Macam-Macam Dialek Bahasa Inggris dan Potensinya dalam Memunculkan Kesalahpahaman pada Komunikasi Lintas Budaya
Universitas Diponegoro
Abstrak
Terlepas dari popularitas dan posisi politiknya yang kuat, bahasa Inggris sebagai basantara dalam pergaulan antar budaya lingkup internasional menyimpan potensi kesalahpahaman di antara para penuturnya. Potensi kesalahpahaman tersebut terdapat pada adanya ragam dialek bahasa Inggris yang cukup banyak. Artikel ini berupaya memaparkan apa saja macam dialek bahasa Inggris, perbedaan satu dan lainnya, dan bagaimana sub-aspek bahasa tersebut berpotensi memunculkan hambatan dalam komunikasi lintas budaya. Data pada artikel ini diambil dengan metode studi pustaka dan dianalisa dalam kerangka kualitatif dimana perilaku kebahasaan dan komunikasi dilihat sebagai fenomena kebudayaan. Hasil analisis menunjukan adanya perbedaan dialek bahasa Inggris berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya karena masing-masing dapat memiliki aspek kebahasaan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat mencakup perbedaharaan kata, cara pengucapan, cara penulisan, tata bahasa, dan lain-lain.
Abstract
Despite its popularity and strong political position, English as a lingua franca can still potentially allows for misunderstandings among its speakers of the international contexts. The potential misunderstandings lie in the existence of a fairly large variety of English dialects. This article seeks to explain the different dialects of English and how the sub-aspects of the language have the potential to create barriers to effective cross-cultural communication. The library study is applied to take the relevant data. The analysis is conducted in the qualitative research framework where communication and linguistic behaviors are seen as cultural phenomena. The analysis shows that the varieties of English dialects have the potential to hinder the effective cross-cultural communication as each has possibly several different linguistic systems. The differences can include words, pronunciations, systems of writing, grammar, and others.
Keywords:
dialects
· english
· language
· communication
· cross-cultural
Introduction
Sebagai lingua franca, bahasa Inggris dapat berfungsi untuk menjembatani komunikasi dua pihak berlatar belakang budaya dan bahasa yang berbeda dalam konteks pergaulan internasional. Iriance (2018:777) mendefinisikan lingua franca sebagai bahasa pengantar atau bahasa pergaulan agar masingmasing pihak yang berbeda bahasa sama-sama mengerti dengan apa yang disampaikan. Berbagai stakeholder terkait urusan pergaulan internasional terus mendorong adanya kecakapan berbahasa Inggris agar kegiatan bisnis, kerjasama, dan lain-lain antar negara berjalan efektif. Handayani (2016:104) menegaskan bahwa bahasa Inggris merupakan media komunikasi global. Untuk mendorong keterampilan komunikasi internasional yang efektif, pihak-pihak terkait ikut serta dalam menyelenggarakan maupun mengikuti kursus dan pengujian bahasa Inggris terstandarisasi. Selain itu, upaya melatih keterampilan berbahasa Inggris juga dilakukan dalam sesi-sesi informal dimana pihakpihak terkait menggunakan bahasa tersebut secara aktif untuk berkomunikasi. Hal ini menunjukan bahwa bahasa Inggris menempati posisi penting dalam konteks komunikasi pergaulan internasional dimana keberagaman budaya dan bahasa adalah keniscayaan. Untuk menunjang adanya efektivitas dan keberhasilan komunikasi lintas budaya dalam konteks pergaulan internasional, seseorang tidak cukup hanya menguasai bahasa Inggris praktis. Penguasaan bahasa Inggris praktis harus didukung dengan pengetahuan teoretis yang luas. Selain itu, tentu saja aspek keterampilan juga diharapkan berjalan beriringan. Siregar (2015:115-116) menyatakan bahwa “komunikasi lintas budaya menjadi kebutuhan bagi semua kalangan untuk dapat menjalin hubungan yang lebih baik dan memuaskan, terutama bagi mereka yang berbeda budaya”. Situasi lintas budaya memungkinkan adanya kekhasan komunikasi yang berbeda satu sama lainnya. Termasuk didalamnya adalah kekhasan dalam berbahasa Inggris. Dalam konstruk pembelajaran bahasa Inggris untuk tujuan-tujuan praktis seseorang dapat memberikan respon awal berbasis pengetahuan dasar. Namun, situasi lintas budaya yang lebih kompleks dapat menghambat keterampilan respon lanjutan. Hambatan ini dapat muncul karena ketidakpahaman seseorang atas beberapa aspek bahasa yang dipengaruhi oleh unsur budaya misalnya cara pelafalan (pronunciation), intonasi (intonation), pilihan kata (diction), dan lain-lain. Beberapa hal tersebut dapat terkait erat dengan adanya perbedaan macam dialek dari para penutur bahasa Inggris. Tulisan ini berupaya memaparkan penjelasan tentang ragam dialek bahasa Inggris dan kekhasan konsep kebahasaan masing-masing. Selanjutnya, penulis menjelaskan bagaimana ragam bahasa tersebut berpotensi menghambat efektivitas dan keberhasilan komunikasi lintas budaya di pergaulan internasional dimana bahasa Inggris merupakan bahasa pengantarnya. Nantinya, hasil analisis diharapkan akan menunjukan apakah pembelajaran dan penguasaan bahasa Inggris untuk tujuan komunikasi lintas budaya di pergaulan internasional memerlukan adanya pembelajaran atas aspek-aspek lanjutan seperti pemahaman atas ragam dialek guna mendukung keterampilan bahasa Inggris yang lebih memadahi.
Method
Penulis melakukan pembacaan terhadap sumber-sumber pustaka tertulis yang terdokumentasi dalam buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Kerangka penelitian kualitatif diterapkan dalam hal pengolahan data. Dalam hal analisis, penulis menggunakan pendekatan sosiokultural dimana fenomena berbahasa Inggris yang berbeda antara satu sama lainnya ditempatkan sebagai perilaku yang dipengaruhi oleh budaya dan pengalaman individu ataupun kelompok. Lebih lanjut, teori-teori bahasa dan komunikasi juga diterapkan dalam mengolah data sehingga hasil penelitian bersifat metodologis dan teoritis. 3. Landasan Teori 3.1.Konsep Dialek Terdapat beberapa definisi dialek yang mana hampir keseluruhannya bermuara pada substansi yang sama. Dalam hal ini, digunakan tiga definisi dialek menurut ahli. Pertama, dialek diartikan sebagai ragam bahasa (Inggris) yang berkaitan dengan wilayah atau kelas sosial tertentu (Nordquist, 2019). Kedua, dialek adalah ragam bahasa yang menandai darimana seseorang berasal (Ivic dan Crystal, 2014). Ketiga, menurut Trudgill (1983), dialek mengacu pada semua jenis perbedaan bahasa dalam aspek perbendaharaan kata, tata bahasa, dan pengucapan. Dari ketiga definisi yang dipaparkan terdapat benang merah yang bisa ditarik mengenai dialek. Dalam hal ini dialek berkenaan dengan fenomena perbedaan bahasa yang mencakup aspek perbehandaraan kata, tata bahasa, dan pengucapan yang kekhasannya dapat terkait dengan asal wilayah seseorang. Berdasarkan definisi-definisi di atas, penjabaran dialek dapat mencakup setidaknya tiga aspek kebahasaan yaitu perbendaharaan kata (vocabulary), tata bahasa (grammar), dan pengucapan (pronunciation). Berbeda dengan aksen yang mana kekhasannya hanya terdengar dari intonasi, cara pelafalan, dan aspek bunyi lainnya, dialek dapat mencakup kekhasan / perbedaan yang lebih banyak. Dengan begitu, dialek memiliki unsur yang lebih kompleks daripada aksen. Hal ini perlu ditegaskan mengingat sebagian orang menyamakan kedua istilah tersebut. 3.2.Komunikasi dan Ukuran Keberhasilannya Proses komunikasi dianggap berhasil apabila telah terdapat beberapa kondisi. Mengacu pada Hurn dan Tomalin (2013:10-11), kondisi yang pertama adalah pesan telah disampaikan / diartikulasikan secara sadar dan tepat sesuai maksud pikiran. Kedua, pesan tersampaikan tanpa adanya distorsi pada makna / substansi. Ketiga, pesan yang disampaikan mendapatkan respon balik dari penerima pesan. Dalam proses komunikasi tersebut terdapat setidaknya dua pihak yang terlibat yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Masih merujuk pada Hurn dan Tomalin (2013:10-11), seorang pengirim pesan melakukan aktivitas encoding (penyusunan dan pengiriman pesan) dan seorang penerima pesan melakukan aktivitas decoding (penerjemahan dan memahami pesan). Dalam hal menyampaikan pesan, seorang pengirim akan menggunakan perantara (channel / medium) sehingga dapat diterima oleh penerima pesan. Perantara pesan dapat mengacu pada metode penyampaian pesan maupun hal yang digunakan untuk mendistribusikan pesan. Perantara komunikasi dapat berupa komunikasi verbal, komunikasi tertulis, dan komunikasi nonverbal. Masing-masing jenis dapat tersampaikan dengan alat ataupun sistem yang berbeda-beda misalnya bicara tatap muka, surat menyurat elektronik dan non-elektronik, internet, dan lain-lain. Keseluruhan unsur tersebut dapat menentukan keberhasilan proses komunikasi. Dalam konteks lintas budaya, seseorang mungkin akan menemukan hambatan-hambatan komunikasi sebelum akhirnya berhasil. Hal ini terjadi karena proses penyusunan, pengiriman, dan penerimaan pesan akan memerlukan pemahaman-pemahaman tambahan dengan terlebih dahulu menyesuaikan latar belakang budaya lawan komunikasi (interlocutor). Berbeda dengan komunikasi intra budaya, komunikasi lintas budaya menyimpan potensi-potensi kesalahpahaman. Hambatan-hambatan dalam proses komunikasi sendiri disebut sebagai noise / interference (Hurn dan Tomalin, 2013:11). Hambatan-hambatan tersebut dapat menyangkut aspek teknis (terkait dengan perantara dan alat), linguistik (kebahasaan), maupun perilaku budaya yang berbeda satu sama lainnya.
Result & Discussion
4.1.Dialek Bahasa Inggris dan Beberapa Contohnya Dalam konteks ragam dialek bahasa Inggris, terdapat beberapa contoh yang populer. Diantaranya adalah American English, British English, dan Australian English. Jika ditelaah lebih lanjut, dalam dialekdialek tersebut juga terdapat sub-sub dialek. Dalam konteks British English terdapat dialek Southern English, Cockney, Estuary English, dan lain-lain. Dalam konteks American English dikenal Northern American English, Northern Midland, Southern, dan lain-lain. Lebih lanjut, ragam bahasa Inggris dapat juga dikategorikan ke dalam dua cakupan berbasis keterkaitan dengan bahasa asli (mother tongue). Menurut Kachru (1992), yang pertama disebut native speaker varieties of English dan yang kedua adalah non-native speaker varieties of English. Native speaker varieties of English mengacu pada ragam bahasa Inggris di kalangan penutur asli. Sementara non-native speaker varieties of English mencakup ragam bahasa dari kalangan bukan penutur asli seperti penutur bahasa Inggris di India, Tiongkok, Jerman, Perancis, Itali, atau Spanyol. Pada poin ini, bahasa Inggris tampak sebagai bahasa yang kompleks dan beragam. Adanya bermacam-macam dialek bahasa Inggris memungkinkan seseorang menemukan perbedaan perbendaharaan kata antara satu dialek bahasa Inggris dengan yang lainnya. Perbendaharaan kata (vocabulary) sendiri mengacu pada semua kata dalam sebuah bahasa yang dipahami oleh seseorang atau kelompok tertentu (Nordquist, 2019). Perbedaan pada aspek perbendaharaan kata bisa terkait dengan cara penulisan ataupun perbedaan istilah atau penyebutan. Menurut Nordquist (2019), perbendaharaan kata (vocabulary) terdiri atas dua kategori yaitu aktif dan pasif. Mengacu pada konsepnya, perbendaharaan kata aktif adalah kata-kata yang dipahami dan digunakan oleh seseorang dalam aktivitas berbicara dan menulis sehari-hari. Sementara itu, perbendaharaan kata pasif merupakan kata-kata yang mungkin seseorang pahami tetapi tidak sering digunakan dalam komunikasi praktis sehari-hari. Perbedaan perbendaharaan kata pada dialek-dialek bahasa Inggris dapat dilihat pada table di bawah. Dalam hal ini, digunakan tiga macam dialek bahasa Inggris yang menunjukan perbedaan cara penulisan dan penyebutan istilah. Tabel 1. Contoh Perbedaan Penulisan Kata dan Penyebutan Istilah (Sumber: blog.lingoda.com/en/difference-between-american-british-australian-english) British English American English Australian English Terjemahan Centre Center Centre Tengah Petrol Station Gas Station Servo Pom Bensin Autumn Fall Autumn Musim Gugur Sweet / sweeties Candy Lollies Permen Mate / Pal Friend Mate Teman / Sobat Selain terlihat pada lingkup kata, perbedaan dialek juga dapat menentukan perbedaan aspek yang lebih besar misalnya kalimat, frasa, maupun ekspresi-ekspresi umum dalam komunikasi dua arah. Dalam hal sapaan santai kepada lawan bicara seorang dengan British English mengatakan “hello, how are you” atau “how are you doing?”. Sementara itu, seorang dengan American English mungkin lebih familiar dengan kalimat sapaan “hey, what’s up?” atau “hey what’s going on?” (The Language Gallery, 2022). Kalimat-kalimat sapaan tersebut memiliki substansi yang sama dimana seseorang sedang menanyakan kabar lawan bicaranya. Sama halnya ketika seseorang dengan bahasa Indonesia bertanya, “halo, apa kabar?”. Sebagai contoh lain, penutur dialek British English akan mengatakan “I shall go home now.” untuk memaksudkan bahwa ia akan pulang ke rumah sekarang. Penutur American English biasanya akan lebih familiar menggunakan redaksi “I will go home now.” untuk maksud yang serupa (VOA Learning English, 2017). Jika diubah ke dalam bentuk kalimat pertanyaan, dua konteks dialek tersebut juga dapat memunculkan pemaknaan yang berbeda. Penutur British English akan mengatakan “shall we go now?” dan penutur American English mungkin akan lebih menggunakan “should we go now?” (VOA Learning English, 2017). Ragam dialek bahasa Inggris dapat berimplikasi terhadap adanya perbedaan konsep tata bahasa (grammar). Tata bahasa didefinisikan sebagai aturan-aturan bahasa yang menyangkut aspek bunyi, kata, kalimat, dan unsur-unsur lainnya serta cara-cara penggabungan dan maknanya (Britannica, 1998). Selanjutnya, perbedaan pada aspek tata bahasa ini dapat memunculkan kesalahpahaman apabila di antara para penutur tidak memiliki pengetahuan awal mengenai hal tersebut. Misalnya, dalam salah satu subdialek American English, seseorang menggunakan kata “ain’t” untuk menggantikan 'am not', 'aren't', 'isn't', 'haven't', and 'hasn't'. Menurut bahasa Inggris standar, fenomena tersebut menyalahi aturan tata bahasa. Namun, dalam praktik utamanya secara lisan, kata tersebut sering terdengar dalam kesempatan komunikasi dua arah yang dilakukan penutur dialek tersebut. Konsep tata bahasa yang berbeda cukup banyak terjadi dalam konstruk dialek American dan British English. Perbedaan tersebut misalnya mencakup konsep collective nouns¸ auxilliary verbs, past tense verbs, dan tag questions (VOA Learning English, 2017). Selain berkaitan dengan masalah sintaksis, perbedaan konsep tata bahasa dalam dialek-dialek bahasa Inggris juga dapat berimplikasi pada pemaknaan. Hal ini misalnya dapat terjadi dalam masalah collective nouns dimana American English menganggapnya sebagai jumlah tunggal sementara British English cenderung menganggapnya sebagai jamak. Secara spesifik fenomena ini tampak dari contoh kalimat berikut: Tabel 2. Collective Nouns dalam Dialek American English dan British English (Sumber: www.britishcouncilfoundation.id) Dialek Contoh Kalimat Terjemahan Bahasa Indonesia American English The band is playing. Band tersebut sedang memainkan (musik). British English The band are playing. Band tersebut sedang memainkan (musik). Pada contoh di atas, kata “band” merupakan collective noun. Dalam terjemahan bahasa Indonesia harfiah, kedua kalimat dengan dialek berbeda tersebut tampak tidak memiliki perbedaan yang berarti. Namun, pada aspek tata bahasa terdapat perbedaan signifikan dimana dalam American English kata “band” mengacu pada jumlah tunggal sementara dalam British English kata tersebut dianggap jamak (mengacu kepada setiap orang anggota band). Aspek pembeda sebuah dialek dengan dialek lain adalah bunyi ujaran. Hal ini dapat mencakup cara pelafalan (pronunciation), intonasi (intonation), kecepatan tutur (speed), dan aspek bunyi lainnya dalam sistem bahasa. Dalam beberapa kesempatan dialek dapat diidentifikasi dengan keunikan berbahasa dari sisi bagaimana sebuah kata ataupun kalimat dituturkan. Sebagian orang memposisikan fenomena ini sebagai masalah aksen (accent). Oxford Learner’s Dictionary (2022) mendefinisikan aksen sebagai cara pengucapan kata-kata sebuah bahasa yang mana dapat menunjukan dari negara, komunitas, dan kelas sosial mana seseorang berasal. Boeree (2004) menyatakan dalam dialek Southern English terdapat konsep rdropping dimana huruf-huruf (r) tidak dilafalkan setelah bunyi vokal kecuali diikuti oleh bunyi vokal yang lain. Bunyi-bunyi vokal tersebut diucapkan secara panjang ditandai dengan symbol /'/ seperti terdengar dari pengucapan kata fire /fai'/ dan far /fa:/. Sistem pengucapan tersebut berbeda dengan American English dimana kata fire diucapkan sebagai /faɪr/. Dalam satuan kata terdapat adanya perbedaan cara pengucapan. Selain itu nantinya juga dimungkinkan adanya kekhasan dalam bentuk intonasi pengucapan kalimat berdasarkan sistem pengucapan dialek-dialek yang berbeda. 4.2.Perbedaan Dialek sebagai Potensi Penghambat Komunikasi Lintas Budaya Pembelajaran bahasa Inggris praktis umumnya menitikberatkan pada kemampuan respon awal dan ujaran-ujaran lisan dasar terkait kehidupan sehari-hari. Pada poin ini pembelajar maupun bukan penutur asli diharapkan telah mampu memahami maksud dan merespon ujaran-ujaran lisan maupun tertulis bahasa Inggris dalam tingkatan dasar dan umum. Dalam konteks pengajarannya, bahasa Inggris untuk tujuan praktis tingkat dasar biasanya telah memiliki pakem topik-topik misalnya mencakup greeting, selfintroduction, asking for directions, responding invitations, telling hobbies, dan lain-lain. Dalam hal keterampilan berbahasa Inggris praktis, terdapat kemungkinan dimana pembelajar maupun bukan penutur asli tidak mempelajari aspek-aspek kebahasaan bahasa Inggris seperti dialek yang sebenarnya penting dalam konteks pergaulan internasional. Hal ini berpotensi menjadi hambatan dalam komunikasi lanjut. Di antara ketiga kategori hambatan sebagaimana dipaparkan dalam landasan teori, aspek linguistik dapat dianggap cukup berperan signifikan. Perbedaan dialek, sebagaimana diketahui, merupakan fenomena kebahasaan atau linguistik. Aspek tersebut berpotensi menghambat komunikasi dalam konteks lintas budaya. Wibowo dkk (2021:137) menyatakan “bahasa dengan jumlah penutur yang banyak dan tersebar diberbagai tempat akan digunakan secara berbeda di setiap tempat yang berbeda tersebut”. Bahasa Inggris, bagaimanapun, telah memenuhi kondisi tersebut. Dalam hal ini, seorang yang terlibat dalam komunikasi lintas budaya diharapkan memiliki pengetahuan ragam dialek bahasa Inggris dan kemampuan berbicara yang memadahi. Sebagaimana dikatakan oleh Adnan (2012), “kemampuan seseorang dalam memahami bahasa lisan merupakan salah satu faktor penting dalam belajar bahasa, karena pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari aktifitas berbahasa yang paling banyak”. Dialek dapat menjadi noise / interference apabila di antara para interlocutor tidak ada pemahaman memadahi mengenai dialekdialek yang digunakan saat proses komunikasi berlangsung. Banyaknya dialek bahasa Inggris berimplikasi pada adanya kemungkinan penggunaan kata, konsep tata bahasa, aksen, dan intonasi yang beragam di antara para penutur bahasa Inggris dari negara-negara yang berbeda. Pada poin ini, para penutur bahasa Inggris yang terlibat dalam komunikasi lintas budaya mesti memiliki kepekaan awal mengenai dialek bahasa Inggris apa yang sedang atau akan digunakan oleh lawan komunikasinya. Seseorang terlebih dahulu dapat mengumpulkan informasi mengenai lawan komunikasinya, utamanya menyangkut darimana ia berasal dan bahasa apa yang lebih dominan ia gunakan. Dengan adanya pengetahuan awal mengenai latar belakang kebahasaan seseorang, maka kondisi culture shock ataupun ketidakmampuan memahami maksud lawan bicara dapat diminimalisir. Oberg dalam Rudianto dkk (2015:189) mendefinisikan culture shock sebagai kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial. Fenomena tersebut merupakan akibat yang cukup buruk dari kegagalan komunikasi apabila terlalu sering terjadi. Antisipasi perlu dipertimbangkan. Namun, hal tersebut tidak perlu dilakukan secara berlebihan. Para pihak yang terlibat dalam komunikasi lintas budaya, seharusnya telah memiliki toleransi terhadap ketidakpahaman dalam komunikasi serta kemampuan menyelesaikannya. Selain masalah perbedaan sistem penulisan kata dan penyebutan istilah, perbedaan dialek bahasa Inggris dapat menghambat keberhasilan komunikasi lintas budaya karena terkadang dialek sendiri akan membawa kekhasan bunyi dalam bertutur. Hal ini terkait dengan aksen. Sebagaimana dikutip dari Pratama (2020), “Hurn dan tomalin menyatakan bahwa dalam komunikasi lisan aksen dapat menjadi sebab utama terjadinya kesalahpahaman (2013:88). Aksen terkadang tidak hanya berhubungan dengan pelafalan. Kecepatan tutur juga bervariasi dalam perbedaan aksen-aksen yang ada. Upaya klarifikasi atas masalah-masalah terkait aksen dalam konteks komunikasi verbal umumnya dilakukan secara langsung”. Pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi lintas budaya dimana bahasa Inggris merupakan bahasa pengantarnya perlu memiliki pengetahuan mengenai cara bertutur yang dapat sangat beragam. Potensi bahwa ragam dialek bahasa Inggris dapat menjadi penghambat komunikasi lintas budaya, semestinya menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran bahasa Inggris untuk tujuan-tujuan terkait harus dikonsep secara komprehensif. Hal ini termasuk dengan memasukan pengajaran mengenai dialek-dialek bahasa Inggris yang populer digunakan dalam pergaulan internasional. Dengan memiliki pengetahuan terkait yang memadahi seseorang akan mampu beradaptasi dalam proses komunikasi lintas budaya dimana bahasa Inggris menjadi bahasa pengantarnya. Keterampilan berbahasa Inggris untuk tujuan komunikasi lintas budaya tidak boleh berhenti pada pemahaman atas satu dialek saja karena situasi lintas budaya memungkinkan adanya lawan komunikasi yang akan beragam latar belakang budayanya.
Conclusion
Bahasa Inggris merupakan sebuah basantara (lingua franca) yang secara intensif digunakan dalam menjembatani komunikasi lintas budaya dalam konteks pergaulan internasional. Berbagai pihak yang aktif terlibat dalam komunikasi lintas budaya internasional melalui pergaulan bisnis, ekonomi, politik, dan lain-lain berupaya untuk memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memadahi. Terkadang kemampuan berbahasa Inggris untuk pergaulan internasional dicukupkan pada pemahaman-pemahaman yang bersifat praktis. Pada praktiknya, seseorang dapat mengalami kesulitan komunikasi jika hanya mengandalkan kemampuan praktis sebagaimana dimaksud. Adanya beragam dialek bahasa Inggris dapat menjadi penghambat komunikasi lintas budaya apabila seseorang tidak memiliki pengetahuan teoritis maupun praktis atas hal tersebut. Perbedaan dialek bahasa Inggris ini dapat menjadi penghambat komunikasi lintas budaya karena terkadang berimplikasi terhadap perbedaan konsep penulisan, penyebutan istilah, tata bahasa, pelafalan, kecepatan tutur, dan aspek kebahasaan lainnya. Lebih lanjut, perbedaan dialek adalah fenomena kebudayaan yang tidak dapat dihindari. Sebagai langkah antisipatif, seorang yang secara aktif terlibat dalam berbagai kesempatan komunikasi lintas budaya dimana bahasa Inggris menjadi bahasa pengantarnya perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan aktif mengenai ragam dialek bahasa Inggris.