Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 3 ISSN 2598-3040

Perilaku Pencarian Informasi Anggota Komunitas Fotografer Semarang Dalam Upaya Memenuhi Kebutuhan Informasi Tentang Fotografi

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Informasi yang berkaitan dengan fotografi sangat dibutuhkan oleh fotografer untuk membuat foto yang dihasilkan memiliki nilai keindahan ketika dipublikasikan. Oleh karena itu seorang fotografer tentu saja melakukan pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhan informasinya tentang fotografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku pencarian informasi fotografer pada Komunitas Fotografer Semarang dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pemilihan informan dengan menggunakan purposive sampling. Teknik pengambilan data menggunakan observasi dan wawancara terstruktur dengan jumlah informan 10 orang, yang merupakan anggota aktif Komunitas Fotografer Semarang. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan pencarian informasi yang dilakukan oleh Komunitas Fotografer Semarang didasari oleh berbagai kepentingan seperti menambah pengetahuan, mengembangkan hobi, maupun sebagai bekal dalam dunia kerja. Sumber informasi yang digunakan oleh informan untuk memperoleh informasi yaitu dengan menggunakan platform search engine yang ada di Google, atau melakukan pencarian informasi melalui media sosial seperti, instagram facebook youtube dan melalui teman. Para informan lebih menyukai pencarian informasi melalui media sosial. Hal yang mendasari pencarian informasi melalui media sosial adalah karena informasi yang diperoleh lebih up to date.

Abstract

Information related to photography is needed by photographers to make the resulting photos have a beauty value when published. Therefore, a photographer of course conducts an information search to fulfill his information needs about photography. This study aims to determine how the information seeking behavior of photographers in the Semarang Photographer Community is in an effort to meet information needs. The method used in this study is a qualitative research method. Informant selection technique using purposive sampling. The data collection technique used observation and structured interviews with 10 informants, who are active members of the Semarang Photographer Community. The results of this research analysis show that the search for information carried out by the Semarang Photographer Community is based on various interests such as increasing knowledge, developing hobbies, or as a provision in the world of work. The source of information used by informants to obtain information is by using the search engine platform on Google, or searching for information through social media such as Instagram, Facebook, YouTube and through friends. Informants prefer to search for information through social media. The thing that underlies the search for information through social media is because the information obtained is more up to date.
Keywords: information seeking behavior · information needs · photographer community

Introduction

Perkembangan informasi yang melimpah ruah saat ini tidak terlepas dari dampak kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi yang semakin pesat. Seperti yang dikemukakan oleh Pawit dan Priyo (2010) tidak ada seorang pun yang sanggup mengikuti perkembangan dan pertumbuhan informasi secara tuntas karena ribuan bahkan jutaan informasi terus dilahirkan setiap hari atau bahkan setiap jam dan menit. Peningkatan informasi ini dipengaruhi oleh kebutuhan manusia terhadap informasi. Setiap individu mempunyai kebutuhan informasi yang beraneka ragam dan cara yang beragam pula untuk memperolehnya. Dalam Syawqi (2017) dari Wiranata dikatakan bahwa kebutuhan dan perilaku pencarian informasi dapat dipengaruhi oleh berbagai macam sebab, seperti latar belakang, sosial, budaya , pendidikan, tujuan yang ada dalam diri manusia tersebut serta lingkungan sosialnya(Syawqi, 2017). Informasi yang diperoleh seorang pencari informasi melalui berbagai sumber informasi tentunya akan memudahkan setiap orang dalam berbagai bidang. Salah satunya yaitu dalam bidang fotografi. Dalam menciptakan sebuah karya, seorang fotografer perlu belajar mengenai informasi tentang fotografi. Informasi mengenai fotografi akan membantu para fotografer menghasilkan sebuah karya fotografi yang beranekaragam. Sesuai yang dikemukakan Agnes (2014) dalam bidang fotografi seorang fotografer yang memiliki pengetahuan atau mengenal aliran dalam fotografi pasti akan mudah memahami arah dan peluang untuk mengembangkan kemampuannya di bidang fotografi ini(Gunawan, 2014). Fotografi adalah proses pengambilan gambar atau foto menggunakan kamera dengan bantuan cahaya sehingga menjadi sebuah karya seni. Kata Fotografi dari bahasa yunani kuno, yaitu photo yang artinya cahaya dan graphos yang artinya menggambar dengan bantuan cahaya(Karyadi, 2017). Perilaku pencarian informasi mengenai fotografi ini muncul karena adanya dorongan bagi seorang fotografer untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam bidang fotografi. Seorang fotografer akan memiliki cara yang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Informasi yang berkaitan dengan fotografi sangat dibutuhkan oleh fotografer untuk membuat foto yang dihasilkan memiliki nilai keindahan ketika dipublikasikan. Seperti yang dikemukakan oleh Tanjung (2019) dalam penciptaan sebuah karya foto yang menarik, fotografer membutuhkan informasi mengenai teknik dan cara pengambilan foto yang sempurna. Sehingga hasil dari sebuah foto ini dapat memikat orang yang melihatnya dan membuatnya seolah merasakan peristiwa dalam foto tersebut. Perilaku pencarian informasi seperti ini juga dilakukan oleh para fotografer dari Komunitas Fotografer Semarang. Komunitas Fotografer Semarang ini berdiri sejak tahun 1996. Komunitas Fotografer Semarang ini memiliki anggota offline dan online. Anggota secara offline terdiri dari 256 orang, sedangkan untuk anggota online mencapai 25 ribu anggota. Setiap komunitas pasti memiliki kriteria atau syarat untuk setiap orang yang akan bergabung menjadi anggota. Salah satu syarat untuk menjadi anggota dari Komunitas Fotografer Semarang yaitu harus sudah mengikuti kegiatan secara offline sebanyak tiga kali. Namun hal ini disesuaikan dengan kondisi pandemi yang terjadi saat ini. Komunitas fotografer Semarang ini mengadakan kegiatan bulanan seperti hunting foto bersama dan kegiatan webinar fotografi yang diselenggarakan secara online melalui aplikasi ZOOM. Komunitas Fotografer Semarang sendiri sebagai komunitas tidak hanya memfasilitasi para anggota untuk belajar dan saling bersilaturrahmi, tetapi juga Komunitas Fotografer Semarang ini memberikan dukungan anggotanya untuk mengembangkan prestasi di ajang salon foto, baik nasional maupun internasional. Komunitas Fotografer Semarang juga aktif dalam kegiatan sosial yang diadakan dua kali dalam setahun. Komunitas fotografer Semarang ini merupakan komunitas pecinta seni fotografi di Semarang. Komunitas fotografer Semarang bukanlah klub foto yang biasanya lebih eksklusif, tetapi komunitas yang terbuka dan menerima semua kalangan tanpa pembeda. Dalam komunitas ini tidak terdapat pembedapembeda yang membuat terkotak-kotak, tidak ada beda status sosial, tidak ada pembeda dari klub manapun, tidak ada pembeda merk camera, tidak ada pembeda asal daerah, tidak ada pembeda antara senior dan junior, dan juga tidak ada pembeda profesional dan amatir. Oleh karena itu yang dibutuhkan sebagai persyaratan untuk bergabung dalam komunitas ini yaitu mempunyai semangat dan komitmen yang sama dalam fotografi, kebersamaan, pertemanan bahkan persaudaraan dengan sesama, lingkungan dan alam. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti melakukan penelitian ini untuk mengetahui perilaku pencarian informasi fotografer pada Komunitas Fotografer Semarang dalam memenuhi kebutuhan informasi. 2. Perilaku pencarian informasi Pada dasarnya perilaku pencarian informasi merupakan konsep perilaku yang mencakup kegiatan yang termotivasi oleh adanya kesadaran untuk menemukan informasi sesuai dengan kebutuhan informasi yang diinginkan. Wilson (2000) mendefinisikan perilaku pencarian informasi merupakan perilaku mencari yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Selanjutnya, untuk dapat mengetahui seseorang melakukan perilaku pencarian informasi yang dibutuhkannya. Berikut penjelasan dari Teori Wilson: Gambar 2. 1 Model Perilaku Pencarian Informasi Menurut Teori Wilson Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa Wilson menganggap perilaku informasi merupakan proses melingkar yang langsung berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam konteks kehidupan seseorang. Terlihat pula bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang tekanan dan persoalan dalam hidupnya. Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut, yaitu: 1. Kondisi psikologis seseorang, seseorang yang sedang risau akan memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira 2. Demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tak memiliki akses internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah. 3. Peran Seseorang Di Masyarakat, Khususnya dalam hubungan interpersonal, ikut mempengaruhi perilaku informasi. Misalnya, perilaku pencarian informasi kalangan aktivis kampus akan berbeda dengan perilaku pencarian informasi mahasiswa nonaktivis. Jika seorang aktivis dan seorang mahasiswa berhadapan dengan dosen, peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi. 4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana terlihat di gambar sebelumnya ketika Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan. 5. Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Orang-orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial-budaya. Penjelasan faktor di atas, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku informasi. Selain itu, ada faktor lain yang akan ikut menentukan aktivitas pencarian informasi seseorang, yaitu pandangan seseorang tentang risiko dan imbalan yang kelak akan dihadapinya jika ia benar-benar melakukan pencarian informasi. Selanjutnya model Wilson juga mengungkapkan empat perilaku pencarian informasi yaitu: 1. Perhatian Pasif (Passive Attention) Merupakan suatu perilaku pencarian informasi yang tidak bermaksud untuk mencari informasi seperti mendengarkan radio atau menonton program televisi. Misalnya secara tidak sengaja menonton televisi yang memberikan informasi mengenai fotografi. 2. Pencarian Aktif (Active Search) Merupakan jenis pencarian yang dimana seorang individu secara aktif mencari informasi. Misalnya anggota komunitas fotografer berdiskusi dengan sesama anggota komunitas untuk memperoleh informasi mengenai cara mengambil foto yang bagus dan menarik. 3. Pencarian Pasif (Passive Search) Merupakan suatu perilaku pencarian informasi yang kebetulan relevan dengan kebutuhan individu. Misalnya anggota komunitas fotografer mengikuti pelatihan fotografi dan tanpa sengaja memperoleh informasi yang relevan untuk memenuhi kebutuhan informasi para anggota. 4. Pencarian Berlanjut (Ongoing Search) Pencarian terus menerus merupakan pencarian informasi yang dilakukan individu secara terus menerus ketika kebutuhannya belum terpenuhi dan pencarian aktif menjadi kerangka dasar gagasan, keyakinan, nilai, dan sejenisnya dalam menemukan informasi serta memperbarui atau memperluas kerangka kerja seseorang. Misalnya anggota komunitas fotografer mencari informasi selain pada teman tetapi browsing di internet, dan membaca buku ketika informasi yang dicari belum terpenuhi. Perilaku informasi merupakan keseluruhan perilaku manusia terkait dengan keterlibatan informasi. Menurut Riady (2013) “Perilaku adalah setiap tindakan yang digunakan sebagai alat atau cara agar dapat mencapai suatu tujuan, sehingga kebutuhan terpenuhi atau suatu kehendak terpuaskan”(Riady, 2013). Selanjutnya, untuk dapat mengetahui bagaimana seseorang melakukan perilaku pencarian informasi yang dibutuhkannya. Sedangkan Menurut Padma (2013) mendefinisikan perilaku informasi, “Information seeking behavior is a broad term which involves a set of actions that an individual takes to express information needs, seek information, evaluate and select information, and finally uses this information to satisfy his/her information needs.” Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku pencarian informasi adalah kegiatan yang dilakukan individu untuk memperoleh informasi guna memenuhi kebutuhan informasi melalui berbagai sumber informasi. Kebutuhan informasi merupakan hal penting karena keberhasilan seseorang dalam memenuhi salah satu atau semua kebutuhan dasar tersebut dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan informasi.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, metode kualitatif ini dipilih peneliti karena sesuai dengan tujuan peneliti yaitu untuk mengekplorasi perilaku pencarian informasi fotografer pada komunitas fotografer Semarang dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi. Creswell mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai suatu pendekatan untuk mengeksploitasi dan memahami suatu gejala sentral yang dapat diperoleh melalui proses wawancara dengan informan. Kemudian, penentuan informan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik purposive sampling, sampel metode kualitatif ini lebih menekankan kepada kualitas informasi, kredibilitas dan kekayaan informasi yang dimiliki oleh informan atau partisipan. Penentuan kriteria penelitian dilakukan untuk mempermudah dalam menentukan informan. Berikut ini adalah beberapa kriteria informan yang telah ditentukan oleh peneliti: 1. Anggota komunitas fotografer Semarang 2. Berperan aktif dalam kegiatan komunitas fotografer Semarang Kriteria ini ditentukan dan dipilih karena informan yang akan diwawancarai harus mempunyai banyak pengetahuan, terutama dalam proses perilaku pencarian informasi fotografer agar data yang diperoleh lebih valid, informan bersedia untuk diwawancarai dan memberikan informasi yang akurat agar informasi yang didapatkan terjalin kredibilitasnya. Berikut 10 informan dalam penelitian ini, yaitu: Tabel 4. 1 Daftar Identitas Informan No. Nama Jabatan Profesi Lama kepengurusan 1. Rifki Maulana Seksi Hunting Guru 11 bulan 2. Dila Faricha Seksi Humas Pegawai 1 tahun 3. Agus Budi Santoso Seksi Pameran dan Gathering Seniman 1 tahun 4. Valentino Prasada Seksi Sosial media Karyawan Swasta 6 tahun 5. Adam Muda Wakil Ketua Wiraswasta 2 tahun 6. Muhammad Nasim Seksi Media Sosial Karyawan 2 tahun 7. Roosmalia Fatmawati Seksi Merchandise Pengusaha Rumahan 6 tahun 8. Amalia Cahyaningtyas Seksi Media Sosial Karyawan Swasta 5 tahun 9. Ita Yuliana Kusuma Seksi Humas Freelancer 2 tahun 10. Lidya Gita Sirait Sekretaris Pengajar dan Founder Photro.pictures 4 tahun Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi sebagai metode pengambilan data. Proses analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian atau display data dan kesimpulan atau verifikasi data. Kemudian pengendalian kualitas data diperlukan untuk menguji data yang diperoleh peneliti tersebut bersifat ilmiah. Menurut Lincoln and Guba, tingkat kepercayaan terhadap hasil penelitian dapat dicapai jika peneliti berpegang pada 4 prinsip atau kriteria, kriteria tersebut yaitu meliputi: credibility, dependability, corfirmability, dan transferability.

Result & Discussion

4.1 Analisis Kebutuhan Informasi Komunitas Fotografer Semarang Masing-masing individu mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Cara setiap individu menemukan informasi dipengaruhi dari tingkat kebutuhan dan kemampuan yang berbeda juga. Kebutuhan informasi muncul akibat adanya dorongan pada diri seseorang untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya. Kebutuhan informasi adalah keadaan seseorang yang menyadari ada kesenjangan antara pengetahuan yang ia miliki pada diriya, di mana seseorang tersebut merasa bahwa informasi yang ia miliki belum memadai untuk mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Menurut Lasa H.S (2009) kebutuhan informasi sebagai kebutuhan yang didasarkan pada dorongan untuk memahami, menguasai lingkungan, memuaskan keingintahuan/ curiousity, dan penjelajahan/ exploratory.Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya membutuhkan informasi maka akan timbul rasa ingin tahu untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut. Anggota Komunitas Fotografer Semarang membutuhkan informasi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, mulai dari hobi hingga pekerjaan mereka. Kebutuhan informasi dibutuhkan untuk mengenal lingkungan sekitar dimana seseorang berada. Informasi yang didapat akan dikumpulkan, dipahami serta digunakan seseorang untuk dapat tetap bertahan di lingkungannya. Karena dalam proses berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungannya seseorang harus memiliki informasi yang tepat dan sesuai dengan dimana dia berada, ini berguna untuk adanya feedback dari orang-orang yang ada di lingkungan tersebut. Kebutuhan informasi Komunitas Fotografer Semarang didasari oleh keinginan setiap individu untuk dapat berkomunikasi dengan seseorang ataupun kelompok dalam organisasi. Dalam penelitian ini kebutuhan informasi jenis kamera dan teknik pengambilan gambar merupakan salah satu informasi yang paling dibutuhkan oleh anggota Komunitas Fotografer Semarang. Selain itu, kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh anggota Komunitas Fotografer Semarang selanjutnya yaitu tentang genre fotografi yang dalam hal ini dipengaruhi oleh hobi dan profesi informan. 4.2 Analisis Pencarian Informasi yang dilakukan Komunitas Fotografer Semarang Perilaku pencarian informasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi seseorang. Seseorang melakukan pencarian informasi karena didorong oleh keadaan dimana seseorang tersebut memiliki kekurangan dalam hal pengetahuan sehingga membutuhkan untuk menambah referensi informasi yang dibutuhkan. Setiap individu memiliki alasan dalam melakukan pencarian informasi, proses pencarian informasi, hal yang dilakukan ketika tidak menemukan infomasi, dan hal yang dilakukan setelah memperoleh informasi. Latar belakang pencarian informasi oleh masing-masing individu tentu memiliki perbedaan. Untuk mengetahui alasan informan melakukan pencarian informasi, maka peneliti menanyakan tentang alasan tersebut kepada informan. Dari hasil wawancara dengan informan, dapat disimpulkan bahwa anggota Komunitas Fotografer Semarang membutuhkan informasi untuk berbagai kepentingan, seperti menambah pengetahuan, mengembangkan hobi, maupun sebagai bekal dalam dunia kerja. Masing-masing individu dalam menentukan kebutuhan informasi memiliki keunikan dan perbedaan, cara pencarian informasinya juga bisa sama atau berbeda. Sesuai dengan pendapat Riani (2017) pencarian informasi dan penemuan informasi tidak hanya dilakukan dengan ketersediaan sistem informasi termasuk saluran informasi dan sumber informasi yang ada di sekitar kita. Dalam hal ini informan dapat berinteraksi dengan sumber informasi berupa media sosial ataupun sumber informasi lainnya seperti teman dalam satu komunitas sebagai upaya memenuhi kebutuhan informasi sesuai tujuan tertentu. Perilaku pencarian informasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Dalam memenuhi kebutuhan informasi tentu anggota Komunitas Fotografer Semarang memiliki cara yang berbeda-beda dalam melakukan pencarian informasi. Pencarian informasi dimulai dengan adanya permasalahan yang ingin dicari lebih lanjut, lalu melakukan penelusuran informasi. Sehingga bisa melakukan informasi yang dibutuhkan. Dalam pencarian informasi yang dilakukan anggota Komunitas Fotografer Semarang dimulai dengan apa yang dilakukan informan sebelum mencari informasi sampai informan mendapatkan informasi yang sesuai. Pencarian informasi ini dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Dalam melakukan pencarian informasi tentu saja informan tidak langsung bisa memperoleh informasi tersebut. Berbagai hambatan tentu dialami oleh anggota Komunitas Fotografer Semarang dalam menemukan informasi, hambatan ini sendiri bisa saja terjadi karena sumber informasi yang digunakan, lingkungan eksternal dari pengguna atau dari pengguna itu sendiri. Pencarian informasi dilakukan oleh Komunitas Fotografer Semarang untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Setelah memperoleh informasi, setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengolah informasi yang didapatkannya. Terdapat informan yang langsung mempraktekkan informasi yang diperoleh. Selain itu ada juga informan yang menyimpan informasi yang diperoleh kemudian dijadikan pembelajaran untuk kedepannya. 4.3 Analisis Sumber Informasi Anggota Komunitas Fotografer Semarang Dalam melakukan pencarian informasi, tentu seseorang membutuhkan sumber informasi sebagai perantara memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Menurut Taufia dalam Nur Hadiyah sumber informasi adalah media yang berperan penting bagi seseorang dalam menentukan sikap dan keterpurukan untuk bertindak. Meningkatkan minat bagi seseorang untuk selalu berusaha mencari informasi berbagai bentuk. Sumber informasi dapat diperoleh dengan bebas mulai dari teman sebaya, buku-buku, film,video bahkan dengan mudah membuka lewat situs internet(Hadiyah et al., 2020). Sumber informasi yang paling banyak digunakan oleh anggota Komunitas Fotografer Semarang untuk memenuhi kebutuhan informasi adalah sumber informasi berupa media sosial, selain itu anggota Komunitas Fotografer Semarang juga memanfaatkan beberapa media cetak untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Media sosial adalah sebuah jembatan komunikasi baik antar personal maupun antar badan atau lembaga dengan menggunakan fasilitas internet(Purawinangun & Yusuf, 2020). Penyebab penggunaan media terletak pada lingkungan sosial atau psikologis yang dirasakan sebagai masalah dan media digunakan untuk menanggulangi masalah itu. 4.4 Peran Komunitas dalam memenuhi kebutuhan Informasi Fotografer Semarang Dalam melakukan pencarian informasi tentu anggota Komunitas Fotografer Semarang tidak hanya memanfaatkan media sosial ataupun sumber informasi lainnya dalam menemukan informasi. Menurut Kertajaya dalam Fazrin (2018) komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas karena adanya interest atau values. Sehingga inti dari komunitas adalah sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama walaupun dengan latar belakang yang berbeda. Sebagai sebuah komunitas tentu saja Komunitas Fotografer Semarang mempunyai peran penting dalam memenuhi kebutuhan informasi anggotanya. Keberadaan Komunitas Fotografer Semarang sangat membantu anggotanya dalam memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Kebutuhan informasi para informan dapat terpenuhi melalui kegiatan yang diadakan oleh komunitas ataupun informasi yang disebarkan melalui grup khusus anggota Komunitas Fotografer Semarang. Adanya relasi yang terjalin antar anggota komunitas tersebut juga merupakan salah satu peran penting terpenuhinya kebutuhan informasi, karena pengalaman dari setiap anggota dapat membantu menambah wawasan anggota Komunitas Fotografer Semarang yang lain dalam menemukan ide-ide baru.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai Perilaku Pencarian Informasi Fotografer pada Komunitas Fotografer Semarang dalam Upaya Memenuhi Kebutuhan Informasi, maka dapat diperoleh bahwa informasi yang dicari oleh Komunitas Fotografer Semarang yaitu informasi yang berkaitan dengan jenis kamera, teknik-teknik dalam fotografi, dan genre fotografi. Pencarian informasi yang dilakukan oleh Komunitas Fotografer Semarang didasari oleh berbagai kepentingan seperti menambah pengetahuan, mengembangkan hobi, maupun sebagai bekal dalam dunia kerja. Platform sumber informasi yang digunakan oleh anggota Komunitas Fotografer Semarang untuk memperoleh informasi yaitu dengan menggunakan platform search engine yang ada di Google, atau melakukan pencarian informasi melalui media sosial seperti, instagram, facebook, youtube dan melalui teman. Anggota Komunitas Fotografer Semarang lebih menyukai pencarian informasi melalui media sosial. Hal yang mendasari pencarian informasi anggota Komunitas Fotografer Semarang melalui media sosial adalah karena informasi yang diperoleh lebih up to date. Dalam melakukan pencarian informasi kendala yang dialami oleh anggota Komunitas Fotografer Semarang yaitu penggunaan Keyword (Kata Kunci) ketika menggunakan search engine luar negeri dalam mencari informasi dan kendala finansial untuk menambah koleksi majalah dan buku fotografi, sehingga adanya peran komunitas dapat membantu terpenuhinya kebutuhan informasi melalui kegiatan yang diadakan oleh komunitas ataupun informasi yang disebarkan melalui grup khusus anggota Komunitas Fotografer Semarang.