini, diperlukan ketelitian seseorang agar terhindar dari sumber dan informasi yang menyesatkan. Pemantauan perkembangan informasi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tambahan guna mendukung informasi yang telah diperoleh sebelumnya. f. Hubungan Tahap Extracting (Mensarikan Informasi) (X6) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Extracting (X6) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan extracting tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan extracting berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 7. Hubungan Tahap Extracting (Mensarikan Informasi) (X6) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X6 & Y 0,437 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,437. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,437 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan extracting terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Pada tahap ini, menurut Ellis dkk. (1993:359) adalah aktivitas yang berhubungan dengan melanjutkan pencarian dengan menggali lebih dalam sumber informasi dan mengidentifikasi relevansi materi yang ada dengan selektif. Dengan dilakukannya penggalian lebih dalam terhadap sumber informasi, bukan tidak mungkin terdapat temuan-temuan baru yang sangat bermanfaat. Mengidentifikasi secara selektif berkaitan dengan kesesuaian informasi yang diperoleh dengan kebutuhan seseorang. g. Hubungan Tahap Verifying (Pengujian Ketepatan Informasi) (X7) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Verifying (X7) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan verifying tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan verifying berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 8. Hubungan Tahap Verifying (Pengujian Ketepatan Informasi) (X7) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X7 & Y 0,465 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,465. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,465 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan verifying terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Sebelum berakhirnya pencarian informasi, alangkah baiknya memeriksa kembali ketepatan dan keakuratan informasi yang telah diperoleh. Seperti yang diungkapkan oleh Ellis dkk. (1993:359) bahwa tahap verifying adalah kegiatan pengecekan atau penilaian terhadap informasi, apakah informasi yang didapat telah sesuai atau tepat dengan yang diinginkan. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menguji sejauh mana kesesuaian informasi yang diperoleh. Pengujian informasi ini dilakukan melalui cara diskusi, mengecek melalui media cetak dan elektronik, mengecek melalui search engine, situs atau portal berita dan media sosial. h. Hubungan Tahap Ending (Tahap Akhir Pencarian Informasi) (X8) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan tahap perilaku pencarian informasi Ending (X8) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Tahapan kegiatan ending tidak ada hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. H1: Tahapan kegiatan ending berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 9. Hubungan Tahap Ending (Tahap Akhir Pencarian Informasi) (X8) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X8 & Y 0,519 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,519. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,519 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa tahap kegiatan ending terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tahap akhir dari pencarian informasi ini ditandai dengan pemanfaatan informasi yang diperoleh, baik itu dimanfaatkan oleh diri sendiri maupun dimanfaatkan untuk orang lain (Ellis dkk., 1993:359). Selain ditandai dengan hal tersebut, tahap akhir sebuah pencarian informasi juga ditandai dengan kepuasan yang didapatkan setelah memperoleh informasi dari hasil pencarian. Menurut Meidiana (2017:26) dalam proses memanfaatkan informasi terdapat pengaruh yang dirasakan oleh seseorang, diantaranya seperti pengaruh terhadap kepuasan hasil belajar, pengaruh terhadap perkembangan atau aktualisasi diri, baik dari segi intrinsik seperti pembentukan karakter/kepribadian, maupun dari segi ekstrinsik seperti kebutuhan akan sosialisasi. i. Hubungan Perilaku Pencarian Informasi (X) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Untuk mengetahui hubungan perilaku pencarian informasi (X) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka (Y), maka dilakukan perhitungan dengan analisis korelasi, adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut: H0: Perilaku pencarian informasi tidak berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka H1: Perilaku pencarian informasi berhubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Tabel 10. Hubungan Perilaku Pencarian Informasi (X) dengan Pengalaman yang Diperoleh Anggota Pramuka (Y) Variabel rs Sig. Tingkat Keeratan Hubungan Keterangan Uji X & Y 0,507 0,000 Moderat H1 diterima Sumber: Pengolahan Data, 2018 Berdasarkan dari hasil tabel di atas, diperoleh nilai korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,507. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,507 menandakan hubungan yang moderat (moderate correlation) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa perilaku pencarian informasi terdapat hubungan dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Menurut perspektif ilmu informasi, kebutuhan akan suatu informasi muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki atau kekurangan pengetahuan ataupun pemahaman untuk mencapai tujuan, menjawab pertanyaan, dan sebagainya (Batley, 2007:19). Menurut Khultau dalam Ishak (2006) menyatakan bahwa seseorang melakukan pencarian informasi dikarenakan adanya kesenjangan pengetahuan yang dialami oleh individu terhadap kebutuhan informasi. Kebutuhan informasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai motif, menurut Yusup dan Subekti (2010:86) manusia mempunyai berbagai macam motif dan cara dalam memanfaatkan informasi. Hal ini dikarenakan setiap orang mempunyai watak, kebiasaan, kemampuan, kecerdasan, dan minat yang berbedabeda, baik dilihat dari segi psikolog umum, sosial, maupun dari segi lainnya. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Belkin dalam Winarsih (2013:2) menyatakan bahwa kebutuhan dan perilaku pencarian informasi dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam sebab, antara lain latar belakang sosial, budaya, pendidikan, tujuan yang ada dalam diri manusia serta lingkungan sosialnya. Menurut Kuhlthau dalam Rivai (2011:9) berpendapat bahwa kebutuhan informasi dipengaruhi oleh linkungan, pengalaman, pengetahuan, minat, ketersediaan informasi, masalah dan waktu. Semakin berpengalaman seseorang maka kebutuhan informasinya pun akan meningkat.
Conclusion
Berdasarkan hasil keseluruhan setelah melakukan penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku pencarian informasi dengan pelangalaman yang diperoleh anggota Pramuka sebagia berikut: 1. Terdapat hubungan antara tahap perilaku pencarian informasi dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,507, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 2. Terdapat hubungan antara tahap starting (memulai pencarian informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,574, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 3. Terdapat hubungan antara tahap chaining (penghubung dalam menemukan informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,418, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 4. Terdapat hubungan antara tahap browsing (menelusur informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,455, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 5. Terdapat hubungan antara tahap differentiating (pembeda/seleksi informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,370, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang rendah (low correlation). 6. Terdapat hubungan antara tahap monitoring (pemantauan informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,409, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 7. Terdapat hubungan antara tahap extracting (mensarikan informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,437, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 8. Terdapat hubungan antara tahap verifying (pengujian ketepatan informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,465, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 9. Terdapat hubungan antara tahap ending (tahap akhir pencarian informasi) dengan pengalaman yang diperoleh anggota Pramuka. Nilai koefisien korelasi 0,519, nilai tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang moderat (moderat correlation). 10. Manfaat dari penelitian ini adalah menjadi bahan evaluasi terkait pendidikan pramuka di mana para anggota Pramuka UIN SGD Bandung masih menggunakan informasi yang berasal dari media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasinya terkait informasi kepramukaan yang belum tentu terpercaya meskipun informasinya update.