Kembali
16
1
2022 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6 · 2 ISSN 2598-3040

Kontribusi Pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai Information Specialist dalam Proses Mengatasi Infodemi

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini membahas mengenai kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai information specialist dalam proses mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan memahami kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai information specialist dalam proses mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Metode analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai information specialist telah berkontribusi dalam proses mengatasi infodemi sesuai dengan kualifikasi kompetensi information specialist dan sifatnya menyesuaikan kondisi masyarakat pada masa pandemi Covid-19. Wujud nyata dari kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19 dapat diketahui dari 4 (empat) kualifikasi kompetensi information specialist, yaitu pemikiran analitis dan pengambil keputusan, mengolah sumber informasi secara fisik dan meningkatkan serta mendukung kualitas data dan informasi, merancang dan mengembangkan program dan layanan baru, mengadvokasi dan mempromosikan program & layanan informasi, serta membangun hubungan baik dengan mitra internal dan eksternal. Bentuk kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam proses mengatasi infodemi berupa layanan atau produk informasi yang dapat diakses secara terbuka oleh pemustaka.

Abstract

This study discusses the contribution of the National Library of the Republic of Indonesia librarian as an information specialist in overcoming the infodemic during the Covid-19 pandemic. The research aims to find out and understand the the contribution of the National Library of the Republic of Indonesia librarian as an information specialist in overcoming the infodemic during the Covid-19 pandemic. The research method used in this study is qualitative with a case study approach. Data collected methods used in this research were interviews, observation, and document study. Data analysis method using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The results of this study show that the librarians of the National Library of the Republic of Indonesia as an information specialist has contributed to the proccess of overcoming the infodemic in accordance with the qualifications of information specialist competence and adapting to the conditions of society during the Covid-19. Thus, the real manifestation of the contribution of the National Library of the Republic of Indonesia librarian as an information specialist in overcoming the infodemic during the Covid-19 pandemic can be seen from four information specialist competency qualifications, namely analytical thinking and decision making, physically processes information resource and promotes and supports data and information quality, design and develops new programmes and services, and builds relationships with internal and external partners. The form of the contribution of the National Library of the Republic of Indonesia librarian in overcoming the infodemic is services or informations product can be accessed openly by users.
Keywords: the contribution of the national library of the republic of Indonesia libarian · information specialist · infodemic · covid-19 pandemic

Introduction

Infodemi ditandai dengan jumlah publikasi mengenai Covid-19 yang mengalami peningkatan (Ferdowsi et al., 2021). Tidak heran bahwasannya ledakan informasi (information explosion) terjadi karena adanya infodemi apalagi di era digitalisasi semakin mudah dan cepat merebaknya informasi (Setiawan, 2017). Infodemi di dalamnya cukup banyak disinformasi, malinformasi, dan misinformasi yang beredar di masyarakat (Baines & Elliott, 2020). Terlalu banyak informasi yang beredar menimbulkan kesulitan dalam menentukan informasi mana yang benar dan tidak benar karena biasanya informasi tidak benar menutupi informasi akurat dari sumber resmi (Rizkinaswara, 2021). Rumor hingga konspirasi terkait Covid-19 yang muncul di berbagai media sosial mengisi ruang publik yang membuat ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan tenaga kesehatan dalam perjuangannya melawan covid (WHO, 2020c). Sebagian masyarakat Indonesia sangat mudah termakan berita-berita hoax khususnya tentang pandemi Covid-19. Informasi tersebut sering diterima di berbagai media sosial salah satunya grub Whatsapp. Komsiah (2021) menyampaikan dalam penelitiannya bahwa sebagian masyarakat sangat mudah terpengaruh dan mempercayai berita hoax karena informasi yang diterima tersebut didukung dengan menunjukkan bukti foto, video, atau keduanya. Selain itu, Rahadi (2017) berpendapat bahwa kecenderungan masyarakat dengan mudah mempercayai informasi yang diterima karena informasi tersebut dikirim dari teman yang dipercaya. Pada dasarnya masyarakat umum mayoritas percaya dengan informasi hoax apabila informasi tersebut sesuai dengan opini dan sikap masyarakat itu sendiri (Respati, 2017). Portal Informasi Indonesia (2020) menyatakan bahwa penyebaran disinformasi cukup meluas di berbagai sumber informasi hingga seruan pemerintah untuk tegas dalam memerangi infodemi sangat dibutuhkan masyarakat. Terkait penyebaran informasi dari berbagai sumber dan hadirnya peristiwa infodemi peran pustakawan sebagai information specialist sangat diperlukan. Seperti halnya tenaga kesehatan menghadapi pandemi secara langsung, pustakawan dalam melawan infodemi turut mengambil peran untuk mengatasi misinformasi, disinformasi, dan hoax (Faturahmi, 2020:244). Pustakawan dalam menjalankan peran informasi dapat menjadi konsultan dalam menyediakan sumbersumber informasi yang akurat (Wahyuni, 2015:203). Peran tersebut sangat dibutuhkan dalam penuntasan infodemi yang semakin merajalela. Penelitian yang dilakukan Froehlich (2019:130) menegaskan bahwa pustakawan sebagai profesional informasi memegang peran penting dalam penyebaran informasi (information dissemination) yang menimbulkan tumpukan informasi yang menyatu baik informasi akurat atau hoax. Pustakawan sebagai information specialist di perpustakaan memiliki otoritas dalam menjalankan perannya. Peran yang diambil pustakawan dalam hal ini yaitu dalam mengatasi berita disinformasi atau misinformasi. Pustakawan harus memiliki komitmen sebagai tenaga profesional dalam menemukan kebenaran suatu informasi (Froehlich, 2019:131). Infodemi di Indonesia menjadi fenomena yang telah mengglobal di tengah masyarakat menghadapi Covid-19. Pengetahuan dan informasi klarifikasi terkait infodemi masih sangat minim diterima masyarakat. Perpustakaan Nasional RI menjadi salah satu lembaga yang sejatinya mengemban tanggung jawab dalam mewujudkan strategi agar kebutuhan informasi masyarakat Indonesia terpenuhi di era pandemi dan khususnya di tengah fenomena infodemi. Perpustakaan Nasional RI perlu mewujudkan solusi terhadap permasalahan fenomena infodemi yang dirasakan masyarakat sebagai bentuk respons terhadap pandemi Covid-19. Mengingat bahwa Perpustakaan Nasional RI merupakan lembaga penyedia informasi resmi yang memiliki information specialist yang berkompeten di bidang informasi dan penyebarannya. Dalam hal ini pustakawan dinobatkan sebagai garda terdepan menghadapi infodemi, khususnya pustakawan sebagai information specialist. Dalam penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Chakraborty, Kureshi, Gajbe, Upadhyay, & Devi (2020) menerangkan bahwa peran pustakawan/profesional LIS selama pandemi Covid-19 adalah dengan memberikan sumber informasi yang valid dan menghentikan penyebaran berita palsu (hoax) melalui media sosial yang dapat dilakukan dengan perangkat online dan penyediaan layanan virtual kepada pengguna seperti mengajari penggunanya untuk memverifikasi keaslian situs web yang memosting berita yang telah diterima. Sedangkan, Babalola, Bankole, & Laoye (2020) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa peran pustakawan dalam menghadapi arus infodemi dengan mempromosikan kesadaran publik melalui pengembangan koleksi, membangun kolaborasi dan kemitraan dengan organisasi kesehatan, menyelenggarakan seminar tentang Covid-19, menyediakan layanan referensi melalui saluran telefon dan email, menyediakan informasi digital tentang Covid-19 dan mengajarkan keterampilan literasi kesehatan. Pada penelitiannya, Bhati & Kumar (2020:47) juga menegaskan bahwa profesional perpustakaan memiliki berbagai peran yang terintegrasi dengan perkembangan teknologi modern dalam menyediakan sumber daya elektronik sebagai pesebaran informasi untuk memenuhi permintaan masyarakat, khususnya selama pandemi Covid-19, dan pemanfaatan platform digital dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Berdasarkan apa yang telah dipaparkan tersebut dapat dirumuskan permasalahannya yaitu bagaimana kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai information specialist dalam proses mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai information specialist dalam mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19. 2 Landasan Teori 2.1 Konsep Spesialisasi Pustakawan Raish (2018:26) memaparkan bahwa pustakawan tidak terfokus pada tugas dan tanggung jawab yang telah ada, melainkan dituntut untuk menjalankan suatu program inovasi yang memberikan nilai tinggi pada eksistensi instansi. Pustakawan merupakan seseorang yang memiliki komitmen realis dan berpikir holistik dalam melanjutkan peran profesionalnya untuk membangun sinergi yang positif pada perpustakaan dengan intensionalitas yang ditanam dalam diri pustakawan melalui program-program kreatif (Raish, 2018:25). Royal School of Library and Information Science Denmark dalam Yaniasih & Arwan Subakti (2013) memaparkan peran profesional atau profesi pustakawan dalam Library and Information Science (LIS) terbagi atas profesional pustakawan, subject specialist, information specialist, pustakawan riset, arsiparis, information manager, dan profesional lainnya. Pengembangan profesi pustakawan tersebut mendasari pada kompetensi yang dimiliki dan fungsi khusus dalam perannya. Fungsi khusus tesebut merujuk pada konsep spesialis para profesi pustakawan. Semula tidak ada pembatasan terhadap peran pustakawan, seiring perkembangan ICT (Information and Communication Technology) permintaan dan kualitas informasi meningkat, profesi pustakawan terdapat pembatasan melalui spesialisasi (Blasius Sudarsono, 1990:20). Williamson, Pemberton, & Lounsbury (2008:282) berpendapat bahwa spesialisasi ilmu informasi yang berorientasi pada orang berbeda dengan spesialisasi berorientasi pada teknik. Perbedaan tersebut dilatarbelakangi oleh spesifikasi tugas atau pekerjaan. Pustakawan terbagi perannya dalam kelompok profesional informasi yang berbeda-beda sesuai dengan pekerjaannya. Jika dilihat dari keterlibatan dalam pekerjaan informasi, salah satu peran profesional LIS yaitu pustakawan sebagai information specialist memiliki peran informasi yang lebih kompleks dan memiliki fungsi khusus. Boelens (2006) mengemukakan bahwa information specialist adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam menyediakan informasi secara optimal dan mencari, memilih, mengumpulkan dan menelaah atau menganalisis informasi dengan klien (pemustaka), serta mampu menerapkan ICT dalam mengelola informasi. Information specialist mempunyai tanggung jawab dalam memproduksi informasi secara internal maupun eksternal. Kebutuhan akan information specialist sering dilatarbelakangi dengan adanya sumber daya informasi yang meningkat. Hal tersebut menandai pentingnya membangun kolaborasi dengan pustakawan yang memiliki kompetensi information specialist untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik dalam mengatasi persoalan informasi pada aktivitas penyebaran informasi atau diseminasi informasi (Fraser-Arnott, 2017:73). Sehingga, sangat penting adanya peran pustakawan sebagai information specialist dalam diseminasi informasi. 2.2 Peran Pustakawan sebagai Information Specialist dalam Diseminasi Informasi Peran pustakawan sebagai information specialist dalam diseminasi informasi sangat penting. Konsep diseminasi informasi mengacu pada penyedia informasi (information specialist) dan pengguna informasi. Penyebaran informasi bersifat proaktif yang dirancang untuk menginformasikan masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan. Penyebaran informasi merupakan faktor terpenting dan kritis dalam keberlangsungan menghadapi atau menyelesaikan suatu masalah (Dhawan, 2018:46). Penyebaran informasi mulai berkembang dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan peran information specialist dalam menghadapi perkembangan informasi. Penyebaran informasi merupakan sebuah proses sosial terutama bagi masyarakat modern yang berpusat pada informasi. Sedangkan, pustakawan sebagai information specialist menjadi perantara dalam mendistribusikan informasi kepada pengguna. Dalam penyampaian informasi secara tepat dan efektif diperlukan pemahaman kompetensi informasi information specialist perpustakaan untuk mendefinisikan perannya dalam diseminasi informasi. Special Library Assotiation (SLA) membagi kompetensi information specialist menjadi kompetensi profesional yang mengacu pada pengetahuan praktisi tentang manajemen informasi beserta akses teknologinya, kompetensi personal yang mengacu pada sikap, keterampilan serta nilai yang memungkinkan praktisi dapat bekerja secara efektif, dan kompetensi inti yang menambat atau mengikat kompetensi profesional dan kompetensi personal penting untuk setiap information specialist (Abels et al., 2003). Dalam konteks pandemi, World Health Organization (WHO) (2020b) menyebut istilah baru pada penyebaran informasi menyesatkan yaitu infodemi. Penyebaran informasi menyesatkan seperti infodemi cukup sulit untuk dicegah seiring perkembangan Information and Communication Technology (ICT) karena gerakan persebaran informasi melaju semakin cepat melalui pemanfaatan teknologi informasi (Shonhe & Jain, 2017). Hal ini mengarahkan dan mendorong peran pustakawan sebagai information specialist dalam menghadapi infodemi. 2.3 Peran Pustakawan sebagai Information Specialist dalam Menghadapi Infodemi Pustakawan sebagai information specialist memiliki peran penting dalam menghadapi infodemi. Infodemi adalah fenomena penyebaran informasi dengan melimpahnya informasi terkait Covid-19 yang di dalamnya terdapat informasi yang tidak benar atau menyesatkan baik di lingkungan digital maupun fisik selama pandemi global (WHO 2020a). Sama halnya, definisi infodemi oleh Pan American Health Organization (PAHO) bahwa infodemi mengacu pada peningkatan informasi dalam jumlah besar yang berkaitan dengan Covid-19 yang pertumbuhannya terjadi secara eksponensial dalam jangka waktu yang singkat (PAHO, 2020). Infodemi memerlukan tindakan yang tepat karena memuat konten berita bohong (hoax) termasuk pada jenis-jenisnya antara lain, misinformasi, disinformasi, dan malinformasi (Baines & Elliott 2020). Lebih lanjut Baines & Elliott (2020) menjelaskan, ketiga istilah penyebaran informasi hoax sama-sama memberikan dampak kecemasan dan kepanikan masyarakat yang menerima informasi tersebut. Seiring waktu infodemi dapat mengalami peningkatan bahkan memperburuk keadaan. Terlebih informasi-informasi tersebut tidak dapat dikendalikan dan menyebar dengan cepat melalui teknologi seluler, media sosial, internet, dan sistem informasi lainnya (Kouzy et al., 2020:1). Pustakawan sebagai information specialist agar tepat dalam mengatasi infodemi, sangat penting memahami kompetensi informasi dalam memainkan perannya seperti halnya peran pustakawan sebagai information specialist dalam diseminasi informasi. Adanya perubahan dan perkembangan peran pada kompetensi information specialist dipengaruhi gerakan diseminasi informasi (infodemi) yang memerlukan adanya peran baru information specialist. Fraser-Arnott (2017) mengidentifikasi kompetensi information specialist termasuk bidang kepustakawanan dalam melaksanakan peran barunya yaitu terbagi atas lima komponen kompetensi atau kualifikasi. Lima komponen tersebut terdapat empat sub komponen yang menggambarkan peran information specialist di bidang kepustakawan yang dipaparkan Fraser-Arnott (2017:73), yaitu sebagai berikut: 1. Pemikiran analitis dan pengambil keputusan (Personal qualities) 2. Mengolah sumber informasi secara fisik dan meningkatkan serta mendukung kualitas data dan informasi (Records, information, and knowledge management technical competencies) 3. Merancang dan mengembangkan program dan layanan baru (Programme and service delivery and management) 4. Mengadvokasi dan mempromosikan program & layanan informasi, serta membangun hubungan baik dengan mitra internal & eksternal (Collaboration, client service and communication).

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan metode penelitian kualitatif mengkaji pemahaman secara utuh dan sifat pendekatan studi kasus lebih spesifik pada kedalaman tentang pemahaman mengenai fenomena yang sedang berlangsung. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini dipergunakan untuk menganalisis atau memahami suatu peristiwa, program, aktivitas individu atau sekelompok individu dengan adanya batasan waktu dan peniliti dalam mengambil data berdasar waktu yang ditentukan (Creswell, 2009:13). Kemudian, metode penentuan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Teknik ini digunakan untuk menentukan informan. Pusposive sampling dalam penelitian kualitatif adalah metode pemilihan informan terhadap seseorang yang dapat membantu peneliti untuk memahami sebuah fenomena (Creswell, 2009). Agar memperoleh informan yang terbaik, penentuan informan dengan purposive sampling dilakukan dengan pertimbangan tertentu atau berdasarkan kriteria (Sugiyono, 2013:85). Kriteria informan didasari dari 4 (empat) garis besar kualifikasi information specialist dari pemikiran (Fraser-Arnott, 2017:73) yaitu informan yang memiliki kompetensi pemikiran analitis dan pengambil keputusan (Personal qualities); mengolah sumber informasi secara fisik dan meningkatkan serta mendukung kualitas data dan informasi (Records, information, and knowledge management technical competencies); merancang dan mengembangkan program dan layanan baru (Programme and service delivery and management); mengadvokasi dan mempromosikan program & layanan informasi, serta membangun hubungan baik dengan mitra internal & eksternal (Collaboration, client service and communication). Adapun kriteria lainnya adalah informan merupakan pustakawan yang ditugaskan secara khusus dalam layanan diseminasi informasi, informan berkompeten dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi serta penyebaran informasi, informan memiliki peran dan pengaruh khusus di instansi. Maka berdasarkan kriteria tersebut, peneliti memilih satu informan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yaitu pustakawan yang berperan sebagai information specialist diseminasi informasi dan memiliki pengaruh khusus dalam memaksimalkan pelayanan perpustakaan termasuk di bidang diseminasi informasi. Penelitian kali ini, peneliti menggunakan metode wawancara, observasi, dan studi dokumentasi sebagai metode pengambilan data. Kemudian, peneliti menggunakan metode analisis data deskriptif kualitatif pada penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Model analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah model interaktif Miles, Huberman, Saldana (2014:12-14), yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Result & Discussion

4.1 Pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai Information Specialist Diseminasi Informasi Di perpustakaan nasional terdapat 2 (dua) pustakawan yang ditugaskan secara khusus pada layanan kemas ulang informasi dan diseminasi informasi. Keduanya memiliki peran yang sama dalam proses mengelola dan memberikan layanan kepada pemustaka. Pada dasarnya pustakawan yang ditugaskan tentunya berkompeten dalam bidangnya, terutama berkompeten atau memiliki keahlian di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Hal itu dikarenakan, penyebaran informasi telah mengikuti perkembangan era digital. Untuk membuat suatu paket informasi dan produk layanan yang menarik, mudah akses, dan bernilai manfaat bagi pemustaka, pustakawan Perpustakaan Nasional memprioritaskan informasi dalam bentuk digital agar mudah diakses pemustaka dimanapun dan kapanpun. Sebagai information specialist di bidang diseminasi informasi, kedudukan pustakawan yang mengelola layanan kemas ulang dan diseminasi informasi memiliki otoritas penuh dalam pengembangan Perpustakaan Nasional menjadi pusat sumber informasi resmi yang berkualitas. Khususnya pada sebuah organisasi Perpustakaan Nasional terkait hal itu yakni Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara memiliki berbagai layanan informasi yang perlu dikelola dan dikembangkan oleh pustakawan yang ahli dan berkompeten di bidang tersebut. Banyaknya layanan di Perpustakaan Nasional, pustakawan diklasifikasikan dengan mengemban tugas sesuai kebijakan yang berlaku. Pengkhususan ini diselenggarakan agar pustakawan dapat fokus untuk mewujudkan program kerja yang yang lebih terstruktur. Selain itu dapat memberikan layanan yang prima kepada pemustaka. Kedekatan pustakawan Perpustakaan Nasional kepada pemustakanya dijalin dengan melalui segala bentuk pelayanan yang diberikan oleh pustakawan. Layanan kemas ulang dan diseminasi informasi tergolong layanan baru Perpustakaan Nasional yang saat ini sedang dikelola dan dikembangkan oleh pustakawan. Sebagai information specialist di bidang tersebut, pustakawan aktif dalam berkontribusi dalam meningkatkan mutu layanan kemas ulang dan diseminasi informasi. Setiap pustakawan memiliki cara sendiri-sendiri dalam memaksimalkan perannya sebagai information specialist khususnya bidang diseminasi informasi yang tentunya pustakawan. Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kadar kompetensi pustakawan diseminasi informasi sangat penting diperhatikan untuk selalu memiliki inovasi baru, kemahiran dan kreativitas dimana Perpustakaan Nasional membutuhkan pustakawan yang berkompeten. Seperti yang telah disampaikan oleh Duta Perpusnas sekaligus sebagai informan bahwa kecanggihan teknologi, penggunaan gadget, dan bermain media sosial sangat meningkat, pustakawan dapat memanfaatkan momen tersebut dengan melakukan penyebaran informasi dalam bentuk visual atau audio visual yang menarik. Memasuki era keterbukaan informasi dimana masyarakat dapat mengakses informasi lebih luas, pustakawan siap menyediakan segala bentuk informasi dan didiseminasikan kepada masyarakat. Terutama informasi dalam bentuk digital yang sering diminati masyarakat untuk dimanfatkan di mana pun dan kapan pun. 4.2 Peran Pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai Information Specialist Diseminasi Informasi Pustakawan Perpustakaan Nasional yang ditugaskan secara khusus di bidang diseminasi informasi memiliki peran dalam mentranformasikan pengetahuan dengan memanfaatkan perkembangan information and communication technology (ICT). Sebagai information specialist di bidang diseminasi informasi, pustakawan Perpustakaan Nasional berperan penuh dalam memberikan kemudahan akses bagi pemustaka terhadap informasi apa yang sedang dicari dan yang akan ditelusur. Peran yang direalisasikan ini berupa produk diseminasi informasi yang telah dikelola agar informasi yang dibutuhkan masyarakat pengguna dapat diterima dan kepuasan pemustaka dapat terpenuhi. Berikut produk diseminasi informasi pada layanan diseminasi informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Produk diseminasi informasi pada layanan informasi yang disediakan Perpustakaan Nasional tersebut tergolong masih baru. Berdasarkan apa yang telah dituturkan oleh Dede (informan) bahwa layanan diseminasi informasi termasuk pada kelompok baru karena mulai dibentuk sesuai Surat Keputusan (SK) pada tahun 2020 sekitar bulan September-November. Namun, produk ini mulai aktif produktif dan dapat diakses melalui website pujasintara.perpusnas.go.id pada tahun 2021. Produk ini merupakan produk pertama pada layanan diseminasi informasi Perpustakaan Nasional dalam bentuk paket informasi. Gambar 1. Produk Diseminasi Informasi Paket Informasi Selain paket informasi, pustakawan diseminasi informasi sebagai information specialist membuat produk yang dirancang khusus berkaitan dengan Pujasintara. Untuk mencegah pengguna informasi (pemustaka) termakan hoax dan mengalami kebingungan menemukan informasi, pustakawan menghadirkan produk newsletter. Newsletter adalah produk/layanan yang menceritakan tentang apa yang sedang terjadi dan yang akan terjadi di Pujasintara. Pada layanan ini, pustakawan Perpustakaan Nasional di bidang diseminasi informasi memberikan informasi terbaru yang sedang terjadi khususnya berkaitan dengan layanan Pujasintara. Gambar 2. Newsletter Digital Gambar 3. Newsletter Tercetak Newsletter menjadi salah satu produk diseminasi informasi yang bersifat langganan. Bagi pemustaka baru atau yang telah mendaftarkan langsung akan mendapat informasi terbaru dari Pujasintara setiap bulannya. Informasi-informasi tersebut akan dikirimkan kepada pemustaka melalui e-mail. Dengan produk/layanan ini, pemustaka akan cepat mengetahui apa saja informasi yang terbaru, misalnya yang berkaitan dengan buka layanan perpustakaan, kegiatan perpustakaan, koleksi perpustakaan atau informasi uptodate lainnya. Dalam memegang peran informasinya, pustakawan Perpustakaan Nasional sebagai information specialist yang memumpuni memiliki strategi dalam diseminasi informasi. Pada dasarnya sebagai information specialist, pustakawan harus mampu mengolah, menyampaikan, dan mengendalikan informasi. 4.3 Kontribusi Pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai Information Specialist dalam Proses Mengatasi Infodemi Pustakawan Perpustakaan Nasional menjadi salah satu pustakawan yang memiliki peran besar dalam menghadapi infodemi. Pustakawan Perpustakaan Nasional yang berkompeten memiliki kualitas diri yang pastinya mampu memberikan informasi secara jelas, utuh, dan akurat, serta memiliki kontribusi nyata. Peneliti menganalisis melalui kompetensi pustakawan dengan kualifikasinya sebagai information specialist dalam melaksanakan kontribusinya mengatasi infodemi. Dari temuan penelitian peneliti dalam menganalisis kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional sebagai information specialist dalam mengatasi infodemi menggunakan standar kualifikasi information specialist yang dikemukakan Fraser-Arnott (2017). Terdapat 4 (empat) poin besar kualifikasi yang ditentukan peneliti dalam menganalisis untuk mengetahui kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam mengatasi infodemi berdasarkan tujuan penelitian. Berikut ini adalah hasil analisis dari temuan penelitian yang telah peneliti dapatkan, yaitu: 1. Pemikiran analitis dan pengambil keputusan (Personal qualities) Berpikir analitis menjadi salah satu hal penting bagi pustakawan dalam memecahkan suatu permasalahan informasi yang kompleks berdasarkan informasi yang dimiliki. Pemahaman terhadap suatu permasalahan menjadi penting bagi pustakawan sebagai information specialist dalam mengambil suatu keputusan. Sebagai information specialist pada diseminasi informasi pustakawan Perpustakaan Nasional (informan) telah mengetahui dan memahami fenomena infodemi dan dampaknya. 2. Mengolah sumber informasi secara fisik dan meningkatkan serta mendukung kualitas data dan informasi (Records, information, and knowledge management technical competencies) Informan menyampaikan bahwa Perpustakaan Nasional telah membuat sebuah produk khusus ePustaka sebagai bentuk respon terhadap pandemi Covid-19 dan memungkinkan menjadi upaya menghadapi fenomena infodemi yaitu Coronapedia. “Untuk infodemi secara khusus dari Perpusnas menyediakan aplikasi Ipusnas e-book gratis yang dipersembahkan oleh Perpustakaan Nasional. Itu menyediakan koleksi khusus tentang corona judulnya “Coronapedia”. Berdasarkan pengamatan peneliti, di gedung layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia selalu memberikan informasi kepada pemustaka unuk tetap menerapkan protokol kesehatan, salah satunya dengan memasang poster-poster untuk menerapkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dan video visual mengenai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang ditampilkan pada monitor di setiap lantai perpustakaan. Informasi-informasi terkait Covid-19 yang dikemas dengan menarik oleh pustakawan Perpustakaan Nasional sebagai information specialist baik melalui e-Pustaka Coronapedia dan melalui poster-poster digital dapat meminimalisir dampak dari fenomena infodemi dimana masyarakat membutuhkan informasi yang benar dari information specialist yang terbiasa bekerja di bidang informasi. Gambar 4. Poster GERMAS di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 3. Merancang dan mengembangkan program dan layanan baru (Programme and service delivery and management) Layanan diseminasi informasi termasuk layanan kelompok baru yang mulai produktif di tahun 2021 dan produk pertamanya adalah diseminasi informasi dalam bentuk paket informasi. Pustakawan diseminasi informasi menyajikan informasi terkait koleksi, jurnal-jurnal, maupun buku sesuai fokus atau minat pemustaka dan pustakawan juga menyediakan segala informasi terkait Covid-19 dan khususnya fenomena infodemi jika dibutuhkan oleh pemustaka. Pemustaka dapat menyampaikan topik spesifik pada subjek informasi yang dibutuhkan melalui form yang telah disediakan di https://pujasintara.perpusnas.go.id/diseminasi-informasi/. Layanan atau produk yang kedua adalah newsletter layanan perpustakaan yang menyampaikan informasi-informasi uptodate atau berita terbaru mengenai Pujasintara (Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara) yang diterbitkan setiap bulan. 4. Mengadvokasi dan mempromosikan program & layanan informasi, serta membangun hubungan baik dengan mitra internal & eksternal (Collaboration, client service and communication). Informan merupakan salah satu putakawan Perpustakaan Nasional sebagai information specialist diseminasi informasi yang juga sedang membangun karir sebagai content creator dan berkontribusi secara pribadi dalam upaya mengatasi infodemi. Fenomena infodemi telah memenuhi ruang media sosial dengan beredarnya informasi-informasi yang tidak valid dan berdampak berbahaya, maka sebagai pustakawan harus tanggap dengan itu. Sebagai pustakawan dapat membuat produk sendiri dengan membuat konten-konten di media sosial seperti di Youtube dan Instagram, sehingga akan banyak informasi yang valid dan kredibel di media sosial. Perpustakaan Nasional juga aktif dalam membangun kerjasama dengan berbagai instansi. Hal ini mendukung peningkatan pemanfaatan program atau layanan Perpustakaan Nasional oleh masyarakat pengguna. Perpustakaan Nasional telah memberikan respon terhadap adanya pandemi Covid-19 dan sebagai bentuk upaya mengatasi infodemi telah meluncurkan program atau layanan baru Coronapedia. Berdasarkan pengataman peneliti, Coronapedia hadir atas kerjasama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam menyediakan informasi seputar Covid-19 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2021). Berdasarkan beberapa temuan yang peneliti sajikan dan kaitkan dengan teori yang ada, pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai information specialist telah berkontribusi dalam proses mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19 yang dibuktikan dengan wujud nyata pemanfaatan layanan diseminasi informasi yang berupa paket informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka terkenaan dengan Covid-19 dan peluncuran program baru Coronapedia, serta dilengkapi dengan karya-karya pustakawan Perpustakaan Nasional berkaitan Covid-19. Gambar 5. Tabel Peminjaman Buku di ePustaka Corona Pedia Gambar 6. Statistika Jumlah Peminjaman Koleksi Corona Pedia tahun 2020 Gambar 7. Kliping Coronavirus (COVID-19) Karya Pustakawan Perpusnas RI

Conclusion

Berdasarkan temuan penelitian dan analisis penelitian yang telah disajikan penulis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagai information specialist khususnya dalam diseminasi informasi, pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah berkontribusi dalam mengatasi infodemi pada masa pandemi Covid-19. Namun, pustakawan belum ada program atau layanan baru yang secara khusus mengenai infodemi karena di samping itu, pustakawan dan Perpustakaan Nasional berusaha untuk menyajikan berbagai layanan yang bisa dimanfaatkan yang sifatnya mencoba menyesuaikan dengan keadaan masyarakat dan termasuk pada kondisi pandemi Covid-19. Kontribusi pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam mengatasi infodemi berbentuk layanan dan produk diseminasi informasi, yaitu layanan diseminasi informasi berupa paket informasi, newsletter layanan perpustakaan (produk diseminasi informasi), Tanya Pustakwan, e-Pustaka Coronapedia, poster digital tentang protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19, dan Karya Pustakawan berupa kliping Coronavirus (Covid-19). Sebagai information specialist, pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga berkontribusi secara pribadi di luar tugas instansi dengan mempromosikan layanan-layanan dan produk informasi Perpustakaan Nasional sebagai upaya menyebarkan informasi yang benar melalui media sosial Youtube dan Instagram.