Proses Transfer Pengetahuan pada Perkuliahan Mahasiswa Asing Universitas Diponegoro
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentikasi bagaimana proses transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing di Universitas Diponegoro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Dengan teknik ini informan yang didapatkan sebanyak 9 orang yang terdiri dari 5 mahasiswa asing dari berbagai jurusan, dosen, dan kepala pengelola urusan internasional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara semi terstruktur observasi dan studi dokumen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa transfer pengetahuan terjadi dalam 4 tahapan atau proses. Pertama-tama adalah proses sosialization yang di dalamnya berkaitan dengan proses persiapan dan proses pengajaran baik dari segi dosen maupun mahasiswa asing. Kedua, proses externalization yaitu mahasiswa asing mengartikulasikan pengetahuan yang didapatkan baik dengan cara yang manual ataupun terautomasi. Selanjutnya combination yaitu menjadikan pengetahuan menjadi satu kesatuan yang utuh melalui diskusi dengan dosen ataupun sesama mahasiswa. Terakhir proses internalization dapat dilakukan secara terstruktur melalui tugas, ujian tengah semester dan ujian tengah semester dan dapat dilakukan secara personal melalui pembuktian. Tidak hanya itu, dalam proses transfer pengetahuan terdapat beberpa kendala yang dialami seperti kendala bahasa, budaya dan kendala system dalam jaringan.
Abstract
This study aims to identify how the process of knowledge transfer in foreign students lecture activities at Diponegoro Universityis. The method used in this study is a descriptive qualitative research method with a case study approach. The informant selection technique in this study used purposive sampling. With this technique, 9 informants were obtained consisting of 5 foreign students from various majors, lecturers, and the head of the international affairs manager. Data collection techniques were carried out using semi-structured interviews, observations and document studies. The results of this study indicate that the transfer of knowledge occurs in 4 stages or processes. First of all is the process of socialization which is related to the preparation process and teaching process both in terms of lecturers and foreign students. Second, the externalization process in which foreign students articulate the knowledge gained either in a manual or automated way. Furthermore, combination is making knowledge into a unified whole through discussion with lecturers or fellow students. Finally, the internalization process can be carried out in a structured manner through assignments, midterm exams and midterm exams and can be carried out personally through evidence. Not only that, in the knowledge transfer process there are several obstacles experienced such as language, cultural and system constraints in the network.
Keywords:
knowledge transfer
· foreign students
· diponegoro university
Introduction
Universitas Diponegoro adalah salah satu dari lembaga pendidikan tinggi yang didalamnya terdapat civitas akademik. Landasan didirikannya Universitas Diponegoro ini berdasarkan UU No. 12 tahun 2012 menyebutkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, sarjana, magister doctor profesi dan spesialis yang diselenggarakan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia (Indonesia, 2012a). Tugas pokok perguruan tinggi adalah menjalankan tridharma pendidikan tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, hal ini juga tertuang dalam No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses belajar yang begitu kompleks yang mampu mempengaruhi kondisi kognitif dan afektif bagi pelakunya. Berdasarkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003: “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilannya yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Indonesia, 2003) . Pendidikan yang dilakukan di lingkungan perguruan tinggi sering disebut sebagai proses perkuliahan. Perkuliahan dilakukan sesuai dengan jadwal yang sebelumnya telah ditetapkan oleh setiap pendidikan tinggi. Perkuliahan juga melibatkan oknum-oknum berupa civitasakademik yaitu dosen dan mahasiswa termasuk didalamnya mahasiswa asing seperti yang diatur dalam UU No 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Mahasiswa asing merupakan mahasiswa yang berasal dari mancanegara. Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM nomor 52 tahun 2016 tentang Penerbitan Student visa dan cap student visa menyebutkan bahwa “orang asing yang akan mengikuti program pendidikan di lembaga pendidikan di Indonesia harus menggunakan visa pelajar yang diterbitkan oleh Direktorat jendral imigrasi berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Riset Teknologi pendidikan tinggi” (Indonesia, 2016). Jadi, mahasiswa sudah memliki perizinan dari pemerintah dan bisa menempuh pendidikan di Indonesia. Mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Undip mengikuti program darmasiswa yaitu kelas bahasa Indonesia bagi penutur asing atau BIPA. Selain itu juga, ada Program IUP atau internasional undergraduate program. Mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan di Undip tidak hanya mengikuti perkuliahan pada program BIPA dan IUP saja, akan tetapi juga mengikuti perkuliahan pada kelas regular juga. Program BIPA adalah program keterampilan berbahasa Indonesia yang meliputi materi menulis, membaca, mendengarkan dan berbicara bagi penutur asing. Dalam pembelajaran BIPA terdapat kurikulum yang digunakan sebagai bahan ajar. BIPA tidak hanya mengajar bahasa Indonesia saja, juga mengajarkan pengetahuan tentang budaya Indonesia (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2021). Program BIPA yang ada di Undip diselenggarakan Program Studi S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Undip, terbuka untuk seluruh mahasiswa dan bisa dikuti oleh mahasiswa yang mengikuti Program Kampus Merdeka. Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB Undip, Dr Muh Abdullah M,Hum, menyampaikan bahwa Program BIPA ada dua. Pertama yang merupakan mata kuliah bagi mahasiswa Sastra Indonesia dan yang kedua, BIPA untuk Program Darmasiswa atau mahasiswa asing yang belajar di Indonesia yang masuk dalam program kerjasama dengan Kementerian Pendidikan (Universitas Diponegoro, 2017). Program IUP menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan dan berkomunikasi. IUP tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa asing saja, juga mahasiswa indonesia dapat mengikuti program tersebut. Dengan adanya Program IUP Undip salah satu tujuannya yaitu melebarkan sayap di pergaulan internasional dalam bidang pendidikan yang berpotensi untuk menarik mahasiswa asing dari berbagai Negara. Dengan adanya hal tersebut, pihak Undip mendukung berbagai kegiatan yang menunjang Program World Class University, salah satunya dengan memberikan bantuan pendanaan kegiatan internasionalisasi mahasiswa (Universitas Diponegoro, 2020). Dalam proses kegiatan belajar-mengajar, terjadi proses transfer (transformasi) pengetahuan. Berdasarkan Undang-Undang RI tentang pendidikan, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyeberluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui tridharma pendidikan tinggi (Indonesia, 2012a). Dalam kegiatan belajar mengajar tentu adanya proses transfer pengetahuan yang dilakukan oleh sumber kepada penerima (dosen ke mahasiswa). Hal ini juga disampaikan oleh Sentana dan kawan-kawan transfer pengetahuan merupakan proses pemindahan pengetahuan dari satu pihak ke pihak lain (Sentana et al., 2014). Dalam proses belajar mengajar yang terjadi, pengetahuan disampaikan kepada mahasiswa asing. Dosen berperan sebagai sumber pengetahuan tentunya memiliki pengetahuan. Pengetahuan terbagi menjadi dua jenis, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Pengetahuan yang tersimpan di dalam pikiran dosen adalah tacit knowledge. Tacit knowledge merupakan pengetahuan yang ada di dalam pikiran pemilik pengetahuan dan secara tidak langsung dapat dihadirkan kembali dalam bentuk data sehingga disebut pengetahuan tidak terstruktur (Nonaka & Takeuchi, 1995). Untuk dapat menyalurkan dan mengkomunikasikan tacit knowledge, setiap individu harus memiliki komitmen, konsistensi, dan loyalitas untuk dapat menyalurkan pengetahuan yang dimiliki. Tacit knowledge sangat sulit untuk dibagikan dan dokumentasikan, sehingga hal ini menjadi faktor utama dalam mengubah tacit knowledge yang tidak dapat diexplore menjadi explicit knowledge yang tentunya dapat dieksplorasi dan dimunculkan kembali (Setiarso, B., Harjanto, N., & Subagyo, 2009). Pendokumentasian tacit knowledge memudahkan untuk diakses dan dapat berguna bagi yang lainnya. Mahasiswa asing yang melanjutkan pendidikannya di Universitas Diponegoro, bertujuan untuk menambah pengetahuan. Dengan demikian, peneliti ingin mengidentifikasi sejauh mana proses transfer pengetahuan yang diterima selama kegiatan perkuliahan yang dialami mahasiswa asing. 2. Landasan Teori Transfer pengetahuan adalah suatu konsep berbagi informasi dan merupakan proses belajar berdasarkan pengalaman, transfer pengetahuan pada tingkat individu memiliki makna sebagai penduplikatan pengetahuan dari sumber pengetahuan ke penerima. Nonaka dan Takeuchi (1995) menawarkan empat model transfer pengetahuan yaitu terdiri dari: 1. Socialization merupakan proses berbagi pengetahuan dan membuat tacit knowledge sebagai dasar dan keterampilan teknis yang didapatkan melalui proses observasi, peniruan, dan praktek langsung. Dalam artian pemahaman dasar yang sudah ada diwujudkan dalam bentuk skill tertentu berdasarkan pengamatan yang dilakukan; 2. Eksternalization adalah proses mengartikan tacit knowledge dalam bentuk konsep eksplisit berwujud metafora, analogis, model dan hipotesis. Proses ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya dimana individu menarik sebuah kesimpulan berdasarkan pengamatan yang dilakukan; 3. Combination adalah memproses konsep yang sistematis untuk dijadikan pengetahuan dengan mengkompilasi explicit knowledge yang berbeda. Explicit knowledge dipindah atau dirubah bentuk melalui media seperti dokumen, percakapan bentuk elektronik, email, ataupun percakapan telepon. Dalam proses ini adanya peluang untuk mewujudkan pengetahuan baru; 4. Internalization merupakan proses mengubah explicit knowledge menjadi tacit knowledge. Proses ini hampir mirip dengan konsep pengalaman di mana setiap individu akan memahami suatu hal ketika telah melakukannya sehingga apa yang telah dilalui tersebut akan tersimpan sebagai tacit knowledge setiap individu. Keempat proses transfer pengetahuan menggambarkan bahwa “perpindahan pengetahuan bergantung pada pemahaman antara pemilik pengetahuan dan pengguna pengetahuan. Pemahaman umum terdiri atas konteks dan pengalaman” (Nonaka & Takeuchi, 1995). Konteks adalah suatu ruang lingkup dimana terdapat pengetahuan, kondisi atau situasi yang membuat pengetahuan dapat dimengerti. sedangkan pengalaman adalah aktivitas atau kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan model, konsep, teori bagaimana pengetahuan digunakan (Nonaka & Takeuchi, 1995). Transfer pengetahuan yang dikaji berdasarkan model SECI akan membentuk spiral pengetahuan bukan lingkaran pengetahuan. Penciptaan pengetahuan baru memicu spiral baru penciptaan pengetahuan dan bergerak sampai kearah ontologis pengetahuan(Nonaka & Toyama, 2015). Dari proses transfer pengetahuan dengan model SECI mengungkapkan bahwa penciptaan pengetahuan akan membentuk spiral yang mengarahkan kepada ontologis pengetahuan atau hakikat dari pengetahuan sehingga pengetahuan dikaji sampai ke sisi yang lebih dalam atau pada intinya. Transfer pengetahuan adalah suatu proses pemberian pengetahuan kepada penerima pengetahuan. Dalam proses transfer pengetahuan tentunya melibatkan dua jenis subjek yang berbeda yang terdiri dari pemberi dan penerima. Adanya dua jenis subjek yang berbeda, dikarenakan dalam proses transfer salah satu pihak memiliki kedudukan pengetahuan yang lebih tinggi, sehingga dengan jelas pengetahuan ditransferkan kepada penerima yang kedudukan pengetahuannya berada dibawah kedudukan pengetahuan pemberi. Proses transfer pengetahuan dapat dijumpai dalam berbagai bentuk kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang didalamnya melibatkan proses transfer pengetahuan yaitu pelatihan, seminar, dan termasuk kegiatan belajar mengajar. Proses transfer pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar tentu melibatkan siswa dan guru. Pembelajaran merupakan kombinasi dari konsep belajar dan konsep mengajar. Pembelajaran dapat terjadi apabila dua komponen ini bertemu. Belajar mengajar terdiri dari dua kata yaitu belajar dan mengajar. Belajar merupakan proses perubahan diri melalui pemahaman tentang kondisi lingkungan sekitar. Sedangkan mengajar adalah usaha untuk mengkoordinasikan kebutuhan pembelajar dengan kebutuhan yang akan dihadapi. Belajar tidak akan terlepas dengan apa yang dipelajari dan mengajar tidak terlepas dari apa yang harus diajarkan. Dalam kegiatan belajar mengajar tentunya untuk dapat mencapai suatu rencana belajar maka diperlukannya strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan sekumpulan usaha yang akan ditindaklanjuti dalam kegiatan mengajar untuk memenuhi semua kebutuhan belajar (Bakhruddin et al., 2021). Transfer pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar merupakan proses penyampaian pengetahuan yang dilakukan oleh pendidik ke peserta didik. Dalam proses transfer pengetahuan yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar terdapat terdapat metode yang digunakan untuk dapat menarik perhatian peserta didik. Proses belajar mengajar melibatkan panca indera sehingga perlu adanya stimulus untuk dapat saling mempengaruhi. Dalam proses transfer pengetahuan pada kegiatan belajar mengajar tentunya menerapkan prinsip-prinsip yang dapat mendorong proses transfer pengetahuan. Transfer penegtahuan dalam kegiatan belajar mengajar memiliki jenjang yang dapat tempuh yaitu Sekolah Dasar/Sederajat, Sekolah Menengah Pertama/ Sederajat, Sekolah Menengah Atas/ Sederajat, dan Pendidikan Tinggi/Sederajat. Dalam Pendidikan Tinggi transfer pengetahuan dilakukan pada mahasiwa. Dalam pendidikan terdapat beberapa perguruan tinggi yang tidak hanya menerima mahasiswa lokal saja, akan tetapi mahasiswa asing juga. Proses transfer pengetahuan dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa asing yang dilakukan tentu memilki keunikan ketika dibandingkan dengan mahasiswa lokal secara umum. Kendala yang dihadapi mahasiswa asing yang melaksanakan pendidikan di Indonesia adalah bahasa dan budaya di Indonesia atau yang sering disebut culture shock. Bahasa sangat berpengaruh dalam proses pendidikan yang dilakukan selama di Indonesia, hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Mas’Amah bahwa khususnya mahasiswa dari luar negeri yang pertama kali ke suatu Negara akan mengalami kejutan budaya, adanya perbedaan budaya dan belum saling mengenal satu sama lain, akan menyebabkan seseorang secara psikologis akan mengalami kecemasan (Amah & Cendana, 2019). Hal ini sejalan dengan yang disampaikan melalui paragraf diatas bahwa selain startegi belajar yang digunakan untuk memahami pembelajaran, mahasiswa asing juga perlu melakukan starategi adaptasi budaya dilingkungan pendidikan yang ditempuh. Menurut artukel yang berjudul “Minoritas ditengah Mayoritas (Strategi adaptasi budaya mahasiswa asing dan mahasisiwa luar Jawa di UMP)” menyampaikan bahwa, hambatan yang dialami adalah kurangnya informasi mengenai tempat pendidikan, perbedaan makanan, merindukan rumah, perbedaan agama dan bahasa. Adapun strategi adaptasi yang dilakukan adalah mengakomodasi bahasa, makanan, agama, melakukan hobi yang disukai, dan menghubungi keluarga (Mareza & Nugroho, 2017). Artikel diatas menunjukkan bahwa selain hambatan yang dialami mahasiswa asing selama belajar di Indonesia, terdapat strategi untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan melihat apa yang menjadi hambatan selama menjalani pendidikan di Indonesia terutama di pulau Jawa, sehingga gegar budaya yang dialami dapat teratasi. Transfer pengetahuan pada kegiatan belajar mengajar mahasiswa asing merupakan sesuatu yang cukup berbeda, apabila dibandingkan dengan mahasiswa lokal. Namun, sebelum itu mahasiswa perlu memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditentukan agar dapat berkuliah di Indonesia terutama dalam hal ini di Universitas Diponegoro. Proses transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing cukup unik sehngga perhatian. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan bahasa dan perbedaan budaya yang begitu mencolok, sehingga menjadi suatu keunikan tersendiri dibandingkan dengan lainnya. Dalam proses transfer pengetahuan tentu adanya proses komunikasi dan yang menjembati komunikasi adalah bahasa, sehingga cukup menantang bagi mahasiswa asing dikarenakan dalam proses transfer pengetahuan pada perkuliahan bahasa merupakan alat utama dan terpenting agar pengetahuan yang disampaikan tersampaikan baik secara tersurat maupun tersirat. Peran bahasa dalam proses transfer pengetahuan memiliki kedudukan utama, seperti yang disampaikan pada paragrafparagraf sebelumnya bahwa mahasiswa asing juga mmeiliki starategi dalam menghadapi kendala bahasa maupun gegar budaya yang dihadapi.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatitif dengan pendekatan studi kasus yang mengarahkan pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai suatu yang mendalam dari sebuah gejala (Raco, 2018). Teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi, untuk mendapatkan informan menggunakan purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data penelitian menggunakan matrix analysis yaitu dilakukan menggunakan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1992)
Result & Discussion
4.1 Proses Transfer Pengetahuan pada Kegiatan Perkuliahan Mahasiswa Asing di Universitas Diponegoro Transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing di Unversitas Diponegoro menggunakan teori Nonaka dan Takeuchi yaitu socialization, eksternalization, combination dan internalization (SECI) untuk menjelaskan transfer pengetahuan yang diteliti. Mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro merupakan mahasiswa yang berasal dari luar negeri ataupun mancanegara. Mahasiswa asing tentunya mengikuti perkuliahan dengan tujuan salah satunya mendapatkan pengetahuan. Untuk mendapatkan pengetahuan secara umum mahasiswa asing tentunya mengikuti perkuliahan baik dalam jaringan maupun di luar jaringan. Mahasiswa asing juga dapat mengikuti kelas regular ataupun kelas International Undergruade Program (IUP). Socialization merupakan proses penciptaan pengetahuan tacit melalui interaksi dan pengalaman langsung yang dialami penerima pengetahuan melalui rapat, training, diskusi dan kegiatan pendidikan. Proses socialization merupakan proses berbagi pengetahuan dari pemberi pengetahuan yang didapatkan melalui pengamatan, imitasi, ataupun pengamatan langsung. Sehingga secara menyeluruh socialization dapat diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki pemberi pengetahuan berdasarkan berbagai proses yang didapatkan, kemudian dibagikan kepada penerima pengetahuan dalam proses penciptaan pengetahuan tacit. Maka dalam hal ini, bentuk socialization yang terjadi pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing di Universitas Diponegoro itu diantaranya berupa proses belajar mengajar, dimana terjadi proses interaksi antara dosen dan mahasiswa asing. Dengan demikian socialization juga terjadi pada dosen dan mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa asing. Proses socialization yang terjadi pada transfer penegtahuan dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa asing di Universitas Diponegoro dilakukan antara dosen sebagai pemberi pengetahuan dan mahasiswa asing sebagai penerima pengetahuan. Proses socialization terjadi pada dosen sebagai pemberi pengetahuan diantaranya terdiri penyusunan rencana pembelajaran semester yang dijadikan sebagai acuan pembelajaran. Rencana pembelajaran semester dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan perkuliahan selama waktu yang telah ditentukan. Persiapan materi seperti menyiapakan penunjang proses pengajaran meliputi bahan ajar serta fasilitas yang dapat mendukung selama proses belajar mengajar. Kemudian proses pengajaran yang disampaiakan pada mahasiswa asing yaitu dosen menyampaikan materi yang sebelumnya telah disiapkan dan merupakan proses ditransferkannya pengetahuan kepada mahasiswa asing. Proses socialization yang terjadi pada mahasiswa asing juga terdiri dari persiapan diri baik secara mental maupun kemampuan yang harus dimiliki sebelumnya seperti kemampuan bahasa dan persiapan materi yang menjadi bahasan pertemuan perkuliahan. Persiapan mental yag dimaksudkan ketika akan mengikuti proses perkuliahan maka harus bersikap dengan baik. kemudian persiapan kemampuan yang harus dimiki yaitu pengetahuan bahasa yang harus dimiliki untuk menunjang kegiatan belajar baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Setelah terjadinya proses socialization selanjutnya proses externalization, Dalam proses pengetahuan yang dilakukan baik di dalam kelas ataupun tidak bahwa disetiap penciptaan pengetahuan ada hasil atau bentuk pengetahuan yang didapatkan dan inilah yang dinamakan externalization. Tujuan dari externalization adalah dari materi yang didapatkan tidak hanya diperhatiakan tetapi perlu adanya untuk pendokumentasian atau bentuk fisik dari materi. Externalization dalam proses transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing merupakan hasil belajar yang didapatkan disetiap pertemuannya, sehingga di setiap pertemuan perkuliahan terdapat pengartikulasian pengetahuan yang didapatkan penerima pengetahuan atau mahasiswa asing dari pemberi pengetahuan atau dosen. Dalam hal ini proses externalization terbagi menjadi dua externalization yang dilakukan secara manual adalah externalization yang mendokumentasikan pengetahuan secara fisik seperti menulis atau merekam pertemuan kemudian didengarkan kembali dan proses externalization yang dilakukan secara otomatis dimana mahasiswa hanya menggunakan materi-materi yang diberikan oleh dosen dan materi materi yang didapatkan secara online. Namun, ternyata juga ada penggabungan dari dua metode yaitu dilakukan secara manual dan yang sudah terautomasi dikarenakan mahasiswa asing merasa lebih efektif untuk melakukan eksternalisasi. Kemudian proses selanjutnya, Kombinasi yang merupakan proses konveksi pengetahuan eksplisit dengan pengetahuan eksplisit agar pengetahuan eksplisit yang dimiliki lebih komplit dan sistematis. Kombinasi terjadi karena adanya proses analisis sehingga pengetahuan menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam penelitian yang dilakukan pada proses transfer pengetahuan mahasiswa di Universitas Diponegoro bahwasanya proses combination banyak dilakukan ketika diskusi seperti adanya tugas kelempok yang diberikan. Dalam proses combination terdapat dua cara yang ditemukan dalam proses transfer pengetahuan mahasiswa asing. Proses kombinasi dapat terjadi pada dua elemen yaitu kombinasi yang melibatkan dosen dimana dosen berpartisipasi dalam proses tersebut seperti pada presentasi mengenai materi ataupun diskusi yang ada di dalam ruangan, dan kombinasi yang terjadi antar sesama mahasiswa mulai dari adanya tugas kelompok yang pada saat pandemic dilakukan secara online, diskusi antar kelompok, diskusi dengan teman sebaya, ataupun diskusi yang dilakukan karena tidak paham dengan materi yang disampaikan oleh dosen. Selanjutnya tahap terakhir yaitu proses internalisasi pengetahuan yang sebelumnya dimiliki dipelajari kembali dengan tujuan agar pengetahuan yang dimiliki lebih dipahami. Menurut Nonaka bahwa terdapat dua tumpuan yang menjadikan tolok ukur dari proses internalisasi yaitu pengetahuan eksplisit yang dapat dibuktikan berdasarkan tindakan atau praktik secara nyata baik itu dilakukan sendiri ataupun orang lain, kemudian pengetahuan ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil simulasi ataupun eksperimen. Pada penelitian yang dilakukan dalam proses transfer pengetahuan mahasiswa asing ada beberapa bentuk internalisasi yang dilakukan. Proses internalisasi terjadi dalam dua hal yaitu internalisasi yang dilakukan terstruktur yaitu melalui evaluasi pembelajaran seperti ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester melalui pembuatan paper atau pengujian terhadap materi yang didapatkan dan ditunjukkan berdasarkan hasil belajar mahasiswa asing pada semester tersebut. Kemudian internalisasi secara personal yaitu ketika mahasiswa bisa memberikan contoh atau bukti berkaitan dengan materi tersebut serta dapat mempraktikkannya dengan baik. 4.2 Kendala pada Proses Transfer Pengetahuan Mahasiswa Asing di Universitas Diponegoro Transfer pengetahuan merupakan suatu proses, yang mana setiap proses tentunya terdapat kendala ataupun hambatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kendala adalah “faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi, atau mencegah pencapaian sasaran” (Kemendikbud, 2016). Adapun kendala yang dihadapi ketika melakukan proses transfer pengetahuan di Universitas Diponegoro yang dialami oleh pemberi dan penerima pengetahuan. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam proses transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing, yaitu terdiri dari kendala bahasa berkaitan dengan bahasa yang digunakan dalam proses transfer pengetahuan baik dari segi belajar maupun mengajar. Kendala bahasa yang dialami terdiri dari bahasa yang bertujuan sebagai alat komunikasi (lisan). Kendala lisan ini terjadi ketika proses belajar baik dari segi dosen maupun mahasiswa asing. Kendala bahasa ini membuat proses belajar mengajar terjadi dan kendala bahasa yang dijadikan sebagai bahan rujukan dalam pembelajaran (tulisan). Beberapa informan menyampaikan bahwa terkadang referensi yang dibutuhkan hanya tersedia dalam bahasa Indonesia baik dalam bentuk cetak maupun digital, sehingga hal ini mempengaruhi proses penerimaan pengetahuan. Dalam menghadapi kendala bahasa yang dialami Kepala Kantor Urusan Internasional bekerja sama bagian BIPA yang berada dibawah naungan FIB agar mahasiswa dapat memilih program BIPA sebelum melanjutkan ke perkuliahan secara umum. Kendala budaya berkaitan dengan kebiasaan mahasiswa asing dalam mengikuti perkuliahan. Salah satu kebiasaan mahasiswa asing adalah mereka sangat kritis. Hal ini dikarenakan adanya berbagai pertanyaan-pertanyan yang dilontarkan mahasiswa asing dan untuk menjawabnya perlu berpikir ulang bahkan menunda untuk menjawab akan teapi dijawab pada pertemuan selanjutnya. Kemudian kebiasaan selanjutnya adalah tidak ada rasa ewuh pakewuh, hal ini berdasarkan pengalaman dosen yang mengajar bahwa ketika mengajar dan mereka telah menyepakati batasan keterlambatan, apabila telah terlambat dari waktu yang telah disepakati maka dengan tidak segan mahasiswa asing akan langsung mengkomplain dan mengutarakannya secara langsung. Mahasiswa asing secara terbuka langsung menyampaikan pendapatnya ketika hal tersebut telah bertentangan, akan tetapi bukan secara umum. Hal ini lebih dikhususkan mengenai mahasiswa Eropa. Terakhir kendala yang dialami selama proses perkuliahan dalam jaringan menyangkut kendala teknis. Kendala teknis ini dialami oleh dosen-dosen senior ketika menghadapi kuliah dalam jaringan. Kendala teknis ini berupa penggunaan software kondisi fisik dari komputer yang digunakan, selain itu juga . Hal ini menyebabkan mahasiswa asing merasa hubungan yang terjalin dengan dosen proses transfer pengetahuan yang dilakukan secara daring menyebabkan hubungan dan mahasiswa asing dan dosen menjadi merenggang, yang biasanya sangat dekat terasa jauh. Hal ini karena diterapkannya pembelajaran jarak jauh.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian mengenai proses transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing di Universitas Diponegoro dapat disimpulkan bahwa transfer pengetahuan terdiri dari socialization, eksternalization, combination dan internalization. Proses socialization yang terjadi pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing di Undip dilakukan antara dosen sebagai pemberi pengetahuan dan mahasiswa asing sebagai penerima pengetahuan. Selanjutnya proses externalization yang terjadi pada proses transfer pengetahuan mahasiswa asing yaitu dengan mengartikulasikan pengetahuan yang diberikan pemberi pengetahuan kepada penerima pengetahuan. Dalam hal ini, proses externalization dalam transfer pengetahuan terbagi menjadi dua eksternalization yang dilakukan secara manual dan proses externalization yang dilakukan secara otomatis. Namun, ternyata juga ada penggabungan dari dua metode yaitu dilakukan secara manual dan yang sudah terautomasi dikarenakan mahasiswa asing merasa lebih efektif. Dalam proses combination ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi terkait proses ini. Proses combination dapat terjadi pada dua elemen yaitu combination yang melibatkan dosen dan combination yang terjadi antar sesama mahasiswa. Proses internalization terjadi dalam dua hal yaitu internalization yang dilakukan terstruktur yaitu melalui evaluasi pembelajaran seperti ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester melalui pembuatan paper atau pengujian terhadap materi yang didapatkan dan ditunjukkan berdasarkan hasil belajar mahasiswa asing pada semester tersebut. Kemudian, internalisasi secara personal yaitu ketika mahasiswa bisa memberikan contoh atau bukti berkaitan dengan materi tersebut serta dapat mempraktikkannya dengan baik. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam proses transfer pengetahuan pada kegiatan perkuliahan mahasiswa asing, yaitu terdiri dari kendala bahasa berkaitan dengan bahasa yang digunakan dalam proses transfer pengetahuan baik dari segi belajar maupun mengajar. Kendala bahasa yang di alami terdiri dari bahasa yang bertujuan sebagai alat komunikasi (lisan) dan kendala bahasa yang dijadikan sebagai bahan rujukan dalam pembelajaran (tulisan). Kendala budaya berkaitan dengan kebiasaan mahasiswa asing dalam mengikuti perkuliahan. Salah satu budaya mahasiswa asing adalah sangat kritis dan dan tidak ada rasa ewuh pakewuh atau secara terbuka langsung menyampaikan pendapat. Terakhir kendala yang dialami selama proses perkuliahan dalam jaringan menyangkut kendala teknis. Kegiatan belajar mengajar secara daring menyebabkan mahasiswa asing merasa hubungan yang terjalin dengan dosen merenggang.